The Real Game | chap 3 |
-oOo-
"Oh ya, lain kali tidak usah memanggilku sunbae. Panggil aku hyung saja."
"Baiklah, hyung."
"Besok akan ku pinjamkan novel yang kau butuhkan."
"Ah, terimakasih banyak, hyung."
"Boleh aku pinjam handphone mu?"
"Ah ya, un-untuk apa memangnya hyung?"
"Berikan saja padaku."
"Lihat aku telah menyimpan nomorku di ponselmu, dan aku akan menelepon dari handphonemu ke nomorku."
"Dan see nomormu pun tersimpan di handphone ku."
"Kyaaa!"
"Haechanie, jangan berisik." Omel eommanya dari lantai bawah.
"Ah, mianhae eomma." Sahut Haechan dari dalam kamarnya.
Kembali ia pandangi layar handphone nya setelah sebelumnya Haechan mengguling – gulingkan tubuhnya kesana kemari. Disitu tertera deretan angka yang membuat matanya bersinar - sinar. Senyumnya tak pernah pudar. Haechan berpikir mimpi apa semalam ia dapat dengan mudah berkenalan dengan Mark. Haechan tak sudi mengingat kembali bagaimana rupa wajahnya saat itu. Ia tak bisa membayangkan betapa memalukan dirinya saat wajahnya yang kelewat girang.
"Sepertinya rumah sakit jiwa bersedia menampungmu, Chan."
"Eh."
Dapat dilihat olehnya Jaemin tengah berdiri di ambang pintu. Pemuda itu melangkah ke dalam kamar dan mendudukkan dirinya senyaman mungkin di atas kasur, sedang Haechan sendiri tak ambil pusing kata - kata Jaemin sebelumnya.
"Seperti kau tak pernah begini saja, Jaem." Pemuda itu pasti akan datang kerumahnya. Seperti biasa, merecoki waktu malamnya.
"Aku akan seperti itu kalau Jeno melamarku."
Haechan merotasikan bola matanya bosan. Kadar khayalan tinggi sahabatnya itu perlu diturunkan, pikir Haechan. Sedang Jaemin masih sibuk didunianya, membayangkan hari dimana Jeno datang melamarnya. Jaemin tak sabar menunggu hari itu tiba. Apa dia lupa eoh, dia hanya siswa kelas sepuluh, tapi khayalannya sudah kemana-mana. Dasar. Tak lama kemudian, seakan tersadar, Jaemin langsung menyikut Haechan yang tanpa disadarinya kembali pada mari menatap layar handphone nya.
"Chan."
"Hm."
"Apa kau tak curiga?" Tanya Jaemin sambil memandang Haechan.
"Curiga?" Haechan mengernyit bingung.
"Iya curiga. Curiga tentang Mark sunbae."
"Maksudnya, Jaem?" Ini Haechan memang lemot apa gimana sih, rutuk Jaemin dalam hati.
Bruk
Jaemin menghempaskan tubuhnya kasar, berbaring di samping Haechan. Pemuda itu memandang lekat atap kamar sahabatnya. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Apalagi kalau bukan tentang Mark. Sedangkan Haechan sendiri masih dengan sabar menunggu Jaemin untuk bicara. Memang ada apa dengan Mark hyung, pikirnya.
"Apa tidak terasa aneh, tiba – tiba saja Mark hyung mendekatimu. Bertukar nomor handphone pula." Ujar Jaemin masih betah memandang atap kamar Haechan, kemudian ia menoleh ke arah sahabatnya, "Maksudku, kau tau dia itu pria kurang baik, yeah kau taulah kau sering menceritakan tentangnya padaku."
Haechan hanya terdiam dan menggangguk, "Entahlah, aku hanya berharap semuanya akan baik – baik saja." Ucapnya kemudian.
"Aku harap juga begitu." Guman Jaemin pelan.
"Jaem, tanganmu bisa diam tidak." Jaemin hanya terkekeh pelan saat dengan isengnya ia memainkan kacamata yang dipakai Haechan gemas. Rasanya ia ingin mengenyahkan kacamata tebal itu, ia ingin dunia lihat bahwa Haechan tak seburuk orang – orang bicarakan. Mereka akan menyesal bahwa sosok Haechan lebih dari kata indah, "Aku hanya bisa mengatakan, berhati-hatilah padanya."
Haechan mengerti, sangat mengerti. Jaemin terlalu mengkhawatirkannya, ia memang selalu seperti itu kalau sudah menyangkut dirinya, "Aku akan berhati-hati, jadi tenanglah."
