Rain
By: Azumaya Miyuki
A Hunter x Hunter Fan Fiction.
Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.
Chapter 3: The Witch
Setelah hari pertama pelelangan itu, Kurapika kembali menjalani kehidupannya sebagaimana biasa – selaku salah satu bodyguard keluarga Nostrad. Ia membantu Raito ketika barang-barang pesanan Neon dilelang, serta berusaha untuk mengawal pria tua itu ke mana pun ia hendak berpergian. Kelihatannya Kurapika berusaha untuk menampilkan performa terbaik agar tidak kehilangan kepercayaan dari keluarga yang sudah mempekerjakannya tersebut. Lagipula, ia masih memerlukan kepercayaan dari Raito untuk menjalankan misi terbesarnya – demi kemuliaan suku Kuruta yang nyaris punah.
Di lain pihak, meskipun Kurapika sangat senang karena sedikit demi sedikit bola mata merah telah terkumpul, jauh di lubuk hatinya ia juga merasa nelangsa karena tak bisa bertemu lagi dengan Gon, Killua, dan Leorio. Ketiga sahabat kentalnya itu ternyata hanya hadir pada hari pertama pelelangan, dan Kurapika sudah melewatkan kesempatan tersebut. Kurapika sebenarnya ingin sekali melepaskan rasa penat yang memenuhi kepalanya, berbagi cerita kepada teman-temannya, tapi ia khawatir status hubungan kerjasama dengan Kuroro Lucifer akan terbongkar. Kurapika enggan dianggap tidak konsisten hanya karena ia mengajak Kuroro turut serta untuk mengumpulkan bola mata sukunya. Ia ingin Kuroro Lucifer bertanggung jawab. Itu saja.
Sementara itu, Gon dan yang lainnya cukup terkejut dengan perubahan sikap Kurapika di hari pelelangan tersebut. Mereka memang paham betul dengan sifat Kurapika yang pendiam dan terkesan dingin, tapi Kurapika tak pernah bersikap tidak peduli, apalagi terhadap mereka, teman-teman seperjuangannya. Pasti Kurapika menyembunyikan sesuatu, begitu kesimpulan yang ada di benak mereka.
Waktu pelelangan yang sebentar lagi akan berakhir memaksa Kurapika untuk segera menyusun strategi. Secara pribadi, dia tak mengetahui di mana saja bola mata suku Kuruta berada. Orang yang menjadi otak dari pembantaian itu juga tak mengetahuinya, dan itu membuat kurapika pusing. Ada ratusan – bahkan ribuan pasang – bola mata suku Kuruta yang harus dikumpulkannya. Rumit memang, tapi Kurapika telah berjanji dan ia akan melakukan apapun untuk mewujudkannya.
Sebagai seseorang yang menjadikan buku layaknya makanan sehari-hari, Kurapika pernah membaca bahwa ada pihak tertentu yang mungkin bisa membantunya. Seorang wanita – penyihir tepatnya, yang hidup di dalam hutan belantara nun jauh di seberang samudera. Tepatnya di sebuah pulau terpencil, arah utara dari kota York Shin. Sesungguhnya, Kurapika ragu harus mempercayai kabar yang tergolong legenda itu atau tidak, karena belum ada bukti autentik yang menyatakan bahwa penyihir itu memang benar-benar ada. Menurut kabar, para Hunter terkemuka yang pernah mencoba pergi ke sana malah tidak kunjung kembali. Kalaupun ada yang berhasil kembali, mereka jadi kehilangan ingatan, bahkan berangsur gila. Selain itu, kabarnya hanya orang-orang yang memiliki tekad kuat yang mampu menemukan penyihir wanita itu. Kurapika mungkin mempunyai tekad sekukuh baja dalam mencapai tujuannya, tapi Kuroro? Belum tentu. Bahkan menurut Kurapika, pemimpin Gen'ei Ryodan yang dingin itu takkan mungkin melakukan kerjasama mereka dengan sukarela. Semuanya hanya atas dasar paksaan belaka – sekarang, ataupun nanti. Tidak akan ada bedanya.
Kurapika menghela napas panjang sembari memijat kepalanya yang terasa berat. Beberapa hari belakangan ini, Kurapika merasa kesehatannya semakin menurun – entah karena kelelahan disebabkan faktor pekerjaan atau karena sering naik darah begitu beradu pendapat dengan Kuroro. Kurapika tak mengerti.
Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat, kata Kurapika dalam hati. Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku tidak mau menyerah. Aku tidak mau kalah.
Ya, Kurapika juga pernah mengucapkan kata-kata itu, sedetik sebelum dirinya ambruk dan harus bed rest selama beberapa hari karena demam. Membunuh untuk pertama kali dalam hidupnya ternyata membuat jiwa Kurapika terguncang. Kurapika tak menyangka segalanya akan menjadi sesulit ini. Lelaki 'cantik' itu memang sudah memprediksikan tingkat kekuatan Ryodan – dan ia tidak keliru sama sekali. Semuanya akurat, sesuai dengan apa yang telah ia rancang. Lalu, apa yang salah? Kurapika kembali menganalisis.
Mungkin ada satu hal yang membuat semuanya berakhir dengan kekacauan: emosi Kurapika yang tidak terkendali. Luapan amarah dan dendam menghancurkan perhitungannya sendiri. Karena itulah, Kurapika berusaha keras untuk berguru pada pengalaman. Meskipun sulit, ia akan berupaya meredam emosinya, setidaknya sampai semua bola mata suku Kuruta kembali pada dirinya. Setelah itu, Kurapika akan kembali ke tujuan awal – membalaskan dendam kepada seluruh anggota Gen'ei Ryodan hingga titik darah penghabisan, sesuai dengan sumpah yang diucapkan di depan mayat-mayat keluarganya yang terbunuh pada hari itu. Dan sampai saat itu tiba, Kurapika harus menahan diri untuk tidak mencekik Kuroro Lucifer dan mengirimnya ke neraka.
