THE CLOCK TOWER

by PurpleliciousVioletta

.

Inspired of The Struggle Within: Clock Tower II

.

"Aku dengar, Konoha dan Oto akan berdamai. Apa itu benar?"

Tsunade melirik kearah gadis berambut coklat yang memakai apron putih yang tengah membersihkan buah-buahan. "Aku tidak tahu. Jika benar begitu, bukankah bagus?"

Ayame –gadis berapron putih itu hanya tersenyum. "Benar." Ayame meletakkan sebuah keranjang besar berisi buah-buahan tadi diatas meja. "Tapi, aku juga mendengar cerita jika pemimpin Oto yang memiliki mata seperti ular itu adalah tukang sihir. Dia suka bereksperimen aneh dengan menculik orang-orang!" ujar Ayame lirih. Ia menghentikan aktivitasnya dan menatap ngeri kearah Tsunade.

"Berhenti mendengar gosip-gosip aneh seperti itu, Ayame. Ada yang lebih penting dari pada membicarakan orang seperti itu. Ojou-sama menunggu buah-buahannya!"

Ayame langsung mengambil sebuah keranjang hias buah-buahan dan menata beberapa macam buah segar yang tadi ia bersihkan. "Ah, maaf! Aku lupa!"

- Chapter III -

Sasuke tertegun dan kembali menatap Tsunade. "Apa maksudmu?"

Pertanyaan Tsunade –ah, tidak, semua ucapan Tsunade begitu aneh bagi Sasuke. Sementara Tsunade yang sangat rajin memberinya seringai aneh, hanya mengedarkan pandangannya kearah jam raksasa dihadapan mereka. "Aku tahu kau ingin mendengarkannya, Uchiha-san." Sasuke semakin memicingkan matanya kepada Tsunade. "Aku tahu, kau ingin mendengarkan dongeng Rapunzel di menara kastil ini."

Lagi-lagi Sasuke dibuat penasaran atas ucapan Tsunade. Ia pun semakin penasaran –Siapa Tsunade sebenarnya?

"Jangan bertele-tele, Tsunade-san!" hardik Sasuke lantang.

Tsunade kembali menatap kearah jam menara. Jarum pendeknya mengarah diantara angka VIII dan IX, sementara jarum panjangnya berada diangka VII. "Rapunzel di kastil ini.. dia memanjangkan usianya." Sasuke menatap Tsunade dengan pandangan aneh. "Jangan memulai lagi, Tsunade-san. Ini hari pertamaku di sini. Jangan membuatku menilaimu dengan kesan-kesan yang aneh," ujar Sasuke. Ia terkekeh pelan –terkesan meremehkan Tsunade.

"Ucapanku ini fakta, Uchiha-san. Lagipula tidak ada untungnya jika aku berbohong kepadamu. Toh, niatku hanya ingin membantumu dan keluarga Namikaze." Tsunade berjalan kearah Sasuke. Ia tersenyum melihat rupa Sasuke yang tidak asing dalam ingatannya. Hampir seluruhnya –ya, hampir seluruh ciri-ciri fisik yang Sasuke persis seperti sosok yang menjadi salah satu kunci utama tragedi mengerikan di dalam kastil itu.

"Siapa Rapunzel itu?"

Tsunade menyentuh pundak Sasuke. "Kau tahu, Uchiha-san. Karena setiap saat, ia akan selalu menghampirimu –memanggilmu dengan nama asing. Bahkan mungkin sesekali ia akan mencumbumu."

Di pikiran Sasuke hanya satu sosok yang melakukan hal itu kepadanya. Gadis dalam lukisan yang hampir setiap ruangan terpajang potretnya. Gadis cantik bersurai indigo.

"Kini kau tidak bisa lari, Uchiha-san. Rapunzel disini, menganggapmu sebagai pangeran penyelamatnya. Kau harus mengakhiri cerita ini, Uchiha-san!" Tsunade mengangkat tangannya dari pundak Sasuke. Ia tersenyum, lalu pergi dari menara itu. "Tapi tenang saja. Aku bukanlah 'penyihir jahat' yang mengurung Rapunzel. Anggap saja aku ini sebagai peri baik hati yang membantumu menyelamatkan Rapunzel."

