Sebastian tidak akan tinggal diam. Dilindunginya sosok rapuh itu dibelakangnya. Teka-teki yang selama ini dia cari sedikit terjawab.
"Maaf. Paman Claude. Ciel tidak bisa pulang dengan anda." Sebastian tersenyum. Mencoba mentenangkan rambut kelabu yang berada dibelakangnya.
Claude terhenti sejenak. Menatap Kesal dengan sosok rambut raven yang menghalangi jalannya untuk mengambil permata simpanannya.
"Kau siapa?" tanyanya sinis.
"Saya adalah Sebastian Michaelis." Wajahnya tersenyum tenang. "Kekasih dari Ciel Phantomhive."
Kuroshitsuji © Yana Toboso
WARNING :
AU. OOC. typo(s), some EYD mistakes. Slight inappropriate incest theme between Claude and Ciel. POV Transitions. Adult content.
Yaoi/Shounen ai!
Chapter 3
Enigma
.
.
Ciel terbelalak. Dari matanya seperti menjawab 'apa kau gila?!' walau dia ketakutan tetap saja pernyataan Sebastian sangat mengejutkannya.
Claude terhenyak lalu menatap sinis eksisitensi yang bersembunyi dibelakang laki-laki bermata ruby. Yang ditatap hanya mengapit baju Sebastian dengan gemetar sebagai tameng.
"Kita pulang Ciel, bibi mengkhawatirkanmu." Wajah Claude -pura-pura- khawatir. Pernyataannya terdengar aneh ditelinga Ciel.
"Bu-bukankah bibi sedang kerja, Paman?" Tanya Ciel ketakutan. Sebastian terdiam masih terus menatap eksistensi dihadapannya. Mencoba menggenggam tangan mungil gemetar.
"Dia menyuruhku untuk menjemputmu, Ciel. Lukamu harus diobati." Claude terus berusaha sebaik mungkin agar Ciel mau pulang bersamanya.
"Da-darimana Bibi tau, aku terluka? Tadi pagi dia tidak menanyakan luka wajahku." Claude terbelalak. Terjebak. Sebastian menyipitkan matanya. Curiga.
"Cih!" Claude terpojok. Dengan sigap Claude menghampiri Sebastian dan meraih kerahnya dengan kasar. "Menyingkirlah dari hadapanku!" ancam Claude.
Ciel yang sedang berlindung dibelakang Sebastian semakin ketakutan. Dia takut jika Sebastian berkelahi dengan pamannya. Kenapa Sebastian? Kenapa kau melindungiku? Kau jadi ikut terseret dalam masalahku.
"Tidak akan," Jawab Sebastian, mempertahankan posisinya. "Ciel akan pulang bersamaku." Skakmat. Sebastian menyingkirkan tangan kotor yang sudah menarik kerahnya dengan tidak elit.
Dengan santai Sebastian berbalik dan menggendong Ciel ala bridal menjauhkan dari paman sinting itu. Sebastian masih menggunakan logikanya agar tidak ada perkelahian diantara mereka. Tapi Sebastian sudah siap akan konsekuensi yang akan dia hadapi saat ini.
Claude hanya bisa menggeram melihat cowok bermata ruby berhasil menculik permatanya. Rencananya gagal. Khayalannya hilang. Ekstasi yang membuat dia bercandu telah direnggut olehnya. Fantasi yang sudah dia inginkan hilang oleh keangkuhan sosok pahlawan kesiangan.
Amarah. Benci. Dendam.
Claude berseringai, dia memikirkan sebuah rencana. Rencana yang tidak boleh gagal untuk kedua kalinya.
"Se-sebastian. Bisa turunkan aku?" Sebastian terdiam. Ciel menggeliat tak nyaman dihadapan Sebastian. Sosok itu secara tiba-tiba mengangkutnya layaknya menyelamatkan korban dari terkaman sang predator.
Peluhnya serasa keluar begitu saja. Entah shock, grogi, takut atau percampuran antara ketiganya. Kepalanya sudah tidak bisa berfikir jernih. Dia mau berteriak, melepaskan segala beban, menangis tersengal.
