Naruto by Masashi Kishimoto

Saya hanya meminjam karakter di dalamnya dan sama sekali tidak mengambil keuntungan materi dari fanfiksi ini.


To Be Loved

Terinspirasi dari Beautiful Disaster karya Jamie McGuire

Spesial untuk adikku, Rie. :)

.

.

Sasuke membatalkan niatnya untuk merokok. Dia kembali memasukkan rokoknya ke dalam saku celananya. Sasuke sendiri bingung, kenapa dia langsung kehilangan keinginannya untuk merokok setelah mendengar perkataan Sakura bahwa gadis itu tidak menyukai asap rokok. Satu hal yang dia tahu, ada rasa asing yang mulai menyusup ke dalam dirinya saat bersama dengan gadis itu. Perasaan yang sama sekali tidak dia inginkan sejak dulu.


Bab III

Our Side


Sakura mengunci kamarnya. Dia bergegas menuju kelas berikutnya. Sakura sudah mengatakan kepada Sasuke bahwa pemuda itu tidak perlu repot-repot mengantarnya ke kelas, tapi Sasuke pun bersikeras akan mengantarnya sampai kelas. Sakura enggan berdebat lebih lama. Dia tidak ingin terlambat masuk kelas Orochimaru-sensei hanya karena perdebatannya yang tak penting dengan Sasuke. Setelah mengangkat kedua bahunya, dia membiarkan Sasuke mengantarnya sampai depan kelasnya.

Kelas Orochimaru-sensei sudah hampir penuh, meski Orochimaru-sensei sendiri belum hadir. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lebih baik menunggu selama satu jam daripada telat hanya satu detik di kelas Orochimaru-sensei. Sakura sudah memprediksi bahwa seisi kelasnya pasti akan memperhatikannya jika mereka sampai menyadari bahwa saat ini Sasuke, bad boy Konoha, mengantarnya masuk sampai kelas. Tapi dia tidak menduga bahwa kata 'memperhatikan' diaplikasikan dalam tindakan mata yang hampir meloncat keluar.

"Aku sudah sampai, kau bisa ke kelasmu sekarang."

Sasuke hanya mengangkat bahunya dengan santai. Tidak beranjak dari posisinya di dekat pintu kelas, dia berkata, "Masuklah."

"Aku bukan bayi, aku bisa masuk kelas sendiri, dan kau tidak perlu menontonku masuk dan duduk di tempatku." Sakura mulai risih, apalagi dia bisa merasakan bahwa puluhan mata di dalam kelasnya pasti mengarah kepada mereka saat ini. Bisik-bisik mengenai mereka pun mulai terdengar mendengung di telinganya.

"Aku hanya memastikan kau selamat sampai bangkumu." Sasuke menjawab dengan santai.

"Tapi-" perkataan Sakura terhenti saat dia melihat Orochimaru-sensei sudah terlihat di ujung lorong kelasnya.

Dia tidak punya waktu lagi untuk mendebat Sasuke. Mengabaikan Sasuke yang masih di posisi semulanya, Sakura masuk ke dalam kelas dan duduk di samping Ino yang memberinya tatapan 'kau-harus-cerita-titik'. Sakura melirik ke arah pintu masuk kelas. Sasuke masih berada di sana. Sakura mungkin salah lihat ketika dia melihat Sasuke tersenyum tipis padanya sesaat sebelum pergi.

Baru kali ini Sakura bisa bernapas lega setelah menghadapi ujian di kelas Orochimaru-sensei. Bukan hal baru jika Ino tersenyum setelah menyelesaikan ujian di kelas hafalan, tapi bagi Sakura ini momen langka. Ingatkan dia untuk terus menerapkan metode yang diajarkan Sasuke dalam menghafal.

Sakura tahu Ino sudah menunggunya dengan rentetan pertanyaan yang berujung pada 'bagaimana kamu bisa seakrab itu dengan Sasuke?' Sakura tertawa memikirkan kata akrab yang terpikir di otaknya. Bagaimana mungkin kata itu muncul kembali ke permukaan, padahal sudah lama dia mengubur jauh-jauh kata itu dari kosakata yang mungkin akan dia gunakan, terutama yang berkaitan dengan laki-laki.

"Kalau kau sudah kembali ke bumi, kau masih punya hutang padaku. Aku pun masih akan menagihnya padamu!" Ino mendelikkan matanya. Kedua tangannya bersidekap di bawah dadanya.

Sakura mendengus. Dia tahu Ino dengan keuletannya, akan terus merongrongnya dengan pertanyaan-pertanyaan mengerikan jika jawaban yang dikeluarkannya tidak memenuhi standar jawaban bagi Ino. "Kau ingin mendengar jawaban yang sebenarnya atau jawaban yang membuatmu puas?" Sakura balik bertanya.

Ino melotot, lalu tertawa. Kontradiksi yang membuat Sakura memutar kedua bola matanya. "Tentu saja dua-duanya, Bodoh!"

