137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

TANGLED

BAB 3

Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast

Rate : M

Warning : Genderswitch , Typo(s)

DLDR

Please enjoy ^^

Disclaimer : Remake Novel karya Emma Chase 'Tangled'.

Ok. Let's check this out !


.

.

.

JOYER

.

.

.


Aku tidak pernah merayu seorang wanita sebelumnya.

Aku tahu ini mengejutkan.

Biar kujelaskan. Aku tidak pernah merayu seorang wanita sebelumnya, tidak dalam arti yang umum. Biasanya, aku hanya melihat, mengedipkan mata, tersenyum. Sebuah sapaan yang ramah, satu atau dua gelas minuman. Setelah itu satu-satunya pertukaran verbal yang terlibat hanyalah satu kata pendek seperti lebih keras, lagi, lebih rendah...kalian pasti mengerti maksudnya.

Jadi, segala hal tentang percakapan dengan seorang wanita untuk mengajaknya ke ranjang merupakan konsep yang cukup baru bagiku, kuakui. Tapi aku tidak khawatir. Kenapa tidak, jika kalian tanya?

Karena aku bermain catur.

Catur adalah permainan strategi, perencanaan, berpikir dua langkah ke depan untuk langkah berikutnya. Mengarahkan lawanmu tepat di mana kalian menginginkannya.

Selama dua minggu setelah pertemuan hari pertama, berhubungan dengan Sungmin, bagiku persis seperti bermain catur. Beberapa kata sugestif, belaian biasa tapi menggoda. Aku tidak akan membuat kalian bosan dengan setiap detil percakapan. Aku hanya akan mengatakan semua berjalan dengan baik, segalanya berjalan sesuai rencana.

Kurasa semuanya akan memakan waktu satu minggu—maksimal dua minggu—sampai aku dapat mengklaim harta diantara paha kenyalnya. Aku sudah tahu bagaimana nanti hasilnya. Pada kenyataannya aku telah menghabiskan waktu berjam-jam, membayangkannya, berkhayal tentang itu.

Ingin mendengarnya?

Ini terjadi di kantorku. Suatu malam ketika kami berdua bekerja lembur—satu-satunya orang yang masih di kantor. Dia pasti lelah, kaku. Aku akan menawarkan memijit lehernya. Dan dia akan mengizinkanku. Kemudian aku akan menunduk dan menciumnya, mulai dari bahunya, naik sampai lehernya, merasakan kulitnya dengan lidahku. Akhirnya, bibir kami akan bertemu. Dan itu akan menjadi panas—membara. Dan dia akan melupakan semua alasan tentang kenapa kami tidak seharusnya, tempatnya bekerja kita bersama, tunangan bodohnya. Satu-satunya hal yang akan dia pikirkan adalah aku dan apa yang akan dilakukan oleh kedua tangan ahliku padanya.

Aku punya sebuah sofa di kantorku, sofanya dari bahan suede— bukan kulit. Apakah suede bisa bernoda? Semoga tidak. Karena di sanalah kami akan berakhir—pada sofa terbengkelai yang menyedihkan itu.

Sekarang biarkan aku menanyakan ini pada kalian: apakah kalian pernah melihat iklan yang mengatakan bagaimana kehidupan bisa berubah dalam sekejap?

Ya, ya aku menuju ke suatu tempat—bersabarlah denganku.

Dan kemudian, pada Senin sore, ayahku memanggilku ke kantornya.

"Duduklah, nak. Ada beberapa urusan yang ingin kubahas."

Ayahku sering memanggilku di sini untuk membicarakan hal-hal yang dia belum siap untuk bagikan dengan seluruh staf.

"Aku baru saja selesai bicara lewat telepon dengan Jung Yunho. Dia mencari diversifikasi. Dia akan datang ke kota ini bulan depan untuk berkeliling mencari ide."

Jung Yunho adalah taipan media.

"Bulan depan? Oke, aku bisa mengerjakannya. Tidak ada masalah."

Aku merasakan kegembiraan memompa di pembuluh darahku. Pasti beginilah yang hiu rasakan setelah seseorang membuang seember daging cincang ke dalam air. Keriuhan.

