Naruto © Masashi Kishimoto

Story by UchiHaruno Misaki

Warn : AU, OOC, Typo, Mainstream idea, etc.


[U. Sasuke x H. Sakura]


Bab 3


Sebuah mobil limosion hitam mengkilap berhenti tepat di depan bangunan pencakar langit yang tertera sebuah nama HY Corporation di puncak gedung tersebut. Seorang penjaga keamanan terlihat berlari tegesa ke arah mobil itu lalu mulai membuka pintu penumpang mobil tersebut. "Selamat datang presdir Hyuuga," ujarnya dengan nada sopan setelah seseorang di dalam mobil tersebut keluar.

"Hm," hanya itu jawaban dari pria paruh baya berwajah angkuh nan tegas tersebut, tanpa berlama-lama pria itu segera berjalan menyusuri tiap lorong perusahaannya tersebut. Setiap orang yang melihatnya lantas membungkuk hormat.

Setelah sepuluh menit waktu digunakan untuk mencapai ruangannya, pria itu kini telah sampai di ruangannya yang terlihat luas dan elegan. Matanya kini terfokus pada pria yang tengah duduk santai di sofanya yang kini menatapnya datar, "Anda sudah datang Hyuuga-sama?" ujarnya sopan.

"Hm, ada apa pagi-pagi seperti ini kau datang ke kantorku?" tanya pria paruh baya itu seraya melangkahkan kakinya menuju kursi kerjanya di depan sana dan langsung mendudukinya.

Pria berhelaian perak itu tak segera menjawab, melainkan menekan salah satu tombol dari benda panjang tipis di tangannya dan —Klik! Layar televisi yang tertempel di dinding pun menyala dan memerlihatkan sesuatu yang sangat mengejutkan untuk pria paruh baya tersebut.

"BRENGSEK!" pria paruh baya berpupil seputih mutiara itu terlihat sangat murka ketika melihat rating tingkat kondisi perusahannya yang di ambang batas.

"Maafkan saya Hyuuga-sama, seharusnya dari awal anda mendengar apa kata saya. Uchiha Group tidaklah sebodoh itu dengan mudahnya membiarkan kita menerobos data-data penting perusahaan mereka, saya yakin ada yang tidak beres dan lihat? Semuanya memang telah terencana. Tuan muda Uchiha ternyata menjebak kita dengan data-data palsu itu," ujar seorang pria berkacamata bundar itu pelan namun penuh dengan tekanan.

Sang Hyuuga menghela napasnya kalut, "Sial! Kau benar Yakushi! Baiklah untuk saat ini kita lupakan si Uchiha brengsek itu. Sekarang kau kuperintahkan saat ini juga untuk menstabilkan perusahaanku, setelah itu baru kita buat perhitungan dengan bocah tengik sialan itu."

Yakushi Kabuto mengangguk sopan, "Saya mengerti Tuan, kalau begitu saya pamit undur diri." Sang atasan hanya mengangguk lalu memutar balikkan kursi putar itu menghadap kaca besar yang memperlihatkan langsung pemandangan kota Tokyo yang terlihat bagai sampah di kedua manik tiaranya.

Yakushi Kabuto membungkuk sopan lantas membalik tubuhnya menuju pintu ruangan tersebut seraya membenarkan letak kaca mata bundarnya itu dengan seringaian licik terpeta di salah satu sudut bibirnya.

.

Setelah keluar dari ruangan tersebut dan memastikan tidak ada siapapun di sana Kabuto mengeluarkan ponselnya, lalu mulai menekan touch screen-nya yang menimbulkan beberapa angka. Ya, ia menghubungi seseorang.

"Hallo, Tuan?"

"..."

"Semuanya sesuai rencana anda, saat ini beliau tidak terlalu fokus kepada rencananya dan anda tidak perlu khawatir dengan apa yang anda rencanakan. Lakukan saja Tuan, saya di sini akan meng-handle semuanya dan saya pastikan tidak ada yang tahu tentang hal itu termasuk beliau. Semoga sukses Tuan,"

"..."

"Hm, saya mengerti."

Piip!

Pandangan tajam Kabuto berubah menjadi sendu ketika sambungan ponsel telah terputus, menghela napas pasrah pria berumur tiga puluh lima tahun itu kembali melangkah setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung celana.

'Siapapun wanita itu, semoga ia dapat meluluhkan hatimu yang keras itu baka otouto!'

.

.

.

.

Brak!

Dengan napas terengah-engah Sakura membuka pintu ruang rawat inap itu sekuat tenaganya sehingga membuat kedua benda tersebut menimbulkan suara nyaring, "SASORI?!" Sakura berteriak panik setelah melihat apa yang tersaji di depan matanya saat ini, Sasori yang tengah kejang-kejang dengan kulit yang memucat. Lagi rintihan kesakitan yang setia keluar dari mulut bocah lima belas tahun itu membuat dunia Sakura seakan menghitam saat itu juga.

