Konichiwa, Minna-san!
Sakura Yuri mohon maaf karena baru meng-update cerita ini sekarang, kesibukan kami membuat kami tidak sempat menyelesaikan tugas kami di FFn ini...
Terima kasih karena kalian telah sabar menunggu kelanjutan dari BLaDE, selamat menikmati...
Disclaimer: Gundam Seed dan Gundam Seed Detiny sepenuhnya milik Sunrise
Earth – 5 Days Ago
Suasana pagi hari selalu memberikan rasa nyaman dan menyegarkan bagi setiap insan manusia. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi seluruh penduduk desa kecil yang terletak di salah satu sudut hutan pinus pagi itu. Suasana pagi itu berubah seketika saat tempat tinggal mereka yang damai dan tenang kedatangan tamu-tamu yang tidak diundang. Di kala fajar belum penuh menampakkan rupanya di ufuk timur, tiga sosok Angel bersayap putih bersih tiba-tiba saja muncul dan membuat kekacauan secara membabi buta.
Ketiga Angel tersebut merusak dan menghancurkan tempat tinggal para penduduk, mempora-porandakan semua yang ada di tempat itu. Seolah sedang mencari sesuatu atau seseorang, mereka menangkap satu per satu penduduk desa lalu menanyai mereka tentang beberapa hal secara kasar. Dengan mudah mereka akan menghabisi nyawa orang-orang yang telah mereka tangkap - jika mereka tidak mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.
"Cih!" Seorang Angel dengan sepasang sabit hitam di tangannya menendang sesosok mayat yang tergeletak di hadapannya. "Tidak berguna!"
"Di antara sampah-sampah ini tidak ada yang tahu di mana buronan kita berada," gumam seorang Angel berambut merah. "Bedebah!"
Seorang Angel lain dengan rambut hijau melangkahkan kakinya perlahan menelusuri jajaran mayat dan reruntuhan desa kecil yang baru saja ia hancurkan bersama rekan-rakannya. Raut wajahnya memperlihatkan ketidakpuasan akan apa yang ia dapatkan. Sudah lebih dari seminggu ini ia dan kedua rekannya terbang berkeliling dunia, mempora-porandakan puluhan pemukiman manusia, namun belum juga menemukan apa yang mereka cari.
"Di mana kalian…" geram Angel berambut hijau itu sambil mengepalkan tinjunya.
Krek!
Tiba-tiba saja terdengar suara patahan kayu dari sisi kiri para Angel, membuat mereka menoleh secara serempak. Seorang Angel dengan sepasang sabit di tangannya langsung melesat ke sumber suara, berusaha mencari tahu apakah masih ada manusia yang tersisa di desa yang kini telah berubah menjadi reruntuhan.
Rupanya benar, masih ada seorang lagi yang tersisa. Seorang pria tua baya bersembunyi di balik puing-puing, berharap keberadaannya tidak disadari para Angel yang menyerang desanya. Namun sayang harapannya tidak terkabul, kini ia harus berhadapan dengan sepasang sabit hitam yang diarahkan pada lehernya.
"Rupanya masih ada satu lagi," ucap sang Angel sambil sedikit menekankan sabitnya pada leher korbannya. "Boleh langsung kuhabisi?" Tanyanya sambil menoleh pada kedua rekannya.
"Jangan, Shani!" Ucap Angel berambut hijau. "Tidak ada salahnya kita bertanya padanya terlebih dahulu."
"Hmm? Baiklah…" Ucap Shani – Angel dengan sepasang sabit di tangannya – sambil kembali menatap korbannya. "Jika kau bisa memberikan kami informasi yang kami butuhkan, kau akan selamat."
"A-aku mohon… To-tolong l-lepaska-."
"Diam!" Shani semakin menekankan sabitnya pada leher korbannya. Darah segar mulai mengalir dan membasahi sabitnya, "Jawab aku, apakah kau tahu sesuatu tentang Athha? Seorang pria tua dengan sepasang anak perempuan."
Sepasang mata pria tua di hadapan Shani melebar seketika. "M-maksudmu Uzumi dan kedua putri kembarnya?"
Shani langsung menyeringai lebar. "Kau tahu tentang mereka? Di mana mereka?"
"Me-mereka selalu berpindah-pindah tempat, t-terakhir aku dengar mereka tinggal di sekitar pesisir pantai Mendel."
Sekali lagi Shani melebarkan senyum penuh kepuasannya, lalu ia menoleh pada kedua rekannya. "Clotho! Orga! Kalian dengar?" Serunya.
"Ya, tentu saja, Bodoh!" jawab Angel berambut merah. "Jadi bagaimana, Orga?"
Orga – sang Angel berambut hijau - hanya terdiam sejenak. Lalu, ia menengadahkan kepalanya dan bergumam, "Sudah jelas, kita ke Mendel sekarang!"