Tapi tak tau harus bagimana. Terlebih tak tahu untuk siapa. Siapa yang harus dipersalahkan akan nasibnya yang tragis? Claude kah? Bibi Hannah kah? Atau memang nasibnya sendiri yang seharusnya diadili.
Karena terlepas dari segalanya, dia tak berani mengambil konsekuensi, tak berani keluar dari zona nyamannya, walau hidupnya benar-benar tak aman. Tekanan batin ini, rasa bersalah terhadap diri sendiri ini dan hampir menyalahkan garis takdir membuat kepala Ciel mulai terasa berdenyut.
Refleks dia mulai memegang rambut kelabunya, agak kasar. Terbukti dengan tercabutnya beberapa helaian surainya. Ciel mengerang sejadi-jadinya. Kalut dan sangat takut. Takut akan takdir yang mempermainkannya. Kalut akan keadaan dirinya sendiri yang menyedihkan.
Kesadaran dan kestabilan emosinya telah mencapai limit. Benar-benar tak tahan mengapa harus aku? Mengapa harus aku? Kata-kata keputus asaan itu terus saja menggaung di telinganya, mengantarkan kepada ketidak sadaran yang membutakan...
~DISTRESS~
Sebastian POV
Aku melihat nafasnya yang tidak beraturan. Matanya bergerak-gerak tidak nyaman. Aku menatapnya khawatir. Aku baru saja selesai mengobati memarnya. Dia terlalu shock dengan kedatangan pamannya yang begitu mendadak. Sebenarnya luka apa yang ditimbulkannya hingga memar seperti ini? Apa yang terjadi sehingga dia begitu ketakutan? Serentetan pertanyaan terbesit dalam pikiranku. Semua begitu membingungkan.
"Ugh..." dia mulai membuka matanya perlahan-lahan. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali. "A-aku dimana?" Bingung.
Aku tau dia akan bingung. Saat ini aku telah membawanya ke apartemenku. Sebenarnya aku bisa saja membawanya ke ruang kesehatan tapi melihat situasi yang sedang genting membuatku mengurungkan niatku kesana. Sama saja mengundang serigala kelaparan.
"Kau sedang berada dikamarku, Ciel." Aku tersenyum.
Dia terbelalak kaget dan langsung bangun dari tidurnya. Mengucek matanya berkali-kali. Dia sepertinya terkejut. Aku melihat matanya sedang berjelajah kesepenjuru ruangan.
Normal POV
Ciel masih terkejut. Matanya belum terbiasa dengan ruangan yang begitu elegan. Ini sebuah kamar lho, bukan hotel! Mungkin ruangan lainnya lebih elegan dari ini. Sebuah lampu tempel yang sangat klasik bersinar. Jendela lebar yang biasa melihat matahari terbit tertutup rapat. Dinding coklat dengan kombinasi ukiran unik terlihat agak sedikit gelap karna daya cahayanya yang kurang terang. Malam.
"Kenapa aku bisa berada disini? Seharusnya kau mengantarku pulang.." Ciel masih agak mengerang menahan sakit kepala.
Tapi sepertinya yang lebih sakit jauh berada didalam. Gumpalan darah yang bisa merasa, hati. Ya, hati Ciel sakit. Menertawai dan menangisi takdirnya sendiri. Pandangannya seketika kosong. Entah apa yang akan dilakukannya sekarang. Pastinya Paman Claude tak akan diam. Dia tak akan bisa melihat Ciel nyaman..
"Aku akan mengantarmu pulang.." Sebastian beranjak dari duduknya.
Meraih jaket hangat dan kunci mobilnya. Perlahan manik biru bertemu merah. Sang merah memancarkan kesungguhan tak terkira. Lupa akan segalanya. Yang tertuju hanya satu. Pangeran malang yang berhasil merenggut hatinya dan sekarang sedang berbaring didepannya.
"Aku akan mengantarmu. Meminta ijin ke keluargamu, untuk tinggal bersamaku." Sebastian menatap teduh Ciel yang mengatupkan mulutnya. Dia sudah tidak bisa berkata apapun lagi.