Haechan berusaha untuk membuat sahabatnya tidak terlalu khawatir padanya. Ia juga sudah memantapkan hatinya untuk tidak cepat-cepat mengambil keputusan mengenai Mark yang mendekatinya begitu saja.
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi di acara kencan kalian hari ini, aku yakin kau datang kesini bukan hanya untuk menumpang berbaring di kasurku dan pergi." Haechan mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai Mark. Lagipula, ia tahu untuk apa Jaemin datang kerumahnya, apalagi kalau bukan untuk berceloteh ria mengenai kencan dirinya dengan Jeno. Sudah biasa.
"Ah ya." Jaemin sedikit tersentak, seperti mengingat kembali ia datang kesini untuk apa, "Seperti kau tahu bahwa hari ini aku dan Jeno..."
Pada akhirnya Haechan harus menjadi pendengar setia Jaemin. Jaemin akan menceritakan setiap detail kejadian-kejadian yang dialaminya bersama Jeno tentunya.
-oOo-
Kantin mulai ramai dikunjungi oleh siswa yang ingin menghabiskan waktu istirahatnya. Berbeda dengan Mark. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat yang sebelumnya sangat amat jarang Mark singgahi. Mark ingin menemui seseorang, siapa lagi kalau bukan targetnya. Seperti biasa, ia mendapatkan informasi dari Matthew kalau targetnya itu sedang asik membaca buku di perpustakaan. Tipikal siswa kutu buku pada umumnya. Jarang bergaul, selalu menghabiskan waktu ditempat yang membosankan.
Mark bersiul senang. Tidak menghiraukan keberadaan siswa lainnya di sekitar koridor sekolah yang ia lewati. Fokusnya hanya satu. Mencoba untuk berdekatan dengan bahan taruhannya. Siswa bernama Haechan harus ada digenggamannya, dengan begitu ia akan menang. Seorang Mark Lee tidak mengenal kekalahan. Mark terus melangkah tanpa mengentikan seringaian yang tersemat diwajah tampannya.
Saat kakinya menginjakkan di perpustakaan, Mark mengedarkan pandangannya mencoba mencari siswa bernama Haechan. Saat entitas tertangkap oleh kedua mata tajam Mark, seringainnya semakin lebar. Tanpa menunggu lama, Mark menghampiri pemuda yang sedang asik membaca buku di pojok ruangan dekat dengan jendela. Mark akui, tempat itu memang cukup nyaman.
"Hai."
Merasa seseorang berada tepat dihadapannya dan juga terdengar menyapa dirinya, Haechan mendongkakkan kepalanya. Matanya terbelalak kaget, saat tahu siapa yang baru saja menyapanya. Haechan mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan bahwa orang tersebut memang Mark, kakak kelasnya. Berulang kali ia lakukan, hingga terdengar kekehan geli.
"Kau, Ma-Mark hyung?" Tanya Haechan tak percaya.
Mark masih terkekeh geli melihat tingkah Haechan. Ia memang bocah yang polos, pikir Mark. Mark mendudukkan dirinya tepat didepan Haechan, tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari Haechan. Bagitupula dengan Haechan, ia terus menatap tak percaya Mark, siswa popular itu ada di hadapannya dan duduk bersama dengannya. Catat, mereka hanya berdua di pojokkan sini.
"A-aa..."
Haechan kembali mengatupkan kembali mulutnya, setelah sebelumnya ia ingin mengucapkan sesuatu. Bukannya berbicara dengan benar, yang ia lakukan malah berbicara tergagap entah ingin mengatakan apa, saking kagetnya ia didatangi oleh siswa popular macam Mark. Akan tetapi, ingatannya kembali dengan kejadian kemarin, saat ia sempat berbincang dengan Mark di perpustakaan juga. Apa Mark hyung menemuiku karena akan meminjamkan novel yang kemarin ia janjikan, pikir Haechan.
"A-apa y-yang hyung lakukan disini?" Tanya Haechan berusaha untuk tidak terlihat gugup.
