Dia Miliku Tapi Juga Obsesi Ayahku
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru (sudah pasti), FugaMina, masih akan bertambah
Naruto : 5 tahun
Sasuke : 6 setengah tahun
Fugaku : 28
Minato : 28
Terima kasih yang sudah mau meluang waktunya untuk mereview fic ini
Axa Ganger, yassir2374, hatakehanahungry, RisaSano, , B-Rabbit Ai, fuyu cassiopeia, yuzuru, , Harpaairiry, miszshanty05, RaraRyanFujoshiSN, yunaucii, yuichi, fatayahn, uzumakinamikazehaki, hanazawa kay, Dinda Clyne, heriyandi kurosaki, , ore-sama, Lee Kibum, Aristy, Vianycka Hime
Maaf kalau ada banyak typo dan penggunaan bahasa yang tak jelas. Aku agak buru-buru nulisnya, setelah 3 minggu tak di update hehehe...
Cerita sebelumnya~
"Ugh, Teme ni-san. Kok belum pulang" aku berusaha bersikap ceria, namun tetap tak bisa menutupi wajahku yang terlihat akan menangis.
"Dobe kau kenapa?" tanyanya sedikit khawatir dengan keadaan ku. Dia merentangkan tangannya seperti mengerti apa yang aku butuhkan. "Wajahmu kelihatan jelek. Kemari lepaskan saja semua, kalo kau menangis manangislah"
Kurasa aku akan mengingkari janjiku lagi. Mendengar perkataan teme ni-san tadi aku langsung menjatuhkan diriku dalam pelukannya. Lalu aku pun menangis selepas mungkin dalam dekapannya.
"Kurasa sebentar lagi akan hujan. Dobe lanjuntakan tangisanmu dirumahku saja" menyadari bahwa sebantar lagi akan hujan ia pun menawari ku untuk kerumahnya. Jelas saja aku mengiyakan, toh aku tak tau mau kemana.
.
.
~ Iruka POV ~
Namaku adalah Umino Iruka, aku seorang pegawai biasa. Aku bekerja disebuah perusahaan bernama Namikaze crop. Tapi aku juga bekerja di Uchiha crop. tugasku adalah menyelidiki seluruh data rahasia di Namikaze.
Pekerjaanku memang agak kejam, aku yang sangat dipercaya atasan ku Minato-sama, tapi aku juga yang menghianatinya. Semua kegagalan yang terjadi di perusahhan Namikaze adalah perbuatanku. Aku melakukannya atas perintah seseorang yang telah menyelamatkan aku dulu. Orang yang telah membiayai hidupku dulu ketika aku kehilangan keluargaku. Meski akhir-akhir ini ia lebih terlihat seperti iblis, dia adalah Uchiha Fugaku.
Aku akhirnya sampai pada misi terakhir yang diberikan tugas terakhir ini selesai, seluruh utang budi ku pada akan lunas. Artinya, aku bisa memilih apa yang ingin kulakukan dalam hidupku sendiri. Tugas ku adalah berusaha untuk menggagalkan harapan terakhir Namikaze Minato. Melenyapkan semua berkas yang ia butuhkan sebelum rapat dimulai. Dan membuat Namikaze benar-benar ada dalam jurang kebangkrutan.
Sayangnya kebaikan para Namikaze, membuat hatiku luluh. Aku merasa bersalah atas semua perbuatanku. Aku tak sampai hati untuk melakukan misi terakhirku ini. Aku pun memberikan semua salinan data yang harusnya ku lenyapkan, kepada tuan muda Naruto. Karena jam pulang Naruto-sama tepat sebelum rapat dimulai, jadi aku menyuruhnya untuk memberikan semua data dan berkas itu pada Minato-sama. Yang kuharapkan Naruto-sama bisa memberikan data penting itu tepat pada waktunya. Jika itu Naruto-sama aku juga tak perlu khawatir rahasiaku terbongkar, karena Naruto-sama adalah anak yang selalu menepati janjinya. Ia telah berjanji denganku untuk tidak memberitahu Minato-sama bahwa aku yang menyuruhnya memberikan data dan berkas tersebut.
