You Belong To Me
Disclaimer : Inuyasha belongs to Rumiko Takahashi. But Sesshy is Mine ekkeke~
Note : AU, Wrong grammar, Typo, EYD tidak diperhatikan, bad stories etc
Seluruh anggota keluarga Higurashi berkumpul di ruang tamu mereka dan tidak ada yang bersuara ketika mendengar sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan. Setelah kondisi keluarganya berangsur membaik dan Souta sudah kembali bersekolah, akhirnya Kagome memberanikan diri untuk memberitahukan kepada keluarganya bawa ia akan menikah dengan Sesshomaru. Penegasan yang keluar dari bibir Sesshomaru benar-benar meruntuhkan ketidak percayaan mereka semua saat Sesshomaru benar-benar datang untuk melamar Kagome dan meminta dengan sopan kepada ibunya serta kakeknya. Pembawaan Sesshomaru yang kharismatik dan tenang sungguh membuat keluarga kecil itu hanya mampu menyerahkan segala keputusannya pada gadis yang bersangkutan. Di depan keluarganya Kagome hanya bisa tersenyum, ia tidak boleh memperlihatkan raut kesedihannya dan cukup hatinya saja yang menangis. Ia melakukan ini semua demi melindungi keluarganya.
Berselang beberapa pekan semenjak kedatangan pemimpin perusahaan Taisho Corp itu, tibalah waktunya melangsungkan pesta pernikahan yang menjadi pesta termegah yang mungkin pernah diadakan di Jepang. Kagome tidak pernah menginginkan pesta yang megah untuk pernikahan yang menurutnya hanya pernikahan palsu semata. Ia melihat raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah ibu, kakek, serta adiknya membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Keluarganya tidak ada satu pun yang mengetahui perihal alasan mengapa dirinya menikah dengan Sesshomaru. Baginya kebahagiaan mereka adalah yang paling utama, Kagome rela menukarkan kebahagiaan yang ia punya dengan menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai.
"Kagome, apakah kau baik-baik saja?" Suara lirih ibunya membuyarkan lamunannya. Kagome telah mengenakan gaun putihnya dan terlihat sangat cantik.
"Kau adalah pengantin tercantik yang pernah mama lihat." Ucap sang ibu yang membuatnya tersipu malu.
"Terima kasih, mama." Ujar Kagome lebut dengan memeluk ibunya erat. Walaupun ia tidak bersanding dengan pangeran yang dicintainya dan tidak bisa mewujudkan pernikahan impiannya, tapi setidaknya ia masih bisa memberikan senyuman kebahagiaan bagi orang-orang di sekelilingnya.
"Kagome!" Teriakan keras seorang wanita sukses membuat Kagome terperanjat.
"Ini gila! Kau tidak pernah mengatakan apapun padaku dan sekarang kau menikah dengan konglomerat tampan itu. Sebenarnya apa yang terjadi? Lalu kau buang ke mana Inuyasha?" Suara lantang Ayame sukses membuat Kagome dan ibunya sedikit panik.
"Sst, Ayame pelankan suaramu." Kagome mencoba berdiri dan membekap mulut sahabatnya itu meskipun agak sedikit kerepotan dengan gaun pengantinnya yang panjang.
"Kau harus menjelaskan semuanya padaku." Tangannya menepis tangan Kagome yang mencoba menutupi mulutnya.
Seakan mengetahui bahwa putrinya akan melakukan percakapan dengan sahabatnya, maka ibu Kagome langsung berdiri dan meninggalkan mereka di ruangan itu.
"Aku sudah putus dengan Inuyasha." Jawab Kagome dan mencari kebohongan apa yang akan ia katakan kepada sahabatnya itu.
"Tidak mungkin, kalian tidak mungkin putus begitu saja dan kau tidak bisa berbohong padaku Kagome." Tegas Ayame kepada sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh, Ayame." Kagome telah mengatakan hal yang tidak mungkin untuk dikatakan, tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk merahasiakan kebenarannya.
