Je Manque Toujours de Temps

chapter 3

DISCLAIMER MILIK MASASHI KISHIMOTO

STORY IMMIRU

Full Sakura Pov

Dingin, ruangan ini begitu dingin. Dimana ini? Apa aku tadi pingsan di ruangan pendingin.

Silau cahaya putih mulai menyeruak saat kubuka mataku perlahan. Mataku mulai menyusuri ruangan ini.

Kosong

Aneh, tempat apa ini?

Aku mulai berdiri dengan tumpuan kedua tangan dan lututku. Tunggu ... kenapa aku memakai gaun putih. Seingatku tadi aku memakai kaos dan celana jins. Ini semakin aneh.

Aku mengedarkan pandanganku, tak ada apapun disini bahkan tak ada siapapun disini.

"Kaa-san, Tou-san, Nii-chan" teriakku memanggil keluargaku. Tapi tak ada satupun yang menjawab panggilanku.

"Netsu ji-san!" Aku memanggil Paman Netsu tapi paman tak menjawab . Ini aneh benar benar aneh.

"Dimana aku, tolong siapapun jawab aku. Ada dimana aku, seseorang tolong jawab aku" Aku mulai mengelilingi ruangan ini. Tak ada satupun orang disini.

"Kaa-san, Tous-san, Nii-chan dimana kalian. Sakura takut disini. Siapapun jawab aku, dimana aku?!"

Aku mulai terisak ketakutan. Tidak ini tidak bisa seperti ini. Aku harus keluar dari tempat ini. Aku mengusap air mataku kasar. Ya, aku hatus mencari jalan keluar, tapi dimana?

Aku tak menemukan sesuatu disini. Aku sudah mencari cari dari sudut sana sampai sini tapi tak ada satu pun cara. Hanya pintu i- .

Tunggu ,,, sejak kapan pintu itu disana. Aku melangkah mendekat dengan ragu. Pintu ini sebelumnya tidak ada. Ya, aku yakin itu.

"Aneh, sepertinya tadi tidak ada pintu ini disini. Apa aku salah lihat. Tidak, aju tak mungkin salah lihat aku melihat tadi tak ada apapun disini". Aku menoleh kekiri dan kekanan memastikan dugaanku.

"Apa aku coba masuk aja kali ya. Mungkin di dalam sana ada sesuatu yang bisa membawaku kembali"

Aku menarik handle pintu itu.

"Beraaaaaat" Aku mendorong pintu itu dengan tenaga superku.

weeeeesssh

Pertama kali dalam hidupku aku tak pernah melihat seperti ini. Kami-sama apa ini Syurga. Pemandangan didepanku ini dapat membuatku melebarkan mataku. Satu kata yang bisa terucap. Cantik.

Ya, siapapun pasti akan berkata cantik jika melihat pemandangan didepanku. Hamparan padang rumput yang luas dengan banyak pohon Sakura yang mekar. Disetiap sisi ditumbuhi berbagai bunga. Lili, tulip, mawar, krisan, daisy banyak sekali bunganya.

Aku berlari dan merentangkan tanganku. Aku tertawa melihat ini semua.

"Kami-sama, ini sungguh cantik, Apa ini di bumi. Kalau Ino tau ini pasti dia akan memangkas habis bunga-bunga disini dan membawanya ke dalam kamarnya. Haloooo, ada orang disini" ucapku seraya mengelilingi taman bunga ini

Kutaruh kedua tanganku di belakang tubuhku. dan mulai bersenandung menikmati keindahan taman ini. Kirei.

Tapi tunggu, kenapa tak ada satu pun orang disini. Apa ini syurga?

Jika ini syurga, berarti aku meninggal?

1

2

3

4

5

"Kami-sama, apa aku sudah meninggal. Oh tidak, ini tidak benar. Kami-sama aku belum ingin meninggal. Aku harus Ujian akhir dan ujian masuk universitas. Bagaimana ini ,,,." Aku mulai kebingungan. Kututup mulutku lalu aku mondar mandir tak jelas.

weeeeeesssssh

Angin bertiup sangat kencang. Kelopak sakura berguguran dan terbang mengikuti arah angin. Aroma ini, aroma sejuta bunga.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku. Dibelakang ?

Aku memutar tubuhku perlahan ke belakang.

deg deg deg

Astaga siapa dia?

"Apa yang kau lakukan disini?"

Sekali lagi orang didepanku bertanya kembali. Aku masih terpaju ditempatku.

"Hei kau!"

"Eh, m-maaf. Kau siapa?" tanyaku pada sosok didepanku. Pemuda itu hanya mengangkat alisnya.

"Apa yang kau bicarakan. Siapa kau, mengapa kau disini?" tanya pemuda itu sambil melipat kedua tangannya di dada.

Kuakui orang didepanku ini sungguh luar biasa. Rambut pirang dengan mata emerald cantik. Kulitnya sungguh putih bersinar. Sosok yang tinggi gagah dan terlihat sangat kuat.