Sakura hanya menatap Ino dengan malas. "Jawaban sejujurnya adalah aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Sasuke jika yang berputar-putar di kepalamu adalah mengapa dia mengantarku sampai ke kelas. Lalu alasan kenapa aku sampai bisa menempatkan diriku bersama dengannya adalah alasan konyol yang mungkin akan kau tertawakan jika kau mendengarnya."

"Nah, katakanlah alasan konyol itu!"

"Belajar."

Ino hampir menyemburkan jus jeruk yang diminumnya saat mendengar jawaban dari Sakura. Kedua matanya membelalak, menatap ke arah Sakura, seolah apa yang baru saja dikatakan Sakura adalah jawaban paling tidak masuk akal dan tidak bisa dipercaya abad ini.

"Sudah kubilang alasan yang konyol tapi memang begitu adanya."

Ino menjaga sikapnya. "Oke, asumsikan jawabanmu adalah jawaban jujur."

"Jawabanku memang jujur, Pig!" Sakura memrotes.

Ino tertawa. "Oke, oke, aku percaya. Tapi bagaimana bisa?" Ino memosisikan dirinya sebagai pendengar yang baik dengan kedua tangan di atas meja, menopang dagunya. "Kau harus bercerita padaku." Ino membuat kalimat sederhana itu menjadi begitu dramatis dengan penekanan di setiap katanya.

Sakura sebenarnya malas menceritakan hal itu pada Ino. Malas karena menurutnya, apa yang dilakukannya dengan Sasuke hanyalah hal biasa yang sama sekali tidak penting dan tidak patut ditempatkan pada sudut memori otaknya yang terbatas. Tapi sedikit pemikiran menggelitiknya, bagaimana jika ternyata keengganannya berbagi cerita pada Ino karena dia ingin menyimpan sendiri kenangannya dengan Sasuke di sudut memorinya, tak perlu dibongkar pasang, cukup ditempatkan di sudut dan dia akan mengingatnya selamanya. Mengabaikan pemikiran konyol itu, Sakura hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya.

"Sa-ku-ra." Ino menggunakan jurus andalannya: menatap Sakura penuh dengan intimidasi disertai penekanan di setiap suku kata nama yang diucapkannya. Sakura tahu dengan keuletan dan ketekunan Ino, cepat atau lambat dia harus menceritakannya. Mereka sudah berjanji tidak ada rahasia selamanya.

"Dia hanya mengajariku belajar."

"Belajar?" Ino tampak sangsi dengan perkataan Sakura.

"Ya, belajar. Belajar dengan arti sebenarnya tanpa konotasi apa pun jika hal itu sempat terbayang di otakmu."

Ino meringis. "Uhm, baik. Belajar. Nah, di mana?"

"Di kamar."

Kali ini Ino tersedak minumannya saat mendengar jawaban Sakura. Dia menepuk-nepuk dadanya, memulihkan kondisinya, sebelum menghadiahi Sakura dengan tatapan tajam. "Kau mengundangnya ke kamarmu? Atau kau pergi ke apartemennya?" Ino menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Apa yang membentur kepalamu, Sakura?!"

Sakura melotot. "Buang segala gambaran aneh di otakmu. Aku tidak mengundangnya. Dia sendiri yang menawarkan diri untuk mengajariku. Ya, kupikir tidak ada salahnya. Lagi pula, dia memang mengajariku belajar dengan baik. Kuakui metode ajarnya efektif."

"Dia yang menawarimu?" Ino tampak berpikir.

Sakura mengerti apa yang ada di pikiran Ino. Karena awalnya dia pun memikirkan hal yang sama. Sasuke bukanlah sosok gentleman yang menawarkan sesuatu pada seorang wanita. Dia hanya mengambil apa yang ditawarkan wanita. Sakura meringis memikirkan kembali hal itu. "Aku tahu apa yang kau pikirkan." Sakura menatap Ino malas-malasan.

Ino menggelengkan kepalanya. Dia menatap Sakura lekat-lekat, kemudian kembali menggelengkan kepalanya. "Kurasa aku sudah mulai gila."

"Kau mengira aku yang mengundang Sasuke ke kamarku?" Mata Sakura menyipit, rasa tak percaya menguar dari tatapannya. "Hanya karena hampir semua wanita di kampus kita rela mengundang Sasuke ke tempat tidurnya, bukan berarti aku rela melemparkan tubuhku ke kakinya!" Emosi Sakura sedikit terpancing.

Kedua mata Ino mengerjap. Dia tahu sikapnya mungkin sudah keterlaluan. "Hey, please, kau tahu bukan itu maksudku," kata Ino. "Aku, aku, aku hanya ... maaf, aku hanya sulit untuk berpikir bahwa Sasuke menawarkan hal itu padamu. Maksudku, aku memang tidak akrab dengannya, aku mengenalnya hanya sebatas dia adalah sahabat karib Naruto. Tapi kau tahu 'kan reputasinya seperti apa."

Sakura mengaduk-aduk teh manisnya. Dia mengerti dengan jelas maksud dari perkataan Ino.

"Aku hanya tidak ingin kau..." Perkataan Ino mengambang. Dia tidak tahu apa dia harus melanjutkan perkataannya.

Sakura menunduk, memandang pusaran air di dalam gelasnya, akibat adukannya tadi. "Ya, aku tahu."

