Title : Lovalievable chapt 3
Author : Ineztiar
Genre : Romance, friendship, drama
Rate : T
Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Hyuuga Hinata, Tenten
Disclaimer, this is work of fiction, the characters are not mine, they belong to the rightfully author Masashi Kishimoto.
Sakura mendengar teriakan Hinata dari balik pintu, sepertinya deklarasi cintanya tidak berjalan mulus, Sakura mencoba mendengarkan apa yang mereka perdebatkan karena penasaran.
"Hinata, dengarkan aku!" terdengar suara Direkturnya berteriak, Sakura mendengar suara isak tangis Hinata samar-samar.
"Maafkan aku tidak bisa menerima perasaanmu, aku tidak bermaksud menyakitimu. Kamu wanita yang baik Hinata, tapi maaf aku sudah menyukai orang lain." Semakin lama suara Direktur semakin mengecil, Sakura yang penasaran semakin menempelkan telinganya ke arah pintu.
"Siapa? Apa aku boleh tau? Apa aku mengenalnya?" terdengar suara lirih Hinata di antara isak tangisnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya, kau pasti akan membencinya. Padahal itu bukan salahnya." Hinata mengeluarkan pekikan kaget dan tubuhnya merosot di balik pintu.
"Sakura." Kata Hinata lirih, dan hanya satu kata itulah yang diperlukan Sakura untuk segera menaiki lift menuju lantai dasar dan berlari ke arah lobi. Air matanya tidak terbendung, dia tidak menyangka bahwa Direktur suka padanya.
"Apakah Direktur berbohong kepada Hinata? Atau aku yang terlalu buta?" pikir Sakura dalam hati. Tiba-tiba Sakura seperti menabrak tembok dan tubuhnya terhuyung ke belakang, namun sebelum sempat terjatuh sepasang tangan kokoh menangkapnya dan membantunya berdiri.
"Maaf aku-" Permintaan maaf Sakura terhenti saat dia mendengar suara sahabatnya menanyakan apa yang terjadi. Sakura segera memeluk sahabatnya dan menangis disana, tak berapa lama tangisnya berhenti.
"Sakura-chan, apa yang terjadi?" Tanya sahabatnya lagi saat mereka sudah di dalam mobil milik sahabatnya itu. Sakura menceritakan semuanya, hatinya hancur untuk Hinata dan Direkturnya.
"Sakura-chan, apa kau tidak menyukai direkturmu? Sepertinya dia pria yang baik?" Sakura menggeleng keras, tidak mungkin dia menyukai Direkturnya karena ada orang lain yang selalu dipikirkannya.
"Tapi dari ceritamu sepertinya kau menyukainya? Aku yakin Hinata tidak keberatan jika memang kalian bersama." Sakura merasa frustasi, kenapa sahabatnya berbicara seperti itu?
"Kenapa kau berbicara seolah-olah aku harus menerimanya? Apa kau tidak peduli padaku?" Sahabatnya membelalakkan matanya karena kaget, kemudian dia meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi Sakura.
"Sakura-chan, tentu saja aku peduli padamu. Tapi kalian tidak akan mendapatkan jawaban jika terus seperti ini. Kalian perlu bicara." Sakura sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi, jantungnya seperti mau meledak karena perasaannya.
"Bukan itu maksud perkataanku! Apa kau tidak peduli padaku? Apa kau tidak menyukaiku? Aku mencintaimu! Sejak dulu sampai sekarang!" Teriak Sakura histeris, dia menutup mukanya dengan telapak tangannya dan menangis lagi. Tiba-tiba sahabatnya hanya diam dan kesunyian yang mencekam menyelimuti mereka berdua.
"Sakura-chan, dengarkan aku. Aku menyukaimu, sebagai sahabatmu, bahkan mungkin saja lebih. Tapi aku tidak bisa memilikimu Sakura-chan, tidak dengan ke absenanku selama 6 tahun dari sisi mu. Aku tidak berhak mendapatkanmu seperti itu. Dialah yang selalu ada untukmu, mungkin dia lebih berhak mendapatkanmu daripada aku." Sakura hanya terdiam dan tidak membantah maupun menjawab perkataan sahabatnya, dia tidak sanggup mendengarkan sahabatnya menyerah begitu saja.
Malamnya Sakura tidak bisa tidur, dia terus memikirkan perkataan sahabatnya. Tapi bagaimana reaksi Hinata? Aku tidak mungkin menerima direktur karena aku tidak menyukainya seperti itu! Aku bahkan tidak tau apakah aku masih mencintai sahabatku seperti dulu atau hanya merindukannya. Pikir Sakura lagi, dia merasa pikirannya terlalu penuh dan kepalanya terasa pusing, akhirnya Sakura tertidur dengan pikiran masih terbayang kejadian malam itu.
