Hinata memejamkan matanya dan menghela nafas pelan. Di tutupnya buku bersampul hijau yang tengah di pegangnya. Hinata mengalihkan pandangannya pada langit yang warnaya mulai berubah menjadi oranye cerah. Warna yang semakin mengingatkannya kepada teman lamanya. Yah, hanya teman lama.
.
.
.
That Should Be Me!
Pairing : Naruto U. & Hinata H.
Rated: T-Indonesia
Genre: Romance/ Friendship
Disclaimer: Karena Om Kishi masih pelit Bebhe minta salah satu tokohnya, jadi semua tokoh 'masih' punya Om Kishi -_-
Warning: Bahasa amburadul, alur nggak nyambung, typo(s) bertebaran dimana-mana, romance yang kurang berasa, humor garing nyempil, tokoh full of OOC (khususnya Hinata), menggunakan EYD (Ejaan yang Disemawutkan), inspirited by Real Story and song "That Should Be Me" by JB.
Note: Fic ini Bebhe buat untuk saudara terbaik Bebhe, Diah Putri Larasati, untuk mengobati rasa galaunya dengan memflashback cerita masa lalunya*bukannya malah bikin tambah galau ya? Haha. Tapi karna dia setuju" aja, jadi Bebhe buat deh fic ini. Okeh. Semoga dia dan readers semua suka sama fic abal saya ini ^^b
.
.
Happy Reading ^^
.
Hinata menghela nafas panjang. Matanya terasa semakin memanas saat ini, dan semakin dirinya mengingat sosok Naruto, hatinya semakin terasa sakit. Itu sangat menyesakkan bagi Hinata. namun apa daya. Sebagaimanapun sakit yang di rasakan Hinata saat ini, seberapa besarnya rindu yang dia pendam saat ini. Naruto tak akan pernah merasakannya. Sebenarnya Hinata sangat merindukan sosok pemuda berambut blondie itu. Hinata merindukan wajahnya, matanya, senyumnya, suaranya, tawanya, semua tingkah konyolnya, semua hal yang bisa membuatnya tertawa, bahkan Hinata rindu bagaimana Naruto membuatnya marah seperti saat itu. Hinata kembali mengalihkan pandangan pada buku yang di pegangnya sedari tadi. Dengan sekuat hati(?) Hinata membuka kembali lembar demi lembar pada buku itu. Tiba-tiba secarik kertas jatuh dari buku tersebut. Hinata melihat ke bawah lalu mengambil kertas yang terjatuh di samping kakinya tersebut. Kertas itu tidak asing bagi Hinata. Hinata membuka kertas yang di lipat menjadi dua tersebut, lalu menemukan sebuah tulisan yang berukuran sangat kecil di pojok kertas tersebut. Sudut bibir Hinata terangkat sekilas lalu kembali datar. Hinata menggenggam tangan kanannya di depan dada. Tiba-tiba Hinata merasakan sesuatu yang menusuk hatinya.
Itu karena, kertas itulah, puncak permasalahan dari kisah cinta Hinata. Hinata menyenderkan punggungnya pada kursi tempat ia duduk. Di tatapnya lekat-lekat tulisan yang tertera pada kertas tersebut. Memory menyakitkan kembali berputar di kepalanya.
'Kamu marah? Kenapa kamu marah? Aku hanya bercanda. Jadi aku tidak salah kan?,'
FLASHBACK ON
Pagi itu Hinata malas untuk bangun. Meski sudah beberapa kali adiknya meneriaki dari luar kamarnya, Hinata tetap tidak mau beranjak dari tempat tidurnya. Entah kenapa, Hinata merasa tidak bersemangat sekali pergi ke sekolah.
"Nee-chan! Nee-chan! Nee-chan buka pintunya. Nee-chan harus sekolah. Nee-chan~" teriak Hanabi Hyuuga, adik kandung dari Hinata. Bukannya menjawab teriakan-teriakan adiknya yang makin cetar membahana badai tanah longsor gempa tsunami#plak# Hinata malah menutup telinganya dengan bantal. Tiba-tiba terdengar suara baritone seorang pria dari balik pintu kamar Hinata.
