Pair : ItaHina
Disclaimer : Never own NARUTO
Warn : AU, OOC, Typo
.
.
.
Aku tahu menghela nafas bukan kebiasaan yang baik, tapi aku terlalu lelah untuk sekedar tahu hal itu. Tubuhku penuh keringat. Aku pasti bau sekarang. Punggung seragamku basah, dan nafasku jadi susah. Tanganku terus menyapu semua sampah dan tanah sampai ke depan pintu. Tinggal sedikit lagi selesai. Aku pasti bisa.
Hari ini, aku ada jadwal piket kelas. Sebenarnya ada beberapa orang lagi, tapi mereka sedang ada urusan. Aku tak mengerti entah memang takdir yang membuatnya, tapi setiap giliranku piket, mereka selalu punya masalah. Aku, jadi merasa terabaikan.
Setelah semua terkumpul di depan pintu, aku berhenti sebentar melihat-lihat keadaan kelas. Jendela kaca telah dibersihkan, langit-langit dan lantai juga telah bersih, begitu juga dengan papan tulisnya. Ada sedikit rasa sayang jika mengingat besok ruangan ini akan dipakai dan kotor lagi. Setidaknya, hari ini aku melakukan sesuatu yang berguna.
Sapu yang dari tadi kupegang meronta, aku jadi terkejut dan refleks melepasnya. Aku terkejut, tapi lebih terkejut lagi saat melihat orang yang menggenggam sapuku.
Kami hanya sebentar bertatapan, lalu dia membungkuk untuk memasukkan sampah ke pengki, kemudian membuangnya ke tempat sampah di koridor sekolah. Walau hanya sebentar, aku bisa melihat matanya yang kelam dan berkilau, juga rambut hitamnya, lalu hidungnya, garis rahangnya, kemudian lengkungan di bibirnya.
Dia sempat tersenyum padaku.
"Kalau tak cepat dibuang, sampahnya bisa dihamburkan angin," katanya.
Suaranya dalam, aku jadi merasa terbenam dalam kegelapan yang nyaman. Tangannya masih bekerja. Dia cekatan.
"Selesai."
Dia menepuk-nepukan tangannya, membuat debu yang tampak karena cahaya matahari yang masuk dari jendela. Saat berdiri, akhirnya aku sadar dia begitu tinggi. Kepalaku hanya sampai setinggi dadanya. Akhirnya aku sadar kenapa ada banyak sekali siswi yang mengidolakannya.
Dia itu tinggi, punya rambut indah yang nampaknya begitu lembut, bulu mata yang lentik, dan berkharisma. Ada aura kuning keemasan terpancar dari pribadinya yang terasa hangat. Dia baik.
"Oh, iya, tahu Sasuke?"
Wajahnya dan Sasuke memang mirip. Mirip sekali. Tapi ada yang berbeda dari mereka. Sasuke itu terasa dingin, dan laki-laki di depanku ini memancarkan aura hangat. "Y-ya."
"Lihat dia, nggak?"
Saat bel pulang, satu persatu murid pergi. Teman-teman piketku mulai datang dan memberi alasan padaku. Setelah mereka tak ada, aku masih melihat Sasuke mengepak bukunya ke dalam tas, lalu melangkah ke luar kelas.
"K-ke perpustakaan?"
Saat itu, Sasuke sempat berhenti di depan pintu, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kartu perpustakaan berwarna kuning cerah ada dalam genggamannya saat itu. Aku seenaknya mengambil kesimpulan seperti ini, semoga aku tak salah.
"Oh, ya?"
Alisnya terangkat tinggi-tinggi. Wajah bingungnya terlihat manis. Itachi-senpai memang benar-benar berbeda dengan Sasuke.
"Kalau begitu, sampai jumpa."
Iya. Semoga bertemu lagi, lalu saling bicara, mengobrol sesuatu yang tak penting, bercanda, dan tertawa bersama. Itu harapanku sebagai murid pemalu yang hanya bisa canggung dalam berkomunikasi. Itachi-senpai adalah idola, ada banyak gadis yang mengejarnya. Aku tak akan terlalu banyak berharap.
"Senang ngobrol denganmu, Hyuuga."
Dia lalu berbalik dan pergi. Selain dia yang tak lagi ada di sekitarku, aku sadar senpai pujaan para siswi itu baru saja memanggil namaku. Aku, senang.
.
.
.
