Makasih banyak atas reviewnya!!!

Maap humornya makin lama makin berkurang, soalnya Noel mesti nonjolin romancenya juga....

Gomen ne Nuri-chan... Noel ngga' tau Nuri-chan kurang suka pairing itu... Tapi udah kelanjur kebuat, ngga' apa-apa ya? Dan untuk Me-chan! Makasih banyak! It means a lot to me!!! Thank u~~~~ Noel sebenarnya malah iri sama senpai-senpai yang bisa nulis tragedy ato angst! Oh ya, soal ketawa... Benar sekali! Itu tertawa Hiruma!!!

Disclaimer : Naruto dkk punya Masashi Kishimoto-sensei, boleh Noel minta Tobi, sensei? (Digaplok Kishimoto-sensei).

3. Naruto....

Adek Baru Gue = Elo????

"Sasgay?"

"Oh shit!"

Sasuke yang sedang sangat super duper bete mengendarai mobilnya. Ia melirik kearah Hin-Hin, Hin apalah! yang daritadi hanya diam membisu.

"Hei, lo! Sekarang jelaskan ke gue tentang 'Sasgay' tadi!".

Hinata menatap Sasuke, jujur Hinata memang mengakui bahwa Sasuke memiliki fisik yang lumayan, bahkan di atas rata-rata. Sayangnya, Hinata tidak suka, bukan, BENCI dengan cowok yang kasar dan arogan.

"N-Naruto kun per-pernah me-memperlihatkan fo-foto k-kakak dan te-temannya, la-lalu d-dia mem-memberi tahu n-nama-namanya". Hinata menjawab ragu-ragu.

"Jadi dia bilang nama gue Sasgay? ANJRIT! Awas lo Naruto!".

'Ni orang kok marah-marah terus, ya?'

"Dan lo! Jangan pernah sebut gue Sasgay lagi!". Sasuke menatap tajam Hinata.

"Ja-jadi Sa-Sasgay i-itu bu-bukan na-nama ka-kamu y-yang asli?".

"YA NGGA' LAH! Dan berhenti gagap! Gue ngga' suka orang gagap!Gagap ngebuat omongan lo susah dicerna dan lama!".

"Ma-maap". 'Lo tuh anjrit! Teriak-teriak mulu! Kerjaan cuma marah! Sialan lo'.

"Udah gue bilang berhenti gagap!!".

Hinata menatap Sasuke dengan tatapan benci. "Oke, kita sudah sampai. Keluar lo!". Hinata menatap Sasuke yang sedang menatapnya, "reslitingmu terbuka". Ucap Hinata tanpa gagap sedikitpun.

"!!!!!!!". Sasuke melihat ke arah reslitingnya. Hinata langsung ngacir keluar dan masuk ke rumahnya.

"SETAN LO! RESLETING GUE KAGA' KEBUKA!".


"Naruto-chan! Akhirnya pulang juga!". Kushina memeluk anak semata wayangnya itu. "Mama! Naru kan bukan anak kecil lagi! Ngga' usah pake' -Chan dong manggilnya!". Naruto melepaskan pelukannya dari Kushina.

"Kok kaya' gitu? Ngga' boleh gitu dong! Naru-chan ngga' sayang mama lagi ya?". Kushina mengeluarkan jurus 'puppy eyes'-nya. 'Ini yang emak siapa, yang anak siapa'.Batin Naruto.

"Iya, iya, mama boleh panggil Naru pake embel-embel -chan. Udah dong ma! Jangan nangis, nih Naru kasih permen ya?". Naruto memberi Ibu semata wayangnya (?) itu permen. "Kyaa!! Makasih Naru!".

"Tapi jangan bilang-bilang papa, ya? Ntar papa marah kalo dia sampe tau Naru ngasih mama permen sebelum makan malam". Kushina mengangguk dan memakan permen yang dikasih Naruto tadi. "Papa mana, ma?". Naruto mencari-cari tanda kehidupan Minato.

"Papa kamu lagi jemput adek baru kamu". Jawab Kushina disela-sela acara nonton TV-nya. Naruto pun langsung ke dapur dan menyiapkan makan malam. Naruto adalah anak tunggal yang mandiri, mau gimana lagi? Mamanya aja bentuknya kaya' begono. Terpaksa kan Naruto jadi anak rumah tangga (Naru: Anak rumah tangga? Author: Ibu rumah tangga aja ada, masa' anak rumah tangga ngga' ada). Dia yang masak, belanja, nyuci piring, nyuci baju, nyetrika, nyapu, ngepel, beresin rumah, ngangkat jemuran, masang antena, gali sumur (?) dll....