Dengan kejadian rasanya ingin sekali secepatnya keluar dari jeratan hutang budiku pada Uchiha. Aku benar-benar tak sanggup lagi menyakit orang-orang baik di Namikaze. Kerenanya aku memutuskan akan mengundurkan diri dari perusahaan Namikaze dan juga berhenti dari tugas yang dibarikan Uchiha. Untuk hutang budi aku akan membayarnya dengan cara lain semampuku.
Kini aku ada di kediaman Uchiha, tempat yang besar ini sungguh terasa sunyi. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang mengerjakan tugasnya , tapi tak seorang pun Uchiha yang kulihat. Hm apa Fugaku-sama tak ada dirumah ya.
Aku terus melangkahkan kaki menuju tempat yang lebih dalam lagi di kediaman Uchiha ini. Lalu entah mengapa aku mendengar suara yang familiar dari arah belakang. Aku pun pergi kearah sana.
"Teme ni-chan, kenapa kita lewat belakang" Ahhh suara ini sepertinya kukenal, suarang seorang bocah.
"Sttttt… jangan berisik dobe. Aku tak mau ketahuan sama orang tua itu" Ini aku yakin suara Sasuke-sama. Kira – kira dia bersama siapa yaa?
Setibanya aku sampai di arah suara yang kedengar. Aku sungguh tekejut melihat siapa yang bersama Sasuke-sama. "Naru-chan…" Anak yang kupanggil itu pun langsung menabrak ku dengan pelukan hangat.
"Iruka-san"
"Naru… Kenapa kau disini?" aku membaelai rambut pirang yang agak basah itu.
"Di luar hujan, jadi kubawa masuk" potong anak berambut reven itu sambil membawa handuk ditanganya. Ia melemparkan salah satu handuk yang ia bawa pada Naruto-sama. Anak ini meski dingin tapi dia baik. "Ambil ini dobe"
"Hey Sasuke-kun, Naruto bukan anak kucing loh. Masak asal bawa masuk aja." Sindirku pada Sasuke
"Hn" jawab Sasuke dingin.
"Jadi kenapa kau bisa bersama Sasuke, Naru-chan" aku kembali bertanya pada Naruto-sama.
"Tou-san membenciku, jadi aku kabur dari rumah. " Jawabnya sambil manyun, sendangkan aku agak tertegun mendengar pernyataannya. Lalu Naruto pun melanjutkan perkataanya."Aku hanya terlambat pulang. Terus saat aku kasih benda yang Iruka-san merikan pada tou-san. Tou-san malah marah, dan hampir memukul Naru"
Aku bisa melihat mata Naruto-sama sedikit berkaca-kaca. Anak ini pasti menahan diri lagi untuk menangis. Aku jadi merasa bersalah pada Naruto-sama. Selama ini aku belum pernah melihat Minato-sama marah pada Naruto-sama. Tapi karena aku Naruto-sama jadi seperti ini.
"Naru gak ngasih tau Minato-sama kan klo Iruka-san yang nyuruh Naru kasih benda itu" Tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulut ku. Ternyata aku sangat jahat ya. Padahal karena aku anak polos ini terkena masalah, tapi aku malah menghawatirkan diri ku sendiri.
"Tidak" Jawab Naruto-sama sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Naru kan sudah janji sama Iruka-san"
Dalam suasan yang membuat ku mesara bersalah ini. Tiba-tiba sebuah tangan pucat menarik Naruto dari hadapan ku.
" Dobe, ayo kita kekamar ku. Dan Iruka-san bawakan aku dan dobe ini minuman hangat. Segera" perintah Sasuke padaku. Aku merasa diabaikan dan mendadak jadi pelayan bocah-bocah ini. Hah… apa semua Uchiha itu berbakat memperbudak seseorang ya?
~ Iruka POV end~
.
.
Disuatu tempat di tengah kota, seorang pria bernama Minato masih terus mencari anaknya walau saat itu sedang hujan. Ia merasa sangat bersalah pada anaknya. Naruto itu tak tau apa-apa tapi kenapa Minato tiba-tiba marah pada anaknya itu.
"Ughh… Naruto kau dimana?" ucap pria itu lirih. Minato mengeluarkan telpon genggamnya dan segera menelpon seseorang di seberang sambungan itu. Seseorang yang menbantu Minato mencari anaknya, dia adalah Kakashi. Kakashi sedang mencari Naruto disekitar sekolah Naruto dan taman tadi siang.