Lelah. Aku yang berlari mengejar waktu sudah hampir sampai batasnya. Aku ingin berhenti sejenak, beristirahat, tapi koridor yang sepi membuatku enggan melambat. Aku terus berlari. Saat menaiki tangga, aku hampir tergelincir ke bawah, untung tanganku masih bisa menggapai pegangan. Kelasku hanya tinggal melewati dua ruangan ini. Aku jadi semakin bersemangat dan memacu lariku.
Dari jendela, aku bisa melihat ruangan pertama yang kulewati masih belum ada gurunya. Aku bernafas lega. Ruangan ke dua, ada Kurenai-sensei yang sudah mulai mengajar. Lalu, di kelasku, pintunya tertutup rapat.
Aku, terlambat.
Di koridor, ada kursi panjang yang kelihatan nyaman sekali untukku yang kelelahan. Langkahku jadi sangat, sangat lambat. Senyaman apapun kursi ini, aku lebih memilih untuk duduk di bangkuku di dalam. Tapi, Senseiku sudah masuk.
Senseiku adalah orang yang sangat menghargai waktu. Seberapa banyak pun waktu sangat berarti baginya. Dia bilang, "Sedetik, adalah awal dari tahun yang akan berjalan. Jadi jangan sia-siakan waktu yang kalian punya."
Waktu dia mengatakan itu, aku hanya duduk diam di bangku sambil melihat-lihat lembar tugas yang dia berikan. Lima menit setelah dia itu aku baru tahu maksudnya. Kami tak diperkenankan terlambat walau hanya sedetik.
Aku mengalihkan pandanganku. Koridor benar-benar sepi saat ini. Biasanya ada beberapa murid yang rutin terlambat, tapi hari ini sepertinya hanya ada aku. Dari tempatku duduk, aku bisa mendengar suara Sesei yang menerangkan, lalu siswa-siswi yang mengeluh karena diberi tugas, ada juga derap langkah sepatu yang tetap tenang dan mendekat.
Lantai marmer sekolah kami sudah penuh bekas goresan, tapi masih cukup bersih. Aku jadi senang karena bisa menikmati hasil pekerjaanku semalam.
"Hyuuga?"
Bayangan tinggi besar mendekat. Kepalanya menyentuh kepalaku. Suaranya sedikit terkejut dan hal itu membuatku malu. aku mirip penjahat yang tertangkap basah.
Kursi panjang yang ku duduki berderit kecil ketika menerima beban lebih dari dia yang datang. Aku yang terlambat, merasa tak layak menatap wajah ketua OSIS sekolah kami. Tiba-tiba saja aku jadi gemetar. Untuk menguatkan diri, aku mengepalkan tangan dengan sekuat tenaga.
"Kenapa di sini?"
Aku terlambat, jadi tak diperbolehkan masuk. Guru kami adalah Shizune-sensei yang tak bisa mentolerir keterlambatan apapun yang kami perbuat. Hari ini, aku bangun kesiangan setelah sempat bermimpi tentang senpai. Aku tak akan menyangkal mimpinya indah, tapi aku juga jadi tak bisa tidur lagi setelahnya. Jantungku terus saja berdebar saat mengingatnya.
"Hinata, kau sakit?"
Aku bisa merasakan tangannya di pundakku, tenaganya yang mengisyaratkan padaku untuk menghadap ke arahnya, lalu suara khawatirnya. Kali ini, dia tidak menyebutku Hyuuga lagi, tapi Hinata. Namaku. Nama yang hanya milikku.
Aku, lebih dari sekedar senang.
"Aneh," katanya, " keningmu gak panas, kok."
Matanya menyipit ke arahku. Sebenarnya aku tak merasa nyaman, tapi aku ingin mata kelam itu terus memperhatikanku.
"Kok, wajahmu merah?"
Aku memang begini. Wajahku yang terlalu pucat sering tiba-tiba memerah. Itu hal yang biasa. Bisa karena kelelahan, kepanasan, atau karena melihat senpai dari jarak sedekat ini.
"Kau berkeringat. Habis lari?"
"Y-ya."
"Kenapa telat?"
Kalau dihitung-hitung, Itachi-senpai sudah banyak sekali mengajukan pertanyaan padaku pagi ini. Aku sendiri hanya menjawab satu pertanyaannya. Mungkin dia merasa terabaikan oleh ku.