"Aku ingin memberikan ini padamu." Mark menyerahkan novel yang kemarin ia maksudkan. Tak lupa senyuman maut andalannya ia keluarkan membuat orang didepannya bersemu karena dihadiahi senyuman oleh sunbaenya. Dengan senang Haechan langsung membawa novel tersebut dalam dekapannya. Terlalu senang hingga Haechan tak menyadari, maksud lain dari senyuman seorang Mark Lee.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Mark sambil bangkit dari duduknya. Haechan pun ikut berdiri, "Terima kasih banyak, hyung. Aku tidak tahu harus membalas apa padamu karena sudah mau meminjamkan novel ini padaku." Haechan berseru senang, saking senang nya ia pun melupakan kegugupannya tadi.
"Hanya angkat teleponku nanti malam." Jawab Mark sekenanya.
"Ah, baiklah." Haechan menganggukan kepalanya.
"Bye Haechanie." Mark pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Haechan yang terdiam mematung ketika Mark menyebut manis namanya. Haechanie. Wajah Haechan bersemu seketika. Kemudian ia menggelengkkan kepalanya cepat, setelah mengingat ia belum membalas sapaan perpisahaan barusan.
"Bye hyu-" Ucapannya terhenti saat ia menyadari bahwa sosok Mark sudah tidak ada dihadapannya lagi atau berada di sekitar perpustakaan.
"Orangnya sudah pergi." Guman Haechan pelan.
-oOo-
"Kau kan temannya, Jen."
"Aku memang satu klub dengannya, Jaem. Tapi aku tidak dekat dengan Mark hyung."
"Tapi setidaknya kau satu klub denganya, Jeno Lee."
"Iya sayang, tapi membicarakan sesuatu hal seperti itu sungguh sulit untuk ku."
"Kau ini kan pacarku. Bantulah sahabat pacarmu ini, apa kau tidak kasihan dengan Haechan?"
"Bukan begitu, sayang. Hanya saja kalau sudah berurusan dengan Mark hyu-"
"Jaemin! Jeno!."
Teriakan seseorang menghentikan kata-kata Jeno. Dilihat oleh keduanya, Haechan sedang berlari mendekat ke arah mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan di parkiran sekolah?" Tanya Haechan pada keduanya, sedikit heran, dari kejauhan tadi Haechan melihat keduanya seperti membicarakan sesuatu hal yang serius. Apalagi saat ia mendekat ke arah keduanya, dengan jelas Haechan lihat wajah merenggut milik Jaemin.
"Tidak ada apa-apa Haechan ah." Jawab Jeno sambil mengelus lembut kepala Jaemin, mencoba untuk menenangkan kekasihnya yang sedang gusar.
"Benarkah?" Tanya Haechan tak percaya.
"Tidak ada, Haechan. Jaemin hanya terlalu khawatir padamu." Jeno kembali menjawab, memastikan bahwa semua memang baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan antara dirinya dengan Jaemin. Malah yang harus diperhatikan itu adalah nasib Haechan sendiri, tapi Jeno menggelengkan kepala. Dia berharap tidak terjadi apa-apa dengan Haechan. Kalau ada apa-apa nya dengan anak itu, Jaemin juga pasti akan mencak-mencak padanya.
"Baiklah kalau begitu. Jadi, Jaem kau akan pulang dengan Jeno?" Tanya Haechan kembali.
"Tidak, aku akan pulang denganmu." Jawab Jaemin ketika hatinya sudah mulai tenang.
"Aku ada latihan basket, jadi Jaemin tidak pulang bersamaku. Aku titip pacar manisku ya, Chan." Kata Jeno setelahnya ia mengaduh karena Jaemin menyikut tubuhnya keras. Jaemin tidak terima dikatai manis oleh Jeno, tapi tak bisa dipungkiri dari hati yang paling dalam ia merasa senang dengan kata-kata Jeno. Tsundere eoh.
"Tenang, Jen, aku akan menjaganya." Ungkap Haechan bangga.
"Yang ada aku kali yang menjaga bocah macam dirimu." Omel Jaemin tak terima kalau ia dikatai secara tidak langsung bahwa ia lemah yang harus dijaga segala.
"OK ok, sekarang sudah waktunya aku latihan. Dan kalian segeralah pulang. Aku harus kembali ke lapangan, yang lain sudah menungguku. Bye." Seketika Jeno menenganahi kedua sahabat tersebut kemudian pergi berlari menjauhi mereka berdua, karena sekarang saatnya untuk latihan, kalau tidak Jeno akan dimarahi pelatih karena terlambat.