"Halo, Kakashi kau sudah menemukan Naruto?" tanya Minato tanpa basa - basi.
"Maaf Minat-sama saya belum menemukannya"
"Teruslah mencari" kata Minato dan langsung memutus sambungan itu.
Minato pun melanjutkan pencariannya dangan menelusuri kota itu. Minato hanya berjalan kaki mancari Naruto disekitar perusahaannya. Ia tak perduli lagi jika tubuhnya basah terkena hujan, yang ia pikirkan sekarang hanyalah Naruto.
.
.
.
Didalam sebuah mobil ada makhluk kejam yang telah membuat Minato menderita seperti ini, ya ia adalah Uchiha Fugaku. Fugaku berada dibelakang Minato tak jauh, kira-kira ia berada 50 meter dari Minato. Fugaku sedang menikmati pemandangan indah dari orang yang di incarnya. Minato terlihat berjalan sempoyongan dan tampat frustasi. Ia tahu melihat keadaan Minato saat ini, pastilah Minato akan memohon bantuannya. Karena Fugaku lah harapan Namikaze Minato.
Saat sedang asiknya Fugaku menikmati hiburannya itu, Hp-nya berbunyi. Telpon itu dari Iruka. Agak bingung mengapa Iruka menelponnya. Fugaku hanya bersepekulasi bahwa Iruka ingin meminta pengakuan atas kebebasan hidup dirinya dari Fugaku.
"Halo… Fugaku-sama"
"Hnn…" jawab Fugaku malas.
"Aku ingin menagih janjimu. Aku sudah melakukan semua yang kau perintah" kata Iruka diseberang sana dengan mantap.
"Aku mengerti. Sekarang kau bebas, hutangmu dan juga orang tua-mu juga telah kuanggap lunas" ucap fugaku dingin. Sebenarnya ia belum mau membebaskan Iruka, Fugaku masih ingin memanfaatkan Iruka jika Minato gagal lagi ia miliki. Tapi janji adalah janji, ia harus meepatinya.
"Oh yaa… aku punya info yang akan membuatmu bahagia. Naruto ada disini, dikediaman mu" tak lama kemudian sambungan itu pun terputus. Mendengar pernyataan terakhir Iruka tadi senyum iblis terlukis kembali diwajah Sang Uchiha itu.
Fugaku melihat kearah Minato yang mulai menjauh dengan tajam. Ia sepertinya mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sedari tadi ada di dalam kepalanya. 'Aaa, jadi itu yang kau cari Minato' pikir Fugaku.
.
Minato memang merasa diawasi dari belakan dengan tatapan tajam. Tapi tak ia hiraukan, Minato punya hal yang harus segara ia temukan. Meski makin lama ia berjalan, kepalanya makin terasa berat. Pandangannya kurang fokus, dan pikirannya tidak menentu.
Saat Minato rasa ia tak akan kuat lagi bertahan dan merasa akan jatuh. Seseorang menahan tubuhnya dengan lembut. Milihat siapa yang menahan tubuhnya, ia pun terbelalak "Fugaku"
"Aku tau dimana yang kau cari berada" bisik Fugaku, mencuri kesempatan dalam posisi mereka saat ini.
Minato pun langsung membalikan badannya mendengar pernyaan Fugaku itu. Minato tak bisa berkata-kata ia hanya terus menatap secara mengintimidasi ke Fugaku.
"Ikuti aku. Aku akan memberitahu mu keberadaannya" seringai terlukis indah di wajah Fugaku setelah berbisik lagi di telinga Minato.
Tak memiliki banyak pilihan Minato hanya dapat mengikuti keinginan Fugaku. Yah, berharap saja hal buruk tak akan terjadi jika ia mengikuti iblis yang kejam ini.
.
.
.
Disebuah kamar hotel yang mewah, ada dua laki-laki yang masih saling bertatapan. Yang satu berambut pirang masih berdiri dengan pandangan was-was. Yang satu lagi berambut raven sedang duduk di tempat tidur berukuran king size.
"Apa maksud mu membawa ku ketempat seperti ini, Fugaku?" terlihat Minato agak marah karena orang didepannya ini seenaknya saja membawa dirinya ketempat ini.