Dengan cepat Sakura berlari ke arah adiknya dan menggenggam lengan Sasori erat seraya mengecupi seluruh wajah Sasori yang semakin memucat, "Sasori dengarkan Nee-san, kau akan baik-baik saja Nee-san janji kau akan baik-baik saja sayang bertahanlah!" Sasori menatap kakaknya sayu seraya mengangguk.

Para suster yang menangani Sasori datang dengan para perawat pria lalu mulai mendorong tempat tidur Sasori keluar menuju UGD, Sakura tetap setia mengenggam tangan Sasori dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat hati Sasori teranyuh sekaligus hancur seketika.

"Nee-san mohon, demi Tuhan Sasori bertahanlah untuk Nee-san ... jangan tinggalkan Nee-san, Nee-san mohon, bertahanlah Sasori! Kau akan baik-baik saja Nee-san janji." Sekuat tenaga Sakura menahan isak tangisnya agar tak membuat Sasori sedih, menggigit bibir bawahnya keras hingga berdarah. Sasori yang melihat pemandangan wajah memilukan kakaknya itu mulai memejamkan matanya dan berdo'a dalam hati di tengah-tengah sisa kesadarannya yang mulai menipis.

'Tuhan, jika aku masih memiliki kesempatan untuk hidup maka berikanlah aku kekuatan untuk bertahan. Tetapi jika sebaliknya ... aku mohon buatlah Nee-san bahagia walau tanpa diriku Tuhan, hanya itu permohonanku ...' batinnya berteriak lirih, tanpa sadar buliran air mata keluar dari kedua bola matanya yang terpejam, sakit di jantungnya kian merajalela dan setelah itu semuanya terasa hening ... gelap. Ya, Sasori tak sadarkan diri.

'Nee-san ... gomen nee,'

"Sasori? Sasori astaga suster kenapa adik saya diam?" Sakura begitu panik melihat Sasori yang tak bergerak sama sekali. "Demi Tuhan! Sasori?! Bangun!"

"Nona tenanglah, pasien akan kami tangani dan Nona silahkan tunggu di sini." Setelah mengatakan itu, suster tersebut mengisyaratkan para perawat lainnya mendorong tempat tidur Sasori ke dalam UGD. Sakura? Gadis itu mematung di hadapan pintu yang mulai menutup.

Bruk!

Bersamaan dengan tertutupnya pintu UGD Sakura jatuh terduduk di lantai yang dingin itu, perasaannya tak karuan saat ini, membayangkan wajah Sasori yang kesakitan tadi membuat pikiran Sakura kosong seketika.

Sebulir air mata kembali menetes menjadi saksi bisu betapa menderitanya gadis itu, "Kumohon, kumohon, kumohon padamu Tuhan selamatkan adikku. Demi Tuhan aku akan melakukan apapun asalkan adikku selamat aku mohon ... Tuhan," Dengan lelehan air mata Sakura bersedeku dengan kedua tangan tertangkup di depan dada dan mata yang terpejam.

Sakura terus berdo'a kepada Tuhannya tanpa henti, orang-orang yang berlalu lalang di koridor itu menatap Sakura iba. Beberapa saat Sakura terus dalam posisi seperti itu.

.

Cklek!

Sorang dokter pirang membuka pintu, "Nona Haruno?" Sakura berdiri dari lantai yang sedari tadi ditempatinya untuk berdo'a lalu dengan tergesa-gesa menghampiri dokter pirang yang baru saja keluar dari ruang UGD tersebut.

"Bagaimana keadaan adik saya, dokter?"

"Kita bicarakan di ruangan saya Nona," Sakura mengangguk lalu mengikuti langkah dokter Tsunade di depannya, Selama di perjalanan tak henti-hentinya Sakura berdo'a.

Cklek!

Dokter Tsunade membuka pintu ruangannya lalu mempersilahkan Sakura untuk duduk di hadapannya, Sakura pun mendudukkan dirinya di sana. Dokter itu menghela napas sejenak lalu menyatukan kedua tangannya di atas meja dan menatap Sakura pasrah, "Maafkan saya Nona, adik anda harus dioperasi malam ini juga,"

Mata Sakura terbelalak lebar, "A-apa? Bukankah seharusnya besok?" tanyanya tercekat.

Dokter Tsunade memejamkan matanya sejenak lalu kembali menatap Sakura dalam, "Di luar dugaan saya ternyata keadaan jantung adik anda memburuk dan jika tidak segera dioperasi ... saya tidak yakin nyawa adik anda akan selamat."

Sakura mendadak merasakan sesak di dadanya, pendengarannya mendadak berdengung. "Ya Tuhan! Dokter, s-saya butuh waktu lagi untuk mengumpulkan uangnya, tidak bisakah menunggu?" ujar Sakura kalut.

Tsunade menggeleng mantap, "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada adikmu selama kita menunggu," Sakura menghembuskan napasnya sesak mendengar panturan dari dokter itu, lalu Sakura menganggukkan kepalanya mengerti. Sakura beranjak meninggalkan ruangan dokter itu dengan gontai setelah mengucapkan sesuatu.

