.
.
Lilium
Secretum
- Rahasia -
:: Nakazawa Ayumu ::
.
.
.
"Jadi.. kau yakin kita harus memeriksanya? Semua.. ini?!" tanya Henry tak percaya pada tumpukan-tumpukan dokumen tebal yang dibawa Sungmin ke atas mejanya. Pemuda manis itu menaikkan bahu dan segera mengambil tempat duduk lulu mengambil dokumen dari tumpukan teratas dan mulai membacanya dengan teliti. Henry terhenyak.
"Untuk apa?" tanya Kibum kalem.
"Kita diminta memeriksa berkas para kriminal yang sampai saat ini belum berhasil ditangkap," jawab Sungmin sekenanya dan secara tiba-tiba menarik Eunhyuk yang baru saja melewati mereka bertiga, "Hei!" protes pemuda yang terkenal dengan gummy smile miliknya.
"Bagaimana proses interogasinya?" tanya Sungmin. Eunhyuk menghela nafas dan memajukan bibirnya, "Menginterogasi seseorang yang tidak tau apa-apa dan tidak mendapatkan apa-apa itu melelahkan," jawabnya lalu kembali kembali menghela nafas beras.
"Bagaimana denganmu? Untuk apa semua berkas dokumen ini?" Eunhyuk balik bertanya dan memberikan pandangan horor yang sama seperti Henry pada tumpukan-tumpukan itu.
"Korban kali ini adalah perampok bank, dan… korban pada kasus dua hari yang lalu adalah seorang pengguna narkoba. Kau tau artinya kan?" jawab sekaligus tanya Sungmin. Eunhyuk mengeryit menyadari sesuatu "Benar begitu? Jadi.. semua korban itu para pen-.."
"Ini kopinya!" tegur Ryeowook halus seraya menaruh nampan berisi empat gelas kopi panas. Pemuda itu terheran melihat keberadaan Eunhyuk yang menyengir ke arahnya. Ryeowook memutar matanya malas. Diacuhkannya pemuda Lee itu dan segera televisi layar datar di pojok ruangan tempat mereka berkumpul.
-Pagi dini hari ini (04/12) telah ditemukan mayat seorang pria yang dibunuh secara brutal. Seeorang wanita muda yang bekerja sebagai karyawan minimarket menemukan pria yang telah merengang nyawa di sebuah gedung tua tak terpakai yang akan dihancurkan di pinggiran Kota Seoul. Yoon Hye (20), wanita yang menemukan mayat pria itu mengakui bahwa dirinya mencium bau amis dan jejak percik darah dari dalam dan menuju gedung tak terpakai saat hendak pergi berangkat kerja untuk shift pagi harinya. Mayat yang diperkirakan telah dibunuh sejak semalam ditemukan sudah dalam keadaan yang mengenaskan dengan tubuh yang termutilasi dan kepala hancur. potongan lengan mayat ini ditemukan di Gereja dekat TKP. Hingga saat ini masih belum diketahui pembunuhnya maupun identitas pria malang tersebut. Polisi mengatakan bahwa pembunuhan ini akan segera dituntaskan dan diselesaikan langsung oleh Kepala Kepolisian bersama anggota bawahannya…
"Sudah masuk berita…" pasang mata kelima orang tak lepas memandang seorang wanita cantik yang tengah menyiarkan berita pagi di televisi. "Mereka belum tau kalau kita sudah tau siapa si korban," kata Henry menimpali. Berita itu menampilkan rekaman tempat kejadian perkara dan foto-foto korban yang disensor. Lalu layar berganti dengan rekaman mengenai wanita yang menjadi saksi mata. Seseorang yang Eunhyuk interogasi.
-Berita selanjutnya… seorang wanita muda ditemukan meninggal kemarin malam (03/12) di dalam kamarnya. Mayat gadis ini ditemukan oleh kedua orang tuanya yang baru saja selesai bekerja dengan keadaan tak bernyawa dan mulut berbusa. Diduga gadis malang ini memutuskan bunuh diri dengan meminum racun karena kejiwaannya terganggu. Diketahui, belum lama ini gadis malang itu menjadi korban pemerkosaan yang akhir-akhir ini marak terjadi. Orang tua korban sangat menyesali kepergian putri kedua mereka. Tindakan bunuh diri remaja se-..-
'Pip!'
Sungmin mematikan televisi itu dan segera mendapatkan tatapan protes pada Ryeowook, "Hyung! Kok dimatikan!" ujar Ryeowook yang segera mendapat sentilan ringan di keningnya. "Kau tau kita punya tugas bukan? Dokumen ini masih banyak loh.."jawab Sungmin seraya tersenyum. Ryeowook tak lagi membantah, ia tau sungmin adalah seorang pekerja keras yang tidak akan menunda-nunda pekerjaan, jadi dia segera mengambil dokumen lama itu dan menyelesaikan tugasnya.
