A/N: Terima kasih buat yang review.

Met baca...

Disclamer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso

Warning: AU, OOC, Shou-ai


Be My Sacrifise


"Aku menyukaimu." ujar Sebastian sambil menatap mata Ciel lekat-lekat.

Jantung Ciel serasa hampir copot mendengar ucapan Sebastian yang terlalu jujur itu. Wajah Ciel tiba-tiba saja memerah, tapi Ciel merasa itu hal yang aneh. Tidak mungkin sesama pria bisa saling menyukai. Itu tidak wajar kan?

"Kau bohong!" ujar Ciel sambil mengalihkan pandangannya dari orb merah milik Sebastian.

"Aku tidak pernah bohong, Ciel."

"Kalau begitu, kau gila."

"Iya. Aku gila karenamu."

Ciel merasa Sebastian mampu menjawab semua ucapannya, pikirannya kacau sekarang. Ciel tidak tahu apa yang terjadi pada Sebastian. Bisa-bisanya menyatakan hal seperti itu. Ciel mendorong tubuh Sebastian pelan dan Sebastian menyingkir dari tubuh Ciel.

"Kenapa?" tanya Sebastian.

"Kau tahu, hal ini tidak mungkin." ujar Ciel pelan. Suaranya entah kenapa terasa serak. Kata-katanya serasa tersendak di tenggorokannya. Sebastian hanya tersenyum kecil dan kembali mendekati Ciel. Disentuhnya dagu Ciel dengan lembut dan lagi orb merah bertemu dengan azure. Perbaduan yang cukup manis.

"Tidak ada yang tidak mungkin kalau menyangkut cinta kan?"

Wajah Ciel sudah benar-benar memerah kali ini. Dia menghindar dari tatapan Sebastian dan langsung berjalan meninggalkannya sendiri. Sebastian membiarkan Ciel pergi sambil sesekali memperlihatkan seringainya.

'Akan kubuat kau menerimaku.' batin Sebastian.

.

.

.

Ciel berjalan meninggalkan museum itu, langkah kakinya hanya membawanya menelusuri jalanan di sekitar museum itu. Disana banyak sekali pertokoan dan beberapa stand penjual makanan. Ciel hanya tetap berjalan saja.

Ingatannya kembali ketika saat Sebastian menyatakan perasaannya padanya. Untung Ciel masih bisa mengendalikan diri, jujur saja jantungnya daritadi berdetak sangat kencang. Cukup menyiksa baginya, tapi kenapa dia harus merasakan perasaan seperti itu?

'Duh...Kenapa aku mengingatnya?' batin Ciel heran. Sesekali Ciel mengacak-ngacak rambut kelabunya dengan frustasi. Pikirannya benar-benar tidak menentu sekarang.

Di saat Ciel sedang berjalan menuju rumahnya dengan frustasi dia melihat sosok seorang gadis berambut pirang sebahu. Ciel melihat gadis itu melangkahkan kakinya semakin dekat dengannya dan Ciel baru sadar itu adalah Ann.

"Ann?" panggil Ciel.

"Lho Ciel? Kenapa kamu disini?" tanya Ann. "Kukira kau berlatih piano dengan Mister Michaelis?"

Ciel langsung mengalihkan wajahnya dari Ann untuk menutupi wajahnya yang tiba-tiba memerah. Ann sedikit bingung dengan tingkah Ciel itu.

"Aku menolaknya. Aku sedang tidak ada niat untuk berlatih." jawab Ciel.

"Tumben...Kau kan rajin latihan."

Ciel hanya terdiam saja mendengar ucapan Ann. Dia tidak ingin menimpali ucapan itu. Ann juga tidak berbuat apa-apa. Tiba-tiba Ann mengeluarkan ponselnya dan matanya terfokus pada layar HP-nya, sepertinya ada SMS penting dari seseorang. Mata birunya langsung terbelalak.

"Ada apa Ann?" tanya Ciel.

"Aku harus pergi Ciel." jawab Ann.

"Kau tidak ikut ke restoran bersama yang lain?"

"Adikku sedang sakit. Aku ingin cepat pulang dan merawatnya."

"Oh begitu...Semoga adikmu cepat sembuh."

Ann menatap Ciel dalam diam. Ciel juga diam ketika Ann menatapnya dan entah kenapa Ciel mulai merasa risih dengan tatapan mata Ann.

"Ann, kenapa?" tanya Ciel heran.

Tidak dihiraukannya pertanyaan Ciel, Ann hanya memegang kedua pipi Ciel. Seketika wajah Ciel langsung memerah. Ann hanya tersenyum tipis saja. Ciel bingung dengan tingkah Ann kali ini.

"Ann?" panggil Ciel.

