A KaiHun Fanfiction

.

.

.

standard disclaimer applied

.

.

.

Lee TaeRin presents


.

A Little Wish

Chapter 2

.


Seoul, 6 Maret 2011

.

Sudah dua minggu lebih aku berada di Seoul, rasanya menyenangkan berada di tempat baru. Aku selalu menyukai tempat baru, suasana baru, dan orang-orang baru, walaupun setiap malam aku selalu merasa kesepian dan merindukan Busan dengan JongDae hyung, LuHan hyung, serta JongIn disana.

Sebenarnya perkuliahan baru dimulai minggu depan, tapi MinSeok hyung menyarankan untuk dating lebih awal, dan aku menurutinya—lagipula taka da ruginya. Aku bisa melakukan regristasi universitas tanpa perlu repot mengantri panjang, aku juga sudah mulai menghafal jalan-jalan di Seoul, dan yang paling menyenangkan aku sudah mendapat beberapa teman baru—terima kasih pada MinSeok hyung yang berbaik hati mengenalkan sahabatnya padaku.

Ada Park ChanYeol hyung dan Byun BaekHyun hyung, pasangan paling aneh yang pernah aku temui. Mereka bertengkar heboh hanya karena memperebutkan rasa es krim—pisang atau strawberry dan berakhir dengan rasa chocolate mint.

ChanYeol hyung, mahasiswa SNU jurusan Hukum Internasional tahun kedua. Namja setinggi tiang listrik, berwajah anak TK dengan suara berat khas ahjussi dan senyum lebar penuh gigi. Dia tampak seperti orang paling bahagia dan tanpa beban di dunia. Kadang aku khawatir jika tiba-tiba bibirnya sobek karena selalu tersenyum seperti itu.

BaekHyun hyung, namja manis penggla eyeliner, bertubuh mungil dengan energy berlebihan, berlidah tajam, berbicara tanpa henti, temporary sarcastic, pendebat ulung, komentator sejati berwajah imut, eyesmile lucu dan suara luar biasa indah saat bernyanyi. Mahasiswa SNU tahun kedua jurusan Studi Film Modern yang langsung mengangkatku sebagai adik saat pertama berkenalan dengan alas an wajah kami sama-sama manis dan imut. Oh astaga, aku ini namja.

Kim JoonMyeon hyung, sunbaeku di fakultas kedokteran tahun ketiga. Tipikal mahasiswa nerd dengan kacamata besar bertengger di hidungnya dan buku setebal batu bata yang selalu menemaninya kemanapun. Putra tunggal pemilik Seoul International Hospital dengan kartu kredit berjejer rapi di dompetnya. Sosok rendah hati dengan senyum angelic tapi penuh aegyo gagal. JoonMyeon hyung dengan suka rela selalu menggesek salah satu unlimited black credit cardnya setiap kami pergi bersama.

Dan yang terakhir, Wu YiFan atau biasa dipanggil Kris hyung, mahasiswa SNU jurusan Managemen Bisnis tahun keempat. Namja campuran China-Kanada dengan pertumbuhan tak terkendali—tingginya melebihi ChanYeol hyung. Saat pertama melihatnya, kukira dia orang yang dingin dan sulit didekati. Tapi setelah mengenalnya, anggapanku runtuh seketika, ia orang yang ramah, hangat, dan sedikit errr.. aneh—dia selalu berkata ingin pergi ke luar angkasa untuk melihat bumi. Aku bisa bercerita banyak dengannya, rasanya nyaman seperti memiliki appa, hyung, dan sahabat sekaligus dalam satu tubuh. Kris hyung mengingatkanku pada sosok JongIn.

.

.

.

Hari ini hari Minggu, JongIn mengunjungiku di Seoul. Tadi pagi aku menjemputnya di stasiun dan kami berjalan-jalan hingga petang sebelum kembali ke apartemen.

