Cinta ini bisa menyalahkanku

.

.

.

.

Disclaimer : Inu x Boku SS By Cocoa Fujiwara

Yuka-chan habis nonton anime romance selalu saja dibuat sesak.

Hello minna comeback again with Yuka-chan, pertama saya ucapkan terima kasih sudah selalu baca fanfic ini setiap chapter.

Untuk para fans anime Inu x boku ss bisa dibilang animenya sudah lama tayang tahun 2014 kemarin. Namun, cerita dan kelakuan para tokoh selalu melekat di hati hehehehe.

Untuk chapter kali ini lebih mendekatkan hubungan antara miketsukami dan Ririchiyo. Seperti apakah hubungan mereka berdua langsung saja scroll kebawah guys.

.

.

Good Reading

.

.

.

( Normal P.O.V )

"Huh, udaranya dingin banget di musim gugur ini" keluh Ririchiyo memeluk badannya sendiri yang sudah terbalut jaket tebal.

Meskipun matahari masih bersinar terang namun Ririchiyo masih kedinginan karena sebentar lagi musim dingin.

Di sekolah saatnya banyak murid mengenakan pakaian hangat kembali menuju rumah mereka setelah menerima pelajaran hari ini, begitu pula dengan Ririchiyo yang seperti biasa berjalan di lorong sendirian.

"Halloween, apanya yang Halloween, pesta untuk para hantu dan untuk orang orang tidak berguna itu, cih menyebalkan" umpat Ririchiyo dalam hati, sebenarnya ia galau karena tadi dikelasnya diumumkan tentang acara pesta halloween di sekolahnya yang akan diadakan sebentar lagi.

"Kenapa sih, harus membawa pasangan ke dalam pesta itu?" kesal Ririchiyo setelah mendengar syarat mengikuti acara pesta tersebut.

Padahal dirinya jangankan punya cowok, teman saja tidak punya padahal ia bisa memilih teman untuk menemaninya. Belom lagi ia memikirkan kostum yang ia kenakan nanti.

"Aku akan memberitahu ayah soal ini" Ririchiyo mengambil handphone dan saat ia akan menelfon ayahnya. Ia teringat kasus berat yang sedang ditangani ayahnya tersebut tentang penculikan.

"Ehm...,Kurasa, aku akan merepotkan ayahku jika aku meminta bantuan padanya untuk masalah kecilku ini" ujar Ririchiyo menggenggam handphonenya lalu memasukkan ke dalam sakunya sadar bahwa ayahnya sangat repot sekarang.

"Sudahlah, hal ini membuatku semakin pusing" Ia cuman terdiam dan memutuskan untuk pulang duluan setelah teman teman masih membicarakan soal pesta Halloween di kelas.

Ririchiyo merasa tidak dibutuhkan disana apalagi ia merasa diasingkan oleh mereka, jadi daripada menunjukkan kekesalannya di depan mereka, ia memutuskan untuk pergi menahan perih.

( Ririchiyo P.O.V )

"Ehm, sudah dua bulan ya aku bersama White Boy itu ya" heranku sambil terus berjalan menenteng tas sekolahku.

"Aku merasa aneh, kenapa akhir akhir ini laki laki itu jarang menunjukkan wujudnya di depanku lagi" biasanya Soushi sering mengunjungi saat berangkat, istirahat, sampai pulang sekolah namun sekarang laki laki itu hanya menemaniku saat pulang sekolah.

"Kelihatannya agak sepi disana, mungkin sebaiknya aku duduk disana sambil menenangkan pikiranku yang kacau" aku mendekati bangku kolam yang sepi tidak ada orang. Aku tidak terlalu suka tempat yang ramai kalau bisa aku akan mencari tempat yang sepi meskipun aku harus jauh mencarinya.

Aku duduk disana, menaruh tasku disampingku. Sambil memandang ikan ikan yang berenang kesana kemari bahkan saling bertubrukan sama lain. Lalu satu persatu mendekatiku dan menunjukkan mulut mulut mereka seakan meminta makan padaku.

"Eeeh.., aku tidak punya makanan untuk kalian" ucapku pada ikan ikan yang kelaparan tersebut.