Mobil ferrari hitam melaju dengan kecepatan standar. Ciel masih ragu keputusan Sebastian yang hanya disetujui sebelah pihak. Ciel masih takut bertemu dengan pamannya. Tapi melihat kesungguhannya Ciel mengurungkan untuk menolak.
"Kau sungguh dengan ucapanmu, Sebastian?" Ciel memastikan. Sebastian hanya menoleh dan tersenyum tulus.
"Jika aku sudah membuat keputusan, maka aku harus mempertanggung jawabkannya."
Ciel tercengang. Jawaban Sebastian membuat Ciel blushing seketika.
Sebastian sudah beberapa kali menolongnya. Saat dia dapat telpon dari pamanya, lalu pamannya yang datang kekampus tanpa ada pemberitahuan, dan juga menolongnya saat paman itu ingin 'menculik'nya. Sekarang dia akan meminta ijin untuk tinggal bersamanya? Ciel tidak bisa membayangkan jika benar-benar satu atap dengan Sebastian.
Ferrari hitam sudah berada dipekarang rumahnya. Sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Tidak ada suara anak berlari ataupun menangis karena bibinya belum mempunyai anak. Maka dari itu bibinya sangat menyayanginya. Ciel dan Sebastian sudah berdiri didepan pintu bercat coklat dan mengetuknya..
Tok! Tok!
2 ketukan sudah sanggup membuat pintu itu terbuka. Disana terlihat sosok laki-laki berdiri dihadapan mereka. Mata keemasan berkilat seketika. Kesal. Dia jadi teringat akan kegagalannya saat mengambil anak berkulit putih mulus itu.
"Kaauuu...!" Geramnya tertahan.
Sebastian yang berada disamping Ciel dengan sigap langsung merentangkan sebelah tangannya memberi jarak antara Ciel dan pamannya.
"Selamat malam paman Claude," Sapa Sebatian tenang. Tidak dihiraukannya suara geraman yang menusuk telinganya. "Boleh kami masuk?" tanyanya senyum.
Claude menatap jengkel lelaki yang ada dihadapannya. Dia merasakan bahwa rencananya akan gagal jika Ciel bersama dengan laki-laki yang sedang tersenyum 'palsu' dihadapannya.
"Sayang, siapa tamu diluar?" tanya Bibi Hannah keluar dari kamar. Dia menghampiri tamu diluar yang belum diperbolehkan masuk oleh pemilik rumah. "Ah.. Ciel, kau kemana saja?" Bibinya terkejut, ada nada khawatir disana.
Dipeluknya anak laki-laki yang tingginya hanya sebahu. Ada suasana hangat diantara mereka. Ciel tidak biasanya pulang lewat dari jam minum teh sore. Maka dari itu dia merasa sangat khawatir.
"A-aku dari rumah teman, bibi" Ciel menjawab gugup. Melepaskan pelukannya dan tersenyum. Dia takut ketahuan berbohong.
Bibinya hanya tersenyum lalu menatap laki-laki disebelah Ciel.
"Diakah temanmu, Ciel?" Tanyanya kagum. Karna selama ini Ciel belum pernah mengajak teman kampusnya kerumah. Bibinya sangat khawatir dengan cara sosialisasi Ciel terhadap orang lain, karna dia sangat tertutup.
"Perkenalkan. Saya Sebastian Michaelis." Sebastian agak membungkuk memberi hormat.
"Ah, saya Hannah Faustus. Silahkan masuk." Bibinya langsung membimbing tamunya untuk masuk kedalam istana sederhananya.
Claude masih diam mematung memperhatikan gerak gerik Ciel beserta 'kekasih'nya yang sudah duduk nyaman disofa milik mereka.
"Sayang, kenapa kau masih disitu? Tolong temani tamu kita. Aku mau membuatkan teh." Panggil istrinya mesra. Dia langsung beranjak dari kursi menuju dapur.
Claude menatap sinis kearah mata ruby. Benci. Dia pun berjalan dengan angkuhnya menuju sofa. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya terdengar suara dentingan cangkir dari arah dapur.