Maka, seolah tak ingin menunda-nunda lagi, tepat di hari terakhir pelelangan Kurapika pun langsung menghadap Raito Nostrad dan mengutarakan rencananya. Kurapika memberikan alasan yang masuk akal kepada bosnya itu, dan berjanji akan kembali dalam kurun waktu dua mingu. Awalnya Raito nampak terkejut, namun beliau mendukung keputusan Kurapika dan memberinya izin – apalagi karena Kurapika adalah salah seorang bodyguard handal yang tak pernah lalai mengerjakan perintah. Kurapika sangat senang karena Raito mau mengerti, Tanpa membuang waktu, Kurapika segera menghubungi Kuroro dan lekas berkemas. Ia tampak begitu bersemangat, sekalipun ia berusaha untuk menutupinya.
"Jadi, kau akan pergi?" Senritsu yang mengetahui kabar keberangkatan Kurapika segera menghampiri sahabatnya itu.
"Ya," Kurapika tersenyum. "Doakan aku berhasil."
"Tentu. Cobalah untuk akur dengan pemimpin Gen'ei Ryodan itu."
Kurapika langsung terpaku. "Dari mana kau tahu?"
"Melodi detak jantungmu mengisyaratkan segalanya," tawa Senritsu. "Ke mana kau akan pergi?" tanyanya lagi.
"Entahlah. Aku juga masih bimbang – kecuali jika penyihir wanita yang tinggal di seberang samudera di utara itu memang nyata, mungkin aku akan pergi ke sana," bisik Kurapika, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Penyihir wanita?" kening Senritsu berkerut. "Sebentar. Aku pernah bertemu dengan seorang penyihir yang tinggal di lokasi tepat seperti yang kau sebutkan tadi. Namanya Ophelia. Ophelia Kalina."
"Ophelia Kalina?" Kurapika mengulangi nama tersebut. "Jadi dia benar-benar nyata, ya? Kapan kau bertemu dengannya?"
"Aku bertemu dengan penyihir itu saat hendak meminta bantuan ketika aku terkena efek dari sonata kegelapan," jelas Senritsu. "Kurasa kau sudah mengetahuinya – hanya orang-orang yang berkeingingan kuat dan terpilih olehnya saja yang dapat bertemu dengan penyihir legendaris tersebut. Aku yakin kau akan menemukannya, Kurapika."
"Ya, kuharap begitu," Kurapika mendesah. Ada nada tak yakin dalam ucapannya. "Ophelia Kalina. Akan kuingat nama itu baik-baik. Terima kasih banyak atas bantuanmu, Senritsu."
Senritsu mengangguk dan tersenyum, memandang kepergian Kurapika yang hendak menempuh perjalanan baru dan berliku. Semoga kau kembali dengan selamat, bisik Senritsu dalam hati.
Kuroro Lucifer terlihat sangat rapi pagi itu, bahkan lebih mirip dengan orang yang hendak berangkat ke kantor dibandingkan orang yang hendak menapaki perjalanan jauh. Ia menunggu Kurapika dalam diam. Tak ada satupun kata yang terlontar dari bibirnya.
Bagi Kuroro serta seluruh anggota laba-laba lainnya, keluar dari markas Ryodan dan membuat kekacauan di saat matahari masih beringas menerangi adalah hal yang cukup tabu. Karena itulah mereka biasa membuat pergerakan yang efektif ketika malam sudah tiba. Pupil mata Kuroro menyipit, berakomodasi dengan keadaan pagi yang bertabur cahaya. Sebetulnya, ia ingin menolak waktu Kurapika berkata bahwa mereka akan berangkat pagi ini, tapi entah kenapa ia tak bisa mengatakan 'tidak'. Biarlah, pikir Kuroro. Lagipula ini 'kan rencananya. Bukan rencanaku. Lebih dari itu, ia tak ingin terlihat punya kelemahan oleh siapapun.
Dan Kuroro akhirnya memutuskan untuk diam, mengikuti kata-kata Kurapika – meskipun ia menolak untuk disebut patuh. Tak ingin ada perdebatan yang membuang energi, karena Kurapika pasti akan keras kepala dengan keputusannya. Lagipula, perjalanan yang akan mereka tempuh pastilah bukan perjalanan yang sederhana. Penuh tantangan dan pertarungan – tentu saja. Kuroro tersenyum tipis membayangkan bagaimana hari-harinya bersama Kurapika untuk beberapa minggu ke depan. Pasti akan banyak kejadian yang tidak terduga.
Kurapika muncul semenit kemudian. Ia benar-benar orang yang tepat waktu, Kuroro membatin. Sebuah tas selempang bermuatan penuh turut serta dibawa oleh lelaki berdarah Kuruta itu. Ia menghampiri Kuroro dan duduk sejenak, melepas lelah.
"Kau sudah siap?" tanyanya pada Kuroro.
"Ya," jawab Kuroro singkat.
Kurapika mengerutkan kening. Ia melihat ke sisi kanan dan kiri Kuroro dengan raut wajah sedikit bingung. Ekspresinya mengisyaratkan ada sesuatu yang kurang dari diri Kuroro.
"Ada apa?" tanya Kuroro akhirnya.
"Kuingatkan sekali lagi, Kuroro Lucifer. Kita akan menempuh perjalanan yang JAUH selama dua minggu," ucap Kurapika. "Dan kulihat kau tidak membawa barang apapun. Jangan bilang kau mau menggagalkan rencana ini atau bahkan melakukannya untuk alasan pribadi seperti mengusiliku."
