Confession Game

by:hanzabilah

Disclaimer: terinspirasi dari gif nya YoonMin. Yoongi pernah bilang kalau dia suka Jimin tapi belum tentu Jimin juga suka dia. Dan pas Rookie King itu, lupa apa namanya yang buat pengakuan kesel di tempat tinggi sambil teriak2(?)

WARNING: BL, TYPO EVERYWHERE, CERITA GAJELAS, Yoongi Seme Jimin Uke, maaf jika bosen dengan alur cerita yang kemungkinan sama kaya' fanfic lain

.

.

.

Part 2: Conflict

Suga dan Jin gelagapan mendengar Jimin yang terus memanggil Suga. Jin sebenarnya bisa santai saja, tapi Jin kasihan dengan Suga jika sampai Jimin mendengar pembicaraan mereka. Jin takut Jimin akan menjauhi Suga karena tau Suga mempunyai rasa yang lebih kepadanya.

"A-aku harus bilang apa hyung jika dia dengar apa yang kita bicarakan tadi?", bisik Suga.

"Bilang saja tadi kita sedang membaca JiKook fanfiction, lalu kita mendiskusikan isi ceritanya(?)", bisik Jin.

"Apa? Ide apa itu?", Suga meragukan usul Jin yang terdengar sangat aneh.

"Sudahlah, sekarang keluarlah dulu. Kalau dia tanya tentang pembicaraan kau menyukai Jimin tapi Jimin menyukai Jungkook, jawab saja seperti itu. Kalau bertanya yang lain, kau pasti bisa menjawabnya sendiri!", bisik Jin sambil mendorong Suga menuju pintu kamar.

Suga menelan ludahnya. Perlahan dia membuka pintu kamarnya dan Jin. Suga melihat Jimin yang berdiri dengan tangan kanannya yang sepertinya hendak mengetuk pintu lagi tapi tak jadi karena Suga sudah membuka pintunya.

"A-ada apa Jiminie?", tanya Suga dengan terbata-bata.

"Hyung….", panggil Jimin.

Suga menaikkan alisnya, pertanda menjawab panggilan Jimin.

"Apa… apa kau marah kepadaku?", lanjut Jimin.

Suga hanya memasang wajah datarnya. Dia bingung sekaligus lega Jimin tak menanyakan pembicaraannya dengan Jin.

"Hah?"

"Tadi…Tadi…. Kau langsung pergi dari dapur seperti orang sedang emosi. Jadi, aku penasaran apa kau marah atau tidak. Jika iya, apa kau marah kepadaku karena tadi mengejekmu?", jelas Jimin.

Suga diam beberapa detik. "Ani aku tidak marah", kata Suga.

Jimin menghela nafas lega. "Syukurlah, aku kira hyung marah dan curhat ke Jin hyung lalu hyung mulai menjauhiku", ucap Jimin.

"Untuk apa aku menjauhimu?", tanya Suga.

"Ya siapa tau hyung lama-lama sebal dengan sifatku ini. Aku tak mau hyung jadi seperti Jungkook yang katamu menjauhiku karena sifatku yang menyebalkan", terang Jimin.

"Memang apa hubungannya denganmu? Jika misalnya aku jadi seperti Jungkook, kau kan masih ada JHope yang masih mau dekat denganmu", kata Suga.

"Tapi, bagiku, hyung itu berbeda dari yang lain. Rasanya tanpa hyung itu sepi", Jimin menundukkan kepalanya.

Suga melebarkan kedua matanya. Suga tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apakah Jimin perlahan mulai memiliki rasa yang sama dengannya?

"Kan aku sudah bilang aku juga menyukaimu. Hyung itu sahabat baikku. Hyung selalu memperhatikanku, hyung selalu mengerti diriku, hyung selalu sabar dengan siksaan dan bully-an dariku", sambung Jimin seketika membuat wajah Suga berubah muram.

"Aku kira dia sudah mulai menyukaiku", batin Suga.

"Hyung neo gwenchana?", tanya Suga, "Gwenchana. By the way apakah kau sudah menyelesaikan acara makan ramenmu itu? Tadi kan masih ada banyak", Suga mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

Jimin menepuk dahinya. "Aigoo ne aku lupa! Aku belum menghabiskannya! Kalau begitu, aku kembali ke dapur lagi ye hyung", kata Jimin lalu segera berlari kembali ke dapur.

Suga mendengus kesal dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Jin menatap Suga dengan wajah iba. Benar-benar kasihan Suga.

Orang mana yang tidak sakit hati ketika orang yang disukai hanya menganggap sebagai sahabat? Pasti sakit, sakit sekali. Sekali lagi pisau tajam tak terlihat menusuk dada Min Suga.

"Suga..."

"Aku tau Jungkook sangat berharga baginya. Karena Jungkook mirip seperti adik kesayangannya. Sementara aku, hanyalah seperti seorang hyung yang satu grup dengannya", ucap Suga dengan lirih.