-Between Light and Dark - Everlasting-
Underworld – 3 Days Ago
Jauh di dalam perut bumi, terdapat sebuah kastil yang sangat megah dan besar. Dindingnya berwarna cokelat keemasan berhiaskan taburan permata yang berkilauan, memantulkan cahaya kemerahan dari sungai lahar panas yang mengalir di sekeliling bangunan raksasa tersebut. Kastil bergaya abad pertengahan tersebut memang sudah ribuan tahun berdiri, namun tak terlihat adanya kerusakan atau bahkan goresan pada bangunan yang menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas para Dark Angel tersebut.
Sungguh merupakan suatu hal yang luar biasa dan sulit dipercaya, sebuah kastil semegah itu dapat berdiri kokoh di bawah naungan perut bumi. Tidak ada apa pun yang dapat kau temukan di sana; selain tanah, bebatuan, lahar, dan bongkahan-bongkahan kristal yang terkubur selama jutaan tahun. Sungai bawah tanah pun tidak ada di sana, tempat itu terlalu dalam dan panas untuk dapat dialiri aliran sungai biasa. Meski begitu, para Dark Angel hidup dengan cukup makmur dan sejahtera di sana. Mereka berhasil bertahan hidup di tempat itu dengan berbagai siasat yang mereka miliki.
"Kak Luna!"
Seorang Dark Angel muda terlihat sedang terbang melintasi halaman kastil yang dihiasi dengan sungai lahar dan taman batu permata dalam berbagai bentuk dan warna. "Akhirnya kalian pulang!" Serunya sambil tetap melesat menghampiri sosok seorang Dark Angel berambut magenta yang baru saja memasuki gerbang Underworld bersama rekan-rekannya. "Selamat datang!"
"Meyrin?" Ucap sang kakak sambil memeluk adiknya yang datang menyambutnya. Senyuman lebar sudah menghiasi wajah cantiknya. "Kami pulang!"
"Syukurlah kalian baik-baik saja," ucap Meyrin sambil melepaskan pelukannya, lalu mengedarkan pandangannya untuk melihat Rey dan Shinn di belakang Luna. "Bagaimana misi kalian?"
"Seperti biasa, kami sukses!" Jawab Luna dengan penuh semangat sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Wah, benarkah?" Meyrin tersenyum lebar sambil menepuk kedua tangannya di depan dada. "Kalian memang hebat!"
"Hoaaahm…"
Tiba-tiba Shinn menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan. "Hanya misi semacam ini… Membosankan," ucapnya dengan nada malas.
"Hey, Shinn!" Luna berbalik untuk menghadap Shinn dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Jangan bicara begitu, tidak baik!"
"Itu benar, Shinn," tambah Rey dengan nada serius. "Sebaiknya jangan meremehkan misi, walau sekecil apa pun."
Shinn menghela nafas kesal sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan, itu saja," ia membuka mata ruby-nya yang sempat tertutup dan menatap Rey. "Kalian tidak perlu sampai seserius itu 'kan?"
"Kau ini, jangan sombong begitu!" Luna tidak menyukai perilaku Shinn yang terkesan seenaknya. "Lengah sedikit saja dan kau bisa mati di medan perang."
"Iya, iya, aku tahu itu," ucap Shinn dengan nada malas sambil memutar bola matanya, membuat Luna semakin kesal karena merasa kata-katanya diremehkan.
"Ahahahaha," tiba-tiba terdengar suara tawa seorang pria dari belakang, membuat Shinn, Luna, Rey dan Meyrin menoleh pada sumber suara. "Ace Hunter memang hebat ya?" Ucap pria itu sambil melayang perlahan menghampiri Shinn dan yang lainnya.
"A-Athrun?" Luna sedikit terkejut mendapati sosok The Red Knight di hadapannya.
"Hai, Semua," sapa Athrun saat ia sudah berada di hadapan Shinn dan yang lainnya.
"Lama tidak bertemu, Athrun Zala," ucap Rey.
Athrun tersenyum tipis. "Ya, akhir-akhir ini semakin banyak misi yang harus diselesaikan," Athrun mengedarkan pandangannya untuk mengadakan kontak mata dengan keempat Dark Angel muda di hadapannya. Tanpa ia sadari, tindakannya itu membuat Dark Angel berambut merah yang berdiri paling belakang sedikit terkejut dan langsung menundukkan wajahnya. "Bagaimana dengan kalian?"
"Kami juga jadi semakin sibuk," jawab Luna. "Apalagi setelah Shinn diberi gelar Ace Hunter, misi kami jadi berkali-kali lebih banyak dari sebelumnya."
"Begitu ya?" Respon Athrun, tanpa menyingkirkan senyum di wajah tampannya. "Kalian memaang tim yang hebat, kuharap kalian bisa terus berkembang dan menyelesaikan semua misi dengan sebaik-baiknya."
"Itu sudah pasti," ucap Shinn dengan penuh keyakinan. "Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan misi, itu pasti."
