Disclaimer : Masashi Khishimoto
Author : temenoai
"Aku jarang melihat kak Sasori." Naruto mengaduk ramennya. "Ke mana dia belakangan ini?" dengan sekali gerakan, Naruto sudah memasukan gulungan mie ramen ke dalam mulutnya.
"Kenapa kau tanya soal orang itu?" Sakura yang sedang menikmati es krim coklatnya pun menatap Naruto bingung.
Suasana kantin sekolah yang ramai membuat kedua manusia dengan surai berbeda warna itu nampak begitu mencolok. Beberapa orang yang melintas nampak berbisik-bisik ria sambil menutup sebelah wajah mereka—entah apa yang mereka sembunyikan dari Naruto dan Sakura. Yang pasti keduanya tidak peduli akan hal itu.
"Kak Sasori jarang datang ke toko." Naruto kembali mengaduk-aduk ramennya, kemudian melakukan gerakan yang sama untuk menyuap seluruh gulungan mie ke dalam mulutnya.
"Dia sibuk." Jawab Sakura singkat. Lalu kembali menyibukkan diri dengan eskrim coktlat yang tinggal setengah.
Sasori adalah kakak Sakura. Entah sejak kapan pemuda bersurai merah bata dan bermanik hazel itu menjadi kakaknya, dia tidak tahu dengan jelas. Sakura melupakan hampir seluruh memori di kepalanya. Bahkan luka di dahinya pun dia sendiri tidak tahu. Ingin rasanya bertanya pada Naruto, namun hati kecilnya selalu menyimpan pertanyaan itu, seolah-olah dia ingin terlihat baik-baik saja di depan pemuda itu.
"…Sakura?!" Naruto menepuk keras bahu kanan Sakura yang tanpa sadar saat itu sedang melamun. ya, melamunkan kondisi aneh yang dialaminya. " Kau baik-baik saja?" wajah khawatir Naruto terlihat sangat jelas oleh Sakura. Dia semakin merasa tidak enak dengan pemuda pirang itu.
"A-aku baik-baik saja." Ucap Sakura sambil menyingkirkan tangan Naruto yang masih bertengger di bahu kurusnya.
"Sakura, kau terlihat aneh sejak pulang dari rumah sakit." Naruto melipat kedua tangannya di atas meja. Bahkan Sakura tidak sadar kalau mangkok besar ramen tadi sudah menghilang dari sana.
"Aku hanya sedikit mengantuk." Sakura beralasan. Dia tidak ingin menabah kekhawatiran Naruto terhadapnya. Dia sadar sudah berhutang sangat banyak pada pemuda itu. tagihan rumah sakit pun keluarga Naruto yang menanggung semuanya.
"Sakura, seberapa banyak yang sudah kau ingat?" Naruto menatap Sakura dengan pandangan serius. Sakura mengalihkan pandangannya selain ke arah Naruto sekarang.
"Mungkin semuanya." Eskrim di tangan Sakura sudah mencair dan mulai mengotori jari-jarinya. Sakura mulai cemas akan seragam sekolahnya sekarang. Namun tatapan penuh perhatian Naruto tidak bisa begitu saja dia abaikan.
"Kau bahkan tidak tahu kalau Kak Sasori itu bekerja di toko ibuku."
"Aku tahu!" Sakura berusaha mengelak. Dia menang tidak tahu apapun tentang pemuda yang tinggal serumah dengannya, apalagi nenek galak itu.
"Sakura…" Naruto menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya dengan keras, "Kau lupa ingatan sejak kejadian dua minggu lalu di stasuin."
"Aku tidak—"
"Iya! Sebenarnya aku penasaran dengan alasanmu sampai ingin mengakhiri hidupmu seperti itu."
"Seperti apa?" kali ini Sakura yang menatap Naruto dengan tajam—tak ingin satu kata pun terlewatkan dari bibir Naruto yang akan menjelaskan keanehan yang selama ini dia rasakan.
"Kau melemparkan dirimu saat sebuah kereta sedang melaju di atas rel."
