Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I do not take any profit from this story, :D it's just for fun guys.
Warning: Boys Love hardcore, Multi Chapter, Out of Character, Typo, Alternate Universe, Sequel. KakaNaru anak-anakku. #nangis.
Naruto © Masashi Kishimoto
Siapa Pacarmu?
A Sequel of Friends With Benefits
Chapter 3 of 4
Naruto tersenyum lebar begitu dia melihat pemandangan yang disuguhkan di depannya. Kincir ria, komedi putar, rumah hantu, stan-stan makanan dan mainan memenuhi segala sudut. Hirup pikuk orang-orang menikmati setiap fasilitas sangat menambah semangat. Naruto dapat merasakan euforianya.
Ini adalah karnaval yang diadakan tahunan, hanya selama seminggu untuk memperingati ulang tahun kota Hokka. Karnaval ini cukup tradisional sebab semua fasilitas yang ditawarkan tak memiliki banyak sentuhan moderenitas. Peminatnya tergolong banyak, seringnya pasangan kekasih yang mencari tempat kencan atau orang tua yang ingin menghibur anak mereka.
Kakashi berdiri di sampingnya setelah menyuruh supirnya untuk pergi. Dia menggunakan topi kupluk, kacamata hitam, baju kasual lengan panjang dan celana jins ketat. Lengannya merangkul pinggang Naruto.
"Senang?" bisik Kakashi di telinganya. Bibirnya menyentuh rambut yang menutupi sebagian telinga Naruto.
"Menurutmu? Kita tidak pernah keluar bersama seperti ini, Kakashi." Senyuman itu masih tidak meninggalkan wajah Naruto.
"Hmm ...," bibirnya menyentuh leher Naruto, membawa getaran ke seluruh tubuhnya.
Naruto menjauhkan kepalanya, lalu menatap Kakashi. Oke, kacamata itu tidak mengurangi ketampanannya tapi sangat mengganggu saat dia ingin berbicara dengan Kakashi. Dia mengambilnya dari wajah Kakashi. "Kita di publik Kakashi. Tahan nafsumu. Aku tidak ingin membuat orang-orang mengira kita adalah bintang porno yang sedang syuting di luar."
Dua mata berbeda itu tidak meninggalkan wajah Naruto. Malah dengan serius menatap bibir Naruto. "Hmm ..."
Naruto mendesah. "Kakashi, ingat. Kita di sini untuk menikmati segala macam wahana karnaval dan bersenang-senang. Jangan hancurkan malam ini saat kita bahkan belum mulai."
Kakasih tersenyum kecil. Dia mengecup bibir Naruto sekilas lalu berkata, "Tentu saja, Sayang." Dia mengambil kembali kacamata itu dari tangan Naruto.
XxX
Wahana pertama yang mereka kunjungi adalah kincir ria.
Hal inilah yang benar-benar menarik perhatian Naruto sejak dia tiba di sini. Wahana ini sangat tinggi sehingga dari jauh pun orang bisa melihatnya. Dengan dua puluh kabin kecil yang bergantung pada rodanya, dan tinggi mencapai dua puluh meter―mungkin lebih―wahana itu bisa dibilang salah satu keistimewaan dari karnaval ini sendiri. Kabinnya berbentuk seperti labu, dengan hiasan dan lampu kecil mengelilinginya. Dua bangku berhadapan, bisa diisi empat sampai enam orang.
Untunglah sekarang penikmat wahana ini tidak begitu banyak, sehingga mereka tak perlu mengantri lama untuk naik. Ada dua orang di belakang mereka, sepertinya sepasang kekasih. Begitu giliran mereka tiba untuk masuk, Kakashi memberi sang penjaga tiket mereka sekaligus selembar uang. "Aku hanya ingin berdua di dalam sana."
Sang penjaga mengangguk. Menutup pintu mereka, lalu menuntun dua orang tadi untuk naik ke kabin berikutnya.
"Kau menyuap penjaga itu? Serius Kakashi?"
Kakashi melepas kacamatanya. "Aku tak ingin mereka merusak suasana."
"Merusak suasana?"
"Aku tak ingin naik wahana ini dengan orang lain, Naruto."
Naruto tersenyum lebar. "Aw, seseorang sedang dalam suasana romantis." Nada yang dikeluarkannya sedikit menggoda, namun ketika Kakashi merangkul pinggangnya, dia bersandar pada tubuh Kakashi. Kincir ria yang mereka naiki mulai berputar.