Ayame yakin bahwa Kagome tidak mungkin tega menyakiti pemuda yang sangat dicintainya dan Kagome tidak akan meninggalkan Inuyasha hanya karena hal sepele seperti itu. Apa mungkin Kagome gadis materialistis dan menikah dengan Sesshomaru hanya karena pria itu kaya raya. Ia yakin dan rasanya tidak mungkin Kagome seperti itu karena ia telah mengenal Kagome sejak lama dan Kagome bukanlah gadis seperti itu.
"Kagome, waktunya ke altar." Suara sang ibu memisahkan percakapan penting mereka berdua dan Kagome sangat beruntung bahwa ibunya datang di waktu yang tepat.
Maafkan aku, Ayame.
Janji suci sehidup semati yang penuh dengan air mata kebahagiaan yang tepancar dari ibunya dan tangisan pilu hatinya menjadi sangat kontras. Selama pesta berlangsung Kagome mencoba selalu tersenyum walaupun hatinya menangis. Ia menyayangkan mengapa hidupnya harus berakhir seperti ini. Ia hanya ingin hidup sederhana dan bahagia bersama orang yang ia cintai dan bukannya seperti ini.
"Mandilah." Suara berat yang terdengar menakutkan itu menggema di ruangan.
Kagome bergegas menuju kamar mandi dan seandainya ia mampu berlama-lama berada di dalam kamar mandi, Kagome lebih memilih berdiam diri di tempat itu sampai pagi. Dengan tubuh gemetar menahan dingin, Kagome keluar dari kamar mandi dan melihat Sesshomaru masih terjaga dengan sebuah buku di tangannya.
"Kenapa… kau tidak ingin tidur?" Suara berat yang bernada lembut itu terlontar dari pria itu dan ia tahu gadis itu sedang menghindarinya atau juga membencinya. Ia tidak peduli, ia bertekad dalam hati akan membuat gadis itu berbalik mencintainya. Sesshomaru tahu bahwa caranya mendapatkan Kagome salah, namun hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mendapatkannya.
"Aku tidur di sofa." Ujar Kagome yang sudah merebahkan diri di atas sofa dan melihat Sesshomaru menghampirinya.
"Tidurlah di ranjang. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu," Nada Sesshomaru terdengar pelan dan mata emasnya tersirat penuh luka. Kagome menatap suaminya lekat dan melihat sebuah kebenaran yang terucap darinya.
"Bolehkah aku mengajukan satu permintaan, Sesshomaru-sama?" Kagome berbicara dengan menatap lekat iris keemasan suaminya.
"Hn." Sesshomaru menjawab dengan ciri khas seperti biasanya.
"Bisakah kau tidak menyentuhku?" Kagome berkata dengan ke egoisan di dalam dirinya, baginya inilah salah satu cara agar ia tetap bertahan di sisi pria itu.
"Sampai kapan?" Sesshomaru bertanya dengan raut kekecewaannya.
"Sampai waktu yang tidak ditentukan." Suara lembut Kagome terdengar begitu dingin dan menusuk. Sesshomaru yang biasanya arogan, tidak suka diperintah, suka memaksa, dan seenaknya sendiri kali ini ia hanya terdiam mendengar perkataan istrinya. Gadis yang dicintainya tidak sudi disentuh olehnya.
"Baiklah, tapi kau harus tidur bersamaku." Sesshomaru menjawab acuh.
"Sekali saja anda melanggarnya, maka aku pastikan kau tidak akan melihatku lagi." Suara Kagome tegas dan lantang. Kagome tahu bahwa Sesshomaru sangat menginginkannya dan sedikit ancaman akan bisa membantunya.
Memang benar kehadiran Kagome di sisinya sudah lebih dari cukup, meskipun belum bisa memiliki hati dan tubuhnya. Melihat paras cantik istrinya saat angun tidur, menatapnya saat terlelap itu sudah membuatnya bahagia. Sesshomaru tidak tahu apakah ia bisa menahan gejolak alamiah sebagai pria yang sedang berdekatan dengan wanita impiannya dan bagaimana kalau ia lepas kendali dan melanggar janjinya. Apakah Kagome akan meninggalkanya. Setiap hari tidur satu ranjang dengan gadis yang dicintainya, namun tidak bisa menyentuhnya dan yang ia butuhkan hanya kesabaran. Ya, ia akan menghadapi Kagome dengan penuh kesabaran dan pada saatnya nanti gadis itu akan menerima dan mencintainya.