"Terima kasih dokter, lakukan saja operasinya dokter dan pastikan adik saya selamat. Masalah biaya, saya janji akan membayarnya malam ini juga."

Sakura melangkahkan kakinya tanpa ekspresi berarti di wajahnya, entahlah ... gadis itu bagai raga tanpa nyawa saat ini. Jadi beginikah akhirnya? Nyawa adiknya tengah di ujung tanduk dan uang tabungannya belum cukup untuk membayar biaya operasi adiknya.

'Ya Tuhan ... bagaimana ini?' batinnya putus asa.

.

Sakura pulang ke rumah mengambil semua uang yang dimilikinya lalu menghitungnya dengan cepat, ia sudah memberitahukan keadaan ini kepada Ino untuk meminta sedikit bantuan yang ia yakini belum cukup untuk menutupi kekurangan biaya operasi.

Sakura harus berpikir cepat, di mana ia bisa mendapatkan uang dalam jumlah yang besar dengan waktu yang singkat? Jika ia meminjam uang di Bank akan memakan waktu lama untuk memprosesnya. Bagaimana? Bagaimana ia bisa mendapatkan uang dengan cepat? Ya Tuhan.

Pluk!

Di tengah kegundahan hatinya tanpa sengaja Sakura melihat sebuah kartu nama jatuh dari kantungnya, dengan perlahan gadis itu menunduk dengan tangan terkepal. Lalu dengan mantap Sakura memungut kartu nama tersebut dan memejamkan matanya.

Kakashi Hatake ...

'Maafkan aku Ibu, Ayah, Sasori ... aku akan mengambil jalan ini demi keselamatan Sasori, aku sudah berjanji akan melakukan apapun untuk Sasori. Tak terkecuali cara ini, ya ... Sakura kau kuat! Kau pasti bisa melakukannya!' tanpa sadar cairan bening kembali menyeruak ketika Sakura membuka matanya, namun dengan pelan tapi pasti Sakura menghapus air matanya itu. Ya, ini bukan waktunya untuk menangis! Nyawa adikmu tengah dalam ujung tanduk Sakura, mantapkanlah hatimu! Begitulah pikirnya.

Dengan perlahan Sakura mulai menekan beberapa tombol di ponselnya dan —klik!

"Hallo,"

'Ya? Siapa ini?'

"Hatake-san, ini saya Haruno Sakura ... Sa-saya," Sakura memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskan napas pelan, "Sa-saya bersedia membantu Hatake-san."

'Aa, apa Nona yakin?'

"Hm, sangat yakin!"

'Nona saya harap Nona tidak akan menyesal, baiklah sore ini saya akan menjemput Nona. Bisa kirimkan alamat rumah Nona?'

"Hm, akan saya kirim Hatake-san,"

'Baiklah.'

Piip!

Bruk!

Sakura jatuh terduduk seraya mencengkeram dadanya erat, "Hikss, Sakura kau kuat! Ini adalah pilihan terbaik untuk Sasori! Ya, kau kuat Sakura ..." untuk yang pertama kalinya seorang Haruno Sakura begitu tersiksa seperti ini, namun gadis itu telah bersumpah akan melakukan apapun termasuk cara ini. Ya, Haruno Sakura rela mengorbankan dirinya untuk sang Adik tercinta.

.

.

.

.

.

Tap, tap, tap!

Suara langkah kaki seseorang di koridor rumah sakit membuat semua orang menoleh pada si pemilik kaki tersebut, begitu juga Sakura yang tengah duduk bersandar di kursi ruang tunggu seraya mengenggam kartu nama di genggaman tangannya. Ia melihat Ino berlari dengan napasnya yang tersengal-sengal.

"Aku sudah mengumpulkan uang dari teman-teman di Hotel, manager Hozuki juga menyumbang dengan jumlah yang cukup besar. Ini coba hitung apakah sudah cukup? Oh Tuhan semoga cukup," Ino mengulurkan amplop yang berisi uang kepada Sakura seraya bergumam lirih.

Sakura mengambil uang itu lalu menghitungnya cepat, lalu sejurus kemudian kepalanya menggeleng lemah, "Ino ... ini belum cukup. Aku masih membutuhkan tujuh puluh persen dari uang ini ...,"

"Ya Tuhan, aku ... a-aku akan mencoba meminjam di tempat lain oke? Kau jangan khawatir Saku, aku janji aku—"

"Ino!" Sakura menghentikan kalimat Ino yang terlihat sangat kalut, sungguh saat ini Sakura merasa bersalah kepada sahabatnya itu, "Aku mohon dengarkan aku, sebenarnya aku telah mengabil keputusan," Sakura mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuah kartu nama dan tentunya itu membuat Ino mengerenyitkan dahinya heran.

"Apa ini?" tanyanya heran, Sakura menunduk sejenak lalu kembali menatap sahabat blonde-nya itu serius dan Sakura mulai menceritakan semua keputusannya. Mata Ino terbelalak lebar setelah mendengar kalimat demi kalimat dari sahabat pink-nya itu. "Astaga Sakura! Apa kau sudah gila hah?! Dengar, aku tidak akan pernah setuju kau melakukan semua hal konyol itu mengerti?!"