"Tidak, sama sekali tidak," Kuroro berkata tenang. "Aku tidak perlu repot-repot membawa sesuatu asal ada ini," lanjutnya seraya menunjukkan sebuah benda seperti buku tebal berwarna merah pada Kurapika. Tertulis 'Bandit's Secret' di sampulnya. Kurapika hanya mengedikkan bahu, tak acuh. Namun ia sudah bisa menebak kalau itu adalah perwujudan Nen milik Kuroro.
Malam sebelumnya, Kuroro meminta pada Kurapika untuk menghapuskan salah satu syarat dari Judgement Chain yang membelenggu jantungnya – syarat di mana Kuroro tiba bisa menggunakan Nen. Kurapika menyanggupi, dan menghilangkan syarat itu, dengan pertimbangan bahwa menempuh perjalanan berbahaya dengan orang yang sama sekali tidak bisa menggunakan Nen – sekalipun ia adalah pemimpin Gen'ei Ryodan – akan secara tak langsung menyeret mereka berdua ke dalam jurang kematian lebih cepat. Meskipun di lain pihak, Kurapika menyadari segalanya juga akan menjadi lebih beresiko untuk dirinya. Pencabutan syarat tersebut bagaikan pedang bermata dua yang saling bersisian, dan itu akan mempermudah kuroro untuk menghabisi nyawa Kurapika (jika mereka terlibat pertengkaran dan akhirnya bertarung, misalnya) dengan kembalinya kekuatan Nen yang ia miliki. Kurapika sangat paham akan konsekuensi yang ia pikul. Si rambut pirang itu akan berhati-hati agar hukum 'senjata makan tuan' tidak berlaku pada dirinya.
"Kalau begitu, lebih baik kita segera berangkat. Aku ingin tiba di lokasi tujuan sebelum senja," ucap Kurapika, lalu ia pun mulai melangkahkan kaki-kakinya yang langsing. Kuroro mengikuti di belakang.
"Kau sudah memberi kabar untuk memulai perjalanan padaku, itu berarti kau telah menentukan tujuan pertama dari misi mengumpulkan bola mata ini," Kuroro tampak berasumsi. "Katakan, hendak ke mana kita sebenarnya?"
"Sebelum menjawab pertanyaanku, aku ingin bertanya satu hal, dan kau harus menjawabnya lebih dahulu," ucap Kurapika tanpa menoleh, suaranya terkesan memerintah. "Apa kau pernah mendengar tentang seorang penyihir wanita bernama Ophelia Kalina?"
"Ah, jadi ke sana kita akan pergi," tukas Kuroro, agaknya ia mengenal nama yang disebutkan Kurapika itu. "Menuju hutan di pulau yang nyaris tak terjamah manusia, yang dikeliling oleh samudera berombak liar. Sangat menantang. Pilihan yang bagus."
Kurapika diam saja. Ia tak suka dengan nada berbau sindiran yang tercermin pada tanggapan Kuroro barusan, walaupun ia tahu kalau Kuroro hanya berniat menggodanya dan membuatnya kesal. Ingin rasanya detik itu juga Kurapika membuang Kuroro Lucifer ke laut dan menenggelamkannya hingga mati seketika. Setidaknya metode membunuh seperti itu akan cukup efektif namun tidak akan membuat Kurapika terlalu frustasi karena sama sekali tidak menumpahkan darah.
Mereka berjalan bersisian menuju pelabuhan, tanpa suara. Hanya derap langkah kaki dan debur lembut ombak yang terdengar mengiringi. Mereka naik kapal yang paling awal beroperasi. Penumpang pun masih sedikit. Jarang ada orang yang ingin berpergian pagi-pagi buta. Semuanya sibuk bergulung selimut, dibuai mimpi di ranjang yang empuk. Tidur nyenyak.
Perjalanan menuju Pulau Sunyi – begitulah pulau yang dituju oleh Kuroro dan Kurapika itu disebut karena nyaris tak berpenghuni – memakan waktu kurang lebih satu jam. Kurapika menyibukkan diri dengan membaca buku. Tampaknya pemuda Kuruta itu menghindar untuk terlibat percakapan dengan Kuroro, dan apa yang dilakukannya cukup efektif. Kuroro sendiri memutuskan untuk duduk santai di kursinya sembari perlahan memejamkan kedua mata. Cahaya matahari yang terlalu terang membuat mata gelapnya lelah. Ia tak terbiasa. Kebisuan kembali menyelimuti mereka berdua.
Sesekali Kurapika mengalihkan pandangannya dengan melihat langit biru di luar jendela, lalu tanpa sengaja terlihat olehnya wajah Kuroro. Helaian rambut hitam lurus menutupi kening Kuroro yang berbalut kain putih. Kurapika bertopang dagu, memperhatikan wajah pemimpin Gen'ei Ryodan itu dengan teliti. Sebetulnya dia pria yang tampan, tukas Kurapika dalam hati. Tapi semua itu hanyalah omong kosong jika dibandingkan dengan kelakuannya yang amoral. Bejat.
Kadang Kurapika mencoba bersikap dewasa dan berusaha menelaah, kira-kira masa lalu seperti apa yang membentuk Kuroro dan anggota Ryodan lainnya sehingga mereka menjadi kumpulan pembunuh berdarah dingin seperti sekarang ini? Apakah Ryuuseigai itu lebih kejam dari neraka? Kurapika tak tahu apa jawabannya. Ingin rasanya ia bertanya pada Kuroro, tapi sisi lain dirinya seolah berteriak, memerintahkannya untuk jangan terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi pria berambut hitam itu. Meskipun rasa ingin tahu di hatinya membludak, tapi Kurapika mencoba berprinsip bahwa semua itu bukan urusannya.