.

Pemuda blonde itu tampak begitu menikmati tidur malamnya diatas ranjang king size-nya. Bantal dan guling yang berisikan bulu-bulu angsa yang lembut membuatnya semakin rileks. Sebuah suara air yang mengucur dari sebuah selang diluar kamarnya terdengar begitu samar. Ia melirik kearah lemari jam klasik di sebelah perapian yang tidak begitu besar menunjukkan pukul 06:45 pagi. Masih terlalu pagi –bagi Naruto, namun cahaya matahari sudah ada yang memasuki ruangan kamarnya melalui ventilasi di sudut ruangan.

"Apa sudah begitu siang?" gumamnya.

Ia merasa sangat malas untuk bangkit dari posisinya kini.

Tiba-tiba ruangan kamarnya terasa begitu sejuk. Tidak –ini dingin. Padahal ia sudah memakai selimut tebal yang berlapis, tapi ia malah merasa dingin. Rasanya angin yang memasuki ruangan begitu dingin. Dan yang lebih aneh, saat ini sedang musim panas!

Mengapa udara begitu dingin seperti musim gugur yang sedang beralih ke musim dingin?

Naruto memposisikan tubuhnya untuk duduk. Matanya tertuju pada perapian yang tepat berada diseberang ranjangnya. Di tungku perapian itu hanya terdapat sisa-sisa kayu bakar yang telah hangus. "Sebaiknya aku nyalakan api supaya sedikit hangat," gumamnya.

Ia beranjak dari ranjangnya menuju perapian. Tumpukan kayu bakar yang siap digunakan untuk perapian tertata rapi di sisi sebelah kiri perapian. Naruto mulai menata beberapa kayu bakar tersebut dan meraih sebuah kotak korek api batangan yang telah tersedia diatas perapian. Setelah menyala, Naruto membuka penutup perapian supaya asap dari kayu bakar tersebut keluar melalui cerobong asap.

Tujuan selanjutnya adalah sebuah kursi santai yang menghadap kearah jendela besar. Pemandangan yang siap disajikan dibalik jendela tertutup gorden bercorak ornamen klasik adalah taman bagian utara kastil itu. Ditariknya gorden panjang itu kearah samping hingga menimbulkan suara khas yang tidak terlalu memekakkan telinga.

Sreetth.

Kini –sinar mentari pagi yang cerah itu langsung menerobos kaca bening jendela dan membias dilantai kamar.

Anehnya, Naruto tetap merasa kedinginan –padahal ia sudah menyalakan api di perapian dan membiarkan sinar matahari pagi memasuki kamarnya. Lama kelamaan ia malah merasa semakin kedinginan.

Di taman itu, Naruto dapat melihat Tsunade sedang menyirami rerumputan hijau yang tertata rapi. Tsunade melambai sambil tersenyum menyapa Naruto yang melihatnya hanya menatap heran. Apalagi Tsunade memakai yukata tipis seperti biasa. Naruto hanya tersenyum simpul. Kemudian menarik sebuah kursi kayu dan menyeretnya dekat perapian. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya supaya hangat. Namun, sepertinya usahanya tidak berhasil.

Tubuhnya masih saja merasa kedinginan.

"Ah, dingin sekali!" Ia berteriak –sedikit frustasi. Api yang dibakar didalam perapian pun tidak menimbulkan rasa hangat sedikitpun.

Indera pendengarannya samar-samar menangkap suara air yang mengucur. Bukan suara percikan air diluar yang digunakan Tsunade. Suara itu terasa lebih dekat. "Apa ada orang mandi di kamar mandiku?" gumam Naruto heran. "Jangan-jangan Sasuke!"

Naruto segera bangkit menuju sebuah pintu coklat tak jauh dari tempatnya duduk. "Kenapa dia bisa masuk kedalam kamarku?" Ia mengetuk pintu kamar mandi di kamar itu."Sasuke!"

Namun penghuni dalam kamar mandi itu tidak menghiraukan teriakan Naruto. Bunyi percikan air yang ditimbulkan masih saja terdengar khas. "Sasuke, apa itu kau?"

