A/N: Haloha~, Reader-san. Apa kabar? Ah, ya, kemarin Kuroki lupa memberitahu sesuatu. Yah, entah penting atau tidak, sih, tapi... Umm... Seperti yang Reader-san tahu, penampilan Lucky yang sekarang sama seperti yang di cover (yang memakai baju Akatsuki), tapi, dia juga memakai hitai-ate dengan lambang Konoha yang di coret yang dipakai di kepalanya (mirip seperti Itachi saat masuk Akatsuki).

Ya, hanya itu saja, sih. Maaf kalau nggak begitu penting. Oke, silahkan dibaca.


Cuplikan Chapter Sebelumnya:

"Minana-chan... kan?" ujar Lucky sedikit canggung.

Minana mengangguk pelan.

"K-kenapa jadi kecil begini? Atau tepatnya... harusnya kau sudah besar dan terlihat sepert–" Lucky tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. 'Apa yang kukatakan? Terlihat seperti Kurai Kōri no Konoha? Hmph, aku pasti dikatain gila kalau mengatakan hal itu.'

"Aku tidak tahu kenapa jadi begini. Kau harus membantuku mencari tahu alasannya, dattebane," suruh atau pinta Minana.

Minana masih memeluk erat Lucky. Minana terus memeluknya, seolah-olah ia takut kehilangan pria itu lagi. Lalu perlahan, air mata mulai membasahi pipi Minana.

"Maaf, aku tidak memberitahumu tentang apa yang terjadi di masa depan. Sudah cukup, hiks. Kau tidak perlu menjadi anggota Akatsuki untuk menghentikan mereka dari dalam, dattebane, hiks. Jangan terlalu memaksakan diri. Mulai sekarang, serahkan saja semuanya padaku, hiks."

Mendengar suara isak tangisnya, dengan pelan Lucky melepas pelukan gadis kecil itu. Kemudian ia berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Minana. Lalu dengan jari telunjuknya, ia mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis kecil itu.

"Aku senang ada orang yang sangat mengkhawatirkanku..."

JLEB

'Eh?'

DEG

Minana melotot tak percaya dengan apa yang Lucky lakukan. Pria yang merupakan pengawalnya di masa depan... Pria yang merupakan kekasihnya di masa lalu... Pria itu menusuk perutnya dengan tangan hingga menembus ke belakang. Karena apa yang Lucky lakukan, darah mengalir deras dari luka tersebut.

"...Tapi, maaf. Aku tidak bisa melakukan hal itu," lanjut Lucky.

Air mata kembali keluar dan membasahi pipi Minana. "L-Luck..ky.. k-kena..pa.. kau–"

Sebelum selesai berbicara dan melakukan sesuatu terhadap lukanya, Minana sudah kehilangan kesadarannya.

"Itu karena kau adalah adik kembar Namikaze Naruto..." desis Lucky dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Dan juga, karena kau seekor–" Lagi-lagi Lucky tidak melanjutkan ucapannya. Saat mengatakan hal yang penting, entah kenapa mulutnya akan berhenti berbicara

..

Rating: T

Genre: Adventure, Hurt/Comfort

Warning: OC, Death Character, Naruto/Bleach Fusion

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, Bleach milik Tite Kubo

Main Chara: Namikaze Minana (OC), Lucky (OC), Namikaze Naruto

Pembuat fic: Kuroki

..


Chapter 3: Misi Penyelamatan

.

-Di Gerbang Utama Desa Suna-

Semua shinobi Suna masih sibuk membersihkan reruntuhan dan jebakan yang dibuat oleh Akatsuki a.k.a Sasori di 'gerbang utama' Desa Suna. Daripada disebut gerbang, tempat itu adalah celah dari tebing yang mengelilingi dan menjadi tameng alam untuk Desa Suna itu sendiri.

Lalu saat semua orang sibuk, tiba-tiba 5 orang muncul begitu saja di dekat gerbang tersebut. Lima orang itu adalah shinobi. Hal itu bisa dilihat dari hitai-ate yang mereka berlima pakai. Empat hitai-ate dengan lambang seperti daun dan satu hitai-ate dengan lambang seperti huruf 'i'. Melihat lambang pada hitai-ate yang dipakai, bisa disimpulkan kalau mereka adalah shinobi Konoha dan shinobi Suna. Lalu melihat shinobi Konoha yang datang bersama dengan shinobi Suna, bisa diasumsikan kalau Desa Konoha dan Desa Suna memiliki hubungan yang cukup dekat.

Namikaze Naruto, Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Hatake Kakashi, dan Temari. Itu adalah nama-nama shinobi yang tiba-tiba muncul di sana. Pakaian mereka sama seperti yang ada di masa depan. Mungkin yang berbeda adalah Sasuke yang memakai rompi jounin dan di bagian lengan bajunya ada gambar shuriken dengan lambang kipas klan Uchiha di tengah shuriken tersebut.

"Temari? Kau sudah kembali?" ujar seseorang yang setengah wajahnya ditutupi oleh kain. Dia adalah Baki, jounin dari desa Suna.

Temari segera menghampiri Baki. Begitu sudah berada di depannya, Temari berkata, "Bagaimana situasinya?"

Namun Baki tidak menjawab pertanyaan tersebut. Atau lebih tepatnya, matanya teralihkan saat mendengar suara derap kaki yang berasal dari luar desa. Temari dan tim 7 juga ikut melihat ke sana. Itu adalah tim pengejar yang diperintahkan oleh Baki. Diantara tim pengejar itu juga ada saudara Temari yang bernama Kankuro.

"Temari! Gaara–"

"Apa yang sudah terjadi, Kankuro?" potong Temari.

Begitu sampai, Kankuro mulai menjelaskan apa yang sudah terjadi, seperti Akatsuki datang menyerang dan membawa Gaara, kemudian dirinya yang pergi untuk mengejar mereka, hingga akhirnya ia kalah dan hampir terbunuh oleh Akasuna no Sasori, lalu ditolong oleh Chiyo.

"Akatsuki..!" desis Naruto setelah mendengar penjelasan Kankuro.

"Tenanglah, Naruto," ujar Kakashi mencoba menenangkan Naruto. Sejak mendengar tentang Gaara yang diculik Akatsuki, Kakashi tahu kalau Naruto mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.

"..." Naruto hanya diam mendengar nasehat Kakashi.

"Tung–"

Naruto dan yang lainnya langsung menoleh ke arah seseorang saat seseorang tersebut mengatakan 'Tung'. Tepatnya saat mendengar suara nenek-nenek. Naruto dan semua orang yang ada di sana sangat terkejut saat melihat seseorang yang sedang dipapah nenek berpakaian putih itu.

"G-Gaara!" teriak Naruto spontan saat melihat remaja berambut merah yang sedang dipapah nenek tersebut. "Apa yang sudah kau lakukan pada Gaara, Nenek tua!" teriak Naruto seraya menyiapkan kuda-kudanya.

"Tenanglah Naruto. Dia adalah mantan shinobi Desa Suna," jelas Kankuro seraya memberi tanda pada Naruto untuk tenang.

'D-dia... memindahkan kami ke Suna?' batin Chiyo saat melihat tempat di sekitarnya berubah drastis dengan tempat sebelumnya.

Kemudian Kankuro, Temari, Baki, dan shinobi Suna lainnya langsung mendekati Chiyo dan Gaara. Satu-dua pertanyaan yang sama juga di lontarkan oleh beberapa shinobi Suna.

"Sepertinya kita tidak dibutuhkan," ujar Sasuke dengan nada dingin.

Tanpa mendengar ucapan Sasuke, Naruto ikut sibuk untuk mencoba melihat Gaara yang berada di dalam kerumunan. Namun sebelum ia sempat melihatnya, Kakashi menarik Naruto dan menyeretnya untuk menjauh. Sasuke dan Sakura pun mengikuti Kakashi.

"Syukurlah Gaara tidak apa-apa," kata Naruto sambil mengusap-ngusap matanya. 'Meski Gaara sudah aman, tapi kenapa perasaanku masih tidak enak, dattebayo?' batin Naruto.

"KALIAN SEMUA! MENJAUHLAH DARI KAZEKAGE! BERI KAMI JALAN, SIALAN!"