Sakura tahu maksud Ino baik. Sahabatnya itu mengkhawatirkannya. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa hampir kehilangan kendali seperti tadi. Padahal seharusnya dia tidak perlu sampai berbicara dengan nada lebih tinggi dari biasanya jika niatnya hanya ingin menjelaskan, juga bukan dengan kalimat tuduhan seperti itu. Jika laki-laki itu bukanlah Sasuke, apakah dia pun akan bereaksi sama seperti tadi ketika Ino meragukan bahwa laki-laki itu sendiri yang menawarkan sesuatu kepadanya?

Tidak. Sakura tahu jawabannya adalah tidak. Meski tidak sepenuhnya yakin, Sakura tahu jika subjeknya bukanlah Sasuke, dia tidak akan bereaksi seperti tadi. Dia mungkin hanya akan melemparkan lelucon mengenai bagaimana kehebatan dia merayu laki-laki itu sampai laki-laki itu mampir ke kamarnya. Yang sebenarnya mengusiknya adalah bahwa apa yang dipikirkan Ino menguatkan fakta bahwa tidak mungkin seorang Sasuke tertarik padanya. Satu fakta yang secara tidak sadar menimbulkan kegelisahan dalam hatinya.

Ino menatap Sakura dengan ragu. Harusnya dia lebih menjaga mulut dan pikirannya. Ino paham bahwa apa yang dilakukannya tadi secara tidak langsung membuka kembali luka lama Sakura. Luka yang berusaha disembuhkannya selama ini. Luka yang meski telah dibawa pergi ribuan kilo meter tetap saja ada, membentuk lubang kasat mata yang menyiksa Sakura.

"Sakura, maafkan aku. Maafkan mulut tololku ini. Aku..."

"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku yang harusnya minta maaf. Tidak seharusnya aku membentakmu seperti tadi." Meski masih canggung, tapi Sakura memaksakan dirinya untuk tersenyum menenangkan Ino. Dia tahu ini semua bukan kesalahan Ino sepenuhnya.

Ino tidak ingin memperpanjang masalah ini. Dia berusaha mengganti topik pembicaraan. "Uhm... Oke. By the way, kau kenal Hyuuga Neji?"

Sakura menatap Ino. "Hyuuga Neji?" Sakura berusaha mengingat-ingat nama itu. Gambaran seorang pemuda tampan berambut coklat mengambang di benaknya. "Tidak juga. Hanya kurasa dia pernah menjadi asisten dosen di kelas Kalkulus sekali."

"Tepat sekali!"

"Memangnya ada apa?"

Ino mengerjapkan kedua bola matanya dengan semangat. Dia tekekeh kecil, sebelum memajukan tubuhnya, berbisik pada Sakura. "Panjang umur. Dia sedang melihat kita di arah jam enam," bisik Ino. "Lebih tepatnya sih memperhatikanmu." Ino menambahkan, sebelum kembali ke posisinya semula.

Sakura memutar tubuhnya, kedua matanya bersirobok dengan kedua mata Neji yang sedang memandangnya. Neji hanya tersenyum tipis ketika tahu bahwa aktivitas rahasianya diketahui oleh Sakura. Sakura tampak canggung. Tak ingin membuat Neji serbasalah, dia balas tersenyum tipis ke arah Neji.

"Wow, beginikah rasanya menonton opera langsung di depan mata?" Ino tertawa, yang disambut lemparan tissue oleh Sakura.

"Jangan membuatku menamparmu di tempat umum, Pig!" Sakura mengancam Ino.

"Ouch, aku takut!" Ino tertawa. Dia tahu ancaman Sakura hanyalah ancaman main-main.

"Berisik!"

Ino tambah tertawa melihat reaksi Sakura. "Serius. Aku sudah memperhatikan. Akhir-akhir ini aku sering melihat Neji memperhatikan secara diam-diam di setiap kesempatan. Kurasa kau memiliki sesuatu yang bisa membuat pemuda dingin itu takluk di bawah kakimu." Ino nyengir, memamerkan deretan gigi putihnya yang sempurna. Menggoda Sakura adalah salah satu hal yang paling disukainya.

Sakura memutar kedua bola matanya dengan bosan. Neji memang terkenal dingin, dalam artian, dia bukan tipe laki-laki yang suka mengumbar baik itu kata-kata maupun emosi pada orang lain. Setahu Sakura, Neji juga lebih mementingkan karir akademiknya dibandingkan kegiatan-kegiatan lain yang tidak ada manfaatnya. Seperti jabatan ketua klub Sains yang didudukinya.

"Ayolah, Sakura. Kau 'kan tahu Neji itu hampir mendekati tipe pria sempurna idamanmu. Baik, jujur, pintar, bertanggung jawab, dan yang tak kalah penting, dia bukan tipe pria culun dengan kemeja yang dikancingkan sampai kerah. He is hot, baby!"

Sakura mendengus. Dia meneguk teh manisnya langsung dari gelasnya. Dia tidak menyadari ada sepasang mata yang memandanginya sejak tadi. Yang saat ini memperhatikan gerakan lehernya yang naik turun, akibat kegiatan minumnya.