"Aaah, aku ingat aku kelihatannya masih mempunyai sisa biscuit" aku langsung mencari biscuit ditasku. Aku sempat membeli biscuit di kantin tadi.

"Dapat.., ini untuk kalian" aku meremuk biscuit tersebut lalu kuberi pada ikan ikan tersebut. Dengan cepat ikan ikan itu memakan remahan biskuitku dan saling berebut satu sama lain.

Hal ini membuatku senang karena dapat membantu ikan ikan ini meskipun hanya dengan satu biscuit ini saja. Aku bisa mendengar ikan ikan itu mengucapkan terima kasih padaku meskipun itu hanya bayanganku saja.

Di tepi kolam aku juga dapat melihat pantulan diriku di kolam ikan tersebut, "Hari ini sangat berawan bahkan sinar matahari tidak bisa menembusnya awan awan itu"

"Awan awan itu saling berjejer satu sama lain, mereka selalu bersama, tanpa memandang status mereka" gumamku memandang awan awan diatas langit pada diriku sendiri

"Aku iri dengan awan awan itu" awan awan itu bisa saling bereratan, menghadapi angin yang menerjang bersama, tanpa meninggalkan awan lainnya. Beda denganku yang selalu sendiri dan menghadapi masalahku seorang diri juga sering ditinggalkan lainnya.

"Agar menjadi awan memerlukan perjuangan besar Ririchiyo-sama.." tiba tiba Soushi muncul disampingku membuatku kaget

"Eeeh.., sejak kapan kau ada disini?" tanyaku sedikit menjauh darinya padahal aku yakin aku berada disini sendirian tadi.

"Berawal dari air di sungai yang mengalir dari penggunungan lalu turun ke pantai kemudian menguap karena matahari dan munculah awan awan tersebut, seperti halnya pertemanan jika kau tidak berjuang maka pertemananmu tidak akan erat dan bertahan" sambung Soushi sambil menunjukkan senyum khasnya lagi tidak memperdulikan perkataanku.

"Cih, kau mengejekku karena aku tidak mempunyai teman ya" kesalku merasa disindir oleh suruhan ayahku ini.

"Aku tidak mengejek anda, tapi aku hanya menyatakan yang sebenarnya" ucap Soushi, aku hanya menghela nafas aku sering kalah berdebat dengan laki laki ini. Meskipun yang dikatakannya tidak salah, aku tidak pernah berjuang untuk teman bahkan pacar.

Aku hanya mengandalkan kekuatan ayahku saja, tidak pernah sekalipun aku berjuang dengan kekuatanku sendiri. Pernah sekali aku berpikir kalau apakah aku sebenarnya bisa kuat tidak tanpa ayah disampingku..

"Terserah kaulah.." balasku cuek sambil melipat tanganku

"Ririchiyo-sama, ini aku sudah membuatkanmu kue Red Velvet dan roti isi Blueberry kesukaanmu, semoga ini bisa membuat Ririchiyo-sama merasa lebih baik" Soushi membukakan kotak tranparan yang berisi kue dan roti favoritku. Membuatku yang awalnya cuek menjadi tergoda dengan melirik sedikit.

"Ehm, kelihatannya lezat, akan kucoba sedikit" aku mengambil garpu yang sudah disediakan lalu aku memakannya satu suapan.

"Enak.., kuenya enak..," pujiku lalu aku memakan kuenya lagi, aku membuang rasa gengsiku padahal aku sudah siap dengan ejekan jika kuenya tidak enak.

"Aku senang, Ririchiyo-sama senang dengan kue buatan saya" ucap Soushi berlagak seperti pelayan. Sial, memang laki laki ini sangat pintar memasak. Beda denganku yang hanya bisa memasak mie instans padahal aku cewek.

Aku menikmati kuenya lalu aku melihat Soushi masih memandangku dengan senyum di wajahnya, sebenarnya aku sudah biasa dipandang seperti ini namun kenapa pertama kalinya jantungku merasa deg degkan.

"Sial, kenapa aku harus merasa malu sekarang" batinku sambil terus menyantap kue dan mengalihkan pandanganku ke lainnya.

