Seribu Tahun
―"Penantianku telah berakhir sekarang."―
..
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuna (Fem!Kuroko)
Romance, Supernatural, Fantasy
M for save
Warning: Vampire!GoM, Human!Kuroko, OOC, Typos, genderbend, etc
..
Chapter 2
..
Shigehiro duduk di bangkunya dengan raut wajah yang kentara sekali menunjukkan jika dirinya tengah mengantuk.
"Kuroko Tetsuna."
Guru sejarah mengabsen murid pada jam pelajaran pertama kelasnya. Shigehiro ada di urutan bawah dari tiga sebelum akhir. Gilirannya masih lama. Ah, tidur sebentar―
"Eh? Kuroko tidak ada?"
Nyaris saja kelopak matanya terpejam sempurna, lalu terbuka kembali saat nama itu disebut. Para murid berbisik-bisik. Mengatakan jika mereka tidak mengetahui keberadaannya. Shigehiro gelisah. Benar juga. Semalam ia tidak menerima email maupun panggilan yang biasanya ada setiap malam.
"Ogiwara, apa kau tahu ke mana absennya Kuroko hari ini?"
Pertanyaan itu dijawab setelah dirinya terdiam merenung. "Tidak. Ia juga tidak memberi kabar semalam," ungkapnya. Guru sejarah itu menghela napas. "Baiklah, tolong coba berkunjung ke rumahnya sepulang sekolah nanti."
Shigehiro hanya mengangguk. Guru sejarah kembali mengabsen. Kedua tangan sang pemuda dirapatkan; memanjat doa dalam hati. Semoga gadis yang ia cintai diam-diam itu, baik-baik saja.
..
..
..
Lagi, kedua kelopak mata Tetsuna perlahan terbuka. Mengerjap pelan. Sejak kapan dirinya terlelap lagi? Perlahan, ia mulai mengingatnya kembali. Sejak ditinggal Seijuurou tadi, Tetsuna merasakan kantuk lagi. Karena tidak ingin berbaring di dalam peti mati, gadis itu memutuskan untuk tidur dalam keadaan duduk di atas lantai.
Tapi sekarang dirinya berbaring di atas ranjang, pada ruangan yang sama.
Dirasaanya kaki kanan yang tadi terkunci oleh rantai, telah bebas. Ia perlahan bangkit, lalu menyadari busana yang dikenakannya.
"..."
Gaun tidur berwarna putih yang panjangnya sampai setengah paha. Pendek sekali. Wajahnya terkejut, dan sedikit memanas. Apa pemuda itu yang menggantikan pakaiannya?
Dan lagi, kemana seragam serta tas yang seharusnya masih ia kenakan dan genggam kemarin malam. Jangan bilang ia membuangnya.
Menyadari sosok vampir yang telah menawannya semalam, Tetsuna mengedarkan pandang. Ia mejatuhkan fokus pada peti mati yang tertutup. Pasti ada sosok yang berbaring di dalamnya. Mungkin vampir tadi.
Tetsuna mendekatinya, lalu membukanya dengan pelan. Benar saja. Seijuurou tengah berbaring di dalam peti itu dalam keadaan mata yang tertutup. Persis seperti orang meninggal yang hendak dikuburkan. Tetsuna, selama beberapa saat hanya terdiam memandangi pemuda itu.
Menyadari bahwa peluang kabur cukup besar, maka ia segera berbalik―
"Mau kemana?"
Ah, sial. Seijuurou sudah berdiri di hadapannya.
Tetsuna membalas tatapan yang terarah padanya. "Aku ingin pulang," ia berujar. Dibalas dengan tatapan tajam Seijuurou yang mulai memajukan tubuhnya; mendekat satu sama lain.
