Title: Once Again, Can I?

Cast: Jin, Taehyung, Jimin, Namjoon, Yoongi #TaeJin #VMin #NamJin #YoonJin

Lenght: Mini Chapter

Rating: 15+

Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]


Jin segera dilarikan ke ruang operasi karena luka di kepalanya cukup parah dan harus dijahit.

Namjoon dan Yoongi menunggu di depan ruang operasi dengan penuh rasa cemas.

"Ottoke, hyeong? Jin hyeong akan baik-baik saja kan?" sahut Namjoon.

Yoongi memejamkan matanya, kepalanya disenderkan ke sandaran tempat duduk, berusaha menenangkan dirinya.

Satu jam sudah berlalu dan belum juga ada kabar dari dalam ruang operasi.

Kecemasan masih menghinggapi Namjoon dan Yoongi

Setelah dua jam lebih, akhirnya para perawat dan dokter keluar dari ruang operasi dan mengabarkan bahwa nyawa Jin dapat tertolong, hanya ia butuh waktu sekitar beberapa jam untuk sadar dari obat biusnya, dan harus dirawat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya.

"Dahengiya..." sahut Namjoon sambil terduduk lemas di kursi setelah mendengarkan penjelasan sang dokter yang mengoperasi Jin.

Yoongi terlihat mulai bisa bernafas lega.

"Sekarang, bagaimana masalah biaya perawatannya selama disini, hyeong?" tanya Namjoon.

Tidak bisa dipungkiri, masalah biaya merupakan hal yang penting karena Jin bukan berasal dari keluarga berkecukupan, bahkan kedua orang tua Jin sudah meninggal dan ia hanya hidup seorang diri, sementara Namjoon sendiri juga bukan dari keluarga berkecukupan seperti Jin.

Hanya Yoongi yang berasal dari keluarga yang cukup berada, walaupun keluarganya juga tidak tergolong kaya raya seperti banyak pengusaha sukses lainnya.

"Molla... Setidaknya nyawa Jin hyeong sudah tertolong. Untuk masalah biaya, akan coba kubicarakan dengan orang tuaku..." sahut Yoongi.

"Kami bergantung padamu, hyeong... Maaf jika kami merepotkanmu..." sahut Namjoon.

"Kami? Kedengarannya seperti kau dan Jin hyeong sedang berkencan lalu aku diminta tolong membantu pasanganmu itu hmmm... Bukankah kita masih bersaing secara adil?" sahut Yoongi sambil tertawa pelan, memukul bahu Namjoon. "Aku melakukan ini untuk Jin hyeong, tidak ada hubungannya denganmu, imma~ Hahaha.."

"Aigooo~ Lihat siapa yang sedang menyombongkan dirinya karena paling memiliki banyak uang disini ckckck~" sahut Namjoon sambil memukul pelan bahu Yoongi.

Namjoon terlihat sedang berpikir sejenak, lalu berkata, "Ah, majja! Bukankah Taehyung anak konglomerat? Ia kekasih Jin hyeong, bukankah seharusnya ia akan datang dan membayar semua biaya perawatan Jin hyeong selama dirawat disini?"

Yoongi mengangkat kedua bahunya. "Kalau masalah itu, kita lihat saja nanti apa yang akan dilakukan anak konglomerat itu..."

"V&Kim Mart kan salah satu departement store terbesar di Seoul ini, hyeong... Aku yakin Taehyung pasti tidak akan tinggal diam kan, hyeong?" tanya Namjoon.

"Molla, imma~ Aku bahkan selalu kesal setiap mendengar namanya, jadi tolong jangan kau sebut lagi namanya dihadapanku.. Apa kau tidak cemburu dan marah padanya karena sudah merebut hati Jin hyeong dari persaingan kita?" sahut Yoongi.

"Aku kesal! Aku benci setiap melihat Jin hyeong tersenyum karenanya... Tapi kali ini, untuk masalah biaya, aku rasa hanya ia yang bisa kita harapkan, hyeong.." sahut Namjoon.

"Masih ada orang tuaku.." gerutu Yoongi.

"Tetap saja biayanya akan sangat besar, hyeong..." sahut Namjoon.

