Chapter 3

Story of futago

(Kuroko Tetsuya & Futago OC!)

Akhir-akhir ini aku melihat aniki mencemaskan sesuatu. Aku sedikit penasaran ada apa denganya?

Insting saudara kembar selalu benar, meskipun ia mencoba menutupinya dariku.

"Ohayo aniki" aku melihatnya sudah bersiap mengenakan sepatu basket di depan pintu.

"Ohayou. Tumben kau bangun di hari libur" ucapnya mulai mengambil bola basket dan berdiri di depan pintu.

"Memangnya kenapa? Aniki juga bangun sepagi ini."

"Aku ingin latihan basket di streetball. Ittekimasu(aku berangkat)." ia mulai menutup pintunya.

"Aneh.." gumamku pelan. Kuputuskan untuk kembali ke kamarku.

Tak lama mataku menangkap adanya surat yang muncul dari laci yang sedikit terbuka. Karena penasaran aku membuka laci tersebut.

"Dari Ogiwara-kun kah?" aku melihat stempel post dari osaka dan nama pengirimnya.

"Ogiwara-kun, dia teman aniki yang sering bermain basket di street ball sewaktu sd?" aku membolak-balik amplop tersebut. Terbesit keraguan untuk membacanya.

"Gomen aniki aku membacanya!" ucapku menepuk kedua tanganku, seperti permohonan maaf di depan bingkai foto kami berdua. Saat pertama kali kami masuk Teikou chuugakou.

"Hee.. Jadi itu sebenarnya yang terjadi" entah mengapa aku mulai murung. Apa ini perasaan aniki yang sebenarnya, dan itu sebabnya aku merasakan hal ini?

Segera aku meletakkan surat itu kembali di meja.

Tak lama telepon rumah berbunyi.

Segera aku menghampirinya secepat mungkin.

"Halo. Keluarga Kuroko disini. Ingin bicara dengan siapa?"

"Ini okaasan. Tetsuya kemana? Biasanya pagi-pagi seperti ini kau tidak mengangkat telponku?"

Suara okaasan terdengar heran aku mengangkat telepon. Tidak, maksudnya kenapa aku bangun sepagi ini.

"Tetsu-nii sedang berlatih basket." jawabku singkat.

"Baiklah, bisa kau menjemputku di bandara? Aku banyak membawa barang-barang dan omiage(oleh oleh) untuk kalian, jadi sedikit berat. Tolong ya? Ah aku bertemu Otousan di bandara loh! Hari ini kami akan ada dirumah." ucap okaasan panjang lebar. Entah kenapa aku berpikir, kedua anaknya tidak ada yang secerewet dirinya.

"Haik" jawabku simple.

"Kenapa kau menjawabnya begitu? Apa kau tidak merindukan ibumu? Liburan musim panas ini aku meluangkan waktu untuk kalian.. Huweee.. Hidoi" terdengar rengekan okaasan melalui telepon.

"Okaasan aku merindukanmu, dan juga otousan. Gomen kudasai, aku memang datar orangnya"

"Selalu saja itu alasanya. Mou! Kalian berdua seperti Otousan. Kalau begitu, kututup dulu. Jangan lupa jam 12.00 kami sampai bandara! Beritahu kakakmu tetsu"

Tut..Tut..Tut..

"Dimatikan begitu saja" ucapku menatap ganggang telepon dan segera meletakanya di tempat semula.

"Masih jam 7 pagi. Apa sebaiknya aku belanja dulu di konbini" aku mulai melangkahkan kakiku menuju kamar mandi, untuk mencuci muka dan menggosok gigi.

Selesainya, aku mengenakan kemeja biru muda lengan panjang, kugulung sampai siku. Kugunakan rok pendek berwarna putih polos. Dan sepatu sket berwana putih.

Kugunakan tas selempang kecil berwarna cokelat muda. Rambut pendekku kusisir rapih, menggunakan bando berwarna putih. Sebenarnya jarang aku mengenakan bando, namun sesekali aku ingin mengenakanya. Sesekali, aku ingin tampil manis di liburan musim panas.

"Ittekimasu" ucapku pelan sambil mengunci pintu. Walaupun tak ada orang sekalipun aku tetap mengucapkanya.

Perjalanan menuju konbini tidak begitu jauh, berjalan kaki cukup menuju kesana.