"Ada apa Hanabi? Kenapa dari tadi teriak-teriak sih?," Hinata samar-samar mendengar suara pria itu.
'Hah~ Neji-nii-san. Kenapa menyusul kesini,' gerutu Hinata dalam hati. Hinata lalu mau tidak mau perlahan turun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi untuk menyalakan shower agar dikira sedang mandi oleh kakak sepupunya, Neji Hyuuga.
"Hinata-nee belum keluar dari tadi Neji-nii. Sebenarnya sedang apa sih dia itu?" gerutu Hanabi sambil memaksa membuka kenop pintu kamar Hinata. Neji lalu mendekatkan telinganya pada pintu kamar Hinata. Neji mendengar suara shower dari dalam kamar Hinata.
"Hinata sedang mandi. Jadi kita tunggu di bawah saja Hanabi." Kata Neji sambil menggandeng tangan adik sepupunya yang masih memasang wajah cemberut itu. Hanabi hanya menggerutu tidak jelas.
Sementara di dalam, Hinata merasa lega karena Neji dan Hanabi sudah pergi. Hinata bergegas mandi, lalu merapikan tempat tidurnya. Meskipun dia malas pergi ke sekolah hari ini, mau tidak mau Hinata harus pergi jika masih ingin selamat dari amukan kakak sepupunya.
.
.
.
Hinata mengayuh sepedanya dengan tidak bersemangat. Sejak kemarin moodnya rusak karena ulah si anak rubah. Siapa lagi kalau bukan Naruto Uzumaki. Hinata masih merasa kesal dengan Naruto, sampai-sampai dia tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah hari itu. Hinata lalu tersentak sejenak.
'Tunggu. Kenapa aku jadi bad mood cuma gara-gara Naruto-kun. Aarggghhhh! Apa yang salah denganku sih sejak kemarin. Sungguh ini sangat merepotkan." Batin Hinata frustasi.
Tidak disadari, sekolah Hinata sudah terlihat. Hinata menghela nafas pelan. Tiba-tiba sebuah motor sport berwarna merah melintas di samping Hinata. Semula Hinata hanya memandang motor tersebut dengan tatapan datar. Namun kemudian Hinata membulatkan matanya dan mencoba melihat motor yang baru saja melewatinya, khususnya adalah orang yang ada di atas motor tersebut.
Seorang laki-laki yang taka sing bagi dirinya, dan juga….
SEORANG WANITA yang berada di belakangnya. Hinata yakin sekali jika itu tadi adalah Naruto. karena motor dan helm yang ia kenakan sudah tidak asing lagi bagi Hinata. dan juga seragam yang di kenakan, sama dengan seragam pria untuk sekolah Hinata. Lantas siapa wanita yang berada di belakang Naruto tadi? Di tambah wanita itu memeluk Naruto dari belakang. Di lihat dari seragamnya, kelihatannya dia dari sekolah lain. Hinata mengedipkan matanya berkali-kali, mencoba memutar otak memikirkan apa yang baru saja di lihatnya.
'Naruto-kun…..bersama…..seorang gadis,' kata Hinata dalam hati.
Spontan hati Hinata mencelos. Hinata langsung tambah lesu saat itu. Hinata menepuk-nepuk dadanya,
'Hei, apa yang terjadi denganku. Apa salahnya jika Naruto bersama gadis lain?gadis lain? Yak! Kau bahkan belum menjadi miliknya, kenapa kau menyebut kau gadisnya. Sadarlah Hinata, sadarlah bodoh!' umpat Hinata dalam hati.
.
.
.
.
Hinata memasuki ruang kelasnya. Kelas XI Farmasi- 1. Hinata memandang ruang kelasnya dengan bosan. Hinata masih terbayang-bayang dengan kejadian yang di lihatnya pagi tadi.
'Kami-sama. Kenapa aku terus-terusan mengingat hal itu sih,' gerutu Hinata dalam hati. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan di depan pintu Hinata. Kau menghalangi jalanku," Hinata langsung menoleh pada sumber suara. Di dapatinya seorang gadis bersurai merah jambu sepunggung dengan mulut yang sengaja dibuat mengerucut.