Membuat Yoongi mulai cemas bagaimana caranya agar ia bisa membayar biaya perawatan Jin selama di rumah sakit.

.

.

.

Jarum jam menunjukkan pukul 02.10 AM.

"Appa! Aku benar-benar tidak bisa tidur... Setidaknya katakan padaku bagaimana kondisi Jin hyeong saat ini?" sahut Taehyung ketika menghampiri Mr Kim di ruang kerja Mr Kim.

Mr Kim memang biasa berada di ruang kerjanya hingga pukul 04.00 AM dan baru tertidur setelah pukul 04.00 AM.

Taehyung dikurung dalam rumahnya yang dikelilingi oleh puluhan bodyguard sehingga ia bahkan tidak bisa mengunjungi Jin di rumah sakit untuk mengetahui bagaimana kondisi Jin setelah ditabrak oleh supir ayahnya.

"Sampai kau berikan keputusanmu, baru kubebaskan kau dari para bodyguard itu..." sahut Mr Kim sambil terus menatap layar laptop dihadapannya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Taehyung.

"Appa! Setidaknya biarkan aku mengetahui keadaan Jin hyeong!" Taehyung tidak sadar bahwa nada bicaranya sudah meninggi, membuat Mr Kim segera menatapnya dengan tatapan setajam mungkin.

"Demi pria murahan itu kau mulai berani membentakku? Lihat, Kim Taehyung! Terlalu sering bersama dengan orang-orang yang berada di kasta yang jauh di bawah kita akan memberikan banyak dampak buruk bagi orang-orang sekelas kita! Menjadi liar dan pemberontak seperti kau inilah salah satu dampak negatifnya!" bentak Mr Kim.

Membuat Taehyung terkejut. Ia sendiri tidak sadar ia baru saja membentak ayahnya yang paling ditakutinya selama ini.

"Mi... Mianhae, appa..." sahut Taehyung, kembali berusaha menghadapi ayahnya dengan kepala dingin, karena ia sadar betul sekeras apapun sikapnya, ayahnya tidak akan mengalah, justru ayahnya semakin akan mencari alasan untuk menjelek-jelekan Jin dihadapannya.

"Aku tidak menyangka kau jadi seliar ini! Sia-sia aku mendidikmu dari lahir!" gertak Mr Kim.

"Appa... Kumohon, beritahukan aku bagaimana keadaan Jin hyeong saat ini..." sahut Taehyung sambil berlutut di depan meja kerja Mr Kim, membuat Mr Kim terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat anaknya berlutut dihadapannya.

"Oke, akan kuberitahukan padamu, tapi berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan lagi pernah menemuinya..." sahut Mr Kim.

Taehyung memejamkan matanya. Mulutnya ingin sekali merutuki ayahnya namun hanya ini yang bisa dilakukannya demi mengetahui kondisi pria yang paling dicintainya itu.

"Ne, appa~ Yaksok..." sahut Taehyung sambil menatap wajah Mr Kim.

"Berdirilah, tidak usah berlutut... Kondisinya sudah selamat dan butuh beberapa waktu untuk dirawat disana..." sahut Mr Kim. "Jika sampai kau berani menemuinya lagi, aku tidak jamin ia bisa selamat untuk kedua kalinya.. Aku akan terus menyiksanya dengan caraku jika kau berani menemuinya lagi! Araseo?"

DEG!

Melihat seberapa sadis ayahnya menabrak Jin tanpa ampun di depan kedua matanya, Taehyung yakin betul bahwa ucapan ayahnya barusan adalah sungguh-sungguh. Dan Taehyung tidak akan pernah rela melihat Jin harus terluka lagi seperti tadi, atau mungkin lebih parah, jauh lebih parah.

"Ne, appa.. Aku berjanji, aku tidak akan menemuinya lagi.. Jadi kumohon, appa.. Kumohon, lepaskan Jin hyeong.. Jangan pernah kau menyakitinya lagi, appa.. Jebal..." sahut Taehyung sambil membungkukan tubuhnya, memohon dengan sangat kepada ayahnya.

"Oke, aku janji aku tidak akan menyentuhnya, jika kau menepati janjimu..." sahut Mr Kim.