Selesai menyiapkan makanan Naruto pergi melihat mamanya yang sedang maen boneka (ini emak childish ato autis ya?). "Naru-chan! Maen boneka yok!". Naru cuma bisa mengikuti kehendak Ibunya dan mangambil boneka barbie yang disodorkan Kushina.

"Siti! Siti! Maen yok!". Teriak Kushina belagak jadi barbie.

"Siti itu siapa ma?". Tanya Naru bingung.

"Yee Naru! Itu nama boneka barbie-nya!".

'Boneka keren-keren namanya Siti'. Batin Naruto.

"O, iya! Maen apa? Eh, tunggu ma. Boneka mama namanya siapa?".

"Nama boneka mama Cristine". Sahut mamanya dengan riang gembira.

"Ih, ngga' adil dong! Masa' nama boneka Naru Siti, punya mama Cristine! Jaoh amat!".

"Eh, biarin! Inikan boneka mama!".

"Ih, mama curang! Udah ah! Naru ngga' mau main!". Naruto pun ngambek karena ketidakadilan Kushina.

"Ya, udah! Mama maen sendiri aja!". Kushina menjulurkan lidahnya lalu main boneka-bonekaan lagi. Naruto cuma bisa menggeleng-geleng. "Papa pulang!". Tiba-tiba pintu depan terbuka. "Minato-kun!!!!". Mama Naru melompat gembira dan lari ke pelukan suami tercinta (enak banget ya dipeluk Minato).

"Dimana anak kita yang baru?". Tanya Kushina. "Permisi tan, eh, ma-mama?". Tiba-tiba seorang cewek bermata biru dan berambut pirang muncul dari balik Minato. "OMG!!! Manis banget!!! Mukanya kaya' Siti (a.k.a Barbie Kushina)!!!". Naruto yang mendengar ribut-ribut pun berjalan menuju pintu depan.

"Ada apa sih ribut-ribut?". Tanya Naruto. " Naru-chan! Liat ni! Ini adek baru kamu! Mirip Siti kan??". Kushina menyodorkan gadis itu ke arah Naruto sampe-sampe sang gadis jatuh kepelukan Naruto. Pokoknya romantis kaya' di film-film itu lah! Kalo ini film pasti ada angin-angin, trus ada sound effect lagu-lagu romantis (ceile).

Tapi bukannya stay cool kaya' di film-film, Naruto malah cengo, dengan wajah bodoh setengah bego' Naruto memandang sang gadis.

"Ino???". Naruto memulai.

"Eh... Hai?". Sapa sang gadis.

"Elo adek baru gue????". Tanya Naruto tak percaya. "Lho? Naru-chan udah kenal?". Tanya Kushina. "Wah, bagus itu Naruto. Jadi kalian bisa lebih deket". Tambah Minato.

Naruto cuma bisa memandang Ino dan orang tuanya bergantian.

"Ehm... Ada yang bisa memberitahuku siapa itu Siti?".


"Apa ngga' sialan tuh Hin! Masa' dia bilang Ino yatim piatu!!". Seorang gadis berambut pink menelpon sobatnya dengan semangat membara.

"Y-ya ampun! L-lalu Ino bagaimana?". Balas suara di sebrang sana.

"Ya.. dia diam aja, tau sendiri lah Ino, sok kuat! Sekarang katanya dia lagi ketemu sama keluarga angkatnya. Haaah... Pasti berat ya kehilangan Ibu ketika masih kecil lalu disusul kehilangaN ayah ketika remaja. Gue salut ama Ino".

"Iya, a-aku juga ngga' bisa ngebayangin kalo harus kehilangan ayah sekarang".

"Ngomong-ngomong Hina, tadi lo bilang lo ketemu ma cowok reseh, gimana ceritanya?".

"O-Oh! D-dia jemput aku di sekolah tadi, seingatku kan namanya S-sasgay, mana kutahu Naruto-kun cuma bercanda waktu ngeberi tahu aku tentang nama-nama temen kakak. Eh, dia marah-marah, teriak-teriak, trus nyuruh aku ngga' usah gagap. Mana bisa coba! Aku kan cuma bisa ngomong lancar sama orang yang dekat sama aku. Itu aja masih sedikit gagap".