"Kau mengingatkanku pada adikku, Ciel." ujar Ann tetap menyentuh kedua pipi Ciel.

Wajah Ciel masih saja memerah. Tampaknya Ciel sedang sensitive dengan orang-orang yang menyentuhnya. Wajahnya daritadi terus saja memerah. Ann melepaskan tangannya dari pipi Ciel dan langsung menepuk pundak Ciel.

"Hahaha...Jangan kau anggap serius Ciel," ujar Ann sambil tertawa. "Aku hanya bercanda."

Bercanda? Ok. Ciel bisa sedikit menerima alasan Ann. Dia hanya mengangguk pelan saja. Ann lagi-lagi menepuk pundak Ciel lembut sambil tersenyum ke arahnya.

"Baiklah. Aku pulang dulu," ujar Ann yang mulai berjalan meninggalkan Ciel sendiri. "Kau juga langsung pulang ya?"

"Iya." ujar Ciel.

Ann melangkahkan kakinya meninggalkan Ciel sendiri di jalanan itu. Sedangkan Ciel memegang kedua pipinya. Wajahnya langsung memerah dan ingatannya kembali pada perkataan Ann, yaitu "hanya bercanda".

'Kalau Ann bercanda, apakah Sebastian juga?' batin Ciel.


Keesokannya Ciel kembali menuju universitasnya, disana teman-temannya sedang berlatih. Ciel memasuki kelasnya dengan wajah kurang bersemangat. Entah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ciel. Iya, apalagi kalau bukan memikirkan perkataan sebastian.

"Pagi Ciel!" seru Sherly sambil melambaikan tangan pada Ciel. Rambut coklatnya dikuncir dua dan membuatnya terlihat manis.

"Pagi." balas Ciel.

"Tampaknya Ciel kurang bersemangat." bisik Lucia pada Ann.

"Iya juga ya." ujar Ann.

Saat teman-teman yang lain sibuk latihan atau sibuk membicarakan Ciel. Sebastian datang ke kelas. Sherly langsung menyambut gurunya itu dengan ramah.

"Pagi, Mister Michaelis." sapa Sherly.

"Pagi juga Sherly." balas Sebastian ramah sambil tersenyum.

Sebastian langsung mengalihkan pandangannya pada Ciel dan tersenyum pada pemuda itu. Wajah Ciel langsung saja memerah dan Ciel langsung masuk ke ruangan khusus untuk berlatih piano. Teman-teman yang lain bingung melihat tingkah Ciel yang aneh.

"Ada yang aneh dengan Ciel ya?" tanya Andrew sambil sesekali memetik gitarnya.

"Kalau sudah begini memang ada yang aneh." gumam Merin.

Karen menatap Sebastian dan ruangan yang dimasuki Ciel berulang kali, sesekali dia tersenyum sendiri. Ryan dan Ann yang mulai mengetahui apa yang Karen pikirkan hanya menghela nafas saja.

"Karen! Jangan berfikiran yang aneh-aneh!" ujar Ryan dan Ann bersamaan.

"Eh? Tidak kok..." ujar Karen.

"Memangnya kalian tahu apa yang Karen pikirkan?" tanya Sebastian.

"Tentu saja, Mister." ujar Ann.

"Tidak kok. Hahaha..." Karen hanya tertawa hambar karena takut kalau hobi-nya diketahui Sebastian. Cukup Ryan dan Ann saja yang mengetahuinya.

.

.

.

Ciel menghabiskan waktunya dengan bermain piano di ruangan itu. Tampaknya teman-temannya hanya bermain-main saja atau mungkin ada yang pulang terlebih dahulu. Buktinya Ann dan Lucia tidak masuk ke ruangannya.

"Ciel..." panggil seseorang. Ciel menoleh ke asal suara itu dan melihat seorang gadis berambut hijau tosca panjang yang berjalan mendekatinya.

"Lucia? Ada apa?" tanya Ciel.

"Ano Ciel...Apa ada hal yang mengganggumu?"

"Memangnya kenapa?"

"Kau bertingkah aneh hari ini. Kalau kau tidak keberatan kau bisa cerita padaku."

Ciel menatap sosok Lucia yang sangat dewasa dan pengertian itu. Dia merasa wajar Lucia memiliki aura seperti itu, aura seorang gadis dewasa. Ciel hanya terdiam dan tangannya hanya melantunkan lagu sedih di piano-nya. Lucia menatapnya dalam diam.

"Aku baik-baik saja." ujar Ciel.

Lucia tahu Ciel suka sekali menyimpan semua masalahnya sendiri. Ingin rasanya Lucia bisa membantu Ciel, tapi Ciel tidak ingin berbagi masalahnya.