"Etoo.. Tamago(telur), saus tomat, susu, keju, roti, apalagi ya.. Hmm" aku membaca daftar belanja. Aku biasa belanja, namun yang menulis daftarnya tentu aniki. Selama okaasan dan otousan pergi keluar kota, aku dan aniki hanya memasak seadanya. Aniki sangat jago memasak telor rebus, yang biasanya kugunakan bersama roti menjadi sandwich. Terkadang aku suka menambahkan di ramen cup instan jika kami tidak memasak.

"Aku jadi ingin es loli" ucapku mengambil dua es loli, bungkusnya berwarna pink.

Sesaat dikasir aku bertemu seseorang yang tidak asing bagiku.

"Aomine-kun.." panggilku.

"Ha? Kenapa kau belanja disini? Memang rumahmu dekat sini?"

Ia terkejut melihatku. Di hari libur pun aku masih saja bertemu denganya.

"Tidak jauh dari sini" jawabku singkat.

"Benarkah? Hm, aku benar-benar merasa dihantui olehmu"

"Semuanya 2500 yen." saat kasir mengucapkan harganya aku merogoh isi dompetku.

"Arigatou gozaimasu" ucap kasir tersebut .

"Kau tidak bersama kembaranmu?"

Tanyanya kembali. Saat ini kami diluar konbini.

"Tidak." ucapku singkat, merogoh isi kantong plastik, mencari es loli yang kubeli tadi.

"He.. Kupikir kalian akan belanja bersama" ia mengadah keatas melihat langit biru cerah.

"Mau es loli?" tawarku. Ia kemudian menengok kearahku.

"Ah arigatou" ucapnya malas-malasan. Ia menerima es loli pemberianku. Kuperhatikan dirinya membuka bungkus es loli dengan cepat ia menggitnya.

"Nani?! Kenapa kau memperhatikanku? Ada yang aneh kah?!" ia menghentikan kegiatan menyantap es loli saat kuperhatikan.

"Tidak aneh. Hanya saja aku ingat aniki. Tadinya itu untuknya, tapi kuputuskan kuberikan padamu. Aku tidak enak jika makan sendirian" ucapku. Tak lama aku mengemut es loli, kulihat tatapanya terlihat jengkel.

"Oi oi, kau menyebalkan sekali. Itu sebabnya kalian berdua incest kan? Sudah kuduga.. Ah merepotkan sekali kalian berdua." ia melanjutkan menyatap es lolinya.

"Itu tidak ada kaitanya dengan es loli Aomine-kun"

"Lalu kenapa kau berkata seperti itu?" tanyanya penasaran. Kenapa ia suka sekali ingin tahu urusan orang lain.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja."

"Haik, haik aku mengerti" ucapnya asal-asalan. Sepanjang jalan kami berjalan bersama, aku menghentikan langkahku.

"Cukup sampai sini Aomine-kun. Aku lewat jalan ini" aku menunjuk arah yang kumaksud.

"Ah, Kalau begitu, jaa naa" ucapnya yang sudah berbelok.

Kaos hitam dan celana panjang berwarna kelabu. Baru kali ini aku melihat Aomine-kun tanpa seragam sekolah, maksudku di hari libur.

Sejauh ini, dia cowok maskulin di Teikou. Kudengar dia pemain basket juga, tapi apa dia tidak mengenali aniki? Tapi mungkin saja tidak, aniki bilang klub basket disekolah kami memiliki 3 tingkatan. Dan aniki.. Masih di tingkat 3.

Masih soal Aomine. Selama aku sekelas dengan Aomine, selalu saja para gadis membicarakan dirinya, bahkan kehebatanya bermain basket membuat mereka tiada hentinya bergosip.

Para gadis memang suka bergosip. Siapapun yang populer disekolah jadi bahan gosip. Percaya atau tidak, aku sering mendengar obrolan mereka, walaupun mereka tidak menyadari hawa keberadaanku.

"Haa.. Kenapa aku jadi berpikir tentang Aomine-kun" aku menghela napas berat. Seakan ada beban dalam pikiranku.. Dan juga perasaanku.

Aku berjalan melewati rute yang berbeda, cukup jauh. Namun aku tidak bermaksud pulang cepat, aku ingin menghampiri aniki di street ball.

Sesampainya, aku melihat aniki bermain basket. Mendribble bola, lalu memasukanya. Walaupu.. Errr itu gagal sih.