Athrun menatap sepasang mata Shinn yang dipenuhi dengan kobaran semangat dan keyakinan di dalamnya, mengamati sinar mata ruby yang tajam dan kokoh dengan seksama. Untuk beberapa alasan, Athrun merasa lega saat melihat kobaran api semangat tersebut. Namun entah mengapa, ia juga mengkhawatirkan keyakinan yang dimiliki oleh Shinn. Ia berharap kepercayaan diri pada diri Shinn tidak akan menjadi boomerang bagi Dark Angel berambut hitam itu, berubah menjadi kesombongan yang akan membahayakan dirinya sendiri.
"Ngomong-ngomong, kau dari mana?" Suara Luna berhasil memecah pemikiran panjang Athrun. "Kau sendirian? Tidak bersama tim?"
Athrun mengangguk kecil. "Aku keluar bukan karena misi, jadi aku tidak bersama Dearka dan yang lainnya."
"Apa yang dilakukan The Red Knight sendirian di bumi?" Tanya Rey. Entah mengapa nada bicaranya terdengar sinis di telinga Athrun. "Bermain-main dengan Pangeran Skyworld?"
Athrun tersenyum masam, Rey jelas sedang menyindirnya. "Aku tidak bermain-main, aku bertarung dengannya."
"Lalu? Bagaimana?" Tanya Luna. "Kau berhasil mengalahkannya?"
Athrun menggeleng pelan. "Sayangnya tidak, dia berhasil melarikan diri."
Keheningan sempat tercipta di antara kelima Dark Angel tersebut selama beberapa detik; sampai akhirnya Shinn berkata, "Kenapa Red Knight membiarkan seorang Light Angel lemah lari? Seharusnya kau bisa membunuhnya dengan mudah 'kan?" Dengan nada bicara yang terkesan meremehkan.
"Kira Yamato bukanlah Light Angel lemah seperti yang kau katakan, Shinn," jawab Athrun tegas. "Kau akan tahu jika kau bertarung sendiri melawannya, dia bukan lawan yang mudah ditundukkan."
"Cih," Shinn membuang muka. "Aku yakin seratus persen bisa membunuh Prince Skyworld itu jika aku bertemu dengannya."
Athrun tidak membalas perkataan Shinn. Ia tidak ingin membuat masalah dengan sesama rekannya hanya karena persoalan kecil. Ia hanya menyipitkan matanya, menatap tajam Dark Angel bermata ruby yang berusia 2 tahun lebih muda darinya itu dalam diam.
'Dengan kesombonganmu itu, kau tidak akan mungkin bisa mengalahkan Kira Yamato, Shinn.'
Athrun memejamkan matanya sesaat, lalu menghirup dan menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Lalu ia membuka matanya dan menatap ketiga Dark Angel lain yang masih berjajar di hadapannya.
"Ngomong-ngomong, apa kalian tahu di mana Dearka, Nicol dan Yzak?" tanya Athrun dengan sopan.
"Kami baru kembali dari misi, jadi kami belum bertemu mereka," jawab Luna.
"Um…" tiba-tiba terdengar suara pelan Meyrin. "Kalau tidak salah, aku melihat mereka di perpustakaan kastil…"
"Hm? Begitu ya?" Respon Athrun sambil tersenyum. "Terima kasih, Meyrin, aku akan menemui mereka," ucapnya sambil mulai melayang menuju kastil, melewati sosok Shinn, Rey, Luna dan Meyrin. "Sampai jumpa lagi!"
Dengan itu, Athrun melesat dan meninggalkan rekan-rekannya. Shinn dan Rey hanya menatap kepergian Athrun dengan ekspresi wajah yang datar, Luna melambaikan tangannya pada punggung Athrun dan Meyrin hanya terdiam dengan kedua pipi yang sedikit merona.
"Rupanya kalian di sini?"
Suara seseorang berhasil menarik perhatian Shinn dan teman-temannya. Mereka mendapati seorang Angel berambut pirang sedang mendekati mereka. "Aku mencari kalian ke mana-mana."
Shinn dan yang lainnya langsung membenahi posisi berdiri mereka, memberi penghormatan pada pria bertopeng yang saat ini sudah berdiri di hadapan mereka.
"Apa ada yang bisa kami bantu, Tuan Rau?" tanya Rey.
Rau mengangguk, lalu menjawab, "Rey, Shinn dan Luna," ia mengedarkan pandangannya untuk menatap ketiga Angel yang ia sebut namanya secara bergiliran. "Tuan Gilbert ingin bertemu dengan kalian, segeralah pergi melapor pada beliau!"
"Baik, Tuan Rau," jawab Shinn, Rey dan Luna secara bersamaan, lalu mereka bertiga segera melesat menuju kastil Underworld dengan Meyrin mengikuti mereka dari belakang.
"Hmmh…" Rau menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Semoga saja kalian bisa segera menemukan Pedra dan Shera."
-Chapter: 2-
"Masuklah," Gilbert mempersilahkan seseorang yang baru saja mengetuk pintu ruangannya dari luar. Didapatinya tiga sosok Dark Angel melangkahkan kaki mereka memasuki ruang kerjanya.