"Aku tak membawamu. Kau yang mau ikut bersamaku" Fugaku menyeringai, puas akan jawabannya sendiri.
"Cih…" Minato hanya dapat berdecih mendapat jawaban itu, jawabannya memang benar. "Jadi kapan kau akan member tahu dimana anakku?"
Petanyaan Minato lantas membuat seringai-an Fugaku berganti jadi senyum yang sulit diartiakan " Heh… aku tak hanya akan member tahu keberadaan anakmu saja. Aku akan membuatmu memohon bantuanku. Jadi ikuti saja permainannya"
Minato merasakan bahaya datang dari Fugaku. Ya, berar saja firasat Minato tadi. Meski Minato sudah cukup waspada. Tapi tetap saja Fugaku lebih unggul. Kini Fugaku menarik tubuh Minato kedalam pelukannya. Posisi mereka terbaring dia atas kasur dengan Minato berda diatas tubuh (pelukan) Fugaku.
"Apa yang kau lakukan" Minato kesal atas perlakuan Fugaku, tapi teatap saja Fugaku berhasil membuat wajahnya memerah.
'Manis' pikir Fugaku. Tangan kiri Fugaku memeluk tubuh Minato dengan erat, seperti tak mau melepaskan Minato. Sedangkan tangan kanannya berusaha melucuti kancing kemeja Minato satu persatu.
"Hei, berhenti" Minato berusahan menolak perilaku Fugaku terhadap dirinya. Kini wajah Minato menjadi lebih merah dari sebelumnya.
"Pakaianmu basah, sayang" bisik Fugaku ditelinga Minato dengan suara yang seduktif "Nanti kau sakit"
Meski pernyataan Fugaku benar, tapi tetap tak membuat Minato berhenti untuk memberontak. Sambil terus mengekspos tubuh nan lembut Minato. Fugaku mulai menjilati telinga Minato. Jilat, lahap, gigit, dan emut, itulah nasib telinga Minato sekarang.
"Eng…. Hh" sebenarnya Minato sudah berusaha keras agar tak mengeluarkan suara-suara aneh. Tapi yang satu tadi lepas tanpa sadar dari mulutnya. Merasa bahwa Minato telah mulai menikmati permainannya, Fugaku malah lengah. Minato yang sedari tadi berusaha lepas dari pelukan Fugaku akhirnya dapat melepaskan diri.
Minato terduduk di samping Fugaku, sambil terus mengatur napasnya. Minato telihat lelah setelah berusaha memberotak dan menahan desahan akibat permainan Fugaku. " Ha-hah, a-aku kesini bu-bukan untuk melakukan hal seperti itu"
Fugaku sedikit dibuat jengkel oleh pernyataan Minato tadi. "Saa, kalau begitu tanda tangani ini. Pejanjian ini berisi bahwa perusahaan ku akan membantu perusahaan mu. Jika kau berikan tubuhmu, jiwamu, dan hidupmu untukku. Kau harus selalu ada disisiku selamanya"
Minato hanya diam di sodori surat perjanjian itu. Diamnya Minato makin membuat Fugaku marah. Fugaku pun memegangi tangan Minato dengan erat, lalu melepas kemeja yang masih melekat di tubuh Minato. Dengan kemeja itu Fugaku pun mengikat tangan Minato. Lalu memposisikan tubuh Minato terlentang dibawahnya.
"He-Hentikan Fugaku, hubugan kita tak seperti dulu lagi. Sekarang hatiku hanyalah milik Kushina" Minato sedikit merintih karena prilaku kasar Fugaku. Setelah sikap diamnya, pernyataan Minato ini membuat kemarahan Fugaku tak terbendung lagi. Fugaku pun menapar pipi Manato.
PLAKK
"DIAM! " setelah mendapat tamparan keras hingga berbekas dari Fugaku, Minato hanya terdiam meresapi rasa sakit yang panas menjalar dipipinya. Dia juga shok karena bentakan Fugaku.
Hening….
"Cih, aku kengilangan mood ku" Fugaku yang terlihat kehilangan hasratnya beranjak dari kasur dan berjalan meninggalkan Minato yang sudah terangsang. Entalah Minato harus merasa apa lega atau malah bingung.
