Nordic Tycoon Vol. 1 [Berwald Oxenstierna]
APH ©Hidekaz Himaruya
Diana Palmer of Hart Series (saya ambil plot dari sini tapi dengan kata-kata sendiri dan beberapa bagian yang diubah)
Sweden x fem!Finland
Warning: genderbent, AU, OOC, don't like don't read. Semi rate M because mention of condoms/sexual things.
Note: Matthias Densen=Denmark.
Musim dingin berganti dengan musim panas di Lapland, tetapi tetap saja terasa dingin bagi Tiina karena ia tinggal di negara yang sangat dekat dengan kutub utara. Hubungannya dengan Berwald berangsur-angsur lebih baik dari sebelumnya walaupun Berwald masih sering memandangnya dengan tatapan sinis yang membuat Tiina ketakutan. Tetapi ia sudah tidak terlalu takut jika mengingat sisi Berwald yang lainnya dan ia turut merasa bersalah akan hal ini.
Semakin lama Tiina tinggal di rumahnya, Berwald tidak bisa melepaskan pandangannya terhadap gadis itu. Semua orang di rumahnya tahu bahwa Berwald memiliki perasaan khusus terhadap Tiina tetapi anehnya, Tiina sendiri sama sekali tidak menyadarinya. Betapa pun ia mencintai Tiina yang polos dan belia, ia tahu bahwa gadis itu tidak akan mungkin menyukainya setelah apa yang pernah dilakukannya terhadap gadis itu. Berpikiran bahwa Tiina akan jatuh cinta kepadanya itu merupakan harapan yang tidak akan pernah mungkin terjadi. Ia hanya bisa memimpikan Tiina alih-alih berdekatan dengan Tiina secara langsung. Tidak ingin jika kejadian di masa lalu terulang kembali.
Ia pergi menuju perternakan dan memberi makan kuda-kudanya pada pukul delapan pagi, melihat Tiina dengan celana jeans compang camping sambil menggendong Kukkamuna. Bukankah gaji yang diberikannya sudah lebih dari cukup untuk membeli jeans baru? Jika memang tidak cukup, gadis itu bisa meminta gaji lebih. Ia merupakan tipe bos pekerja keras dan menuntut para pegawainya untuk bekerja lebih keras tetapi ia selalu memberikan gaji yang lebih daripada seharusnya. Ia menghargai setiap pekerjanya baik yang lama maupun yang baru.
"Tiina!" sapa Berwald dingin dan menatap Kukkamuna dengan tatapan tajam hingga anak anjing itu terkencing-kencing ketika melihat Berwald. "Kau tidak membeli baru?"
Mata Tiina terbelalak bingung seperti anak anjing. Sambil memegangi Kukkamuna yang ketakutan ia melotot pada Berwald. "Maksud anda apa? Aku sama sekali tidak mengerti!" ujarnya kesal. "Dan jangan menakut-nakuti Kukkamuna, moi. Anda tidak pernah menyukainya sedikitpun."
Tiina benar-benar gadis bodoh, maki Berwald dalam hati. Lebih tepatnya gadis itu terlalu polos sehingga memancing emosinya. Tetapi lucunya di saat yang bersamaan ia jatuh cinta padanya. Ia tidak bisa mengenyahkan perasaan cintanya kepada Tiina. Ia tidak peduli jika pada akhirnya ia dicap sebagai pria pedofil karena ia jatuh cinta pada gadis yang jauh lebih muda darinya. Dan Tiina seperti anak anjing kecil yang manis, seperti Kukkamuna tepatnya dan tidak ada salahnya jika Berwald bermain-main sedikit dengan Tiina.
Mengenai Kukkamuna, Berwald memang membencinya tetapi melihat wajah ceria Tiina ketika menggendongnya membuat Berwald mengurungkan niatnya untuk menjadikan Kukkamuna daging anjing panggang di musim dingin. Alasan itulah yang membuat Berwald mengijinkan Tiina untuk memelihara anjing kecil tersebut.
"Jeans itu," ucap Berwald perlahan, menunjuk dengan dagunya. "Mengapa tidak diganti?"
Gadis itu terdiam dan tersenyum datar, matanya terlihat lelah. "Kurasa celana jeans ini masih enak dipakai. Aku tidak perlu benda baru ketika bekerja."
"Tidak ada pria yang tertarik padamu dengan penampilan seperti itu," balas Berwald dengan nada jahat. "Kecuali.."
Pria itu buru-buru menutup mulutnya dan berharap Tiina sedang tidak memperhatikan ucapannya. Tetapi sudah terlambat, Tiina memandang Berwald dengan tatapan jengkel, nyaris saja ia melemparkan kemarahannya terhadap Berwald seperti satu bulan yang lalu. Berwald kadang bersikap baik kepadanya, tetapi di saat yang bersamaan Berwald juga bisa bertindak kejam. Apa urusannya jika ia mau menggunakan jeans kumal itu. Toh pekerjaan yang ia lakukan selama ini merupakan pekerjaan kasar yang tidak memerlukan baju yang bagus.