Sakura tersenyum getir lalu menggenggam lengan Ino erat. "Ino ... tapi hal konyol itulah satu-satunya cara untuk mendapatkan uang banyak dengan cepat, aku butuh Sasori dan Sasori butuh uang itu."

Ino menepis kasar lengan sahabatnya itu, lalu berdiri dengan tatapan garang dihadapan Sakura, "Haruno Sakura! Kau bodoh atau apa?! Itu sama saja dengan menjual harga dirimu sebagai wanita dan Ibu! Tak sadarkah kau Sakura ... oh Tuhan! Kau telah berdosa Sakura! Kau tahu? Kau sama saja dengan menjual bayimu! Darah dagingmu sendiri! Berpikirlah dengan logis, gadis bodoh!" Ino tak dapat lagi menahan air matanya, sungguh hatinya begitu sakit mendengar keputusan tolol dari sahabatnya itu.

Sakura menatap Ino tajam, "Aku tahu, AKU TAHU SEMUA ITU INO! Dan dengan atau tanpa persetujuanmu aku akan tetap melakukan itu! Tidak ada satupun yang berhak menghalangi jalanku, termasuk kau Yamanaka Ino!"

Ino kembali duduk di hadapan Sakura sambil menggenggam kedua tangan sahabatnya itu lembut, "Sakura ... kau sedang kalut, pikiranmu tidak bekerja dengan logis. Dengarkan aku Saki, masih banyak cara lain, kita pinjam uang ke Bank,"

Sakura menggeleng lemah, "Tidak, butuh waktu lama untuk memprosesnya dan Sasori tidak bisa menunggu," ujarnya putus asa.

Ino memutar otaknya cepat, "Kau tidak usah khawatir, hm ... baiklah, kita pinjam uang pada manager Hozuki,"

Sakura terkekeh geli dengan ekpresi kosong, "Kau tahu ia sudah membantuku dan mana mungkin ia akan memberikanku uang lagi?"

Ino menggeram kesal, "SIAL! Argh! Baiklah-baiklah Ino ayo berpikir ... hm baiklah kita—"

"Ino!" lagi Sakura memotong kalimat sahabatnya itu, Sakura mengigit bibirnya kuat. "Sekarang kita tahu betul, 'kan? Tidak ada cara lain lagi," ujarnya dengan suara parau.

Air mata kembali jatuh di wajah Ino, ia tahu. Tapi ia tidak bisa membiarkan Sakura melakukan tindakan konyol seperti ini, "Sakura ... aku yakin kau akan menyesal nantinya," bisiknya getir.

Sakura tersenyum lembut, "Aku akan lebih menyesal lagi jika aku tidak bisa menyelamatkan Sasori, kau tahu sendiri ia satu-satunya keluarga yang kumiliki," Sakura berujar dengan nada miris, "Aku telah berjanji pada Sasori atas nama Tuhan bahwa aku akan melakukan apapun demi Sasori termasuk menjual diriku sekali pun!"

Ino mengusap air mata di pipinya lalu mencengkeram kuat bahu Sakura. Ya, kini ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tidak bisa melarang atau pun menyetujui keputusan sahabatnya. Yang bisa dilakukanya saat ini hanyalah mendukung Sakura, menghela napas sejenak, Ino kembali berkata. "Apa kau sudah menghubungi nomor itu?" tanyanya dengan nada seakan tercekat.

Sakura menganggukkan kepalanya pelan, "Ya, aku akan bertemu dengan orangnya nanti malam. Emh ... bisakah kau menolongku menjaga Sasori selama aku pergi Ino?"

Ino menatap sahabatnya itu sendu lalu tersenyum lirih, "Ya ... tentu, untuk yang satu itu kau bisa mengandalkanku Sakura."

"Terima kasih, Ino."

.

oOo

.

Tak!

Suara pukulan terdengar sangat jelas di halaman berumput hijau indah dengan luas tak terkira itu, sebuah bola putih terlihat melambung tinggi ke arah langit sore yang mulai berwarna merah kekuningan. Ya, hari mulai senja tapi tak membuat seorang pria rupawan tersebut lelah dengan aktivitasnya saat ini.

"Hm, pukulan yang sempurna untuk sore kali ini, Tuan." Ujar pria berhelaian perak itu kepada tuannya yang kini tengah tersenyum puas dengan pukulan bat terhadap bola baseball tersebut.

Uchiha Sasuke mengelap keringatnya lalu meminum cairan merah rasa asam itu pelan, "Hn, itu sudah cukup membuatku puas Kakashi," sahutnya datar. Kakashi Hatake hanya tersenyum tipis menanggapi jawaban super dingin dari tuannya itu. Ya, hal yang sudah sangat biasa.

Sasuke mendudukkan dirinya di kursi taman tersebut tanpa melepaskan tongkat baseball kesayangannya itu dari tangannya, menatap langit dengan tatapan datar Sasuke menghembuskan napasnya santai.

Drrt ... drrt!