Suga duduk di kasurnya. Kemudian membuka laci meja yang ada di sebelahnya, mengambil sebuah buku catatan kecil dan sebuah bolpoin. Suga mulai menggerakkan bolpoinnya. Jin memperhatikan Suga dengan intens. Jin tau pasti Suga sedang menulis lirik, tapi Jin penasaran lirik apa yang saat ini ditulisnya. Apa tentang Jimin? Atau tentang kecemburuannya pada Jungkook?

"Hyung lama-lama aku takut jika kau perhatikan seperti itu", kata Suga.

Jin tersenyum. "Mian mian. Soalnya kau kelihatan down sekali sekarang. Sabar yah. Kau harus bisa menjaga emosimu saat ini. Soalnya, disaat seperti ini kau biasanya tak bisa mengkontrol emosimu", kata Jin mencoba menghibur Suga.

Suga menghela nafas berat. Dia lalu meletakkan buku catatannya ke meja kecil di sampingnya. "Aku mau tidur", kata Suga. Suga lalu menarik selimut kasurnya dan mencari posisi nyaman. Setelah menemukannya, Suga langsung tertidur.

"Dasar penidur 3 detik. Cepat sekali dia terbang ke alam mimpi", heran Jin.

Cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat, pertanda hari akan segera berakhir. Semua member BTS berkumpul di ruang makan menunggu Jin menyelesaikan masakannya. Mereka sudah bersiap untuk makan malam.

V dan JHope asik bersenda gurau satu sama lain, Jungkook membaca buku novelnya, Rapmon sibuk mengutak-atik smartphone nya, Jimin memperhatikan Jungkook yang duduk di seberangnya, dan Suga diam sambil menatap kosong ke arah meja.

Mata Suga masih menyipit karena dia masih belum sepenuhnya bangun. Walau dia masih mengantuk, Suga masih dapat mendengar kekehan kecil dari Jimin yang duduk di sebelahnya.

Suga menatap Jimin kemudian menatap ke arah sesuatu yang sedang dia perhatikan. Suga langsung cemberut karena Jungkook duduk di depan Jimin, berhadap-hadapan lagi. Suga berdiri dari tempatnya dan menepuk pelan pundak Jimin.

"Jiminie, aku ingin duduk di sini", kata Suga seraya menunjuk tempat duduk Jimin.

"Eh, wae?"

"Aku ingin duduk dekat Jin hyung. Di sebelahmu itu kan kursi milik Jin hyung", Suga beralasan.

Jimin melirik ke kursi di sebelah kirinya. Jimin menuruti permintaan Suga walau sebenarnya Jimin tak mau. Dengan malas Jimin berpindah tempat, lalu menatap malas makhluk bernama Kim Namjoon yang sekarang ada di depannya.

Suga menatap Jungkook dengan sangat intens. Merasa diperhatikan oleh Suga, Jungkook menutup bukunya dan melihat ke arah Suga. Jungkook sedikit ngeri melihat Suga yang menatapnya seperti orang mabuk belum sadar.

"Suga hyung . Apa kau masih ngantuk? Kau terlihat menakutkan, seperti orang mabuk saja", canda Jungkook.

Suga menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ne aku masih ngantuk. Dan saat melihatmu entah mengapa membuatku sebal sekali, rascal", kata Suga dengan bagian paling akhir dipelankan agar tak ada yang mendengarnya 'sedikit' mengumpat. Perkataannya membuat semua member memperhatikan dirinya termasuk Jin yang masih memasak di dapur.

Jungkook melebarkan matanya. Ia tak mengerti dengan apa yang Suga katakan. 'Sebal? Sebal karena aku? Wae?', batin Jungkook.

BRAK!

"Yak Min Yoongi! Jika kau masih mengantuk lebih baik kau di kamar saja sana, jangan malah mengasari Jungkook seperti itu!", bentak Jimin.

"Aku tidak mengasarinya. Aku cuma berkata saja", balas Suga datar.

"Apa kau pikir aku tidak mendengarmu mengumpat juga tadi? Kau berbicara kasar ke Jungkook! Apa salah Jungkook?! Dia tadi hanya bercanda masa kau bawa jadi masalah!", bentak Jimin.

'Ah shit, dia juga mendengar kata yang paling akhir ternyata', batin Suga, "Ne, aku salah. Mian Kookie aku tadi berkata kasar kepadamu. Mian Jimin, aku memarahi dongsaeng kesayanganmu ini. Dan mian juga kepada dongsaengdeul ku yang lain, aku telah bersikap tidak baik. Aku sedang badmood se daritadi. Sekali lagi, mianhae", kata Suga.

"Hyung kau aneh sekali hari ini! Apa sebenarnya kau marah karena tadi aku mengejekmu pendek?! Kalau kau marah harusnya bilang saja, tadi aku tanya kau jawab tidak marah! Ternyata?!", teriak Jimin sambil mengeluarkan aksen Busannya.