Sakura baru saja meletakkan gelasnya di atas meja, isinya masih ada seperempat gelas. Namun sebuah tangah mengambil alih gelas di atas meja itu dan menandaskan isinya. Sakura melirik ke arah si pemilik tangan dan kedua iris berwarna hitam kelam menatapnya.

"Sorry, aku haus." Sasuke tanpa merasa bersalah mengangkat kedua bahunya sambil mengucapkan kalimat itu.

Sakura mendengus pelan. Tidak bisakah satu hari dilaluinya tanpa harus berurusan dengan makhluk bernama Uchiha Sasuke?

Ino diam. Dia tidak berani menyuarakan pikirannya, takut jika Sakura merasa tersinggung. Apalagi topik mengenai Uchiha Sasuke sepertinya masih menjadi topik sensitif bagi Sakura.

Tak lama kemudian Naruto datang. Dengan senyum riangnya dia menghampiri Ino dan merangkulkan tangannya ke bahu Ino. "Hey, Ladies. Boleh aku bergabung?"

Ino tersenyum manis. Rona kemerahan menjalar di pipinya ketika Naruto mengecup punggung tangannya. Udara di sekeliling mereka berubah menjadi udara khas perayaan Hari Kasih Sayang yang beraroma cinta.

Sakura memutar kedua bola matanya. "Jangan membuatku muntah, please!"

Ino cemberut, melempar tissue balasan pada Sakura. Sakura hanya tertawa. Dia tidak benar-benar serius mengatakan hal itu. Dia hanya ingin balik menggoda Ino.

"Sudahlah! Dia hanya iri pada kita, Sayang," kata Naruto.

Sakura melotot ke arah Naruto. Sedangkan Ino tersenyum penuh kemenangan karena belaan Naruto.

"Omong-omong, kau jadi 'kan nanti malam?" Naruto bertanya pada Ino. Mereka berencana untuk makan malam di apartemen Naruto nanti malam.

Ino menepuk dahinya sendiri. Dia ingat malam ini dia berjanji pada Sakura akan mengajak gadis itu pergi ke restoran sea food baru di kota. Jaraknya tidak terlalu jauh dari asrama mereka. Padahal dia sudah lebih dulu berjanji pada Naruto akan makan malam di apartemen Naruto malam ini.

"Sayang, maaf. Kurasa aku tidak bisa. Aku berjanji pada Sakura akan pergi makan di restoran sea food yang baru buka di kota malam ini."

Naruto tampak kecewa, tapi Sakura segera berkata, "Jangan bodoh, Ino. Kau pikir aku tidak bisa pergi sendiri? Kau pergi saja dengan Naruto. Aku bisa mengajak Hinata." Sakura mengedipkan matanya.

"Tapi..."

"Sudahlah, aku bisa pergi sendiri. Ok?"

"Aku bisa menemaninya malam ini."

Semua kepala di meja itu langsung menatap sumber suara. Seolah baru disadarkan bahwa di meja itu juga masih ada Sasuke. Naruto memperingatkan Sasuke lewat tatapan matanya. Ino menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedangkan wajah Sakura seperti habis dipaksa menelan sendok bulat-bulat.

"Hn. Ada yang salah? Kenapa kalian melihatku seperti itu?"

Sakura yang lebih dulu menjawab pertanyaan Sasuke. "Aku bisa pergi sendiri."

"Aku juga akan pergi ke sana nanti malam. Kenapa kita tidak pergi bersama saja?" Pertanyaan Sasuke lebih mirip tantangan ketimbang ajakan.

"Kau bisa pergi sendiri dan aku bisa pergi sendiri juga."

"Apakah seorang teman akan membiarkan temannya pergi sendiri jika dia juga akan pergi ke tempat yang sama?"

"Memangnya siapa temanmu?"

"Kau bilang kau hanya akan mau menerimaku sebagai teman," kata Sasuke. "Kecuali kau berubah pikiran dan menginginkan hal lain." Dia mengakhiri perkataannya dengan seringai kecil.

Habis sudah. Sakura termakan omongannya sendiri. Dia mengangkat bahunya. "Terserah kau saja. Kita bertemu di depan sana jam tujuh malam. Aku tidak menolerir ketidaktepatan waktu."

"Aku akan menjemputmu di asrama."

"Kita bisa-"

"Jam tujuh. Dan aku tidak menerima penolakan." Sasuke memotong kalimat Sakura.

Sakura mengembuskan napasnya dengan kesal. Tidak ada gunanya berdebat dengan seseorang yang kepalanya terbuat dari batu. Mungkin.

"Nah, masalah sudah terpecahkan," kata Naruto berusaha mencairkan tensi di sekitar mereka.

Ino meringis, memandang Sakura dan Sasuke bergantian sebelum menutup matanya, dan bergumam memutar inti perkataan Naruto. "Ya, sudah terpecahkan."

.

.