Dan Taehyung teringat akan satu hal lagi.

"Apa... Satu hal lagi... Ia bukan dari keluarga berada, appa... Bagaimana ia bisa membayar biaya perawatannya selama di rumah sakit?" sahut Taehyung.

Mr Kim menatap wajah Taehyung, lalu tersenyum licik. "Ada satu cara untuk membayar seluruh biaya pengobatannya hingga selesai... Tapi tentu saja, ada syaratnya..."

Perasaan Taehyung sangat tidak enak ketika melihat senyuman yang terbentuk di wajah ayahnya itu. "Apa... Syaratnya, appa?"

"Bertunangan dengan Park Jimin.. Jika kau mau menjalankan perjodohan ini dan segera bertunangan dengan Park Jimin, seluruh biaya pengobatan pria itu akan kutanggung seutuhnya.." sahut Mr Kim.

DEG!

Dada Taehyung terasa sangat sesak tiba-tiba.

Bagaimana mungkin ia bisa bertunangan dengan pria yang sama sekali tak dicintainya?

Park Jimin, seorang penyanyi muda terkenal yang sedang naik daun. Bahkan mendapat julukan sebagai salah satu penyanyi korea yang berhasil memasuki tangga lagu Billboard dan bertahan di posisi satu Billboard selama beberapa minggu berturut-turut. The Next World Star.

Ayah Taehyung dan ayah Jimin saling mengenal ketika ayah Jimin berinvestasi dalam bisnis milik ayah Taehyung, dan ayah Jimin selalu mengatakan bahwa Jimin sangat menyukai Taehyung dari awal mereka bertemu.

"Appa... Aku tidak mencintainya..." sahut Taehyung.

"Kau akan perlahan-lahan jatuh cinta padanya, Kim Taehyung.. Aku tahu ia pria yang baik dan sangat ramah.. Satu hal yang terpenting, ia berasal dari keluarga yang sederajat dengan kita, bahkan namanya sudah terkenal sampai ke penjuru dunia.." sahut Mr Kim.

Taehyung terdiam.

"Sekali lagi, semua pilihan ada di tanganmu, karena setahuku jika sampai nanti siang pria itu tidak bisa membayar biaya apapun, ia akan mendapat masalah besar.. Bukankah proses operasi sudah dilaksanakan? Ia harus segera membayar biaya operasinya atau ia akan berada dalam masalah besar.." sahut Mr Kim.

"Beri aku waktu, appa... Aku akan segera mengabarimu sebelum matahari terbit..." sahut Taehyung. Ia segera kembali ke kamarnya dan merutuki betapa jahat kelakuan ayahnya menyiksanya seperti ini.

Taehyung membenturkan kepalanya ke dinding kamarnya dan berteriak pelan karena kesal. Air matanya menetes, dan baru kali ini ia benar-benar merasa sedepresi ini.

Masalah kali ini jauh lebih membuatnya depresi daripada masalah yang membuatnya ingin bunuh diri beberapa waktu yang lalu di Mapo Bridge.

"Haruskah aku ke Mapo Bridge dan melaksanakan niatku yang tertunda beberapa waktu yang lalu?" gumam Taehyung sambil menangis.

Hatinya terasa sakit, harus meninggalkan Jin dalam keadaan seperti itu, dan harus mengorbankan masa mudanya demi mengikuti seluruh permintaan ayahnya.

.

.

.

Jin membuka matanya, tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul 05.30 AM.

Jin memandang sekelilingnya. Kepalanya terasa sangat sakit.

Jin bisa melihat Namjoon dan Yoongi tertidur di kursi yang berada tak jauh dari kasur tempatnya berbaring.

"Aku ada dimana?" gumam Jin. Dan ia menyadari bahwa tangannya tengah diinfus.

"Rumah sakit? Mengapa aku ada disini?" gumam Jin.

Yoongi membuka matanya mendengar suara kasur Jin yang berbunyi karena gerakan tubuh Jin.

"Uh? Hyeong! Kau sudah sadarkan diri?" tanya Yoongi sambil berjalan menghampiri kasur tempat Jin berbaring itu.