"Akhirnya kalian kembali," Gilbert menampilkan senyuman tipis untuk menyambut kedatangan anak buahnya. "Bagaimana dengan misi kalian?"
Seorang pria berambut pirang di antara ketiga Dark Angel yang saat ini telah berjajar di depan meja kerja Gilbert menjawab, "Misi kami telah terselesaikan dengan baik, Tuan Gilbert," dengan datar, namun tegas. "Kami telah menyapu bersih para Light Angel di area A-CF-27 dan sekitarnya."
Gilbert mengangguk kecil, tanpa melenyapkan senyum di wajahnya. "Sesuai harapan, kalian memang tim yang bisa diandalkan."
"Terima kasih, Tuan Gilbert," jawab Rey.
"Lalu, ada perlu apa Tuan Gilbert memanggil kami?" Tiba-tiba Luna yang berdiri di antara Shinn dan Rey bertanya dengan nada santun. "Apakah kami akan mendapat misi baru lagi?"
Lagi-lagi Gilbert menganggukkan kepalanya, "Tepat sekali," ia mengalihkan pandangannya sejenak pada sebuah buku di sisi kanan mejanya, mengambilnya, dan membuka-buka halaman buku tebal tersebut. "Aku punya tugas penting untuk kalian bertiga."
"Apakah kali ini kami akan ditugaskan untuk menyerbu markas lawan?" Tanya Shinn yang mulai merasa penasaran dan juga antusias.
Gilbert menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, membuat Shinn sedikit merasa kecewa. "Tugas yang kuberikan pada kalian sekarang akan sedikit berbeda dari biasanya," Gilbert membalik dan menjulurkan buku tua yang sudah terbuka di mejanya, membuat Rey, Luna dan Shinn dapat memperhatikan halaman yang terpapar dengan lebih baik. "Kali ini aku ingin kalian mencarikanku sesuatu dii bumi."
"Mencari sesuatu?" gumam Rey. "Maksud Tuan, mencari seseorang? Atau…?"
"Ya, aku ingin kalian mencari seseorang bernama Uzumi Nala Athha," jawab Gilbert. "Dia adalah seorang manusia yang saat ini tidak diketahui secara pasti keberadaannya."
"Mengapa kami harus mencarinya?" Tanya Shinn. "Apakah orang itu telah melakukan sesuatu? Apa ada hubungannya dengan Underworld?"
"Dia telah pergi membawa harta Underworld yang paling berharga," gumam Gilbert. "Orang itu membawa Pedra dan Shera bersamanya."
"Pedra dan Shera?" Luna tiba-tiba bersuara dengan nada terkejut. "Jadi, legenda tentang Pedra dan Shera itu nyata?"
"Ya, Pedra dan Shera memang benar-benar ada," Gilbert menyipitkan kedua matanya. "Selama puluhan tahun aku sudah berupaya untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita, para Dark Angel."
Shinn, Rey dan Luna sempat terdiam untuk beberapa saat. Ketiganya terlihat sangat terkejut, namun juga bingung di saat yang bersamaan. Terlihat jelas bahwa saat ini mereka bertiga sedang berusaha mencerna informasi yang baru saja mereka dapatkan dengan seksama, berusaha memahami makna dan maksud dari setiap kata yang terucap oleh Gilbert.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Gilbert," akhirnya Rey menjawab dengan suara tegas, namun tetap santun. "Kami akan berusaha menemukan orang bernama Uzumi Nala Athha dan membawa serta Pedra dan Shera ke Underworld," lanjutnya. "Apakah tidak ada petunjuk yang bisa membantu kami dalam memulai misi pencarian ini, Tuan Gilbert?"
"Sayang sekali, sama sekali tidak ada petunjuk lain mengenai orang bernama Uzumi Nala Athha," Gilbert mengetuk-ngetuk halaman buku di atas meja dengan telunjuknya. "Hanya gambar ini yang kumiliki sebagai petunjuk untuk kalian."
Shinn, Luna dan Rey maju selangkah untuk mendekati meja kerja Gilbert. Ketiganya memperhatikan sebuah halaman buku tua yang ditunjukkan pada mereka, terdapat sebuah gambar sketsa sederhana dan beberapa baris tulisan kuno di halaman tersebut.
Kedua mata ruby Shinn sedikit melebar dan ekspresi wajahnya langsung berubah. "Ini…"
-The Most Wanted-
Earth – Present Time
Cuaca di sekitar pesisir pantai Mendel hari ini begitu cerah, begitu indah dan begitu sempurna. Matahari bebas bersinar tanpa halangan di langit biru, angin segar berhembus sepanjang garis pantai, ombak di pesisir pun terlihat begitu bersahabat. Kawanan burung camar dan angsa terlihat memanfaatkan cuaca hari ini dengan maksimal, mereka dengan antusiasnya berburu dan menikmati ikan-ikan segar di tepian batu karang. Segerombolan anak-anak dan remaja pun tak mau kalah, mereka berlomba-lomba mencari ikan terbesar dan terbanyak untuk makan malam.