Sakura pov's
Naruto menatapku dengan tatapan serius. Mungkin ini sudah kesekian kalinya aku meliaht tatapan itu darinya. Biasanya sahabat pirangku ini kerjanya hanya bercanda dan berkata tentang hal-hal yang tiak berguna bagiku. Namun, beberapa minggu belakangan ini dia terlihat begitu mengkhawatirkanku. Aku jadi bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya pada diriku dan Naruto yang juga tiba-tiba berubah.
Ya. Aku memang kehilangan ingatanku. Aku melupakan hampir seluruh kejadian dalam hidupku. Aku tidak mengingat bagaimana wajah kedua orang tuaku, mengapa aku bisa hidup bersama orang-orang di rumah aneh itu, bahkan disiksa oleh pemuda yang baru-baru ini kukenal sebagai Kakak Sasori dan anehnya dia adalah kakakku.
Aku meremas pelan surai merah mudaku. Dan Naruto menyadari akan gelagat anehku yang berusaha mengingat kembali kejadian lampau dalam hidupku.
"Hei, jangan memaksakan dirimu. Aku hanya mengetesmu." Naruto meraih tangan kananku yang masih meremas helaian rambutku hingga sedikit berantakan. "Aku beruntung. Kau masih mengingatku." Dan kini wajah pemuda itu menampilkan senyuman yang malah membuatku rishi.
"Karena kau itu bodoh jadinya aku tidak bisa melupakanmu." Aneh memang. Mengapa hanya Naruto yang bisa kuingat? Saat pertama kali membuka mata di rumah sakit pun wajah pertama yang muncul di depanku adalah wajah pemuda ini.
"Kata-katamu kasar seperti biasanya, Sakura. Aku rasa kau sudah mengingat segalanya tentangku." Ucapnya lagi, dan senyumnya tadi berubah menjadi cengiran lebar. Kedua mata safirnya menyipit menatapku yang sama sekali tidak beniat membalas senyum menjijikannya itu.
Aku memutar bola mataku bosan. "Kau aneh. Apa masih banyak yang belum aku ingat?"
"Tentu saja. Sebenarnya kau punya satu sahabat lagi yang begitu akrab denganmu…dengan kita maksudku."
Menaikkan sebelak alisku, bingung dengan perkataan Naruto tadi. "Siapa selain dirimu?"
"Dia Sasuke!"
"Sasuke? Siapa dia?" aku bahkan tidak pernah mendengar nama orang itu. Naruto kembali tersenyum, namun ada kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya. Aku jadi makin penasaran.
Naruto berhasil memberi jeda yang cukup panjang. Rasa ingin tahuku pun semakin tinggi. tapi semua semakin tidak jelas saat pemuda pirang itu mengalihkan topic pembicaraan.
"Sebentar lagi bel masuk kelas berbunyi. Kau tidak mau terlambat, kan?" Naruto bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi begitu saja meninggalkanku dengan tanda tanya besar yang masih menggantung di atas kepalaku.
Aneh sekali.
Bel masuk kelas pun berbunyi. Oke, kali ini aku harus bersabar untuk tahu lebih banyak.
Lagi-lagi hari sudah senja saat kubuka kedua mataku. Tidur di kelas sampai matahari hampir terbenam kini menjadi kebiasaan baruku. Kelas sudah sepi dan lorong pun terlihat gelap seperti di film horor.
Angin sudah seperti teman dekatku. Sensasi saat kulitku bersentuhan dengannya membuatku lupa akan segala masalah yang sedang aku alami termasuk orang-orang gila di rumahku. Aku bisa melihat burung terbang dengan semangatnya kembali ke rumah mereka masing-masing, berbanding terbalik dengan diriku yang merasa sangat malas untuk kembali ke dalam gubuk kecil bak neraka itu.
Menyusuri rel kereta nonaktif juga menjadi hobbiku. Jembatan yang menghubungkan bukit dengan pinggiran desa pun menjadi tempat terbaik melihat matahari terbenam. Aku selalu menikmati pemandangan ini. Entah sejak kapan. Ingat lah! Aku masih melupakan sebagian besar kejadian dalam hidupku.
Mataku terpejam menikmati desiran angin yang memainkan anak rambutku. Udara terasa begitu hangat sekarang, padahal sudah akan memasuki musim dingin. Aku menyukainya.