Entah kenapa, aku mengingat isi surat itu kembali. Aku memang tidak terlalu tahu tentang basket, tapi yang pasti, tidak mudah untuk bermain jadi tim inti.

Karena itu, aniki selalu berlatih keras lebih dari siapapun, kecintaanya pada basket membuatnya pantang menyerah. Itulah yang aku suka dari aniki, tidak mudah menyerah.

"Aniki.." panggilku. Seketika ia menghentikan permainanya, bola oranye itu terjatuh menggelinding kearahku.

"Sejak kapan kau datang? Jangan mengagetkanku begitu dong" ucapnya datar. Keringat mengalir dari pelipisnya menetes hingga ke dagu. Ia menyeka dengan lengan putihnya.

"Istirahatlah, aku membelikanmu ini, tangkap ya!" ucapku melemparkan minuman isotonik kearahnya.

"Arigatou" ucapnya menangkap botol tersebut. Seketika ia memutar tutup botol itu dan meminumnya.

"Aniki boleh kutanya sesuatu?" saat aku bertanya, ia menghentikan kegiatan minumnya

"Apa?" jawabnya singkat.

"Apa kau mengenal Aomine-kun?" aku mulai duduk dipinggiran street ball disusul olehnya.

"Haik. Dia berada di tingkatan pertama."

"Tapi kenapa sepertinya dia tidak mengenalmu?" tanyaku lagi penasaran.

"Tentu saja tidak, aku ada ditingkatan 3. Dia pemain basket terkenal di Teikou, jadi semua juga tahu tentangnya"

"Souka.." ucapku lirih.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

"Ah tidak apa-apa." kucoba tersenyum. Namun ia nampak tidak percaya denganku.

"Ada apa kau bertanya tentang Aomine-kun?" tanyanya lagi. Dan sebenarnya yang ia ingin tahu 'darimana kau tahu tentang Aomine? Dan mengapa bertanya padaku' lebih tepatnya aku merasa dia bertanya seperti itu padaku.

"Dia teman sekelasku. Aku hanya penasaran seperti apa dia. Karena akhir-akhir ini, banyak yang bergosip kehebatan tim basket teikou."

"Souka. Apa kau menyukai Aomine-kun?"

Seketika aku syok mendengar pertanyaanya. Rasa gemetar menyelimuti tubuhku. Kenapa aku merasa gugup mendengar pertanyaan dari Aniki.

"A-Aku-" aku masih gerogi, belum bisa menenangkan diri sendiri.

"Aku menyukai Aomine-kun. Dia sangat hebat dalam bermain basket. Aku selalu mengaguminya" ucapnya tiba-tiba membuatku berhenti gerogi.

"Haa.." aku menghela napas panjang.

"Kau kenapa? Sepertinya sedang sakit ? Wajahmu sedikit pucat, badanmu gemetaran. Bahkan suhu tubuhmu tinggi." ucap aniki meletakkan telepak tanganya di keningku.

"Ti-tidak kok. A-aku baik-baik saja." jawabku terbata. Perkataan aniki tadi membuatku teringat hal yang sempat kulupakan tadi.

"Sebaiknya kita pulang" ucap aniki membawa belanjaan yang tadi kubawa.

"Tunggu aniki, otousan dan okaasan akan tiba dibandara nanti siang. Kita disuruh jemput mereka. Musim panas ini mereka berada disini.

"Baiklah, aku senang sekali. Nanti kita merayakan liburan musim panas ke festival hanabi(kembang api)."

"Kau benar Aniki, aku nanti akan memakai yukata di festival itu"

"Aku juga akan memakainya." ucapnya. Kami berjalan bersama tak terasa perbincangan kami hingga sampai dirumah.

Sesampainya dirumah, aniki meletakkan belanjaan tadi di dapur. Ia bukanya langsung mandi sehabis bermain basket, malah asyik menonton tv.

"Aniki, cepat mandi. Kita kan harus kebandara nanti" perintahku mengambil remote di dekat sofa dan mematikanya seketika.

"Aku masih lelah. Tubuhku masih berkeringat. Biarkan aku istirahat sebentar" ia merebut kembali remote yang ada ditanganku dan menyalakan tv kembali.

"Aniki" aku melihat remote sampingnya. Namun ia malah mencegah tanganku merebut remote kembali menarik tanganku hingga kepalaku tertidur di pahanya.

"Aku ingin mengisi energiku dengan melihatmu" ucap aniki mengelus suraiku. Terasa lembut, menenangkan tanganya menyentuh suraiku.