"Aku dapat lagi!" Terdengar sorakan riang dari seorang bocah remaja. "Kali ini ikannya besar!"
"Benarkah? Coba lihat!"
"Aku juga dapat!"
"Lihat, di sini juga banyak ikannya!"
"Ayo kita cari di sana!"
Seorang pria hanya bisa tersenyum ketika ia memperhatikan tingkah laku sekelompok bocah yang sedang berlarian dari satu tempat ke tempat lain di sekitar tebing dan batu karang. Ia merasa senang dan damai saat melihat anak-anak itu berlarian dengan bebasnya. Ia sangat berharap bahwa pemandangan yang tersaji di hadapannya saat ini adalah pemandangan yang dapat ia nikmati setiap harinya. Ia ingin anak-anak itu dan kedua putri kesayangannya dapat bermain dengan bebas serta menikmati hidup mereka tanpa adanya rasa takut akan Angel.
"Ayah?"
Panggilan seorang gadis berhasil menarik perhatian pria paruh baya tadi. Ia mendapati salah satu putrinya sedang berjalan menghampiri batu karang besar di mana ia duduk saat ini. "Ayah sedang apa? Istirahat?"
Uzumi mengangguk. "Ya, ayah ingin bernafas sejenak," ucapnya sambil menghapus peluh di wajah dengan lengan bajunya. "Di mana Stellar, Cagalli?"
Cagalli segera sampai dan berdiri di samping ayahnya, ia meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa di tangannya ke atas batu karang di dekat sang ayah. "Ayah sudah bekerja keras sejak beberapa hari yang lalu, wajar saja ayah lelah." Ia beralih ke punggung ayahnya, lalu memijat punggung sang ayah. "Aku tidak tahu di mana Stellar. Mungkin dia sedang bersama Myrna di suatu tempat."
Uzumi meraih minuman yang dibawakan putrinya, lalu ia meneguk minuman tersebut. "Sekarang sudah tengah hari, apa kalian sudah makan?" Tanyanya setelah selesai mengusir dahaga.
"Belum," Cagalli menggelengkan kepalanya, tangannya masih sibuk di pundak sang ayah. "Tadi aku ingin mengajak Stellar makan bersama di sini, tapi aku tidak menemukannya di mana pun."
"Kalau begitu sebaiknya kau segera mencarinya," ujar Uzumi sambil sedikit meregangkan pundak dan lehernya yang kaku. "Kau tahu 'kan, kadang Stellar suka berbuat nekad dan diam-diam pergi entah ke mana." (Yah, ini emang aku, nekad… Bwahahahaha… ^o^v)
"Ayah tenang saja, Stellar pasti hanya membantu orang-orang di sekitar sini seperti biasanya," Cagalli mengalihkan pandangannya dari sosok sang ayah, ia menatap lurus ke depan. Kedua mata orange Cagalli sempat mengamati secara detil sebuah objek yang ada di hadapannya, sebelum akhirnya kembali mengarah kepada sang ayah. "Ayah…"
"Hmm?"
"Apa kita… Akan benar-benar meninggalkan tempat ini?" Tanya Cagalli dengan suara pelan, hampir berbisik. "Sampai kapan kita… Kita akan hidup dengan cara seperti ini?"
Keheningan sempat tercipta di antara keduanya, hingga akhirnya Uzumi menghembuskan nafas panjang dan menjawab, "Ayah tahu ini berat bagi kalian, tapi…" Uzumi bangkit dari posisinya, lalu berbalik dan meraih pundak Cagalli dengan kedua tangannya. "Percayalah, ayah melakukan ini semua demi keselamatanmu dan Stellar…"
Cagalli menatap mata ayahnya, ia mendapati sinar mata yang tegas, jujur dan kokoh. "Ayah, walaupun begitu…" Cagalli menundukkan wajahnya. "Walaupun kita terus berpindah-pindah, kita akan tetap dihantui para Angel," sekarang ia mengepalkan kedua tangannya. "Jadi percuma saja kita lari, mereka ada di mana-mana dan-."
"Cagalli…" Panggilan tegas sang ayah berhasil membuat Cagalli menatap lawan bicaranya. "Dengarkan ayah baik-baik," ucap Uzumi serius. "Ada alasan kenapa ayah begitu melindungimu dan Stellar, kenapa ayah bertindak tegas sampai terkesan mengekang dan menyembunyikan kalian berdua dari dunia luar…" Uzumi tetap menatap mata putrinya dalam-dalam, berusaha meyakinkan Cagalli bahwa ia benar-benar serius. "Kalian berdua sangatlah istimewa… Kalian adalah harta ayah yang paling berharga…"
Dengan itu, Uzumi mendekatkan tubuh mungil Cagalli padanya. Pria berambut hitam keabu-abuan itu memeluk erat putrinya, membuat Cagalli sedikit terkejut. Setelah beberapa saat berlalu, Uzumi berbisik di telinga Cagalli, "Ayah benar-benar tidak ingin kehilangan kalian… Kalian berdua terlalu berharga bagi ayah…"
Mendengar suara bisikan ayahnya yang lirih, hati Cagalli yang keras pun luluh dan akhirnya ia membalas pelukan ayahnya. "Aku mengerti, Ayah…"
Setelah beberapa saat berlalu, Uzumi akhirnya melepaskan pelukannya. Ia tersenyum pada Cagalli dan berkata, "Sekarang sebaiknya kau cari Stellar, kita makan bersama di sini."
