Disclaimer:

Persona Series adalah milik Atlus.

Catatan:

Satu bulan satu minggu. Kok aku malas sekali ya? Padahal aku suka banget nulis cerita ini. Aku cuma bisa nyalahin pekerjaan yang sedang kugeluti dan kuusahakan selesai tepat waktu. Gomeeen minna!

Mohon maaf kalau sampai saat ini, aku tidak tahu kapan bisa meng-update cerita ini. Tapi, aku janji cerita ini gak akan Discontinued.

Balasan Untuk Reviewers:

Sp-Cs: Perfect? Wow. Sangat menyemangati. Terima kasih. Aku baru melihat review cerita ini kemarin. Lalu aku langsung memutuskan untuk melanjutkan dan mem-publish-nya.

Lagi-lagi typo ya? Aku akan berusaha lagi. Terima Kasih

Silgain: Bukan hanya Narukami kok… Dan soal kronologi, sebenarnya ini keegoisan yang fatal bagi penulis. Aku memulai cerita ini tanpa plot yang kususun. Ini juga yang menyebabkan update yang lama. Aku minta maaf…

Gekkoukan: Android lain mungkin… umm… aku belum begitu kenal mereka. Terutama Labrys dan Sousei Kurogami. Labrys aku pernah dengar. Tapi, Sousei Kurogami? Aku belum tahu. Dan mungkin aku akan memasukkan mereka sebagai nama Android lain.

Pharos dan Ryoji tidak muncul, hanya pikiran mereka yang terhubung.

Tentu akan kujelaskan bagaimana Dark Hour muncul lagi. :)

Soal bagaimana mereka bertemu, akan kujelaskan secara singkat saja. Dan itu ada di chapter ini. Tapi mungkin kalau nanti aku membutuhkannya, aku bisa memunculkan flashback dalam chapter-chapter lainnya.

Sekarang, kupersembahkan kisah ini pada para readers dan reviewers.


A Little Reunion with The Leader

By Byzan

Ken memasukkan buku yang telah digunakannya untuk mencatat. Hari Senin yang biasa. Kecuali dia akan membolos dari klub-nya. Dia keluar kelas tepat setelah membereskan barang-barang miliknya.

"Ken-senpai!" panggil suara seorang gadis.

"Ya?" Ken menoleh. Tampak tidak terkejut namanya diteriaki seperti itu. Lebih seperti bosan.

"Hari ini kita ada klub 'kan? Mau pergi bersama?" tawar gadis itu.

Ken tersenyum grogi. Bagaimanapun, membolos merupakan pengalaman baru baginya. "Hari ini aku ada urusan. Jadi, mungkin aku akan membolos."

Gadis itu nampak terkejut. Ken diam saja. Tapi, setelah melihat kalau gadis itu terlihat tidak akan menjawab apapun, Ken pergi meninggalkannya.

Tujuannya? Asrama Iwatodai. Mengunjungi teman–kakaknya yang bangkit kembali. "Kuharap dia tidak dingin ketika melihatku," lalu Ken terkekeh, "Meski kuharap dia juga tidak panas."

Selama perjalanan, Ken terus menerka-nerka reaksi kakaknya ketika dirinya datang mengunjunginya. Sambil terus berharap bahwa kakak yang diidolakannya itu akan menyukai fakta dirinya mengunjunginya, bukan sebaliknya.

Tenggelam dalam lamunan, Ken sampai hampir tidak sadar dirinya sudah berada di depan pintu asramanya di masa lalu. Ken agak terkejut, namun tidak ragu untuk membuka pintu tersebut. Dia telah siap apapun reaksi penghuni asrama nanti.

"Terkunci?" ucap Ken terkejut saat berniat membuka pintu.

Mitsuru sudah memikirkan kemungkinan ini. Jadi, dia memberikan kunci asrama pada Ken. Kunci yang sama seperti yang dimilikinya dulu. Dulu semua penghuninya memang memiliki kunci pintu utama dan kunci kamarnya. Saat mereka akan meninggalkan asrama itu, semua mengembalikan kunci mereka pada Mitsuru.

Ken membuka pintu. Dalam hatinya merasa bersalah karena mungkin kakaknya yang satu itu tidak ingin ada yang mengunjunginya. Tapi, dia sendiri terlalu rindu juga padanya. Sehingga dia memberanikan diri membuka pintu itu.

Semua lampu mati. Biasanya, pemuda berambut biru itu akan ada di kamarnya tiap jam seperti ini jika tidak ada kegiatan. Dan sekarang, Ken berani bertaruh kalau Minato tidak ada kegiatan. Jadi, dia segera menuju ke lantai dua, pintu terakhir. Ken mengetuk pintu itu, beberapa kali. Penasaran, Ken membuka pintu itu untuk mendapati pintu yang tidak terkunci. Kamar Minato dalam keadaan kosong meski jelas bahwa kamar ini dihuni oleh seseorang.

Ken mulai menyusuri seluruh asrama tanpa hasil. "Apa dia tahu aku datang dan bersembunyi dariku? Atau dia sedang keluar? Apa kutunggu saja?" gumam Ken sambil berjalan menuju ruang duduk asrama. Dia duduk di salah satu sofa sambil menunggu sekitar sepuluh menit. Akhirnya dia memutuskan untuk datang lain kali.

Setelah keluar asrama, dia mengunci pintu. Lalu mulai berjalan. Tapi tidak ke Asrama Strega ataupun sekolahnya. Dia menuju arah yang berlawanan. Kuil Naganaki. Tempat biasanya seseorang menyendiri di sana. Dalam kasus Ken, dia ingin menemui gadis yang biasa menyendiri di sana.

—X—

Minato memakai baju kaos putih-biru dan celana panjang hitam yang biasa. Dia duduk di sebuah bangku yang merupakan tempat memori dua orang sahabat Social Link-nya. Akanari dan Maiko. Dia telah membuat janji kepada salah satunya untuk bertemu di sini. Sore hari yang diingingatnya dengan sangat baik, seolah hari itu adalah kemarin. Saat itu dia bahkan bertemu dengan Akanari pada hari seperti ini. Saat akan menemani Maiko bermain. Dia terus melamunkan segala hal yang telah dia lewati bersama kedua sahabatnya itu, hingga… "Minato-nii!"

Minato tersadar dari lamunannya, dan menemukan Maiko berlari dengan semangat ke arahnya. "Sepertinya dia membeli sesuatu untuk teman kami bicara," batin Minato sambil menyunggingkan senyum tipis yang merupakan senyum 'aneh' miliknya jika ada makanan gratis untuknya.

"Lama menunggu?" tanya Maiko.

"Cukup lama, aku tidak melakukan apapun. Jadi aku ke sini lebih awal," jawab Minato.

"Ah, maaf. Aku jadi merasa bersalah karena aku yang membuatmu datang ke sini," jawab Maiko menundukkan kepalanya. "Kau haus? Atau lapar?" tanya Maiko.