Enam bulan sudah usia pernikahan mereka dan Kagome terkurung di dalam istana megah Sesshomaru dan menjadi nona muda di rumah itu. Setelah menikah Kagome lebih memilih menjadi wanita rumahan. Keinginannya untuk melanjutkan kuliah sangatlah besar dan Sesshomaru sudah memperbolehkannya, namun ia tidak sanggup untuk bertemu teman-temannya termasuk Ayame.
"My lady, tuan Sesshomaru sudah pulang." Seorang pelayan sukses menginterupsi lamunannya di balkon dan segera Kagome bergegas menuju kamarnya. Seberapa bencinya Kagome terhadap suaminya, namun ia berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan makanan untuk suaminya, baju kerjanya, dan air hangat untuk mandi. Semua kewajibannya sebagai istri telah Kagome lakukan sebaik mungkin kecuali satu hal yaitu melayaninya di atas ranjang.
"Anda sudah pulang, Sesshomaru-sama." Ucap Kagome pelan.
Sudah berkali-kali Sesshomaru menegur istrinya agar tidak perlu bersikap formal padanya, Kagome yang keras kepala membuat Sesshomaru tidak bisa berkutik. Enam bulan sudah mereka tinggal bersama dan tidur satu ranjang, namun semua itu tidak membuat Kagome bisa bersikap biasa saja padanya. Kagome hanya berbicara seperlunya dengan sikapnya yang dingin dan acuh, namun ia selalu melakukan tugasnya sebagai istri yang baik. Tidak ada kemesraan diantara mereka, setiap saat mereka tidur Kagome hampir menutup sebagian tubuhnya dan Sesshomaru hanya dapat mengecupnya atau menyentuh rambut istrinya saat yakin bahwa istrinya sudah tertidur lelap. Hampir setiap malam ia selalu ingin menyentuh istrinya, namun ia harus menahannya dan hanya memandangi wajah cantik sang istri. Sesshomaru mengetahui bahwa istrinya sangat tersiksa hidup bersamanya dan ia juga merasakan hal yang sama. Sesshomaru tidak menyangka akan sesulit ini. Selama ini ia sudah bersabar dan mengabulkan apapun permintaan Kagome kecuali perceraian, ia tidak akan mengabulkannya. Sesshomaru memang membebaskan kemanapun istrinya ingin pergi dan diam-diam ia mengutus orang kepercayaannya untuk menjaga Kagome dari jauh. Selama ini tidak pernah terjadi apapun pada istrinya, namun tiga hari lalu sesuatu yang membuat harga dirinya bergejolak adalah ketika istrinya menemui mantan kekasihnya secara diam-diam. Meskipun mereka hanya berbincang tetapi tetap saja itu membuat Sesshomaru terbakar api cemburu dan menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa. Ia belum bisa mendapatkan sedikitpun hati istrinya dan ia tidak akan membiarkan rasa cinta Kagome kembali tumbuh dan berkembang pada mantan kekasihnya. Ia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
"Air hangat sudah siap, Sesshomaru-sama." Suara lembut itu menyadarkan Sesshomaru dari lamunan panjangnya.
"Kagome, bisakah kau bersikap biasa saja padaku? Kau bukanlah pelayanku, tapi kau istriku!" Kalimat yang keluar dari bibirnya adalah kalimat tertegas yang pernah terlontar dari bibirnya untuk sang istri. Ia sudah cukup bersabar selama ini dan ia sudah tidak tahan lagi. Kenapa sang istri bersikap seperti seorang pelayan padanya. Apakah dimatanya dirinya seorang majikan dan bukan seorang suami.
"Aku sudah menerima semua keputusan dan keinginanmu. Aku hanya minta ini padamu, bisakah?" Suara itu semakin lama semakin lembut. Sesshomaru menyentuh bahu Kagome dan melihat Kagome hanya terdiam.