"Jiminie, Suga, sudahlah kalian jangan bertengkar. Jiminie, Suga kan sudah bilang dia sedang badmood hari ini dia juga sudah minta maaf kan. Suga, kau juga kenapa berkata sekasar itu kepada Jungkook, kau harus bisa mengkontrol bicaramu saat sedang badmood", Jin mencoba menenangkan keadaan.

Jimin mengepalkan tangannya kuat-kuat, seperti hendak meninju Suga yang sudah membuatnya sangat kesal. "Kau tak perlu semarah itu. Aku akan pergi. Mian hyung aku tak bisa ikut kalian makan malam", kata Suga lalu pergi meninggalkan ruang makan.

Semua member BTS mendengar suara pintu dibanting dari ruang makan. Mereka dapat menyimpulkan Suga pasti pergi keluar dorm.

V, JHope, Rapmon, Jungkook hanya menatap Jimin dengan penuh kebingungan. Jin menatap miris kursi Suga -awalnya kursi Jimin- yang sekarang kosong. 'Aigoo, Min Suga. Kenapa kau tak bisa mengkontrol emosimu, eoh', batin Jin.

Suga duduk di sebuah bangku di pinggiran jalan di dekat Sungai Han. Jika sedang kesal, biasanya dia akan menenangkan diri di tempat sepi, kebetulan sekali diSungai Han sedang sepi orang. Suga memutuskan pergi ke sini sekalian untuk menatap indahnya langit merah yang perlahan berubah menjadi gelap.

Suga merasa sangat bersalah karena tak bisa mengkontrol emosinya tadi. Dia seharusnya tak mengasari Jungkook yang sebenarnya tak salah apa-apa. "Yang salah itu Jimin, yang tak peka juga dengan perasaanku", gumam Suga. "Bukan, bukan salah Jimin juga. Ini semua memang salahku yang selalu emosian saat badmood." gumam Suga lagi.

Suga menggesekan kedua telapak tangannya untuk mencari kehangatan. Dia sudah hampir selama 2 jam duduk sambil memikirkan hal sama sedaritadi. Lama-lama Suga merasa kedinginan karena hari mulai makin gelap.

Pikirannya saat ini sedang kacau balau. Suga terlalu cemburu dengan Jungkook yang disukai melebihi teman satu member grup oleh Jimin. Tak jarang Suga sampai menggaruk kasar kepalanya.

Frustasi, itu yang Suga rasakan. Frustasi karena membuat Jimin jadi (mungkin) membencinya sekarang. Sekelebat bayangan wajah marah Jimin yang menatap ke arah Suga saat itu. Hal itu makin membuat Suga makin frustasi dan terus menyalahkan diri sendiri.

BZZZ.. BZZZ

Bunyi smartphone Suga bergetar. Suga segera mengecek siapa yang telah menghubunginya. Tertulis nama 'Seokjin hyung' di layar. Suga menekan tombol tidak menjawab dan meletakkan lagi smartphone nya ke kantong jaketnya.

BZZZ... BZZZ

Smartphone Suga bergetar lagi. Sekali lagi Suga mengecek smartphone nya. Ternyata, Jin kembali menelpon Suga. Suga menyerah dan menjawab telpon dari Jin.

"Yeoboseyo? Wae hyung"

"Min Yoongi kau ada di mana sekarang? Aigoo aku mengkhawatirkanmu, Namjoon juga mengkhawatirkanmu. Hari sudah gelap, segeralah pulang dan makan makan malammu!" , titah Jin dari seberang sana.

"Tenang hyung aku tak pergi ke club malam atau ke tempat mesum kok. Aku sedang menenangkan diri saat ini", kata Suga.

"Cepatlah kembali kau saeggiya*! Aku memaksamu!", pekik Jin dan membuat Suga menjauhkan smartphone nya dari telinga.

"Aku tak mau pulang du—"

"This little brat! Just hear what I say, ppali go home and EAT YOUR DINNER!", potong Jin dengan sedikit penekanan di akhir.

"Ye haeng-nim, nae arrasno"*

"Oh ya. Juga, tadi Jung—"

Belum sempat Jin menyelesaikan bicaranya, Suga langsung mematikan panggilan itu. Suga tau, pasti Jin akan berbicara tentang Jungkook.

Suga sedang tak ingin mendengar namanya. Suga merasa bersalah kepada maknae BTS itu. Juga, karena Jungkook, ehm maksudnya karena dia memarahi Jungkook, Jimin jadi membencinya.

Suga menundukkan kepalanya, merenungkan kembali kesalahannya tadi.

"S-Suga hyung", panggil seseorang.

Suga terkejut mendengar seseorang memanggilnya.

"Suga Hyung!", panggilnya lagi.

Suga berbalik.

"Kau?!"

.

.

.

*Saeggiya = berengsek (?)

*ye hyungnim, nan arraseo (dlm dialek Gyeongsang)

.

.

.

Annyeong readernim! Jeoneun manheun mareul gamsahaejwo imi ilggi ddaemune!

Mianhada geu julgeorineun honlan gyeongu(?)

Dasi hanbeon, eoksuro gomabda!

Mind to review?