"Mad Bull dan takoyaki dari Octopia akan sangat menyenangkan," jawab Minato tersenyum kecil seolah geli.

"Ha-ha… sangat mengingatkan memori lama," ucap Maiko pura-pura kesal sambil mengeluarkan pesanan Minato. "Tapi, aku sangat senang Niichan mengingatnya. Aku senang Niichan mengingat bagaimana kita bertemu." Maiko tersenyum semanis mungkin.

"Aku siap!" ucap Maiko riang sambil duduk persis di sebelah kiri Minato. Saat dibilang persis, itu artinya tidak ada jarak diantara mereka. Minato merasa agak risih. Saat Maiko masih kecil, dia hanya akan dianggap adik Minato. Tapi, jika saat seperti ini, Minato akan terlihat seperti pacarnya.

Tapi Minato mencoba menyingkirkan pemikiran itu. Mereka sedang sendiri di sini. Lagi pula dia senang bisa bertemu Maiko lagi. Mungkin karena dia merasa punya adik, dia selalu anak tunggal sampai umur tujuh tahun. Orang tuanya meninggal di saat itu. Panti asuhan yang pernah dihuni olehnya tidak ada yang sedekat ini. Tentu saja karena dia hanya satu bulan di sana sampai dia pindah ke rumah paman, bibi, atau kakek-neneknya. Meski dia memiliki sepupu di sana, tapi sejak dulu mereka sudah berada di dunia yang berbeda. Diantara semua saudaranya, dulu dia merupakan yang paling muda. Bahkan dia tidak begitu akrab dengan anak sepupunya yang paling tua. Tidak pernah ada adik dalam hidupnya kecuali Maiko dan Ken.

"Siap untuk apa?" tanya Minato usil.

"…" Maiko tidak menjawab. Bingung. Nada yang digunakan Minato jelas bercanda, tapi wajah tanpa emosi itu membuatnya ragu sesaat. Kemudian dia tersenyum. Minato memang pendiam, tapi bukan berarti anti sosial. Dia sebenarnya sangat pengertian dan tahu bagaimana bersosialisasi, titik yang berat baginya untuk bersosialisasi adalah wajahnya yang–mungkin–selalu tanpa emosi. Bisa dibilang hal itu tidak mendukungnya untuk bersosialisasi.

Maiko tidak pernah memikirkan ini dulu. Yah… dia hanya bocah kelas satu SD. Apa yang bisa diharapkan darinya untuk berpikir seperti itu? Sekarang, hanya karena dia telah mampu 'berpikir' dan dia sangat mengingat memori saat dirinya bersama Minato, membuatnya dapat menyimpulkan hal tersebut.

"Aku bercanda," ucap Minato yang melihat Maiko hanya diam.

"Aku tahu," balas Maiko. "Hanya saja rasanya aku jadi ragu saat melihat wajahmu yang tanpa emosi."

"Maaf ya?" balas Minato sarkastik. Tidak berniat meminta maaf.

Maiko tersenyum kecil melihat Minato yang menyikapinya tidak seperti dulu. Minato menyikapinya seolah mereka benar-benar teman seusianya. "Jadi, Minato-nii benar-benar pahlawan yang menyegel Nyx dengan mengorbankan nyawa?"

"Yah…" Minato berujar, dan mulai bercerita. Tidak detail, hanya garis besar untuk merangkum semuanya. Dia melewatkan bagian Velvet Room. Entah kenapa, ada perasaan yang mencegahnya untuk melakukan sebaliknya, sama seperti perasaan dirinya untuk mengatakannya pada orang lainnya.

Maiko meneteskan air matanya saat dia mendengar bagaimana Minato berjuang sendirian melawan 'kematian'. Juga bagaimana Minato dan kawan-kawannya lupa ingatan dan mereka kembali ingat saat Minato memiliki kesadaran terakhir. Bahkan Minato tidak sempat melihat teman-temannya saat ingatannya kembali. Minato juga merasakan air mata mulai berada di matanya. Tapi dia berusaha tegar. Karena menangis di depan wanita yang menangis, tidak pernah merupakan gayanya.

Maiko memeluk Minato dalam tangisnya. Entah karena berusaha menenangkan dirinya, menenangkan Minato, atau malah keduanya. Minato hanya bisa mengelus kepala Maiko, berharap bisa menenangkannya. Dia juga berusaha mengalihkan tatapannya. Mencari hal lain untuk dipikirkan agar bisa lepas dari perasaan ingin menangis. Dia merasa, saat bercerita, dia juga mencurahkan hatinya. Saat menyegel Nyx atau melawan Erebus, dia tentu tidak bisa bercerita pada siapa pun. Tapi saat bercerita kepada Maiko, dia merasa lega. Tapi, juga sekaligus terasa emosional. Membuatnya makin merasakan dan mengerti kepedihan dirinya sendiri saat harus meninggalkan teman-temannya seperti itu.

Minato melihat sosok yang mengintai mereka berdua tepat saat matanya mengalihkan pandangan. "Ken?" batin Minato… tidak yakin. Yaah… orang itu terlihat mirip Ken. Mungkin saja, bagaimanapun, Ken adalah yang pasti paling berubah diantara semua anggota S.E.E.S. dalam sepuluh tahun.

Tatapan 'Ken' sangat tidak menyenangkan, tapi juga membuat Minato lega. Karena tatapan itu merupakan tatapan kegembiraan bisa melihat orang yang sudah lama dirindukannya, sekaligus tatapan kebencian karena… cemburu? Minato tersenyum tipis memikirkan kemungkinan itu. "Ken jatuh hati pada Maiko?" Ken tidak terlihat sadar kalau Minato mengetahui keberadaannya.

Saat Maiko telah tenang, dia menjauhkan dirinya dari pelukan Minato sambil berujar, "Maaf."

"Tidak masalah. Ini bukan pertama kalinya aku melihatmu mengangis," balas Minato. Maiko tersenyum untuk Minato. Minato tahu, senyum itu bukanlah senyum dari seorang yang jatuh cinta. Dulu, Maiko hanya suka padanya, meski dia bilang ingin menikahi Minato saat dewasa nanti. Tapi, itu adalah pemikirannya sewaktu masih anak-anak. Sekarang, mungkin dia hanya bersikap bahwa Minato adalah kakaknya, orang yang dikaguminya.

"Mai-chan?" panggil Minato tanpa melihat ke arah orang yang dipanggilnya.

"Ya?" jawab Maiko, agak kaget dengan cara Minato memanggilnya. Tapi dia sama sekali tidak keberatan. Justru di merasa senang.

"Kau… maaf aku akan bertanya hal yang mungkin sensitif," ucap Minato.

"Niichan boleh bicara atau bertanya apapun padaku, aku tidak keberatan," ucap Maiko.

"Kau…" gantung Minato, matanya tetap mencari fokus lain, sedikit melirik pada Ken, "masih ingin menikah denganku?"