Terlihat Fugaku sedang menelpon sesorang, entahlah apa yang dibicarakannya. Minato tak dapat mendengar apa yang di bicarakan Fugaku. Setelah selesai menelpon fugaku malah melakukan sesuatu yang mengagetkan, hingga membuat Minato terbelalak. Fugaku melepas kan seruh kain yang menempel ditubuhnya hingga ia benar benar telanjang.
"Fu-Fugaku a-apa yang lakukan" agak terbata-bata ucapan Minato karena keget akan tingkah sang Uchiha.
"Ayo kita mulai" Fugaku berjalan kearah Minato sambil menyeringai. Fugaku kembali memposisikan tubuhnya diatas Minato.
Fugaku mulai permainannya dengan mencium bibir merah Minato. Namun sayangnya Minato belum mau memberikan akses bagi lidah Fugaku untuk masuk ketahap ciuman yang lebih. Fugaku tetap gigih untuk mendapatkan akses dari Minato, ia pun masih menjilat – jilat bibir Minato. Geregetan karena Minato tetap kukuh tak memberinya akses, akhirnya Fugaku menggunakan car yang sedikit memaksa. Ia menggigit bagin bawah bibir Minato, hingga Minato mengerang. Dan kesempatan itu tak disia-saian oleh Fugaku. Ia mulai memasukan lidahnya kedalam mulut Minato.
"Engnnn… nh" Minato bisa merasa kenikmatan ddari permainan ini. Namun ia berusaha menyangkal persaan itu. Minato terus melawan pergerak lidah Fugaku, tapi tetap saja Fugakulah yang mendominasi permainan ini. Tanpa Minato sadari celana yang tadi masih bertengger di kakinya sudah tidak ada. Sekarang Minato sudah bertelanjang seluruhnya sama seperti Fugaku.
Setelah Fugaku merasa bahwa ia membutuhkan udara kembali, ia pun akhirnya melepaskan ciuman menuntutnya dari mulut Minato. Wajah Minato sangat merah, ia juga terengah-engah karena kehabisan napas. Sedangkan Fugaku menyeringai karena merasa ciumannya mampu memuaskan uke dibawahnya ini.
"Kau menikmatinya kan, Minato? Lihat sliva kita saja menyatu seperti ini" Goda Fugaku, yang Minato balas dengan memalingkan wajahnya.
"Bodoh, t-tak mungkin aku menikmatinya" sangkal Minato yang tak mau menatap wajah Fugaku.
Gemas dengan tingkah Minato yang selalu menyakal kenikmatan yang ia berikan. Fugaku pun melanjutkan aksinya. Ia menjilat bagian pipi hingga leher Minato.
"Ehh… nnng… he-hen-n-tikan" erang Minato tanpa sadar. Mengetahui sang kenikmatan dengan permainanya, Fugaku semakin bernafsu menyerang Minato. Fugaku melanjukan Menjilat dan mecium kebagian bahu dan dada Minato.
"Akhh… mmm... hngg" Fugaku meninggalkan beberapa tanda di tubuh Minato, yang menyatakan bahwa Minato adalah miliknya.
"Aghh…nngh" Tak tahan dengan godaan dari puting bewarna baby pink milik Minato. Dengan rakusnya Fugaku langsung melahapnya. Tangan kanannya memainkan puting sebelah kanan, sedangkan mulut Fugaku asik menjilat dan menggigit puting sebelah kiri Minato.
"Hiahhh… anghhh" desahan demi desahan terus meluncur dari bibir manis Minato. Fugaku pun semakin terangsang , membuat permainannya menjadi semakin liar. Bergantian, mulut Fugaku kini memainkan puting kanan Minato, dan tangan kirinya bermain di sebelah kiri. Sedangkan tangan kanan Fugaku yang bebas kini menyusp kebagian bawah. Bagian privasi yang berada di antara selangkangan Minato. Fugaku mulai bermain dengan dua bola milik Minato, dengan mengocoknya.
Fugaku mulai berhenti memainkan dua tonjolan di dada Minato. Fugaku sedang menikmati saat-saat miliknya bergesekan dengan milik Minato. "Ngnnnn.. hnn..." "Mmnnnn... ahnnnnn". Mereka berdua saling mendesah, meski suara desahan Fugaku tak begitu terdengar.