"Sebastian, aku mau kekamar dulu." Ciel membuka suara meminta ijin seseorang yang sedang duduk santai disebelahnya.
Sebastian mengangguk setuju. Selagi pamannya ada dihadapannya tidaklah masalah. Ciel langsung beranjak dan pergi melewati ruang makan menuju kamarnya dilantai 2. Ruangan itu langsung sepi. Sunyi. Sebastian melirik satu persatu sudut ruang tamu yang terpampang foto-foto wedding bibi dan pamannya. Mesra.
"Mau apa kau kesini?" yup! Akhirnya Claude membuka suara. Ada nada tidak suka meluncur dari bibirnya. "Masih berani kau menatap muka dihadapanku!" Claude sedikit menantang.
Bayang-bayang perkataan 'kekasih' yang meluncur Sebastian saat itu mampu membuat Claude kebakaran jenggot. Cemburu. Tidak menyangka Ciel yang anti sosial mendapatkan lelaki ehm.. tampan dan berani melawannya. Sebelumnya Claude santai saja karna menurut prediksinya Ciel tidak akan mendapatkan kekasih karna Ciel anak yang tertutup, tapi pernyataannya salah semenjak bertemu dengan eksisitensi bermata ruby itu.
"Kenapa? Harusnya kau senang karena keponakanmu aku antar dengan 'selamat'." Sebastian menekan kata 'selamat' diakhir kata. Sebastian sangat curiga dengan paman Ciel yang menurut dia menyembunyikan sesuatu sehingga membuat Ciel tidak leluasa bergerak.
"Kalau begitu, aku ucapkan 'terima kasih' telah mengantarkan keponakan kesayanganku dengan 'selamat'." Claude sedikit jengkel dengan sindirannya. "Kau bisa pulang sekarang." Secara tidak langsung Claude mengusir Sebastian dari rumahnya.
"Aku tidak akan pulang sekarang sebelum-" perkataan Sebastian terpotong saat bibi Ciel datang dengan sebuah nampan berisi beberapa cangkir didalamnya.
"Silahkan diminum." Bibi Hannah meletakkan cangkir dihadapan Sebatian dan kembali duduk disebelah suaminya. "Lho? Kemana Ciel?" tanyanya bingung.
"Dia sedang berada dikamarnya," Jawab Claude cepat. Mengabaikan perkataan Sebastian sebelumnya yang menurut dia tidak penting.
Sebastian terdiam sejenak tidak melanjutkan lagi pekataan yang ingin dia utarakan ke paman Claude. Ditatapnya eksistensi berkacamata dengan intens. Curiga. Entah kenapa perkataannya seperti dialihkan olehnya.
"Bibi. Paman. Saya ingin bicara sesuatu dengan kalian berdua." Sebastian membuka suara dengan nada serius. Mereka yang dipanggil langsung menoleh dan menatap Sebastian dengan bingung. Claude langsung mempunyai perasaan tidak enak.
"Saya meminta ijin kepada paman dan bibi agar Ciel tinggal bersamaku."
Deg!
Jantung Claude serasa berhenti. Bibinya pun hanya terbelalak. Tinggal bersamanya? Perasaan Claude langsung campur aduk. Tinggal bersama dengan 'musuh'nya berarti tidak akan ada hasrat untuk kepuasannya. Ciel akan jauh darinya. Rencananya gagal dan itu membuatnya frustasi. Dia tidak akan membiarkan ini terjadi.
"Saya permisi sebentar." Tiba-tiba saja Claude meminta ijin kebelakang. Entah dia mau kemana. Tapi spontanitas yang dibuat Claude membuat Sebastian ambigu.
Mau kemanakah dia?
~DISTRESS~
Ciel POV
Aku sedang merapihkan baju-baju serta Buku-buku materi kuliahku. Memasukkan satu persatu kedalam tas ransel milikku. Aku sudah siap tinggal bersamanya. Jika ini yang terbaik untukku dan masa depanku, kenapa tidak? Dia berniat menolongku. Setelah siap semua, aku berniat turun dari kamarku untuk menemui mereka. Tapi, sebuah jejak kaki sudah menampak didepan mataku.