Kota Hokka di senja hari selalu nampak indah dari ketinggian. Langitnya ungu, perlahan berubah hitam menyelimuti kota ini. Bintang tak tampak begitu jelas sebab kalah dari cahaya lampu gedung-gedung tinggi. Ibukota memang selalu seperti ini.
Namun dari sini Naruto bisa melihat sisi lain Hokka. Jarang sekali dia melihat Hokka seperti ini. Dari danau di dekat Karnaval yang tak terhalangi apapun dan memantulkan cahaya sehingga tampak berpijar. Sampai ufuk timur dimana bulan bersanding indah dengan para bintang. Besar dan bercahaya, tanpa ada awan berani menutupi. Ada suara tawa anak-anak dan orang dewasa di bawah sana. Tawa tersebut terkadang redup beradu dengan musik-musik populer, tapi tak sekalipun hal itu mengganggu telinga Naruto.
Dari jendela dekat Kakashi, Naruto dapat melihat cahaya-cahaya pencakar langit yang saling bersaing menerangi kegelapan. Rasanya seperti mereka berusaha untuk mengusir jauh-jauh kegelapan itu sendiri.
"Indah bukan?" Suara Kakashi terdengar halus di telinganya. Tanpa berbalik, Naruto mengangguk. "Ayahku selalu membawaku kemari setiap tahun bersama Ibuku, sebelum dia mengambil keputusan bodohnya. Semuanya masih seindah dulu, meski ada perubahan di sini-sana."
"Oh," bisik Naruto pelan. Ini pasti salah satu bagian penting dalam hidup Kakashi. Jarang sekali Kakashi membawa kedua orang tuanya ke dalam percakapannya. Dia berbalik dan dihadapkan pada wajah tampan pacarnya. Seketika dia bersyukur Kakashi menyuap penjaga tadi untuk tidak membiarkan orang lain masuk di kabin mereka. Dunia milik mereka sekarang. Tidak ada yang bisa mengganggunya. "Aku mencintaimu." Naruto mengusap pipi Kakashi.
Senyuman yang dihasilkan pacarnya akan selalu terekam dalam ingatan Naruto. Begitu atraktif, cerah, dan tulus hingga Naruto yakin organ tubuhnya sedang meleleh. Tak apalah kalau Naruto mati sekarang, karena hal terakhir yang dia lihat lebih berharga dari segala harta di dunia ini.
Kakashi menciumnya.
XxX
"Aku lapar," protes Naruto. Kemudian dia duduk di bangku yang ada di sampingnya.
Karnaval ini semakin malam semakin ramai, meski ini bukan hari terakhir. Aneh bukan? Sebab biasanya sebuah karnaval akan berakhir di akhir pekan. Namun karnaval ini akan berakhir tiga hari lagi, tepat di hari ulang tahun kota Hokka. Di hari itu semua pegawai negeri diliburkan, akan ada juga pawai mengelilingi kota ini.
Kakashi ikut duduk di sampingnya, melepas kacamatanya sembari merangkul pundak Naruto. Banyak orang lalu-lalang di depan mereka; mulai dari orang tua dengan anak mereka, muda-mudi di mabuk cinta, sampai gerombolan remaja yang asik menunjuk wahana yang ingin mereka nikmati. Satu-dua orang sepintas melihat ke arah mereka, namun tak pernah lama-lama menahan pandangan mereka.
Di kota ini memang banyak manusia berjiwa liberalis, sehingga hal-hal tak lumrah seperti pasangan sesama jenis tidak begitu menarik perhatian mereka. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan di kampung halaman Naruto. Queer memang tidak langsung dihina, namun tatapan aneh yang dilemparkan kepada mereka sanggup membuat rasa percaya diri seseorang terjun bebas dari angkasa.
"Kakashi," rengek Naruto. Oke, dia mungkin sedikit berlebihan tapi ini masalah perutnya—dengan kata lain, ini adalah hal yang genting. "Jadilah pacar yang baik dan belikan aku makan."
Naruto menatap wajahnya tepat saat Kakashi memutar matanya. "Kadang aku heran kemana semua makanan di perutmu itu pergi. Makanmu sebanyak itu namun badanmu tidak naik-naik." Kakashi bangun, kemudian menggunakan kacamatanya lagi. "Tunggu di sini."