"Ayo pulang." Ajak Haechan sambil melangkah menuju mobil Jaemin yang terparkir di area parkir sekolah. Jaemin pun mengikuti langkah Haechan, setelah sebelumnya memastikan Jeno hilang dari pandangannya. Jaemin berharap besar pada Jeno. Semoga Jeno dapat mengorek informasi mengenai Mark yang mendekati Haechan tiba-tiba. Padahal sebelumnya mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
"Jaemin cepat!." Teriak Haechan yang sudah ada disamping mobilnya. Jaemin yang tersadar pun langsung berjalan cepat menghampiri sahabatnya itu.
-oOo-
Jaemin mengendarai mobilnya pelan sambil diiringi oleh musik dari salah satu boy group favorite keduanya, "Jadi, apa saja yang telah terjadi seharian ini?" Tanya Jaemin tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Aku tahu telah terjadi sesuatu hari ini denganmu, Chan. Wajahmu ceria sekali."
"Terlihat sekali ya?" Haechan nampak malu-malu ketika mengingat kembali pertemuannya yang kedua dengan Mark diperpustakaan.
"Hm. Jadi?" Tanya Jaemin kembali.
"Mark hyung menemuiku tadi di perpustakaan, dan ia meminjamkanku novel yang memang sedang ingin aku baca."
"Kau senang?"
"Tentu saja." Pekik Haechan girang. Siapa yang tidak senang, bukan hanya karena dirimu dapat membaca novel incaran, tapi Mark hyung juga akan meneleponnya nanti malam. Haechan pikir, sebaiknya Jaemin tidak perlu tahu perihal Mark yang akan menelponnya nanti malam.
"Aku tahu kau senang. Tapi aku mohon padamu, untuk hati-hati terhadap Mark." Mata Jaemin tetap fokus kedepan, mencoba menyetir lebih santai. Gemas sekali dia dengan sikap Haechan yang baru segitu saja senangnya bukan main.
"Mark hyung, Jaem. Dia lebih tua dari kita."
"Aku tak peduli itu. Yang aku pedulikan adalah dirimu." Kekeh Jaemin tak mau kalah.
"Iya, Jaem. Aku sudah mengatakannya padamu kan. Aku akan berhati-hati, jadi tenanglah."
"Ok ok, aku pegang ucapanmu." Ucap Jaemin final, lelah juga mengingatkan Haechan. Tapi Jaemin akan memberikan kesempatan padanya. Kalau jelas-jelas Mark menyakiti Haechan, ia tak segan-segan untuk menjauhkan mereka berdua.
"Oh ya, Chan. Tadi malam eomma mu meneleponku. Kau tau apa maksudku, kan? Jadi jawab pertanyaanku. Tadi malam kau kemana? Untung aku langsung sadar saat eommamu menelponku. Pakai bilang main kerumahku segala, nyatanya kau tidak datang sama sekali." Sesekali ia melihat ke arah Haechan.
"Hehehe aku habis dari taman dekat kompleks. Kau tau kan aku selalu mencari tempat untuk inspirasiku dalam menulis cerita. Kalau eomma tau aku pergi ke taman malam-malam, pasti eomma tidak mengijinkanku. Ya sudah, kugunakan namamu saja."
"Lain kali bilang dong, Chan. Kaget aku ditanyai eommamu malam tadi. Untung aku langsung sadar. Jadi aku jawab kau ada dirumahku."
"Hehe makasih ya, Jaem. Kau memang sahabatku."
-oOo-
Malam harinya, Haechan terdiam di atas kasur. Semua pekerjaan sekolah sudah ia kerjakan. Sekarang tinggal menunggu seseorang diseberang sana meneleponnya.
Deg deg deg
Suara detak jantungnya terdengar Jelas, menandakan betapa gugup nya ia. Handphonenya masih Setia di genggamannya. Tak lama kemudian, tepat pukul sembilan malam handphonenya berdering. Dengan cepat ia mengangkat telepon tersebut, setelah mengetahui siapa yang menelponnya malam-malam.
"Halo." Sapa Haechan pelan.
"Halo, apa aku menganggumu?"
"Tidak sama sekali, hyung." Haechan menggelengkan kepalanya, walaupun ia tahu Mark tidak dapat melihat gelengannya.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, sudah berapa halaman yang kau baca?"
"Ah, aku baru selesai membaca bagian 1, karena sebelumnya aku harus mengerjakan tugas sekolah."
"Begitukah?"
"Hm, maaf ya hyung, sepertinya aku akan lama meminjamnya." Ucap Haechan lemas. Pasalnya ia butuh waktu yang lama untuk membaca novel hasil pinjamannya, karena ia harus membagi waktu dengan tugas sekolah yang selalu menumpuk.