"Kenapa kau tidak tinggal dengan MinSeok hyung saja?" Tanya JongIn sambil memilah kaset DVD.

"Aku tak ingin merepotkannya, lagipula appa punya apartemen di dekat kampus, jadi kugunakan saja. Belajar mandiri, Jong." Jawabku sambil meletakkan dua kaleng cola di meja dan mendudukkan diriku disebelah JongIn.

JongIn memeluk pinggangku dan menyandarkan kepalanya di bahuku, "bogoshippeo SeHunna."

"Nado bogoshippeo, JongIn-ah. Kau tahu, setiap kita mendengar suaramu di telpon atau melihatmu saat kita ber-video call, rasa rinduku semakin besar." Balasku sambil mengusap rambut JongIn, aku merindukannya. Benar-benar merindukannya.

JongIn mengangkat kepalanya, menatapku lekat, "aku baru tahu kalau ternyata kau manis dan err.. cantik, SeHunna."

"Mwo? Ya! Aku ini namja, aku tampan!" balasku tak terima.

"Hahaha, baiklah, mau kau manis, cantik, ataupun tampan, aku tetap menyukaimu, SeHunna." Kata JongIn sukses membuat pipiku terasa panas. "Kau semakin terlihat manis jika merona seperti itu." Lanjut JongIn sambil mengusap pipiku dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Kupejamkan mataku saat kurasakan nafas hangat JongIn menerpa wajahku. Astaga, jantungku berdetak tak karuan, kami akan berciuman! Sedikit lagi bibir kami akan bertemu, yak, sedikit la—

Ting tong. Ting tong.

—gi. Sial!

Sontak JongIn menjauhkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya kembali ke sofa, "ada tamu, cepat buka pintunya." Kata JongIn sambil meminum colanya.

"Ah, nde." Kataku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal dan bergegas berdiri melangkah ke pintu depan.

"Aish, padahal sedikit lagi, dasar tamu sialan!" gumam JongIn pelan namun masih bisa kudengar. Aku terkekeh pelan mendengarnya dan bergegas menemui tamu sialan itu.

"Eoh, Kris hyung, tumben kemari? Ada apa?" ternyata tamu sialan ini Kris hyung, toh. Dia tampak menawam dengan rambut dirty blonde, kemeja hitam yang digulung sebatas siku, jeans abu dan Converse merah. Samar-samar tercium wangi Sandalwood yang memberi kesan seksi dari tubuh tingginya. Ah, masih seksi JongInku.

"Aku membawa buku titipan dari Joonmyeon, kebetulan aku lewat dekat apartemenmu." Jawab Kris hyung. Aku mengangguk sambil menerima buku yang disodorkannya.

"Kau sendirian SeHunna? Apa kau sudah makan malam?"

"Ani, aku bersama JongIn, dia—"

"Namjachinggu." entah sejak kapan JongIn berada di belakangku dan menyela perkataanku.

"Aku namjachinggu SeHun." Lanjut JongIn sambil melingkarkan lengannya posesif dipinggangku. JongIn mendongak menatap Kris hyung tajam. Kris hyung membalas dengan tatapan yang sulit diartikan. Astaga, apa mereka sedang mengadakan kontes menatap? Aigoo..

"Oh, okay." Kata Kris hyung memecah keheningan. "kalu begitu aku pamit dulu, SeHunna. Maaf mengganggu acara kalian, JongIn-ssi."

"Ya, ya, ya. Cepat pulang sana, terima kasih sudah berkunjung." Kata JongIn sebelum membanting pintu kasar. Ia berjalan kembali menuju ruang tengah dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ada apa dengannya?