"Apa urusanmu?" tanya Tiina dengan nada jengkel dan berjalan ke arah lainnya, mengabaikan Berwald begitu saja. Ia benar-benar sakit hati mengenai perkataan Berwald barusan. Dimana-mana pria sama saja, dengus Tiina kesal. Berwald memang tidak pernah bisa benar-benar menyukainya. "Anda ingin mengejekku!"
Tatapan jengkel Tiina menyadarkan Berwald sepenuhnya jika perkataannya sudah keterlaluan. Ia tidak bermaksud mengatakan hal-hal jahat kepada Tiina, hanya saja ia merasa gemas. Kasihan karena selama ini ia tidak memperhatikan penampilannya karena Berwald terlalu banyak menuntut darinya. Ia merasa cemburu karena Matthias terus-terusan memperhatikan Tiina.
Harus diakui, Tiina sebenarnya sangat cantik hanya saja ia seperti berlian yang terbenam dalam tanah. Jika sudah dipoles, Tiina akan menjadi sangat cantik dan banyak pria yang menggilainya. Tetapi ia tidak ingin mengatakannya pada Tiina karena ia ingin memiliki Tiina lebih lama lagi dari sebelumnya. Lebih tepatnya, membiarkan Tiina bergantung kepadanya.
"Maaf," Berwald berkata pada akhirnya, merasa bersalah dengan apa yang ia katakan barusan. Salah satu tangannya mengambil kotak yang terletak di sakunya. Pria itu membeli benda tersebut semalam di toko perhiasan. Ia menyerahkan benda tersebut kepada Tiina. "Bukalah, Tiina!"
Wajah Tiina tampak bingung ketika disodori kotak tersebut, maksudnya apa Berwald berkata seperti itu. Ia membuka kotak tersebut dan di dalamnya terdapat satu kalung mutiara asli yang begitu indah. Tiina berpikir apakah benda itu memang diberikan untuk Tiina. Sesaat ia menyadari sesuatu hal.
"Oh, Anda hanya ingin menunjukkannya kepada saya saja," kata Tiina dingin. "Benda yang bagus sekali. Itu untuk pacar barumu ya?"
Pacar baru? Enak saja dia bicara begitu. Dia tidak punya pacar dan seandainya Tiina tahu bahwa seharian ia mencari kalung tersebut hanya untuk Tiina seorang. Ia tidak pernah membelikan wanita benda seintim ini, termasuk ketika bersama mantan pacarnya dulu. Tiina layak mendapatkan itu semua karena gadis itu sudah terlalu banyak bekerja keras untuk keluarganya. Kalung itu ia belikan tanpa adanya maksud apa-apa.
"I—itu untukmu," Berwald berkata pelan, mencari-cari alasan agar ia tidak merasa malu. "Untuk hadiah ulang tahunmu."
Tiina berusaha untuk tidak terlihat terlalu senang di depan Berwald walaupun gadis itu sangat senang diberikan kalung mahal seperti kalung mutiara putih yang begitu indah. "Terima kasih," jawabnya gugup. "Tetapi ulang tahunku sudah lewat, maaf."
"Kapan ulang tahunmu?"
Gadis itu menjawab pelan. "Tanggal enam Desember tahun lalu. Memangnya ada apa?"
Brengsek, mengapa ia sampai tidak tahu kapan ulang tahun Tiina. Tiina pasti ketakutan sejak ia melemparkan kue ke tembok dan menampar wajah Tiina hingga babak belur, oleh karena itulah Tiina tidak pernah memberi tahu kapan ulang tahunnya terhadapnya. "Apa Lukas dan kambing tahu soal ulang tahunmu?"
Gadis itu menggeleng pelan. "Aku tidak pernah membicarakannya."
Ya, itu sudah menjadi jawaban yang cukup jelas untuk Berwald. Dulu ibunya yang merusak hari ulang tahun Berwald, sekarang ia sendiri yang merusak ulang tahun Tiina. Tidak ada kue, ucapan selamat ulang tahun, kue maupun kado. Pria macam ia apa yang tega membuat Tiina menjadi seperti ini.
"Sial!" maki Berwald kasar. "Aku benar-benar bodoh."