"A-ap-apa?!" tanya Maiko terkejut. Sementara Minato melihat ekspresi murka pada wajah Ken sekilas, membuatnya tersenyum dalam batinnya. Puas karena berhasil membuat Ken marah.

"Yang kau dengar tidak salah. Aku bukannya ingin mengajakmu menikah kok," ujar Minato disertai senyuman, kali ini ke arah Maiko. "Hanya ingin bertanya saja."

"Jadi, kau tidak mau menikah denganku?" tanya Maiko sambil menundukkan kepalanya, menatap tanah yang entah sudah berapa kali dipijaknya dulu bersama Minato.

"Eh? Ah… bukan begitu. Aduuuh… bagimana ya mengucapkannya?" ucap Mianto gelagapan.

Tawa Maiko tiba-tiba mengisi udara bersamaan dengan wajahnya yang menatap langit. Minato hanya bisa menatapnya dengan terkejut.

"Aku ingat dulu Niichan bilang 'aku akan memikirkannya' saat kutanya demikian." Maiko kini memberikan perhatian tepat pada wajah Minato.

Minato mengangguk. Dia juga mengingatnya. Sebetulnya, dia tidak bisa melupakan kejadian itu.

"Aku sadar saat aku mulai masuk SMA, kalau kata-kata Minato-nii merupakan kata lain dari 'kau akan berubah. Saat ini kau masih terlalu kecil untuk memikirkan kemungkinan itu' atau setidaknya begitulah yang dimaksud Niichan 'kan?" tebak Maiko.

"Yaah…" ucap Minato menggaruk belakang lehernya dengan tangan kanannya. "Aku senang kau mengerti. Jadi, kutebak, kau sudah memiliki orang yang kau sukai, eh?" Minato mulai bertanya dengan usil sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan memasukkan tangannya ke saku celananya seperti biasa, tanda dia mulai nyaman.

Wajah Maiko memerah seketika. Jelas memikirkan orang yang disukainya.

"Ayolah, aku kakakmu. Apa aku akan membeberkannya pada dunia agar aku bisa bahagia melihatmu malu? Beritahu aku namanya ya?" Minato mulai bertanya tanpa tujuan, hanya saja dia sangat penasaran bagaimana cinta Ken terbalas atau tidak.

"Niichan tidak akan bilang siapa-siapa 'kan? Soalnya, Niichan pasti mengenal orang ini," tanya Maiko memastikan.

Minato bangkit dari kursi yang didudukinya, "Kutarik kata-kataku soal bahwa kita teman selamanya."

"Eh? Ni-Niichan bicara apa?" Maiko bingung dan panik sampai terasa ingin menangis.

Minato tersenyum menepuk dan mengelus kepala Maiko. "Aku kakakmu, selamanya. Kau adikku, selamanya."

Maiko melongo mendengar itu selama dua detik. Lalu mengangguk dengan senyum mengerti. "Iya."

Tiba-tiba, wajah Minato menjadi serius saat seperti mengingat sesuatu. "Mai-chan, apakah kau sudah bisa memanggil Persona sendiri dengan Evoker?"

Pertanyaan itu sepertinya sangat sensitif. Terlihat jelas di wajah Maiko bahwa jawabannya tidak. Minato duduk kembali di sebelah Maiko. "Apa yang kau takutkan?"

"Terlepas dari fakta pistol yang diarahkan ke kepalaku? Temanku bilang… rasanya sakit saat pertama kali memanggil Persona menggunakan Evoker. Saat aku tidak sengaja memanggil Persona-ku, aku tidak menggunakan Evoker." Maiko melirik ke arah lain saat mengatakan itu.

Minato tersenyum sambil menarik wajah Maiko untuk menatapnya dengan lembut, "Sakit bukan merupakan kata yang tepat. Aku tidak menyalahkan temanmu karena penjelasannya. Rasanya memang membingungkan. Tapi aku tahu bagaimana dia bisa mengatakan sakit. Kau mengira sakit itu di kepala, Mai-chan?"

Maiko mengangguk sementara tangan Minato yang tadi menyentuh wajah Maiko menunjuk telinganya.

"Sakit itu di telinga. Mungkin. Tapi sakit itu karena mendengar suara yang sangat nyaring dan keras. Sebatas itu. Tapi, berikutnya kau akan mendapati dirimu merasa… luar biasa. Seolah kau bisa melakukan banyak hal. Kau akan merasa… umm… agak sombong karena kekuatanmu. Tapi itu tidak masalah, kau anak yang baik," Minato menerangkan dengan ekspresi tenang. Bukan tenang emotionless, tapi tenang yang–entah bagaimana dengan wajah tanpa emosi–benar-benar menenangkan.

"Aku akan memikirkannya," Maiko mengangguk setelah sebelumnya terpesona oleh deskripsi Minato.

"Aku harap, kau bisa. Di luar sana sangat berbahaya tanpa Persona," sahut Minato teringat akan ucapan Akihiko saat menunjuk dirinya menjadi ketua. Maiko tidak menjawab.

"Aku akan mendiskusikan soal pengelompokan ini nanti. Aku heran kenapa kau bisa terpisah dari kelompokmu," ucap Minato.

"Ah? Tidak. Itu salahku," ucap Maiko buru-buru.

"Siapa pun bisa melakukan kesalahan. Karena itu kita selalu butuh orang yang tepat di sekitar kita," ucap Minato.

"Kenapa Niichan tidak bergabung dengan kami? Niichan bisa menjagaku–menjaga kami 'kan?" tanya Maiko bingung.

"Jelas pada Dark Hour sebelum kita bertemu, kau tidak melihatku," ucap Minato setelah menatap Maiko sesaat dengan bingung.

"Ya. Aku sedang sakit. Lagi pula hari itu bulan baru. Tidak ada Shadow di saat itu. Jadi teman-temanku memintaku untuk tidak keluar dari kamar. Terutama saat… keributan itu?" jelas Maiko diakhiri dengan tebakan.

"Saat keributan itu, kau tahu? Aku… 'sedikit' mengacau. Kurasa aku masih belum punya muka untuk bergabung dengan mereka sekarang," jawab Minato mengesampingkan fakta baru lagi yang baru didapatnya mengenai kebiasaan Shadow yang baru saja diketahuinya.

Maiko tidak berniat menyudutkan kakaknya. Dia hanya mengalihkan wajahnya agar Minato tidak perlu bercerita padanya. Minato bangkit dari kursi dengan gerakan cepat.

"Baiklah! Aku akan menjadi kakak yang baik, dan akan membuatmu bahagia. Tunggulah di sini, oke?" pinta Minato sambil mulai melangkah pergi menuju tangga di depan kuil. Maiko menurut dengan tidak mengejar laki-laki berambut biru itu.

Minato melihat bagaimana Ken kabur saat melihat dirinya mendekat ke arahnya. Minato tersenyum, dan mulai berlari mengejar Ken dengan gerakan tidak manusiawi-nya saat sudah berada di sudut mati Maiko.