Suara Temari membuat semua orangnya terdiam. Lalu dengan cepat, shinobi Suna yang mengerumuni langsung mundur beberapa langkah dan memberi ruang pada Temari dan Kankuro untuk membawa Gaara ke rumah sakit.

Setelah semua shinobi Suna menjauh dari dirinya, Chiyo menghampiri tim 7.

'Mereka datang lebih cepat 3 hari dari waktu yang seharusnya. Apa ini karena Namikaze Minato? Yah, entahlah. Selagi mereka di sini, aku akan mencoba memancing mereka,' batin Chiyo. "Ada urusan apa shinobi Konoha datang ke sini?" Dengan suara arogan, Chiyo mengatakan hal itu. Meski Chiyo tahu alasan kenapa tim 7 ada disini, tapi ia berusaha untuk tetap menunjukkan sifat dan wataknya yang tidak suka berurusan dengan desa lain.

"Etoo... Hokage-sama menyuruh kami untuk menyelamatkan Kazekage yang diculik Akatsuki. Tapi sepertinya kami terlambat," jelas Kakashi sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

"Ya, kalian sangat terlambat," balas Chiyo. Lalu dia berjalan menjauhi tim 7.

"Tunggu dulu." Tanpa menunggu respon Chiyo, Kakashi melanjutkan kata-katanya. "Bolehkah aku bertanya sesuatu? Bagaimana caramu menyelamatkan Kazegake?"

'Bagus, mereka kena.'

Chiyo menghentikan langkahnya. Kemudian ia berbalik dan kembali melihat ke arah tim 7.

"Aku mengalahkan salah satu dari mereka. Lalu gadis kecil yang kutemui tengah jalan membantuku lolos dari yang satunya lagi," jelas Chiyo sekenanya.

"Gadis kecil? Siapa?" tanya Sakura spontan. Lalu Sakura melirik ke kiri, kanan, dan sekitar Chiyo.

Chiyo juga melakukan apa yang Sakura lakukan. Setelah melihat sekitarnya, Chiyo kembali melihat tim 7.

"Kalau tidak salah, namanya adalah Minana."

DEG

"Apa?!" ucap Naruto spontan. Kemudian Naruto berjalan mendekati Chiyo. Jarak Chiyo dan Naruto mungkin hanya sekitar 30 cm. "Nenek tua, barusan kau bilang apa?"

"Gadis kecil yang umurnya sekitar 8 tahun. Aku bertemu dengannya di dekat perbatasan Kawa no Kuni. Namanya adalah Minana... Namikaze Minana."

DEG

Namikaze Minana. Saat mendengar nama itu, Naruto langsung menatap Chiyo dengan tatapan kosong. Kakashi, Sasuke, Sakura, dan Chiyo tahu kalau pikiran Naruto langsung tertuju pada satu hal. Melihat Naruto yang seperti itu, Kakashi langsung memegang pundak Naruto.

"Naruto, tenanglah. Itu bukan adikmu," ujar Kakashi mencoba menenangkan Naruto. "Mungkin namanya saja yang mirip. Lagipula, umur adikmu sekarang adalah 16 tahun. Sama sepertimu."

Naruto tidak bergeming sedikitpun. Kakashi mengerutkan alisnya saat melihat Naruto yang seperti ini.

"Ada apa?" tanya Chiyo saat melihat reaksi Naruto.

"Itu adikku, dattebayo," desis Naruto. Suaranya terdengar berat.

Kakashi meremas pundak Naruto... berharap itu berhasil membuat Naruto kembali sadar.

"Naru–"

"ITU ADIKKU, DATTEBAYO!"

Aura berwarna merah langsung menyelimuti seluruh tubuh Naruto. Mata Naruto yang semula berwarna biru kini berubah menjadi mata rubah. Kumis a.k.a 3 garis yang ada di pipinya terlihat lebih tebal dibandingkan sebelumnya. Tanpa memperdulikan teman dan gurunya, Naruto langsung pergi ke tempat yang Chiyo katakan.

"Naruto!" panggil Kakashi, tapi sepertinya itu tidak berhasil.

Kemudian Sasuke dan Sakura bergegas mengikuti Naruto. Sedangkan Kakashi pergi ke tempat Baki. Karena Kazekage sudah aman, Kakashi memberitahu Baki kalau mereka akan pergi ke perbatasan Kawa no Kuni untuk menyelamatkan Namikaze Minana.

'Jangan mati, bocah. Kalian berempat juga jangan sampai mati. Apapun yang terjadi, jangan buat aku menggunakan Kishou tensei pada kalian,' batin Chiyo saat melihat tim 7 pergi.

Kishou tensei adalah jurus terlarang yang diciptakan Chiyo. Jurus tersebut adalah jurus yang bisa menghidupkan seseorang yang sudah meninggal.


-Di Markas Akatsuki-

BRUK

Tanpa memperdulikan keadaan korbannya, Lucky melemparnya ke tanah. Deidara yang sedang duduk langsung mendecih kesal saat melihat Lucky yang datang dengan tangan 'kosong'.

"'Serahkan saja padaku. Aku akan segera membawanya kembali. Kalian beristirahatlah. Nanti akan kukabari jika sudah kutangkap.' Cih! Dasar banyak mulut, hmm!" ocehan Deidara yang juga meniru nada bicara dan ucapan Lucky.

Lucky langsung sweatdrop saat mendengar ocehan Deidara. "Hoi, ngaca dulu sana. Mulutmu 4x lebih banyak dariku. Ah, ralat. Tangan kirimu sudah hilang, jadi 3x lebih banyak."

"Tuan Sasori benar-benar sudah dikalahkan, hmm?" tanya Deidara tanpa peduli dengan kata-kata Lucky.

Lucky menggangguk pelan.

"Lalu kenapa yang kau bawa sekarang adalah gadis kecil? Jangan lakukan nafsu bejatmu di sini, Lolicon Sialan! hmm!"

Sekumpulan air langsung muncul di sekitar tubuh Lucky. Kemudian air tersebut membentuk beberapa tentakel.

"Deidara-kun~, coba katakan lagi. Dan akan kupastikan hari ini menjadi hari 'terindah' yang pernah kau alami, dattebane," ujar Lucky dengan 'lembut'. Namun setelah mengatakan hal itu, Lucky memalingkan mukanya seraya memegang dagunya.

"Ngajak berantem, hmm?!" tantang Deidara.

Lucky masih diam. Dia tidak peduli dengan apa yang Deidara katakan. Atau tepatnya... Lucky terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

'Yang kukatakan tadi... rasanya tidak asing. Pernah dengar dimana, ya?' pikir Lucky.

"HOI, JANGAN ACUHKAN AKU, SIALAN! HMM!"

Lucky masih diam. Sebelum Deidara tambah naik darah, 'seseorang' muncul dari dalam tanah. Muka 'seseorang' itu berwarna hitam putih. Meski 1 tubuh, tapi bagian hitam dan putih pada tubuhnya itu adalah 2 orang yang berbeda.

"Tenanglah, Deidara. Kau tahukan kalau dia memang seperti itu," ujar 'mereka'.

"Urusai! Wakatta yo, Zetsu! Hmm!" balas Deidara kesal.

Melihat reaksi Deidara, Zetsu kini menoleh ke arah Lucky. Lucky menyadari hal itu. Kemudian ia mulai menjelaskan alasan kenapa dirinya melakukan hal ini.

"Gadis kecil ini adalah adik Jinchuuriki Kyuubi. Lalu Jinchuuriki Kyuubi sekarang ada di Suna. Setelah mendengar kabar adiknya, aku yakin kalau dia akan langsung datang kemari untuk menyelamatkannya," jelas Lucky.

"Hee~? Benarkah? Aku tidak tahu kalau Jinchuuriki Kyuubi punya adik," kata Zetsu putih.

"Ngomong-ngomong, kau tidak membunuhnya, kan?" tanya Zetsu hitam.

Lucky mengangguk semangat. "Tentu saja. Sebelum dia kehabisan darah, aku langsung mengkristalkan tubuhnya dengan elemen es. Mau dibiarkan sampai kapanpun, dia tidak akan mati. Selama di dalam es itu, dia sangat aman dan terlindungi," jawab Lucky.

Setelah mendengar jawaban Lucky, '2' Zetsu kembali masuk ke dalam tanah. "Mungkin kau membiarkan tangkapan Deidara lolos, tapi sepertinya kita akan menangkap mangsa yang lebih besar," ujar Zetsu hitam sebelum pergi.