"Kau mau kemana, Ciel?" tanyanya padaku. Langkahnya perlahan-lahan menghampiriku. Membuat aku tak sadar telah menjatuhkan ranselku yang sudah kuangkat setengahnya.
"Pa-paman. A-aku ingin menginap di rumah Se-sebastian." Jawabku takut. Situasiku benar-benar buruk. Kenapa dia bisa datang kesini? Bukankah dia sedang diruang tamu bersama yang lain?
"Menginap? Untuk apa?" tanyanya sinis. Aku melihat matanya penuh dengan kenapsuan mendalam. Perlahan tapi pasti dia telah menarikku dengan kasar kedalam pelukannya. "Aku kesepian, Ciel." Dia membelai rambutku dengan lembut tapi saat tangannya berada dibelakang kepalaku, rambutku langsung ditarik olehnya.
"Agh!" jeritku kesakitan. Saat ini wajahku sedang menatapnya dengan paksa. Hingga jarak diantara kami semakin dekat. Aku bisa merasakan deru nafasnya yang memburu. "Le-lapaskan aku pa-paman." Aku memohon padanya.
Sungguh saat ini rambutku amat sakit dicengkram olehnya. Bulir-bulir air mata mulai jatuh kedua pipi mulusku. Dia menyeringai. Senang. Diusapnya linangan air mataku dengan lidahnya. Bergeriliya senang menyisakan saliva disana. Sekarang lidahnya sedang berusaha menyusup kebibir mulusku. Aku terus membungkam. Dicengkramnya sekali lagi rambutku kebelakang lebih kasar dari sebelumnya.
"Aaaaa-" teriakan kesakitanku terhenti saat lidah itu berhasil lolos masuk kedalam mulutku. Dia berusaha berkombinasi dengan lidahku. Dia seperti frustasi. Terus memperdalam ciumannya padaku. Tidak memberikan oksigen padaku hingga saliva jatuh diantara sudut bibirku.
Akhirnya dia melepaskan ciumannya padaku dan berseringai senang. Seperti mendapatkan umpan yang dia inginkan.
"Kau, tidak boleh pergi Ciel." Pintanya padaku. "Kau bagaikan narkoba untukku. Sekali menyentuhmu membuat aku ketagihan. Matamu itu telah menangkapku dengan riak laut paling dalam. Kau telah mengikatku terlalu jauh..." dia terdiam sebentar dan menatapku dengan tatapan sendu.
"Aku mencintaimu" lajutnya lagi.
Aku tercengang. Dia bilang apa? Mencintaiku?
"huh?! Jangan konyol paman!" Bentakku keras. "Paman sudah mempunyai bibi Hannah!" Aku kalut. Sungguh takdir telah mempermainkanku.
"Aku serius, Ciel. Aku mencintaimu."
Sejak kapan? Dahulukah? Saat inikah?
Aku menggeleng dan menodorongnya menjauhkan diriku dengannya. Kenyataan ini membuatku sakit. Sakit akan kenyataan dan masa depanku. Dia gila!
"Kau adalah pamanku yang selalu aku hormati." dingin. Itulah pernyataanku kepadanya. Aku langsung mengambil tas yang sempat jatuh dari peganganku menuju ruang tamu.
"Cieeellll..." itu suara bibiku. Aku harus segera bergegas kesana. Saat aku sudah berada diambang pintu dia membuka suara.
"Jika kau tidak menuruti kemauanku. Aku tidak akan menjamin bibimu akan bahagia bersamaku." Kini nada suaranya sedikit mengancam.
Aku berhenti sejanak. Diam. Mencerna alur kalimat yang dia utarakan barusan.
'Aku tidak akan menjamin bibimu akan bahagia bersamaku'
Apakah dia serius dengan perkataannya?
Dia melewatiku keluar kamar. Sekilas dia berseringai menatapku sinis. Dari matanya mengatakan 'apakah kau berani?'
Cih! Apa yang harus aku lakukan?
Bibiku ataukah masa depanku?