Jin menganggukan kepalanya. "Mengapa aku ada disini?"

"Kau tidak ingat? Sepertinya kau tertabrak dan ditemukan Namjoon sedang tergeletak bersimbah darah di jalanan.." sahut Yoongi.

Jin memejamkan matanya dan ingatan itu datang. Ketika mobil itu melaju sangat kencang dan menabraknya, lalu meninggalkan dirinya tergeletak di jalanan tanpa berniat menolongnya.

"Ah... Aku ingat... Mobil itu melaju sangat kencang dan menabrakku, lalu pergi begitu saja..." sahut Jin sambil memegang kepalanya.

"Gwenchana, hyeong?" Yoongi cemas melihat wajah Jin yang masih agak pucat.

"Kepalaku masih pusing, Yoongi a..." sahut Jin.

"Berbaringlah hyeong, kau butuh banyak istirahat..." sahut Yoongi.

Tak lama kemudian Namjoon membuka matanya. "Whoaaa! Jin hyeong, kau sudah sadar? Kau baik-baik saja kan?"

Jin tertawa melihat ekspresi Namjoon yang begitu mencemaskannya. "Gwenchana, pabo ya~ Gumawo, karena sudah menolongku..."

"Untung aku melintas di daerah itu, hyeong..." sahut Namjoon sambil memegang erat tangan Jin. "Untung kau sadarkan diri, hyeong..."

Jin tersenyum, lalu memandang sekelilingnya. "Taehyung belum datang?"

"Handphonemu tidak ditemukan, mungkin terlempar ketika kau tertabrak, hyeong.. Jadi kami tidak bisa menghubunginya.." sahut Namjoon.

"Namjoon a, boleh kupinjam handphonemu?" tanya Jin.

"Mau menghubungi Taehyung?" tanya Yoongi.

Jin menganggukan kepalanya.

Jin berusaha menghubungi Taehyung namun tidak diangkat.

"Ada apa dengannya? Apa ia baik-baik saja?" sahut Jin.

"Lebih baik kau mencemaskan keadaanmu sekarang, hyeong.." sahut Yoongi.

Jin menganggukan kepalanya.

.

.

.

Taehyung melihat layar handphonenya yang berdering.

Kim Namjoon.

"Pasti ia ingin mengabarkanku bahwa Jin hyeong kecelakaan..." gumam Taehyung.

Taehyung ingin, sangat ingin, menjawab panggilan itu.

Tapi ia teringat dengan ucapan ayahnya, dan ia tahu ayahnya tidak akan main-main.

Jadi Taehyung memutuskan untuk tidak menjawab panggilan itu.

Ia sudah mengambil keputusan dan membuat kesepakatan dengan ayahnya, karena itu tentu saja ia terpaksa harus benar-benar menghilang dari kehidupan Jin, atau nyawa Jin yang akan jdi taruhannya.

Taehyung meminta ijin tidak bekerja hari itu. Ia ingin menenangkan pikirannya, dan tentu saja, perasaannya.

Mr Kim mengijinkannya untuk bolos bekerja selama satu hari karena ia tahu anak satu-satunya itu membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya.

Setidaknya, Taehyung sudah memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Jin, dan semua berjalan dengan baik sesuai keinginan Mr Kim.

Taehyung terus mengurung dirinya dalam kamar seharian itu.

Ia merasa sangat tertekan dan depresi. Rasanya ia ingin meloncat dari kamarnya, tapi ia sadar kamarnya berada di lantai dua, dan ia tidak akan mati jika loncat dari kamarnya, justru ia akan menyiksa dirinya dengan retak tulang dan lain sebagainya.

Taehyung berbaring di kasurnya dan menatap fotonya bersama Jin yang disimpan dihandphonenya.

Tiba-tiba air mata menetes dari kedua bola matanya.

"Semoga kau mengerti keputusan yang kuambil ini, hyeong... Ini semua demi kebaikanmu... Dan aku ingin kau tahu satu hal... Bahwa aku mencintaimu.. Dan hanya kau yang kucintai, seumur hidupku.."

.

.

.

Langit sudah semakin gelap.