Matanya basah karena rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya. Rasa bersalah karena belum bisa mencintai suaminya. Ia sangat membenci pria itu karena apa yang telah ia lakukan untuk mendapatkannya dengan cara yang salah. Kagome tahu Sesshomaru sangat mencintainya dan cintanya yang membuat mereka berlaku egois. Cinta Sesshomaru untuk Kagome dan cinta Kagome hanya untuk Inuyasha. Meraka berlaku egois demi mempertahankan cinta yang mereka miliki.
Bagi Sesshomaru cinta itu harus memiliki. Tidak peduli Kagome mencintainya atau tidak, namun gadis itu harus berada disisinya. Ia akan melakukan apapun demi mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya atau mendapatkan apapun yang di inginkannya. Sekalipun ia harus menghancurkan hidup orang lain, ia akan melakukannya. Karena Kagome Higurashi adalah sesuatu yang berharga baginya. Satu kali Kagome menemui mantan kekasihnya secara diam-diam dan Sesshomaru masih membiarkannya. Kali ini tidak akan ia biarkan saat Kagome menghianatinya lagi. Ia melajukan mobilnya dengan sangat kencang dan melihat dua orang yang saling mengumbar kemesraan.
"Kagome, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Pergilah bersamaku." Inuyasha berusaha mengulang perkataannya setelah melihat gadis yang dicintainya tidak meresponnya.
"Aku tidak bisa Inuyasha…" Ia memang mencinti Inuyasha dan sangat membenci Sesshomaru, namun bukan berarti ia bisa dengan mudah meninggalkan suaminya itu.
"Kenapa? Aku tahu kau tidak mencintainya dan aku tahu kau menikah dengannya karena terpaksa." Ujar Inuyasha sambil menggenggam erat tangan Kagome.
"Tidak bisa." Jawabnya sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Inuyasha aku mohon aku harus kembali. Hubungan kita sudah berakhir." Hatinya sangat sakit ketika mengucapkan kata-kata itu. Sampai sekarang Inuyasha adalah cintanya.
"Tidak. Kau milikku!" Seketika Inuyasha langsung memeluk Kagome.
"Sampai kapan pun, kau tetap milikku." Ucapnya lirih.
"Lepaskan aku, Inuyasha." Tangis Kagome tidak bisa terbendung lagi. Ingin sekali ia membalas pelukan yang pria itu berikan, namun ia sadar ia tidak boleh melakukannya. Terlintas dipikirannya keluarga yang sangat ia sayangi Ibu, kakek, serta adiknya pasti akan bersedih jika ia memutuskan untuk pergi dengan pria yang ia cintai dan Sesshomaru tidak akan membiarkan mereka berdua hidup bahagia.
Sesshomaru melihat dari kejauhan sang istri yang sedang berpelukan dengan seorang pria dipinggir pantai dan seketika hatinya memanas. Ia ingin membunuh siapa pun yang berani menyentuh miliknya.
"Kagome…" Desisan tajam itu sukses membuat dua orang itu terkejut.
"Sesshomaru…" Tidak ada kata lain yang sanggup terucap dari bibirnya. Kagome melihat mata Sesshomaru yang berubah merah yang sedang menatap ke arahnya.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Sesshomaru dan langsung menghajar Inuyasha dengan pukulan yang bertubi-tubi. Sesshomaru geram dan Inuyasha berusaha untuk membalas serangan itu meskipun tetap ia yang terdesak.
"Hentikan, Sesshomaru-sama! Atau aku akan menenggelamkan diri ke laut." Teriakan Kagome sukses menyadarkan Sesshomaru dari kegilaannya menghajar Inuyasha. Napasnya terengah dan matanya menatap sosok gadis yang ia cintai berurai air mata. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan itu. Ia menyadari Kagome rela mati demi pria itu yang sudah babak belur dihajarnya. Seketika rasa lemas menjalar di tubuhnya saat melihat Kagome terduduk memandangi tubuh Inuyasha yang tidak berdaya.