"Oh, gomen Sakura-chan. Masuklah," kata Hinata menunduk sambil bergeser satu langkah dari depan pintu. Sakura Haruno, adalah teman Hinata dan juga Ino sejak kecil. Mereka sering bermain bersama dejak mereka masih bersekolah di taman kanak-kanak. Merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu, Sakura menaikkan sebelah alisnya.
"Ada apa Hinata? Kau terlihat tidak bersemangat hari ini?," Tanya Sakura lembut. Hinata hanya menggeleng lalu masuk ke dalam kelas. Sakura semakin bingung dengan sikap Hinata pagi itu.
"Kenapa sih dia itu. Mungkin si Ino-pig tau sesuatu," Sakura lalu ikut masuk ke dalam kelas menyusul Hinata. Di lihatnya Hinata sedang memasangkan headphone ke telinganya, lalu mulai menyetel lagu pada MP3 miliknya. Sakura hanya menghela nafas melihat tingkah laku sahabatnya yang tak biasa itu, lalu berjalan menuju tempat duduknya.
"Ohayou minna~ Wah, ternyata masih jam segini ya. Hahaha, aku berangkat terlalu pagi," Suara menggelegar(?) milik seorang pemuda berambut pirang menggema di seluruh ruangan kelas XI Farmasi-1.
"Oi, Naruto. Tumben kau datang sepagi ini. Ini masih jam tujuh kurang sepuluh. Mimpi apa kau semalam," ledek salah seorang teman Naruto yang sedang memakan keripik kentang, Chouji.
"Iya. Ini rekor keduamu. Apa kau mengantar pacarmu lagi?" kata seorang pria dengan lambing segitiga di kedua pipinya, Kiba.
DEG!
Hinata merasakan sesuatu yang aneh kembali di hatinya. Rasanya menusuk sekali. Meskipun dia sekarang menyetel lagu dengan volume keras, tapi dia masih bisa mendengar suara teman-temannya. Termasuk suara Kiba yang mengatakan tentang PACAR. Hinata mencoba untuk tetap tenang dan bersikap seolah-olah tidak mendengar apapun.
Naruto mendelik ke arah Kiba, lalu melirik Hinata sekilas. Naruto mengehela nafas, merasa lega karena ternyata Hinata sedang memakai headphone.
"Yah, begitulah," jawab Naruto singkat yang di sambut riuh sindiran dari teman-temannya.
Hati Hinata terasa panas saat itu, tangannya menggenggam kuat MP3 miliknya. Hinata terus merutuki dirinya sendiri dan terus menyalahkan jantung dan hatinya, yang terus-terusan berlomba untuk menyakitinya dari dalam. Hinata menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.
Hinata merasakan seseorang berada di sampingnya. Dan benar saja, saat Hinata menoleh, Hinata langsung di kejutkan oleh sebuah wajah yang berada sangat dekat di depannya. Wajah mereka hanya berjarak dua inchi. Mata Hinata membulat seketika dan wajahnya terasa memanas. Ya, siapa lagi kalau bukan Naruto.
"Lagu apa yang kau dengarkan Hinata," kata Naruto sambil menopang dagunyaseraya tersenyum manis. Hinata mengedipkan mata berkali-kali untuk mengembalikan roh-nya yang baru saja melayang entah kemana. Secara refleks Hinata langsung menjauhkan kursinya dari depan Naruto. Hinata mencoba mengatur nafasnya yang memburu.
Melihat wajah Naruto sedekat itu membuat jantungnya serasa mau copot dari singgasananya.
'Apa dia mau membunuhku, eh?' kata Hinata dalam hati. Tiba-tiba terlintas di ingatan Hinata kejadian tadi pagi dan kata-kata yang di ucapkan oleh Kiba. Hati Hinata langsung mencelos lagi. Hinata segera beranjak berdiri dan meninggalkan Naruto yang sedang terbengong-bengong melihatnya dari belakang.
"Hei Hinata, kau mau kemana?" teriak Naruto dari tempat duduknya. Tetapi Hinata tidak menggubris sama sekali. Naruto menghela nafas.