Sakura sudah memutuskan. Meski Sasuke kini mengatasnamakan pertemanan atas ajakannya untuk makan malam ini, dia tahu laki-laki itu masih berusaha dan mengganggap dia sebagai tantangan. Sakura benci kalau di dalam hatinya dia sendiri menyadari bahwa ada satu titik yang tersentuh atas perlakuan itu. Namun dia berusaha menyadarkan dirinya pada realita yang terpampang. Semua laki-laki sama. Setidaknya jenis laki-laki seperti Uchiha Sasuke tidak boleh masuk ke dalam lingkaran hidupnya. Jika dia memaksa, maka Sakura sendiri yang akan membuat laki-laki itu mundur secara teratur atau bahkan langsung mundur dalam hitungan detik. Hal yang akan dilakukannya malam ini.

Ino mampir ke kamar Sakura. Dia meminta Naruto menjemputnya di kamar Sakura. Ino hampir menjerit saat melihat penampilan Sakura yang ada di depan matanya saat membukakan pintu untuknya.

"Ini bukan pesta Halloween, Sakura!"

Sakura menatap tubuhnya sendiri. Kakinya dibalut sandal jepit lusuh yang bahkan untuk dipakai di kamar tidur pun terasa begitu menyeramkan. Dia hanya mengenakan kaus longgar berwarna putih kusam, dilapisi cardigan berwarna coklat muda yang menenggelamkan tubuhnya sampai ke lututnya. Untuk bawahannya, Sakura memakai rok ala bohemian yang hanya menyisakan jari-jari kakinya untuk dilihat. Seakan apa yang dipakainya belum cukup parah, sebuah kacamata berbentuk kotak besar yang ketinggalan zaman bertengger di pangkal hidungnya. "Kupikir ini bukan kostum untuk perayaan Halloween."

"Bahkan Jack-o'-lantern lebih terlihat baik dibandingkan penampilanmu saat ini," keluh Ino. "Kau tampak seperti nenek sihir, Sakura. Kau hanya perlu menambahkan sapu dan topi runcing ke dalam penampilanmu."

"Akan kucatat," jawab Sakura.

"Sakura, please.... Jangan membuatku menyeretmu ke dalam lemari pakaianku sekarang juga."

"Ino, please...," balas Sakura.

Ino hanya bisa menghela napas pasrah.

"Sakura, apa kau masih di luar?" Suara Hinata terdengar memanggil dari dalam kamar.

"Ya, aku masih di luar, Hinata."

"Oh. Baiklah. Aku hanya ingin mengingatkan tutup dan kunci saja pintunya jika kau pergi. Aku ingin langsung tidur."

"Baik."

"Hinata sudah tidur jam segini?"

Sakura menganggukkan kepalanya. "Dia sedang tidak enak badan."

"Oh," respons Ino.

Mereka memutuskan untuk menunggu di depan gerbang asrama. Setelah mengunci pintu kamarnya, Sakura disusul Ino pergi menuju gerbang asrama. Tak lama kemudian Naruto sampai dengan mobil sedannya yang berwarna kuning terang.

Naruto bersiul saat melihat penampilan Ino. Sakura bahkan berani bertaruh siulan itu hanya untuk menutupi air liurnya yang mungkin jatuh saat melihat penampilan Ino. Sakura tidak menyalahkan Naruto. Ino memang tampak menakjubkan. Dengan gaun model one shoulder yang membungkus tubuhnya dengan pas, Ino terlihat sangat memesona.

Saat mengalihkan pandangannya dari Ino, Naruto menatap Sakura. Dia tampak kesulitan berkata-kata. Sakura memakluminya. Pasti dalam hati Naruto bergidik ngeri melihat penampilannya. "Hai, Sakura-chan. Tunggulan sebentar lagi, Sasuke akan sampai."

Sakura tersenyum sekadarnya, membalas sapaan Naruto. Awalnya Ino bersikeras ingin menunggu bersama Sakura terlebih dahulu sebelum Sasuke datang menjemput Sakura. Tapi Sakura meyakinkan bahwa dia tidak perlu menungguinya seperti ibu yang menunggui anak perempuannya. Akhirnya Ino mengalah dan pergi bersama Naruto.

Sakura menyingsingkan lengan cardigannya, melirik jam tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam kurang lima menit. Belum ada semenit, suara raungan mesin motor terdengar, disusul penampakkan sebuah motor sport yang berhenti di depannya.

Sasuke membuka helmnya. Dia menatap Sakura tanpa berkedip. Sakura menjadi sedikit salah tingkah. Ada rasa malu terselip di hatinya saat menyadari bahwa Sasuke pasti menyesal telah mengajaknya malam ini setelah melihat penampilannya. Tapi Sakura menguatkan hatinya. Dia sendiri yang sudah memutuskan akan membuat Sasuke mundur.

Sasuke tampak geli melihat penampilan Sakura. Dia tahu bahwa Sakura pasti sengaja berpenampilan seperti ini agar dia berhenti menggodanya. Sasuke menghargai usaha Sakura. Penampilannya malam ini patut diapresiasi. Namun meskipun begitu, itu semua tidak akan membuat Sasuke mundur. Ada sesuatu dalam diri Sakura yang membuat Sasuke tertarik. Sasuke tidak berani mengatakan bahwa itu adalah ketertarikan antara laki-laki dan wanita. Dia hanya bisa mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia menyukai saat-saat di mana dia bisa berada di dekat Sakura.