"Ah…" Pekikan Kagome terdengar saat sang suami menyeretnya kasar dan terus menarik tangannya tanpa menghiraukan protesnya, tanpa menghiraukan tangisannya. Ia hanya ingin menolong Inuyasha dan tidak tega meninggalkannya dalam keadaan terkapar tidak berdaya seperti itu.
"Beraninya kau…" Geraman yang keras terlontar dari bibir Sesshomaru saat ia membanting keras tubuh sang istri ke ranjang. Ini pertama kalinya ia melepaskan amarahnya yang kejam kepada istrinya.
"Itu tidak seperti yang kau lihat." Kagome berkata saat melihat api cemburu dan amarah yang berkobar dari mata suaminya. Kagome mencoba bangkit sebelum tubuh besar Sesshomaru menindihnya dan mencengkram kedua tangannya yang membuatnya kesakitan.
"Kau mengkhianatiku, Kagome." Ujar Sesshomaru dengan menatap sang istri yang masih berurai air mata.
"Tidak, kau salah paham. Aku dan Inuyasha tidak…" Sebelum Kagome bisa menyelesaikan ucapannya, Sesshomaru membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman. Ciuman yang kasar dan menuntut yang sarat akan luka.
"Jangan Sesshomaru…" Kagome mencoba menahan tangan besar Sesshomaru yang merobek bajunya. Ia melihat itu bukanlah Sesshomaru yang ia tahu sebagai suaminya.
"Kumohon, jangan lakukan ini." Rintihan Kagome kali ini sukses membuat Sesshomaru berhenti dan melihat wajahnya. Mata merahnya terus menatap wajahnya dan akhirnya ia beranjak dari tubuhnya sebelum berlalu pergi meninggalkan Kagome yang masih terisak. Kagome bangun dari tempat tidurnya dan melihat bajunya sudah tidak beraturan karena telah dirobek oleh Sesshomaru. Entah kenapa perasaan bersalah mulai menggerogoti hatinya.
Sejak kejadian beberapa bulan lalu, hubungan Kagome dan Sesshomaru semakin memburuk. Tidak ada lagi interaksi di antara mereka dan Sesshomaru jarang sekali pulang ke rumah, ia lebih sering menginap di hotel atau apartemennya. Masih ada yang mengganjal di hati Kagome karena ia belum sempat menjelaskan kesalahpahaman pada suaminya. Hatinya resah dan tidak tenang, yang jelas ia ingin berbicara dengan Sesshomaru. Setelah beberapa minggu bergulat dengan hatinya, akhirnya Kagome memberanikan diri menemui Sesshomaru di ruang kerjanya dan mengetuk pintu yang berada di hadapannya.
"Sesshomaru-sama, apakah saya mengganggu?" Tanya Kagome pelan saat melihat suaminya sedang duduk di meja kerjanya.
"Aku hanya ingin menjelaskan kejadian beberapa bulan lalu, bahwa aku tidak mengkhianatimu. Aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan." Kagome menjelaskan dengan santai dan tenang.
"Hanya itu?" Sesshomaru bangkit berdiri dan menghampiri istrinya.
"Hanya itu yang bisa kukatakan padamu. Terserah kau mau mempercayainya atau tidak. Kalau kau membenciku karena kejadian itu, kau bisa menceraikanku sekarang juga." Ujar Kagome menjelaskan.
"Tidak akan pernah. Jangan pernah bermimpi bahwa aku akan melepaskanmu." Desis Sesshomaru terdengar tajam dan tangannya mencengkram erat pergelangan tangan Kagome seakan takut gadis itu akan pergi darinya. Ingin sekali dirinya membenci Kagome karena selalu mengecewakannya, namun ia tetap memaafkannya dan terus mencintainya. Walaupun Sesshomaru tidak pernah sekali pun menampakan ekspresi cinta dan sayangnya di hadapan Kagome, tapi semua yang ia miliki tidak akan ada artinya apabila Kagome pergi dari hidupnya.
"Lepaskan, untuk apa kau mempertahankan diriku Sesshomaru? Kau juga terluka hidup bersamaku, kita sama-sama terluka. Kenapa tidak kita akhiri pernikahan palsu ini?" Teriak Kagome yang tersulut emosi yang selama ini ia pendam dan tidak pernah tercurahkan.