"Kyuhyun..." ayahku menyela, tapi pikiranku terlalu sibuk berputar dengan ide-ide untuk bisa mendengarnya.

"Ada petunjuk apa yang dia cari? Maksudku kemungkinannya tidak terbatas."

"Nak..." Ayahku mencoba lagi.

Kalian bisa menduganya, bukan?

Namun aku terus mengoceh, "Stasiun tv kabel adalah mesin penghasil uang. Media sosial ada di toilet sekarang, jadi kita bisa mengambil beberapa penawaran yang nyata. Produksi film selalu menjadi taruhan yang aman, dan itu akan mengurangi biaya tambahan ketika mereka memutar ulang pada jaringannya sendiri."

"Kyuhyun. Aku ingin memberikan klien itu pada Lee Sungmin."

Tunggu sebentar! Mau mengulanginya untukku?

"Apa?"

"Dia bagus, Kyuhyun. Aku bilang padamu, dia sangat bagus."

"Dia di sini baru dua minggu!"

Aku sudah membina klien-klien ini sejak perusahaan mereka masih kecil. Aku memandang perusahaan itu seperti ayah yang bangga, saat mereka tumbuh menjadi konglomerat yang kokoh. Aku menjamu mereka dengan minuman dan makanan mewah, aku telah menghabiskan jam demi jam, bertahun-tahun tanpa tidur nyenyak. Tugasku adalah bukan hanya apa yang aku lakukan—itulah siapa aku. Dan aku akan sangat tidak rela jika Lee Sungmin berjalan ke sini dan mengambilnya dariku.

Tidak peduli seberapa bagus pantatnya.

"Ya," kata ayahku. "dan apa kau melihat beberapa hal yang dia hasilkan selama dua minggu ini? Dia adalah yang pertama datang dan terakhir meninggalkan kantor—setiap hari. Dia segar dan berpikir di luar kebiasaan. Dia mengembangkan beberapa investasi yang paling inovatif yang pernah aku lihat. Naluriku mengatakan untuk memberinya kesempatan dan melihat apa yang akan dia lakukan."

Apa gejala awal untuk penyakit pikun, tepatnya?

"Dia akan meraba-raba—itulah yang akan dia lakukan!" Teriakku.

Tapi aku tahu dari pengalaman bahwa bersikap dramatis tidak berpengaruh apapun dengan ayahku, jadi aku memijit hidungku berusaha untuk menenangkan diri.

"Baiklah, Ayah, aku mengerti apa yang kau katakan. Tapi Jung Yunho bukanlah klien yang kau berikan kepada seseorang hanya untuk mengetahui apakah dia bisa melaksanakan tugasnya. Dia adalah klien yang kau berikan kepada orang terbaik dan tercerdas. Seseorang yang kau tahu bisa membawa sampai ke zona akhir. Dan itu adalah aku."

Bukankah begitu? Aku bertanya-tanya saat ekspresi ketidakpastian menyelimuti wajahnya.

Saat ayahku terus terdiam, perutku menggeliat dengan cemas. Aku adalah tangan kanannya. Aku adalah orang yang dapat mengatasi masalahnya. Saat jam menunjukkan pukul dua kurang lima menit, aku sangat yakin aku satu-satunya orang yang akan mendapat kepercayaan dari Cho Hangeng.

Atau setidaknya aku dulunya begitu.

Aku terbiasa mendapatkan kepercayaan penuhnya. Fakta bahwa kepercayaan ayahku sepertinya goyah adalah...Well,...sungguh menyakitkan.

"Begini saja." Dia mendesah. "Kita punya waktu satu bulan. Datanglah dengan sebuah presentasi. Sungmin juga melakukan hal yang sama. Siapapun yang bisa membuatku terkesan akan segera bekerja pada Yunho."

Seharusnya aku benar-benar merasa tersinggung. Apa yang ayahku minta sama saja mengatakan kepada seorang pemenang Oscar bahwa dia harus mengikuti audisi untuk menjadi pemain figuran.

Tapi aku tidak membantah. Aku terlalu sibuk merencanakan langkah selanjutnya.

Jadi, kalian mengerti apa yang kukatakan tentang kehidupan?