Naruto diam beberapa saat. Mungkin saja memang Sasuke yang berada didalam kamar mandinya. Ia kembali menuju kursi didepan perapian. Rasa dingin masih menyelimuti tubuhnya. "Sial! Kenapa dingin sekali!"

Sreeth.

Naruto dapat mendengar jelas suara tirai mandi dari dalam kamar mandinya yang dibuka. Ditambah lagi suara kucuran air dari dalam kamar mandi sudah berhenti. Itu berarti –orang yang sedang mandi sudah selesai. Naruto tidak menggubrisnya. Ia masih tetap duduk di kursi kayunya.

Aroma lembut lavender tiba-tiba menyeruak masuk kedalam indera penciumannya. Naruto segera bangkit dan mencari sumber aroma lembut itu. Ia mengendap-endap pelan di dalam kamarnya –berputar-putar mengikuti aroma tersebut seperti anjing pelacak. Tak sulit ia mengikuti aroma itu. Naruto merasa heran saat aroma itu semakin kuat berasal dari balik pintu kamar mandinya. "Apa Sasuke memakai parfum wanita seperti ini?" gumamnya.

Tiba-tiba pintu itu terbuka, namun tidak sepenuhnya. Perlahan, Naruto mendorong pelan daun pintu itu sehingga terbuka lebih lebar. "Sasuke? Aku akan masuk."

Suhu semakin dingin dirasakan Naruto saat memasuki kamar mandinya. Saat ia benar-benar masuk kedalam kamar mandi itu, ia tidak melihat Sasuke. Naruto tidak melihat siapapun didalam kamar mandinya. Namun lantai kamar mandi itu basah. Pastinya seseorang telah melakukan sesuatu didalam kamar mandi. Tapi ia kembali berpikir –mustahil orang itu secepat itu keluar dari kamar mandi. Apalagi didalam kamar mandi tidak ada celah sedikitpun yang dapat dijadikan akses untuk keluar selain pintu kamar mandi tempat ia masuki tadi.

"Kalau dia keluar lewat ventilasi itu, mustahil!" Naruto memicingkan matanya kearah sebuah ventilasi kecil berukuran 20 cm x 5 cm di atas sebuah shower.

Yakin jika tidak ada orang dalam kamar mandinya, Naruto segera keluar dari dalam kamar mandi itu. Saat ia akan menutup pintu kamar mandi kembali, ia merasakan seseorang tengah berdiri dibelakangnya. Naruto pun berbalik. Seketika, tubuhnya terasa sulit digerakkan.

"Naruto.."

.

Kereta kuda itu berjalan pelan. Dua orang kusir yang duduk diluar kereta masih setia memegangi tali yang mengendalikan empat ekor kuda hitam yang menarik kereta. Wajah mereka gelap –samar, karena tertutupi oleh jubah kusam berwarna coklat muda dengan tudung yang menutupi kepala mereka. Sebuah tali yang membentuk pita berwarna ungu muda melingkar di pinggang mereka menandakan jika mereka berasal dari wilayah Oto.

Kereta kuda itu semakin dekat dengan sebuah gerbang yang begitu besar. Pintu gerbang itu tersusun dari kayu-kayu yang sangat kuat. Sebuah lambang berbentuk bunga mawar besar tergambar di tengah pintu gerbang.

"Bersiap membuka gerbang!" teriak seorang penjaga dari atas sebuah menara pengawas. Beberapa orang penjaga gerbang dibawahnya langsung bersiap di posisinya. Saat kereta kuda itu beberapa meter mendekati gerbang, para penjaga gerbang itu langsung menarik pintu gerbang itu dengan rantai yang berukuran sedang. Kereta kuda itupun dapat memasuki kota tujuannya.

"Kita sampai." Seorang wanita dengan gaun berwarna merah darah menyeringai kepada seorang pria yang duduk dihadapannya. Pria itu juga ikut menyeringai. "Bersabarlah. Jangan terlalu terburu-buru."