"Diam." Suara keras Sesshomaru mampu membuat Kagome terpaku dengan kedua manik birunya sudah meneteskan air mata.
"Sekali lagi kau mengatakan kata-kata itu, maka aku tidak segan menyakitimu Kagome dan juga keluargamu." Desisan tajamnya sangat menggugah naluri ketakutan istrinya. Sesshomaru tahu titik kelemahan Kagome ada di keluarganya dan ia tidak akan bisa melihat keluarganya menderita.
Semenjak kejadian itu, Kagome jatuh sakit karena sering merenung dan mengurung diri di kamar. Sesshomaru sadar ia telah menyakiti Kagome secara mental dan fisik sehingga istrinya tertekan.
"Kenapa kau bisa jatuh sakit begini, Kagome?" Ujar sang ibu saat membawakan bubur hangat di kamarnya.
"Aku hanya kelelahan saja mama." Jawab Kagome berbohong. Selama ini tidak ada anggota keluarganya yang mengetahui kalau hubungannya dengan Sesshomaru tidak harmonis.
"Apa kau hamil sehingga perutmu tidak bisa menerima asupan makanan?" Pertanyaan sang ibu sungguh membuat Kagome tersedak bubur yang berusaha ia telan.
"Tidak, mama. Aku tidak hamil." Bagimana bisa ia hamil sedangkan ia belum pernah berhubungan intim dengan suaminya dan tentu saja ibunya tidak pernah tahu mengenai ini.
"Kalau begitu istirahatlah, sebentar lagi suamimu pasti pulang." Ujap sang ibu lembut.
Akhirnya Kagome tidur seorang diri karena ibunya telah pulang. Ia sangat merindukan belaian lembut sang ibu dan sangat rindu akan hari-harinya di rumah sederhananya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang karena suaminya telah mengendalikan seluruh hidupnya.
"Kau sudah sembuh?" Pertanyaan yang tanpa intonasi menegur indera pendengarannya.
"Sudah lumayan." Jawabnya pelan. Setelahnya tidak ada sahutan lain dari suaminya karena ia langsung menuju kamar mandi. Kagome sedikit lega saat melihat suaminya menaiki ranjang dan langsung memunggunginya.
"Tidurlah." Sesshomaru bergumam pelan.
Hatinya begitu tersentuh saat melihat betapa lihainya Sesshomaru mengganti kompres di dahinya yang sudah tidak lagi dingin. Semalaman ia terjaga menemani Kagome yang terus menggigil kedinginan, walaupun suhu tubuhnya mengatakan sebaliknya.
"Kagome, kau mendengarkanku?" Ujarnya pelan. Waktu sudah menunjukan jam dua pagi dan suhu tubuh Kagome belum kunjung mereda. Sesshomaru tidak tahu harus melakukan apa lagi karena seumur hidupnya ia tidak pernah merawat orang sakit.
"Sesshomaru tidurlah, aku sudah tidak apa-apa." Ucap Kagome dengan mata yang tertutup namun telinganya masih jelas mendengar suaminya berbicara.
"Aku akan membawamu ke dokter." Jawab Sesshomaru yang langsung mengangkat tubuh kecil istrinya. Ia tersadar tubuh yang dulunya berisi sekarang menjadi kurus.
Sesshomaru terus duduk mendampingi Kagome yang masih memejamkan mata. Dokter yang baru memeriksanya mengatakan bahwa gadis itu terkena penyakit typus dan pola makan yang buruk menjadi penyebab utama penyakit itu menyerang tubuhnya. Pria pemilik obsidian emas itu hanya diam mengamati istri tercintanya terbaring lemah di rumah sakit. Ia teringat akan ucapan Kouga bahwa ia harus melepaskan Kagome. Apakah ia bisa melakukannya dan apakah ia bisa hidup tanpa Kagome disisinya. Ia rela menukarkan apa saja asalkan Kagome bisa berbalik mencintainya. Sekuat apapun ia berusaha, Kagome seakan enggan memandangnya walau hanya seujung lirikan mata. Sakit yang ia rasakan selama satu tahun, rasa cintanya telah menyakiti dirinya dan Kagome. Cintanya yang sangat egois.