Cagalli balas tersenyum, lalu mengangguk. Segera ia berbalik dan melangkah pergi, melompati bebatuan menuju sebuah mulut gua di antara batu karang. Uzumi yang terdiam di tempatnya hanya bisa tersenyum memandangi punggung putrinya. Ia selalu merasakan kebahagiaan yang tiada tara ketika memikirkan kedua putrinya yang sangat berharga.
Setelah sosok Cagalli menghilang, Uzumi membalikkan tubuhnya. Kedua mata Uzumi segera mendapati sebuah perahu kecil yang selama beberapa hari ini ia kerjakan bersama beberapa orang yang dengan sukarela membantunya. Dengan perahu yang hampir terselesaikan ini, ia dan kedua putrinya akan pergi meninggalkan pantai Mendel. Dengan perahu kecil yang sederhana ini, ia dan keluarga kecilnya akan memulai kembali pengelanaan mereka. (Dengan perahu kecil yang sederhana ini, Wolfy pergi ke Negara Sakura untuk mengambil enam buah strawberry :p)
'Sebaiknya aku segera menyelesaikan perahu ini, lalu membawa Stellar dan Cagalli pergi.'
Uzumi membungkuk untuk meraih beberapa perkakas yang ia perlukan untuk memulai kembali pekerjaannya, kemudian melangkah mendekati badan perahu.
'Sebelum badai datang menghampiri kami dan semuanya terlambat.'
-By: Sakura Yuri-
"Hmmmm~," seorang gadis bermata magenta terlihat sedang sibuk – memilah dan memetik dedaunan – di sekitar semak-semak. Gadis itu terlihat begitu menikmati kesibukkannya, bahkan ia juga bersenandung merdu sambil memasukkan daun-daun yang ia petik ke dalam keranjang di tangan kirinya.
"Tanaman obat~, mencari tanaman obat~" Stellar – gadis bermata magenta tadi – terus bersenandung riang, ia kemudian berdiri dan beranjak ke semak lain di sisi kanannya berdiri saat ini.
Karena ia terlalu berkonsentrasi pada apa yang sedang dilakukannya saat ini, Stellar tidak menyadari keberadaan seseorang di dekatnya. Orang itu perlahan-lahan melangkah menuju sosoknya, dengan sangat berhati-hati mulai mendekati punggung Stellar. Gadis berambut pirang itu benar-benar tidak menyadari kedatangan orang lain di belakangnya, hingga tiba-tiba ia merasakan hembusan angin lembut yang terasa hangat di bagian belakang lehernya. Belum sempat Stellar menoleh, sepasang tangan telah meraih wajah dan menutupi pandangan matanya.
"Kyaaaa!" Secara refleks Stellar menjerit dan menjatuhkan keranjang yang ia bawa.
"Aduh, Stell!" Stellar mendengar suara dari belakang, suara seseorang yang sangat ia kenal. "Kau berisik!" Orang itu melepaskan kedua tangannya dari mata Stellar.
"Kakak!" Stellar segera berbalik dan menatap Cagalli – orang yang baru saja berhasil mengejutkannya – dengan sedikit kesal dan horor. "Kakak keterlaluan! Tadi Stellar benar-benar takut…"
"Hahaha," Cagalli mengusap bagian belakang lehernya, lalu menunduk dan memungut keranjang Stellar yang terjatuh. "Maaf, aku tidak menyangka kalau kau benar-benar tidak menyadari kedatanganku tadi."
Stellar menghela nafas panjang dan berusaha menenangkan jantungnya yang sempat berdebar tidak beraturan karena takut. Lalu, ia bergabung dengan Cagalli yang sekarang sedang sibuk memunguti tanaman obat yang berserakan. "Stellar benar-benar tidak sadar, kakak datang seperti hantu saja."
"Kau ini…" Gumam Cagalli. "Padahal tadi aku sudah lama berdiri di sana dan mengawasimu, tapi kau sama sekali tidak sadar," Cagalli melirik ke arah tempat di mana ia berdiri sambil mengawasi Stellar selama beberapa saat. "Bagaimana kalau sampai ada Angel datang dan mendekatimu, hah?"
"I-iya, maaf…" Stellar menundukkan wajahnya, ia terlihat sangat menyesal.
"Lain kali kau harus lebih berhati-hati dan waspada, apalagi kalau sedang sendirian seperti tadi," ujar Cagalli.