"Kau kenap—"

"Siapa tiang listrik tadi? Sok akrab sekali memanggilmu SeHunna, SeHunna. Aku tak suka dengannya! Astaga, kau lihat tatapannya tadi, seolah meremehkanku. Katakana padanya kalau aku—Kim JongIn adalah namjachinggumu, dan suruh dia berhenti sok akrab dengan memanggilmu SeHunna! Kau milikku! SeHunnie. Kau. Milikku." Kata JongIn bertubi-tubi. Tunggu sebentar, apa barusan dia memanggilku SeHunnie? Astaga, aku harus segera membersekan ini sebelum dia—

"SeHunnie.." –merajuk. Oh Tuhan, cobaan apa lagi?

"Iya Jong, aku akan bilang pada Kris hy—"

"SeHunnie..:" JongIn menatapku dengan tatapan puppy eyes hari berguru pada Monggu—anjingnya, rasanya aku bisa melihat telinga dan ekor anjung yang bergerak-gerak di tubuhnya. Aku menepuk kening, JongIn benar-benar merajuk.

"Aish, arrasseo, arrasseo!" aku berdiri menghadap JongIn. Akan kutunjukkan padamu bagaimana menangani Kim JongIn yang sedang merajuk.

Gomsemari ga
hanchibeyi so
appa gom
omma gom
aegi gom
appa gommun tung-tung-hae
omma gommun nal-shin-hae
ae-gi gommun neomu gwiyowo
ussu ussu charhanda

Yeah, aku menyayikan lagu Gomsemari sambil memperagakan tariannya—persis seperti yang dilakukan Han ji eun di drama Full House—dihadapan JongIn. Demi boneka Hello Kitty koleksi LuHan hyung, aku malu setengah mati. JongIn mengulum senyum, tawa meledak detik berikutnya.

"Teruslah tertawa sampai rahangmu lepas!"

Tawa JongIn semakin keras ditambah dengan tepuk tangan heboh sukses membuatku semakin kesal. Kutendang tulang keringnya, ia mengaduh kemudian menarik lenganku. Aku jatuh terduduk tepat di pangkuannya. JongIn memeluk pinggangku, mendaratkan kecupannya di dahiku, turun ke kelopak mataku, menggesekkan hidungnya dengan hidungku, dan berakhir dengan kecupan ringan di bibirku. Aku merona untuk kedua kalinya.

JongIn meraih lengan kiriku, memainkan gelang pemberiannya yang melingkar manis disana.

"Hari itu pagi-pagi sekali aku pergi ke rumah kang ahjussi untuk memintanya membuatkan gelang ini." Ujar JongIn sambil tersenyum menatapku. Astaga, rumah kang ahjussi—pengrajin perak terbaik di Busan—hampir 10 km jauhnya dari rumah kami, aku hanya menatap JongIn tak percaya.

"Butuh 45 menit untuk membangunkannya. Aku menggedor pintunya seperti orang gila sampai tanganku mati rasa." Lanjut JongIn. "Dia terus mengomel tanpa henti selama membuat gelang ini. Bahkan aku ikut membantu menyalakan tungku pembakaran yang luar biasa panas itu, untung saja aku tak bertambah hitam, haha." Aku terdiam mendengar cerita JongIn, masih tak percaya kalau JongIn mau melakukan hal seperti itu.

"Kang ahjussi bilang dia hanya bisa membuat yang sederhanya karena waktu yang sangat terbatas, dan jja! Jadilah gelang ini. Maaf kalau hanya gelang sederhanya dan jelek."

"Aniyo, ini bagus, aku menyukainya. Gomawo JongIn-ah, gomawo." Balasku sambil mengecup pipinya sekilas dan memeluknya erat. JongIn, aku sungguh mencintaimu.

"Ngomong-ngomong aku lapar, bagaimana kalau kita memesan ayam dan pizza?" kata JongIn sambil merengkuh pundakku.

"Baiklah, aku akan segera menelpon restoran ayam dan pizza, kapten!"

Dan malam ini kami habiskan dengan menonton DVD ditemani dua porsi ayam goreng dan seloyang besar pizza.

.

.

.

Seoul, 7 Maret 2011

.