Kurapika lantas kembali berkonsentrasi kepada buku bacaannya, ketika Kuroro tiba-tiba membuka mata dan menatap Kurapika tajam. Kurapika merasa terganggu dengan tatapan yang ditujukan padanya tersebut. Ia membalas pandangan Kuroro.
"Ophelia Kalina," Kuroro menyebutkan nama penyihir wanita yang akan mereka tuju, "apa yang kau inginkan darinya?"
"Itu adalah pertanyaan yang tak perlu kujawab. Nanti kau juga akan tahu sendiri," Kurapika membolak-balik lembar buku di tangannya. "Apa kau takut aku akan membuat permohonan yang aneh – seperti meminta kehancuran laba-laba, misalnya?"
"Bisa kukatakan demikian," balas Kuroro. "Ophelia Kalina memiliki kekuatan Nen yang tak terkalahkan, dan melawannya sama saja dengan bunuh diri. Nen-nya bertipe Gugenka, namun bisa beralih menjadi Tokushitsu. Sama sepertimu."
Kurapika mengangkat wajahnya. Apa yang dibicarakan oleh Kuroro tadi langsung membuatnya tertarik. Ia menutup buku dan meletakkannya di pangkuan. Kini perhatian Kurapika tertuju penuh pada seorang Kuroro Lucifer.
"Ceritakan apa saja yang kau ketahui tentang penyihir wanita itu," kata Kurapika. "Setelah itu baru akan kuberitahu apa yang hendak kuminta padanya."
Kuroro memperbaiki posisi duduknya. "Banyak yang mengatakan ia tak nyata, sekadar tokoh fiksi rekaan manusia. Aku sendiri sependapat, karena aku belum pernah melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri. Mungkin ini adalah saat yang paling tepat untuk memastikan keberadaannya," jelas Kuroro. "Menurut kabar yang kudengar, dia adalah penyihir terbaik sepanjang masa, serta salah satu pengguna Nen terkuat di muka bumi. Ia memiliki seorang adik kembar yang juga berkekuatan sama dengannya, namun tak sehebat Ophelia. Tak banyak informasi yang bisa kuketahui tentangnya. Kurasa kau juga merasakan hal sama."
"Tepat. Aku juga mencari data-data aktual tentang wanita itu, baik melalui buku maupun internet, namun sama sekali tidak kutemukan," Kurapika membenarkan. Dalam hati, ia sedikit memuji kehebatan Kuroro yang mengetahui berbagai fakta tentang Ophelia Kalina. Mereka terlibat percakapan seru selama satu jam ke depan, saling beradu argumen dan ilmu yang mereka kuasai. Pembicaraan mereka berjalan cukup lancar, tanpa emosi. Dan untuk pertama kalinya, Kurapika tidak perlu menunjukkan mata merahnya yang indah ketika berbicara dengan Kuroro Lucifer.
Tanpa terasa, mereka telah sampai di Pulau Sunyi. Pulau itu terasa angker ketika Kurapika menjejakkan kakinya untuk pertama kali di sana. Kabut tipis menyelubungi, membatasi pandangan. Mata hanya bisa melihat apapun yang berjarak 30 cm ke depan, bahkan dengan bantuan alat penerang seperti senter. Lebih dari itu? Mustahil. Seorang Kuroro yang biasa bergerak di kegelapan sekalipun mereka kesulitan untuk mengarahkan penglihatan.
Mereka berjalan perlahan, menelusuri jalan setapak yang betul-betul kering kerontang. Semak dan ilalalang bertebaran di sepanjang jalan. Pohon-pohon besar menjulang bagaikan tiang langit. Bunga-bunga rumput bergoyang tertiup angin semilir.
Kurapika mengambil sikap waspada. Rantai di tangannya tergenggam erat. Bola mata Kurapika yang berwarna biru laksana jernihnya air tampak bergulir ke sana-kemari, berusaha mengantisipasi setiap pergerakan di sekitar tubuhnya. Sikap tubuhnya sama sekali tidak rileks. Paranoid tak menentu.
"Jangan terlalu tegang," Kuroro berpesan. "Itu akan membuat tubuhmu kaku dan tidak bergerak sesuai dengan keinginan jika kau bertarung. Santai saja."
Hampir saja Kurapika ingin menghardik Kuroro dan menyuruhnya untuk tidak sok menggurui soal strategi bertarung, tapi batal. Kurapika menangkap bayangan kehadiran seseorang dan segera memasang posisi siap siaga.
"Kau melihatnya?" tanyanya pada Kuroro.
"Tentu saja," Kuroro menjawab percaya diri, seperti biasa. Rasanya ingin sekali Kurapika melempar pria itu dengan tasnya. Sayangnya tidak ada waktu untuk melakukan itu.
Suara gemerisik semak yang tersibak membahana di sekeliling mereka. Empat sosok muncul dengan pakaian yang tidak biasa – jubah panjang yang menutupi tubuh mereka dari kepala hingga kaki. Wajah mereka juga tak terlihat, berhiaskan cadar yang cukup tebal. Sebuah pertanyaan muncul di benak Kurapika dan Kuroro: 'apa mereka bisa melihat dengan jelas?'.
"Siapa kalian?" salah seorang dari mereka bertanya dengan suara keras. "Apa yang kalian inginkan?"
Sejenak, Kurapika merasa ragu. Namun akhirnya ia mengatakan yang sebenarnya. Siapa tahu orang-orang berjubah ini bisa membantu, pikir Kurapika.
"Kami hanya ingin bertemu dengan Ophelia Kalina, penyihir wanita yang bermukim di pulau ini," ucap Kurapika. "Bolehkah?"