Dengan demikian, Lee Sungmin telah berubah dari seorang wanita yang tidak sabar ingin kuajak dansa secara mesum menjadi seseorang yang tidak sabar ingin aku remukkan di bawah sepatuku.

Lawanku. Sainganku. Musuhku.

Itu bukan salah Sungmin. Aku tahu. Sekarang tanyakan padaku apakah aku peduli?

Tidak—tidak sedikitpun.

.

.

.

Dalam mode siap tempur, aku kembali ke markas—yang juga dikenal sebagai kantorku. Aku memberi Naeun beberapa perintah dan bekerja disisa sore hariku. Sekitar pukul enam sore, aku meminta Naeun memanggil Sungmin datang ke kantorku.

Selalu memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah. Bermain di kandang sendiri. Ingat itu.

Dia datang dan duduk, ekspresinya tak terbaca.

"Ada apa, Kyuhyun?"

Rambutnya terurai. Membingkai wajahnya dalam tirai panjang yang mengkilap. Untuk sesaat, aku membayangkan bagaimana rasanya jika rambut itu menggelitik dadaku. Menyebar di pahaku.

Aku menggelengkan kepala.

Fokus, Cho, fokus.

Dia mengenakan setelan burgundy gelap dengan sepatu yang cocok.

Sungmin suka memakai sepatu hak tinggi. Kurasa karena dia mungil, tambahan tinggi yang diberikan oleh sepatunya membuat Sungmin merasa lebih percaya diri di kantor.

Saat mataku berkeliaran di tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki, satu masalah, sebut saja begitu, muncul. Meskipun pikiranku mengakui kalau Lee Sungmin sekarang sainganku, ternyata kejantananku belum mendapat memo.

Dan kejantananku, dilihat dari reaksinya, masih ingin membuat pertemanan.

"Jung Yunho akan datang ke kota ini bulan depan," Kataku akhirnya.

Sungmin mengangkat alis. "Jung Yunho? Benarkah?"

"Benar." Kataku padanya dengan serius. Tidak ada lagi kesenangan untuknya. "Ayahku ingin kau menyusun contoh presentasi. Sebuah praktek, seolah kau benar-benar akan mendapatkan klien. Dia pikir itu akan menjadi latihan yang bagus untukmu."

Aku tahu. Aku tahu...Kalian pasti berpikir aku seorang bajingan.

Aku bahkan tidak memberikan kesempatan yang adil untuknya.

Well, lupakanlah. Ini adalah bisnis. Dan dalam bisnis—seperti halnya perang—segalanya adil.

Aku mengira dia akan bersemangat, aku mengira dia akan berterima kasih. Reaksinya bukan salah satu dari keduanya.

Sungmin menekan bibirnya menjadi satu garis ketat, dan ekspresinya berubah menjadi serius. "Praktek, hah?"

"Benar sekali. Ini bukan urusan besar, kau jangan terlalu khawatir. Berikan saja suatu proposal untuknya. Secara hipotesis."

Dia melipat tangannya di depan dada dan memiringkan kepalanya kesamping. "Sungguh menarik, Kyuhyun. Mengingat ayahmu baru saja mengatakan padaku ia belum memutuskan siapa yang mendapatkan Yunho, klien itu akan jatuh padamu atau aku, tergantung siapa yang dapat menyusun strategi yang lebih mengesankan. Cara dia menjelaskan, kedengarannya seperti urusan yang sangat besar."

Oh...Uh

Tertangkap basah.

"Kita bermain sedikit kotor, ya?" Dia bertanya, matanya menyipit dengan curiga.

Aku mengangkat bahu. "Jangan terburu-buru, sweetheart. Yunho akan jadi milikku. Ayahku hanya melemparkan tulang padamu."

"Tulang?"

"Ya, bibirnya praktis melekat pada pantatnya sejak kau mulai kerja. Aku heran kalau dia masih bisa berdiri tegak. Dia berpikir ini akan membuatmu lepas dari gangguanku untuk sementara waktu."

Selalu menyerang terlebih dulu—ingat itu. Tim mana yang mencetak skor lebih dulu? Mereka hampir dipastikan menjadi tim pemenang.