"Sakura-chan!" Sakura mendengar suara samar-samar memanggil namanya. Namun matanya masih terasa berat, dia tidak bisa tidur sampai pagi. Sakura hanya mengeluarkan suara gumaman dan berganti posisi tidur. Tiba-tiba wajah Sakura basah karena air dan dia meloncat dari tempat tidurnya karena kaget.
"Hinata!" kata Sakura berteriak setengah frustasi, dia tidak tau apa yang menyebabkan sahabatnya pagi ini datang kerumahnya. Tak lama setelah kantuk Sakura hilang, semua kejadian kemarin kembali memenuhi otaknya. Sakura terduduk lemas di tempat tidurnya dan mulai terisak pelan.
"Sakura-chan, aku tau kemarin kau mendengarkan pembicaraan kami."
"Hinata, maaf aku t-" sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, Hinata memeluk Sakura erat sambil menangis.
"Sakura-chan, ini bukan salahmu. Cinta tidak bisa dicegah, kita hanya perlu mengikhlaskan dan menerima. Setidaknya aku sudah berjuang dan mencoba mendapatkannya, aku tidak akan marah jika kamu mau mencoba menjalin hubungan dengan Direktur." Sakura menggeleng keras, dia tidak tega menyakiti hati Hinata. Lagipula, Sakura merasa masih menyukai sahabatnya. Tapi setelah apa yang dikatakan sahabatnyanya kemarin ditambah pemikiran Sakura malam itu, semua menjadi sangat membingungkan.
Sakura menceritakan kepada Hinata apa yang terjadi antara dia dan sahabatnya kemarin, Hinata hanya terdiam mendengarkan sambil menggenggam tangan Sakura.
"Sakura-chan, mungkin perkataan sahabatmu memang benar tapi bisa juga dia salah. Pikirkan saja apa yang kamu sukai dari mereka berdua, dan apakah mereka pantas mendapatkanmu dengan usaha mereka selama ini? Sabatmu sudah kau kenal sejak kecil, dia selalu ada di sisimu dan menjagamu tapi dia tidak ada selama 6 tahun terakhir. Sedangkan Direktur ada di sisi mu selama 3 tahun ini, dia yang menjagamu saat sakit, dia yang memperhatikanmu saat kamu terlambat makan, hell… dia bahkan mengantarkanmu ke Hokkaido saat seminar dulu, yah meskipun aku tau sikap menggodanya itu muncul hanya karena dia canggung dihadapanmu. Aku sudah mengamati nya sejak dulu dan aku tau sepertinya dia memang menyukaimu, tapi aku pikir tidak ada salahnya mencoba, makanya aku menyatakan perasaanku kemarin. Ingatlah, pikirkan orang terbaik dan ikuti kata hatimu."
Sakura tidak mengerti dengan perasaannya, dia terus berpikir setelah Hinata pamit pulang dari rumahnya. Sakura bolos kerja hari ini, pikirannya masih kacau dan tidak bisa digunakan untuk fokus bekerja.
Sebelum tidur Sakura tetap memikirkan perkataan kedua sahabatnya hingga bermimpi aneh, dia tidak bisa menjelaskan secara rinci apa saja mimpinya malam itu, namun dia yakin akan keputusan yang dibuatnya sekarang.
Pagi ini Sakura berangkat bekerja, dia sudah menyusun rencana untuk lunch bersama para sahabatnya. Dia ingin menghabiskan waktu bersama mereka setelah mantap dengan pikirannya.
"Sakura-chan, bisa bicara sebentar?" tiba-tiba Direktur memanggilnya saat jam makan siang tiba, Sakura tersenyum dan mengatakan bahwa dia ada janji makan siang dengan sahabatnya, tapi dia tidak keberatan jika Direktur ingin bergabung.
Di café dekat rumah sakitnya sudah duduk sahabatnya, sepertinya dia belum lama menunggu dilihat dari posisi duduk canggungnya. Sakura hanya terkikik pelan melihat sahabatnya, dengan posisi duduk memegang handphone dan muka serius. Sakura duduk di samping sahabatnya dan direktur duduk di depannya, mereka duduk dengan canggung dan tidak saling menyapa.
Tiba-tiba terdengar teriakan Hinata dari kejauhan dan dia sampai di hadapan Sakura dengan nafas terengah. Hinata duduk disamping Direktur dan berhadapan dengan sahabat Sakura.
"Ehm, maaf kalau suasananya agak canggung. Sebenarnya aku ingin meluruskan sesuatu disini." Semua mata tertuju pada Sakura, bahkan sahabatnya yang awalnya tidak tertarik pun akhirnya merubah posisi duduknya.