Sebatian POV
Sudah lebih dari 30 menit. Dia belum keluar juga dari kamarnya. Apa yang sedang dilakukannya? Bukankah merapihkan baju tidak butuh sampai 30 menit? Apalagi saat paman sinting itu pergi entah kemana. Keadaan semakin janggal dimataku.
"Cieeellll..." bibinya memanggil. Mungkin dia juga merasa aneh. Kenapa temannya ditinggalkannya selama ini?
Suara tapak kaki terdengar olehku. Mungkin itu Ciel. Pikirku. Tapi yang datang adalah iblis bermuka dua. Paman Claude.
"Kau dari mana, sayang?" bibi Hannah membuka suara. Dia kembali duduk ketempat dia sebelumnya.
"Aku dari 'kamar' sayang." Jawabnya santai sambil melirikku dan berseringai sinis penuh kemenangan. Aku berkenyit. Aneh.
'Kamar'? apa yang dimaksud dengan 'kamar' itu?
"Maaf. Membuat kalian menunggu." Aku langsung mendongakkan kepalaku yang sebelumnya sedang berfikir.
Mata birunya keruh. Rambut dan pakaiannya pun sedikit berantakan berbeda sebelum dia kekamarnya dan dia tidak membawa tas ranselnya?
Tunggu? Kamar?
Aku langsung mempunyai titik temu dengan keadaan dia sekarang. Ada yang tidak beres disini apalagi saat dia kembali dari kamarnya. Brengsek! Pasti ini yang dimaksud 'Claude' tentang 'kamar'. Aku sudah enggan menyebutkan kata 'paman' didalamnya.
"Kau tidak apa-apa, Ciel?" tanyaku khawatir. Saat ini dia berada disampingku. Aku meneliti eksistensi itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Berantakan. Memang ada yang aneh.
Dia terdiam. Aku mencoba bertanya lagi padanya. Dia masih terdiam. Jiwanya seperti terpisah dar raganya.
"Ciel?" aku membuka suaraku agak sedikit keras agar terdengar olehnya.
"Ah, i-iya. Aku tidak apa-apa Sebastian." Dia tersenyum padaku. Aku bingung dengan sikap Ciel saat ini. Seperti linglung. Sebenarnya apa yang sudah terjadi Ciel?
Normal POV
"Bagaimana Ciel? Kau jadi tinggal bersama Sebastian?" Bibi Hannah bertanya kepada Ciel.
Sepertinya bibi setuju dengan keputusan Sebastian yang akan mengajarinya semua materi kuliah selama Ciel tinggal bersamanya. Apalagi Sebastian adalah asisten dosen dikelas Ciel, jadi penawaran Sebastian sangat menjanjikan.
"Ah, itu..." Ciel tampak bingung.. "Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada Sebastian..."
Sebastian menatap eksistensi dihadapannya dengan tatapan bingung. Kenapa dia harus minta maaf? Apakah mengenai rencanaku ini?
"...A-aku tidak bisa tinggal bersamamu."
Sebastian dan bibinya terbelalak kaget. Hanya satu orang yang tersenyum senang, kemenangannya sudah didepan mata.
"Kau kenapa Ciel? Bukankah kau sudah menyetujui keputusan Sebastian?" bibinya agak bingung, karena selama ini Ciel sangat tertarik dengan pelajaran. Kenapa sekarang dia menolak? "Kau bisa belajar bersamanya, Ciel. Kau pikirkan baik-baik kesempatan ini."
Ciel tahu, pasti akan seperti ini jadinya. Ciel sudah memikirkan semuanya. Memikirkan keputusan dan konsekuensinya. Ciel menoleh kesebelahnya. Sebastian sedang menatapnya. Ciel tidak bisa memprediksi tatapan apa yang sedang dia tunjukkan kepadanya.
"Paman, bibi. Aku meminta ijin keluar sebentar dengan Ciel, Boleh?" Sebastian membuka suara. Ciel hanya terbelalak. Memangnya mau kemana?
"Silahkan. Kau boleh keluar bersamanya." Tidak disangka, Claude-lah yang menyetujui mereka keluar rumah.