Aku tersadar dari lamunanku. "Ehm, aku juga tidak tahu mengapa aku disini. Hanya saja aku ingat sebelun aku pingsan dirumah. Aku sedang bermain piano dan ponselku berbunyi. Setelah itu ...," Ah, aku ingat. E-mail dari Sasuke-kun. Aku menatap rumput dibawahku. Aku masih tidak mengerti apa keinginan dan maksud Sasuje-kun.

"Nona, Kau tak seharusnya disini. Ini adalah dimensi lain dari duniamu. Kau harus kembali". terang pemuda itu.

"Ehm, aku juga ingin seperti itu. Tapi ,,, tempat ini sangat indah. Bahkan aku tak pernah menjumpai taman bunga seperti ini. Apa ini milikmu?, aku sangat penasaran dengan tempat ini kau tahu?"

"?" tanya Pemuda itu.

"Tuan?"

Dia tersenyum. " warna rambutmu sama seperti pohon itu". ucapnya sambil menunjuk pohon sakura.

"Kau benar, hehe" aku terkekeh saat melihatnya menatap pohon sakura.

"Hn?"

Ah, dia persis seperti sasuke saat berbicara.

"Ah, tuan. Apa kau tau bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini?" tanyaku.

"Kau bisa memanggilku Keiji. Mari ikut aku, Sakura"

Ha? Bagaimana dia tahu namaku.

Je Manque Toujours de Temps

chapter 3

DISCLAIMER MILIK MASASHI KISHIMOTO

STORY IMMIRU

Mata itu masih menatapku tajam. Aku bisa melihat wajah terkejutnya disana. Ini pertama kali kita bertemu setelah 10 tahun berpisah.

deg deg deg

Oh Kami-sama detakan jantung semakin keras dan cepat. Terasa sedikit sakit.

"Uhuk uhuk uhuk" tak sadar aku sudah mulai terbatuk, sedikit susah bernafas.

"Sakura!" suara Ino meninggi tetapi penuh dengan kekhawatiran.

-Sasuke hanya menatap datar Sakura yang sedang terbatuk. Dia mengusap hidungnya sebentar-

"Ah, tidak Ino. I'm fine"

"Sakura jangan membuatku khawatir. Jika sesuatu terjadi denganmu, aku bisa di seret Sasori-nii dengan kapalnya!" ucap Ino.

Aku melirik Ino sebentar. Wajahnya sangat menunjukan kekhawatiran saat ini, entah benar-benar khawatir denganku atau dengan dirinya sendiri, haha. Seperti yang aku tahu Sasori-nii sangat over-proktetiv denganku. Bahkan dia selalu menyewa bodyguard saat aku di Amerika. Kali ini aku akan membiarkan rambut merah itu mengirim bodyguard-bodyguardnya kemari. Bahkan dia mengancam Ino jika tidak menjagaku dengan baik. Dia tidak akan memuluskan hubungannya dengan Sai bahkan dia akan menyeret Ino dengan kapal pesiarnya bersaama ratusan hiu di lautan. Kejam.

normal pov

"Sakura-chan, kapan kau tiba di Konaha. Kau tak memberi tahuku jika kau dan barbie wanna be kesini" ucap Naruto seraya memeluk Sakura dan melirik Ino.

Ino mendengus."Asal kau tau saja landak, bahkan pencipta barbie masih menjadikan aku muse mereka" ucap Ino sinis.

"Yare yare, Ah teme! Kau tak menyapa Sakura-chan. Ini kali pertama kau bertemu Sakura-chan setelah kau pindah dari Suna?!"

Sakura melirik Sasuke.

Sasuke cukup tersentak saat mendengar ucapan Naruto. Sasuke menatap Sakura datar. Saat tatapan mereka bertemu, Sakura lebih dulu mengalihkan matanya menatap bunga mawar di meja. Dia hanya diam tidak beraksi. Dia mengusap hidungnya. Menggeser kursi di sebelah meja Sakura-Ino. Sasuke segera memanggil pelayan untuk memutuskan keheningan dan mengusir pikirannya.

Naruto hanya bisa menghela nafas. Dia tahu bahwa saat ini Sasuke belum siap bertemu Sakura dan Naruto yakin saat ini Sasuke sedang berusaha mengendalikan diri. Apalagi situasi seperti ini. Ia melihat Sasuke yang sibuk dengan pelayan dan menu.

"Ah, Sakura kau tahu. Aku sangat merindukanmu. Bagaimana denganmu. Apa kau merindukanku? kita bahkan sudah 2 tahun tidak bertemu secara langsung seperti ini dan kau tau Sakura-chan jika ...,"

Naruto terlihat bersemangat saat menceritakan tentang pengalamannya tinggal di Konoha. Mulai dari masa SMAnya, kuliahnya, kenalannya sampai ia bertenu dengan seorang gadis yang akan ia nikahi dalam waktu dekat ini.

"Bahkan orang yang dulu terbodoh se-Suna sudah mau menikah. Aku yakin gadis itu pasti sangat terpaksa" seru Ino sinis.

"Kau, kenapa? Ah, aku tau kau pasti sangat iri bukan. Aku lebih dulu menikah darimu dan Sai. Haha, lihat siapa disini pemenangnya. Kau bahkan tidak bisa meyakinkan Sai untuk segera melamarmu haha?!" ucap Naruto. Ino menatap tajam Naruto, mukanya sudah sangat merah. Antara malu dan marah. Sedqng Naruto masih tertawa keras. Terlihat dia suka sekali menggoda sepupu cantiknya itu.

Bahkan pengunjung restoran semua melirik kearah Naruto yang tertawa sangat keras.

"N-naruto, diamlah. Lihatlah kita sedang di restoran. Tawamu mengundang mata mereka untuk melihat kita" ujar Sakura sambil menundukan kepalanya berulangkali sebagai perminta maafan karna sudah membuat kericuhan.

Naruto berdehem. "Ehm, ayo Naruto bersikaplah sebagai lelaki berkelas,-" ucap naruto lirih. "-maaf tuan dan nyonya membuat sedikit kericuhan" Naruto membungkuk memberi hormat, setelah itu ia berdiri tegak sambil tersenyum kepada semua orang. Terlihat para wanita sedikit terpana melihat senyuman manis Naruto.

"Ekhm, Dobe tak bisa kah kau duduk dan memakan makananmu" ucap Sasuke sambil melirik tajam Naruto.

"Ah, haha iya. Sakura-chan, nanti kita sambung pembicaraan kita"

Naruto berlalu pergi menuju meja makannya di samping Sakura.

Sakura melirik Sasuje dengan pandangan sukit diartikan.

Makan siang berlalu dengan cepat. Kini keempat manusia berbeda gender sudah menyelesaikan makannya.

"Sakura, vitaminmu?" ucap Ino

"Ah, aku hampir melupakannya, terimakasih pig. Kau memang pengingat tercanggih" ucap Sakura dengan sedikit kekehan kecik.

Sakura mengambil beberapa botol bening di dalam tasnya, dan mengeluarkan satu-satu kapsul dari botol bening. Terdapat 4 obat ditangannya. Langsung ia masukan senua obat itu kedalam mulutnya dan segera menandaskan dengan air putih yang tersedia di mejanya.

Kegiatan sakura tak lepas dari lensa mata hitam Sasuke. Dia sedari tadi meperhatikan gerak gerik Sakura secara diam-diam.

'Cih' umpat Sasuke dalam hati.

Sakura dan Ino berdiri setelah meletakan beberapa lembar uang di atas lembar bill mereka.

"Ah Naruto, Sasuke kita pergi dulu. Sampai bertemu kembali di rapat lusa" ucap Ino.

Sakura hanya memberika senyuman pada kedua pemuda di samping mejanya.

"Ah, ya. Hati-hati membawa Sakura-chan. Jangan samakan Konoha dengan Suna Ino. Disini banyak Pemain jalan yang berbahaya dan kemudikan mobilmu dengan pelan pelan. Jangan melebihi batas kecepatan yang sudah diatur di-"

"Naruto, bisakah kau hentikan ocehanmu haha," Ino seraya tertawa dan melirik sekitar mereka. Pengunjung cafe hanya tersenyum mendengar kata-kata Naruto" -kau membuatku malu baka, aku sudah memiliki SIM dan kau jangan pernah remehkan kemampuanku menyetir" desis Ino pada Naruto.

"Selama kau disini, Paman menitipkanmu seperti bayi padaku, Mom and Dad"

"Terserah. Sakura ayo aku sangat lelah hari ini. Aku ingin tidur siang" ucap Ino seraya berlalu pergi meninggalkan kedua pemuda di restoran itu.

Sasuke hanya melirik melihat kepergian mereka berdua. Dia hanya bisa seperti ini untuk saat ini.

"Teme, kenapa kau diam. Bahkan kau tak mengucapkan, Hai Sakura lama tak bertemu. Apa kau sudah separah itu. Sampai bertatap muka kau sangat enggan" ucap Naruto sambil mengusap mulutnya dari kemungkinan sisa makanan di garis bibirnya.

"Hn. Ayo pergi Dobe. Baunya sudah sangat menyakitkan"

Sasuke berlalu pergi dengan tatapan mata sulit diartikan.

"Teme, semenderita itukah kau saat berada didekat Sakura-chan?" Naruto memandang sahabatnya denga tatapan sedih.

Mereka segera keluar dari restoran tersebut tak lupa meletakan beberapa lembar uang.

di Mansion Uchiha

"Ayah, sudah saatnya kita turun tangan. Sasuke semakin hari semakin tidak bisa mengendalikan diri. Saat tadi dia mendengar nama Sakura, Mata Sasuke menunjukan kegelisahan dan keinginan". Ucap Itachi lembut seraya memandang Ayahnya yang berdiri di dekat jendela di ruang kerjanya.

Fugaku hanya memandang pemandangan di balik jendela dengan tatapan datar. Itachi tahu Ayahnya sedang berfikir tentang keadaan Sasuke saat ini.

"Itachi ,,, selama ini ada yang Ayah rahasiakan darimu dan keluarga kita, terlebih pada ,,, Sasuke" ucap Fugaku seraya membalikan badannya.

Itachi mengernyitkan alisnya. "Apa maksud Ayah?" tanya Itachi bingung.

"Rahasia tentang Sakura?!"