Namun, ada satu pemandangan aneh yang sejak kemarin menggangguku. Pemuda dengan kemeja putih dan celama kain hitamnya duduk melipat lutut sambil menatap matahari terbenam tepat di bawah jembatan yang sering kulewati.
Penasaran. Aku pun berlari pelan menuruni bukit yang untungnya tidak terlalu terjal. Saat kakiku menyentuh permukaan tanah yang lebih datar, wajah pemuda itu terlihat makin jelas. Mata hitamnya yang tertimpa cahaya matahari terlihat menakjubkan. Aku sampai terdiam beberapa detik menikmati wajahnya. Oke, aku bukan orang mesum.
Pemuda itu menengok ke arahku. Cepat-cepat sebuah senyum canggung kutampilkan di wajah memalukanku.
"Sedang menikmati matahari terbenam?" pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari mulutku. Mungkin virus Naruto sudah menular padaku.
Orang itu diam, namun masih menatapku yang kini berjalan pelan menghampirinya. "Maaf, aku mungkin mengganggumu."
"Ya, kau sangat menggangguku." Kata-katanya tajam dan pedas, itu membuatku jadi kesal padanya. Rupanya bertambah satu orang menyebalkan lagi dalam hidupku.
"Boleh aku duduk di sebelahmu?"
"Hn." Awalnya aku bingung dengan jawabannya atas pertanyaanku tadi. Namun, melihat ekspresi datarnya, mungkin 'Hn' berarti 'iya'.
"Kau suka matahari terbenam?" tanyaku lagi. Oke, sekarang aku terlihat seperti wartawan yang sedang mewawancarai aktor film.
"Aku lebih suka matahari terbit." Jawabnya. Aku menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Lalu, mengapai kau sekarang duduk di sini dan menikmati matahari terbenam?" tanyaku sedikit tidak sabaran. Dia melirikku dengan manik hitam kelamnya. Sekejap. Namun mampun membuatku terpana beberapa detik.
"Itu bukan urusanmu." Setelah ucapannya, dia kemudian menghembuskan nafasnya dengan sedikit berat. Lalu kembali membuka kedua bibirnya untuk berbicara lagi. "Kau gadis yang tadi pagi, bukan?" tanyanya. Responku pun hanya memiringkan kepala dengan ekspresi bingung.
"Tadi pagi?"
"Kau berjongkok di bawah lampu."
"Berjongkok?"
Mendengus dengan sedikit kasar, dia pun menoleh kepadaku. "Kau ternyata manusia." Ucapnya kemudian. Dan itu berhasil membuat tanda tanya besar menepel di dahi lebarku.
"Tentu saja aku manusia, kau pikir aku apa?" kesal, aku pun melipat tangan di depan dada. "Memangnya aku ini hantu?"
"Ya, kupikir kau sama sepertiku." Oke, jawabannya berhasil menarik segala atensiku kini ke arahnya.
"M-maksudmu, aku dan kau itu berbeda? Kau bukan manusia sepertiku?"
"Bodoh!" umpatnya. Belum sempat aku memprotesi ucapan tak sopannya tadi, pria itu pun berdiri dari posisi duduknya, lalu berjalan dengan langkah yang begitu ringan meningglkanku dengan sejuta pertanyaan yang bersarang di kepalaku.
"Hei! Kau mau kemana?" tanyaku sebelum sosoknya benar-benar menghilang di balik gelapnya malam. Tak terasa ternyata matahari sudah terbenam dengan sempurna.
"Bukan urusanmu!"
Aku berdiri menatap bayangan yang bergerak menjauhiku. Perlahan menghilang di balik kelamnya langit malam tanpa bulan yang bersinar. Sepertinya hujan akan turun. Terlihat dari gelapnya langit yang berpadu dengan awan pembawa hujan. Bahkan aroma tanah sudah tercium dari berbagai arah.
Aku merogoh saku ketika getaran halus bergerak di sana. Nama Naruto terpampang jelas di ayar handphone jadulku. Dengan malas-malasan aku menganggat panggilan yang kuyakini tak berguna itu.
Suara Naruto menyapa dari seberang benda canggih yang kini menempel di telingaku.
"Sakura… aku membawakan sekotak bento untukmu."
Seketika, cacing di dalam perutku bernyanyi riang.
tbc