Jin memandang ke jendela kamar tempatnya dirawat. Ia sedang sendirian disana karena Yoongi dan Namjoon sedang mencari makan malam.

"Mengapa Taehyung belum juga menjengukku? Mengapa ia tidak bisa dihubungi?" gumam Jin.

Tiba-tiba Yoongi dan Namjoon masuk ke dalam kamar itu dan menatap Jin dengan kebingungan.

"Ada apa?" tanya Jin.

"Kami bingung mengapa sampai malam begini belum ada yang menanyakan masalah biaya perawatan dan operasimu.." sahut Namjoon.

"Padahal seharusnya siang tadi kami sudah harus membayar uang muka biaya perawatanmu disini... Juga biaya operasimu..." sahut Yoongi.

"Kami diam saja karena lupa mengenai masalah biaya.. Kami terlalu senang melihatmu sudah sadarkan diri.." sahut.

"Dan waktu makan malam barusan, kami teringat masalah biaya itu, mengapa belum ada yang menagih, makanya kami segera mendatangi bagian administrasi.." sahut Yoongi.

"Lalu?" tanya Jin.

"Semua biayamu sudah ada yang menanggung!" sahut Namjoon.

"Bahkan katanya sampai kau pulang nanti, semua tagihan akan dikirmkan kepada si penanggung, jadi kau tidak perlu memikirkan masalah biaya apapun!" sahut Yoongi.

Jin memiringkan kepalanya. "Siapa yang menanggung biayaku?"

"Mereka bilang mereka tidak boleh memberitahukannya kepada siapapun..." sahut Yoongi.

"Apa orang yang menabrakku yang membayarnya karena merasa bersalah?" sahut Jin. "Atau... Kim Taehyung?"

"Taehyung! Bisa jadi dia yang membayar..." sahut Namjoon. "Bukankah ia begitu mencintaimu? Tidak mungkin ia tinggal diam melihatmu begini, hyeong.."

"Kalau Taehyung yang membayar, mengapa ia tidak mengunjungi Jin hyeong?" sahut Yoongi.

"Benar juga..." sahut Namjoon.

Dan tiba-tiba, sebuah berita ditayangkan di televisi yang ada di dalam kamar tempat Jin dirawat.

Jin sengaja menyalakan televisi itu karena ia butuh sedikit hiburan, namun bukan hiburan yang didapatkannya, melainkan sebuah berita yang membuatnya terpukul.

Berita yang ditayangkan itu adalah berita mengenai pertunangan antara anak satu-satunya dari pemilik V&Kim Mart dengan seorang penyanyi terkenal.

Pertunangan antara Kim Taehyung dengan Park Jimin.

"Tae... Taehyung..." sahut Jin dengan wajah yang menunjukkan betapa ia sangat terkejut mendengar berita itu.

.

-TBC-


reply for review:

kumiko Ve : udah tunangan malah ve si vmin wkwkw XD iya soal kasta yg bikin gudeg eh gedeg XD jimin mau dibikin jahat ah biar ve gemes/? XD

Rrn49 : annyeong rnr :) kayaknya baru liat idmu review ff saya deh eh bener ga? salam kenal ya, thx udah nyempetin mampir ke lapak saya :) iya nih mr kim keji /gorok lehernya/?/ XD jin sejauh ini baik2 saja, ga tau deh di next chapter hatinya masih bakalan baik2 aja ga liat berita tunangan vmin XD

kim joungwook: LONG TIME NO SEE :) terakhir review di ff saya yg "Follow Your Dream" ya kalo kaga salah :) nice to see u comment again :) saya ada bikin beberapa ff TaeJin perasaan deh, udah pada dibaca belum yg lainnya? anyway, seneng juga liat kamu seneng :)

dewiaisyah : kapan sih saya kaga bales review dewi? :) hayo sedih kan? sekali2 bikin ff yg sedih ah cape bahagia mulu/? XD thx pujiannya :) dewi jg tetep semangat ya :)

sekarzane : whoaaaa~ terhura baca reviewmu, thx a lot pujiannya sekar :) masa sih taejin langka ffnya? btw ff taejin saya lainnya udah kamu baca kan? :)