Pria itu menegakkan tubuhnya dari sandaran bangku. Wajah pucatnya kini tampak karena cahaya yang membias kedalam kereta kuda mereka. Tubuhnya mendekat kepada wanita dihadapannya dan mengusap pipi wanita itu. "Kau dan aku. Kita akan menguasai Konoha." Pria itu semakin mendekatkan wajahnya kearah wanita itu. Dikecupnya pipi putih wanita itu. Wanita itu menggeliat. Tangannya mulai melingkar di leher sang pria.

"Seperti ini lagi." Suara lain seorang pria tidak mengganggu kegiatan mereka. Kecupan tadi kini sudah berpindah kebibir sang wanita –saling melumat dan memagut. "Ayolah! Masih ada aku disini!" suara tadi lagi.

Wanita itu menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam pria disampingnya. "Apa kau keberatan, Sakon?" ujarnya kesal. "Cih! Di kastil Hyuuga pasti ada tempat yang lebih nyaman daripada disini," jawab pria bernama Sakon itu. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Benar," suara pria yang satu lagi.

Kedua orang itu langsung menatap pemimpin mereka. "Sakon benar, Tayuya. Pasti disana ada tempat yang lebih nyaman daripada disini." Ia menyeringai kepada dua orang dihadapannya.

Kemudian terdengar tapak lari beberapa kuda mengikuti kereta itu. Mereka mengawasi –mengiringi para utusan bekas musuh mereka dulu. Seekor kuda berwarna hitam legam langsung menyejajarkan langkahnya dengan laju kereta tepat di kursi sang kusir. "Ikuti aku!" teriaknya.

Sesaat kemudian penunggang kuda itu mengarahkan jalan menuju kastil utama pemimpin mereka.

.

"Nee.."

Sepasang suami istri itu lekas mendekat ke tubuh pemuda yang tengah berbaring diatas ranjang. "Ugh!"

"Dia sudah sadar!" ujar sang suami girang. Mereka kemudian saling bertatapan dan tersenyum.

"Uh? Tou-chan?"

Naruto membuka kelopak matanya secara perlahan. Cahaya lampu di kamarnya langsung melesat memasuki kornea matanya. Lengannya langsung beranjak menutupi kedua matanya. Tubuhnya begitu terasa lelah dan pegal. "Apa yang terjadi?" ucapnya lirih –matanya masih tertutupi oleh lengan kirinya. "Kau pingsan karena terpeleset di depan pintu kamar mandi. Apa kau ingat?"

Naruto menggeser pelan lengannya yang menutupi kedua matanya. Ia biarkan cahaya lampu beradaptasi sejenak dengan matanya. "Terpeleset?" Kelereng matanya beralih ke arah Sasuke yang tengah berdiri di sebelah pintu kamarnya. Kejadian yang ada diingatannya kembali berputar. Ia ingat jelas aroma lembut yang menggodanya mencari sumber aroma tersebut. Namun, yang samar dalam ingatannya adalah suara seorang gadis yang memanggil namanya.

Dan, sedetik kemudian, ia tidak ingat lagi.

"Naruto, kau istirahat saja dulu. Kaa-chan akan menyiapkan makanan untukmu," ucap Kushina sambil menarik Minato keluar kamar Naruto. "Hei, kenapa aku juga ditarik?" protes Minato. Kushina berhenti dan menatap Minato sejenak. "Temani aku!"

Suasana kamar itu kembali senyap setelah Kushina dan Minato keluar dari kamar Naruto. Padahal masih ada tiga manusia lagi yang masih bernafas. Naruto melirik Sasuke yang masih bersandar di samping pintu kamarnya. Tampak Sasuke yang tengah memejamkan matanya dan menunduk. Kedua lengannya melipat diantara dada dan perutnya. Naruto menghela nafasnya –bosan. Kemudian kelerengnya menatap servant rumah ini. Wanita itu tersenyum aneh kepadanya. Ia juga masih ingat yukata yang dipakai wanita itu dalam memorinya. Sekilas, ia merasakan ngeri melihat Tsunade yang tidak henti-hentinya tersenyum aneh padanya.

"Naruto-sama.."

Naruto kembali menatap Tsunade yang menyebut namanya. "Aku permisi." Tsunade membungkuk sejenak, lalu keluar dari kamar itu.