Cari tahu kalau kalian tidak percaya padaku.

Ya, aku mencoba mengguncang kepercayaan dirinya, aku berusaha membuat dia keluar dari persaingan.

Tuntut aku.

Ketika dia berkata, nadanya sangat mematikan, setajam pisau.

"Kalau kita akan bekerja sama, Kyuhyun, kurasa kita harus meluruskan beberapa hal. Aku bukanlah sweetheart-mu. Namaku Lee Sungmin. Camkan itu. Dan aku bukan orang yang suka menjilat. Aku tidak harus melakukannya. Pekerjaanku bicara dengan sendirinya. Kecerdasanku, tekadku—itu yang membuat ayahmu memperhatikanku. Dan jelas dia mengira kau agak kurang dalam bidang itu karena dia mempertimbangkanku untuk Yunho."

Oh. Tentu saja dia menyerang dengan sengit untuk memastikan kemenangan, benar, kan?

"Dan aku tahu wanita mungkin akan saling berebut untuk mendapat perhatian dan senyum menawanmu," ia melanjutkan, "tapi, itu tidak akan terjadi padaku. Aku tidak berencana untuk menjadi salah satu dari para penggemarmu, jadi kau bisa memberikan rayuanmu, senyummu dan omong kosongmu untuk orang lain."

Dia berdiri dan tangannya bertumpu di tepi mejaku, membungkuk.

Hei, kalian tahu kalau aku duduk sedikit tegak, aku bisa melihat tepat di bawah blusnya, aku suka titik itu pada wanita. Lembah diantara—

Hentikan!

Secara mental, aku menampar diri sendiri, dan Sungmin melanjutkan.

"Kau terbiasa menjadi nomor satu di sini, terbiasa menjadi anak kesayangan ayahmu. Well, ada pemain baru di kota ini. Hadapilah. Aku telah bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan ini, dan aku berencana untuk membangun reputasiku sendiri, kau tidak suka berbagi ketenaran? Sayang sekali. Kau bisa juga berbagi ruang untukku, atau aku akan menginjakmu kalau kau menghalangi jalanku. Apapun yang terjadi, aku jamin aku akan ada di sana."

Dia berbalik untuk pergi tapi kemudian dia menoleh kearahku, bibirnya melengkung membentuk senyum manis sekali. "Oh, dan aku akan bilang semoga beruntung dengan Yunho, tapi aku tidak mau repot-repot. Jung Yunho adalah milikku...sweetheart."

Dan dengan begitu, dia berbalik dan berjalan keluar dari kantorku, melewati Changmin dan Yesung, yang berdiri di depan pintu dengan mulut ternganga.

"Well...Sialan," Kata Changmin.

"Ok. Apakah ada orang yang terangsang sekarang?" Yesung bertanya,"Serius, aku mengalami ereksi sekarang karena—" dia menunjuk Sungmin yang baru saja berlalu, "tadi sangat panas."

Itu memang panas. Lee Sungmin adalah seorang wanita cantik. Tapi ketika dia marah. Dia spektakuler.

Donghae berjalan masuk dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Melihat ekspresi di wajah kami, dia bertanya, "Apa? Apa aku melewatkan sesuatu?"

Changmin dengan senang hati mengatakan padanya, "Kyuhyun kehilangan sentuhannya. Dia baru saja diomeli habis-habisan. Oleh seorang wanita."

Donghae mengangguk muram dan berkata, "Selamat datang di duniaku, Kawan."

Aku mengabaikan mereka. Perhatianku masih terfokus pada tantangan yang baru saja Sungmin berikan. Testosteron terpompa melalui tubuhku meminta kemenangan. Tidak saja menang, tapi menang telak—tidak ada yang lebih memuaskan kecuali menang KO tanpa perlawanan.

.

.

.

Dan dimulailah—Olimpiade investasi perbankan. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini adalah kontes dewasa antara dua rekan profesional dan sangat cerdas. Aku ingin mengatakan ini penuh persahabatan.

Aku ingin menga...tapi aku tidak ingin. Karena aku pasti bohong.