Tepat di anak tangga terakhir, Minato berhasil menangkap pundak Ken. "Lama tidak jumpa, tapi kau malah lari dariku. Kenapa?" tanya Minato seolah tidak tahu alasannya.

"Bukan apa-apa," jawab Ken. Suaranya asing bagi Minato. Jelas. Saat ini, Ken memiliki suara yang jauh lebih berat, bahkan lebih berat dari Junpei.

"Kau mendengar semua yang tadi kami bicarakan, bukan?" tanya Minato.

"Sangat jelas, ya?" tanya Ken mulai berbalik ke arah Minato.

"Sangat jelas. Setidaknya bagiku," jawab Minato.

"Lalu? Niisan ingin menghukumku?" tanya Ken ragu.

"Bodoh! Tentu saja tidak," jawab Minato.

"Lalu?"

"Aku kakak Maiko. Kubunuh kau jika membuatnya sedih, bahkan meski kau adalah adikku."

"Ap-apa maksud Niisan?" tanya Ken gelagapan.

"Kau jatuh cinta padanya," ucap Minato seolah itu hal paling jelas yang nampak saat ini, lebih jelas dari fakta mereka berhadapan.

"Aku–"

"Dia menyukai seseorang yang pasti kukenal, siapa anak lain yang dulu kukenal selain Maiko, ya?" tanya Minato memotong ucapan Ken. Tapi seolah tidak bertanya kepada Ken.

"Sial! Baiklah, akan kulakukan," putus Ken. Minato tersenyum puas.

"Sampaikan salamku untuk Maiko… dan yang lainnya saat kau pulang nanti. Besok, Kau, Aigis, dan Fuuka bisa menemuiku di Asrama Iwatodai. Dan… mungkin nanti kau bisa membawa Maiko menyertaimu." Minato berujar sambil menepuk kepala Ken dan beranjak menuju tempat lain. Itu terlihat aneh, terutama saat Ken memiliki tinggi yang sama dengan Minato.

"Dan… Ken," panggil Minato tanpa berbalik menatap Ken. Sedangkan Ken berbalik ke pemanggil namanya barusan.

"Selama Maiko belum bisa memanggil Persona-nya, kuminta kau menjaganya dengan lebih hati-hati." Dengan itu, Minato melanjutkan perjalanannya. Ken tersenyum saat melihat kakaknya pergi menjauh sambil memasang headset MP3 miliknya.

—X—

"Wild Duck Burger," ucap Minato melihat papan nama salah satu restoran yang sering dikunjunginya.

Minato memasuki restoran itu. Lalu saat mengedarkan pandangan dan terhenti di suatu tempat, dia menunjukkan senyum liciknya, seringai yang aneh dengan mata tanpa ekspresi. "Sepuluh tahun tidak makan apapun, sepertinya ini balas dendam."

Minato melangkah menuju tempat pemesanan, memesan satu burger yang belum pernah dirasakan lidahnya, sebenarnya banyak sekali yang belum pernah dirasakannya. Tapi, dia hanya memilih salah satunya. Kemudian, dia membawa pesanannya ke sebuah tempat dimana matanya tadi berhenti beredar setelah memasuki restoran.

"Aku tahu dari dulu kalian merupakan pasangan yang serasi." Minato menaruh makanannya di sebuah meja yang telah ditempati dua orang. Dan tanpa permisi, dia duduk di sana. Keduanya hanya diam memandang Minato, terkejut mungkin. Minato tidak bisa menyalahkan mereka.

"Aku akan makan punya kalian kalau kalian menatapku terus seperti melihat hantu," ucap Minato.

Si pemuda tampak sadar dari keterkejutannya. "Well, kau sudah pernah mati sebelumnya 'kan?"

Si pemudi tersenyum, senyum yang biasa dengan mata tertutup. Elegan. Seolah mengiyakan ucapan pasangannya.

"That's mean, Akihiko-senpai, Mitsuru-senpai," balas Minato tidak peduli dan memulai memakan burger-nya yang tidak terlalu besar.

"Ada apa, Minato?" tanya Mitsuru, "mencari kami?"

"Menggelikan. Untuk apa mencari kalian?" ucap Minato kejam.

"Hei, hei. Apa-apaan sih kau ini?" tanya Akihiko kesal.

"Aku mau makan di sini. Kebetulan bertemu kalian. Jadi, sambil makan, aku ingin membicarakan sesuatu yang tadinya ingin kutitipkan pada Ken besok," jawab Minato dengan senyum candanya tanpa menjawab pertanyaan Akihiko.

"Apa itu?" tanya Mitsuru, tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada Minato.

"Aku sudah selesai," ucap Minato.

"Eh?" ucap pasangan tadi kaget.

"Kau belum bicara apa pun pada kami," protes Akihiko.

"Aku bilang, sambil makan, aku ingin membicarakan sesuatu," ucap Minato, menakankan kata 'sambil makan'.

"Benar," balas Akihiko tidak mengerti.

"Aku sudah selesai makan, jadi aku sudah selesai bicara dengan kalian." Minato mulai berdiri dari kursinya.

"Hhh… pesan saja apa maumu dan berapapun," Mitsuru berujar mengerti.

"Terima kasih, senpai!" Minato sedikit membungkukkan badannya pada Mitsuru. Lalu mulai menuju tempat pemesanan.

"Kau bisa mengerti maksudnya tadi?" tanya Akihiko.

Mitsuru memandang pasangannya heran, "Sebenarnya tadi itu sangat jelas. Lebih mengherankan lagi kalau ada orang yang tidak mengerti."

"Ooh," Akihiko hanya ber-oh ria saat diledek begitu oleh kekasihnya.

"Plus, dulu dia memang selalu begitu. Mungkin kebiasaan karena dari dulu aku sering sekali men-traktirnya," ucap Mitsuru mencoba menghibur Akihiko.

"Apakah aku seharusnya bahagia mendengarmu membicarakan masa lalumu yang 'mesra' dengan anak yang berhenti tumbuh menjadi dewasa?" tanya Akhiko kesal.

"Masa lalu adalah masa lalu. Kita tidak bisa mengubahnya. Setelah semua yang kita lalui saat bertemu Metis, seharusnya kita yang paling paham soal itu," ujar Mitsuru membujuk Akihiko yang ngambek.

"Iya," balas Akihiko singkat.

"Aki-chan, kau mudah sekali marah sih?" ucap Mitsuru pindah duduk ke sebelah Akihiko sambil menggodanya dengan suaranya dan sandaran kepalanya pada bahu Akihiko.

"Ukh. Bagaimana aku menahanmu kalau kau sudah mulai menggodaku begini, Mitzy?" ucap Akihiko kesal.

"Karena itu, aku menyukaimu, Aki-chan." Mitsuru mengucapkan itu tanpa mengubah posisinya. Akihiko menghela napas, mengalah. Dia mulai tersenyum.