"Sudah kubilang jika kau adalah 'makananku'." Kepala bersurai crimson itu dimiringkan, perlahan menuju lehernya. Tetsuna menyadari hal itu. Tangannya menggapai tirai jendela di belakang mereka, lalu dengan satu gerakan berhasil menyingkapnya. Sinar matahari masuk dengan lancar saat penghalangnya disingkirkan.
Mendapat peluang di saat Seijuurou tak siap menerima intensitas cahaya yang berlebih, Tetsuna segera berlari menuju pintu kamar dan berhasil keluar dengan sukses.
Namun saat acara kaburnya berhasil...,
"...Luas." Berkomentar sambil menatap koridor panjang dengan lebar yang cukup lapang di hadapannya.
Dirinya menatap koridor yang cukup panjang, entah mengarah ke mana ujungnya. Perlahan, kaki telanjangnya melangkah ke depan. Ada yang bilang, bahwa insting wanita tidak dapat diremehkan. Itulah yang digunakan oleh Tetsuna sekarang.
Lantai marmer itu sangat dingin. Suhunya seakan menjalar ke atas; membuat getaran pada kakinya setiap ia melangkah. Ditelusurinya dinding marmer yang menampakkan lukisan-lukisan yang ternama. Ah, karena vampir adalah makhluk abadi, mungkin saja usia Seijuurou telah ratusan tahun sehingga pemuda itu dapat memajang salah satu karya milik Van Gogh yang amat terkenal pada masanya.
Deg.
Tubuhnya kaku secara tiba-tiba, saat seseorang―oh, sesosok vampir mendekat. Iris gold itu cukup berkilauan akibat berkas sinar matahari yang menutupi jendela kaca besar pada koridor. Langkah sang vampir semakin mendekat, dan itu membuat Tetsuna semakin tak bisa menggerakkan badan.
Lagi, dirinya sangat takut.
"Hee~"
Hembusan napas sang vampir kuning tadi begitu terasa pada tengkuknya. Pun dengan suara bariton yang jelas terdengar. Apa vampir memang punya kemampuan teleportasi secepat kedipan mata?
Bergidik, tentu saja. Tapi sekali lagi, dirinya tidak bisa bergerak walau hanya satu jaripun, sementara vampir itu mulai mengendus lehernya.
"Hmm, darah yang segar. Pantas saja Akashicchi menyukaimu ssu yo~"
Kedua matanya terbelalak, saat taring itu menyembul dari mulut si vampir kuning. Siap menggigit dirinya.
"―tch..."
Namun sebelum sempat menusuk lehernya, pemuda itu terbanting ke dinding terdekat. Menciptakan retakan yang cukup parah pada dinding karena sempat diadu dengan kekuatan tangan lawannya. Umpatan yang ada di ujung lidah ditahan kembali, ketika mengetahui siapa yang telah mengganggu acara makannya.
"E-eh―Akashicchi?!"
Tetsuna merasa pinggangnya dirangkul oleh vampir crimson itu. Pahlawan kesiangan yang baru saja menyelamatkannya dari gigitan vampir lainnya. Seijuurou menatap sang lawan dengan tajam.
"Ryouta, aku sudah bilang padamu untuk tidak menyentuh milikku secara sembarangan. Apalagi dengan kekuatan matamu itu. Jika saja taringmu sudah menyentuhnya ini, akan kupastikan tubuhmu tersula* di bawah sinar matahari besok."
"AMPUN―!" Vampir kuning itu bersujud pada Seijuurou saat mendengar ancaman paling berbahaya sepanjang masa. Tolong, dirinya masih ingin hidup ratusan tahun lagi sebelum mati bahagia di pelukan sang belahan jiwa.
Seijuurou mendengus. Ia menyentuh leher Tetsuna, sementara yang bersangkutan belum bisa bergerak satu incipun dari tempatnya berpijak. Telunjuk yang digunakan untuk mengelus leher sang gadis kemudian berpindah ke bawah dagu. Seijuurou memiringkan kepala, lalu mengecup bibir Tetsuna―yang langsung mendapat delikan tajam gadis itu, dan Ryouta yang hanya bisa termangu di tempatnya sekarang.