"Memangnya aku mau kemana lagi?" balas Naruto, tapi dia tak yakin suaranya didengar Kakashi yang telah melangkah pergi. Dia mengeluarkan ponselnya, sadar bahwa ada beberapa pesan masuk di sana. Satu dari Gaara menanyakan apa dia akan pulang ke apartemen mereka sebentar—sepertinya tidak sebab tidak ada hal yang mendesak besok. Jawabannya disambut dengan emoticon jempol. Dahinya mengerut sebab hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Gaara tampak seperti ... menyembunyikan sesuatu.
Ada satu dari Sakura yang bertanya apakah dia benar-benar pacaran dengan Hatake Kakashi, ataukah Kakashinya itu adalah Kakashi palsu―serius? Kakashi palsu? Memangnya ada beberapa Kakashi di kota ini? Sepertinya teman-temannya ini terlalu lelah menghadapi tugas akhir sampai otak mereka korsleting. Sungguh kasihan. Naruto terpikir untuk membuat karangan bunga saat mereka semua lulus dari kampus ini.
'Yap. Setahuku hanya ada satu Kakashi di kota ini Sakura. Pegang ucapanku atau tidak, terserahmu saja.'
Selesai menulis jawaban itu, Naruto sadar ada seseorang yang berdiri di dekatnya. Bukan Kakashi, karena pacarnya itu pasti langsung duduk di sampingnya. Orang itu seusia Naruto, rambut lebih jingga daripada Naruto, mata coklat, dan dengan malu-malu menggaruk belakang kepalanya. "Um, hai. Maaf jika aku mengganggumu, tapi bolehkan aku duduk denganmu di sini."
"Huh?" kata Naruto. Dia mengangguk perlahan meski sedikit kebingungan.
"Oke, terima kasih." Pemuda itu mengangguk kemudian duduk di samping Naruto―tepat dimana Kakashi duduk tadi. "Uh, dimana sopan santunku. Namaku Yahiko. Aku tidak ingin mengganggumu, hanya saja aku melihatmu duduk sendirian di sini dan aku berpikiran untuk, uh, kau tahu―mengajakmu menikmati wahana ini." Dia tersenyum kecil. "Kebetulan juga aku kemari sendirian. Dan mungkin setelah itu kita bisa saling mengenal lebih dekat."
Mata Yahiko tampak penuh dengan harapan sampai Naruto hampir tak tega untuk menolaknya. Hampir, karena Naruto sudah punya pacar yang ganteng, kaya, dan memiliki tubuh bak dewa yunani. Apalagi ketika dia melakukan pull up di ruang tamu mereka tanpa baju ... yap, Naruto tidak akan menukar Kakashi dengan apapun.
Naruto bergeser sedikit kemudian benar-benar menghadap Yahiko. Dia tersenyum kecil, memastikan bahwa kata-kata yang akan dia keluarkan tidak akan menyinggung perasaannya. "Maafkan aku, tapi―"
"Ah Sayang, rupanya sudah ada yang menemanimu. Ingin kau kenalkan padaku?" Kakashi berdiri di dekat mereka. Tangannya memegang kotak dan plastik makanan. Suaranya terdengar aneh di telinga Naruto. Seperti ... seperti saat dia berurusan dengan orang-orang yang ada di kantornya.
Sontak, Yahiko bangun dan menggumam, "Maaf." Dia kemudian membungkuk ke arah Naruto dan berlalu pergi secepat mungkin.
Kakashi kembali duduk di tempatnya. Dia memberikan Naruto makanannya. "Makan ini."
Naruto tidak memakannya. Dia menaruh makanan-makanan itu di sampingnya kemudian bergeser hingga tubuhnya menyentuh Kakashi. "Hey," katanya perlahan. Kakashi tak menatapnya. "Jangan abaikan aku."
"Aku ingin membunuhnya." Naruto mengerjap beberapa saat, kebingungan. "Aku dengar apa yang dia katakan Naruto, dan aku benar-benar ingin membunuhnya." Dia melihat Naruto. Tatapan itu mengingatkannya pada saat mereka pertama bertemu. Dingin, kasar, dan gelap. "Makan makananmu Naruto, karena kau tidak akan punya kesempatan lagi sebentar." Naruto mengangguk, lalu membuka satu-persatu makanan di sampingnya dan memakannya.
Sesekali dia melirik Kakashi. Pacarnya itu mengeluarkan ponselnya, bermain beberapa saat kemudian memasukannya lagi. Tak sekalipun dia melihat ke arah Naruto.