"Cih, dasar cowok. Ngomong-ngmong soal cowok, gue juga ketemu cowok reseh".

"Cowok reseh?".

"Yup! Dia nabrak gue waktu gue lagi bete'!".

"O-oh... Orangnya gimana Sakura-chan?".

"Tau ah, seingat gue sih pake kacamata".


"ACCHO!!!". Sai tiba-tiba bersin. "Uuukhh, kok gue tiba-tiba bersin ya? Jangan-jangan ada yang ngomongin gue! Ya, gue emank banyak diomingin sih". Ujar Sai narsis. Sai kembali lagi kepada 'research'nya. "Oke! Lengkap!". Kata Sai mengangkat catatan yang dari tadi dibuatnya.

"Dengan ini sempurna sudah!!! Besok gue bakal nyamperin dia!".


"Jadi Ino, kamu satu sekolah sama Naruto?". Tanya Minato. "Iya om, eh, pa". Jawab Ino. "Ngga' usah segan kok Ino-chan! Kami mulai sekarang adalah orang tuamu!!", Kushina memeluk Ino dengan erat.

"Mama! Makanannya kan jadi tumpah-tumpah!". Naruto membersihkan makanan Kushina yang berceceran. "Kita lagi makan, mama jangan kaya' anak kecil dong!". Naruto menambahi. "Uuukh... Naru-chan~~~ Ngga' apa-apa kan? Inikan hari pertama Ino".

"Iya, Naruto, lagipula ngga' hanya waktu makan kok, tiap hari kan mama kamu memang kaya' anak kecil". Jawab Minato tanpa dosa, padahal kata-katanya menusuk dada (ceile). "Minato-kun jahat!". Kusina berlari keluar dari ruang makan. "Eh? Apa salah papa Naruto? (masih nanya)".

"Banyak". Jawab Naruto enteng.

"Banyak?". Ulang Minato.

"Iya, motong duit jajan Naru, nyita psp Naru, nyuruh Naru cuci kaos kaki papa, nyisain wortel setiap Naru masak". Jawab Naruto sambil menghitung dengan jarinya. "Bukan itu! Itu sih dendam kamu ke papa! Yang papa maksud sampe-sampe mama kamu ngambek!".

"Papa sih ngomongnya sinis".

"Papa ngga' sinis!".

"Papa sinis!".

"Papa ngga' sinis!".

"Sudahlah pa, kak! Lebih baik papa bicara dulu sama mama". Tiba-tiba Ino menyela. "Tapi papa ngga' sinis". Gumam Minato ketika ia meninggalkan ruang makan.

".....".

"......".

"Jadi....sekarang lo kakak gue?". Tanya Ino memecah keheningan.

"Gue rasa...". Jawab Naruto.

"Em... apa keluarga lo selalu kaya' gini?".

"..... Kurang lebih, ngomong-ngomong, bokap lo... udah....".

"...Ya, kaya' gitulah!". Ino tersenyum. "O, iya, ini masakan lo,eh, kakak ya?". Naruto mengangguk. "Enak lho! Hm! Apalagi spagetinya! Makasih ya! Oh, kaya'nya gue,ehm, Ino mau beresin kamar Ino dulu, kak. Jadi Ino mau ke kamar dulu. Kakak bisa antarin Ino ke kamar Ino yang baru ngga'?".

Naruto mengangguk lagi. Narutopun mengantar Ino ke kamarnya. "Makasih kak!". Ino tersenyum dan memegang gagang pintu kamarnya. Sebelum Ino masuk Naruto memegang pundak Ini.

"Ya, kak?".

"......".

Naruto menatap mata Ino yang berwarna biru laut.

"Ino, air lautnya tumpah".

TO BE CONTINUE


Kekekekekekekekekekeke.

Research apa yang dilakukan oleh Sai?

Bagaimana kelanjutan Ino dan Naruto?

Apa yang akan terjadi dengan Naruto kalo dia ketemu ma Sasuke?

Dimanakah Neji (Neji : Kok gue ngga' keluar di chapter ini????)

Cari jawabannya di chapter berikutnya!

Review pilizz!!!

Aku ngga' punya pegangan untuk ngebuat fic ini tanpa review dari kalian!!!