Setelah Zetsu pergi, Lucky duduk di samping Minana. Atau tepatnya... Minana sekarang berada di dekat ujung kaki Lucky. Lucky duduk sambil memeluk lututnya.

'Semua orang di Konoha sudah menganggap kalau Jinchuuriki Kyuubi adalah Namikaze Naruto. Yah, sebaiknya aku ikut-ikutan mereka saja. Atau tepatnya, aku ingin melihat wajah bodoh mereka semua saat tahu kalau di dalam tubuh gadis kecil ini juga tersegel chakra Kyuubi. Fufufufu,' batin Lucky. Ia tidak bisa menahan rasa senangnya saat memikirkan hal itu. Meski terlihat senang seperti itu, tapi sejak tadi tangannya masih saja gemetar... walau tidak begitu terlihat jelas.

"Hoi, kau mulai gila ya, hmm?"


-Dengan Tim 7-

Ratusan boneka yang berserakan dimana-mana. Itu adalah tempat dimana tim 7 berada sekarang. Melihat semua ini, mereka berempat yakin kalau ini adalah tempat pertarungan Chiyo dan salah satu anggota Akatsuki.

Saat memerhatikan sekitar, Naruto melihat suatu tulisan di tanah. Tulisan itu menggunakan darah sebagai tintanya.

Lama tidak bertemu, Naruto-kun. Apa kabar? Sehat?
Lucky-jii-chan jadi-jadian ini kangen padamu, dattebayo. Ayo kita main lagi. Kali ini, Lucky-jii-chan jadi-jadian mengajak adikmu juga. Semakin ramai, semakin menarik, kan?
Ayo datang~. Lurus saja ke depan. Nanti ketemu, dattebayo. Aku tunggu XD

Refleks, Naruto menginjak-injak tulisan tersebut. Amarahnya semakin menjadi-jadi.

"Naruto, tenanglah," kata Kakashi yang mencoba menenangkan Naruto lagi.

"Mana bisa tenang saat tahu adikku sedang dalam bahaya, dattebayo!" bentak Naruto.

"Apa kau lupa dengan apa yang nenek itu bilang? Dia bilang, 'gadis kecil yang umurnya 8 tahun'. Harusnya kau tahu kalau itu–"

"Itu pasti Minana adikku, dattebayo!" bentak Naruto lagi. "Sejak tadi pagi, perasaanku sudah tidak enak! Kukira itu karena Akatsuki telah menculik Gaara! Tapi setelah Gaara selamat, perasaan itu masih tidak hilang, dattebayo! Aku kakak kembarnya, dattebayo! Dia dalam masalah! Aku harus menyelamatkan Minana dari Lukisan Jelek (baca: Lucky-san Jelek) itu, dattebayo!"

Air mata mulai membasahi pipi Naruto. Naruto mengusap air mata yang membasahi pipinya. Namun air matanya tidak mau berhenti.

"Tenanglah," ujar Kakashi entah yang sudah keberapa kalinya. Kemudian Kakashi mengusap pelan kepala Naruto. "Lucky adalah orang yang suka memancing emosi orang. Jika kau sampai terpancing, persentase keberhasilan untuk menyelamatkan Minana jadi semakin kecil. Jangan lupakan itu," tambah Kakashi.

Naruto masih menangis. Melihat hal itu, Kakashi memutuskan timnya untuk istirahat sebentar di sini... setidaknya sampai Naruto tenang.


-Kembali ke Markas Akatsuki-

-POV Lucky-

"Lama, hmm!" gerutu Deidara. Dia sekarang sedang duduk di sampingku.

"Mau bagaimana lagi. Mereka tadi malah istiharat. Tapi mereka sudah lanjut lagi ke sini. Tidak lama lagi mereka akan sampai," balasku tidak semangat.

Tempat ini sangat gelap. Hanya seberkas cahaya saja yang yang masuk ke tempat ini. Itupun lewat sela-sela batu besar yang merupakan pintu dari tempat ini. Meski di sini gelap, dengan mata iblis aku bisa melihat ke luar tempat ini. Dan dari sini, aku bisa melihat apa yang Naruto dkk lakukan. Tidak lama lagi, mereka akan sampai.

"Kisame dimana? Dia tidak ikut ke sini, hmm?" tanya Deidara basa-basi.

"Dia masih di sana. Kemungkinan dia tidak ke sini. Jaraknya terlalu jauh."

Kisame... Hoshigaki Kisame. Dia adalah partnerku di organisaai Akatsuki ini. Orangnya cukup pendiam. Saat pertama kali bertemu, aku sangat sering mengejeknya dan dia sering terpancing. Namun setelah beberapa lama, dia tidak terpancing lagi. Sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan sikapku ini. Yah, mungkin sikap 'rasionalnya' itu lebih dominan. Hmph, padahal jarang sekali aku bisa 'memancing' ikan.

Yah, selama kami menjadi partner, dia lah yang mengurus hal-hal tentang membunuh. Jika tanpa sadar aku memberi luka fatal pada korban, Kisame akan segera membunuhnya sebelum si korban mati karena luka yang kusebabkan itu. Yah, tak jarang kami bertarung selain dengan Jinchuuriki. Itu cukup menyebalkan.

Lalu orang yang disebelahku ini adalah Deidara. Dia adalah orang yang sempat kurekrut untuk masuk ke Akatsuki. Orangnya cukup cerewet. Apa karena mulutnya ada 4? Yah, entahlah. Yang pasti, kami berdua tidak pernah akur. Mungkin karena dialah anggota Akatsuki yang paling mudah untuk dipancing emosinya.

"Mereka sudah sampai di depan," ujarku memberitahu.

Dengan mata iblis, aku bisa melihat tembus pandangan. Aku bisa melihat apa yang ada di luar sana. Naruto dkk sudah sampai di sana. Namun melihat tingkah mereka sekarang, sepertinya mereka sedikit bingung dengan cara untuk masuk ke sini.

"Yare-yare..." gumamku saat melihat tingkah mereka.

Kemudian aku melakukan sebuah handseal. Satu detik kemudian, batu besar itu mulai bergeser. Perlahan jalan masuknya terbuka. Aku sengaja melakukan hal ini. Dengan jumlah mereka sekarang, mereka pasti tidak bisa membuka segel di batu besar tersebut.

Setelah pintu masuknya terbuka lebar, Deidara langsung berdiri. Lalu dia memasukkan tangan kanannya ke dalam kantung yang berisi tanah liat miliknya. Ia membiarkan mulut di tangan kanannya itu memakan tanah liat tersebut.

Mereka berempat masuk ke sini. Di sisi kiri ada Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura, sedangkan di sisi kanan ada Hatake Kakashi dan Namikaze Naruto. Mata Naruto sekarang berwarna biru. Sepertinya Kekasih (baca: Kakashi) berhasil menenangkannya. Setidaknya untuk sekarang.

"Minana!" panggil Naruto-kun spontan setelah masuk ke sini.

Kemudian mata mereka berempat memerhatikan kami. Hingga pandangan mereka tertuju pada gadis berambut merah yang kukristalkan ini.

"Baiklah, Lucky. Tolong katakan yang mana Jinchuuriki Kyuubi, hmm!" kata atau perintah Deidara. Dia juga melihat 4 shinobi Konoha tersebut dengan seksama.

Saat Deidara menanyakan hal itu, aku bisa menduga apa yang sedang ia pikirkan sekarang.

"Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Namikaze Naruto, dan Hatake Kakashi. Jinchuuriki Kyuubi adalah Namikaze Naruto, tepatnya yang memakai baju oranye," jawabku yang masih duduk. "Tapi, aku tidak akan membiarkanmu untuk menangkapnya. Karena dia adalah mangsaku," lanjutku.

"Hee?" balas Deidara dengan nada meremehkan.

Aku bisa melihatnya. Mulut di tangan kanannya sudah selesai 'mengunyah'. Saat tangannya masih di dalam kantung tanah liat itu, tangan Deidara mulai meremas-remas tanah liat tersebut. Dari tanah liat itu, aku bisa melihat dia membuat 2 burung.

'Yare-yare, dia tuli, ya?' pikirku saat melihat tindakannya itu.