"...Ah."
Tetsuna mengerjap pelan, lalu mengayun pelan tangannya. Ia bisa bergerak! Sepertinya hipnotis Ryouta terpatahkan berkat ciuman dari Seijuurou.
"Dan bukankah sudah kubilang jika kau adalah milikku, hm?" Tetsuna merasa dirinya diangkat; bridal style oleh Seijuurou. Ingin melawan, namun bagaimana lagi. Ingatkan dirinya jika vampir memang memiliki kemampuan teleportasi, sehingga Seijuurou tentu sudah bisa mencegatnya jikapun ia pergi―bahkan ke negara lain sekalipun.
Lagipula harum darah Tetsuna yang begitu khas, membuat Seijuurou dapat melacaknya karena vampir itu telah menandai mangsanya secara khusus.
"Ryouta, panggilkan yang lainnya dan kita akan mengadakan pertemuan di ruang singgasana."
Setelah mengeluarkan perintah itu, Seijuurou pergi ke ruangannya. Meninggalkan Ryouta yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
..
..
..
Syukurlah, berkat pengumuman yang menyatakan bahwa sekolah mereka akan digunakan sebagai tuan rumah olimpiade sains, membuat para murid dibebaskan dari kegiatan belajar-mengajar di sekolah hari itu.
Shigehiro langsung berkemas. Tak peduli akan teriakan petugas piket yang menyuruhnya untuk membantu dalam kegiatan bersih-bersih kelas. Tidak! Ia punya tujuan yang amat penting hari ini.
Pemuda itu memasuki bus yang biasa ditumpanginya setiap hari. Sepi sekali. Hanya ada dirinya dan dua orang gadis yang duduk di tempat lain. Shigehiro mengambil tempat di samping jendela, lalu memerhatikan pemandangan luar dengan sedikit gelisah. Semoga kau baik-baik saja, doanya dalam hati saat gadis baby blue itu melintas di benaknya.
"Hah―!"
Merasa ada yang mengawasi, Shigehiro tiba-tiba bangkit; menarik perhatian dari dua gadis yang memandangnya. Pemuda itu menoleh ke belakang. Kosong. Kedua gadis yang ada di dalam bus duduk beberapa kursi dari tempatnya. Shigehiro mendengus. Mungkin hanya perasaanku saja.
Tak lama, bus berhenti pada sebuah halte. Shigehiro turun di sana.
Dirinya tak menyadari sepasang mata kelabu yang sedari tadi mengawasinya, di balik bacaan yang hampir menutupi wajah.
..
..
..
Pada sebuah mulut gang, orang-orang berkerumun. Shigehiro penasaran, lalu mendekat pada area yang didatangi oleh mobil ambulans dan mobil polisi. Garis berwarna kuning dibentangkan selebar mulut gang; tak ada yang boleh memasuki tempat kejadian perkara tanpa seijin para penyelidik.
"Kalau tidak salah Yurika-san itu wanita panggilan freelance, 'kan?"
"Kasihan sekali. Mungkin ia meninggal di tangan vampir karena jeratannya."
"Benar juga. Kudengar dari salah satu polisi tadi, ada bekas gigitan di lehernya."
Shigehiro terpaku atas gosipan ibu-ibu yang memasuki kupingnya. Masa sih? Ia bertanya dalam hati. Pemuda itu mencoba untuk menerobos kerumunan; maju sampai di depan bentangan police line. Terlihat ada seseorang yang tengah mengabadikan tempat kejadian perkara dengan kameranya. Dua orang pria membawa tandu dengan satu mayat yang menjadi korban atas kejadian itu.
Kedua matanya terbelalak, saat melihat salah satu benda yang cukup familiar.