"Lagi-lagi begini.." ucapku pelan. Ia hanya tersenyum menatapku.

"Gomen." tak lama aku bangkit dan duduk disampingnya.

"Ne Aniki ganbatte" ucapku mengepalkan tangan kearahnya.

"Haik" dan ia membalasnya.

Seketika aku mengambil remote dan turn off terebi(tv).

"Nah, cepat mandi sana"

"Kau pantang menyerah ya," ucapnya menepuk-nepuk kepalaku.

"Sudah sana mandi. Kau bau keringat. Aku tidak suka dekat-dekat dirimu yang bau keringat." ucapku.

"Haik" ia langsung bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi.

-Story of futago-

"Akhirnya kalian datang juga"

Ucap okaasan di bandara. Ia membawa banyak sekali barang-barang. Termasuk omiage(oleh-oleh)

"Uwaah.." aku sweatdrop saking banyaknya, aku tidak tahu cara membawanya.

"Kalian kesini naik apa?" tanya okaasan.

"Naik bis" jawab aniki.

"Ha? Kenapa tidak naik taksi?-"

"Daijoubu kami sudah memesanya okaasan" aku memotong pembicaraanya.

"Haaa.. Kalian ini benar-benar terlalu sederhana bukan? Sudah kukatakan tak perlu berhemat segitunya. Atau uang kalian habis?! He? Kenapa tidak bilang padaku-"

Tiba-tiba otousan datang membuat okaasan diam seketika.

"-huah kau mengagetkanku. Darimana saja darling?!"

"Tadi sudah kukatakan aku ke toilet sebentar"

"Hee? Benarkah?!"

Bahkan okaasan tidak menyadari hawa keberadaan Otousan.

"Taksinya sudah datang. Sepertinya akan berat membawa ini" ucap aniki menunjuk arah taksi yang dimaksud. Dan mulai menghampiri taksi tersebut.

"Ano.."

Namun hawa keberadaanya yang tipis membuat si supir taksi kebingungan siapa yang memesan taksi lewat telepon.

"Gomen, aku yang memesan. Kuroko desu." ucap aniki. Seketika supir taksi itu terkejut. Seperti.. Orang yang sedang melihat hantu.

"H-Haik, sumimasen aku tidak melihatmu"

Setelah menaikan barang-barang ke bagasi, kami siap berangkat. Otousan duduk didepan, dekat supir taksi. Aku ditengah, berada diantara okasaan dan Aniki di kursi belakang.

-Story of futago-

Musim panas hampir berakhir, malam ini, menandakan berakhirnya musim panas. Matsuri(festival) akan segera dimulai!

"Aniki, dou(bagaimana)?" aku menunjukan yukata kepada Tetsu-nii. Berwarna putih, dengan motif bunga sakura. Obi berwarna hitam.

"Cocok denganmu" ucap aniki datar. Ia juga mengenakan yukata. Berwarna biru langit, dengan obi biru dongker.

"Hanya itu?" tanyaku. Aku mulai mengambil jepitan rambut berbentuk bunga mawar pink, menjepitnya disisi kiri. Rambut pendeku kuikat.

"Btw, kau dapat darimana jepitan itu? Aku baru melihatnya" ucap aniki memiringkan kepalanya untuk melihat jepitan itu.

"Eto.. Jadi sebenernya ini..."

Flashback

"Hm?" aku melihat dua orang sedang berdebat di depan pintu klub basket sepulang sekolah. Kebetulan sore itu aku selesai kegiatan klubku di uks.

Aku tidak mengerti, kenapa Aomine dan pacarnya itu selalu bertengkar. Kurasa mereka tidak cocok sebagai sepasang kekasih.

"Dai-chan! Mau kemana?! Tunggu mau diapakan benda itu? Jangan dibuang. Matte-"

"Urusai satsuki! Aku akan membuangnya. Cih merepotkan sekali"

"Mou! Aho! Ganguro!" kulihat gadis itu berlarian saat aku berhenti di depan klub basket.

"Satsuki- HUAAAHHH" Aomine dengan ekspresi terkejut melihatku berada dihadapanya sekarang.

"Doumo" ucapku simple.

"Kenapa kau bisa disini?!"

Kulihat dirinya menyembunyikan sesuatu dibalik badanya, dan mengalihkan pandanganya dariku saat aku menatapnya curiga.