Suasana kembali hening dengan aku yang lagi-lagi tak menjawabnya. Itachi-senpai masih ada di sebelahku. Tangannya menyilang di belakang kepala, menjadikannya bantalan dengan tubuh bersandar di dinding kelas kami.
Berada di dekatnya, ada aroma mint yang bisa ku hirup, ada juga suasana ramah yang coba ia bagi, lalu perasaan berdebar karena hembusan nafasnya yang bisa ku dengar.
"Hyuuga?"
Itu bukan suara senpaiku. Shizune-sensei telah selesai mengajar, dan kini ia ada di hadapanku. Aku langsung berdiri dan membungkuk memberi hormat.
"Temui Ibu saat istirahat."
"B-baik."
Saat Senseiku berlalu, aku tahu akan ada hukuman yang segera datang. Aku hanya perlu bersiap-siap.
Aku kehilangan pegangan waktu saat Itachi-senpai ada di dekatku. Waktu terasa tak berarti. Mungkin, Shizune-sensei akan kesal jika tahu hal ini.
Saat aku kembali menyadari Itachi-senpai, dia sudah ada di depanku.
"Lain kali, jangan terlambat."
Suaranya lembut. Dia seolah berbicara pada seorang adik kecil. Apalagi ketika tangan besarnya ada di puncak kepalaku, mengacak-acak rambutku, dan mengelusnya. Aku, jadi serasa punya seorang pacar.
.
.
.
Ada bau yang keras sekali ketika pintu toilet sekolah ku buka. Di tanganku ada ember, kain lap, dan pel. Ini hukuman karena aku terlambat. Aku jadi harus membersihkan toilet ini seorang diri.
Aku ingin segera pulang, jadi aku harus menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin. Mungkin, jika ada teman, pekerjaanku akan lebih cepat selesai. Tapi,hari ini hanya ada aku yang terlambat. Aku mengharapkan apa? Bukankah semalam aku juga bekerja sendiri membersihkan kelas?
Tidak. Waktu itu aku tak sendiri.
Ada Itachi-senpai yang datang mencari Sasuke. Selain bertanya, dia juga membantu membersihkan kelas. Dia ketua OSIS, idola siswi, dan kakak Sasuke yang paling baik.
"Kenapa melamun?"
Entah sejak kapan, orang yang kulamunkan ada di depan pintu. Ia melepas blazernya, lalu dasi yang ia pakai, dan beberapa kancing atas kemejanya.
Ini di toilet. Jam pulang sekolah. Lalu, apa yang dilakukan senpai di sini? Bersamaku? hanya berdua?
Tangannya dengan cekatan menggulung lengan kemejanya, lalu mengisi ember yang aku bawa dengan air. Di pojok ruangan ada cairan pembersih, dia menuangkannya hati-hati.
Aku jadi merasa bodoh. Dia tak meminta izin untuk mencampuri urusanku, dan aku cuma diam. Aku tak ingin dikasihani. "S-senpai, sedang a-apa?" paling tidak, aku ingin tahu apa alasannya.
Itachi-senpai berbalik, memberikan punggungnya untuk ku lihat.
Aku diacuhkan. Itachi-senpai membalas apa yang pernah ku lakukan padanya. Dia tak menjawab aku yang bertanya, dan aku tak akan bohong kalau aku kecewa. Aku menutupi perasaanku dengan baik. Dari pada diam, aku mengambil lap kecil lalu membasuhnya dengan air.
Di ruangan itu, ada aku yang membersihkan dinding keramik, dan Itachi-senpai yang mengepel lantai. Ada suara percikan air saat senpai membasuh lagi pelnya, juga suara gesekan kain lap dengan dinding yang ku buat. Udara yang tadinya menyengat perlahan menghilang berganti aroma terapi dari cairan pembersih.
"Selesai."
Wajahnya terlihat cerah. Ada bulir-bulir keringat di pelipisnya. Kemejanya juga sudah basah. Dia berkeringat, sama sepertiku. Aku jadi berpikir, bagaimana mungkin ada seorang gadis yang tampil kusam dan suram seperti aku ini di depan idolanya.
"Aku haus," katanya. Dia tak ada bilang akan mengajakku, tapi tangannya menarikku keluar.