"Tapi kupikir… bagus juga ya kalau memang korbannya para penjahat. Anggap saja hukuman mati," Eunhyuk berkata tiba-tiba. Sungmin mengeryit pada apa yang sahabatnya ucapkan. Henry memutuskan berhenti dari kegiatan membacanya dan mengambil segelas kopi miliknya, "Yah… selama yang dikejar adalah orang-orang jahat, kurasa tindakan si pembunuh tidak buruk juga," ucapnya seraya menyesap kopi.
"Para penjahat itu memang pantas dibunuh…"
Kibum memegang erat tempat file dokumen di tangannya keras. Wajahnya terlihat pucat namun pancaran matanya memandang dalam amarah yang mendalam. "Tidak pantas mereka hidup," lanjutnya lagi kemudian mendengus keras dan mulai melanjutkan tugasnya. Ryeowook memperhatikannya dalam diam, pemuda kecil itu pun membenarkan perkataan yang lainnya. Dia seorang polisi dan tugas polisi adalah menangkap penjahat, menangkap semua yang bertindak kejahatan. Ryeowook terdiam lalu tersenyum tipis. Mungkin… mungkin memang para penjahat itu pantas mati.
.
.
.
'Srat!'
Pria itu dengan cepat menarik pisaunya keluar dari tubuh korban. Diambilnya dompet milik korban lalu bergegas pergi, mendorong tubuh tak bernyawa itu kasar dan menendangnya ke tepi jalan. "Dasar orang kaya," dengus pria itu lalu tersenyum melihat dompet yang baru saja ia curi dari pemiliknya. Dompet kulit cokelat itu ternyata menyimpan begini banyak uang. Ah.. dengan ini, ia akan memiliki uang untuk ditaruhkan dalam judi bersama teman-temannya.
"Orang kaya memang berbe- hmmp!"
Seseorang menyekap mulut pria itu dan menariknya kasar ke arah gang kecil kumuh. Pria itu berontak dan berhasil mendorong jauh seseorang yang menyekapnya, "Dasar brengsek!" pria itu menerjang pemuda yang terlihat lebih muda darinya itu dan memukul rahangnya keras. Tak puas ia menendang perut pemuda itu dengan lututnya tak kalah keras. Pemuda itu goyah dan tersentak ke belakang. Pria itu mengambil pisau yang baru saja ia gunakan, dan berlari menyerang. Namun, tangannya dicekal erat si pemuda.
'Buaak!' satu pukulan pemuda itu lancaran. Pria besar itu terdorong ke belakang. Menyempatkan detik itu, si pemuda mengambil potongan kayu di samping tempat sampah. 'BUAK! BUAK! BUAKK!' dipukulnya kepala pria itu hingga tersengkur. Pemuda itu mendengus dan membalik sisi potongan kayu itu dengan sisi yang buh dengan paku berkarat.
'DUUAAAKK!'
"ARRRGGHH!"
Dengan gemetar pria itu memangi sisi kepalanya. Darah segar menagalir dan merembes keluar dari kulitnya yang berlubang. "AAARRGGH! AAARRH!" pria itu berteriak melihat darahnya, dan menyadari betapa sakitnya kepalanya. Ia menatap nyalang pemuda di hadapannya. "Dasar sialan!" teriaknya. Ia baru saja ingin menerjang namun pemuda itu lebih cepat dan memukul lengannya keras.
"AAARRRGGHH!" Pria itu berteriak keras saat sisi paku pada kayu yang memukulnya itu menusuk lengannya. Dan ia kembali berteriak saat si pemuda dengan sengaja menarik kayu itu kasar, membuat paku itu merobek daging pada lengannya.
'DUAKK!' Ditendangnya pria itu hingga tergeletak di atas tanah yang digenangi air. 'BUAGH! BUAGH!' dipukulnya kayu itu di kedua kaki si pria. Pemuda itu tersenyum puas saat tak lagi ada anggota gerak pria itu yang bisa berfungsi dengan baik. "Kumohon.. kumohon.. lepaskan aku…" hampir tersedak pria itu memohon.
"Kau pencuri… Kau penjahat.."
"A..Aku akan me..mengembalikan.. uang I..ini.. tolong, ja..jangan bunuh aku,"
"Kau.. pendosa.." lirih pemuda itu seraya memandang jijik pada pria yang tengah merengek dibawah kakinya. 'BUAGGHH! BUAAGGHH!' pukulan bertubi-tubi kembali pemuda itu lancarkan pada muka pria itu, terus menerus ia pukulkan kayu itu, meyakinkan bahwa dirinya telah berhasil mematahkan hidung dan merontokkan gigi-gigi si pria hingga dia tidak lagi bisa berbicara. Dan dalam gelapnya malam di gang kecil itu, ia tertawa. Tertawa keras seperti orang gila. Ah.. ia tidak peduli, karena pemuda itu tidak pernah menganggap seperti itu. Ia tidak sakit dan jiwanya sehat. Dia melakukan ini semua karena rasa cinta kepada'nya'.