Ponsel Kakashi bergetar dan tanpa banyak buang waktu lagi pria itu mengangkatnya, —klik!

"Hallo?"

'Hallo Kakashi-kun! Tolong sampaikan pada Sasuke-kun kenapa ponselnya tidak aktif? Ia sudah berjanji akan mengajakku kencan malam ini!'

Kakashi memutar kedua bola matanya bosan lalu tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan onyx milik Sasuke yang kini menatapnya seolah bertanya dari-siapa? dan Kakashi pun menjawab dengan umikan bibir tanpa suara yang berarti Mei-Terumi.

Sasuke menatapnya dingin, "Hn, katakan padanya jangan hubungi aku lagi!" setelah mengatakan itu Sasuke melangkahkan kakinya menuju rumah meninggalkan Kakashi yang kini terkena serangan maut di kedua telinganya dari suara sumpah serapah dari salah satu wanita mainan sang tunggal Uchiha tersebut.

.

'Ck merepotkan,' batin Kakashi setelah menutup ponselnya lalu setelah itu Kakashi pun turut meninggalkan halaman megah itu menyusul tuannya.

"Tuan," ujar Kakashi ketika melihat Sasuke tengah duduk santai di sofa ruang tamunya, Sasuke hanya diam dan Kakashi mengerti bahwa tuannya itu menyuruh ia melanjutkan perkataannya, "Emh, saya lupa tadi nona Haruno menghubungi saya bahwa ia—" Kakashi menghentikan kalimatnya ketika Sasuke mengangkat sebelah tangannya, lalu kembali membuka matanya yang sedari tadi menutup.

"Hn, bagus Kakashi aku tahu bahwa gadis itu cepat atau lambat akan setuju. Bawa dia ke sini petang nanti," ujarnya datar tak lupa dengan sebuah seriangaian tipis terpeta jelas di salah satu sudut bibirnya.

Kakashi menghela napas pasrah lalu mengangguk mengerti, "Ah ya saya tadi sempat melihat Nona Haruno menangis tersedu ketika mendengar kabar adiknya yang harus segera dioperasi," ujarnya sedikit mengiba.

Sasuke mengedikkan bahu tak peduli lalu kembali menyandarkan punggungnya di sofa seraya menutup kedua matanya kembali. "Hn, aku tidak peduli tentang itu. Tapi, jujur saja untuk kali ini aku harus berterima kasih pada takdir yang membuat gadis itu datang padaku," —lagi seringaian licik itu terpeta jelas di kedua belah bibir pria rupawan itu. Kakashi? Hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pikiran licik tuannya itu.

.

.

.

.

.

Sakura berjalan gontai keluar rumah sakit. Ya, kini waktu telah menunjukkan setengah enam petang dan Sakura yakin pria berhelaian perak itu sebentar lagi akan menjemputnya di rumah maka dengan berat hati Sakura harus rela meninggalkan Sasori yang tengah terbaring dengan kondisi kritis.

Kendati hatinya merasa gundah akan tetapi Sakura tak pernah ragu dengan keputusannya ini. Ya, ini adalah keputusannya atas nama Tuhan demi Sasori dan Sakura tidak akan pernah membatalkannya. Ya! Tidak akan pernah.

Sakura menghembuskan napasnya pelan, jika dipikir-pikir tidak terasa ia telah menjalani hidup dengan Sasori adiknya sudah sepuluh tahun lebih tanpa orang tua. Sakura sadar selama ini ia bisa menghadapi semua ujian dari Tuhan dan Sakura tahu saat ini pun adalah ujian dari Tuhan yang paling berat.

Sakura yakin ia bisa menghadapinya, ia gadis kuat jadi sampai kapanpun Sakura tidak akan pernah menyalahkan takdir. Ya, tidak akan. Mungkin inilah takdir hidupnya. Menjual salah satu dari ribuan telur dalam rahimnya demi Sasori, untuk saat ini biarlah Sakura egois. Sakura pun akan menerima dengan lapang dada hasil dari perbuatan kejinya saat ini.

Miris.

Ya, Sakura tahu mungkin ini adalah sebuah hal yang akan membuatnya menanggung dosa dan berakhir dengan tenggelamnya ia di api Neraka. Namun untuk saat ini Sakura tak ingin memikirkannya, hanya Sasori. Ya, Sasori 'lah yang terpenting untuk saat ini.

Karena terlalu tenggelam dalam pikirannya Sakura tak menyadari kini ia telah berdiri di depan rumahnya dengan tatapan kosong, bahkan Sakura tak menyadari kehadiran seseorang berhelaian perak yang kini tengah menatapnya sendu. Seorang Kakashi Hatake tentu tahu apa yang tengah dirasakan oleh nona Haruno tersebut.

" ... na?"

" ... "

"No ..."

" ... "

"NONA?!"

Sakura terlonjak ketika mendengar suara sedikit tinggi di hadapannya, kedua matanya mengerjap beberapa kali lalu Sakura hanya bisa tersenyum kikuk melihat seorang pria yang kini tengah berdiri di hadapannya itu. Malu? Ya, lebih tepatnya begitulah. Sakura merasa malu karena ketahuan melamun.