Ingat komentar ayahku? Komentar bahwa Sungmin menjadi orang yang pertama datang ke kantor dan orang terakhir yang pulang? Komentar itu menempel dalam pikiranku sepanjang malam.

Mendapatkan kontrak dari Yunho bukan hanya tentang melakukan presentasi terbaik, menemukan ide-ide terbaik. Itulah yang dipikirkan Sungmin—tapi aku lebih tahu. Toh, pria itu adalah ayahku; kita memiliki DNA yang sama. Ini juga tentang penghargaan. Siapa yang lebih berdedikasi. Siapa yang akan mendapatkannya. Dan aku bertekad untuk menunjukkan pada ayahku bahwa aku adalah "orangnya".

Jadi, hari berikutnya aku datang satu jam lebih awal. Selanjutnya saat Sungmin tiba, aku tidak mendongak dari mejaku, tapi aku merasakannya saat ia berjalan melewati pintuku.

Lihat ekspresi wajahnya? Langkahnya sedikit terhenti saat ia melihatku? Cemberutnya muncul ketika menyadari bahwa dia adalah orang kedua yang masuk? Lihat tatapan keras di matanya?

Jelas, aku bukan satu-satunya orang yang melakukannya dengan sangat serius.

Pada hari Rabu, aku datang pada waktu yang sama dan melihat Sungmin sedang mengetik di mejanya. Dia mendongak ketika melihatku. Dia tersenyum riang. Dan melambai.

Hari berikutnya, aku datang setengah jam lebih awal...dan seterusnya. Apa kalian bisa melihat polanya di sini? Saat Jumat berikutnya datang, aku mendapati diriku berjalan ke depan gedung jam setengah lima pagi.

Setengah-lima-pagi!

Sekarang masih gelap. Dan saat aku sampai ke pintu gedung, tebak siapa yang kulihat di depanku, datang pada waktu yang sama?

Sungmin.

Dapatkah kalian mendengar desisan dalam suaraku? Kuharap kalian bisa. Kami berdiri di sana saling beradu pandang, mencengkeram kafein berisi cappuccino double-mocha ekstra besar di tangan kami.

Secara bersamaan, Sungmin dan aku menjatuhkan minuman kami dan lari bergegas ke arah pintu. Di lobi, dia menekan tombol lift dengan mati-matian sementara aku menuju tangga. Betapa jeniusnya diriku, kupikir aku bisa melangkah tiga undakan sekaligus. Kakiku panjang. Satu-satunya masalah, tentu saja bahwa kantorku ada di lantai empat puluh.

Idiot.

Ketika aku akhirnya mencapai lantai tempat kerja kami, terengah-engah dan berkeringat, aku melihat Sungmin sedang santai bersandar di pintu kantornya, mantel sudah ditanggalkan, segelas air di tangan.

Dia menawarkannya padaku, diiringi dengan senyum mempesonanya.

Itu membuatku ingin mencium dan mencekiknya pada saat yang sama.

"Di sini kau rupanya. Sepertinya kau bisa menggunakan ini, Kyuhyun."

Dia memberiku gelasnya dan pergi dengan langkah yang dibuat-buat.

"Semoga harimu menyenangkan."

Benar.

Tentu, aku akan melakukannya.

Karena sejauh ini sudah mulai bagus.

.

.

.

Untuk melakukan pekerjaanku dengan baik, aku perlu buku— banyak buku. Buku hukum, kitab undang-undang, dan peraturan yang terkait dalam pekerjaan yang kulakukan adalah rinci dan sering berubah.

Untungnya bagiku, perusahaanku memiliki koleksi paling lengkap dari bahan referensi yang bersangkutan di kota ini. Well, kecuali mungkin perpustakaan kota. Tapi apa kalian sudah melihat tempat itu? Perpustakaan kota seperti sebuah kastil. Dibutuhkan waktu yang lama untuk mencari tahu di mana sesuatu seharusnya berada, dan ketika kalian mengetahuinya, kemungkinan besar sedang keluar.

Perpustakaan pribadi perusahaanku jauh lebih nyaman.

Jadi, Selasa sore, aku berada di mejaku sedang mengerjakan salah satu referensi tersebut ketika aku mendapat kehormatan atas hadirnya seseorang.

