Hinata Hyuga : My Story
x
Naruto by Masashi Kishimoto
x
x
Fic by Benjiro 'Anbu Tora' Hirotaka
x
Chapter 3 : Confession
xxx
All Hinata's POV
xxx
Konoha luluh lantak. Dibeberapa tempat malah sudah hancur total. Reruntuhan bangunan bereserakan dimana-mana. Apa yang bisa kukatakan? Mulai dari serbuan Akatsuki dibeberapa titik, terus menyebar menjadi pertempuran antara Akatsuki melawan shinobi Konoha. Yang teranyar, jurus pamugkas Pain telah membuat sebagian besar desa rata dengan tanah.
Aku dan beberapa orang dari klan ku mencoba membantu mengevakuasi penduduk. Serangan terakhir Pain telah membuat aku dan yang lain berusaha menghindari setiap reruntuhan bangunan. Ketika sebuah dinding bangunan akan menimpaku, segera bebrapa pengawal yang ditugaskan oleh ayah menjagaku bereaksi menyelamtkanku.
"Nona Hinata tidak apa-apa?" Ko, salah satu pengawalku bertanya.
"Ya...," jawabku. "Tolong obati luka KO!"
"tak usah pedulikan saya. Kalau terjadi apa-apa pada nona Hinata selama tuan HIashi dan nona Hanabi takada. Saya akan malu seumur hidup", kata Ko lagi.
Blarr!
Dari jauh, sebuah ledakan terdengar. Sepertinya ada yang sedang bertarung. Aku dan yang lain bertanya-tanya tentang siapa yang sedang bertarung itu. Perkataan Katsuyu -kuchiyose Hokage- membuatku terkejut.
"Naruto sedang bertarung dengan Pain. Dia minta kita untuk tidak ikut campur".
Ko segera melihat ke asal ledakan dengan Byakugannya.
"Tak salah lagi! Itu memang Naruto!" kata Ko membuatku jadi khawatir dengan keadaan Naruto.
'Naruto bertarung sendirian?' Refleks aku segera beranjak menuju tempat Naruto berada. Ko berusaha mencegahku.
"Jangan nona Hinata!"
"Tapi Naruto bertarung demi desa!" kataku membela diri.
"Walau ikut bertarung, kita akan menjadi penghalang bagi Naruto. Hanya akan menyusahkannya saja!"
Kata-kata Ko ada benarnya. Akupun berusaha menahan diri. Dalam hati aku sangat kkhawatir dengan Naruto. Akupun menggunakan Byakuganku untuk melihat pertarungannya.
Aku dapat melihat semuanya. Dihadapan Naruto sekarang berdiri 2 Pain. Salah satunya yang berbadan lebih kecil menggunakan jurus yang aneh. Tubuh Naruto tertarik kearah Pain itu. Dengan cepat, Pain yang lebih gemuk menahan tubuh Naruto agar tidak bisa bergerak.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba tubuh Pain yang sedang memegangi Naruto, tubuhnya jadi batu dan kemudian hancur. Aku sedikit lega melihat Naruto akhirnya bisa lepas. Tapi lagi-lagi Pain terakhir menggunakan jurus yang sama ketika menagkap Naruto pada tetua Katak. Naruto berusaha menyelamatkan Tetua itu yang bergerak ke arah Pain. Sayangnya ia gagal. Tetua Katak tewas seketika tertusuk senjata Pain.
Naruto terlihat marah. Dia berusaha menyerang Pain. Tapi dengan mudah, Pain dapat menjatuhkannya. Kulihat Pain lalu menancapkan senjatanya ke tangan dan tubuh Naruto sehingga Naruto tak bisa bergerak sama sekali.
Perasaanku kalut. Aku tak ingin dia mati. Aku tak ingin Naruto pergi meninggalkanku. Tanpa peduli lagi dengan perkataan Ko, aku berlari kearah Naruto berada dengan maksud menyerang Pain. Dia bisa menghindar. Kini perhatian Pain teralihkan padaku.
"Takkan ku biarkan kau menyentuh Naruto lagi!" kataku pada Pain.
"Kenapa kesini ! Cepat lari! Kau takkan bisa mengalahkannya !" kudengar Naruto berkata padaku dengan sedikit berteriak.
"Aku tahu..."
"...!
"Ini untuk kepuasanku sendiri..."
"Bicara apa kau? Jangan ketempat berbahaya begini hanya karena alasan seperti itu !"
"Berdiri disini adalah kemauanku...," kataku untuk kesekian kalinya sambil menyiapkan Byakuganku. "Aku yang cengeng dan mudah menyerah...Selalu merasa salah tempat. Tapi...Naruto, kamulah yang membawaku ke tempat yang benar !"
Entah keberanian darimana, aku terus melanjutkan kata-kataku.
"Aku selalu mengejarmu...Karena ingin bersamamu dan berjalan beriringan denganmu...Naruto-lah yang mengubahku ! Senyummu menyelamatkanku. Karena itu, aku tidak takut mati untuk melindungimu, Naruto. Karena aku...menyukaimu !"
Setelah berkata itu, aku maju menyerang dengan Juho Shosiken. Tetapi kemampuan Pain lebih hebat. Seranganku dapat dipatahkan dengan mudah. Aku terpental kebelakang. Pandanganku kabur. Samar-samar Pain mengeluarkan senjatanya dan menusukannya padaku. Pandanganku gelap. Dalam benakku, terngiang satu nama, Naruto.