Sebastian menatapnya dengan tatapan sinis dan tajam. Dia ingin berbicara dengan Ciel tanpa mereka berdua ketahui. Claude hanya terkekeh geli seperti meremehkan tindakan Sebastian yang menurutnya percuma.
Ditariknya tangan mungil Ciel dengan sedikit kesal menuju mobil miliknya. Dihidupkannya mobil itu dan melesat meninggalkan pekarangan rumah dengan kecepatan tinggi. Sebastian sangat kesal. Kesal dengan keputusan Ciel dan juga kesal takut gagal melindungi mata diamond itu.
"Se-sebastian, bisakah kau mengurangi kecepatanmu." Ciel membuka suara, sepertinya dia amat sangat ketakutan dengan gaya setir Sebastian seperti orang kesetanan.
Sebastian tersentak kaget. Suara merdu itu mampu meredam kekesalannya saat ini. Laju mobil itu perlahan-lahan memelan dan berhenti dibahu jalan. Sebastian terdiam. Wajahnya tertunduk tertutup oleh setir mobil. Dia bingung harus berkata apa. Dia bingung dengan apa yang harus dilakukannya.
Sebastian POV
"Ma-maafkan aku Sebatian.." dia membuka suara. Aku tetap terdiam tidak meresponnya. "A-aku sudah memikirkan semuanya. A-aku akan baik-baik saja."
Sekarang aku menatapnya dengan tatapan kesal. Apa dia bilang? Baik-baik saja? Benarkah itu?
"Sekarang aku bertanya padamu. Apa yang membuatmu berubah pikiran?" pertanyaanku sungguh sinis digendang telinganya. Sudah berapa kali aku memberi pertanyaan dengan nada seperti ini.
Pemandangan saat ini menurutku sangatlah indah. Dari dalam mobil terlihat butiran-butiran bintang bersinar memperindah malam ini. Tapi suasanaku saat ini tidaklah seindah bingkai langit. Menegangkan.
"A-aku tidak tega meninggalkan bibi sendirian, Se-sebastian. Dia pasti kesepian tidak ada aku." Dia menutupi lagi kebenaran sesungguhnya. Tidakkah dia tahu bahwa aku memperhatikannya disana. Gerak-geriknya serta paman sinting itu. Kesal.
"Jika memang dia kesepian, kenapa dia menerima tawaranku, Ciel?" dia terdiam. Tidak bisa mengatakan apapun. Dia menolak menatapku. Dia lebih banyak melihat suasana luar. Indah. Bulir-bulir peluhnya meluncur indah dipelipisnya. Tangannya gemetar kembali. Aku menghela nafas. Kenapa dia tidak mau jujur padaku?
"Atau ada sesuatu yang terjadi didalam kamarmu?" kini dia menatap wajahku dengan pandangan terkejut. Dia seperti shock dan menunjukkan wajah 'kenapa kau bisa tahu?'. Aku hanya menyunggingkan senyum meremehkan. Sepertinya tebakanku tepat. Sekarang tinggal menunggu dia membuka suara.
"Se-sebastian, ke-kenapa ka-kau bertanya tentang i-itu?" dia terlihat ketakutan. Sungguh aku ingin sekali memeluk dan mencium keningnya. Menenangkan keadaan yang membuatnya terguncang.
"Jawab saja pertanyaanku, Ciel. Kau tidak usah menyembunyikannya dariku." Sekarang keadaanku tidak seperti sebelumnya. Tenang. Aku harus tenang jika ingin membuatnya tenang.
Ciel POV
Kumohon jangan tatap aku dengan wajah tenangmu itu. Aku merasa bersalah denganmu. Kau terlalu baik untukku. Aku terlalu hina dihadapanmu.
"A-aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu darimu." Aku masih saja mengelak dari pertanyaannya. Dia tetap terdiam. Menunggu.
Aku ingin sekali menjawab dengan jujur tapi sudahkah aku sanggup? Apalagi jika 'kenyataan' itu terkuak. Apakah dia akan terus bersamaku seperti ini?