"Kau tidak ingin makan juga?" tanyaku ketus melihat Soushi hanya terdiam memandangku sedang menikmati makanan sendirian. Kadang aku benci suasana canggung apalagi dilihat oleh cowok tampan dan manis sepertinya.

"Makan..,"ucapnya polos.

"Iyaa, makan..bukannya kau juga manusia butuh makan?" tanyaku judes sambil menawarkan kue Red Velvet yang masih ada setengah.

"Eeeh, Ririchiyo-sama..anda tidak perlu memberikan saya makan, lagipula saya sudah makan tadi" tolak Soushi halus setelah agak kaget melihat sikapku yang tidak seperti biasanya. Ya memang kuakui aku dulu sangat cuek dengan para pesuruh ayahku.

Akupun bisa melihat wajah Soushi sedikit merah setelah mendengar ucapanku.

"Baka..,aku ini tuanmu, jika aku menyuruhmu untuk makan, kau harus makan" lalu aku menyuruhnya duduk disampingku setelah ia berdiri cukup lama.

Bisa dibilang baru kali ini, aku mempersilahkan penjagaku untuk makan bersamaku, Karena dia tidak bisa menolak permintaan dariku, Soushi akhirnya mau ikut makan bersamaku, "Baiklah, Ririchiyo-sama jika memang itu perintah anda"

Ia memakan sepotong kue Red velvet, "Ehm, enak sekali..," ucapnya menikmati kuenya

"Benarkah, sayang kalau kau tidak memakannya, lagipula ini masakan buatanmu sendiri tidak salahnya untuk mencicipi masakan buatan kita" ucapku ikut mencicipi roti yang lainnya.

"Terima kasih Ririchiyo-sama" ucap Soushi sambil tersenyum lembut padaku.

Atmofer apa disekitarku, seketika angin musim gugur berhembus diantara kami, tak luput pula daun daun yang terbang terbawa angin.

Meskipun udara disini namun aku bisa merasakan kehangatan senyumannya.

"Eeeh.., iyaa, sama sama.., ehm.., anggap saja ini balasanku setelah kau melayaniku cukup lama" jawabku sambil menahan malu setelah melihat senyum Soushi lagi. Sumpah, saat aku melihat senyumnya aku merasa deg degkan.

"Kelihatannya ada yang sedang kasmaran nih"

Tiba tiba aku mendengar seseorang, membuatku kaget dan mencari asal suara berada begitu pula dengan Soushi yang sudah memasang mode waspada.

"Siapa itu?" tanyaku keras, namun orang itu hanya membalas dengan tertawa

"Hahahaha,..."

"Tunjukan dirimu.." seru Soushi berada di depanku melindungiku.

"Hahahahaha, uhuk..uhuk.." sekarang orang itu malah batuk

"Dasar kau,kenapa kamu malah berisik, Zange-baka?" lalu terdengar suara perempuan lagi, berteriak pada orang itu.

Lalu kami menemukan asal suara berada ternyata ada di balik semak semak tidak jauh dari tempat kami berdiri.

"Tapikan seru.., melihat anak muda saling menjalin kasih satu sama lain" rengek orang yang bernama Zange tersebut.

"Menjalin kasih..?" batinku heran meskipun wajahku sudah merah mendengar perkataan tersebut.

"Sial kita ketahuan.., ayo kita segera pergi" ucap suara wanita setelah menyadari kami telah melihat tempat persembunyian mereka.

"Soushi.."

"Iyaa.., Ririchiyo-sama"

"Tangkap mereka, bawa mereka kemari, kita harus tahu alasan mereka memata-matai kita"

"Baiklah.., Ririchiyo-sama" dengan sigap, Soushi berlari ke tempat mereka.

"Kyaaaaa,..."

"Sudah.. Ririchiyo-sama" ucap Soushi membekap tangan mereka dengan mudah.

"Sialan sudah kubilang jangan berisik sekarang kita malah ditangkap," keluh wanita itu mengalahkan pada laki laki disamping tersebut

"Huaaaa, maafkan saya, Nobara-chan" laki laki berbando seperti kelinci itu menangis

Aku mendekati mereka, "Jelaskan, mengapa kalian lakukan disini? Apa kau ingin memata-mataiku?" tanyaku curiga

"Bukan.., ngapain kita harus memata-matain cewek seperti kau" jawab laki laki bernama Zange itu sambil tersenyum

"Soushi.."