"Kau cantik malam ini." Seolah melupakan penampilan Sakura yang parah, Sasuke tidak bohong ketika mengatakan bahwa Sakura tampak cantik. Kecantikan yang bukan hanya diukur dari apa yang kaukenakan.

Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Jangan memulai malam ini dengan pertengkaran setelah kau terlambat."

Sasuke melirik jam tangan yang dikenakannya. "Aku masih punya waktu satu menit."

"Lupakanlah. Aku sudah lapar."

"Baiklah. Tapi sebelumnya, apa kau yakin akan tetap pergi ke restoran itu dengan penampilan seperti itu?" Mata Sasuke dengan tidak senonoh memandang Sakura dari ujung kaki sampai dengan ujung kepalanya.

Sakura tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin bahwa Sasuke pasti menyesal telah mengajaknya. "Tentu saja, memangnya kenapa?"

Sasuke menggelengkan kepalanya diikuti dengan senyuman tipis. "Kau yang memulai, Sakura. Jangan salahkan aku jika kau mendapatkan tatapan yang tidak menyenangkan di kota nanti," kata Sasuke.

Seketika pemahaman menyentak Sakura. Dengan berpakaian seperti ini memang dia akan membuat Sasuke malu sekaligus mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Dia akan jadi pusat perhatiaan dalam artian negatif dan Sakura benci jika harus menjadi seperti itu. Namun dia sudah kepalang basah. Tak mungkin menjilat ludahnya sendiri untuk berbalik ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.

"Tapi kau tenang saja. Selama kau bersamaku, aku menjamin tidak akan ada yang berani melakukan itu padamu." Perkataan Sasuke membuat Sakura membeku beberapa detik. "Nah, ayo cepat naik." Dia memberikan sebuah helm wanita untuk dipakai oleh Sakura.

Sakura menerima helm itu dan memakainya. Dia kesulitan mengaitkan tali helm di bawah dagunya. Seolah menyadari kesulitan Sakura, Sasuke membantunya. Setelah berhasil mengaitkan tali pengaman helm, tangan Sasuke tidak langsung beranjak dari tempatnya. Tangan itu malah naik menyusuri dagu Sakura sampai ke sudut bibir gadis itu.

Tubuh Sakura membeku. Sentuhan lembut dari jari tangan Sasuke di sudut bibirnya langsung mengirimkan getaran ke pusat dirinya. Perlahan wajah Sasuke merunduk, mendekat ke arah wajahnya. Sakura hampir berpikir Sasuke akan mencium bibirnya, tapi pikiran itu sirna setelah Sasuke mengalihkan bibirnya ke telinganya. Ujung bibir Sasuke menyentuh daun telinganya ketika dia berkata, "Lipstikmu sedikit berantakan."

Perkataan Sasuke membawa angan Sakura kembali ke bumi. Sakura membenci pertahanan dirinya yang lemah. "Mungkin," suaranya terdengar serak.

Sementara itu, Sasuke berusaha mati-matian mengendalikan dirinya. Bohong besar jika dia tidak terbawa suasana saat tadi hampir saja mengecap rasa bibir Sakura yang penuh dan menggoda. Dia hampir frustrasi menahan gairahnya yang ingin mengulum bibir merah muda yang begitu menyiksa pikirannya akhir-akhir ini. Kalau saja tadi dia kehilangan kendali, dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Sakura. Persetan dengan lipstik Sakura yang berantakan. Itu hanya alasan konyol yang dibuatnya sendiri. Alasan yang sebenarnya adalah dia takut dengan reaksi Sakura jika itu semua terjadi. Jika Sakura menginginkan hubungan mereka hanya sebatas teman, dia harus menerima dan menghargainya. Setidaknya untuk saat ini. Apalagi dia sendiri tidak tahu apa bentuk perasaan yang menghinggapinya saat ini.

Sakura naik ke atas motor Sasuke. Sasuke bersiap-siap menyalakan mesin motornya. Deru mesin motornya membelah malam. Sakura memekik, mengumpat, dan menyumpah serapahi Sasuke saat pria itu mengendarai motornya dengan kecepatan gila. Sasuke hanya tertawa lepas mendengar caci maki Sakura. Dia malah menarik lengan Sakura yang memegang ujung pinggangnya agar melingkari tubuhnya.

"Berpeganganlah, aku tidak ingin kau jatuh."

Belum sempat Sakura memrotes, Sasuke sudah menaikkan kecepatan motornya. Hal ini membuat Sakura mau tidak mau melingkarkan lengannya, memeluk Sasuke dari belakang, sambil memejamkan matanya erat-erat.

Mereka sampai tidak lama kemudian di tempat yang mereka tuju. Tungkai kaki Sakura seperti meleleh. Adrenalinnya terpacu dengan cepat akibat kecepatan motor yang dikendarai Sasuke. Dia bisa saja ambruk jika Sasuke tidak menopangnya.

"Hati-hati, kau bisa mencium tanah jika tidak ada aku."