"Aomine-"

"Tunggu sebentar, jangan bergerak" tiba-tiba ia mendekatiku. Entah mengapa aku benar-benar gugup. Baru pertama kali aku sedekat ini dengan lelaki selain aniki.

"Tu-tunggu.. Eh?!" aku meraba suraiku, seperti jepitan. Aku melihat diriku terpantul pada kaca jendela, terlihat jelas jepitan bunga mawar berwarna pink.

"Ah.. Warui.. Itu untukmu, jaa naa" ucap Aomine tiba-tiba pergi meninggalkanku ditempat. Aku masih belum bisa berpikir jernih atas apa yang dia lakukan tadi. Rasanya, seperti mimpi saja.

End flashback

"Souka" ucap aniki singkat. Dari ekspresinya, dia terlihat beda dari biasanya. Benar-benar berbeda..

"Aniki?" panggilku.

"Aniki?" kini aku mengoyak tubuhnya dengan kedua tanganku di pundaknya.

"Gomen. Ayo kita berangkat" ucap aniki sedikit sendu. Apa aku salah bercerita soal Aomine?

"Aniki, apa ada yang mengganjal pikiranmu?" tanyaku sepanjang jalan menuju matsuri.

"Hm? Tidak ada." ucap aniki datar. Namun sudah kukatakan naluri saudara kembar tidak pernah salah, aku tau pasti ada yang ia pikirkan.

"Uso(bohong)" aku menatapnya lekat-lekat. Ia terlihat enggan menatapku dan menunduk.

"Bukan apa-apa.. Lihat kita udah sampai" ucap aniki menunjuk ke arah matsuri. Banyak stand makanan dan orang-orang berlalu lalang disekitar kami.

"Ayo aniki" aku menggenggam jemarinya, mulai menyusuri beberapa stand yang ingin ku kunjungi.

"Aniki, aku mau beli ringo ame (permen apel)" ucapku menuju stand yang dimaksud.

"Haik." ucap aniki singkat.

"Tetsu-nii mau?" ucapku menyodorkan satu permen apel padanya.

"Arigatou" ia mula membuka bungkus plastik putih bening yang menutupi ringo ame dan menggigitnya.

"Oishi(enak)?" tanyaku.

"Manis" balasnya.

"Mou, aku tanya enak atau enggak dibilang manis"

"Memang permen ini manis, imouto-chan"

"Hee.. Jarang sekali aniki menyebut nama adiknya. Apa kau ingin menggodaku?"

"Masaka(tidak mungkin).. Memangnya salah?"

"Tidak juga, hmm..." aku mulai membuka bungkus permen tersebut.

Orang-orang mulai banyak, dan semakin sulit untuk berjalan. Bahkan aku terpisah dengan aniki.

"Ini dimana.. " aku melihat sekeliling hanya banyak orang yang berlalu lalang, dan berjalan melawan arus mencari tempat yang agak sepi.

"Haa..ha.." rasanya sesak sekali berdesakan banyak orang, sampai lupa bernapas.

"Daijoubu kah? Kau seperti kehabisan napas" tanya seseorang lelaki. Suara baritonya jelas aku mengenalinya. Bahkan aroma tubuhnya. Ya, jelas aku tahu siapa dia.

"Aomine-kun?" aku mulai posisi berdiri, setelah membungkuk memegang kedua lututku.

"HUAAHH Kau lagi?!" ia terkejut melihatku. Haa.. Menyedihkan sekali, baginya aku adalah hantu yang selalu menghantuinya kapan saja dan dimana saja.

"Doumo" tapi aku harus tetap bersikap sopan. Bagaimanapun ia teman sekelasku. Dan juga..

"Hee.. Ternyata kau manis juga pakek jepitan itu." ia mendekatkan tubuhnya kearahku, meraba jepitan itu. Dan mundur perlahan melihat diriku dari berbagai sudut.

"A-Aomine-kun, jangan melihatku seperti itu"

"Hee.. Kenapa, kau malu ya? Ah asal kau tau satsuki kalau diliatin kayak gitu dia malah bilang 'apa liat-liat?!' ha... Dia bukan onna(gadis) sepertimu, huh" ia mulai membicarakan gadis bersurai merah muda. Terlihat sedikit jengkel, namun seperti mengharapkan sesuatu.

Apa dia.. Berharap gadis yang menjadi pacarnya itu sesuai apa yang ia harapkan?

Ja-jadi dia sedang curhat denganku?