Selama sisa waktu yang ada, ia terus bersama Tiina dan tidak henti-hentinya mendengarkan Tiina berbicara. Tiina yang begitu polos dan belum tersentuh membuat hati Berwald serasa hangat. Seolah-olah ada cahaya masuk ke dalam dirinya. Senyuman Tiina dan sentuhannya mampu membuat Berwald mabuk. Berwald membayangkan bagaimana rasanya jika ia menjadi pria pertama yang bisa mencicipi Tiina. Mungkin Tiina akan jatuh cinta dengan pria yang pertama kali menyentuhnya. Jika dilihat, Tiina tidak memiliki pengalaman bersama pria.
Pikiran gila macam apa itu, Berwald. Hentikan, dia masih polos.
.
.
.
"Bawa Tiina ke toko pakaian di Stockholm!" seru Matthias bersemangat dan menyeret-nyeret tangan Berwald. "Dia memerlukan banyak pakaian baru untuk musim panas ini!"
"Hentikan, Mr. Densen!" bentak Tiina kesal. "Aku tidak memerlukan pakaian baru dan yang penting aku bisa bekerja dengan baik di sini!"
Sayang bagi Matthias, ucapan Tiina terdengar sangat lucu sekali. Akan banyak politisi Swedia yang datang mengecek peternakan ini untuk memesan hasil mereka, apa yang akan dikatakan pada mereka jika melihat pembantunya berpenampilan compang camping seperti ini.
"Aku ingin melihatmu memakai lingerie!" ledek Matthias tanpa adanya rasa malu dan berakhir dengan tonjokan dari Berwald.
"Jaga mulutmu, kambing!" gerutu Berwald jengkel dan menutup mulutnya agar tidak tertawa sekaligus menahan rasa malunya yang teramat sangat. Membayangkan gadis itu berpakaian mini saja sudah cukup membuatnya tegang, apalagi jika membayangkan Tiina mengenakan lingerie mini dan memperlihatkan kakinya yang jenjang serta tubuhnya yang mulus. Lingerie transparan tentu cocok bagi Tiina. Sial, Matthias selalu saja memancing-mancingnya.
Percuma saja bicara pada Matthias dan kedua adiknya, mereka sama saja gilanya—begitulah yang dipikirkan Tiina. Barangkali hanya Lukas yang masih sangat normal. Sudah beberapa hari ini Berwald selalu memaksa Tiina untuk pergi ke toko pakaian ternama di Stockholm tetapi Tiina menolaknya karena ia sama sekali tidak sanggup untuk membayarnya. Untuk terakhir kalinya, ia hanya bisa pasrah. Ia sendiri tidak ingat kapan terakhir kali ia membeli baju dan Berwald benar, ia memerlukan baju baru.
**o00o**
Berwald membawa Tiina ke toko pakaian milik temannya, Yekaterina di dekat Gamla Stan. Toko pakaiannya sangat laris dan terkenal dan khusus untuk Tiina, ia menyewa toko tersebut selama satu hari penuh yang berarti orang luar hanya bisa memesannya dan toko ditutup untuk umum kecuali untuk Tiina dan Berwald.
"Lepaskan aku!" Tiina meronta ketika Berwald mencengkeram lengannya agar tidak bisa kabur. "Anda bukan suamiku!"
Suami? Ide yang bagus juga, rupanya Tiina menganggapnya sebagai suami pemaksa. Jika itu betul-betul terjadi mungkin ia akan berlaku sebagaimana dengan apa yang dikatakan Tiina. Tetapi itu sangat tidak mungkin karena ia sama sekali tidak mau mengikat diri di dalam pernikahan. Betapapun ia mencintai Tiina, ia tidak bisa memberikan sesuatu yang diidam-idamkan gadis itu.
"Tolong berikan dia pakaian musim panas yang bagus-bagus!" perintah Berwald tanpa memandang gadis itu sedikitpun. "Sejam lagi aku akan kembali!"
Yekaterina tersenyum senang. "Tentu saja, Mr. Oxenstierna. Aku tidak mungkin membiarkan pelangganku berpenampilan tidak modis," katanya gembira dan menyeret Tiina untuk ikut bersamanya. "Ayo, Miss Vainamoinen. Akan kupilihkan baju musim panas yang bagus-bagus untukmu."
Tiina menatap Berwald dengan tatapan "lepaskan-aku-dari-sini-atau-aku-akan-membunuhmu" dan Berwald hanya tertawa kecil. Masih bilang jika ia tidak membutuhkan baju baru? Yekaterina dan adik-adiknya sangat suka pelanggan berkantong tebal, otomatis ia akan berusaha memilihkan Tiina baju yang terbaik.
.
.
.
Dua jam kemudian, Berwald baru kembali dari toko dewasa di dekat Malmo dan membeli beberapa kotak kondom serta lubrikan. Ia tidak habis pikir mengapa sejak Tiina datang ke tempatnya, ia selalu membeli benda semacam itu. Tiina membuat hasratnya semakin tidak karuan saja, gadis itu membuatnya semakin gila. Benda itu sengaja ia taruh di bagian belakang agar Tiina tidak mencapnya sebagai pria mesum. Tetapi apakah Tiina akan tahu apa guna dari benda tersebut? Ia rasa tidak, Tiina begitu polos dan sepertinya tidak ada yang mengajarkannya mengenai benda semacam itu.