Hening sejenak. Para sosok berjubah itu saling berbisik satu sama lain, seolah tengah berdiskusi dengan serius. Kurapika dan Kuroro tetap di posisi masing-masing, mempersiapkan diri jika terjadi pertarungan yang tak terduga.
"Beri jalan untuk mereka!"
Suara seorang perempuan muda terdengar tiba-tiba, diikuti dengan kemunculan sosoknya yang juga memakai pakaian berjubah tertutup – hanya rambut pirang panjangnya yang tampak tergerai. Perempuan itu lantas menunjuk Kurapika dan Kuroro. Jemarinya mungil dan pucat.
"Kalian berdua, ikuti aku," ucapnya.
Ketika perempuan berjubah itu melalui jalan setapak, empat sosok tadi menunduk dalam-dalam ke arahnya, mengisyaratkan bahwa mereka sangat menghormati perempuan tersebut. Kurapika dan Kuroro digiring ke sebuah rumah yang besar, mewah namun terkesan klasik. Mereka berdua mengikuti perempuan tersebut hingga ke sebuah ruangan besar yang hanya diterangi oleh remang cahaya lilin. Seorang anak kecil – sepertinya lelaki – duduk di pojok ruangan dengan lutut ditekuk. Ia tersenyum sumringah tatkala melihat kehadiran mereka.
Kurapika memandang sekeliling. Sebuah lukisan tergantung di dinding yang bercat kusam. Samar-samar, Kurapika bisa melihat siapa yang tergambar di sana. Seorang pria, seorang wanita, dan dua gadis kecil yang kelihatan sama persis, dengan rambut coklat mereka yang menawan. Kurapika sudah bisa menebak bahwa salah satu dari gadis di lukisan tersebut adalah Ophelia Kalina.
Jadi, siapa perempuan ini? Pasti dia bukan Ophelia karena warna rambut mereka berbeda. Tapi kelihatannya, dia cukup dihormati di sini. Mungkinkah dia sejenis tabib atau gadis suci?
Tanpa Kurapika sadari, Kuroro juga memperhatikan lukisan tersebut, dan tanpa diduga mereka memikirkan hal yang sama. Sungguh suatu kebetulan.
Perempuan berjubah itu duduk di sebuah kursi berukir, tak mengatakan apa-apa selama hampir sepuluh menit. Gagal untuk menahan gejolak rasa ingin tahu yang dimilikinya, akhirnya Kurapika pun bersuara.
"Maaf," ujar Kurapika. "Kami mencari seorang penyihir wanita bernama Ophelia Kalina. Mungkin kau bisa membantu kami menemukannya."
"Ophelia?" perempuan itu merespon. "Ah, yang kalian maksud pasti kakakku. Sayang sekali, dia sudah meninggal dua tahun yang lalu."
"Benarkah?" Kurapika berujar, sedikit kecewa.
"Jadi, kau adiknya?" kali ini Kuroro yang berbicara.
"Ya, aku adik kembarnya," tukas perempuan itu, lalu ia tertawa kecil. "Sebentar, aku merasa ada nada tidak percaya di kata-kata kalian. Apa kalian berdua tidak percaya kalau aku memang adik kembar Ophelia?"
"Bicara soal tidak percaya, bisa dibilang memang demikian," ucap Kurapika. "Dari lukisan yang ada di dinding ruangan ini, tergambar dua orang anak perempuan kembar yang sama-sama berambut coklat. Sementara aku bisa melihat dengan jelas bahwa warna rambutmu tidak senada dengan Ophelia, melainkan pirang. Itu merupakan hasil pengamatan yang tak terbantahkan."
"Aku dan Ophelia masih berusia lima tahun dalam lukisan itu, dan kini umurku 22 tahun. Waktu bisa mengubah manusia secara fisik dan mental, anak muda," perempuan itu tergelak, lalu ia melepas cadar yang membingkai wajahnya, membuat Kurapika tertegun melihat paras yang terpotret di sana.
Wajah itu… wajah yang sangat ia rindukan.
Rasanya Kurapika ingin sekali memeluk perempuan di hadapannya itu, tapi ia segera menyadarkan diri dan menarik tangannya, berulang kali membisikkan fakta di otaknya bahwa ibunya sudah mati. Ibunya sudah mati dan takkan pernah kembali lagi, meskipun kini ada seorang perempuan yang berwajah persis seperti ibunya dan sedang berada di depannya. Tepat di depan matanya.
"Ada apa?" Kuroro menyadari perubahan sikap Kurapika dan merasa aneh karena itu, namun Kurapika sama sekali tak menjawab. Wajahnya kelihatan sedih. Kuroro bertambah bingung.
"Kenapa, anak muda? Apa karena wajahku mirip dengan seseorang yang kau kenal?" tanya perempuan itu sembari bangkit dari kursinya dan mendekati Kurapika. "Almarhumah ibumu, ya?"
Kurapika tersentak seketika. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku juga seorang cenayang, meskipun aku tak sehebat Ophelia," perempuan itu menyahut. "Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Serafita, Serafita Kalina. Dan kalian, hmm… tunggu sebentar, kau pasti bernama Kurapika. Dan kau… Kuroro… Lucifer. Betul, bukan?"
Kurapika terperangah ketika perempuan itu menyebutkan nama mereka dengan lancar, sementara Kuroro mengusahakan dirinya agar tetap tenang, tak terkejut sama sekali. Kurapika menentramkan hatinya, walau ia khawatir kalau Serafita tahu lebih banyak tentang dirinya (dia tak terlalu peduli dengan Kuroro) dan berniat membeberkannya. Kurapika tak ingin masa lalu diumbar di depan umum. Baginya, itu murni persoalan pribadi. Orang lain tak perlu tahu dan tak perlu ikut campur.