Akhirnya Minato sampai pada klimaksnya yang pertama. Sedangkan Fugaku hanya dapat mengeluh karena sang uke begitu cepat keluar "Ah, kau sudah keluar duluan sayang. Padahal aku belum. Gimana kalo aku lanjutkan permainan ini ke permainan yang lebih nikmat lagi. Aku janji akan membuat mendesah nikmat lebih keras lagi"
Minato tak bisa menjawab pernyataan seduktif Fugaku. Ia terlalu lelah dengan permainan yang diberikan Fugaku.
Tak mendapat jawaban dari Minato, Fugaku langsung melanjutkan aksinya. Ia mengangkat kaki Minato hingga terlihat sebuh lubang bewarna kemerahan disana. Lalu Fugaku mulai memasukan jari telunjuknya kelubang Minato yang sedari tadi telah berkedut meminta untuk dimasuki. "hnnnnn..."
Fugaku memasukan lagi satu jarinya, jari tengah. Itu berarti sudah dua jari didalam Minato. "Unghhhh... ahnnnnn"
Ahh, desahan Minato memang terdengar sangat seksi, begitulah yang Fugaku pikirkan. Fugaku yang kini telah memasukan jari manisnya, sebagai jari ketiga yang berada dalam lubang Minato. Lalu melakukan gerakan zig – zag didalam sana. Mandapat perlakuan tiba-tiba itu, Minato terpekik seketika "Hiyaaaa... aghh... enghhh"
"Kau harus siap Minato" Biasanya seorang same akan menyakan kesiapan sang uke. Namun tidak begitu untuk Fugaku, ia malah memerintah Minato untuk menyipkan dirinya.
Fugaku telah memposisikan benda miliknya di depan lubang Minato. Sedikit demi sedikit Ia memasukan miliknya. Meski Fugaku telah mempersipkan lubang Minato tadi, Minato tetap saja merasa sakit di masuki benda besar yang asing.
"Ughhh..."
Hening, semuanya diam tak ada yang bersuara. Bahkan Fugaku tak bergrak sedikit pun, meski miliknya telah berada didalam Minato.
"Sakit ya, Minato" dengan inisiatifnya sendiri Fugaku mencium Minato, berusaha mengurang sakit yang dirasakan Minato.
Fugaku mulai memundurkan pinggulnya dengan pelan, lalu memajukannya lagi. Fugaku melakukan hal tersebut begitu hati-hati dan lembut. Sedangkan Minato mendesah pelan. Karena Fugaku ingin mendengar desahan Minato lebih, ia pun mempercepat tempo permainannya sedikit demi sedikit.
"Mmmnghh..." Minato sedang berusaha melepaskan ciuman Fugaku. Dia sungguh mersa tak nyaman dibagian bawahnya. Dibahwanya sangat terasa sakit namun ada kenikmatan didalamnya. Itu membuat Minato kebingungan sendiri.
"Gahhh... AHHhhh... ngnnn" Fugaku akhirnya menemukan titik pospat, titik kenikmatan milik Minato. Hal itu membuat Minato merasakan kenikmatan baru yang belum pernah ia rasakan. Seperti semua rasa sakitnya menghilang sehingga yang tersisa cuma perasaan enak.
Makin lama Fugaku memaju mundurkan miliknya, semakin kasar juga permainannya. Sedangkan Minato mendesah liar karena permainan kasar Fugaku. Karena mereka kehabisan oksigen, Fugaku pun melepaskan ciuman-nya. Fugaku fokus menikmati sensasi yang diberikan oleh lubang Minato. Yang Fugaku rasakan lubang Minato itu seperti berusaha melahap bendanya lalu memijat benda-nya. Sehingga kenimatan demi kenikmatan seperti datang satu persatu.
"AHHHHhhh... AANNN..." Minato mendesah hebat ketika merasakn benda didalam lubangnya menjadi lebih besar. Ya, Fugaku kini sungguh menegang hingga bendanya menjadi lebih keras dari sebelumnya . Dia terangsang oleh desahan dan wajah memerah dari Minato.
"Fuh-ga-ku ukhh... hnnnnn"
"Mi-nato nnn..."