Sakura melotot ke arah Sasuke. Memangnya dia pikir siapa yang menyebabkan semua ini. Sasuke membalasnya dengan tawa kecil. Membuat Sakura yang biasanya membalas kata-katanya menjadi tidak berdaya bahkan hanya sekadar untuk berdiri sendiri, memberi kepuasan tersendiri bagi Sasuke.

"Ayo masuk. Kaubilang, kau sudah lapar."

Sakura mengatur napasnya, membetulkan letak kacamatanya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakkan akibat memakai helm. Tapi Sakura bersyukur dia memakai helm. Jika tidak, dengan kecepatan Sasuke dalam mengendarai motor, bisa dipastikan rambutnya akan menjadi kusut luar biasa. Hal itu akan membuat Sakura persis menyerupai nenek sihir yang sering muncul di buku dongeng anak-anak.

Sasuke menatap Sakura yang sedang merapikan rambutnya. Rambut Sakura memang sedikit terlihat berantakan, tapi Sasuke menyukai kesan alami yang tergambar. Dia membayangkan bahwa jari-jari lentik Sakura yang sedang merapikan rambutnya digantikan dengan jari-jarinya yang menyusup, membelai rambut itu.

"Ayo kita masuk!"

Perkataan Sakura menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Sasuke mengumpat dalam hati. Dia hanya bisa berharap celananya akan tetap longgar karena dia masih harus menghabiskan beberapa jam ke depan bersama dengan Sakura.

Mereka masuk ke dalam restoran sea food baru itu. Seperti perkiraan Sakura sebelumnya, kini segelintir pengunjung restoran itu menatapnya dengan tatapan aneh. Sakura sedikit menyesal mempermalukan dirinya seperti ini. Sasuke yang mengerti kegelisahan Sakura dengan cepat melingkarkan lengannya di bahu Sakura.

Sakura menatap tajam Sasuke. Sasuke hanya membisikkan kata singkat di telinga Sakura. "Just friend, ok?"

Sakura tidak tahu harus membalas apa perkataan Sasuke. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan malas.

Mereka mengambil tempat di sudut ruangan, dekat kaca tembus pandang yang bisa menatap parkiran dan jalan raya. Sakura memesan nasi, cumi asam manis, dan segelas teh hangat. Sedangkan Sasuke memesan nasi, udang goreng tepung, dan segelas kopi.

"Kopi?"

"Hn, ada yang salah dengan kopi?"

Sakura menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Nah, ada yang ingin Anda pesan lagi?"

Sakura meringis mendengar nada yang terlalu bersemangat, manja bahkan lebih ke arah mendesah yang dikeluarkan oleh waitress itu. Mata sang waitress bahkan tidak berkedip memandang Sasuke.

"Kau ingin pesan apa lagi?" tanya Sasuke sambil menatap Sakura, tanpa memedulikan perhatian berlebih dari si waitress.

"Tidak, itu saja cukup."

Sasuke bahkan tidak repot-repot memandang si waitress meski hanya demi kesopanan.

"Baiklah, adik Anda tidak ingin memesan lagi. Kalau, Anda?" Waitress itu masih berusaha menarik perhatian Sasuke. Satu tangannya memegang nota pesanan, tangan satunya lagi memegang pensil yang kini berubah fungsi menjadi alat linting ujung rambutnya.

"Adik?" Perhatian Sasuke kini terpusat pada si waitress. Wajah waitress itu berbinar-binar saat Sasuke menatapnya.

"Ya."

"Dia pacarku," kata Sasuke. "Dan satu lagi, aku tidak ingin memesan lagi."

Wajah waitress itu bagai dihantam meteor saat mendengar perkataan Sasuke. Dia melirik ke arah Sakura, sebelum kembali menatap Sasuke. "Uhm... Baik, pesanan akan segera saya antar."

"Jangan mulai mencari masalah denganku, Sasuke," kata Sakura setelah waitress itu pergi dari meja mereka.

Sasuke menyeringai. "Aku hanya tidak ingin dianggap sebagai kakak yang mengasuh adiknya."

"Aku malas berdebat denganmu."

"So do I," balas Sasuke.

Pesanan mereka datang beberapa menit kemudian. Waitress yang mengantar makanan mereka kali ini terlihat lebih profesional dibanding yang mencatat pesanan mereka. Makanan mereka hampir habis saat Sasuke menanyakan sesuatu pada Sakura.

"Kenapa kau suka memakai warna-warna suram di balik warna-warna cerah?"

Sakura menghentikan gerakannya. "Aku tidak mengerti maksudmu." Dia melanjutkan makannya.

Suapan terakhir Sasuke sudah selesai. Dia mengelap tangannya dengan serbet yang disediakan di atas meja. "Kau memakai kaus berwarna merah terang di balik cardigan kremmu saat kau pingsan."

"Hanya suatu kebetulan. Tak ada kriteria khusus dari pakaian apa yang ingin kukenakan."

Sasuke tahu Sakura berbohong. Tapi dia tidak ingin memaksa gadis itu berkata jujur jika dirinya sendiri pun tahu ada batas-batas di mana kebohongan mungkin digunakan sebagai perlindungan diri.