"A-aa, Hatake-san? Apa Hatake-san sudah lama menunggu? Mau mampir sebentar?" tawar Sakura dengan ramah tak lupa sebuah senyuman menawan ia berikan pada Kakashi, tetapi Kakashi tahu itu hanyalah sebuah senyum palsu.

Kakashi menggeleng lalu tersenyum hangat, "Tidak Nona, lebih baik kita bergegas saat ini juga karena atasan saya sangat tidak suka menunggu, apakah kita bisa berangkat sekarang?" tanyanya sedikit sungkan.

Sakura terpaku, meremas ujung dress sederhana yang ia kenakan perlahan gadis musim semi tersebut mengangguk dengan sebuah senyum keputusasaan. "Aa, silahkan masuk, Nona." Sakura pun menurut dan masuk ke dalam sebuah mobil Audi hitam tersebut.

Dan mobil itu pun mulai melaju memecah jalanan petang di kota Tokyo tersebut.

.

.

.

.

.

"Silahkan masuk Nona dan duduklah di sofa itu, saya akan memanggil Tuan sebentar." Sakura mengangguk lalu dengan pelan ia berjalan menuju sofa tersebut seraya sedikit mengaggumi interior setiap ujung rumah mewah tersebut. Ya, saat ini Sakura telah berada di dalam kediaman seseorang yang akan memberikan benih ke dalam rahimnya.

Mengingat tentang hal itu entah mengapa membuat Sakura sedikit gelisah, ia takut bagaimana jika orang itu menolak dirinya karena ia miskin? Tidak cantik dan tidak berpendidikan? Menghembuskan napas perlahan Sakura meyakinkan diri ia harus yakin orang itu menerimanya. Ya, semangat Sakura! inner-nya berteriak menyemangatinya.

Tap, tap, tap!

Suara langkah kaki membuat Sakura gugup, sungguh entah mengapa hatinya berdebar tak menentu. Maka dengan bodohnya Sakura hanya menunduk tidak berani mengangkat wajahnya. Sakura yakin seseorang yang datang bersama Hatake Kakashi kini telah duduk di depannya dan tengah memerhatikannya.

"Ehem, nona Haruno bisakah anda mengangkat wajah anda? Bukankah itu tidak sopan?" ujar Kakashi sedikit tegas, Sakura yang menyadari kebodohannya dengan cepat mengangkat wajahnya dan matanya terbelalak ketika melihat pria yang kini tengah duduk dengan angkuhnya di depan sana, tak lupa mata sehitam jelaga tersebut terus menatapnya dingin dan datar.

"Tu—tuan Uchiha?" lirih Sakura tak percaya, oh ayolah ingatan Sakura sangat tajam dan ia masih mengingat bahwa pria dihadapannya itu adalah salah satu tamu di Hotelnya bekerja.

Sasuke bersedekap dada dan menatap Sakura tajam seolah tengah menilai gadis tersebut, jujur saja Sakura merasa gugup sekarang. Ia takut pria Uchiha itu tak menginginkannya.

"Jadi gadis ini yang kau maksud, Kakashi?" tanya Sasuke seolah tidak tahu apa-apa tentang Sakura, cih lihatlah bukankah Sasuke sangat pantas menjadi seorang aktor eh? Pandangan Sasuke tak pernah lepas dari Sakura.

Kakashi sedikit berdehem, "Ya, gadis ini Haruno Sakura adalah gadis yang saya maksud, Tuan." Sahut Kakashi sopan.

Sasuke menatap Kakashi sekilas. "Hn, kau boleh keluar," Kakashi mengangguk lalu meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua dalam ruangan itu.

Hening ...

"Jadi nona Haruno mengapa kau mau menerima pekerjaan seperti ini? Apa karena uang?" suara dingin Sasuke memecahkan keheningan diantara mereka berdua, Sakura menelan salivanya gugup lalu menatap onyx itu penuh keyakinan.

"Ya, semua itu karena saya butuh uang tuan."

Sasuke menyeringai merendahkan, "Cih, jadi hanya karena uang kau—"

"Dengar tuan Uchiha Sasuke! Saya ke sini bukan untuk diintrogasi, saya ke sini hanya ingin memastikan apakah anda menerima saya sebagai pendonor telur untuk benih anda?" Sasuke sedikit terkejut melihat keberanian seorang gadis yang memotong kalimatnya, ah! Benar-benar menarik pikirnya licik.

Sakura sendiri sangat tahu apa yang akan diucapkan pria angkuh dihadapannya itu, ya hinaan! Itu adalah tabiat murni dari para kalangan atas seperti pria Uchiha ini dan Sakura sangat geram akan hal itu.

"Hn, baiklah aku menerimamu Nona, tapi aku akan mengajukan beberapa pertanyaan dan peraturan, bagaimana?" ujarnya datar seraya menatap Sakura tanpa ekspresi berarti. Sakura hanya mengangguk menyetujui. "Pertama apakah kau memiliki kekasih atau suami?"