"Serafita," ucap Kurapika, berusaha untuk membuat suaranya tak terdengar gemetar karena gelisah. "Kami membutuhkan bantuanmu – sebetulnya bantuan kakakmu – jika kau tak keberatan aku berkata jujur. Kami akan memulai perjalanan untuk mencari suatu benda berharga yang mungkin sedang tersebar di seluruh belahan dunia. Sayangnya kami sama sekali tak tahun di mana saja lokasi keberadaan benda-benda tersebut," sambungnya, seraya menatap sebal ke arah Kuroro.
"Aku paham. Aku tahu apa tujuan kalian berdua datang kemari. Pasti berat bagimu, Kurapika. Kau hendak mengambil kembali apa yang dulunya jadi milik orang-orang sesukumu," Serafita berkata.
Seluruh syaraf Kurapika menegang. Dia tahu, batin Kurapika.
"Aku akan membantu kalian," kata Serafita, sembari bangkit dari kursinya. Dengan menggerakkan jemarinya yang pucat, ia membuat isyarat untuk memanggil anak lelaki mungil yang sedari tadi duduk di pojok ruangan. "Pandora, tolong ambilkan benda itu."
Kurapika memperhatikan anak kecil berambut coklat tersebut. Dengan riang, dicarinya benda yang diminta Serafita – benda apapun itu – di sebuah lemari usang. Usianya mungkin baru tujuh tahun. Pakaian anak itu agak lusuh dan kebesaran untuk ukuran tubuhnya yang kurus. Meskipun begitu, rona kebahagiaan senantiasa terpancar dari kedua mata bulatnya yang sewarna badai. Kurapika bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya hubungan anak itu dengan Serafita.
"Yah… bisa dibilang dia anak angkatku," ucap Serafita, menelisik pikiran Kurapika. "Dia hampir tenggelam di dekat pulau ini, kira-kira setahun yang lalu. Pandora terpisah dari keluarganya sewaktu badai menghantam pesisir kota York Shin. Aku merawatnya setelah itu."
"Tidakkah ia rindu pada orang tuanya?" tanya Kurapika, sedikit terganggu karena Serafita lagi-lagi menggunakan kekuatannya dan mencoba membaca pikiran.
"Aku sudah menanyakan hal yang sama, tapi Pandora memilih untuk tinggal di sini," Serafita menjelaskan. "Keluarganya jahat, katanya."
"Dan kau pasti mengetahuinya," sindir Kuroro.
"Ya. Karena itu aku mengurusnya. Aku juga tidak punya keluarga lagi. Sudahkah kau temukan, Pandora?"
Pandora mengangguk, lalu mendekati Serafita seraya menyerahkan sebuah kantung kecil berbahan kain, dengan pita kerut di sekelilingnya. Kantung itu sangat kecil – bahkan untuk ukuran tangan Pandora yang kira-kira hanya separuh tangan Kuroro. Serafita mengambil kantung itu, membukanya, lalu memegang isinya yang tak kalah mungil dengan menjepitkan ibu jari dan telunjuk kanannya. Mata safir Kurapika menyipit, fokus kepada benda berkilau yang sedang dipegang Serafita.
"Kurapika," panggil penyihir wanita itu dengan suara lembut. "Bolehkah aku melihat tangan kananmu?"
Dengan sedikit ragu, Kurapika membiarkan tangan kanannya disentuh oleh jemari Serafita yang lentik. Hawa dingin serasa menembus kulit Kurapika. Kurapika memandang wajah Serafita lekat-lekat, memperhatikan setiap detilnya. Kerinduan membuncah. Setiap garis wajah Serafita serupa dengan almarhumah ibunya, kecuali warna iris mata. Bola mata Serafita berwarna hijau lumut yang tampak teduh. Tak lepas-lepas Kurapika memandang wajah wanita itu, sehinga sama sekali tak memperhatikan tangan kanannya. Pemuda Kuruta itu baru menyadari sesuatu terjadi setelah merasakan rantai yang bergemerincing, menyusup di antara kulitnya. Dia tersentak, terkejut bukan kepalang.
Serafita membuat garis lurus di atas tangan kanannya, dan rantai Kurapika pun muncul dalam gerakan lambat. Biasanya, jika sedang tidak dibutuhkan, Kurapika akan menyamarkan rantainya serta membuatnya tak terlihat – dan sejauh ini hanya Kurapika yang bisa memunculkan rantai itu kembali. Namun, tanpa diduga, Serafita baru saja melakukannya, tepat di depan mata Kurapika.
Penyihir wanita itu bisa memunculkan kembali rantai hasil perwujudan Nen Kurapika yang selama ini hanya bisa dilakukan oleh pemiliknya. Kurapika tak tahu harus kagum atau malah waspada. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Pria yang memiliki kekuatan setangguh Kuroro pun hanya mengamati dengan mulut terkunci. Seluruh kosa kata seolah hilang dari memorinya ketika melihat Serafita menunjukkan kemampuan.
Serafita memejamkan mata, seolah tengah merapal mantra di dalam hati. Dilekatkannya benda berkilau yang diserahkan oleh Pandora tadi di salah satu cincin rantai yang belum memiliki fungsi mutlak – jari telunjuk. Semua terjadi begitu cepat hingga Kurapika nyaris tak bisa melihat prosesnya. Kurapika hanya bisa menduga bahwa sebuah rantai baru telah tercipta. Di antara kilatan jemari Serafita yang bergerak cepat, Kurapika merasakan pusaran energi menyusup di celah-celah tangannya dan merasuk ke setiap sumsum tulangnya, seolah Serafita tengah mentransfer begitu banyak aura. Lagi-lagi Kurapika tersentak ketika Serafita tiba-tiba melepaskan tangannya.