Minggu pagi dan stasiun kereta api. Mulai detik ini kuumumkan bahwa aku benci kombinasi dua hal ini.

Dan sekarang disinilah kami, duduk di ruang tunggu peron menanti kadatangan kereta yang akan membawaku pulang ke Busan. Demi seluruh choco bubble tea kesukaan SeHun, aku masih ingin berlama-lama dengannya.

SeHun menautkan jemarinya di sela-sela jariku sambil menyesap caramel machiatto dari paper cup di tangan kanannya.

Aku menatap lekat SeHun, sahabatku. Tak pernah sekalipun kubayangkan sebelumnya kalau kami akan berakhir sebagai sepasang kekasih. SeHun, terlihat kuat diluar namun rapuh didalam. SeHun, ya aku menyukainya dan—

—mencintainya?

Entahlah aku belum yakin, yang pasti aku akan selalu melindunginya dan tak akan pernah mengecewakannya.

"JongIn-ah."

"Nde?"

"Apa arti Oh SeHun bagimu? Apa kau mencintainya?"

Deg.

Pertanyaan ini yang kutakutkan. Aku terdiam bingung harus menjawab apa. Kueratkan genggamanku pada tangan SeHun.

"Tak apa, kau tak perlu menjawabnya sekarang. Tanyakan pada hatimu dan yakinkan dirimu, JongIn-ah."

"SeHunna—"

"Kadang aku ragu kita bisa menjalani hubungan ini. Bukannya aku tak mempercayaimu, hanya saja ini terjadi begitu cepat." Ucap seHun sambil memandang rel kereta. Samar-samar terdengar deru mesin kereta mendekat. SeHun menarikku berdiri, merapikan jaketku dan mensletingnya sampai leher.

"Jaga dirimu, jangan sampai maagmu kambuh JongIn-ah." Aku mengiakan perkataannya. Kudekatkan wajahku berkaksud mencium bibirnya—

Chu

—yang ternyata malah mendarat di keningnya.

"Cepat masuk JongIn-ah, saranghae. Jangan paksakan hatimu dan aku selalu percaya padamu." Kata seHun denga suara aga bergetar. Kupeluk tubuhnya dan kukecup puncak kepalanya sebelum memasuki gerbong kereta.

Rasa sakit mendera dadaku ketika sekilas kulihat setetes ait mata mengalir di pipi putih SeHun. Sungguh aku tak pernah ingin membuat SeHun kecewa, aku tak ingin membuat seHun bersedih apalahi sampai menangis. Tapi lihatlah apa yang telah kau lakukan padanya, Kim JongIn!

'Mianhae, SeHunna.'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


.

Big thaks to:

rainrhainyrianarhianie, Mr. Jongin albino, Lhea winds, daddykaimommysehun, kahunxo, SehunBubbleTea1294,

jung yeojin, bbuingbbuingaegyo, zulnaen, ttaxoxo, Oh Jizze, KaiHunnieEXO, YoungChanBiased

.

A/N: Annyeonghaseyo.. akhirnya chapter 2 update juga #ElapKeringet. Maaf banget kalau updatenya telat banget, kerjaan TaeRin lagi heboh-hebohnya sekarang, dan sekali lagi maaf ga bisa balesin review kalian satu-satu. Maaf kalau banyak typo. Maaf kalau ceritanya makin ngaco. Pokoknya chapter ini penuh permintaan maaf dari TaeRin.

Makasih banyak buat para readers yang masih setia meninggalkan review, rasanya seneng banget bacanya. Saya sih ga maksa buat kalian ngasih review tiap habis baca cerita saya. Tapi review kalian itu penting buat saya. Tanpa riview kalian saya ga akan tau apakah cerita saya bagus atau nggak, pantes buat dilanjutin atau nggak. Intinya riview kalian penting pake banget!

So, mind to click the riview button?

#DadahDadahBarengKris