Merak saling mendesahkan nama, seiring klimaks mendekati mereka. Tempo menjadi sangat cepat. Keluar – masuk – keluar – masuk –keluar lagi – lalu masuk begitu terus hingga akhrinya mencapi klimaksnya masing – masing.
"FUU... GHAAAAaahhhh..."
"MMMmmm... nghh..."
Mianto klimaks lebih dahulu lalu di ikuti Fugaku. "Hah... hahh... hahh..." Mereka beradu mencari oksigen yang di perlukan paru-paru mereka. Ternyata kagiatan ini membuat Minato kelelahan, tapi bagaimana dengan Fugaku? Dia kelelehan tapi ia nampaknya masih akan melakukan-nya lagi pada Minato.
Fugaku duduk, lalu mengangkat tubuh Minato yang ia posisikan dipangkuannya. Minato berada diatas Fugaku dengan arah langsung mengahadap sang Uchiha.
"Ap-apa yang kaulakukan? Berhenti, aku lelah" kata-kata protes Minato tak hanya dihiraukan oleh Fugaku. Malahan Fugaku telah menaruh bendanya kembali di depan lubang Minato.
"Hnn" jawab Fugaku, klo haruf – huruf tadi diartikan mungkin artinya aku juga lelah, tapi aku belum puas. Buktinya Fugaku memasukan miliknya tak seperti di awal permainan yang lembut, ia memasukan dalam sekali hentakan ke lubang Minato.
"GYAAaahhh... akhhh..." Minato tak kuasa untuk berteriak, hentakan yang ia rasakan begitu sakit, hingga terasa perih.
Fugaku memeluk Minato erat, sepertinya ia tak tega melihat Minato kesakitan. Sayangnya, nafsu di dalam dirinya tak mau mentolerin. Fugaku mulai menaik turunkan tubuh Minato yang lebih ringan dari dirinya dengan hentakan hentakan.
SLAP – SLAP – SLAP – SLAP – SLAP suara kulit yang melapisi daging itu saling berbenturan sehingga seperti suara tamparan. Kenikmatan lebih dalam fugaku rasakan. Karena dengan posisi seperti ini benda miliknya bisa masuk lebih dalam lagi ketubuh Minato.
"Ahh... sungguh mengagumkan. Lubangmu sungguh nikmat, Minato" puji Fugaku akan sempitnya lubang Minato yang memberinya kepuasan.
"Akhh... Nnnnn akh-ku mo-hon ber-henti. Ak-uhh... tak khu-at lag-i. Ughhh..." Mohon Minato , ia tau bahwa dirinya sudah sampai batasnya.
"Ber-sama, Minato nhh..." Fugaku mulai mempercepat pergerakan naik turunnya, lalu akhirnya mereka mengeluarkan hasratnya bersamaan. Fugaku mengeluatkan didalam lubang Minato dan minato sendiri mengeluarkan diluar. Sehingga cairan menyebar kemana-mana, paling banyak disekitar perut mereka berdua.
"AGHHHHhhh... mmnnnn..."
"Kuhhh... hngggg..."
Cairan Minato yang menyiprat diwajah Fugaku, ia jilat tanpa rasa jijik sedikit pun. "Maaf Minato, aku tahu kau lelah. Tapi cairan-mu yang nikmat ini, membuatku ingin lebih"
Fugaku membalik tubuh Minato, membuat kepala Minato berada dibawah. Sedangkan bagian pantatnya barada diatas. Fugaku menggoda Minato sedikit dengan mejilat depan lubang Minato yang ada di belahan pantat kenyal Minato.
Mersa cukup jilat menjilatnya, Fugaku pun memasukan kembali benda miliknya. Fugaku terdiam sejenak, ia tak bergerak sedikitpun. Karena Fugaku tertegun melihat air mata yang keluar dari ujung mata Minato.
"Maaf" kata-kata maaf itu seperti pertanda bahwa Fugaku tak bisa menhan diri untuk merasakan kenikmatan lagi. Sambil terus memaju mundurkan pinggulnya, tangan Fugaku mulai bermain lagi di puting Minato.
"AHHHHNnnnn... nyahhh..."
"Ukhh... Mmmnnn..."
"HIYAhhhhgg... ummmmm..."