"Sudah selesai," ucap Serafita, tersenyum. "Maaf sebelumnya karena aku tidak meminta izin terlebih dahulu padamu. Aku telah menambah satu rantai yang akan sangat berguna untuk perjalanan kalian nanti, Kurapika. Tenang saja, rantai itu tak akan membahayakanmu."
Kurapika mengamati rantai mungil yang keluar dari cincin perak di jari telunjuknya. Tak seperti keempat rantainya yang lain, rantai tersebut tidak terlalu panjang. Mungkin hanya sekitar 10 cm – dan tidak fleksibel, sebab ukurannya statis. Sebuah batu indah berwarna biru jernih menghiasi rantai itu. Batu berukuran kecil itulah yang terbungkus dalam kantung kain dan diambil oleh Pandora tadi.
"Apa fungsinya?" tanya Kurapika.
"Batu yang kuikatkan di rantai itu memiliki kekuatan tersendiri. Ia bisa mendeteksi keberadaan benda yang kau cari sewaktu perjalanan nanti dalam radius 1 km, dan memberi tanda padamu dengan berubah warna menjadi merah. Kau juga bisa menyimpan setiap benda yang sudah kau kumpulkan dengan kekuatan dari batu ini," ungkap Serafita panjang lebar. "Ada dua mantra yang harus kau ingat agar rantai baru ini berfungsi sesuai perintah. Pertama 'veil' – untuk menyimpan, lalu 'release' – untuk mengeluarkannya kembali. Ketika kau menggunakan 'veil', warna batu di ujung rantai akan berubah menjadi bening secara otomatis. Hal ini juga berlaku jika kau menggunakan 'release'."
"Aku punya satu pertanyaan. Di mana sebetulnya benda-benda itu akan tersimpan jika aku menggunakan fungsi 'veil'? Tak mungkin benda tersebut mengecil lalu bersemayam di dalam batu, bukan? Itu sungguh tidak logis."
"Memang tidak, Kurapika. Batu di rantai itu hanya sebagai perantara untuk memindahkan benda yang akan kau simpan ke tempat aman – tempat yang kuciptakan dengan sihir perwujudan kekuatan Nen milikku. Sejenis ruang hampa yang tak bisa kau lihat, tak bisa kau sentuh, tapi ADA. Kau bisa menyimpulkan tempat itu sebagai fantasy world atau utopia, itu terserah padamu."
"Sihir yang unik," ucap Kuroro, terdengar agak meremehkan. Kurapika memutar bola matanya, berpikir kapan Kuroro bisa berhenti bertingkah menjengkelkan.
Serafita tersenyum mendengarnya. "Lalu bagaimana dengan Fun Fun Cloth-mu, Kuroro Lucifer? Bukankah itu dan rantai yang kuciptakan ini memiliki fungsi yang hampir sama? Nen dan sihir hanya dipisahkan oleh satu garis tipis. Ketika kau sudah mempercayai Nen dan sudah membuktikannya, maka apa lagi alasan yang kau punya untuk tidak percaya akan sihir?"
"Tetap saja itu tidak rasional," lagi-lagi Kuroro berkata menyebalkan.
"Menurutmu, apa Nen cukup rasional bagi orang-orang awam? Apa teknologi zaman sekarang rasional bagi masyarakat masa prasejarah? Tidak. Kadang sesuatu yang tidak rasional belum tentu tidak benar," balas Serafita. Ia sanggup mempertahankan kelembutan di nada suaranya, dan itu membuat Kurapika memberikan nilai plus pada Serafita. Kalau aku yang sekarang berada di posisi dia, pasti sudah kuhantamkan kepala Kuroro ke tembok, pikir Kurapika.
"Tapi tetap saja – "
Kuroro tak mampu menyelesaikan kata-katanya karena Kurapika langsung memberikan serangan istimewa – sikunya sengaja ditusukkan ke ulu hati Kuroro. Walaupun hanya dengan sedikit tenaga, tapi serangan itu tepat sasaran sehingga rasa sakit yang ditimbulkannya juga luar biasa. Kuroro meringis pelan, tahu bahwa si pengguna rantai mulai marah terhadap sikapnya.
"Serafita, aku tak tahu harus berkata apa," ucap Kurapika. "Terima kasih banyak atas bantuanmu."
"Tentu. Nah, sekarang bergegaslah. Dunia baru telah menanti kedatangan kalian," Serafita bergumam seraya kembali mengenakan jubahnya. "Mari, kuantar kalian ke depan."
Kurapika menelengkan kepala, agak bingung. "Jadi, bayarannya?" tanyanya ragu.
Serafita tertawa. "Aku tak memungut bayaran. Karena itu aku hanya memilih orang-orang tertentu untuk kutemui dan kutolong. Ophelia juga dulu melakukan hal yang sama."
Kuroro dan Kurapika mengikuti wanita itu keluar dari ruangan. Sebelum benar-benar pergi, Kurapika menoleh kepada Pandora sekilas, yang kembali duduk di pojok dengan lutut tertekuk. Ia tersenyum simpul pada Kurapika.
"Kenapa tidak ikut keluar?" Kurapika memberanikan diri untuk bertanya. "Bukankah di sini gelap?"
"Aku tidak akan pernah keluar," senyum Pandora. "Tempatku di sini, Kurapika."
Lalu, entah karena pengaruh sihir atau apa, seluruh lilin di ruangan itu langsung padam dalam satu kibasan angin. Kegelapan mengurung Kurapika saat sepasang tangan menarik dirinya keluar.
"Kau lama sekali," ucap Kuroro. "Apa yang kau lakukan di dalam sana?"
"Tidak ada," Kurapika menjawab gugup, bingung dan terkejut dengan yang baru saja disaksikannya. Kenapa Pandora tidak mau keluar dari ruangan segelap itu? Kurapika terus bertanya-tanya di dalam hati.