"Hah~ Apakah Hinata benar-benar marah? Ayolah, itu hanya bercanda. Kenapa sampai segitunya sih," kata Naruto frustasi.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih Naruto," Naruto menghentikan aktifitasnya menjambaki rambutnya sendiri, lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Oh, Sakura. Maksudmu Hinata?" Sakura hanya mengangguk.
"Hah~ Kelihatannya Hinata marah padaku karena kejadian kemarin. Tapi sungguh aku hanya bercanda," Sakura mengangguk lalu duduk di tempat duduk Hinata.
"Memangnya kemarin kenapa? Kau melakukan sesuatu terhadapnya ya?" Sakura memasang wajah horrornya. Naruto sedikit menjauh dari depan Sakura.
"Yak! Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menakut-nakutinya kemarin saat pulang sekolah. Tapi itu hanya bercanda. Masa hanya dengan hal seperti itu Hinata marah sampai sebegitunya sih" jelas Naruto panjang lebar. Sakura langsung memukul kepala kuning Naruto.
"Baka! Itu yang namanya tidak melakukan apa-apa. Kau tau kan kalau Hinata itu penakut, kenapa masih saja kau kerjain sih?," kata Sakura dengan nada kesal. Kini dirinya sedang berkacak pinggang di depan Naruto.
Naruto meringis sambil mengusap kepalanya yang terasa benjol.
"Sakit tau! Tapi aku kan hanya bercanda Sakura," kata Naruto membela diri. Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sakura jadi semakin bingung. Sakura sangat mengenal Hinata. Hinata adalah anak yang pemaaf. Meskipun dirinya di takut-takuti, Hinata akan tetap memaafkan orang itu dan bersikap biasa lagi dengan orang yang baru saja menjahilinya. Tetapi kenapa Hinata tidak mau memaafkan Naruto? Kenapa Hinata bersikap seperti itu pada Naruto?
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin membuat Sakura frustasi. Sakura mengacak rambutnya. Tiba-tiba Sakura teringat sesuatu
"Heh Naruto," panggil Sakura dengan suara pelan. Yang di panggil hanya mendongakkan kepalanya sambil menaikkan sebelah alisnya sebagai isyarat 'Apa?'. Sakura sedikit membungkukkan badannya.
"Memangnya Hinata tidak tau jika kau sudah punya pacar sejak lama?," Naruto membulatkan matanya. Dirinya bertanya-tanya kenapa Sakura tiba-tiba mengajukan pertanyaaan seperti itu. Dan apa hubungannya dengan Hinata yang sedang marah. Naruto menggeleng.
"Aku rasa aku tidak pernah memberitahunya, dan dia juga belum tau. Kenapa kau menanyakan itu?" Sakura kembali duduk lalu menghela nafas.
'Apa mungkin Hinata suka pada Naruto? Dan apa mungkin Hinata tadi mendengar percakapan Naruto dengan Kiba?' batin Sakura terus bertanya-tanya
"Hei Sakura. Hei pink!"
"Ah ya! Kenapa kau berteriak selagi aku di depanmu baka!" bentak Sakura. Naruto memutar bola matanya bosan.
"Aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau tetap melamun. Huh!" gerutu Naruto. Sakura hanya cengengesan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
'Aku rasa aku harus menanyakannya pada Hinata. Mungkin sekarang dia sedang butuh bantuan' kata Sakura dalam hati.
"Oh, itu Hinata kembali." Kata Sakura sambil memandang ke arah pintu.
"Ya sudah, ajak dia baikan ne?" Sakura lalu meninggalkan tempat duduk Hinata. Naruto hanya melirik Hinata dari tempat duduknya. Hinata tetap seperti tadi pagi, tidak bersemangat dan pucat.
'Apa dia sakit ya?' kata Naruto dalam hati.
.
.
.
Naruto merasa bosan mendengarkan penjelasan dari Suzune. Diam-diam Naruto melirik Hinata yang berada di sampingnya. Hinata tengah menopang dagu sambil memperhatikan penjelasan yang di sampaikan oleh Suzune. Mata Naruto terlihat sendu memandang Hinata. Berulang kali Naruto mengehela nafas. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Naruto.