"Tidak,"

"Hn, kedua apakah kau masih seorang 'gadis'? Pernah melakukan kiss? Oral? Sex mungkin? Jika ya, berapa kali kau pernah melakukannya? Dengan berapa pria?" Sasuke bertanya dengan wajah datar sedangkan Sakura? Wajahnya mulai memerah, bukan! Bukan karena malu! Melainkan marah, hell! Ternyata para kalangan atas lebih brengsek dari pada preman jalanan pikir Sakura murka.

"Tidak pernah, asal anda tahu ya tuan Uchiha ... saya tidak serendah apa yang anda pikirkan," Sakura masih dapat menahan amarahnya yang kian memuncak, ya setidaknya ia takut jika ia menampar atau pun menendang pria brengsek di hadapannya itu karena mulut sampahnya akan merugikan dirinya sendiri.

"Hn, baiklah. Untuk peraturannya, pertama: kau harus tinggal bersamaku selama kau mengandung anakku, kedua: kau dilarang memberitahukan kepada siapapun, ingat SIAPAPUN! Tentang masalah ini, ketiga: tugasmu hanya mengandung anakku jadi jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, keempat: kau tidak boleh keluar dari rumahku ketika kau tengah mengandung karena bagaimanapun juga identitasmu akan sangat rahasia, kelima: jangan pernah jatuh cinta padaku! keenam: jangan pernah jatuh cinta pada anak yang kau kandung karena ingat! Anak itu adalah milikku! Hanya milikku, dan yang terakhir: setelah kau melahirkan maka menghilanglah! Jangan pernah menampakan batang hidungmu pada kami, hn aku dan anak ini kelak. Sebagai imbalannya aku akan memberikan uang banyak padamu, bagaimana?" Sakura mematung di tempat, hatinya terasa ngilu ketika mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari pria itu.

"Ta—tapi bagaimana dengan pandangan orang-orang pada anak yang tak memiliki seorang Ibu kelak?" ujar Sakura sedikit bergetar.

Sasuke tersenyum licik, "Kau meremehkan seorang Uchiha sepertiku, hn? Ibunya meninggal ketika ia dilahirkan, hanya kalimat sederhana itu akan menutupi semuanya. Bukankah itu mudah eh nona Haruno?"

Sakura mengigit bibirnya keras, "Mungkin itu mudah untuk membodohi manusia tuan, tapi bagaimana status anak itu di mata agama dan Tuhan kelak? Terlahir tanpa adanya ikatan pernikahan suci diantara kedua orang tuanya, bu—bukankah ia akan dicap sebagai anak ... haram?"

Sasuke mengeraskan rahangnya geram, "Sudahlah. Kau menerimanya atau tidak? Sudah kukatakan bukan? Itu adalah masalahku kelak dan kau! Kau tidak berhak mencampuri urusanku!" ujar Sasuke dingin seraya menatap Sakura tajam. Sakura terdiam kaku ditempatnya, kegelisahan antara hati dan otaknya saling berbalik arah. Apa yang harus ia lakukan?

Sasori ...

Bayangan wajah Sasori membuat Sakura menetapkam hatinya, "Baiklah saya setuju tuan Uchiha." Sasuke menyeringai puas.

"Bagus, besok kau harus mulai berkemas karena pada saat itu pula semuanya akan dimulai, mengerti, Nona Haruno?"

"Ya ... tuan Uchiha."

Ya esok ketika bayangan cahaya matahari muncul maka saat itu pula semuanya akan di mulai ...


To be continue


Hayashi Hana-chan : Keren? Wah makasih ya Iya ngga papa asal review aja itu lebih dari cukup ko. Ah ya jangan panggil aku senpai ya? Panggil aku pake suffiks -san saja.

Rei Hanna : Iya ini udah diusahain update kilat ko. Fanfic lain lagi dalam pengerjaan, semoga sabar menunggu ya.

QRen : SasuSaku saling menyukai? Hmm #Ngelus dagu Waaah maaf ngecewain, kayaknya masih lama deh :3 Untuk pihak ketiga ... kita lihat saja nanti ya?

shaby : Aa, makasih. Iya aku juga bingung kalo ada di posisi Saku.

nabila nurmalasari1 : Eh jangan panggil aku senpai! Kita sama jadi tidak perlu pake senpai segala, aa masalah fanfic aku yang belum kelar ya? Sebenernya ngga papa ko kamu ngingetin aku seperti itu, tapi alangkah baiknya kamu sebagai reader yang baik cukup ikuti alur yang Author bikin aja oke? Jangan buang-buang waktu buat mikirin masalah Author.

Fuji Seijuro : Makasih ... iya ini udah di lanjut,

silent reader xD : Umur Sasori 15 tahun, iya ini udah update

Rechi : Silahkan baca chapter ini buat jawab semua pertanyaan kamu.

Guest(1) : Iya ini udah diusahain update kilat

PinkLalaBlue : Ini SasuSakunya udah ketemu lagi.