"Baiklah kalau kau tidak ingin memberitahu," gumam Lucia. "Apapun masalahmu, kuharap kau bisa menyelesaikannya."

Ciel hanya mengangguk pelan dan Lucia tersenyum. Lucia berjalan meninggalkan Ciel sendiri di ruangan khusus itu. Lalu Ciel kembali memainkan piano. Pikirannya kembali ketika Sebastian menyatakan perasaannya.

"Duh...Aku tidak mengerti!" jerit Ciel sambil menekan tuts piano sembarangan. Ciel hanya membaringkan badannya di kursi dan mata birunya melihat ke arah luar jendela. Perasannya menjadi lebih tenang sekarang.

"Wah...Ternyata muridku sedang frustasi." ujar seseorang. Ciel langsung menoleh ke asal suara itu dan mendapati sosok Sebastian berdiri di dekat pintu ruangan itu.

"Kalau mau masuk, ya masuk." ujar Ciel dingin.

Sebastian berjalan mendekati Ciel dan berdiri di sampingnya. Ciel sama sekali tidak melihat ke arah wajah Sebastian. Jujur saja dia merasa risih dengan adanya Sebastian, tapi dia juga tidak terlalu memusingkannya.

Sebastian menekan tuts piano dan menatap wajah Ciel yang hanya memandang ke arah jendela. Sebastian menyentuh dagu Ciel lembut dan tatapan mereka berdua bertemu.

"Tolong lihat aku Ciel," gumam Sebastian. "Untuk sekarang dan nanti..."

"Kenapa harus?" tanya Ciel gugup. Wajahnya mulai memerah lagi. Tampaknya Ciel sudah menjadi sensitive terhadap sentuhan seseorang. Sebastian hanya tersenyum sambil menyentuh pipi Ciel lembut.

"Karena aku menyukaimu, tidak aku mencintaimu."

Lagi-lagi jantung Ciel berdetak cepat mendengar ucapan Sebastian itu. Wajah Ciel makin memerah karena hal itu. Sebastian makin tersenyum dan mendekati Ciel, Ciel beranjak dari kursinya dan berjalan muncur.

"Apa jawabanmu, Ciel?" tanya Sebastian.

Ciel tidak menjawab, dia hanya berjalan mundur dan akhirnya menabrak dinding di dekat jendela. Dan Sebastian juga telah berada di hadapannya, tidak ada jalan keluar lagi bagi Ciel.

"Jangan membuatku menunggu lama, Ciel." ujar Sebastian tepat di telinga Ciel. Ciel hanya terdiam sedangkan jantungnya tidak berhenti berdetak kencang.

"Kau baru mengatakannya kemarin."

"Aku tidak suka menunggu lama-lama."

Ciel hanya terdiam saja, ingin sekali rasanya tidak menatap orb merah itu. Tapi tatapan mata mereka selalu bertemu dan untuk hal itu Ciel akui dirinya menjadi terjerat.

"Aku..." gumam Ciel pelan. Suaranya hampir tidak terdengar. Tapi Sebastian masih bisa mendengar suara manis Ciel.

"Lanjutkan..." ujar Sebastian yang tangannya mulai menyentuh bibir merah Ciel.

Ciel hanya mengangguk saja. Sebastian agak heran dengan tingkah Ciel. Sebastian menatap mata Ciel lagi.

"Kenapa Ciel?" tanya Sebastian.

"Aku menjawab pernyataan cintamu itu, bodoh. Aku...mencintaimu juga." jawab Ciel dengan wajah yang malu-malu. Sebastian menatap Ciel tidak percaya. Benarkah? Ciel mencintainya juga? Sama seperti keinginannya.

Tanpa aba-aba dari Ciel, Sebastian langsung memeluk tubuh mungil Ciel. Ciel hanya diam saja ketika Sebastian memeluknya.

"Benarkah? Aku senang." gumam Sebastian. Ciel hanya mengangguk saja. Sebastian melepaskan pelukannya dari Ciel dan kembali menatap mata birunya itu. Sebastian mendekatkan wajahnya pada Ciel, tapi Ciel mengalihkan wajahnya dari Sebastian. Sebastian hanya mengecup pelan pipi Ciel.

Sebastian menatap Ciel yang masih tidak menatap wajahnya. Sebastian kembali menyentuh dagu Ciel dan kembali mereka saling menatap wajah satu sama lain.

"Maaf ya, aku hampir ingin..." gumam Sebastian.

"Tidak apa-apa." gumam Ciel pelan.

Sebastian menggengam tangan Ciel dan mengecupnya pelan, wajah Ciel langsung memerah. Sebastian merasakan sesuatu yang menarik dari diri Ciel dan dia senang bisa memiliki Ciel.