Diambilnya pisau milik si pria. "Mintalah ampunan pada Tuhan," lirihnya. Pemuda itu terkekeh kecil saat membuang potongan kayu itu dan menggantinya dengan pisau. Didudukkannya dirinya di atas tubuh si pria. "Kau pantas mati, brengsek," ucapnya dan segera melaksanakan kegiatan barunya. Kegiatan yang menurutnya lebih menyenangkan. Pemuda itu menulikan diri dari teriakan-teriakan yang menggema di gang sempit itu. Ia tidak peduli pada apapun selain tubuh tak berdaya dibawahnya. Ia bukan seniman, tapi ia berusaha agar hasil karyanya terlihat bagus di mata Tuhan, di mata 'dia'. Bibirnya menyeringai lebar dan tangannya bergerak cepat mengoyak tubuh itu . cepat dan semakin dalam. Sedikit lagi.. sedikit lagi.. darah segar mengucur daras dari potongan-potongan lengan si korban. Dan pria itu tak lagi bernyawa.
"Semoga Tuhan mau mengampunimu..,"
.
.
.
Dua matanya tertutup, dan telapak tangannya mengamit bersama seraya bibirnya memanjatkan doa. Ia tersenyum tanpa terganggu oleh bau amis darah dari potongan lengan di depan meja tempatnya memuji Tuhan. Ia lalu berdiri, bersiap pergi saat seseorang masuk dan menghampirinya. Sosok pemuda jangkung yang wajahnya tak begitu terlihat karena sinar lampu yang temaram di dalam Gereja.
"Kau melakukannya lagi, Dear.."
"…."
Pemuda jangkung itu mengambil sapu tangan di salah satu kantung celana hitam kainnya. Dan mendekati si pemuda lainnya dan membersihkan bibirnya yang terobek. "Kau pasti berkelahi..," katanya lagi. Ia tau bahwa pemuda yang ia panggil 'Dear' ini pasti diserang oleh korban yang mencoba melepaskan diri. Tapi tetap saja, hatinya bergemuruh karena amarah. Berani sekali memukul wajah kekasihnya seperti ini.
"Zhoumi.. baik sekali, ya?" pemuda itu tersenyum pada pria yang menjadi anggota polisi itu.
Zhoumi menghela nafas berat. "Bukan masalah baik atau tidak, Dear.. anggota kepolisian sibuk mencarimu. Kau tau itu.. kalau sosokmu diketahui, kau akan berakhir." Ujarnya seraya menyibukan diri dengan membersihkan tangan pemuda itu yang kotor terkena darah. Zhoumi berfikir bahwa pemuda ini sama sekali tidak cocok dengan darah seperti ini. Apalagi ini darah para pendosa itu.. benar-benar menjijikan..
Pemuda yang dipanggil Dear itu tersenyum manis, "Kau tidak akan membiarkan mereka menangkapku, lagi pula.. kalaupun mereka berhasil menangkapku-.." pemuda itu mengusap sisi wajah Zhoumi dengan lembut, "..-Kau akan membantuku, bukan?" lanjutnya lagi dengan rasa kepercayaan diri yang tinggi, membuat Zhoumi sedikit menelan ludah.
"kau mencintaiku, kan? Benar, kan?" tanya pemuda itu meyakinkan.
"…."
Zhoumi terdiam dan menunduk. Tidak mendapat jawaban yang diinginkan, pemuda itu kembali bertanya, "Atau Kau tidak-.."
Pemuda jangkung itu tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Zhoumi memutuskan untuk mengunci bibirnya dengan ciuman dalam yang begitu menuntut. Zhoumi juga memeluknya erat dan mengecup bahu si pemuda. "Tidak. Aku tidak akan pernah.. tidak akan pernah meninggalkanmu…"
"…"
"Aku mencintaimu, Dear.."
Belah bibir pemuda itu tidak membentuk senyum sedikitpun dan membiarkan Zhoumi terus memeluknya. "Ya.. Aku juga menyukaimu, Zhoumi-ah.."
.
.
.
To be continued
.
.
A/N: Aku minta maaf untuk keterlambatan Update, typo (s) yang menyebar dan review-review yang tidak bisa saya balaskan saat ini. laptopku rusak dan aku curi-curi kesempatan untuk meminjam Laptop Mama. Aku harap 'Lilium' masih ada pembacanya. aku suka kritik-kritik kalian di dalam review. terima kasih untuk semuanya!
oh iya, kali ini Saya akan benar-benar HIATUS. Ujian Nasional, SNMPTN, Ujian Tulis Bersama, Ujian Mandiri dan lain-lain.. aku akan memfokuskan diri untuk hal itu dulu. jadi aku mohon pengertiannya. tapi pasti kulanjutkan kok! Saya minta maaf jika ada salah-salah berucap, juga Saya mohon doanya agar diperlancar di semua ujian saya dan mendapat nilai-nilai yang baik. Amin! Bagi Kalian yang sama seperti saya, ayo Kita berjuang! semangat!
Salam semua! RnR, Onegai?