"Oh, aku tidak menyangka kalau kalian sudah bisa semesra ini," ucap Minato yang entah bagaimana sudah ada di depan kedua insan itu. Membawa 'buntelan' makanan yang dipesannya.

Sudah sangat terkenal, bagaimana rakusnya makhluk satu ini. Entah mengapa, tubuhnya tidak menjadi gemuk. Saat Dark Hour muncul dalam kehidupannya, tentu itu bukan masalah. Dia harus terus bertarung dengan Shadow, yang akan membuat tubuhnya bergerak. Tapi sebelum itu, entah bagaimana dengan kesehariannya yang mudah tertidur, ataupun–yang dengan seringnya sengaja tidur dalam waktu yang lama, tubuhnya bisa tetap ideal. Hal yang akan membuat banyak orang iri, terutama kaum hawa.

"Kalau ini sudah membuatmu terkejut, mungkin kau bisa lebih terkejut lagi," balas Akihiko tanpa malu. Mitsuru bahkan tidak mau repot melarangnya.

"Ah, aku tidak peduli," Minato mulai mengangkat makanan keduanya seolah memamerkan makanannya. "Terima kasih makanannya seperti biasa, Mitsuru-senpai!"

Mitsuru menggeleng, "Akihiko yang bayar."

"Eh? Bukankah kau yang traktir tadi?" tanya Akihiko kaget.

"Benar. Tapi kau yang men-tarktirku 'kan?" balas Mitsuru. Akihiko mengembuskan napas, mengalah.

"Terima kasih, Senpai," ujar Minato disela makannya.

"Tidak akan kumaafkan jika yang ingin kau bicarakan tidak penting atau kau pergi lagi seperti tadi," ujar Akihiko bercanda.

Namun, tatapan Minato menjadi serius. Dia bahkan menaruh makanan yang sedang dimakannya. "Kenapa kalian tidak menghentikan aksi Shadow?"

"Kupikir itu sudah jelas," ujar Mitsuru.

"Jadi, jelas kalau kalian pengecut yang lari dari tanggung jawab kalian?" tanya Minato pedas.

"Hei–"

"Akihiko," panggil Mitsuru mengingatkan, "tidak perlu marah. Itu hal yang wajar. Dulu kita juga berikir begitu 'kan?" Akihiko menutup mulutnya.

"Jadi?" tanya Minato.

"Kami memang takut. Tapi kami takut akan kehilangan teman lagi," ucap Mitsuru.

"Seperti kami kehilangan dirimu dulu," tambah Akihiko murung.

"Maaf," ucap Minato serius setelah jeda yang cukup lama. Minato agak terkejut mengetahui dia tidak menyadari itu. Dia telah menyuruh seseorang untuk memainkan perannya dulu, dan secara tidak langsung, menyuruhnya untuk mati. Dalam hal ini, mungkin yang bisa melakukannya adalah Aigis atau Narukami.

Minato menundukkan wajahnya. Pemikiran bahwa dia menolak menyelamatkan Aigis terasa sangat tidak bisa dimaafkan. Untuk Narukami, meski Minato belum mengenalnya, tetap saja menyuruh orang untuk mati dan berada dalam keadaan yang abadi tanpa memiliki pilihan adalah sesuatu yang kejam.

"Maafkan aku," ucap Minato akhirnya. Kedua orang dihadapannya tidak membalas apapun.

"Tapi, ini tetap harus dihentikan," putus Minato sambil memandang kedua teman dewasanya.

"Kami masih mencari jalan untuk itu. Tapi, sampai sekarang tanpa hasil," ujar Mitsuru jujur.

"Kau bisa bergabung lagi dengan kami," ucap Akihiko. Mitsuru tidak protes atas pernyataan Akihiko. Suasana saat ini sedang mendukung untuk itu.

"Maaf, saat ini aku belum bisa," ucap Minato cepat. Dan dengan itu, dia menyambar makanannya lagi. Tanda dia sudah selesai dengan pembicaraannya.

"Begitu ya…" ujar Mitsuru murung.

"Kapan pun kau mau bergabung, datanglah," ucap Akihiko.

Minato mengangguk. Kemudian berujar, "Biarkan Ken memilih tim-nya nanti malam dan seterusnya."

"Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Mitsuru.

"Sebentar, tidak lebih dari lima menit," jawab Minato sambil membuka bungkus makannya yang terakhir. Kecepatan makannya memang sangat luar biasa.

"Bagaimana dengannya? Banyak berubah kah?" tanya Akihiko geli, seolah memamerkan anaknya yang sudah tumbuh dewasa.

"Dia akan berubah lagi saat kalian bertemu di asrama kalian," balas Minato tidak melihat ekspresi Akihiko.

"Benarkah? Bagaimana kau melakukannya? Padahal kau bersamanya tidak lebih dari lima menit, menurut ucapanmu," tanya Akihiko heran.

"Well, ini Minato yang kita bicarakan. Dia memang bisa melakukan hal yang mustahil 'kan?" Mitsuru menjawab pertanyaan Akihiko. Minato tidak protes.

"Yang lebih penting," ucap Minato kembali serius saat makanan terakhirnya habis, "apa yang akan terjadi pada manusia yang mengalami Dark Hour? Mereka tidak lagi menjadi peti mati 'kan?" tanya Minato.

"Mereka lupa akan apa yang terjadi pada Dark Hour. Jadi kecuali yang termakan Shadow, tidak terjadi apa pun pada mereka," jawab Akihiko mengangguk.

"Baik. Kita selesai. Aku ingin pulang," ujar Minato sambil berdiri. "Selamat atas pernikahan kalian." Minato berlalu.

"Dia benar-benar…" ujar Akihiko kehilangan kata-kata.

"Sesuatu?" usul Mitsuru tersenyum pada Akihiko.

"Benar." Akihiko ikut tersenyum saat melihat Minato di luar restoran sedang mengenakan headset MP3-nya.

—X—

Minato sampai di Paulownia Mall. Masuk ke dalam, dia tahu dari luar, Mall itu bertambah besar. Tapi tetap saja dia terkejut saat masuk dan mendapati bahwa Mall itu bertambah menjadi tiga tingkat. Dia mencoba mengabaikannya dengan berjalan santai menuju ruang kosong disamping tangga pertama. Velvet Room adalah tujuannya. Namun, saat masuk ke sana, dia tidak bisa menemukannya. "Apa aku bukan tamu mereka lagi?" pikir Minato.

"Aku masih memiliki kunci ini." Minato mengeluarkan kunci yang selalu bersamanya. Bukannya Minato ingin, tapi kunci itu selalu ada di kantongnya, bahkan saat celana atau baju yang dikenakannya tidak memiliki kantong. Meskipun dia menaruhnya di tempat lain.