'Dia sangat manis.' batin Sebastian.

"Sebastian?" panggil Ciel.

"Iya?" Sebastian langsung menoleh ke arah Ciel. Ciel menunjuk tangannya malu-malu.

"Bisa kau lepaskan tanganku?"

"Baiklah."

Sebastian menatap Ciel dengan tatapan yang lembut. Ciel merasa malu tapi senang akhirnya dia bisa menjawab pernyataan Sebastian. Pikirannya menjadi lebih tenang sekarang.

"Ciel, nanti aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau?" tanya Sebastian.

"Kemana?" tanya Ciel.

"Ikut saja ya?"

"Baiklah."


Langit sore mulai tampak di London, udara yang sejuk menemani sore hari ini. Semua murid sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Ciel mengikuti Sebastian yang mengajaknya ke mobilnya.

Disana mereka hanya terdiam sampai di tempat tujuan. Ciel menatap Sebastian yang sedang serius menyetir. Ciel tidak ingin menganggu Sebastian. Dan tidak lama mereka telah sampai di sebuah hutan.

"Hutan?" tanya Ciel heran.

Sebastian keluar dari mobil dan membuka pintu Ciel. Sebastian mengulurkan tangannya pada Ciel tapi Ciel tidak menerimanya.

"Kau kira aku seorang gadis?" tanya Ciel kesal.

"Haha...Kau memang manis," ujar Sebastian sambil tertawa. "Ayo..."

Sebastian menggengam tangan Ciel dan membawanya masuk menuju hutan itu. Hanya beberapa celah yang terlihat disana. Sebastian makin membawa Ciel ke dalam hutan itu dan sampailah mereka di tujuan.

Mata biru Ciel terbelalak senang, di tempat dia berdiri sekarang terlihat sebuah danau. Danau yang tidak terlalu besar tapi airnya sangat jernih, hingga cahaya matahari terbenam terpantul disana. Cantik sekali.

"Wah..." gumam Ciel senang.

"Kau suka?" tanya Sebastian.

"Iya. Sangat!"

Ciel berjalan mengelilingi tempat itu. Banyak pohon yang tinggi, rumput hijau dan danau yang memantulkan cahaya matahari terbenam. Senyum terlihat di wajah Ciel.

"Aku belum pernah kemari," gumam Ciel. "Ada juga tempat seperti ini."

"Kau bisa kesini lagi kalau kau mau." ujar Sebastian. Dan Ciel hanya mengangguk saja. Sebastian berjalan mendekati Ciel dan kembali menggengam tangannya. Wajah Ciel mulai memerah lagi dan Sebastian hanya tersenyum saja.

"Sebastian..." panggil Ciel. Sebastian langsung menoleh ke arah Ciel dan dia terkejut karena Ciel tiba-tiba langsung mencium bibirnya. Sebastian memejamkan matanya sejenak dan membiarkan Sebastian menciumnya.

Tidak lama Ciel melepaskan ciumannya dan wajahnya sudah sangat merah. Sebastian hanya tersenyum dan menyentuh dagu Ciel.

"Well, ternyata Ciel berubah menjadi agresif ya?" gumam Sebastian sambil menyeringai.

"Diam kau!" ujar Ciel malu.

Dan tiba-tiba Sebastian langsung mencium bibir merah Ciel. Ciel menerimanya dan langsung mengalungkan tangannya di leher Sebastian. Sebastian merasakan bibir Ciel yang manis, ternyata benar dugaannya selama ini. Ciel adalah makhluk yang paling manis.

'Ya ampun, bibirnya saja semanis ini. Apalagi darahnya.' batin Sebastian sambil menyeringai senang.

Setelah memakan beberapa menit mereka berciuman, mereka saling melepaskan ciumannya. Sebastian melihat wajah Ciel yang benar-benar memerah, sangat manis. Langit juga sudah menjelang malam dan muncul beberapa bintang di langit. Terlihat cantik.

"Kau...manis, Ciel. Sangat manis." bisik Sebastian di telinga Ciel.

"Sudahlah, jangan menggodaku." ujar Ciel malu-malu.

"Hehe...Ayo kita pulang."

"Iya."

Sebastian segera membawa Ciel pulang dari hutan ini. Tanpa Ciel sadari bahwa dirinya sudah terikat pada seseorang yang mengerikan, yang mengincar dirinya. Hanya tempat inilah yang menjadi saksi keinginan terpendam Sebastian pada Ciel.

'Aku akan segera memiliki dirimu, Ciel.' batin Sebastian.

TBC

A/N: Akhirnya bisa update.

Thx buat yang udah review.

Ditunggu reviewnya...^^