Setelah Tsunade pergi dari kamar Naruto, barulah Sasuke mendekat ke ranjang Naruto. "Nee, Sasuke. Apa yang sebenarnya terjadi?" Naruto mulai berbisik. Sasuke duduk ditepian ranjang Naruto. "Apa yang kau ingat?" Sasuke balik bertanya.

Naruto diam. Ia kemudian bangkit dan duduk bersandar pada ranjangnya. "Entahnya. Semuanya terasa aneh. Seperti mimpi," jawabnya ringan. Sasuke hanya diam. Naruto memegangi kepalanya. Ia sungguh dibuat pusing dengan kejadian aneh pagi itu –yang entah nyata atau tidak.

Sementara Sasuke tetap saja diam. Ia tengah mencerna setiap kejadian aneh di rumah ini dan mencoba menghubungkannya satu sama lain. Namun, setiap ia mencoba mencari titik inti kejadian-kejadian itu, hanya ada satu hal yang terus dipikirkannya. Seperti –mengikat pada semua kejadian itu. Jawabannya pasti ada hubungannya dengan sang pelayan bernama Tsunade.

.

"Ojou-sama, apa tidak apa-apa jika kabur dari kastil? Bagaimana jika Hiashi-sama mengetahuinya? Pasti beliau akan sangat marah." Gadis berambut pirang itu terus merangkak mengikuti gadis yang tengah merangkak juga didepannya. Walaupun lorong yang mereka lewati sempit dan kotor, tidak membuat countess yang cantik jelita itu berhenti. Ia terus merangkak hingga ia dapat keluar dari kastil itu.

Ia menepuk-nepuk tangannya yang kotor supaya lebih bersih. Kemudian mengusap jubah kusamnya bagian lutut yang kotor. "Ojou-sama!" Tsunade memanggil gadis itu agar menunggunya. Tsunade berhenti sejenak di ujung lorong itu. Nafasnya masih terengah-engah setelah beberapa menit berada di dalam lorong sempit dan kotor itu –sangat terasa pengap. Hinata mengulurkan tangannya –hendak membantu Tsunade keluar dari lorong itu.

"Maka dari itu, jangan sampai Otou-sama tahu!" jawab Hinata untuk pertanyaan Tsunade sebelumnya.

Tsunade meraih tangan mungil Hinata. Semak belukar di sekitar lubang lorong itu membuat tubuhnya gatal. "Lagipula, aku tidak kabur, Tsunade. Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Aku pasti kembali lagi ke kastil!" ucapnya ceria.

"Buka gerbangnya!"

Suara bariton dari arah gerbang kastil langsung membuat Tsunade dan Hinata menunduk –menyembunyikan diri dibalik semak-semak supaya tidak terlihat oleh para penjaga gerbang kastil ayahnya. Hinata merangkak pelan –mendekat ke semak terdekat dengan gerbang. Ia melihat pintu gerbang perlahan terbuka. Cahaya yang berasal dari obor-obor kayu mulai dinyalakan untuk menerangi jalanan sekitar kastil.

"Psstt! Tsunade, kemari!"

Tsunade mendekat kearah Hinata yang memanggilnya. "Apa yang terjadi, Ojou-sama?" Tsunade ikut melihat kearah gerbang yang terbuka. Tak lama, sebuah kereta kuda berwarna hitam melaju pelan memasuki area kastil. Mereka tidak dapat melihat jelas siapa yang ada didalamnya. Namun mereka hanya dapat melihat dua orang pengendara kereta kuda itu. Keduanya memakai jubah kusam dengan tali berwarna ungu muda yang mengikat di pinggang mereka.

"Siapa mereka?" ucap Hinata lirih.

Tsunade hanya menggeleng –tidak tahu. "Aku tidak tahu. Mungkin bangsawan kecil dari daerah Suna." Hinata kemudian beranjak setelah gerbang tertutup kembali. "Ayo, Tsunade!"

.

"Eh, Tsunade?"

Uchiha muda itu menatap sosok gadis berambut pirang itu. Sementara si gadis hanya tersenyum. "Konbanwa!"

"Jadi, kau bersama Ojou-sama disini?"

Tsunade berjalan mendekat ke Hinata. "Benar. Apa yang kau lakukan disini?"