"Minana! Kenapa kau diam saja?! Cepat bangun, dattebayo!" seru Naruto-kun.

Spontan aku menoleh ke arahnya. Meski mencoba menahan amarahnya, tapi aku bisa melihat kalau kesabaran Naruto-kun sudah mencapai batas. Melihatnya seperti itu, aku jadi tidak tahan untuk memancing emosinya dengan kata-kata 'manisku'.

"Jangan teriak-teriak begitu. Adikmu di sini. Dia tidak apa–"

"Akan kubunuh kau!" teriak lagi Naruto sebelum aku menyelesaikan ucapanku.

Aku langsung menghela napas saat melihat reaksi Naruto. Membunuhku? Hmph, jangan bercanda kau, Nak. "Hoi, apa-apaan reaksimu itu. Dibandingkan anggota Akatsuki yang lain, aku itu termasuk yang paling 'baik'. Harusnya kau berterima kasih padaku karena aku tidak membunuh adikmu. Yah, meski aku tidak menjamin kalau dia sekarang masih bernapas."

Aku berhasil. Dia terpancing.

Mata Naruto-kun langsung berubah lagi menjadi merah, seperti mata Kyuubi. Kali ini amarahnya terlihat sangat jelas. Melihat hal itu, Kekasih menahan Naruto-kun dari belakang. Sepertinya ia tidak mau Naruto-kun bertindak ceroboh sebelum bertarung.

"Lepaskan aku, Kakashi-sensei!" suruhnya.

Tapi tentu saja Kekasih tidak melakukan apa yang Naruto-kun katakan. Lalu dari ketiadaan, di sekitarku tercipta sekumpulan air. Kemudian dalam sekejap, air tersebut membungkus seluruh tubuhku. Tubuhku sekarang seperti berada di dalam bola.

DUAR

Satu detik kemudian, ledakan 'kecil' terjadi tepat 30 cm di depan mukaku. Sudah jelas kalau itu adalah ulah dari shinobi yang mahir dalam 'Tahijutsu'. Atau yang biasa orang-orang panggil... Deidara.

Dia tadi membuat 2 burung dari 'tahi' (baca: tanah liat). Satunya dia gunakan untuk 'membunuhku'. Lalu satunya lagi, sepertinya akan dia gunakan untuk membawa Minana-chan dan menggunakannya untuk memancing Naruto-kun. Ya, melihat burung besar itu 'memakan' Minana-chan, sepertinya dugaanku benar.

"Minanaaa!" teriak Naruto-kun saat melihat burung tersebut 'memakan' Minana-chan.

"Deidara, jangan buat aku mengulangi ucapanku," desisku. Aku paling benci jika ada yang mengganggu acara 'memancingku'.

"Aku tidak dengar, hmm. Dan aku tidak peduli, hmm," ujar Deidara seraya melompat ke burung putih tersebut.

Aku tidak suka dengan jawabannya itu. Spontan, aku mengubah air di sekitarku menjadi bentuk tentakel. Lalu kugunakan tentakel tersebut untuk menyerangnya. Tapi dengan gesit, burungnya berhasil menghindari seranganku. Selesai menghindar, dia terbang keluar.

"KEMBALIKAN MINANA!"

Dengan sekuat tenaga, Naruto-kun melepaskan diri dari Kekasih. Lalu dia pergi mengikuti Deidara. Melihat hal itu, sepertinya Kekasih tidak punya pilihan lain. Begitu pula dengan diriku yang tidak punya pilihan lain selain membiarkan Deidara yang mengurusnya.

"Sasuke, Sakura, kalian pergilah dengan Naruto!" perintah Kekasih

"Kakashi-sensei sendiri?" tanya Sakura.

"Aku akan menahannya," jawab Kekasih tanpa melepaskan pandangannya dariku.

"Kau yakin? Kudengar dia memiliki kecepatan yang sama dengan Ayah Naruto," tanya balik Sasuke.

"Aku akan mengulur waktu selama yang aku bisa. Tugas kalian adalah membawa atau menyeret Naruto untuk menjauh dari sini."

"Lalu kau?" tanya lagi Sasuke.

"Akan kupikirkan nanti."

Oke, mereka benar-benar mengabaikanku. Hmph, rasanya sedikit kesal juga. Lalu setelah mendengar jawaban Kekasih, Sasuke dan Sakura pergi mengejar Naruto-kun. Yah, Naruto-kun masih ada di depan 'pintu'. Aku ingin sekali melihat apa yang Deidara lakukan padanya, tapi sepertinya aku harus mengurus Kekasih lebih dulu.

"Mengulur waktu? Berapa lama, hm? 1 detik? 10 detik?" tanyaku. Padahal hasil pertarungan ini sudah sangat jelas.

Kekasih hanya diam. Dia langsung menyiapkan kunai dan menunjukkan saringannya (baca: sharingan-nya).

"Ini akan berakhir dengan cepat seperti waktu itu," tambahku.

Tiga tahun yang lalu, aku pergi menyusup ke Konoha bersama Kisame. Saat itu, dia, Asuma, Kurenai, Guy, dan Minato yang menghentikan kami berdua. Aku masih ingat betapa kelelahannya dia menahan semua seranganku saat itu.

Kekasih menatap tajam diriku. Bebarapa detik kemudian, tomoe pada sharingan-nya sedikit berubah. Aku sedikit terkejut saat melihat hal itu. Memangnya pola tomoe pada sharingan bisa berubah-ubah?

Saat aku sedang memikirkan alasannya, tiba-tiba sebuah lubang kecil muncul di dekat mukaku. Lubang itu mencoba menyedot muka tampanku (?). Air di sekitarku juga tersedot ke lubang itu. Melihat hal itu, aku melompat mundur ke belakang. Tapi lubang kecil itu tetap mengikuti dan kembali mencoba menarikku. Kemudian dengan cepat aku melompat jauh ke samping kiriku. Lubang kecil itu kini tidak mengikutiku. Lubang kecil itu sekarang menghilang... dan lenyap begitu saja.

'Ulah Kekasih... huh?' pikirku. Apalagi saat melihat aura tipis berwarna biru pada lubang kecil tersebut.

Dengan mata ini, aku juga bisa melihat aura chakra pada tubuh manusia. Karena chakra berwarna biru, umumnya aura yang kulihat di sekitar tubuh manusia adalah warna biru... seperti milik Kekasih. Namun tidak semua orang memiliki aura berwarna biru. Contohnya adalah aura chakra pada orang yang disegel chakra bijuu di dalam tubuhnya. Atau yang biasa di sebut Jinchuuriki. Dimataku, Jinchuuriki memiliki warna aura chakra yang berbeda. Warna aura pada tubuh Jinchuuriki adalah warna jingga. Itu sebabnya aku tahu kalau di dalam tubuh Minana-chan juga di segel chakra bijuu a.k.a Kyuubi. Ibu Naruto-kun a.k.a Namikaze Kushina juga demikian, meski hanya sedikit.

"Hoo, kau punya trik baru ya?" ujarku mencoba menyelidik.

Dia hanya diam.

"Melihat jurusmu itu, sepertinya aku tidak boleh main-main," lanjutku.

Satu detik kemudian, aku berlari ke arahnya. Lubang kecil itu muncul lagi. Melihat hal itu, aku langsung berhenti. Aku bisa merasakan daya tarik yang sangat kuat dari lubang itu. Sebelum lubang itu 'menghancurkan' kepalaku, aku mengarahkan tanganku ke Kekasih seraya menganalisa jarak kami berdua. Melihat gerakanku ini, Kekasih langsung berlari ke kanan.

'Oh, dia tahu apa yang ingin kulakukan. Tapi...' batinku.

Dalam sekejap, aku sudah berpindah ke belakang Kekasih.

JLEB

'Eh?'

Si Kekasih itu membaca gerakanku. Dia tahu aku berpindah kemana. Kemudian... dia menusuk perutku dengan kunai yang sudah dialiri dengan chakra petir. Lalu tanpa membuang kesempatan, dia memperparah lukaku dengan menyayat tubuhku dengan kunai tersebut.

"Uhuk!"

"Kau punya kebiasaan muncul di belakang."

Setelah menusukku, dia melompat menjauh. Aku memerhatikan Kekasih dengan seksama. Mata sharingan-nya menatap tajam ke arahku. Lalu lubang kecil itu muncul lagi di depan mukaku.