Kenapa dia mudah sekali membicarakan soal itu?

"A-ah.. Souka" entah mengapa aku gugup sekali. Tubuhku benar-benar panas. Apa aku sedang demam ya?

"Ayo, kita pergi dari sini. Masih banyak bukan yang ingin kau kunjungi. Kebetulan aku terpisah dari satsuki saat aku membeli ini" ia mulai menunjukan takoyaki, sosis bakar, ayam goreng.

"Aomine-kun lapar atau kelaparan"

"Oi candaan macam apa itu?! Huh" ia mulai melangkahkan kakinya, dan aku menyamakan langkahnya.

"Aomine-kun mau permen apel?" tanyaku menyodorkan permen yang kugenggam sedari tadi.

"Boleh juga" tak lama ia menggigit peemen itu dari genggamanku. Wajahnya.. Sangat dekat. Dan juga, Aomine-kun terlihat.. Uwah.. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya dari dekat.

"Manis juga, hmm tidak buruk rasanya" ia kembali ke posisi semula. Aku hanya menatap permen apel tersebut.

"Ada apa?" tanyanya menatapku bingung.

"Tidak.. Aku pikir kau menolaknya"

"Kenapa aku harus menolak kan kau yang menawarkan?!"

"Tadinya.. Aku hanya basa-basi menawarkanya padamu"

"Haa... Kau ini" ia mengeram frustasi. Sepertinya, aku terlalu jujur dengan Aomine-kun.

Entah kenapa, Aku bisa bicara jujur denganya, tanpa harus memendam apa yang aku pikirkan.

"Aomine?!" tidak sengaja kami bertemu seorang lelaki, bersurai hijau, berkacamata, dan memakai yukata berwana putih bergaris oranye.

"-Dan kau?! Kenapa kalian disini nanodayo?!"

Dia Midorima-kun, sedang menunjuk ke arah kami berdua dengan ekspresi speechless.

"Haa.. Berisik kau midorima kupikir siapa tadi" ucap Aomine.

"Aomine jawab pertanyaanku?!"

"Hee? Yang mana?"

"Kawai.. Aku ingin ikan mas koki"

Aku menatap kolam ikan yang berisi ikan-ikan kecil didalamnya.

"Mau mencobanya?" ucap pemilik menyodorkan saringan kecil padaku.

"Tidak.. Aku tidak pandai menangkap ikan. Bagaimana kalau paman yang mengambilkan untukku?"

Tanyaku menyodorkan kembali saringan itu padanya.

"Ah.. Etoo, itu tidak mungkin gadis manis. Ah bagaimana dengan dua lelaki disana! Pasti mereka bisa menangkap ikan untukmu. Mereka temanmu bukan?" ucap paman itu.

"Oi, hanya menangkap ikan bukan? Itu bukan apa-apa" ucap Aomine-kun mengambil saringan yang ada ditanganku.

Aku hanya.. Terpaku memandangnya, setiap kali ia dekat denganku, tiap kali ia melakukan sesuatu diluar pemikiranku.

"Hm. Aku bisa mendapatkan sebanyak mungkin nanodayo. Akan kutunjukan kekuatan three point, maksudku menangkap tiga ikan sekaligus." ia mula membenarkan kacamatanya yang tidak melorot.

"Baiklah pertandingan memperebutkan gadis manis dimulai! Hohoho" ucap paman mulai bersemangat. Tiba-tiba sekelilingku mulai ramai.

"Satu.. Dua.. Tigaa! Start"

Kulihat Aomine mulai menjaring ikan dengan cepat.

"Uwaahh cepat sekali peserta kita yang satu ini! Lihat kecepatanya diluar batas normal! Kekuatan macam apa ini? Ikan satu persatu ditangkap dengan cepat hanya dengan saringan kecil" tiba-tiba paman penjual ikan menjadi komentator di perlombaan yang tidak sengaja 'terjadi'.

"Lihat peserta megane sangat hebat! Menjaring ikan kecil 3 dalam sekali jaring! Pertarungan semakin sengit"

"-waktu sedikit lagi habis.. Itungan mundur tiga..dua..satu...selesai! "

Ucap paman itu mulai mengambil ember dan menghitung jumlah ikan tersebut.

"Pemenangnya adalah... Pemuda berkulit hitam! Silahkan pilih hadiahnya. Pancing ikan yang kau sukai dan bawa pulang." ucap paman menunjukan kolamnya.