"Ada apa?" tanya Serafita.
"Serafita, anak itu…"
"Xeroderma pigmentosum. Pernah mendengarnya? Pandora punya kelainan itu, jadi dia tidak bisa terkena sinar matahari dalam jangka waktu yang terlalu lama," Serafita memberikan alasan, setelah (lagi-lagi) membaca pikiran Kurapika. "Itu sebabnya dia tak bisa keluar dari ruangan itu, atau kulitnya akan melepuh."
Kurapika terdiam. Sebetulnya ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, tapi tidak jadi. Kurapika menyimpulkan bahwa semua itu bukan urusannya.
"Benda yang kalian cari tidak ada di pulau ini," Serafita berkata, seolah hendak memberikan informasi secara cuma-cuma. "Kusarankan kalian mulai mencarinya di kota-kota besar ataupun di lokasi yang cukup terkenal – York Shin, Zaban, Dentora, Ryuuseigai…"
Kening Kurapika berkerut ketika nama Ryuuseigai disebut. Kuroro melirik pemuda Kuruta di sebelahnya dengan ujung mata, merasa paham bahwa Kurapika berprinsip lebih baik mati daripada harus menginjakkan kakinya di kampung halaman Kuroro itu. Kita lihat seberapa tangguh kau mampu mempertahankan pendirianmu, pikir Kuroro nakal.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Serafita. Jika aku butuh bantuan, bolehkah aku kembali ke sini?" tanya Kurapika.
"Tentu saja boleh! Aku akan dengan senang hati menerima kedatanganmu. Lagipula…" Serafita merendahkan suaranya, "orang-orang yang 'terpilih' sehingga bisa bertemu dengan sang penyihir memiliki kontak batin satu sama lain. Aku juga akan segera datang jika kalian mengalami kesulitan."
Kurapika mengangguk. "Kalau begitu kami permisi dulu," katanya seraya menunduk hormat, lalu lekas menarik tangan Kuroro sebelum pria itu sempat mengucapkan kata-kata menyebalkan lagi.
"Apa yang kau lakukan tadi?" bentak Kurapika, ketika yakin jarak mereka sudah cukup jauh dari kediaman Serafita.
"Memangnya apa yang sudah kulakukan?" tanya Kuroro, seolah tidak ada kata 'dosa' dalam hidupnya. Kurapika menepuk kepala.
"Kau sudah mengacau, Kuroro Lucifer. MENGACAU!" Kurapika nyaris berteriak. "Entah apa lagi yang akan kau lakukan setelah ini. Untuk apa tadi kau melontarkan pertanyaan-pertanyaan bodoh ke penyihir itu?"
"Ah, yang itu," Kuroro berucap. "Hanya ingin mengusiknya saja. Apa aku salah dengan berbuat demikian?"
"Terserah kaulah," Kurapika mendengus, kehabisan kata-kata untuk melawan Kuroro. Ia malas meladeni pemimpin Ryodan itu.
"Dia cantik juga," Kuroro tertawa kecil. "Kukira ia jauh lebih tua dariku, tapi ternyata tidak. Menarik."
"Kenapa? Kau suka padanya?"
Kuroro menatap Kurapika sambil tersenyum simpul. "Apa kau cemburu?"
Kurapika hanya menatap Kuroro tajam dengan pandangan yang artinya, 'memangnya kau kira aku ini apa?'.
Mereka berdua menghentikan langkah ketika sudah tiba di tepi pulau, mengistirahatkan diri untuk sejenak sembari menunggu kapal yang akan merapat. Kuroro dan Kurapika duduk berjauhan (sebetulnya Kurapika yang sengaja membuat jarak), bergumul dengan pikiran masing-masing. Kurapika memandangi rantai barunya, diam-diam mengagumi keindahan batu biru mungil yang tersemat di sana. Kuroro hanya memperhatikan Kurapika dalam diam.
"Kuroro," suara Kurapika tiba-tiba memecah keheningan, tak lama kemudian. "Menurutmu, ke mana sebaiknya kita pergi untuk mencari bola mata merah itu selanjutnya?"
Kuroro tampak berpikir. "Tempat apa yang pertama kali disebutkan oleh penyihir itu tadi, sewaktu dia mengatakan bahwa benda yang kita cari tidak ada di pulau ini?"
"York Shin," lidah Kurapika hampir tergigit. "Dan jika Raito Nostrad melihatku masih berkeliaran di sana padahal sudah diberi cuti, pasti ia akan langsung memecatku."
"Ya, kemungkinan besar," ucap Kuroro, sembari memandangi Kurapika dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kurapika menyadari tatapan itu dan ia risih karenanya.
"Apa yang kau lihat?" tanyanya galak.
"Kurasa aku tahu apa yang harus kau lakukan agar bosmu tidak mengenalimu," Kuroro berkata, bertepatan dengan bunyi desiran ombak yang ditimbulkan oleh kapal yang hendak datang di kejauhan. "Kita harus memanfaatkan potensi yang ada di dalam dirimu."
Kurapika menaikkan sebelah alisnya. "Apa itu?"
"Bagaimana kalau kau… menyamar jadi perempuan saja?"
- to be continued -
~ Note:
Maaf menunggu lama, minna-san!
Ah, ini adalah chapter terpanjang yang pernah saya buat dalam sejarah per-fanfic-an.
Dan ini adalah fanfic pertama di mana saya membuat original characters! Mudah-mudahan karakter yang saya buat bisa mendukung cerita ini.
Terima kasih buat minna-san yang masih tetap setia membaca! Maaf, saya tidak bisa balas review-nya satu persatu karena keterbatasan waktu.
Dan, review please?
Arigatou gozaimasu!
-Azumaya Miyuki-