Ketika Berwald datang ke tempat itu, ia melihat Tiina menggunakan gaun pink bertali spageti. Memperlihatkan bahu telanjang Tiina beserta leher jenjangnya ditambah dengan kalung mutiara putih pemberiannya. Perlahan Berwald mendekati Tiina dan mengelus bahu Tiina, menciumi lehernya dengan lembut.
Gadis itu gemetaran, memajukan langkahnya sebanyak dua langkah. Sempat ia menengok ke belakang dan terkejut mendapati Berwald berada di belakangnya. Pria itu menciumi lehernya? Apa itu sama sekali tidak salah?
"Hen—hentikan!" Tiina berkata dengan gugup. "Tidak seharusnya anda bersikap seperti ini padaku!"
Berwald merasa heran, seharusnya anak jaman sekarang tidak masalah jika pria menyentuhnya. Bahkan ada tetangganya yang berusia lima belas tahun yang sudah sangat berpengalaman mengenai hubungan "tanda kutip". Tetapi Tiina adalah kasus yang berbeda, gadis itu langsung ketakutan dan gemetaran.
"Baju ini, sangat bagus," racau Berwald di telinga Tiina. "Payudaramu kecil sehingga kau tidak perlu mengenakan bra ketika mengenakannya."
"Mr. Oxenstierna!"seru Tiina terkejut. "Apa yang anda katakan!"
Astaga, bagaimana ia bisa meracau hal seperti itu! Mulut, kendalikan dirimu. Jangan bicara yang aneh-aneh atau kau terlihat seperti orang mesum. Bukan itu kan yang ingin kau katakan sebelumnya.
Seharusnya ia tidak mengajak Tiina ke tempat semacam ini dan ia pikir hasratnya akan padam setelah ini tetapi ia salah, hasratnya semakin besar dan sebentar lagi akan meledak begitu saja. Ini benar-benar di luar ekspetasinya. Ia seperti pria pedo sekarang, dan ia berani bertaruh dengan apa yang dikatakan Matthias setelah ini. Lucu sekali membayangkan bagaimana Matthias marah-marah terhadapnya atau bahkan meledeknya habis-habisan soal ini.
Setelah itu Berwald tidak mengacuhkan Tiina dan diam-diam ia membelikan Tiina tiga set lingerie tipis beserta celana dalamnya, tiga gaun tanpa lengan dan baju maid yang mini. Tangannya menggandeng salah satu tangan Tiina dan menggengamnya dengan erat, mengantar gadis itu ke mobilnya. Dan Tiina harus memakai baju maid itu setiap hari untuknya, apapun yang terjadi. Jika Tiina tidak mau, ia bisa mengancam memecatnya. Perkara gampang itu.
Di dalam mobil, hanya berdua saja tanpa ada siapapun yang menganggu sekarang. Melihat wajah malu Tiina merupakan hal yang menarik bagi Berwald karena itu merupakan sesuatu yang langka.
"Kau tahu sesuatu, Tiina," kata Berwald lagi, memainkan rambut Tiina perlahan dan menciumnya. "Pakaian yang kau kenakan tadi membuat pria ingin menelanjangimu—apalagi kau masih perawan."
Tiina menundukkan wajahnya, pria itu sejak tadi memancing rasa malunya. Apa yang dimakan pria itu sehingga meracau kata-kata yang vulgar seperti itu. "Jika itu yang dipikirkan olehmu, aku tidak akan mau membeli baju itu!" bentaknya dingin. "Kau pria paling vulgar yang pernah kukenal."
"Sayangnya, aku memang seperti itu," balas Berwald dan menyalakan mobilnya. "Lupakan, aku sedang bercanda tadi!"
Dalam keadaan seperti ini, sangat menyenangkan menggoda Tiina. Ia adalah pria vulgar tetapi tidak banyak orang yang mengetahui akan hal itu. Hari ini merupakan hari yang sangat menyenangkan untuknya.
TBC
A/N Lama-lama di tangan gw jadi R 18 -_-'' selalu saja fic rate T yang kubuat ujung-ujungnya rating pasti naik ke M. Kalau multichapter sih, entah kenapa firasat saya pasti nulisnya ke R 18. Novel aslinya saja itu R 18. Kebanyakan baca roman Spanyol sih, jadi begitu -_- Maaf updatenya lama bener kayak keong. Minggu depan saya mau lanjut fic Be My Sweet Darling chapter 9. Semoga masih ada yang mau baca fic ini ya :) Review but no flame~