"Apa kau gila membiarkan Ojou-sama keluar kastil tanpa pengawal? Sangat berbahaya jika membawa Ojou-sama keluar kastil! Apalagi meninggalkannya seperti tadi!" Uchiha muda itu tampak begitu khawatir. Sesaat kemudian, rasa bersalah mulai menyelimutinya. Tapi ia tidak tahu, mengapa ia begitu kesal dan marah karena Tsunade meninggalkan Hinata di taman lili itu. Mereka semua diam. Bahkan Hinata, merasa sedikit takut karena pemuda itu begitu tampak kesal.

"Ano.. Maaf, Tsunade. Aku tidak bermaksud bicara seperti itu kepadamu."

Tsunade masih diam. Perlahan –ia menatap Hinata yang ikut terdiam, kemudian kearah pemuda bermarga Uchiha dihadapannya. "Tidak apa-apa. Aku juga salah."

Suasana kembali senyap.

Pemuda itu kemudian duduk diatas rerumputan yang dipijaknya. Beberapa rumput yang ada dijangkauan tangannya ia belai perlahan. Tangannya terasa sedikit basah karena embun malam yang telah membasahi rerumputan itu.

"Jadi.. kalian sudah saling mengenal?" Hinata mulai mencairkan suasana yang tadinya cukup tegang. Uchiha itu hanya mengangguk. Seulas senyum tercipta di garis bibirnya. Hinata pun ikut duduk diatas rerumputan diikuti Tsunade yang sebelumnya berada disebelahnya. "Ojou-sama juga mengenalnya?" tanya Tsunade kemudian.

Hinata tersenyum. Semburat merah muda menghiasi kedua pipi putihnya. "Uchiha-san yang membuat Kusanagi untuk Otou-sama," jawabnya. Senyumannya tidak henti-hentinya sirna dari bibir tipisnya –saat melihat silhuet Uchiha muda itu.

"Begitu.." Tsunade tersenyum melihat raut wajah Hinata. Ia tahu kenapa tersenyum saat melihat pemuda itu. "Jadi, Ojou-sama.."

Hinata menatap heran kearah Tsunade yang tersenyum aneh. Ia mulai salah tingkah saat Tsunade menatapnya seperti itu. "Kau tidak mau mengenalnya lebih jauh lagi?" Tsunade masih tersenyum setelah menyelesaikan pertanyaannya tadi.

"Eh? Maksudmu?"

Pemuda itu mendengar pertanyaan Tsunade tadi langsung berbalik dan menatap Hinata.

"Ya.. seperti aku mengenalnya," jawab Tsunade kemudian. Hinata diam –mencerna maksud jawaban Tsunade. Kemudian kembali menatap pemuda yang juga sedang menatapnya. "Aku rasa sudah cukup, Tsunade."

"Tapi, aku rasa belum cukup, Hinata-sama," ujar Tsunade.

Hinata kembali diam. Benar ucapan Tsunade –rasanya belum cukup untuk mengenal Uchiha itu. Ia ingin tahu, ia ingin mengenalnya lebih jauh dan jauh lagi. "Lebih baik kalian berjabat tangan. Coba ulangi perkenalan kalian!" ujar Tsunade lagi.

"Ta-tapi, tanganku kotor. Aku.. rasanya tidak pantas menyentuh Ojou-sama." Pemuda itu menunduk –menatap telapak tangannya yang basah. Sedangkan Hinata tampak kecewa. Bagaimana pun, ucapan pemuda itu merupakan penolakan –walau dalam arti yang halus.

Tiba-tiba Tsunade meraih tangan Hinata dan Uchiha muda itu, kemudian saling menautkannya. "Eh?" Tsunade hanya tersenyum. Kemudian menatap Hinata. "Ojou-sama.." Hinata mengerti maksud Tsunade.

"Ano.. Yoroshiku onegaishimasu, Uchiha-san." Hinata tersenyum kemudian. Sementara Uchiha itu mulai gugup. "Um, panggil namaku saja. Tidak usah Uchiha," pintanya. Hinata kembali tersenyum dan mengangguk.

"Yoroshiku.."

Detak jantungnya kian cepat.

"..I-Izuna-san."

.

つずく

.