"Oi, yang mana ikanya?" tanyanya padaku. Ia terlihat bersemangat sekali, padahal menangkap ikan. Mungkin memang benar memancing ikan itu menyenangkan bagi laki-laki.

"selanjutnya aku akan menang nanodayo" ucap midorima.

"Oi buruan yang mana" ucap aomine agak kesal. Dia menarik lenganku dan menunjuk banyak ikan.

"-yang mana? Kau lihat banyak ikan disini, pilih yang kau suka.."

"Nani?! Aomine kau mengabaikanku?! Kau tidak sopan nanodayo!" Midorima mulai kesal.

"Aomine-kun, yang ini aja" aku menunjuk ikan mas koki, berbadan gembul berwarna emas kemerahan.

"Hee.. Ini mudah menangkapnya" ucap Aomine. Aku sedari tadi memegang kantong plastik berisi air yang diberikan paman untuk menaruh hadiahku.

"Yosh, sudah selesai" terisi sudah plastik tersebut dengan ikan mas koki yang kuinginkan.

"Kawai.." ucapku. Aku sangat senang mendapatkan ikan ini terlihat cantik.

"Rawat ikanya, kau tau aku sudah berjuang mendapatkanya, sampai melawan si Tsundere megane itu. Cih, harus aku akui dia kuat."

"Apa yang kau bilang nanodayo?!" Kurasa.. Midorima tambah kesal padanya.

"Haik! Aku janji akan merawatnya dengan baik." ucapku sambil menatap ikan tersebut.

"Dai-chan! Kemana saja ha? Daritadi aku mencarimu baka!" ucap gadis bersurai merah muda menghampiri Aomine-kun.

"-Ah! Midorin!" seketika ia menyapa Midorima yang masih diam karena kesal.

"Jangan memanggil nama orang keras-keras nanodayo. Kau tidak sopan dan berisik" mulai lagi mode nasehat dari tsundere megane ini.

"Dare(siapa)?" tanyanya padaku.

"Aku teman-"

"Ah aku tau! Kau teman sekelasnya Dai-chan dan Midorin" ia memotong perkataanku tiba-tiba.

"Haik." aku mengiyakan perkataanya.

"Gomen, aku duluan ya. Aku mau cari Aniki" ucapku. Aku mulai berbalik badan dan berjalan berlawanan arah dari mereka.

"Haik. Sampai ketemu nanti disekolah!" ucap gadis bersurai merah muda.

"Eh?"

-Story of futago-

Malam itu, malam yang indah. Bisa bertemu denganya. Dan mendapatkan puresento(hadiah) ikan mas koki berwarna keemasan. Kebetulan aku punya aquarium kecil berbentuk bulat, kuletakkan di atas meja belajarku.

"Aomine.." aku memandang ikan itu. Entah mengapa aku susah menghentikan perasaan bahagia ini, rasanya.. Aku tidak ingin melupakan kebahagiaan yang kupunya ini.

Tak lama kemudian aniki membuka pintu, karena gugup aku langsung membuka buku biologi diatas meja.

"Kau sedang apa?" tanya aniki. Ia kemudian duduk di kursi belajarnya, mulai mengambil novel di rak buku.

"Apa kau tidak lihat aku sedang belajar" ucapku simple. Aku benar-benar tidak percaya aku berbohong karena pikiranku dipenuhi oleh Aomine saat ini.

"Souka." ucap aniki singkat. Ia mulai fokus pada novelnya.

Aku mulai membaca buku biologi, tak sengaja membaca soal klasifikasi ikan. Membuatku teringat kejadian 'ikan mas koki'

"Haaa..." aku memendam kepalaku dalam buku biologi.

"Sebaiknya tidak usah memaksakan belajar. Sudah malam sebaiknya kau tidur."

"Haik.." ucapku lemas. Aku mulai merangkak ke kasur.

"Oyasumi" ucapku singkat dan mulai memejamkan mata.

TBC

Notes : udah keliatan pairingnya sama siapa? yaps, disini gue kesanya Aomine banget yah? congrats yang udah nebak! mungkin udah saatnya ganti judul yah. oke thanks udah ikutin alur ceritanya. lanjut ke kotak review yah buat kritik dan saran. kalo rada ngaret, gomen author lagi banyak tugas /curhat/ bukan bermaksud php dan bikin orang kepo~

Please follow, Fav and riview if you like this story. See you next time~