"Mungkin sudah pindah. Aku akan bertanya pada Aigis nanti," putus Minato sambil berbalik arah. Di luar ruangan itu, dia melihat Junpei memasuki Chagall Café. Bukan tempat yang sering dikunjungi Junpei, kafe kopi tidak pernah merupakan gayanya. Begitu kata Junpei, dan Minato setuju akan hal itu meskipun tidak mengucapkannya. Junpei yang elegan sangat tidak cocok.

Minato mendekati kafe tersebut. Tidak yakin dengan apa yang akan dibicarakannya dengan Junpei nanti.

Di dalam kefe tersebut, Minato melihat Junpei duduk sendirian sambil menatap ke depan dengan sendu. Tidak tega terlalu lama melihat sahabatnya begitu, Minato lantas duduk di depannya. Junpei terkejut dan bersamaan dengan itu, seorang pelayan datang menghampiri Minato.

"Yo! Junpei!" sahut Minato.

Junpei belum sempat sadar dari keterkejutannya, saat seorang pelayanmenghampirinya. "Tuan, mohon jangan duduk di sini." Pelayan itu melarang Minato dengan halus.

Junpei tersadar dari keterkejutannya, kemudian berujar ringan pada pelayan itu, "Tidak apa, dia kenalanku," matanya beralih pada Minato dengan tatapan agak kesal. "Tapi, pindah kursi itu, Minato."

Dengan bingung, Minato pindah ke kursi yang berada di sebelah kiri Junpei. "Ada apa dengan kursi di depan itu?"

"Pesan dulu minumanmu, Minato-kun…. Aku yang traktir jika kau hanya memesan kopi dan sepotong kue," ucap Junpei menggunakan nadanya saat memanggil anak-anak. Minato memperlihatkan tatapan tidak suka, meski tidak terlalu terlihat karena wajahnya yang tanpa emosi. Hanya orang-orang terdekatnya yang tahu tatapan itu. Junpei tidak bisa menahan tawa saat melihat tatapan Minato.

"Tentu, Iori-san," balas Minato. Memanggil Junpei dengan formal seperti saat bicara pada orang tua. Kali ini Junpei yang terlihat tidak suka, sementara Minato tidak menahan diri untuk menyeringai meski aneh dengan tatapan mata datar itu.

Setelah mereka berdua memesan, Junpei bertanya, "Apa yang membuatmu ke sini?"

"Hm?" jawab Minato bingung, "bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau tidak menyukai tempat seperti ini? Harusnya aku yang tanya."

Junpei terlihat aneh saat akan menjawab, "Anggap saja ada orang yang membuatku menyukai tempat seperti ini."

"Menarik. Siapa?" tanya Minato.

"Kau harus tahu?" Junpei bertanya balik.

Minato menggedikkan bahunya sebagai jawaban. Minato ingin tahu, tapi memang dia tidak harus tahu.

Junpei mengalah sambil menatap lurus ke depan. Tempat dimana kursi yang diduduki Minato. "Chidori." Junpei berbisik.

"Oh, maaf." Minato tidak berani melihat Junpei karena kesalahannya mengingatkan Junpei akan kekasihnya yang sudah meninggal.

"Bukan masalah. Aku ke sini memang karena ingin mengingatnya," ucap Junpei.

"No wonder you still dreamt her," respon Minato. Junpei tidak membalas.

"Never think about move on?" tanya Minato.

"Hey, aku mencintainya," salak Junpei.

"Bukan berarti hidup bersama bayangannya terus 'kan?" balas Minato.

"Like the one you should talk," balas Junpei, "lihat apa yang kau lakukan pada kami saat kau melihat Yukari saat terakhir kita bertemu."

Minato tersenyum mengerti. "Kita sama-sama tahu tapi sulit menerima 'kan?"

"Yep," ucap Junpei. Lalu pesanan mereka datang.

Junpei mulai meminum kopinya. Diikuti oleh Minato yang memotong kue coklat pesanannya. Selama beberapa saat mereka menikmati pesanan mereka. Tapi dalam pikiran mereka sama-sama memikirkan apa yang baru mereka bicarakan. Sehingga pada saat mereka selesai dengan pesanan mereka…

"Bagaimana kalau kompetisi?" ucap Junpei.

"Kompetisi?" tanya Minato.

"Aku tahu kalau move on itu jalan yang lebih baik. Tapi, selama ini aku sama sekali tidak memiliki motivasi untuk melakukannya," jelas Junpei.

"Hoo. Kau merasa bisa mengalahkanku?" tanya Minato mengerti.

"Anak muda, aku sepuluh tahun lebih berpengalaman dari dirimu," ujar Junpei menyeringai.

"It's a deal, then?" tanya Minato dengan senyum.

"Deal," ujar Junpei tersenyum pula.

"Ahh… mau menemaniku sampai malam di Asrama Iwatodai?" tanya Minato saat teringat sesuatu.

"Ada apa?" tanya Junpei.

"Tidak. Hanya bosan," jawab Minato.

"Kalau begitu kau seharusnya ikut kami ke Asrama Strega," balas Junpei. Minato memutar matanya, malas menjawab.

"Ayo," ujar Minato sambil beranjak dari tempatnya. Junpei mengikutinya dan membayar di kasir.

Saat di luar menunggu Junpei, Minato melihat seseorang yang dikenalinya. Yukari… bersama seseorang yang tampak sangat dekat dengan wanita itu. Lelaki itu memiliki rambut berwarna senada dengan Minato. Hanya saja modelnya… tidak ada model khusus. Entah dibiarkan atau sengaja diacak-acak saja. Kaos yang dikenakannya juga tidak berlebihan. Putih dipasangkan dengan jaket berwarna hitam. Celananya juga hitam. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan. Dan laki-laki itu–Minato benci mengakuinya–terlihat sangat cocok dengan Yukari yang memiliki sinar yang sama.

Orang yang melihat mereka biasanya akan merasa bahagia. Tapi saat mereka bersama, mungkin itu hanya akan membuat mereka iri atas pasangan yang sempurna dan menyempurnakan pasangannya. Minato hanya bisa merasakan… kecemburuan. Tangannya dia kepal sekuat mungkin untuk mengingatkannya bahwa dia tidak boleh melakukan tindakan bodoh.

"Sepertinya aku menang sebelum perang. Benar, nak?" tanya Junpei tersenyum lebar saat melihat Minato dari tadi mematung.

"Sudahlah," ujar Minato kesal dengan bisiskan sambil melangkah pergi. Mencari jalan yang berbeda dari Yukari dan… entah siapa nama pasangannya. Junpei mengikuti sambil terkekeh puas tanpa protes.

—X—

Di Asrama Iwatodai, Minato membuat milkshake terkenal miliknya yang disukai oleh semua anggota S.E.E.S.. Dan Junpei lebih dari senang menerima minuman yang sudah sepuluh tahun tidak dirasakannya. Terutama saat minuman itu tidak bisa ditemui di tempat lain selain buatan Minato.

Junpei dan Minato duduk di kursi dapur yang mirip bar itu. Sambil meminum milkshake, mereka mengobrol hal apa pun yang terlintas dalam pikiran mereka.