"Iya, Kak…"
Setelah selesai memunguti semua tanaman obat yang berserakan di tanah, Cagalli dan Stellar segera bangkit dan membersihkan pakaian mereka dari debu dan pasir. "Lalu, kenapa kau di sini?" Tanya Cagalli tiba-tiba. "Kenapa kau mengumpulkan tanaman obat sendirian?"
"Um, persediaan tanaman obat hampir habis dan kita akan segera pergi…" Stellar menatap isi keranjangnya. "Jadi Stellar ingin mempersiapkan bekal tanaman obat untuk kita."
"Kenapa tidak mengajakku?"
"Tadi kakak sibuk membantu ayah, jadi Stellar pergi sendiri…" Stellar kembali menundukkan wajahnya.
"Hhhh…" Cagalli menghela nafas panjang, lalu menyerahkan keranjang di tangannya pada Stellar. "Ya sudah, ayo kita ke tempat ayah?" ajaknya sambil sedikit mengacak-acak rambut Stellar. "Kita makan siang bersama."
Stellat langsung tersenyum dan mengangguk kecil. "Iya!"
Dengan itu Stellar menggapai dan menggandeng tangan kakaknya, bersama-sama mereka mulai melangkah pergi menuju tempat di mana ayah mereka berada. Namun di saat mereka baru saja akan meninggalkan kawaasan hutan, mereka tiba-tiba mendengar suara aneh dari belakang. Suara berisik yang terdengar samar itu berasal dari dalam hutan, namun dari arah yang berbeda dengan tempat mereka mencari tanaman obat tadi.
"Siapa?" Cagalli berusaha mencari tahu apa atau siapa sumber dari suara gesekan ranting dan daun yang ia dan Stellar dengar.
Walaupun pada mulanya ia terkejut dan merasa ketakutan, akhirnya rasa ingin tahu menguasai Cagalli. Gadis bermata orange itu perlahan-lahan mulai mendekati sebuah pohon besar yang menjadi tempat suara aneh tadi berasal, diikuti Stellar di belakangnya. Mereka berdua berusaha mengendalikan rasa panik dan ketakutan mereka, keduanya sama sekali tidak berharap untuk menemukan Angel di sana.
Saat keduanya sudah semakin dekat dengan sesuatu yang menjadi sumber suara, mereka mendapati sebuah batang pohon dengan seutas tali melingkarinya di atas kepala mereka. Beberapa langkah kemudian, mereka menangkap sosok mahluk berbulu yang bergerak-gerak di balik dahan pohon. Akhirnya mereka terus melangkah hingga mulai memutari dahan pohon dan menemukan…
"Woof!"
"Eh?" Cagalli mengedipkan matanya beberapa kali ketika ia mendapati sosok mahluk berbulu yang ada di hadapannya. "Dasar! Kukira tadi apa," ia menghela nafas lega. "Ternyata hanya anak anjing."
"Woof! Woof!"
Di hadapan Stellar dan Cagalli saat ini adalah seekor anak anjing berbulu putih di bagian perut, abu-abu di bagian punggung dan telinganya berbulu hitam. Anak anjing itu tergantung di bawah salah satu batang pohon, salah satu kaki belakangnya terjerat tali tambang yang merupakan bagian dari jebakan pemburu.
"Eh… Kasihan sekali," Stellar mendekati anak anjing yang tergantung tadi. Anak anjing itu tidak tergantung terlalu tinggi – hanya setengah hingga satu meter di atas tanah – sehingga Stellar dapat membawa anak anjing itu ke dalam pelukannya.
"Ini pasti jebakan Rusty dan yang lain untuk menangkap kelinci," ucap Cagalli saat ia mengamati potongan sayuran di sekitar pohon. "Bisa-bisanya kau terjebak di sini? Memangnya kau makan wortel?" Tanya Cagalli sambil menatap anak anjing di pelukan Stellar.
"Woof!" Seolah mengerti akan ucapan Cagalli, anak anjing berbulu abu-abu itu menjawab dengan gonggongan yang cukup keras sambil menatap Cagalli.
"Kakak?" Stellar mengusap-usap bulu si anak anjing. "Kita harus menolongnya."
"Hmmh," Cagalli membalikkan tubuhnya, lalu melangkah menuju sebuah akar pohon di mana tali jebakan bermuara. "Aku tahu," Cagalli mulai berusaha melepaskan ikatan tali tambang pada akar pohon. "Pertama, kita turunkan dia dulu."
Setelah Cagalli berhasil melepaskan ikatan tali tambang pada akar pohon, Stellar berusaha melepaskan jeratan tali yang ada di kaki anak anjing dalam pelukannya. Cagalli pun segera datang dan membantu Stellar, mereka berdua melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak melukai si anak anjing.
"Nah, sekarang kau sudah bebas," ucap Stellar dengan riang, setelah ia dan kakaknya berhasil menyingkirkan tali jebakan dari kaki si anak anjing. "Tapi kakimu terluka…"
Cagalli yang sedang sibuk membuang tali jebakan langsung mengamati kaki belakang si anak anjing, salah satunya terlihat memerah dan sedikit mengeluarkan darah. "Jangan khawatir, itu hanya luka kecil," Cagalli merobek sedikit lengan bajunya. "Kita balut saja, beberapa hari lagi juga pasti sembuh."