Naruto berhenti makan sebentar. Ragu-ragu, dia bertanya, "Um, Kakashi. Kau tidak benar-benar ingin membunuhnya kan?" Dia melihat bagaimana Kakashi menggenggam tangannya dengan erat. "Aku paham kau cemburu, tapi ... kau tidak serius dengan ancamanmu itu kan?" Karena Kakashi adalah orang yang kaya dan mungkin Naruto terlalu banyak nonton film mafia, tapi rasanya Kakashi tidak segan untuk menjalankan ancamannya itu.
"Naruto ...," tatapan Kakashi tajam ke depan. "Dia menggodamu. Dia mengira kau tidak bersama dengan siapa pun. Dan dia hampir mengambil apa yang menjadi milikku." Dia bersandar di bangku tersebut, dan menoleh pada Naruto. "Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil apa yang menjadi milikku lagi."
"Kau tahu kalau aku akan menolaknya bukan? Aku tidak akan menukar siapapun denganmu."
"Ini bukan hanya tentang kau Naruto, tapi bagaimana bisa dia tidak tahu bahwa kau sudah dimiliki oleh orang lain."
"Hah?" ucap Naruto dengan mulut menganga. Kakashi bercanda bukan? Itu benar-benar tidak masuk akal. "Kakashi, kecuali Yahiko tadi adalah seorang pembaca pikiran, mana mungkin dia tahu kalau aku sudah punya pacar. Aku tidak melihat diriku sendiri menggunakan cincin tunangan atau apalah itu. Apa yang kamu ucapkan benar-benar tidak masuk akal Kakashi. Tidak masuk akal sama sekali."
"Habiskan saja makananmu Naruto. Lalu kita akan kembali ke apartemenku."
Naruto ingin protes. Mereka baru saja menikmati beberapa wahana. Kesempatan untuk keluar bersama Kakashi ini tidak datang setiap hari. Serius, ini tidak adil. Tapi dia memperhatikan bagaimana keadaan Kakashi sekarang, dan mengangguk. "Baiklah, tapi setelah itu kita akan membahas tentang ini. Setelah kau keluarkan apapun itu yang sedang mengganggumu, kita harus membahas tentang ini. Hal seperti ini bisa menghancurkan hubungan kita, Kakashi. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi."
TBC
They went home to do bondage thing, ( ͡º ͜ʖ ͡º) (hihihi).
Note: i am so bad at flirting with stranger OMG. D: The thing with Yahiko and Naruto is so much painful to write.
I am trying so bad to make their relationship doesn't seem like, berat sebelah, syusah juga ya, ahahahahhaha. Begini, Kakashi suka Naruto. Like, sayang banget sama dia. Tapi juga dia rada trauma sama bapaknya ditipu sama rekan kerjanya, dan mengambil alih apa yang jadi milik perusahaan keluarganya. Jadi dia jatuhnya menghargai pilihan naruto (liat Friends with benefits di akhirnya dia gak masalah kalau pilihan Naruto gak mau sama dia lagi), tapi gak akan terima kalau ada yang berani ambil apa yang jadi miliknya. So like, dia menghargai pilihan orang tapi kala ambil paksa dia gak mau ... uh, yeah, he's a bit problematic tbh kalau liat hubungan mereka sekarang. Hahahaha. Ngerti gak? Nanti otak gue udah benar lagi baru gue jelasin, lagi susah mikir. Hahaha.
Butuh empat hari untuk menyelesaikan ini setelah seseorang (lirik dia) secara tidak sengaja mention agar aku mengupdate cerita ini di facebook. (Statusnya muncul paling awal lagi pas buka facebook, gue kaget, hahahahaha)
Also I am really bad at describing beautiful place, especially if I am tired as hell. Hahahaha. Semoga gak aneh deskripsiin tempatnya.
Chapter selanjutnya adalah chapter terakhir, :') setelah itu ada satu fanfiksi lagi dan i am done with this series. (Artinya dia bakal ngeluarin fanfik baru yang gak ada hubungannya sama trilogi ini. Capek uy. Hahahaha. Bosan lagi nulisnya.) Harusnya sih cepat keluarnya chapter empatnya, semoga diri ini gak lupa tulisnya. Hahaha.
Btw, untuk pejuang skripsi di luar sana, jangan menyerah, selangkah lagi kalian bebash #no.