Ya—Lee Sungmin yang cantik. Dia terlihat sangat lezat hari ini.

Suaranya ragu-ragu. "Hei, Kyuhyun? Aku sedang mencari Technical Analysis of the Financial Markets, dan itu tidak ada di perpustakaan. Apa kau kebetulan meminjamnya?" Dia menggigit bibir dengan cara yang menggemaskan setiap kali dia gugup.

Buku yang di maksud sebenarnya tergeletak tepat di mejaku. Dan aku hampir selesai membacanya. Aku bisa menjadi orang yang lebih baik—lebih berjiwa besar—dan memberikan buku itu padanya.

Tapi kalian pasti berpikir bahwa aku tidak akan melakukannya, kan?

Apa kalian tidak belajar apa pun dari percakapan kita terdahulu?

"Ya, memang aku meminjamnya," kataku padanya.

Sungmin tersenyum. "Oh, bagus. Kapan menurutmu kau akan menyelesaikannya?"

Aku menatap ke langit-langit, seolah sedang berpikir keras. "Tidak yakin. Empat...mungkin lima...minggu."

"Minggu?" Dia bertanya, menatap ke arahku.

Dapatkah kalian lihat bahwa Sungmin kesal?

Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Jika aku pada akhirnya menginginkan—setelah seluruh urusan dengan Yunho selesai—berhubungan seks dengan Sungmin, kenapa aku tidak mencoba bersikap sedikit lebih baik padanya? Dan kalian benar. Itu tidak masuk akal.

Tapi urusan dengan Yunho belum selesai. Dan seperti yang telah kukatakan sebelumnya—kawanku, ini adalah perang. Aku sedang membicarakan tentang siap siaga perang, lepas sarung tangan, perang yang menyatakan aku-akan-merobohkanmu-meski-kau-seorang-wanita.

Kalian takkan memberikan peluru kepada penembak jitu yang membidikkan senjatanya ke dahimu, kan?

Ditambah, Sungmin sangat cantik ketika dia marah dan tak akan kulewatkan kesempatan untuk melihat dia marah lagi, hanya untuk kesenanganku sendiri. Aku mengamatinya dari atas sampai ke bawah penuh apresiasi ketika aku bicara, sebelum memberinya senyum khas kekanak-kanakanku yang hampir semua wanita tidak akan berdaya menghadapinya.

Sungmin, tentu saja, bukan salah satu dari wanita-wanita itu. Sungguh menakjubkan.

"Well, kukira jika kau memintanya dengan baik...dan memijit bahuku saat kau mengatakannya...Aku mungkin akan terbujuk untuk memberikannya padamu sekarang."

Kenyataannya adalah, aku tak akan pernah menuntut apapun yang menyerupai dengan kenikmatan seksual sebagai imbalan untuk sesuatu yang terkait dengan pekerjaan. Aku dapat berarti banyak hal.

Yang pasti aku bukanlah seorang bajingan oportunis yang mengambil keuntungan dari orang lain.

Tapi komentar terakhirku pasti dapat ditafsirkan sebagai pelecehan seksual. Dan bagaimana jika Sungmin mengatakan kepada ayahku apa yang kuucapkan padanya? Demi Tuhan, ia akan memecatku. Lalu kemungkinan besar ia akan mengomeliku habis-habisan sebagai tambahan.

Saat ini aku berada dalam situasi yang sangat serius. Namun, meskipun ada kemungkinan, aku yakin 99,9 persen bahwa Sungmin tidak akan melaporkannya. Dia terlalu mirip denganku. Dia ingin menang. Dia ingin mengalahkanku. Dan dia ingin melakukan semuanya sendirian.

Dia bertolak pinggang dan membuka mulutnya untuk mengumpatku—paling mungkin akan mengatakan ke lubang tubuh bagian mana aku bisa memasukkan buku itu, kurasa. Aku bersandar sambil tersenyum geli, penuh semangat mengantisipasi ledakan...yang tidak pernah datang.

Dia memiringkan kepalanya ke samping, menutup mulutnya, dan berkata, "Kau tahu? Ah..Sudahlah."

Dan dengan itu, dia berjalan keluar pintu.