Sakura tahu dia berbohong. Dia selama ini memang menghindari warna-warna cerah meskipun dia suka mengenakan pakaian dengan warna itu. Sakura tidak suka jadi pusat perhatiaan. Maka dari itu dia menyembunyikan dirinya di balik semua warna-warna netral yang membuatnya tak menonjol.

"Kenapa kau pindah dari kotamu?"

Sakura kembali menghentikan kegiatannya. Nafsu makannya mendadak hilang.

"Ada yang salah dengan pertanyaanku?"

"Tidak. Aku pindah karena aku melanjutkan pendidikanku di sini."

"Kenapa kau ingin melanjutkan pendidikanmu di sini? Kudengar Universitas di kota asalmu juga tidak kalah bagus dengan Universitas Konoha." Sasuke tidak menyerah. Dia merasakan ada rahasia besar di balik ini semua.

"Aku mungkin lulus dua tahun lagi, lalu kenapa aku harus merasakan wawancara kerja malam ini?"

Jawaban cerdas Sakura membuatnya tertawa meski tidak memberikan kepuasan atas pertanyaan barusan. "Kau bisa balik mewawancaraiku."

"Kau berasal dari mana?"

"Oto."

"Kenapa kau memilih melanjutkan pendidikanmu di sini ketimbang di kota asalmu?"

"Mungkin sama sepertimu."

"Itu bukan jawaban," protes Sakura.

"Maka aku pun bisa mengatakan jawabanmu tadi tidak bisa didefinisikan sebagai jawaban."

Sakura menyerah. Bersilat lidah dengan Sasuke lebih menyebalkan dibanding dengan meladeni pertanyaan Ino.

Sasuke menatap ke sekelilingnya. Restoran ini cukup ramai, meski tidak sampai membuat sakit matanya. Lalu sepasang mata tertangkap retinanya. Iris mata hitam yang sedang menatapnya balik. Sasuke memperbaiki posisi duduknya. Dia gelisah. Kenapa wanita itu muncul lagi?

"Sasuke, ada apa?" Sakura merasakan keanehan sikap Sasuke. Bahunya tegang, seperti bersiaga akan suatu bahaya. Raut wajahnya juga tampak cemas. Padahal biasanya selain memasang wajah datar, wajah itu akan memasang ekspresi meremehkan orang lain.

"Tidak, aku tidak apa-apa." Bahkan nada suara Sasuke memperkuat dugaan Sakura bahwa pria itu tidak tidak-apa-apa.

"Kau sakit?"

"Tidak."

"Sasuke, ada apa denganmu?"

"Bisakah kau diam barang sebentar saja!"

Sakura terkejut. Sebelumnya semuanya tampak baik-baik saja. Tapi mengapa Sasuke sekarang membentaknya? Sebuah pemikiran terbentuk di benak Sakura. Sikap Sasuke ini diawali dengan pendangannya yang menyapu sekeliling mereka. Sebentuk rasa mual menyerangnya saat menyadari apa yang mungkin sedang terjadi saat ini.

"Kau malu pergi denganku," bisik Sakura pelan, lebih pada dirinya sendiri.

"Apa?" Sasuke tampak terkejut. "Tidak," katanya. "Sialan! Maafkan aku, Sakura. Aku tidak bermaksud membentakmu." Dia menatap Sakura langsung. "Tatap mataku, Sakura!"

Sakura menatap kedua mata Sasuke yang sedang menatapnya lekat-lekat.

"Aku tidak peduli dengan bagaimana penampilanmu atau apa yang kau pakai. Sekalipun kau memakai karung sebagai pakaianmu, aku tidak akan pernah malu pergi denganmu."

Kalimat-kalimat yang diutarakan Sasuke membuat Sakura tersentuh. Tapi dia berusaha memblokir semua afeksi yang mulai terjalin di antara mereka. Apalagi setelah mendengar lanjutan dari perkataan Sasuke.

"Kau temanku. Dan sebagai teman, aku akan berada di sisi yang sama denganmu meski seisi dunia berada di sisi lawanku."

Perkataan Sasuke menyadarkan Sakura. Teman. Hanya teman. Ingat itu!

"Terima kasih," kata Sakura.

"Kumohon kau percaya padaku. Apa yang terjadi padaku saat ini bukan karena aku malu pergi denganmu," kata Sasuke. "Tapi bisakah kita pulang sekarang? Sepertinya kau benar, aku tidak enak badan."

"Uhm... Tentu."

Sasuke ingin segera pergi dari tempat ini. Bayangan wanita itu seakan mengejarnya tanpa ampun. Umpatan, cacian, dan makian berusaha ditahannya. Dia tidak ingin lepas kendali di depan Sakura. Dia hanya ingin menyingkir. Kenapa wanita itu harus kembali dalam kehidupannya jika dulu dialah yang memilih sebagai pihak yang meninggalkan?

.

.

Bersambung...

An: terima kasih sudah membaca sampai di sini. :)

Semoga chapter ini lebih panjang dari chapter sebelumnya.

Salam hangat,

ahayla