'Ah, begitu, ya?' pikirku. "Kalau kau tidak bisa mengalahkannya, maka bergabung saja," gumamku entah pada siapa. Entah kenapa pikiranku jadi lebih 'enteng'.

Aku memegang lukaku. Karena luka ini, darah keluar dari mulutku. Ginjal bagian kanan dan hatiku terluka parah karena luka bodoh ini.

"Hiraishin..." gumamku lagi.

Dalam sekejap, aku muncul tepat di depan Kekasih. Kemudian aku menarik rompi jounin-nya.

"Uhuk!"

Lubang yang ada di depan mukaku kini menghilang. Dengan mata iblis, aku bisa melihat darah yang keluar dari mulut Kekasih. Dan dengan mata ini pula, aku bisa melihat wajah terkejut yang ia tunjukkan.

"Satu sama. Aku yang menang."

Sebelum lukanya tambah parah, aku mengkristalkan seluruh tubuhnya... sama seperti Minana-chan. Aku sudah mrngkristalkan a.k.a membekukan tubuhnya dengan es, termasuk membekukan waktunya. Meski kubiarkan sekalipun, lukanya tidak akan bertambah parah... dan tidak akan sembuh. Selesai melakukan hal itu, aku melempar Kekasih keluar. Aku yakin kalau tubuhnya sekarang tenggelam ke dalam sungai.

Aku baru sadar kalau 70% tubuh manusia itu terdiri dari air. Aku menggunakan 'air' tersebut untuk melukainya dari dalam.

"Baiklah, sepertinya aku harus memberi 'pengguna Tahijutsu itu' (baca: Deidara) pelajaran," gumamku.

Dari chakra-nya, sepertinya mereka masih berada di depan 'pintu'. Kemudian aku berjalan keluar. Saat berada di luar, aku cukup terkejut melihat apa yang terjadi di sini. Naruto, Sasuke, dan Sakura sekarang berada di permukaan tanah, tepatnya 5 meter di atasku. Yah, kalau saja markas Akatsuki ini tidak dibatasi oleh sungai, markas ini pasti berada di bawah tanah. Tapi... bukan keberadaan Naruto dkk yang membuatku terkejut.

Ada 2 hal yang membuatku (sedikit) terkejut. Pertama, Sakura menyelamatkan Kekasih agar tidak tenggelam. Kedua, mereka berhasil mengambil Minana-chan dari Deidara. Mengingat bahwa Sasuke pengguna raiton dan 'tahi' milik Deidara tinggal sedikit, harusnya aku bisa menduga hal itu. Lalu Deidara sekarang sedang bersembunyi di suatu tempat.

Naruto-kun dan burung Deidara ada di atas pohon. Lalu ia mencoba mengeluarkan Minana-chan dari dalam burung itu. Setelah beberapa detik, ia berhasil mengeluarkan Minana-chan. Tapi... Naruto-kun langsung mematung.

"Naruto, cepat bawa Minana dan pergi dari sini," saran Sasuke seraya mendekat ke Sakura. Si 'Pantat Ayam' (baca: Sasuke) mencoba membantu Sakura untuk membawa Kekasih.

Namun Naruto-kun masih diam. Ya, aku bisa mengerti kenapa dia hanya diam saja. Melihat adiknya yang yang berlumuran darah, tubuhnya yang dingin, dan tak bernapas... siapapun akan berpikir kalau dia sudah mati. Dan melihat adiknya yang sudah menjadi 'mayat', Naruto-kun benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Hal itu bisa dilihat dari gelembung chakra berwarna oranye yang keluar dari tubuhnya.

"Tunggu, Naruto–"

DUAR

Terlambat.

Ledakan kecil terjadi karena tekanan dari chakra yang kuat. Tubuh Naruto-kun dikelilingi oleh sesuatu berwarna hitam. Dahan pohon yang dipijaknya tertelan oleh 'benda hitam' itu... dan membuat Naruto-kun jatuh ke bawah. Benda hitam itu membentuk sebuah bola. Dan Naruto-kun berada dalam 'bola hitam' tersebut. Lalu setelah beberapa detik, 'benda hitam' itu menghilang. Keberadaan Naruto-kun digantikan oleh 'manusia' dengan 4 ekor.

"GRAAOOO!"

"Yare-yare..." gumamku saat melihat hal itu. Lalu aku melompat ke tempat Naruto–

DUAK

"Uhuk!"

P-padahal aku belum menginjakkan kakiku ke tanah, t-tapi Naruto langsung menyerangku. Tangannya memanjang dan 'mencengkramku' hingga terdorong menabrak dinding.

'L-lukaku..!'

Naruto-kun masih 'mencengkramku'. Karenanya, lukaku jadi tambah sakit.

Serangannya belum selesai. Saat aku tidak bisa bergerak seperti ini, mulut 'Naruto-kun' menganga ke atas. Lalu gelembung biru dan merah berkumpul di satu titik. Gelembung tersebut berubah menjadi bola berwarna hitam.

'Bijudama, huh? Aku pasti mati.' Melihat hal itu, siapapun akan berpikir demikian. 'Yang kutahu hanya mengendalikan air dan meniru hiraishin milik Minato. Hmph, kalau tahu seperti ini, harusnya aku belajar beberapa fuinjutsu,' pikirku lagi. Yang kutahu, fuinjutsu adalah salah satu teknik yang cukup sulit ditiru oleh mata ini. Sulit yang kumaksud adalah aku harus 'menulisnya' terlebih dahulu sebelum menirunya.

"Hmph..."

Sebelum dia menyelesaikan jurusnya, aku mengalirkan chakra-ku ke seluruh tubuh dan membayangkan jurus yang ingin kutiru. Tak lupa juga melakukan handseal dengan sebelah tanganku.

"Bersiaplah... Naruto-kun..."

Dinding yang ada di belakangku sedikit retak. Kemudian 4 rantai berwarna emas muncul dari dinding di sekitarku. Itu adalah rantai chakra. Ya, itu adalah teknik yang kutiru dari Kushina 8 tahun silam. Lalu kukendalikan 3 rantai chakra untuk melilit tubuh dan keempat ekornya. Namun serangan tersebut masih belum membuatnya menyerah untuk melepaskanku dan ia masih menciptakan bijudama. Melihat hal itu, aku menggunakan rantai yang terakhir untuk memotong bola hitam tersebut.

DUAR

Karena seranganku itu, bijudama-nya meledak. Yah, tapi hanya ledakan kecil. Dan itu sama sekali tidak melukainya.

Melihat dia sudah 'tenang', aku menggunakan hiraishin untuk berpindah ke dekat Naruto-kun. Yah, karena aku masih merantai tubuhnya, dia tidak akan bisa bergerak untuk menyerangku. Setidaknya untuk sementara.

"Baiklah..." gumamku seraya menoleh ke arah Sasuke dan Sakura yang berada di atas pohon. Sasuke sudah menyiapkan kunai dan kuda-kudanya, sedangkan Sakura masih menompang Kekasih. "Lawanku selanjutnya adalah kau ya... Pantat Ayam-kun," ujarku dengan 'manis'.

-End of Lucky POV-

"Sakura, kau pergilah duluan!"

Tanpa menjawab dan protes, Sakura menuruti perintah Sasuke.

"Tidak akan kubiarkan!" seru Lucky seraya melompat ke arah Sakura.

Namun tiba-tiba Sasuke sudah muncul di depan Lucky. Sasuke juga mengarahkan kunai yang sudah dialiri chakra petir.

'Hiraishin...' batin Lucky.

Dalam sekejap, Lucky berpindah 5 cm ke belakang Sasuke. Sama seperti Kakashi, Sasuke tahu Lucky berpindah kemana. Lalu dia mengarahkan kunai-nya ke belakang.

'Aku sudah melihat serangan seperti itu.'

Lucky juga menyadari apa yang Sasuke lakukan. Lalu sebelum kunai tersebut mengenainya, Lucky berpindah lagi. Kali ini, ia menteleport dirinya ke atas Sasuke.

DUAK

Lucky memegang kepala Sasuke. Kemudian menjenturkannya ke tanah. Lalu air berbentuk tentakel melilit tubuh Sasuke dan membuatnya tidak bisa bergerak.

"Sasuke!"