"hah... ummnnnn..."
Desahan tanpa henti terus meluncur dari mulut Minato. "Be-ber-hent-i, Fugaku a-ku le-lah ahh..." Tak mengindahkan ucapan Minato Fugaku malah makin asik dengan kegiatannya. Merasa sebentar lagi akan keluar, Fugaku menurunkan tangannya dri puting menuju benda milik Minato. Seprtinya Fugaku ingin kelimaks bersama lagi dengan Minato.
"Hiyahhhh...nnnyynnnnnn... Berhenti Fugaku. Baik aku akan tanda tangani perjanjian tadi" mendengar peryataan itu Fugaku menjadi bahagia. Tapi bukannya menhentikan aksinya, Fugaku malah mempercepat temponya dan kocokan-di benda Minato.
"AHHHH... Nggghhhh" "MMMnnnggggg..." erangan mereka berdua menandakan bahwa keduanya klimaks secara bersamaan. Benih-benih cinta berhamburan dimana-mana. Fugaku melepaskan bendanya dari lubang Minato. Dan Minato seketika itu juga jatuh terkulai di atas karus, ia sungguh tak berdaya akibat kelelahan. Terlihat dari lubang Minato cairan cinta yang dikeluarkan Fugaku merember keluar. Itu menandakan betapa banyaknya cairan milik Fugaku terdapat di tubuh Minato.
Sebelum Minato tertidur, Fugaku menyodorkan surat perjanjian yang harus ditandatangi Minato. Mau tak mau minato harus menandatanginya, kalau tidak Fugaku tak akan membiarkannya tidur. Melihat surat perjanjian itu telah ditanda tangani Fugaku pun menyeringai iblis. Pasti ia sedang berpikir ' Akhinya Minatomenjai miliknya ' .
Manato yang terkulai kelelakah, tertidur dalam posisi seperti seekor kucing yng kedinginanan. Senyum Fugaku berubah menjadi senyum yang lembut melihat Minato seperti itu. Fugaku pun membenarkan posisi tidur Minato lalu menyelimutinya. Dan tidak lupa Fugaku juga memberikan kecupan sebelum tidur untuk Minato. Akhirnya keduanya tertidur dengan lelap.
.
.
Keesokan paginya, Minato terbangun agak siang. Ia menyadari bahwa ia sendirian. Mungkin Fugaku bangun lebih awal dan juga pergi lebih dulu. Minato melihat kempingnya, diatas meja tersedia sarapan untuknya dan juga ada sebuh surat. Minato baca surat dari Fugaku itu, isinya seperti ini. Pagi Minato, kurasa kau akan bangun agak siang. Maaf aku pergi duluan. Untuk kerjasama antar Namikaze dan Uchiha aku yang akan urus. Dan perinikahan kita juga aku yang urus. Pernikahan kita dilakukan minggu depan. Kau harus beristirahat, aku sangat kelelahan semalam.
Minato terkekeh sendiri membaca pesan dari Fugaku, ternyata Fugaku bisa romantis juga ya. Ia mau menyiapkan seluh hal yang merepotkan seperti itu sambil memikirkan keaadan dirinya.
Minato memikirkan kejadian semalam antara dirinya dan Fugaku. Seharusnya ini terkesan seperti pemerkosaan yang dilakukan Fugaku. Tapi ia malah ikut menikmatinya. Minato berpikir bahwa meski ini perbuatan yang sulit untuk dimaafkan. Mianto mungkin masih bisa memaafkannya, karena yang melakukan itu adalah Fugaku. Orang yang dulu ia cintai, sebelum bertemu Kushina.
Terlalu asiknya Minato dengan pikirannya sendiri, ia malah lupa pada Naruto yang semalam ia cari. Untunglah Naruto aman. Semalam ia diantar Iruka kerumah Kakashi. Betapa bahaginya Kakashi yang akhirnya menemukan Naruto.
Oke selesai, gimana lemonya hot gak. Kayak nya sih enggak yaa, kan aku masih amatir. Semoga kalian menikamati fic ini yaa...
Dan juga maaf yaa aku lama updet nya, hobi utamaku gambar sih jadi kalau untuk nulis gak bisa cepat-cepat. Mohon dimaklumi yaa