Aiko Asari : Haha ngga usah terbang nanti pas jatuh sakit loh :v untuk 'Hikss' sudah aku kurangi ... makasih

Lynn : Iya aku disini ngga mau buat Sasuke OOC, soalnya agak gimana gitu. Ya jadi aku bikin Sasu sadis deh kaya aslinya. Ah fanfic itu aku tahu judulnya kalo ngga salah 'Cinta 1000 tahun' aku juga udah baca fanficnya bagus Ah untuk konflik mungkin ngga banyak buat fanfic aku ini, soalnya aku ngga jago bikin konflik berat.

airis chun : Iya.

obin : Oke.

Kim la so : Ini udah lanjut, haha iya ngebayangin Sasu nyeringai ... #NgelusDagu Blush! Aaaaaa sexy banget! Ehem ... fiks.

Kiki RyuEunTeuk : Wah wah ada screenplay datang ke fanfic aku? #kagum Fandom ELF ya? Salam K-popers ya Kiki-ssi Aku juga K-popers loh.

cherryl sasa : iya sama-sama.

Rei Haruno : Kyaaaaaa! Baka kouhai mampir ke fanfic ku? God! Hahaa Rei baka thanks udah mampir yo! Review lagi loh yaa?! :v

Enjellia Uchiha Gazerock : Wah maaf ya jika pendek. Ini udah dipanjangin.

yuki : Iya.

Eysha CherryBlossom : Masalah lima orang pemabuk ngga dibahas lagi deh :3 Iya SasoSaku ultahnya sama.

Panda : Makasih.

hanazono yuri : Wah gimana ya? Emh kita lihat saja nanti ya.

tafis : Maaf ya pendek #garukpala Ini udah aku panjangin.

Guest(2) : Iya ngga papa. Makasih, ini udah dilanjut.

Arum Junnie : Masalah uang ngga bakal aku jelasin cek atu cas nya. Waaaaa jangan digolok juga dong :v Kalo aku di golok nah siapa yang lanjutin fanfic-fanfic milikkuuuu? Haha jangan Gaara deh masa pink + raven = merah? Kan ga etis.

Zero : Iya ini udah dilanjut

Haruka Smile : Iya Sakura ngga bakal menderita terus ko. Ini udah diusahain update kilat walaupun gagal.

A-chan : Iya, makasih.

Eagle Onyx 'Ele : Sad atau happy? Eumh ... kita lihat saja nanti oke?

Viona Uchiha : Iya makasih. Ini udah dilanjut and don't cry ... Sakura nanti bahagia juga ko.

vanny-chan : Hai salam kenal juga Eh jangan nangis nanti di aku di cambuk Sasori gimana? Err ... kalo di cambuk pake bibir sih tak masalah #KyaaaaaaGaje :3 Itachi? Nanti juga muncul ko

heni lusiana 39 : Ah ya aku EXO L, kenapa?

Cherry Philein : Aaaaaaaaaaa makasih udah mampir lagi ke fanficku Kakak Erza Aa Kakak suka Angst? Wah sama dong xD tapi maaf ya Kak kalo Angstnya ngga kerasa :3 Ah ya buat fanficku yang lain pasti aku lanjut ko #BlingBling

Amai Ruri : Ya bisa jadi itu rencana si KakaSasu xD Ya ini udah di lanjut.

Restychan : Hai juga ini udah dilanjut ko ...

rainy de : Oke sir ! #HormatKaki xD

Luca Marvell : Wah kamu pintar ya iya Saku bakal tinggal dikediaman Uchiha, err ... kediaman Sasuke lebih tepatnya ^^

Hilaeira : Aaaaaaaaa Hila kamu kemana aja hah?! Kenapa baru nongol sekarang? #BuangMuka ya ini udah dilanjut! Awas loh harus review lagi :v

TomatoCherry SS : Wah makasih Tomato-san

Yozoru : Ahahaaa makasih Zoru-san ini udah update,

mira cahya 1 : Iya.

fariskaaulia77 : Amin.

azizaanr : Ini udah dilanjut ko.

may shodiq : Salam kenal juga. Iya ngga papa.

Luci Kuroshiro : Aku juga kasian sama my Queen :3 dan aku juga suka chara Sasuke di sini. Aku tuh ngga mau bikin Sasu OoC! Rasanya konyol banget kalo Sasu OoC jadi aku bikin kaya sifat aslinya aja.

Guest(3) : Oke!

ongkitang : Makasih, ini udah dilanjut!

Guest(4) : Wahahaa aku juga ngga tau ini bakal mengharu biru atau ngga xD Buat Saso banyakin do'a aja ya semoga dia ngga kenapa-napa.

Oh Hannie Yehet PCY : Waaaah EXO L juga ya? Sama dong xD #GaNanya :3 Ini udah update ...

Daisatsu : Ini saya udah tanggung jawab ko! xD Haha makasih ya. Ah ya kalo bisa kamu jujur terus juga ngga papa ko.

hana : udah.

Mariyuki Syalfa : Ini udah lanjut, iya boleh ko Ini udah dipanjangin.

Uchiha Lynn : Iya, ini udah update.