"Jadi, apa kau sudah ada seseorang yang ingin kau jadikan tempat cintamu berlabuh berikutnya?" tanya Junpei sambil terkikik.

"Aku baru hidup lagi dalam dua hari dan kau sudah menanyakan hal itu?" tanya Minato balik.

"Hanya penasaran." Junpei menggedikkan bahunya.

"Bagaimana dengan kau?" tanya Minato.

"Belum memikirkannya. Dan lagi, sepertinya aku tidak perlu buru-buru mengingat lawanku juga belum memiliki target," ujar Junpei santai, lalu meminum milkshake.

Minato menggedikkan bahunya. "Hei, kudengar ada sekelompok orang yang tergabung dalam kelompok kalian yang memiliki kekuatan Persona yang menyamai kalian."

"Ada, mereka dari Inaba. Menamai diri mereka Investigation Team. Saat mereka berlibur ke sini empat tahun lalu, kami tidak sengaja mendengar mereka membicarakan masa lalu mereka soal Shadow dan Dunia Televisi, dan mereka merasakan hal yang aneh saat Dark Hour muncul. Saat kami mengatakan keadaan kami, mereka memutuskan untuk membantu," ujar Junpei panjang.

"Maaf? Dunia Televisi?" tanya Minato tidak yakin.

"Dark Hour versi mereka." Junpei mulai menjelaskan bagaimana dunia itu, dan apa keperluan mereka memasuki dunia aneh itu.

"Mereka juga menjalani hal yang berat," ujar Minato, "bisa kau tunjukan wajah dan nama mereka?"

Junpei mengeluarkan handphone miliknya dan menunjukkannya pada Minato bersamaan dengan dirinya mengoperasikan handphone-nya.

"Ini yang bernama Narukami Yu," Junpei menunjukkan wajah yang diingat Minato hampir berhadapan dengannya di hari pertama dia hidup sebagai Android.

"Memiliki kemampuan mengganti Persona sepertiku," ucap Minato.

"Wow! Kau tahu? Bagaimana caranya? Apa kalian terhubung? Atau kau memang tahu karena kalian punya kekuatan yang sama? Atau–" tanya Junpei.

Minato memutar matanya, berpikir bahwa Junpei sedikit banyak sama seperti dulu. "Obrolan bersama Aigis dan Fuuka. Tapi, lanjutkan saja," ujar Minato malas.

"Ah, itu kan kebiasaan lama," ujar Junpei protes atas reaksi Minato, tapi tetap melanjutkan, "ini Hanamura Yosuke. Pemilik Junes Departement Store." Junpei menunjuk orang berambut sebahu berwarna coklat tua. Minato mengakui, orang itu cukup punya gaya.

"Bagaimana dengan Persona-nya?" tanya Minato, nampak tertarik dengan orang itu. Lebih tepatnya pada headset orang itu.

"Namanya Susano-O. Berbeda dengan Susano-O yang kau gunakan, Persona-nya spesialis skill Garu," terang Junpei. Minato merasa sesak. Meski tidak menampakkannya, Junpei tahu. Dia terkekeh, "Teringat Yukari? Heh, aku akan menang mudah."

"Sudahlah… lanjutkan saja," ucap Minato tak mau komentar.

Junpei terkekeh. Namun tetap melanjutkan. Dia menunjuk wanita berjaket hijau dengan belang kuning. Rambutnya coklat pucat. "Satonaka Chie, orang gila kung fu, saat ini masih pacar Yosuke. Persona-nya Suzuka Gongen, spesialis serangan fisik sepertiku. Namun, jika aku memiliki Agi sebagai elemen tambahan, dia memiliki Bufu."

"Banyak cinta lokasi," komentar Minato, "siapa lagi yang merupakan pasangan?"

Junpei tertawa, "Kau akan mendengar yang lainnya. Ini Amagi Yukiko, pemilik Penginapan Amagi. Persona-nya Amaterasu. Sesuai namanya, Dia spesialis skill Agi. Tapi juga spesialis penyembuh." Junpei menunjuk wanita berambut hitam panjang, dengan pakaian warna merah yang sedang memegang kipas di tangannya.

"Pasangannya?" tanya Minato.

"Kau tertarik?" tanya Junpei, sudah tahu jawabannya.

"Terlalu tua," cibir Minato.

Junpei tertawa lagi, sepertinya dia sangat bahagia bersama Minato. "Pasangannya bernama Tendou Shouji."

"Siapa dia?" tanya Minato.

Junpei menggedikkan bahunya, "Sekarang ini dia mengurus penginapan yang ditinggalkan Yuki-tan dan satu anak laki-lakinya. Bukan Persona-user ataupun orang yang sadar akan Dark Hour. Tapi dia tahu tentang kita, meski sepertinya dia masih sulit percaya."

"Aku tidak kaget," ucap Minato.

Junpe menunjuk pria besar berwajah galak. "Ini Tatsumi Kanji, seorang berandal yang feminim. Dia–"

"Berandal feminim?" potong Minato.

"Dia hanya suka hal-hal yang biasa disukai wanita, seperti pekerjaannya yang menjual toko baju buatannya sendiri dan–" Junpei melambaikan tangannya. "Persona-nya Rokuten Maoh, Zio dan serangan fisik adalah miliknya. Dia jelas tertarik dengan Nao-tan."

"Siapa 'Nao-tan' ini?"

"Persona-user. Shirogane Naoto. Detektif wanita, sangat handal. Persona-nya, Yamato Takeru, Persona yang mengerikan. Almighty, Mudo-Hama skill, dan untuk tambahan kecil, sedikit serangan fisik. Gerakannya bahkan sangat cepat. Kau tak mau membuatnya marah."

"Shirogane? Detektif? Aku tidak mau membuat Shirogane marah," bisik Minato.

"Kau kenal?" tanya Junpei terkejut.

"Mungkin. Orang dari masa lalu mungkin. Lanjutkan saja," ucap Minato. Junpei tahu kalau Minato tidak ingin membicarakannya.

"Ah, bicara soal Yamato Takeru, itu juga nama yang disandang suami Yuka-tan," ujar Junpei kejam. Maksudnya memang baik, mengejek supaya Minato berubah. Caranya saja yang kurnag ajar.

"Suami ya?" tanya Minato tidak pada siapa-siapa. Melihat wajah Minato yang diluar perkiraan Junpei, dia langsung melanjutkan.

"Ini Kujikawa Rise, saat SMA merupakan idola muda-mudi, sekarang merupakan artis dan model terkenal. Yu adalah pacarnya. Persona-nya memiliki kemampuan seperti Fuuka. Mereka berdua senang sekali waktu tahu kemampuan mereka sama. Sekarang sangat akrab," ucap Junpei. Wajahnya terlihat sangat senang.