"Tak apa, kau tenang saja. Kau bebas meminjam novelku, selama apapun itu."
"Terima kasih banyak ya, hyung."
"Tidak usah sungkang-sungkan terhadapku. Lagipula kita mempunyai hobi yang sama. Rasanya senang menemukan seseorang yang memiliki kesukaan yang sama."
Dapat Haechan dengar suara renyah diseberang sana. Hatinya menghangat saat mendengar itu dan juga ia senang sekali, seperti ada ribuan kupu-kupu diperutnya.
"Aku juga tidak menyangka kalau hyung suka membaca novel."
"Ey jangan tanya, aku punya banyak koleksi dirumahku. Setelah kau membaca habis novel yang kupinjamkan sekarang, nanti akan kurekomendasikan novel yang bagus yang sebelumnya sudah kubaca."
"Benarkah hyung?" Tanya Haechan tak percaya.
"Kau bisa mengandalku, Haechan." Jawab Mark memastikan bahwa semua yang dikatakan pemuda itu memang benar. Apalagi ditambah, Mark baru saja menyebut namanya barusan, senangnya hati Haechan. Akhirnya ia di notis oleh sunbaenya.
"Haechan ah." Panggil seseorang dilantai bawah.
"Ah hyung, sepertinya aku harus menutup telepon. Eomma memanggilku. Apa, tak apa?" Haechan merasa tak enak pada Mark, karena ia tidak bisa mengobrol lebih lama lagi.
"Tenang saja, Chan. Besok kita masih bisa bertemu di sekolah. Ya sudah aku tutup teleponnya ya. Bye Haechanie."
"Oke, hyung." Haechan pun memutuskan sambungannya dengan Mark. Setelahnya ia berteriak tidak jelas. Terlalu senang.
Deg deg deg
Hechanie lagi, Mark memanggil namanya terdengar menjadi imut.
"Haechanie, kau dengar eomma tidak sih?" Teriakan eommanya menyadarkan dirinya dari rasa senang. Haechan bergegas keluar kamar, menghampiri eommanya. Eommanya kalau tidak diladeni cepat, pasti marah-marah
"Iya eomma sebentar." Teriak Haechan pelan sambil menuruni tangga.
-oOo-
Diwaktu yang sama, tempat yang berbeda.
"Sudah selesai teleponannya?" Tanya seorang yeoja muda berpakaian minim yang sedang duduk di pangkuan seorang pemuda sambil menyender di dada bidang milik sang pemuda tersebut.
"Hm."
"Lama sekali, aku tak suka waktu kita berdua terganggu." Keluh yeoja tersebut.
"Kau sudah tahu alasannya, sayang. Jadi kau juga harus menerima resikonya." Ujar pemuda tersebut sambil memainkan rambut panjang milik yeojanya malam ini.
"Ya aku tahu, tapi tidak disaat kau akan bercumbu mesra denganku, Mark. Itu benar benar menggan..mmfft."
Bibir berisik itu langsung dibungkam oleh Mark dengan lumatan yang memabukkan. Setelah beberapa detik, Mark melepaskan pangutannya.
"Kau tenang saja, sayang. Hanya sebulan. Beri aku waktu untuk menuntaskannya. Dan kau pun dapat bagiannya."
"Baiklah kalau begitu. Jadi bagaimana dengan malam ini? Disini atau kita pindah ke hotel?"
"Tentu saja disini, untuk apa aku menyewa ruangan VIP di club kalau bukan menghabiskan waktu berdua dengamu." Jawab Mark sambil sesekali mencumbu yeoja tersebut.
"Yaks, kalian sudah mulai saja." Kegiatan dua sejoli yang sedang saling bercumbu tersebut terhenti oleh pekikan seseorang di ambang pintu sana.
"Lucas, sedang apa kau disini?" Tanya Mark tak suka karena kegiatannya terganggu.
Lucas meleparkan sesuatu ke arah Mark. Kartu tanda pengenal siswa dan itu milik seorang Lee Haechan.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan, Mark." Ujar Lucas sebelum ia pergi meninggalkan Mark yang menampilkan seringaian penuh kemenangan.
-TBC-
Selesai sudah waks ada yang nunggu ni ff
Sorry banget Mark disini ta buat jahat. Kalian boleh ko ngeluarin unek unek kalian ke Mark
Ditunggu next chap nya ya, jangan lupa komenannya
Makasih