Saat ada yang menggenggam tanganku seperti ini, aku merasa hangat. Ada sensasi yang luar biasa hinggap dalam diriku. Akibatnya, wajahku jadi panas dan semakin berkeringat, juga nafasku yang semakin pendek. Oh, iya, debaran di jantungku juga jadi tambah keras. Aku harap, Itachi-senpai tak mendengar suaranya.
Dia mengajakku ke bawah pohon tua di tepi lapangan. Aku duduk dengan dia yang bersandar pada batang pohon yang besar.
Angin yang berhembus membuatku yang penuh keringat merasa sejuk. Tangan senpai masih menggenggamku, aku ingin begini terus.
Saat melihat ke langit, ada seekor burung yang terbang tinggi. Aku jadi ingin bermimpi. Suatu saat nanti, aku ingin punya seseorang yang selalu ada untuk menolongku. Bukan seorang super hero yang melindungi semua orang, hanya pria dewasa yang ada untukku. Sama seperti yang senpaiku lakukan saat ini, aku ingin orang itu selalu menggenggam tanganku seperti ini, erat, lembut, menguatkan.
Lalu aku teringat lagi kata-kata senpai. Aku mengeluarkan botol air minum dari dalam tas, lalu memberikan padanya.
"Hm?"
"B-bukankah, bukankah tadi s-senpai bilang haus?"
"Oh," dia mengangguk. Tanpa perlu repot-repot, dia langsung meminum air yang kuberikan padanya. Saat bibirnya menyentuh ujung botol, aku baru sadar kalau aku juga selalu minum dengan cara seperti itu. Tanpa ada sedotan, itu artinya kami berciuman –secara tak langsung.
"Kau itu terlalu pendiam, Hinata."
Iya. Mungkin senpai mengira karena aku terlalu pendiam, jadi aku tak pernah menjawab setiap pertanyaannya.
"Itu membuatmu susah. Kau jadi tak bisa membela dirimu sendiri."
Mungkin benar. Teman-temanku selalu memberi alasan agar hanya aku yang mengerjakan piket. Aku ingin menolak, tapi aku butuh keberanian besar untuk melakukan itu. Aku berhasil mengumpulkannya, tapi mereka sudah tak ada. Itu, selalu berlangsung setiap minggu.
"Kau juga tak seperti siswi lain, aku jadi susah."
Iya. Maaf sudah merepotkan. Aku memang selalu menyusahkan.
"Kalau kau juga mengejarku, aku kan tak perlu memutar arah untuk bisa bersamamu."
Aku tak hebat dalam berlari. Sejak SD, aku tak pernah menang dalam cabang itu. Ada banyak orang lain yang akan berlari menyusulku, lalu meninggalkanku sendiri di belakang. Kalau ingin bersamaku, memang hanya berbalik arah yang mungkin untuk dilakukan.
"Karena aku sudah berusaha sejauh ini, aku ingin dapat hadiah."
Tatapannya saat itu tak bisa ku artikan. Aku tak bisa mengerti, tapi perutku jadi kram.
"Jadian sama aku, ya?"
Ada banyak hari yang aku suka dan masuk dalam daftar putih hidupku. Hari lahirku, natal, hari ulang tahun Hanabi dan ayah, Neji, dan hari ini. Aku senang karena mimpiku tadi malam kini jadi kenyataan. Akhirnya aku punya seseorang.
"Ya."
Kali ini, aku dapat keberanian tanpa harus bersusah payah mengumpulkannya. Karena setiap tangan Itachi-senpai menggenggamku seperti ini, aku seolah bisa menaklukan dunia. Dia itu jago Judo dan basket, tubuhnya jadi kuat dan tak terkalahkan. Bersamanya, aku tak perlu khawatir. Dia adalah orang kuat yang memberiku kekuatan.
.
.
.
Kenapa ada romansa di toilet? -,-")
Saya memang payah.
Maaf ya karena ngapdetnya agak lama.
Saya berterima kasih karena ada yang mau membaca dan mereview. Arrigatou… #bungkuk-bungkuk.
Saya mau tanya-tanya yang OOT, nih. Sebenarnya, karakter seorang Pein itu gimana sih? Apa dia memang orang mesum seperti yang banyak ditulis orang-orang? Soalnya saya nggak pernah baca tentang Pein, sih. Jadi gak ngerti.
Yeah, ItaHinanya udah jadi. Request-nya kan sudah saya buat. Walau gak enak dan masih terlalu garing, reviewnya diharapkan, ya…
Mind to Review?
-:- H. Kazuki -:-