"Iya Ririchiyo-sama"

"Penjarakan mereka" suruhku menunjukkan aura gelapku, membuat mereka berdua ketakutan

"Haaa.., ampun ampun dah" laki laki berbando kelinci itu langsung sujud minta ampun saat Soushi mau membawa mereka.

"Baka..." wanita langsung memukul kepala Zange dari belakang

Jujur aku agak sedikit tersinggung dengan ucapannya, mungkin aku bisa sabar dan menunggu pengakuan sebenarnya dari mereka.

"Lalu apa yang sedang kalian lakukan?" tanyaku lagi

"Kami hanya ingin bertemu dengan Miketsukami-kun" jawab wanita itu sambil menunjuk Soushi yang masih tersenyum disampingku

"Cowok ini...," kagetku, diikuti anggukan mereka

"Ciih.., ternyata kau punya teman teman yang aneh rupa, Soushi-kun" ejekku

"Kami tidak aneh tahu" marah wanita yang mengenakan setelan jas namun masih menunjukkan tubuh seksinya.

"Senang bertemu dengan kalian, Zange-san, Nobara-san" ucap Soushi sambil membukuk ke mereka.

"Eeeh.., kau kenal mereka?" tanyaku kaget aku kira Soushi punya hubungan dengan mereka.

"Dia ini rekan kami tahu" ucap wanita itu sambil melirik sinis ke kami

"Rekan?!"

Saat aku akan menanyakan pertanyaanku, tidak tahu dari arah mana, seseorang mengeluarkan bom asap, Soushi langsung memelukku dan membawaku menjauh dari tempat itu, "Soushi-kun..." aku gemetar dan jemariku memegang lengan bajunya

"Tenang kau sudah aman" Soushi menenangkanku yang ketakutan

Aku trauma dengan bom karena ayahku dulu terluka parah saat menyelamatkanku dari bom musuh di rumahku. Ayahku sampai terluka parah dan aku tidak berhenti menangis.

"Kau masih berkerja sama dengannya rupanya, dasar pengkhianat" teriak seseorang laki laki diantara asap asap yang masih menggembul.

"Banri-kun, kyaaa.., akhirnya kau datang juga..., aku sedih kau tidak segera aku akan dimasukkan ke dalam penjara huhuhuhu" tangis laki laki berpita kelinci memeluk laki laki pendek berambut oranye yang berteriak itu..

"Urusai yo..., lepaskan" marah laki laki bernama Banri tersebut berusaha melepaskan dirinya.

"Ehm, kelihatannya roti itu lezat" ujar seorang gadis misterius disamping laki laki itu, kelihatannya seumuranku berambut pendek pink dikucir dua terus memandangi kueku.

"Soushi-kun.., siapa mereka?" tanyaku penasaran dengan apa yang terjadi, aku bingung apalagi mereka mengatakan Soushi mengkhianati mereka.

Soushi menghela nafas, "Mereka teman lamaku, bisa dibilang mantan rekan kerjaku, Ririchiyo-sama" jawab Soushi sambil tersenyum

Bersambung

Konnichiwa everybody, welcome back with me. Siapa lagi kalo bukan Yuka-chan? Hehehehe

Yaa agak lama ya nih, Yuka-chan belum update yang bagaimana lagi harus antri sama fanfic lainnya juga nyari ide cerita tidak sembarang. Ya begitulah sampe chapter 3 ini jadi.

Untuk chapter 3 kali ini, sudah kelihatan tokoh tokoh baru nih. Mereka ini berhubungan dengan masa lalu Soushi dulu. Sampai salah satu dari mereka bilang kalau Soushi adalah pengkhianat. Penasaran? Sabar ya, tunggu saja chapter selanjutnya..

Itu saja kelihatannya salam penutup dari saya, jangan lupa Favorite, Follow, dan Review fanfic ini okee.., Arigatou Minna