"Bodoh! Cepat la–"

Sasuke tidak melanjutkan ucapannya saat Lucky sudah muncul di belakang Sakura.

ZRASSH

"SAKURAA!" teriak Sasuke.

Meski dengan tangan kosong, luka yang Sakura terima cukup dalam. Karena lukanya itu, Sakura terjatuh... bersama dengan Kakashi yang ia tompang.

BRUK

Sesaat setelah Sakura terjatuh, Lucky melompat tepat ke tubuh Sakura.

"AAARRGGHH!" teriak Sakura kesakitan.

"HENTIKAAN!" teriak lagi Sasuke. Spontan ia juga mengalirkan chakra petir ke seluruh tubuhnya. Namun, cara itu tidak berhasil untuk melenyapkan tentakel air yang melilit tubuhnya.

Saat masih menimpa Sakura, Lucky melihat tangan kanannya yang berlumuran darah. Tangan kanannya itu terlihat gemetar. Kemudian Lucky melihat Sasuke. Perlahan wajah Lucky terlihat pucat.

'A-apa... ini..? P-perasaan ini... k-kenapa s-sama seperti saat aku menusuk'nya'? K-kenapa 'perasaan bersalah' ini muncul lagi? Kenapa saat melihat Sasuke... aku seperti melihat diriku yang dulu? Eh? Memangnya dulu aku pernah memasang ekspresi sedih dan putus asa seperti itu, ya?' batin Lucky bingung.


-Di Konoha-

Tim Guy. Itu adalah tim yang setiap anggotanya memiliki kemampuan taijutsu yang mengagumkan. Hyuga Neji, Tenten, Rock Lee, dan Might Guy. Itulah nama-nama anggota tim Guy. Lalu sama seperti yang di masa depan, Hokage mengirim tim tersebut untuk membantu tim Kakashi dalam misi penyelamatan Kazekage.

Tim Guy sudah berada di depan gerbang utama Desa Konoha. Mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat. Lalu Godaime Hokage, Namikaze Minato, dan Namikaze Kushina juga berada di sana.

"Baiklah, Lee! Kita akan berangkat ke Suna! Kita harus sudah sampai di sana dalam 2 hari!" seru Guys dengan semangatnya. Tak lupa dia juga melakukan pose anehnya.

"Tidak, Guy-sensei! Satu hari saja sudah cukup!" balas Lee tak kalah semangat.

"Tidak, Lee! Satu jam saja sudah cukup!"

Neji dan Tenten langsung sweatdrop mendengar ucapan mereka berdua.

"Hei, apa kalian lupa kalau Minato-sama ikut dengan tim kita?" gumam Tenten mengingatkan. Nada bicaranya terdengar tidak semangat.

Minato hanya terkekeh melihat tingkah tim Guy.

"Anoo... Tenten. Aku sudah bukan Hokage lagi. Jadi jangan panggil aku sesopan itu," ujar Minato.

"Ah, maaf, Minato-san," ujar Tenten.

"Sudah cukup bercandanya! Hyuga Neji, Tenten, Rock Lee, Might Guy, dan Namikaze Minato! Aku perintahkan kalian berlima pergi ke Sunagakure untuk membantu tim Kakashi dalam misi penyelamatan Kazekage! Paham?!"

Wanita muda berambut pirang yang memiliki payudara yang ukurannya... 'wow'. Dialah yang memerintahkan tim Guy dan Minato untuk membantu tim Kakashi. Dialah shinobi yang memiliki pangkat tertinggi di desa ini. Cucu dari Shodaime Hokage... yang menjabat sebagai Hokage saat ini... Senju Tsunade.

Tim Guy dan Minato mengangguk mengerti. Kemudian mereka berlima saling berpegangan tangan. Lalu sebelum mereka berlima pergi, Tsunade memberikan kantung yang berisi pil penambah chakra pada Minato. Minato langsung menerimanya dan memasukkannya ke dalam tas.

"Kalau begitu, aku pergi dulu, ya, Kushina," sapa Minato sebelum pergi.

...

Dalam sekejap, Minato dan Tim Guy sudah sampai di Desa Suna. Mereka berlima terlihat sangat kelelahan. Mungkin karena chakra mereka habis terkuras akibat hiraishin level 4 yang Minato lakukan. Lalu mereka berlima memakan beberapa pil penambah chakra untuk memulihkan kembali chakra dan tenaga yang terkuras habis.

Saat melihat shinobi Konoha yang tiba-tiba muncul, shinobi Suna a.k.a Baki menghampiri mereka. Chiyo yang masih ada di sana juga ikut menghampiri.


'A-apa... ini..? P-perasaan ini... k-kenapa s-sama seperti saat aku menusuk'nya'? K-kenapa 'perasaan bersalah' ini muncul lagi? Kenapa saat melihat Sasuke... aku seperti melihat diriku yang dulu? Eh? Memangnya dulu aku pernah memasang ekspresi sedih dan putus asa seperti itu, ya?' batin Lucky bingung.

Tiba-tiba saja air melindungi bagian depan Lucky. Satu detik kemudian, air tersebut terbakar. Lucky sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Air yang melindunginya terbakar oleh api hitam. Sebelum mencari tahu asal dari api hitam itu, Lucky mengkristalkan seluruh tubuh Sakura dan membawa Sakura dan Kakashi menjauh dari api hitam itu

'A-apa itu?' batin Lucky yang masih melihat api hitam yang membakar pelindung airnya itu.

Kemudian Lucky melihat ke arah Sasuke yang masih dililit tentakel air miliknya. Namun ia sedikit terkejut saat melihat pola sharingan Sasuke berbeda di bandingkan sebelumnya. Tidak hanya itu. Mata Sasuke juga mengeluarkan darah. Melihat hal itu, perlahan ekspresi terkejut di wajah Lucky mulai menghilang.

"GRAAOOO!"

Perlahan Lucky melihat ke arah Naruto. Chakra Kyuubi yang menyelimuti tubuhnya, perlahan mulai menghilang. Namun saat chakra Kyuubi menghilang dari tubuhnya, tubuh Naruto penuh dengan luka bakar.

"Apa yang terjadi.. padanya?" gumam Lucky entah pada siapa. Lalu rantai chakra yang melilit tubuh Naruto mulai menghilang... menandakan kalau Lucky sudah menonaktifkan jurusnya tersebut.

Lucky kembali melihat ke arah Sasuke. Dan kali ini, tubuh Sasuke di selimuti oleh aura berwarna ungu. Aura ungu itu berhasil melenyapkan tentakel air yang melilitnya. Kemudian, aura ungu itu perlahan membentuk tulang rusuk yang mengelilingi tubuh Sasuke. Lalu satu detik kemudian, aura ungu tersebut membentuk tengkorak. Lucky bisa melihat dengan jelas tengkorak berwarna ungu yang ada di belakang Sasuke.

"Kali ini... apa?" gumam Lucky pelan. Nada bicaranya terdengar 'kosong'. Pancaran matanya juga terlihat kosong saat melihat tengkorak ungu tersebut. Sesuatu yang aneh mulai terjadi pada Lucky.

Melihat tubuhnya yang sudah tidak dililit, Sasuke mulai bangun. Ia menatap Lucky dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Lalu perlahan, tengkorak yang ada di belakangnya mulai berubah. Perlahan, jaringan kulit dan otot muncul dan membungkus tengkorak tersebut. Kini tengkorak tersebut terlihat seperti 'manusia'. Dan 'manusia' berwarna ungu yang ada di belakang Sasuke kini memegang sebuah busur dan panah. Lalu 'manusia' tersebut mengarahkan anak panahnya pada Lucky.

"Panah... kah?" gumam lagi Lucky.

Lucky mengarahkan tangan kirinya pada Sasuke. Dari ketiadaan, air muncul di sekitar tangan Lucky. Lalu air tersebut membentuk sebuah tameng.

Tapi...

Cara itu tidak berhasil menahan serangan tersebut. Panah Sasuke berhasil menembus pertahanan air milik Lucky. Serangan tersebut berhasil menghancurkan bagian kiri perut Lucky. Tidak hanya itu. Setengah tangan kiri Lucky juga terluka karena serangan tersebut. Darah mengalir deras dari lukanya itu.

"Eh?"