"Kau naksir Fuuka?" itulah komentar bijaksana Minato. Junpei yang sedang minum milkshake yang nikmat, sukses tersedak. Membuat milkshake yang diminumnya jadi mimpi buruk bagi Junpei.

"Apa-apaan?" bentak Junpei, namun tidak marah.

"Kau sangat senang saat menyebut-nyebut soal Fuuka," balas Minato tenang.

"Tapi–"

"Ya sudah, tidak apa. Aku cuma bertanya," potong Minato, "lannjutkan saja. Satu orang lagi bukan?"

Junpei duduk kembali dengan tatapan bingung, lalu mulai menunjukkan handphone-nya sambil menunjuk orang berambut pirang yang diarahkan ke samping.

"Shadow?" tanya Minato bingung.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Junpei.

"Aku Android anti Shadow. Tapi aku tahu dia Shadow karena alasan lain. Dia tidak di sini, aku tidak merasakannya," ucap Minato.

"Dan bagaimana kau tahu?" tanya Junpei mengulang pertanyaannya, masih penasaran.

"Saat kau mengurung ibu dari Shadow selama sepuluh tahun, kau akan mudah mengenali anaknya," terang Minato.

Junpei menggedikkan bahunya tidak mengerti, "Tapi menurut Fuuka-tan dan Ri-tan, dia sekarang setengah Shadow dan manusia. Dia juga Persona-user lho!"

Minato memandang Junpei tanpa ekspresi. Bingung.

"Nama Persona-nya Kamui. Pengguna skill Bufu, penyembuhan, dan penyembuh kondisi aneh lainnya," jawab Junpei.

"Dan… siapa nama Shadow-manusia ini?" tanya Minato.

"Kuma," jawab Junpei sambil memperlihatkan handphone-nya lagi, "ini wujudnya saat masih merupakan Shadow."

"Kau memberi banyak hal untuk dipikirkan," ucap Minato.

"Tidak usah terlalu dipikirkan. Anggap saja dia seperti Ryoji yang bertahan dalam tubuh manusia," jawab Junpei.

"Itu 'kan membingungkan," ujar Minato.

Junpei tertawa, sambil berdiri dia berujar, "Aku akan kembali ke asrama. Ikut?"

Minato menggeleng. Lalu keduanya mengucapkan perpisahan dan Junpei kembali ke habitatnya. Sedangkan Minato membereskan gelas, dan segera menuju kamarnya. Sejak dia tinggal di Asrama Iwatodai, orang yang tinggal di asrama ini untuk menjaga tempat ini selalu bersih, diperintahkan untuk pulang saat selesai melakukan kegiatan rutin untuk membereskannya. Sehingga memberi privasi bagi Minato .Tapi, bagi Minato, ini merupakan kesepian yang menyiksa.

—X—

"Aigis," bisik Minato memanggil Aigis dengan alat komunikasi yang ada pada dirinya yang memungkinkan untuk berkomunikasi dengan sesama Android dan merasakan keberadaannya.

"Minato-kun?" Aigis terdengar terkejut. Terdengar suara orang lain di seberang yang terkejut juga.

"Ssst. Kau sedang sendiri?" tanya Minato menyuruh Aigis memelankan suaranya.

"Aku hanya bersama Fuuka dan Rise… Umm… Kujikawa Rise. Dia–"

"Aku tahu tentang dia," potong Minato, "Kalau begitu tidak masalah. Aku ingin kau, Fuuka, Kujikawa, Narukami, Ken, Maiko, dan seluruh Android yang bergerak bersama kalian untuk menemuiku besok di Asrama Iwatodai. Ada yang harus kubicarakan," ujar Minato.

"Heeh, kau yang butuh 'kan? Kenapa harus kami yang menghampirimu?" tanya Aigis menggoda.

"Aigis, kumohon…" pinta Minato agak kesal.

"Jawab dulu, dari mana kau kenal Maiko? Dan apa hubungan kalian?" tanya Aigis. Nada yang digunakan aneh.

"Kenalanku sepuluh tahun lalu. Sisanya, akan kujelaskan besok. Jadi?" jawab Minato ragu. Bingung dengan nada yang digunakan Aigis, seperti nada tidak suka.

"Iya. Nanti akan kupastikan kami datang. Secara rahasia, benar?" ucap Aigis memastikan.

"Hm, tolong ya. Sampai jumpa besok, Ai-chan," ujar Minato sambil mematikan alat komunikasi, meninggalkan Aigis dengan wajah memerah di asramanya.

Minato menunggu Dark Hour datang sambil mempersiapkan kostum yang digunakannya kemarin. Dia bertekad untuk tidak tidak terlihat oleh Persona-user lain kali ini.

—X—

Anggota S.E.E.S. terlihat berkumpul di ruang rapat, minus Yukari yang belum kembali dari kencannya. Sambil menunggu Dark Hour, mereka berbagi kisah hari ini. Tentu saja, tentang reuni kecil mereka bersama mantan ketua mereka.

"Heeh, ini seperti dia memang sengaja untuk bertemu kita ya?" ujar Junpei.

"Tapi, menurutku tidak begitu," ucap Fuuka.

"Huh?" Junpei bersuara.

"Minato-nii kan tidak menemuiku secara sengaja. Aku yang ingin menemuinya," kali ini Ken yang menyahut.

"Dan dia menyuruhmu untuk mendapatkan kekasih? Ketua yang hebat," puji Akihiko, tapi seperti sedang menggoda Ken dengan tatapan matanya.

"Aki-nii berisik," sembur Ken dengan wajah merah karena malu.

Mitsuru tertawa tertekan, "Bagiku, ini lebih seperti takdir. Dia masih memberi instruksi pada kita bukan? Meski aku tidak tahu instruksi macam apa yang diberikannya pada Fuuka dan Aigis. Tapi, dia masih memainkan perannya. Dia akan kembali pada kita. Aku hanya cukup percaya pada hal itu."

Semua mengangguk. Mereka percaya, lebih dari itu, mereka merasa harus percaya pada hal itu, pada pemimpin mereka yang telah menyelamatkan dunia dengan mengorbankan nyawanya. Mereka merasa bahwa mereka telah membuat suatu ikatan dengan pemimin mereka, yang mana keadaan ini–keadaan Minato yang menjauh akan membuat tidak nyaman pihak yang lain. Namun mereka tidak tahu, selain Aigis, Minato merupakan orang yang paling tahu akan hal itu dengan adanya kekuatan yang disebut Social Link.

Mereka hanya bisa menunggu sesuatu yang mereka yakini kepastiannya, bahwa mereka akan bersatu kembali dengan Minato setelah reuni-reuni kecil mereka bersama sang ketua.

A Little Reunion with The Leader

Bersambung


Bagaimana?

Aku akan melakukan banyak skip waktu untuk mempercepat cerita. Capek juga sih kalau setiap harinya hars kuceritakan tanpa ada hal yang baru. Dan soal update, aku masih belum bisa janji cepat. Tapi akan kulajutkan kok.

Akhir kata, Review, Please!