Entah kenapa dadaku terasa sedikit sakit memikirkan hal itu. Seperti membutuhkan banyak oksigen. Sesak. Aku memegang dadaku. Miris. Air mataku jatuh perlahan-lahan.
"Se-sebastian.. aku mohon. Jika aku menjawab kebenaran. Tolong jauhkan aku darimu."
Aku memohon padanya. Agar dia tidak melewati batas takdirku.
Dia agak terkejut. Wajahnya menandakan tidak suka dengan keputusanku.
"Apa?! A-apa maksud ucapanmu, Ciel?" suaranya sedikit gemetar. Terlihat bibirnya tertahan untuk berteriak.
Aku terisak. Mengeluarkan semua bendungan yang penuh. Sedikit tertahan, aku menjawab pertanyaannya.
"A-aku diancam oleh pamanku agar tidak tinggal bersamamu..." air mataku terus mengalir. Kadang suaraku sedikit serak. Aku ingin menahan semua air mata ini. Tapi tidak bisa. Linangannya terlalu deras untuk aku hentikan.
"Apa?! Dia mengancammu? Aku menawarkan untuk kebaikanmu dan dia menolak dengan mengancam?" aku mendengar suara geraman.
Sebastian POV
Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku mengeratkan peganganku ketiang setir. Mengumpulkan amarah didalamnya.
"Memangnya dia mengancam apa, Ciel?" Aku bertanya kembali padanya. Menerka-nerka apa yang akan dijawabnya. Aku jadi paham seringai dia saat aku menarik Ciel keluar.
"Di-dia bilang 'tidak akan menjamin kebahagiaan bibiku'..."
"Lalu?" tanyaku lagi. Menurutku ancaman itu hanyalah gertakan belaka untuk menakutinya. Lalu yang membuatku aneh adalah dia mengatakan 'tolong jauhkan aku darimu'. Pernyataannya sangat ambigu bagiku. Dia pasti belum menyelesaikan pembicaraannya yang menggantung.
Dia melanjutkan lagi perkataannya yang membuatku shock dan terkejut. Apakah harapanku sudah hilang?
"Dan di-dia juga bilang bahwa 'dia mencintaiku'. "
.
.
.
TBC
A/N : maaf jika updatenya lama m(_ _)m karna kesibukan pekerjaan jadinya telat dari waktu yang sudah aku rencanakan. Bagaimana menurut kalian? ^_^
Sekarang saatnya balas review :
Reizu YuukiNeezuri : hehehe, terima kasih banyak telah membuatmu penasaran. Semoga tidak bosan mengikuti ficku ini ^_^
Sora Tsubameki : wakakakakak... bantai Claudenya jika sudah tiba waktunya, ka. makasih ya ka udah membantuku XD
Fetwelve : aku juga iri dengan Ciel -_-" beruntung dia bertemu dengan Sebas. Sepertinya rintangan mereka semakin rumit untuk menjadi sepasang kekasih *dilempar bazoka oleh Sebas* makasih sudah mereview ficku ^_^
Nekochan-Lovers : hehehe, aku senang dengan cinta segitiga #plak. Makasih Neko pemasukannya :D aku musti belajar lebih banyak lagi (^_^)9
Leli Silent Reader : terima kasih ^_^ ditunggu ya review selanjutnya #plak
Devilojoshi : Sebastian pasti akan selalu berada disisi Ciel ko. dia tidak akan membiarkan Ciel terluka XD Makasih banyak udah baca fic-ku ^_^
Lily Uta Lawliet : anakkuuuu #peluk2 T_T makasih banyak ya nak menyempatkan membaca ficku :D jangan bosan ya memberikan pemasukan untukku :3
Faicentt : ya, saya menyukai Ciel diperebutkan oleh mereka berdua :D *ditendang Ciel* makasih banyak ya udah mampir ke ficku ^_^
Dan terima kasih juga untuk teman-temanku yang lain sudah menyempatkan diri membaca fic gajeku ini ^_^
Oke, karna sudah malam saya mau tidur dulu. Oh ya, jangan lupa memberikan kritik dan saran yang membangun untukku. Aku akan berusaha memperbaikinya ^_^