'ku mohon kamu harus selamat'.
xxx
Naruto...Naruto...
Nama itu terus terngiang-ngiang di benakku. Kudengar langkah beberapa orang menghampiriku. Seperti...suara Tenten dan kak Neji. Aku tak bisa mengira-ngira lagi. Badanku sepertinya terlalu lemah untuk digerakan.
Ku rasakan beberapa orang lagi datang menghampiriku. KUdengar seseorang bertanya tentang keadaanku. Aku tak menangkap dengan jelas percakapan orang-orang disekitarku setelah itu. Tapi sepertinya mereka membicarakan Naruto. Ada apa denganya?
Lukaku sepertinya sedang diobati. Tubuhku sudah bisa kugerakan. Ketika ku buka mataku, yang pertama kulihat adalah Sakura.
"Terimakasih, Sakura.."
"...Jangan memaksakan diri," kata Sakura sambil tersenyum kepadaku.
Ku balas senyum Sakura. Kudengar Katsuyu berkata menarik perhatian semua orang.
"Naruto sudah mengalahkan Pain ke enam".
"Bagaimana keadaan Naruto? Bagaimana lukanya?" Sakura memberondong Katsuyu dengan pertanyaan tentang Naruto.
"Dia kecapekan, tapi tidak apa-apa"
Perkataan Katsuyu membuatku lega. Syukurlah Naruto baik-baik saja. Padahal aku sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Jadi dimana dia sekarang?" tanya guru Guy.
"Dia sedang menuju lokasi Pain asli sendirian."
Kak Neji terlihat emosi mendengar perkataan Katsuyu yang terakhir. Dia bilang kalau Naruto akan celaka bila sendirian. Apalagi staminanya menurun. Diapun mengajak guru Guy untuk ke tempat Naruto.
"Naruto tak minta bantuan. Lagipula dia bilang kalau dia ingin menanyakan sesuatu langsung pada Pain yang asli."
Kata-kata Katsuyu membuat kami mengerti, kami sekarang hanya bisa menunggu seorang pahlawan kembali.
'Semoga berhasil, Naruto."
xxx
Kak Neji dan Tenten membawaku ke Rumah Sakit sementara untuk mengobati lukaku dengan lebih baik. Ku lihat wajah-wajah bersedih menghinggapi setiap penduduk desa disana. Beberapa shinobi dan penduduk desa yang lain masih berusaha mengevakuasi jenazah-jenazah yang tertimpa reruntuhan bangunan agak jauh dari tempat kami berada. Entah aku bisa kuat atau tidak, jika diantara jenazah itu ada tubuh Naruto. Aku tak sanggup kehilangan dia.
Kyaa !
Sebuah jeritan terdengar membuat setiap orang yang mendengarnya berlari ingin tahu ke asal suara itu. Kak Neji juga. Tenten diminta tetap menjagaku. Kegaduhan segera terjadi. Beberapa orang terdengar tak percaya, yang lain terdengar menjerit. Aku dan Tenten jadi penasaran ingin tahu juga apa yang terjadi. Tapi kak Neji tak lama kemudian kembali.
"Ada apa, Neji? Apa yang terjadi?" tanya Tenten.
"Orang-orang yang sudah dipastikan tewas, hidup lagi. Sepertinya Naruto berhasil," kata kak Neji yang membuat aku dan Tenten takjub.
"Kau sudah baikkan, nona Hinata?" tanya kak Neji yang dijawab anggukan oleh ku. "Kita akan ke pinggiran desa. Para penduduk dan shinobi yang lain sudah banyak yang berkumpul disana. Kata Katsuyu, Naruto sedang dalam perjalanan kembali kesini. Kita akan menyambutnya."
"Dengan dibantu Tenten, akupun beranjak ke tempat semua orang berkumpul. Beberapa pengawal setia ayahku segera menghampiriku setibanya aku disana. Sedangkan kak Neji dan Tenten bergabung dengan guru Guy dan Rock Lee.
Dari jauh, ku lihat Naruto turun dari gendongan guru Kakashi. Aku hanya mengucap syukur sambil menangis terharu karena dia ku lihat tak apa-apa. Para penduduk desapun tak ketinggalan mengelu-elukan Naruto. Beberapa anak terlihat berlari mengerubunginya. Aku dan semua orang tersenyum, saat Sakura menonjok perut Naruto lalu memeluknya untuk mengucapkan terima kasih atas nama kami semua.
"Ayo kita angkat pahlawan kita !" seseorang berteriak.
Tanpa dikomando dua kali, Naruto segera diangkat dan dilemparkan ke udara bersama-sama. Konoha gegap gempita menyambut pahlawan baru mereka.
Sambil menyeka air mataku, dalam hati aku berkata 'Naruto, kau telah berhasil membuat penduduk desa mengakui keberadaanmu. Teruslah berjuang untuk kami, pahlawan.'
x
xxxENDxxx
x
Uwaa...Chapter 3 akhirnya apdet juga. Terima kasih buat semua yang telah dengan sukarela me-review fic saia ini. Setelah ini saia mungkin fokus membuat NaruHina yang settingnya offscreen tetapi tetap dengan sudut pandang Hinata.
Mungkin masih banyak mist typo, tapi sudilah kiranya readers mereview. Karena doping bagi seorang author adalah REVIEW. Jadi berikanlah saia doping sebanyak-banyaknya ya.
plissss.