"Ah, kalau begitu beri dia ini," Stellar mengambil selembar daun dari keranjangnya. "Tanaman ini akan membantu proses penyembuhan lukanya," ucapnya sambil menunjukkan selembar daun pada Cagalli.
Cagalli mengangguk, lalu menyerahkan bagian lengan baju yang ia robek pada Stellar. "Kalau begitu, kau balut saja lukanya."
Stellar mengangguk sambil menerima selembar kain dari kakaknya, lalu ia mulai membalut kaki belakang si anak anjing dengan hati-hati. Setelah selesai, kedua kakak-beradik itu bermaksud untuk kembali ke tempat tinggal mereka dan menemui sang ayah. Namun saat mereka mulai melangkah, si anak anjing terlihat bersusah payah mengikuti langkah mereka.
"Ya ampun," Cagalli memutar bola matanya. "Jangan ikuti kami, pulanglah ke hutan."
"Woof…" si anak anjing menatap Cagalli dan Stellar dengan mata sedih dan memohon.
"Kakak…" Cagalli menoleh pada Stellar. "Apa tidak bisa kita membawanya pulang?"
"Apa?" Cagalli meletakkan sebelah tangannya di pinggang. "Apa kata ayah nanti?"
"Um, tapi…" Stellar menatap si anak anjing, lalu kakaknya. "Kasihan dia, Kak…"
Cagalli hanya terdiam menatap wajah sedih dan memohon sang adik, lalu akhirnya ia menghela nafas dan menjawab, "Ya sudahlah, bawa saja dia."
"Benarkah?" Stellar tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. "Terima kasih, Kakak!" soraknya sambil memeluk sang kakak, lalu berlari untuk menghampiri si anak anjing. Setelah itu mereka berdua pun akhirnya meninggalkan kawasan hutan dengan membawa si anak anjing dalam pelukan hangat Stellar.
-Cagalli & Stellar-
"Paman!" Uzumi mendengar suara Rusty, membuatnya menoleh dan mendapati pemuda itu sedang membawakan beberapa batang kayu untuknya. "Hanya ini yang bisa aku menemukan, maaf…"
Uzumi tersenyum tipis pada Rusty. "Tidak apa-apa, ini sudah cukup," ucapnya. "Terima kasih banyak, Rusty."
"Tidak masalah, Paman," Rusty meletakkan kayu yang ia bawa. "Kapan kalian akan pergi?"
"Secepatnya," jawab Uzumi. "Segera setelah perahu ini selesai."
"Paman… Kami semua pasti akan merindukan kalian," ucap Rusty. "Kembalilah ke sini dan berkunjunglah sesering mungkin."
"Iya, pasti," jawab Uzumi sambil tersenyum. "Kami juga tidak akan melupakan kalian semua."
"Baiklah Paman, akan kuambilkan perkakas lain yang kaubutuhkan," Rusty berbalik dan pergi.
"Terima kasih, Rusty," ucap Uzumi, lalu ia membalikkan tubuhnya untuk menatap perahu yang sedang ia kerjakan.
Setelah beberapa saat perahu di hadapannya yang hampir siap untuk berlayar, Uzumi memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana. Pria paruh baya itu meraih sebuah kotak kayu dari dalam sakunya, lalu ia mengeluarkan dan membuka kotak berwarna cokelat kehitaman tersebut. Sinar matanya berubah sayu ketika ia mengamati apa yang ada di dalam kotak kecil tersebut, raut wajahnya pun memancarkan kesedihan secara mendadak.
'Aku… Mungkin sudah saatnya aku memberitahukan kebenarannya pada mereka.'
"Angel!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah tebing, disusul suara ledakan yang cukup nyaring. Uzumi seketika itu juga tersentak kaget dan menoleh ke sumber suara, segera setelah ia menutup dan mengamankan kembali kotak kecilnya ke dalam saku. Kedua matanya melebar ketika ia mendapati salah satu sudut tebing telah hancur dan kepulan asap keluar dari sana. Terlihat orang-orang di sekitar tebing mulai berlarian tanpa arah yang jelas, berhamburan berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing.
"Ada Angel!" lagi-lagi terdengar suara teriakan dari kejauhan, entah suara siapa. "Selamatkan diri kalian!"
"Oh, tidak…" Uzumi segera beranjak dari tempatnya, mulai merasa gelisah dan panik akan keselamatan kedua putrinya. "Cagalli! Stellar!"
'Via… Kumohon, lindungilah mereka…'
-To be Continued-
Sekian BLaDE Chapter 2, semoga Minna-san menikmatinya...
Sakura dan Yuri akan berusaha untuk segera melanjutkan cerita2 kami, tapi... Sepertinya yang berikutnya Sakura akan mem-publish cerita baru...
^^v
Thank you, Minna-san...
Silahkan review...
See you soon...