Hinata menghela nafas panjang. Dia memang sedang melihat ke depan saat ini, namun fikirannya melayang entah kemana. Hinata tetap terbayang-bayang dengan sosok gadis yang dibonceng oleh Naruto, dan perkataan Kiba.
'Apa kau mengantar pacarmu lagi?' ' Ya, Begitulah'
Hanya dua kata, tapi mampu membuat Hinata frustasi dalam diam. Hinata tidak tau, kenapa hatinya terasa sakit saat mendengar percakapan kedua temannya itu. Hinata merasa kesal dengan dirinya sendiri. Hinata kembali menghela nafas.
Tiba-tiba Hinata merasa ada sesuatu yang menabrak lengannya yang di pakainya untuk menopang dagunya. Hinata mendapati secarik kertas yang di lipat dua. Hinata mengernyitkan dahinya lalu melihat ke arah Naruto. Dan dugaan jika itu dari Naruto ternyata benar. Hinata melihat Naruto mengisyaratkan dirinya agar mengambil kertas itu dengan matanya. Mau tidak mau Hinata mengambil kertas itu lalu membukanya. Hinata mendapati sebuah tulisan yang sangat kecil di pojok kertas itu.
'Kamu marah? Kenapa kamu marah? Aku hanya bercanda. Jadi aku tidak salah kan?,'
Hinata tersenyum kecut setelah membaca tulisan dari Naruto untuknya.
'Jadi Naruto-kun mengira jika aku marah karena kejadian kemarin? Dia itu nggak peka atau memang terlalu bodoh sih? Jadi dia tidak tau jika tadi dia melewatiku saat berangkat sekolah? Bahkan dia juga tidak minta maaf.' Gerutu Hinata dalam hati.
Hinata tidak membalas surat(?) dari Naruto, melainkan melipatnya kembali dan memasukkannya di dalam kotak pensilnya. Hinata kembali bersandiwara mendengarkan penjelasan gurunya.
Naruto yang melihat itu langsung menghela nafas dan mencoba pasrah saja dengan perilaku Hinata. Naruto tiba-tiba teringat sesuatu.
'Apa dia melihatku tadi saat aku bersama-'
.
.
.
.
.
.
.
TBC dulu ya….
Arena bacot author:
Yare-yare ^o^/
Akhirnya chapter ketiga ini bisa update juga. Gimana ? udah kilat belum? xD
Bebhe pake sistim SKS loh buat chapter ini. Sistem Kebut Sejam *pamer xD
Jadi Bebhe minta maaf kalo ada penulisan kata yang salah, karena diburu batre laptop habis xD
Penasaran kan dengan kelanjutan ceritanya? Penasaran kan siapa wanita yang di bonceng Naruto? Penasaran juga kan dengan perasaan Hinata?
Makanya review yang banyak biar Bebhe update kilat lagi untuk kelanjutan ceritanya *nyogok xD
Okelah, Bebhe mau bales ripiuw dulu yak..
Sanosuke-kun :: haha, okeoke. Amin dah. Moga UN'nya lancar and senpai bisa lulus ^^ Fighting yak :D
Oryko Hyuuzu :: Haha. Gimana ? udah kilat belum update-nya :D
WAAA! Ampun~ Bebhe masih terlalu cantik untuk di bunuh xD
Udah di todong masalah ending xD Ory-san liat saja sendiri deh bagaimana akhirnya. Makanya ripiuw lagi yak :D
Izkaa Iovnh :: Umm.. siapa ya? Kita lihat aja deh nanti. Itu bukan Sakura kok :D makanya ikuti terus ya.. di tunggu ripiuwnya lagi ^^b arigatou~
LavenderSun :: haha, ini udh apdet xD
Kenapa Hinata nulis Not Forever? karena itu buat candaan gitu loh? Masak nggak paham sih xD review lagi yak ^^
Oce deh, sampai jumpa di next chapter. Mata ashita minna~
Muahmuahmuah :* #PLAK xD