Hanya itu reaksi yang Lucky berikan. Ia mencoba menggerakkan tangan kirinya. Namun ia langsung menghentikan tindakannya itu saat tangan kirinya mau lepas dari tubuhnya.

Sasuke mulai menyiapkan serangan keduanya. Ia mulai menyiapkan panah kedua dan mengarahkannya tepat ke kepala Lucky.

"Ah, gawat," gumam Lucky pelan. Tidak ada intonasi pada nada bicaranya itu.

Lucky menatap kosong ke arah Sasuke. Sasuke sama sekali tidak menghiraukan tatapan Lucky. Setelah mengunci targetnya, Sasuke melepaskan anak panah tersebut.

"Aku... menang."

DEG

"Eh?"

Sasuke melotot tak percaya saat mendengar suara bisikan di dekat telinganya. Terlebih lagi, Lucky yang seharusnya ada di depannya, kini sudah tidak ada. Naruto yang seharusnya tidak jauh di sampingnya, sekarang juga tidak ada. Walau tidak tahu bagaimana cara ia melakukannya, tapi Sasuke tahu... kalau Lucky memindahkan dirinya ke belakangnya (baca: belakang Lucky). Lucky memindahkan dirinya agar ia bisa masuk ke dalam 'pelindung ungunya' ini.

"Sayo..nara.."

Lucky memegang pundak Sasuke. Satu detik kemudian, kristal es mulai menyelimuti tubuh Sasuke. Karena hal itu, 'Makhluk ungu' yang melindungi Sasuke juga ikut menghilang.

"Sele..sai.."

Harusnya begitu, tapi tiba-tiba di dekat Lucky muncul 7 orang. Mereka datang entah darimana. Tujuh orang tersebut adalah lima shinobi Konoha dan 2 shinobi Suna. Mereka adalah Namikaze Minato, Rock Lee, Tenten, Hyuga Neji, Might Guy, Chiyo, dan Ebizo.

"Mina..to..?" gumam Lucky saat melihat seseorang yang ia kenal.

Sedangkan Minato hanya diam. Melihat apa yang terjadi pada tim Kakashi, Minato tidak bisa menahan amarahnya. Dia langsung menyiapkan kunai hiraishin-nya.

"Guy-sensei, di atas pohon arah jam 1 ada anak kecil. Kemungkinan itu adalah anak bernama Minana yang disebut Chiyo-san. Lalu 50 meter arah jam 3 ada satu anggota Akatsuki yang sedang bersembunyi," jelas Neji saat memerhatikan sekitarnya dengan byakugan.

"Kalau dia tidak menyerang, lebih baik abaikan saja. Untuk sekarang, kita harus memikirkan cara untuk mengalahkannya," saran Guy.

-Di Tempat Deidara-

Sejak tadi, Deidara hanya bersembunyi dan memerhatikan keadaan di tempat Lucky. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan untuk menolong Lucky. Apalagi tangan kanannya yang tersisa sudah di potong oleh Sasuke.

'Si Bodoh itu..! Apa yang dia lakukan, hmm?! Gara-gara terlalu lama, bala bantuan sudah datang, hmm! Dasar Bodoh, hmm!' gerutu Deidara dalam hati. "Mantan hokage, 2 jounin, 2 chuunin dan 2 orang tua, hmm? Bagaimana caramu lolos dari situasi ini, hmm?"

Meski sedang bersembunyi di balik semak-semak dan jaraknya adalah 50 meter, tapi Deidara tetap bisa melihat apa yang terjadi di sana dengan sangat jelas. Karena mata kiri yang sudah diganti dengan teleskop, Deidara bisa melihat apa yang Lucky dan bala bantuan itu lakukan.

"Apa kalian kesini... hanya untuk mengajakku berantem?"

Meski tidak bisa mendengar apa yang Lucky katakan, tapi dengan mata kirinya, Deidara bisa melihat gerak bibirnya... membuat dirinya bisa tahu apa yang mereka katakan.

"Apa kau akan membiarkan kami jika aku bilang datang karena ingin menyelamatkan Minana, Naruto Sasuke, Sakura, dan Kakashi?" jawab atau tanya balik Minato.

"Ah..." Hanya itu respon yang Lucky berikan. Dia melihat ke arah Naruto. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali melihat ke arah Minato. "...Baiklah. Silahkan saja," lanjut Lucky.

Kemudian Lucky membelakangi Minato dan yang lainnya. Sambil menutup luka di perut kirinya, Lucky berjalan pelan menjauhi mereka. Meski Lucky mulai menjauh, tapi mereka masih waspada jikalau Lucky tiba-tiba melancarkan serangannya. Namun setelah beberapa detik, Lucky sama sekali tidak melambatkan langkahnya. Tidak ada tanda-tanda Lucky akan menyerang mereka.

"S-si Bodoh itu..!"

Melihat Lucky yang seperti itu, Deidara langsung pergi ke tempat Lucky.

...

Beberapa detik kemudian, Deidara sudah sampai di depan Lucky.

"TUNGGU DULU! HMM!"

Mendengar teriakan itu, Lucky menghentikan langkahnya. Minato dan yang lainnya langsung waspada.

"Deidara... kah?" gumam Lucky saat melihat Deidara yang muncul di depannya.

"Kenapa kau tidak menghajar mereka, hmm?! Apa kau ingin melepaskan Kyuubi begitu saja, hmm?!" teriak Deidara tidak terima.

"Kalau kau mau melawannya, silahkan saja. Yang pasti, aku tidak mau bertarung. Gara-gara si Pantat Ayam-kun, semua yang kulakukan jadi terlihat aneh," jawab Lucky.

"Hoi! Kau itu anggota Akatsuki! Semua tindakanmu memang tidak ada yang normal, hmm!" balas lagi Deidara.

"Ah, kau benar," balas Lucky dengan nada datar. Lalu ia melanjutkan jalannya lagi. "Aku ralat. Aku.. sedang.. tidak.. mood.. bertarung."

Deidara sadar ada yang aneh dengan Lucky. "Hoi, apa yang sudah terjadi padamu, hmm?" tanya Deidara.

"..." Lucky tidak menjawabnya.

"Cih!"

Melihat sikap Lucky sekarang membuat Deidara tambah kesal. Lalu pada akhirnya, Deidara memutuskan untuk mengikuti keputusan Lucky. Dua tangannya sudah hilang, lalu Lucky terluka parah. Melihat keadaan dan lawan mereka, kemungkinan untuk menang memang sangat kecil.

Setelah beberapa langkah, Lucky dan Deidara menghilang dari hadapan Minato dan yang lainnya. Melihat situasi sudah aman, Minato, tim Guy, Chiyo, dan Ebizo bergegas membawa Minana dan tim Kakashi pergi dari sini. Chiyo menyarankan mereka untuk membawa yang terluka ke Desa Suna.


TES... TES...

Tetesan air yang berasal dari pipa saluran pembuangan. Tempat yang terlihat seperti saluran pembuangan. Tidak akan ada yang menyangka jika tempat disegelnya Kyuubi akan terlihat seperti tempat sampah.

Rubah ekor sembilan... atau yang biasa di sebut Kyuubi. Selama disegel dalam tubuh anak laki-laki berambut kuning, yang ia lakukan hanya tiduran... sambil memerhatikan inangnya melakukan kegiatan sehari-hari.

Namun keseharian Kyuubi akan berubah... setelah ia mencoba mengendalikan inangnya. Apalagi sampai membuat inangnya mengeluarkan chakra Kyuubi dan mengeluarkan empat ekor.

"Cih! Kenapa kau menghentikanku... Minana?" gumam Kyuubi sedikit kesal.

Gadis berambut merah yang memakai jaket berwarna hitam, serta memakai syal berwarna hijau kebiruan dengan selingan garis putih (note: mirip syal yang dipakai Naruto pas misi di movie Naruto The Last). Dia adalah seseorang yang dipanggil Minana oleh Kyuubi.

"Lama tidak bertemu, Kurama-chan. Hmph, mentang-mentang aku tidak ada, jangan coba-coba berbuat seenaknya pada kakakku, dattebane," balas Minana datar. Lalu Minana berjalan mendekati Kyuubi a.k.a Kurama. Setelah dekat, Minana naik ke atas kepala Kurama dan tidur-tiduran.