"Mama, di mana Sesshomaru?" Kalimat pertama yang terlontar dari bibir Kagome saat ia membuka matanya.
"Kau sudah bangun, Kagome? Suamimu sudah mama suruh pulang karena semalaman ia tidak tidur menjagamu." Ucap sang ibu yang membuat Kagome menangis. Sesshomaru telah terlalu baik padanya dan ia tidak pernah bisa membalas kebaikannya. Sudah lebih dari satu tahun pernikahannya dan yang ia lakukan hanya mengacuhkannya dan membencinya.
"Kenapa kau menangis, apa ada yang sakit?" Sontak sang ibu terkejut melihat putrinya menangis.
"Aku baik-baik saja mama." Ya Kagome memang baik-baik saja, namun hatinya yang menangis dan bergemuruh akan rasa bersalahnya pada Sesshomaru.
Kagome gelisah karena sudah tiga hari ia tidak melihat Sesshomaru menjenguknya di rumah sakit. Ingin sekali ia menghubunginya, tapi Kagome takut mengganggu suaminya yang super sibuk. Alhasil ia hanya dapat menunggu dengan kegelisahan yang luar biasa melanda hatinya. Ia ingin mengucapkan kata maaf dan terimakasih pada Sesshomaru. Sesaat pintu ruangannya terbuka lebar dan menampakan sesosok pria bersurai silver mendekatinya. Ia terkejut karena bukan suaminya yang datang melainkan mantan kekasihnya.
"Inuyasha…" Jantungnya berdegup kencang dan rasa takut mulai menjalar di dadanya.
"Lama tidak berjumpa Kagome…" Inuyasha berkata sambil menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya.
"Inuyasha, kau mau membawaku kemana? Kumohon turunkan aku." Kagome memohon pada mantan kekasihnya yang tiba-tiba membawanya pergi dari rumah sakit.
"Aku akan membawamu pergi jauh dari Sesshomaru. Kagome aku akan mengakhiri penderitaanmu." Jawab Inuyasha tenang.
"Tidak, aku tidak ingin pergi. Aku ingin kembali." Kagome menangis meratapi nasibnya. Ia mengakui cintanya pada Inuyasha masih ada, tetapi ia tidak ingin meninggalkan suaminya dengan cara seperti ini.
"Apa kau mencintai Sesshomaru?" Tanya Inuyasha dengan tatapannya yang penuh luka ketika mendengar penuturan dari gadis yang dicintainya.
"Dia suamiku, Inuyasha." Jawab Kagome.
"Apakah kau mencintainya?" Tanya Inuyasha sekali lagi.
Kagome hanya terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa. Perasaan yang ia rasakan pada Sesshomaru belum sama seperti yang ia rasakan pada Inuyasha, namun setiap kali ia mengingat begitu banyak pengorbanan Sesshomaru untuk dirinya tiba-tiba hatinya merasa bersalah dan kasihan. Ia tidak ingin menyakiti suaminya lagi setelah apa yang suaminya itu lakukan untuknya.
"Ada yang mengikuti kita Kagome." Geraman bernada amarah terlontar dari bibirnya.
"Sesshomaru…" Gumamnya.
"Kita akan mati bersama, Kagome." Inuyasha sangat terluka dan hatinya hancur mengetahui kenyataan bahwa gadis itu sudah tidak mencintainya lagi seperti dulu.
"KAGOME!" Sesshomaru meneriakan nama istrinya saat melihat mobil sport itu sudah terjun bebas ke dalam sungai.
To Be Continue …
Maafkan author yg tetiba kehilangan mood nulis karna suatu hal *I'm just only human* but i never forget this fic really. Sejujurnya nulis ini sambil berurai air mata and that's really sad *wiped tears*. Penasaran gak sama endingnya? Hmm endingnya akan aku buat kalian menangis terhura xD Thanks so much my dearest reader for your review and I'm already know the answer xixii~ it almost complete. Please wait a little longer kay! Hope you guys enjoy and still with me ^^,