"A-ano," Panggilnya pada salah satu polisi pria yang berdiri di dekatnya. Shigehiro melanjutkan ucapan. "Karena aku tidak boleh masuk, jadi bisakah Anda ambilkan kain yang di sebelah sana?" Pintanya seraya menunjuk benda yang menjadi atensinya tadi.
"Itu milik temanku. Hilang tadi malam katanya. Jadi bisa tolong ambilkan? Aku ingin mengembalikannya."
"Oh." Polisi muda yang tampaknya baru bekerja di kepolisian itu mengangguk, lalu memungut kain yang dimaksud. Diberikannya benda itu pada Shigehiro yang langsung mengantonginya. "Terima kasih banyak!"
Pemuda itu lalu keluar dari kerumunan, dan segera menjauh sedikit. Diambilnya kain dasi tadi. Lagi, ia terkejut.
Nama Kuroko Tetsuna tercetak jelas di baliknya, dengan sedikit bercak darah yang menodai.
"Ah―" Giginya sedikit menggeretak; setengah tak percaya. "Tidak mungkin..."
"Lalu bagaimana dugaan Anda terhadap kasus ini? Apakah Anda berpikiran jika ini disebabkan oleh vampir?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu wartawan itu menarik perhatiannya. Di satu sisi yang tak jauh dari tempat Shigehiro berdiri, sekumpulan wartawan memang tengah mewawancarai kepala polisi yang ikut dalam penanganan kasus tersebut.
"Kami telah dengan resmi menyatakan, bahwa vampir itu tidak ada." Beliau berujar dengan tegas. "Makhluk undead seperti itu hanya mitos. Tak bisa dibuktikan dengan ilmiah. Dugaan sementara adalah adanya oknum yang menyuntik racun sehingga terlihat seperti gigitan vampir. Saat ini kami akan membawanya kepada petugas forensik untuk autopsi lebih lanjut."
Shigehiro sedikit lemas. Salahkah bila ia terlalu mempercayai keberadaan makhluk mitos tersebut? Karena bagaimanapun, vampir dipercaya sudah ada sejak dahulu, dan masih hidup dari masa ke masa karena umurnya mencapai ratusan tahun.
Pemuda itu meninggalkan kerumunan. Kali ini berjalan ke arah suatu bangunan apartemen sederhana yang tak jauh dari TKP, di mana salah satu kamarnya disewa oleh Tetsuna. Sampai di depan, Shigehiro terlebih dahulu mengetuk pintunya.
"Kuroko?"
Tak ada jawaban. Padahal Shigehiro sudah sepuluh kali mengetuk.
Segera dikeluarkannya sebuah kunci duplikat pintu ruangan gadis itu―yang ia dapatkan karena suatu kejadian, sehingga Tetsuna mempercayakan kunci duplikat itu ada padanya untuk berjaga-jaga. Kunci diputar, lalu Shigehiro masuk dengan perlahan.
"...Kuroko?"
Hampa. Tidak ada seorangpun di dalam kamar apartemen yang ditempati gadis itu.
..
..
..
2nd chapter; End
..
..
Sula* (Impale): Hukuman yang cukup brutal dimana korban dilucuti pakaiannya dan ditusuk dengan kayu panjang, mulai dubur hingga mulut, atau dari kemaluan ke kepala. Pada saat kayu itu ditancapkan ke tanah, korban akan menggantung di atas kayu dan meninggal 3 hari kemudian karena kehabisan darah. Ini adalah metode pembunuhan yang cukup brutal pada masa Vlad Tepes (di mana pada masa itu, julukannya adalah dracula.)
..
[A/N]
...Baru sadar kalau Cuna di sini, kayak Yui di Diabolik Lovers ya? Asa pasrah aja gitu /? tapi dia cuma buat Sei tercinta. Saya penganut salah satu iklan coklat; gak rela bagi-bagi (OuO)
Chapter ketiga akan segera dipost! Semoga kalian menyukainya~