"Aku sudah memikirkan semuanya secara matang dan adil. Maaf jika aku lancang, tapi apakah benar Direktur suka padaku?" Sakura mengarahkan pandangannya pada direktur dihadapannya. Dia pun mengangguk dan tersenyum lembut pada Sakura, kemudian menatap dengan padangan bingung ke arah sahabatnya.
"Ah maafkan aku belum memperkenalkan yang lain, ini sahabatku, dia baru saja pulang dari US dan sekarang bekerja sebagai pengacara di Law Firm miliknya sendiri. Kemudian Sakura menunjuk Direktur dan sahabat wanitanya, "Ini direktur rumah sakit ini, dan ini sahabatku Hinata." Sakura menjelaskan 2 orang yang duduk di depannya kepada sahabatnya.
"Baiklah, kemarin tanpa sengaja aku mendengar percakapan Hinata dan direktur. Kemudian aku berlari menuju lobi karena bingung dengan perasaanku dan bertemu sahabatku disana. Aku menceritakan apa yang ku dengar kepadanya dan kemudian mengatakan bahwa aku suka kepadanya. Namun dia malah mengatakan kepadaku bahwa aku harus memikirkan perasaanku baik-baik." Kata Sakura sambil menghela nafas dan menyeruput kopi yang tadi dipesannya.
"Kemudian setelah aku pikirkan dari perkataan Hinata dan sahabatku, aku jadi mengerti perasaanku yang sebenarnya. Maafkan aku direktur, tapi perasaanku kepadamu yang aku miliki tidak sedalam milikmu." Kata Sakura dengan nada menyesal, tiba-tiba direktur dihadapannya berdiri dan menatap Sakura dengan ekspresi tidak terbaca.
"Aku mengerti, maafkan aku mengganggu waktu kalian. Selamat siang!" Sebelum direktur sempat menjauh beberapa langkah, Sakura segera meneriakkan namanya. Direktur tidak menolah, dia hanya berdiri ditempat mendengar teriakan Sakura.
"Perasaanku tidak sedalam milikmu, tapi kita bisa mencoba saling menyukai. Tolong aku untuk belajar menyukaimu." Tak disangka direktur membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekat ke arah Sakura.
"Aku tidak mengerti apa maksud perkataanmu, dan aku tidak mau hubungan ini didasari atas dasar belas kasihan." Katanya dengan rahang mengeras dan mata menyala marah.
"Bukan itu maksudku, aku mau mencoba karena hanya kamu yang mau memperjuangkan aku. Aku hanya ingin cinta yang memperjuangkan, bukan karena terbiasa." Kata Sakura lembut dengan mata berkaca-kaca. Direktur langsung meraih tubuh Sakura dan menenggelamkannya kedalam dekapannya, Sakura menikmati pelukan hangat pria itu sejenak.
"Aku bersedia mencoba dan belajar mencintaimu, please direktur." mohon Sakura sambil terisak. Pria yang mendekap Sakura itu menghela nafas dan menopangkan dagunya di bahu Sakura.
"Please, berhenti panggil aku direktur. Panggil saja menggunakan namaku, aku tidak suka pacarku memanggilku dengan panggilan formal." Sakura segera melepaskan pelukan itu dan menatap laki-laki di depannya dengan senyuman.
"Terimakasih, Sasuke-kun."
Sasuke tersenyum dan menatap Sakura dengan lembut, kemudian seperti teringat ada yang terlupa, Sakura menoleh ke arah kedua sahabatnya.
"Hai Hinata-chan, aku sahabat Sakura-chan." Kata sahabatnya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Halo, aku sahabat Sakura dikantor. Siapa namamu?"
Sakura mendesah senang sambil bersandar ke dada Sasuke melihat reaksi kedua sahabatnya, dia tidak menyangka kisah cinta mereka menjadi seperti ini. Tetapi dilihat dari sudut pandang manapun bisa dilihat, bahwa cinta mulai bersemi.
"Namaku Uzumaki Naruto."
The End
Holaaa…. Ketemu lagi dengan saya dora the explorer #eh.. no no, ketemu lagi dengan saya sloppy author :D kerja keras nih update twice a day, kekeke~~~ so, bagaimana endingnya? Terharu? Eneg? Alay? Haha.. mohon kritik dan sarannya ya :D Dan terimakasih bagi reader yang sudah membaca sampai akhir maupun nggak sampai akhir #eh. Please leave reviews, follow and like my story. :D.. okay bagi reader yang keberatan atau mungkin malah senang dengan banyaknya English di ceritaku tolong kasih tau! Dengan senang hati akan ku tanggapi! Intinya adalah thanks a lot for your love to my stories, hope you like my next story, I will publish it soon.
P.S. : clue
my next story will be still love story kekeke~~~ c u soon