"Kalau kau disini, itu artinya kalung simbol Yang yang di pakai bocah itu sudah hancur. Apa kau yakin dengan tindakanmu ini? Sampai berapa lama kau akan bertahan di dunia ini sebelum chakra-mu habis?"

"Aku bisa meminimalkan pengeluaran chakra-ku dengan tidur. Jika aku tidur terus dan Naru-nii-chan tidak 'mengamuk' saat invasi Pain, mungkin aku bisa bertahan sampai hari dimana Naru-nii-chan menguasai kekuatanmu. Konoha nanti," jawab Minana. "Ah, Kurama-chan, Jika aku sudah tidur, tolong sembunyikan diriku di balik ekormu. Aku tidak mau Naru-nii-chan melihatku ada di sini, dattebane," lanjutnya.

"..."

"Dan satu hal lagi, Kurama-chan. Jangan coba-coba 'menyentuh' Naru-nii-chan seperti tadi. Atau kau akan tahu akibatnya."


Dengan jurus hiraishin-nya, Lucky memindahkan dirinya dan Deidara ke markas Akatsuki yang lain. Semua anggota Akatsuki yang lain sedang berkumpul di sana. Atau lebih tepatnya, mereka datang dalam bentuk 'hologram'.

"Gagal, ya?" ujar salah satu anggota yang memiliki mata dengan pola riak air.

"Gomen... Pain..-sama. Aku membiarkan Ichibi dan Kyuubi lolos," jawab Lucky dengan suara yang pelan. "Tapi... aku berhasil mengkristalkan beberapa dari mereka. Aku yakin.. kalau mereka akan.. datang lagi.. ke sini."

BRUK

Setelah mengatakan hal itu, Lucky langsung kehilangan kesadarannya.

"Ah, aku mengerti," balas Pain. "Kakuzu, cepat datang 'kemari'. Lakukan sesuatu pada luka mereka berdua sebelum mereka mati karena kehabisan darah," tambah Pain.

"..."

...

(11 Tahun Sebelumnya)

-POV Lucky-

Namaku Lucky.

Umur 10 tahun.

Hobi memancing emosi orang.

Lalu sekarang... aku sedang berada di Hi no Kuni, tepatnya 500 meter dari tempat pemakaman Konoha. Aku sekarang sedang di duduk di atas pohon sambil melihat ke tempat pemakaman itu.

Dari sini, aku bisa melihat 4 orang a.k.a 1 keluarga sedang mengunjungi makam. Sang ayah memiliki rambut seperti durian, dia juga dikenal sebagai Yondaime Hokage, lalu perempuan dewasa berambut merah itu pasti adalah istrinya, dan 2 anak kecil yang umurnya sekitar 5 tahun itu pasti anak mereka. Yang satu anak perempuan berambut merah seperti sang ibu dan satunya lagi anak laki-laki berambut kuning seperti sang ayah.

Yang membuatku tertarik melihat keluarga itu adalah mereka mengunjungi makam yang bertulisan 'Uzumaki Minana' dan 'Lucky'. Apakah 'Lucky' yang dimaksud itu adalah aku?

Dengan mata merahku ini, aku bisa melihat tembus pandang. Dan aku bisa lihat kalau di dalam 2 makam itu tidak ada mayat atau tulang-tulang.

"Ya ampun, mereka kejam sekali menganggap'ku' sudah mati. Jangan-jangan yang bernama Uzumaki Minana itu juga belum mati," gumamku speechless.

"Ne, ne, Tou-chan, Kaa-chan, kenapa ada syal hitam di batu ini? Maksud Minana, apa syalnya tidak kotor atau diambil orang jika ditaruh disini?" tanya anak perempuan berambut merah. Meski aku tidak bisa mendengar suara mereka, tapi dari gerak bibirnya, kurang lebih itulah yang ia katakan.

"Syal itu dulu milik Minana, dattebane. Sejak dulu tubuh Minana selalu terasa dingin. Makanya Tou-chan dan Kaa-chan menaruh syal itu di sini agar Minana tidak kedinginan, ttebane," jelas sang ibu.

"Uh, Naru nggak ngerti apa yang Kaa-chan katakan, dattebayo," kata anak laki-laki berambut kuning sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.

"Haha, Naru-nii-chan baka. Minana mengerti maksudnya, dattebane," balas anak berambut merah itu. Lalu ia mengambil syal yang dililit di batu nisan itu. Kemudian ia pakai syal tersebut. "Syal ini milik Minana, dattebane."

"Hahaha, dia lucu sekali," ucapku spontan saat melihat tingkah anak-anak itu. Mereka kelewat polos.

Saat sedang asyik ketawa, tiba-tiba anak berambut merah itu melihat ke arahku. Aku langsung diam. Aku benar-benar terkejut. Jarak kami ini 500 meter. Terlebih lagi, aku sekarang berada di atas pohon dan di dalam hutan. Tapi dia... menoleh ke arahku. Dia seperti tahu kalau aku berada di sini.

"Hayolo~h, Minana-baa-chan ada di belakangmu~," ujar anak berambut kuning itu dengan nada seram.

Mendengar suara seram saudaranya, refleks dia langsung menutup mata dan telinganya.

"Minana-chan, ya? Haha, dia benar-benar menarik," ucapku spontan. Pandanganku tidak lepas darinya.

Sebenarnya aku ingin di sini lebih lama lagi, tapi aku harus pergi. Beberapa ANBU Konoha sedang berpatroli dan mendekat ke tempatku. Akan bahaya kalau mereka melihatku ada di sini. Apalagi namaku ada di makam Konoha. Bisa-bisa mereka akan menganggapku ET-Lucky (baca: Edo Tensei Lucky) dan menyerangku.

"Kita akan bertemu lagi..." ucapku sebelum pergi.

Setelah beberapa jam, aku sudah jauh dari Desa Konoha. Lalu aku memutuskan untuk istirahat sebentar di bawah pohon. Untuk anak kecil sepertiku, perjalanan ini sangat melelahkan.

"Darimana saja kau, Lucky?"

DEG

Bulu kudukku langsung berdiri saat mendengar suara wanita itu. Sangking takutnya, aku bahkan tidak mau menoleh ke arahnya. Dia adalah gadis berambut ungu dan ada origami berbentuk bunga di kepala kirinya.

"Konan-nee... kah?" panggilku tidak yakin dan tanpa menatap matanya. Kuharap aku memang salah lihat.

.

.

Bersambung . . .


A/N: Fufufufu, chapter 3... done. Yo, Reader-san. Bagaimana menurut Reader-san tentang chapter ini? Apa Reader-san menyukainya? Fufufu *evil smile*
Ah, baiklah, Kuroki akan menjawab review Reader-san yang belum sempat Kuroki balas.

..

myuu: Yo, myuu-san. Lama tidak bertemu. Makasih sudah mau mampir lagi ke sini. Nih, lanjutan chapter-nya. Apa myuu-san suka? XD

..

Jika ada bagian yang membuat Reader-san bingung, katakan/tanyakan saja. Selama jawabannya bukan spoiler, akan Kuroki jawab /eh
Jika ada bagian yang salah atau semacamnya dalam ff ini, katakan saja. Kuroki hanyalah manusia binasa (?) yang tak luput dari kesalahan.

Ah, iya. Kuroki kasih satu clue untuk Reader-san alasan kenapa Lucky yang sekarang tidak sama dengan Lucky yang dulu. Yah, daripada clue, mungkin lebih tepatnya hanya mengingatkan lagi:
"Alasan kenapa Soul Society membiarkan bount tetap hidup karena dalam tubuh mereka di tanam 'Tiga Hukum'. Jika bount melanggar salah satunya, maka secara otomatis dia akan di reset ulang menjadi bocah berumur 10 tahun. Dengan kata lain, bount tersebut akan di reset seperti saat mereka baru diciptakan." ('kepingan' dari A/N ff Mengubah Masa Depan Chapter 30).

Apa Reader-san mengerti maksud Kuroki? Fufufu, silahkan tebak sendiri *evil smile*

Kuroki minta maaf kalau ada kata yang membuat Reader-san tersinggung. Arigatou karena sudah mau mampir kesini.Kita akan bertemu lagi setelah beberapa tahun lagi *langsung dihajar*
Hehe, hanya bercanda. Tapi mungkin
update-nya tidak menentu seperti biasanya. Gomen nasai.
Jaa ne #BOOF