Huh.

Sedikit antiklimaks, kan? Kupikir juga begitu.

Tunggu saja.

.

.

.

Beberapa jam kemudian, aku pergi ke perpustakaan mencari buku referensi yang sangat besar berjudul Commercial and Investment Banking and the International Credit and Capital Markets.

Aku mengamati susunan untuk mencari dimana buku itu seharusnya berada—tapi tidak ada.

Orang lain pasti sedang meminjamnya.

Aku mengalihkan perhatianku ke buku yang jauh lebih kecil, tapi sama pentingnya, volume yang berjudul Investment Management Regulation, Seventh Edition. Hanya untuk mendapati bahwa judulitu juga hilang.

Apa-apaan ini?

Aku tak percaya pada kebetulan. Aku naik lift kembali ke lantai empat puluh dan dengan sengaja berjalan melewati pintu kantor Sungmin yang terbuka.

Aku tidak seketika melihat Sungmin.

Itu karena tumpuk buku di sekeliling mejanya, tersusun rapi seperti pencakar langit yang tinggi, adalah buku-buku. Sekitar tiga lusin.

Untuk sesaat, aku membeku, mulutku terbuka dan mata terbelalak karena syok. Kemudian, dengan konyol, aku bertanya-tanya bagaimana bisa dia membawa semuanya ke sini. Paling banter Sungmin beratnya seratus sepuluh pon. Pasti ada beberapa ratus pon buku di ruangan ini.

Kemudian rambut hitam mengkilapnya muncul dari bawah. Dan, sekali lagi, dia tersenyum.

"Hai, Kyuhyun. Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanyanya dengan keramahan yang palsu.

Jari-jarinya mengetuk dengan ritmis pada dua hardcover raksasa.

"Kau tahu...bantuan? Saran? Arah menuju ke perpustakaan umum?"

Aku menahan jawabanku. Dan mengerutkan kening padanya. "Tidak. Aku baik-baik saja."

"Oh. Oke, bagus. Bye-bye." Dan dengan itu, dia menghilang kembali di balik segunung literatur.

Lee Sungmin—dua.

Cho Kyuhyun—nol.

.

.

.

Setelah kejadian itu, keadaan jadi semakin parah.

Aku malu untuk mengatakan bahwa baik Sungmin dan aku tenggelam ke posisi terendah dalam sabotase profesional. Meskipun tidak sampai benar-benar mengembara ke wilayah ilegal. Tapi itu sangat dekat.

Suatu hari aku datang ke kantor mendapati semua kabel hilang dari komputerku. Ia tidak memberikan kerusakan jangka panjang, tapi aku harus menunggu satu setengah jam sampai petugas IT muncul dan menyambungkannya kembali.

Keesokan harinya, Sungmin datang ke kantornya mendapati bahwa "seseorang" telah menukar semua label pada disk dan file. Tidak ada yang terhapus, asal kalian tahu. Tapi dia harus melihat satu demi satu jika dia ingin menemukan dokumen yang dia butuhkan.

Beberapa hari setelah itu pada rapat staf, aku secara "tidak sengaja" menumpahkan segelas air pada beberapa informasi yang telah Sungmin susun untuk ayahku. Pekerjaan yang mungkin membutuhkan waktu lima jam atau lebih untuk menyusunnya menjadi satu.

"Ups. Maaf," kataku, membiarkan seringai di wajahku menjelaskan padanya betapa tidak menyesalnya aku.

"Tidak apa-apa, Tuan Cho," dia meyakinkan ayahku saat ia menyeka kekacauan. "Saya memiliki salinan lain di kantor."

Betapa siap siaganya dia, bukankah begitu?

Kemudian—sekitar pertengahan rapat—kalian tahu apa yang dia lakukan?

Dia menendangku! di tulang keringku, di bawah meja.

"Hmph," aku mengerang, dan tangan mengepal secara refleks.

"Kau baik-baik saja, Kyuhyun?" Tanya ayahku.

Aku hanya bisa mengangguk dan memekik, "Ada sesuatu di tenggorokanku." Aku batuk dengan dramatis.

Lihat, aku juga tak akan menangis melapor pada ayahku. