Be With You
CHENMIN Couple—Chen & Xiumin
Kim Jongdae || Kim Minseok
Romance
Acara makan malam di rumah keluarga Kim Jon Won berjalan dengan lancar. Terlihat dari kedua keluarga itu saling berbaur satu sama selain—termasuk Minseok dan Jongdae yang—terpaksa mengikuti apa yang dibicarakan dan bahkan tak jarang para orangtua mereka menanyakan bagaimana mereka di kampus dan itu dijawab oleh Jongdae dengan sangat manis—kalau mereka saling berteman baik jika di kampus dan tak lupa pula sebuah senyumannya yang membuat kedua keluarga itu membenarkan ucapan Jongdae tanpa tahu dari sebalik senyum itu yang hanya Minseok ketahui—membuat Minseok mual bukan main dengan acting Jongdae dihadapan keluarga mereka.
Saat kedua keluarga itu masih berbicara dengan bisnis. Karena Ayah Minseok dan Ayah Jongdae baru saja menjalin hubungan kerja sama untuk saling mendukung perusahaan masing-masing. Dan Minseok kini berada di kolam berenang di dekat taman belakang rumahnya dengan alasan ingin mengerjakan tugas—tapi diam-diam memutar arah ke taman belakang tanpa sepengetahuan siapapun.
Gadis itu melepaskan high heel nya lalu mencelupkan kakinya ke dalam kolam renang yang begitu dingin karena suhu udara malam itu sangat dingin walaupun tidak sampai dibawah minus derajat. Pikirannya tergiang-giang tentang kejadian makan malam barusan dimana Jongdae bertingkah layaknya tidak ada terjadi apa-apa diantara mereka. Kalau dipikir-pikir juga, Minseok sempat heran kenapa Jongdae begitu tidak menyukainya sekarang, padahal dulu dia tidak pernah berbuat salah sehingga Jongdae membencinya sekarang ini—menatapnya layaknya musuh. Kalau Jongdae tidak menyukai sikapnya seperti orang bar-bar. Oke, Minseok mungkin bisa terima dan akan berusaha menghilangkan sikapnya itu tapi di dalam pikiran Minseok pasti ada alasan lain kenapa Jongdae sekarang tidak menyukainya.
Sedang asyik dalam pikirannya. Tiba-tiba saja Kim Myungsoo—adiknya Minseok menghampirinya.
PUK
Myungsoo menepuk bahu Minseok membuat sang kakak menoleh ke arahnya menatap sang adik was-was, takut jika adiknya itu berlari ke dalam rumah dan memberitahu keberadaannya pada Ibunya. Sudah pasti dia akan diomeli habis-habisan oleh Ibunya nanti. Minseok sudah sangat hapal diluar kepala bagaimana tabiat sang adik yang sangat jahil—walaupun lebih sangat-sangat jahilnya dia.
"Ada apa?" tanya Minseok.
Bukannya menjawab, Myungsoo sudah duduk bersila disampingnya tanpa mengikuti kegiatan sang kakak mencelupkan ke air. Myungsoo berdecak sebal menatap ke arah kakaknya yang menatapnya datar.
"Bisa tidak noona bertanya dengan wajah manis padaku?" Myungsoo mengerucut bibirnya lucu—membuat Minseok gemas bukan main ingin mencubit pipi adiknya.
"Maafkan adikku sayang, ada apa, hmm?" tanya Minseok kembali kali ini dengan nada dibuat-buat manis sekali, "Puas kau?" tatapannya kembali datar membuat bocah 13 tahun itu yang tadi ingin mengejek kakaknya kini berdecih sebal.
"Pantas saja tidak ada laki-laki yang mau denganmu karena kau galak." Timpal Myungsoo membuat Minseok menatap tajam ke arahnya. Bukannya takut, Myungsoo hanya mengidikkan bahunya.
"Ck! Tahu apa kau soal urusan noona, huh. Kencing saja belum lurus malah sok mengatai orang."
"Ck! Asal noona tahu saja, biar kencing ku belum lurus tapi aku sudah punya pacar." Myungsoo berdiri dari posisinya siap-siap ingin kabur dari sang kakak ketika dia mengungkapkan jati dirinya pada sang kakak yang mengerjap-ngerjap polos menatapnya. "Memangnya noona sampai sekarang masih single, dasar nenek lampir." Myungsoo memeletkan lidahnya membuat Minseok bergegas bangkit untuk mengejar adiknya yang sudah menyelamatkan dirinya masuk ke dalam rumah dengan tawa meledak.
"YAK! KIM MYUNGSOO JANGAN LARI KAU… YAK!"
Dada Minseok naik-turun dibuatnya melihat kelakuan sang adik yang memang selalu memancing emosinya.
"Dasar bocah ingusan. Kencing saja belum lurus sudah pacaran dan berani mengatai orang tua. Awas kau nanti." Gerutu Minseok yang kembali duduk di tempatnya semula berusaha menenangkan kembali pikirannya dan juga emosinya.
Tanpa ia sadari, Jongdae yang sedaritadi melihat kejadian kedua kakak-beradik itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil kini berjalan menghampiri Minseok.
"Langit malam ini sangat indah sekali," ucap Jongdae menatap langit yang membuat Minseok menoleh ke samping dimana ada Jongdae berdiri dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana bahannya.
Minseok berdecak sebal. Kenapa kegiatan ingin menyendirinya selalu saja diganggu oleh orang-orang yang membuat emosinya meledak. Tadi ibunya, adiknya dan sekarang Jongdae. Minseok ingin sekali pergi dari situ tapi tiba-tiba saja Jongdae sudah duduk di tempat Myungsoo tadi.
"Kenapa kau duduk disini?" tanya Jongdae lembut berbeda dari biasanya.
Minseok menaikkan satu alisnya mendengarkan pertanyaan Jongdae barusan yang terdengar lembut—atau telinganya yang bermasalah. Tidak biasa Jongdae bertanya dengan nada selembut ini setelah enam tahun lamanya saat mereka masih berstatus pacaran. Catat itu! saat masih berstatus pacaran.
"Bukan urusanmu." Sahut Minseok kini mengayun-ayunkan kakinya di dalam air. Dan hal itu tak luput dari pandangan Jongdae.
Suasana keduanya menjadi canggung seketika. Jongdae menghela napasnya karena tidak tahu harus berkata apalagi—kalau di lihat-lihat gadis itu sedang kesal dengannya dan baru saja adiknya semakin meningkatkan kadar level kekesalannya.
"Kau masih marah denganku?" tanya Jongdae.
Minseok menyeringai menatap Jongdae yang menatapnya dengan tatapan sulit terbaca olehnya. Tumben sekali laki-laki di sampingnya itu bertanya hal yang ingin ia ungkapkan padanya jika mereka bertemu. Dan juga, melihat malam ini sikap Jongdae sangat aneh menurutnya—berbeda dari biasanya yang selalu sakartis dan menatapnya tidak suka.
Marah? Tentu saja aku marah padamu, batin Minseok kembali mengalihkan pandangannya.
Ia tidak ingin terperangkap di dalam tatapan Jongdae yang membuatnya sulit kembali ke dunianya. Karena tatapan Jongdae selalu membuatnya tenggelam ke dalam pesona laki-laki berbulu mata unta itu.
"Sepertinya maid ku salah memasukkan racikan bumbu ke dalam makan malam." Minseok berkata dengan nada meledek bagi Jongdae. Memang benar, Minseok seolah meledek sikapnya malam ini. Jongdae tahu itu—tapi ia berusaha menahannya.
"Aku serius." ucap Jongdae berusaha bersabar.
"Aku juga serius."
Jongdae menghela napasnya lalu kembali menatap langit malam yang kini berubah sangat kelam baginya.
"Kurasa kau harus melakukan retorisasi dirimu."
Minseok seketika menatap tajam ke arah Jongdae yang baru saja seperti tidak terima dengan dirinya. Minseok benci ini, tadi baik dan tiba-tiba saja Jongdae berubah menjadi sangat menyebalkan dengan mulut sakartisnya.
"Ck! Ini hidupku. Kenapa kau yang mengatur kehidupanku. Seharusnya kau yang harus melakukan retorisasi pada dirimu biar otak dan mulutmu itu bisa konsisten dan tidak seenaknya mengatai orang."
Kini Jongdae yang berdecak sebal menatap Minseok yang berhasil membalikkan kata-katanya barusan. Inilah yang sering terjadi pada mereka berdua, selalu beradu mulut mulai dari hal sepele yang bisa membuat mereka diam-diaman beberapa hari—karena tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Padahal kalau di lihat-lihat mereka itu adalah pasangan yang unik jika mereka saling mengerti satu sama lain.
Di lihat dari tatapan khawatir Jongdae dulu saat mereka masih mahasiswa baru saat mengikuti SOCAVOIR yang diadakan oleh jurusan mereka untuk mempererat hubungan sesama angkatan dan senior di kawasan resort yang berada di Busan. Waktu itu Minseok yang mendapat giliran masuk ke dalam hutan untuk mengambil beberapa bendera di pohon-pohon pada malam hari membuat Jongdae tidak tenang di tempat duduknya yang sedang menunggu giliran. Dia tahu, Minseok—biarpun bersikap beringas dan brutal tapi tetap mempunyai kelemahan juga. Minseok takut gelap ditempat sendirian walaupun ia membawa obor ditangannya. Dengan alasan ingin ke kamar mandi, Jongdae memutar ke arah samping berusaha menghindari senior-senior dan teman-temannya untuk menyusul Minseok di dalam hutan.
Maka dari itu saat melihat Minseok pamit ingin ke kamar dengan alasan mengerjakan tugas. Jongdae tahu kalau itu hanya alasan Minseok saja karena mereka di semester ini hanya beda satu kelas saja dan itu Jongdae yang sebagai asisten dosennya dan dia belum memberi tugas sama sekali pada kelasnya itu. Lalu melihat Myungsoo—adiknya Minseok berlari ke taman belakang membuat Jongdae juga ingin mencari ketenangan disana daripada mendengarkan perbincangan orangtua mereka yang membuatnya terlihat bodoh dan pusing. Dan saat melihat Minseok sendiri di kolam renang itulah membuatnya tadi bertanya kenapa gadis itu duduk sendirian di luar di tempat yang hanya di terangi oleh beberapa lampu saja. Tapi gadis itu malah terlihat tidak suka dengan kehadirannya. Jongdae tahu, Minseok pasti sangat marah padanya—atau mungkin membencinya. Sebenarnya pantas saja kalau gadis itu membencinya karena sikapnya yang terlihat seperti orang jahat. Tapi dia punya alasan di sebalik sikap dinginnya terhadap gadis itu dan selalu berkata sakartis. Hanya Jongdae yang tahu—dan sekarang ia harus bersabar karena ia juga terikat dengan sebuah hubungan dengan seorang gadis bernama—Kim Haneul yang merupakan junior nya yang sudah ia pacari selama dua bulan. Sebut saja Kim Jongdae seorang pengecut saat ini yang berusaha memakai topeng walaupun sebenarnya ia sangat peduli pada Minseok dan selalu memperhatikan semua tingkah lakunya selama ini tanpa sepengetahuan gadis itu. Minseok takut gelap dalam kesendirian. Jongdae selalu mengingat itu di dalam benaknya, menyimpan memori lama tentang Minseok di dalam benaknya. Namun tak menutup kemungkinan, kalau ini rumahnya Minseok tapi Jongdae tahu kalau gadis itu takut berada di tempat gelap sendirian. Karena Minseok pernah memberitahunya dulu.
Jongdae menyeringai, kembali ke dalam devil mode nya dan menatap Minseok yang kini juga menatapnya dengan sengit seolah bisa membunuh laki-laki itu dengan matanya. Andai saja itu terjadi, mungkin Jongdae sekarang sudah terkapar bersimbah darah dihadapannya sekarang. Tapi itu semua hanya 'andai' dan itu tidak akan pernah terjadi.
"Ck! Kenapa setiap kali berbicara denganmu telingaku sakit," Jongdae menekan-nekan telinganya seolah benar-benar sakit, padahal itu tidak sama sekali. Ia berusaha membuat gadis itu kembali marah padanya.
"Kau sendiri yang memancing emosiku, Kim Jongdae-ssi." Timpal Minseok selalu menyahuti perkataan Jongdae. "Pintu keluar ada di sebelah sana," Minseok menuju ke arah barat dimana pintu masuk rumahnya berada.
"Tanpa kau memberitahu aku sudah tahu, bodoh." Jongdae sudah berjalan meninggalkan Minseok yang ingin saja melemparinya dengan high heel nya tapi laki-laki itu sudah berbalik menatapnya dengan seringai yang selalu membuat Minseok sulit menebak kelakuan Jongdae. "Hati-hati ada yang duduk di sampingmu." Setelah mengatakannya, Jongdae langsung bergegas pergi masuk ke dalam rumah Minseok tanpa tahu kalau Minseok melototkan matanya, lalu menatap sekeliling kolam renang yang terlihat remang-remang. Gadis itu pun langsung berlari luntang-lantung menyusul Jongdae ke dalam rumahnya dengan umpatan-umpatan yang ia tujukan untuk Jongdae.
Be With You
"Jadi semalam itu Jongdae dan keluarganya datang ke rumahmu karena undangan makan malam dari Ayahmu." Luhan berkata histeris setelah Minseok menceritakan semua kejadian tadi malam pada Luhan. Minseok mengangguk dengan wajah memelas.
"Ku kira kedatangan keluarga Jongdae mau menjodohkan kalian berdua." Goda Luhan membuat Minseok menatapnya horror seketika.
"NO! LUHAN NO!" sahut Minseok mendramatisir, Luhan masih tertawa lucu melihat ekspersi Minseok yang menurutnya menggemaskan, "Itu tidak akan pernah terjadi, Lu. Aku tidak ingin dijodohkan apalagi berjodoh dengan laki-laki menyebalkan sepertinya." Sambung Minseok kali ini meletakkan kepalanya di atas meja. Saat itu kedua gadis itu sedang berada di kafetaria kampus menunggu kelas yang sekitar setengah jam lagi akan masuk.
"Tapi kalian dulu pernah pacaran." ucap Luhan—membuat Minseok memutar bola matanya malas mendengar ocehan Luhan yang sebentar lagi pasti mengungkit masa lalunya bersama Jongdae.
"Itu hanya masa lalu yang harus aku lupakan, Lu." Minseok masih dengan kepala di atas meja—tapi tangannya sibuk dengan ponselnya untuk melihat pesan-pesan masuk di LINE nya.
Luhan mengerti bagaimana Minseok yang benar-benar ingin melupakan Jongdae dari kehidupannya. Tapi itu sangat sulit bagi Luhan karena mereka sama-sama di ruang lingkup yang sama.
"Min, bagaimana kau ku dekatkan dengan teman-teman Sehun." Sebuah ide tiba-tiba saja terlintas di benak Luhan yang ingin sekali membantu sahabatnya itu untuk melupakan masa lalunya—melihat Jongdae sudah memiliki kekasih dan kini saatnya Minseok harus mencari pengganti Jongdae di kehidupannya agar sahabatnya itu tidak larut dalam kesedihan masa lalunya.
Minseok menegakkan kepalanya seketika mendengar ide Luhan barusan. Gadis bermata rusa itu tersenyum bahagia melihat Minseok sepertinya tertarik dengan rencananya.
"Apa kau yakin?" Luhan mengangguk, "Tapi aku sendiri tidak yakin, Lu." ucap Minseok dengan wajah memelas dan kembali meletakkan kepalanya di atas meja sembari menghela napas.
Luhan berdecak sebal lalu terdengar sebuah rintihan dari bibir Minseok—karena Luhan baru saja melayangkan sumpit di atas kepala Minseok. Membuat gadis berpipi bakpao itu meringis kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya.
"Sakit, bodoh." Gerutu Minseok dan Luhan mengidik bahunya acuh—tidak peduli dengan gerutuan Minseok karena merasa kesal dengan sikap pesimis sahabatnya itu. Luhan menyeruput bubble tea nya dengan tatapan gusar lalu menelusuri seluruh sudut kantin hingga mata rusanya melihat Jongdae dengan seorang gadis itu yang hanya berjarak tiga meja dari tempat mereka.
"Min, kau lihat ke arah jarum jam tiga." ucap Luhan ala detektif seolah sedang memecahkan misi besar dan itu membuat Minseok memutar bola matanya malas—tapi ia tetap mengikuti arahan sahabat mata rusanya itu ke arah yang di katakannya karena penasaran.
Luhan tahu bahwa Minseok kini sedang terbakar api cemburu ketika bagaimana melihat Jongdae yang begitu perhatian pada kekasihnya. Tanpa sepengetahuan Minseok, Luhan tersenyum jahil penuh kemenangan karena berhasil membuat Minseok cemburu dengan menyuruhnya melihat Jongdae bersama kekasihnya. Dia sudah menebak detik berikutnya Minseok akan menyetujui idenya.
Tak lama kemudian apa yang dipikirkan oleh Luhan rupanya terjadi. Minseok menatapnya dengan tatapan api cemburu lalu menunggu detik berikutnya yang sudah terbayang di benak gadis bermata rusa itu.
"Lu, bantu aku untuk melupakannya."
Luhan berteriak dalam hati bagaimana Minseok menyetujui idenya tadi dan dengan senyum manis yang di buat-buat ia menatap Minseok dengan berbinar.
"Tentu saja, Minnie." Sahutnya yang kemudian mengirim pesan untuk Sehun agar membantunya untuk mengenalkan Minseok dengan teman-teman kekasihnya itu yang berbeda fakultas dengan mereka.
Be With You
Minseok memandang layar ponselnya dengan malas begitu ada beberapa orang laki-laki yang sudah pasti teman-teman Sehun yang mengiriminya pesan di LINE berupa awalnya hanya berkenalan hingga tahap ingin mengajaknya berkencan. Minseok bukannya tidak mau menerima ajakan mereka, hanya saja ia belum siap sama sekali untuk menjalin hubungan serius dengan seorang laki-laki. Dan ia menyesali keputusannya tadi siang menerima ide gila Luhan yang mengenalkannya dengan teman-teman Sehun dalam kasus; untuk melupakan Jongdae.
Tiba-tiba sebuah LINE dari bernama Kim Suho mengiriminya pesan. Minseok awalnya tidak tertarik sama sekali—tapi setelah melihat display photo nya membuat Minseok sedikit tertarik, hanya sedikit—tidak lebih, lalu membalas pesan LINE laki-laki bernama Kim Suho itu sambil memikirkan kata-kata yang baik dan sopan melihat pesan yang dikirim kan oleh Suho sangat sopan dan baik. Minseok bisa menebak kalau laki-laki bernama Kim Suho ini anak yang baik di lihat dari fotonya yang hanya tersenyum di depan kamera tanpa ada unsur berlebihan; kata lain anak alay—anak layangan. Bukan, pokoknya unsur berlebihan yang digunakan anak-anak muda jaman sekarang biar dikatakan gaul padahal itu seperti orang primitf bagi Minseok yang tidak terlalu suka mengikuti tren masa kini secara berlebihan.
Kim Xiumin :
Hobi ku berpetualang. Kau tidak keberatan?
Kim Suho :
Tidak masalah bagiku, berarti kau gadis yang mandiri dan juga tangguh.
Kim Xiumin :
Terima kasih, tapi apa yang kau lakukan di akhir pekan nanti?
Kim Suho :
Pergi bermain golf.
Minseok sedikit membulatkan bibirnya membaca pesan balasan Suho. Pergi bermain golf. Sepertinya dia dari keluarga kalangan atas, yang sudah Minseok yakini pasti banyak gadis yang mengincarnya. Tapi tiba-tiba saja Minseok kehilangan kata-kata untuk membalas kembali pesan Suho—hingga akhirnya Suho kembali mengiriminya pesan.
Kim Suho :
Hey, kenapa di read saja.
Kim Xiumin :
Eung… maaf tadi ada adikku dikamar. Wah, pasti akhir pekanmu sangat menyenangkan sekali.
Kim Suho :
Tentu saja, itu sudah seperti rutinitasku setiap akhir pesan.
Kali ini Minseok mempunyai pikiran selain dari kalangan atas, Suho juga seperti memarkan kekayaan orangtua dan kegiatannya yang sangat terlihat keren di kalangan menengah maupun bawah, lalu dengan besar hati ia tidak membalas pesan Suho dan detik betikutnya adalah…
Kim Suho : blocked
Itu lah yang terjadi selanjutnya. Suho termasuk ke dalam daftar list yang telah dicoret dan di block oleh Minseok semenjak tadi sore hingga malam ini—karena baginya sangat susah menemukan seseorang yang benar-benar menerima dirinya apa adanya tanpa memandangnya dari segi material dan non-material. Minseok melempar ponselnya di samping tubuhnya—lalu menghela napas sambil menatap langit-langit kamarnya.
Sosok Jongdae sangat susah baginya untuk di lupakan karena mereka masih berada di ruang lingkup yang sama dan selama ini hanya Jongdae yang bisa menerima gadis itu apa adanya—walaupun pada akhirnya Jongdae menyerah dengan tingkah lakunya yang semakin seperti kaum bar-bar yang tidak memiliki tata krama—karena apa; karena Minseok pernah merasa kecewa dengan Jongdae yang dulu tidak mengakui dirinya sebagai pacarnya saat Jongdae berkumpul bersama teman-temannya dulu sewaktu Sekolah Menengah Pertama dan mengatakan dia hanya kasihan pada Minseok bukan karena Jongdae mencintainya. Maka dari itulah Minseok menjadi bertambah brutal dan beringas hingga akhirnya mereka sama-sama mengakhiri hubungan mereka.
TBC
1 November 2016
Yahoooo... gue kembali lagi dengan kelanjutan chapternya. Gue mau ngucapin, especially buat para reader yang udah mau baca cerita abal-abal gue ini walaupun gue tau kalau fanfic CHENMIN jarang dijabah oleh pembaca yang kebanyakan lebih suka sama couple lain U.U tapi gue sebagai CHANBAEK dan CHENMIN SHIPPERS ikut serta ingin memperbanyak cerita CHENMIN bersama author lain yang telah berjuang. Semoga cerita couple CHENMIN tidak kalah menariknya dengan cerita couple lain.
Makin rumit nggak masalah mereka? Belum kek nya ya hihihihi masih sengaja kok. Ntar tunggu aja konflik yang benar-benar bikin reader kesal setengah mampus sama CHENMIN couple. Tapi tunggu chapter selanjutnya ya.
Dan juga, gue turut sangat-sangat dan sangat bahagia setelah debutnya sub-unit CHENBAEKXI yang menurut gue mereka cocok jadi grup komedi /digampar/ Tapi sumpah gue juga ngakak liat MV nya tapi seru. Oke, gue nggak bakal panjang lebar lagi, cukup sekian dan tetap dukung CHENMIN dan couple lain serta OT9 ya.
So, don't forget your review and thank you so much.
Retorisasi : Perubahan mental dalam arti kata politik.
SOCAVOIR : Social Camp Vacation Of International Relation, atau bisa di bilang KMB (Kemah Bakti Mahasiswa) yang merupakan kegiatan tahunan untuk mahasiswa baru. Setiap tahun tema nya berbeda-beda kalau di kampus jurusan gue. Tapi gue nggak tahu kalau jurusan HI di kampus lain kayak gimana.
Chen (첸), Baekhyun (백현) & Xiumin (시우민) of EXO - For You (너를 위해)
EXO-CBX (CHENBAEKXI) - Cherish
GFriend - TRUTH
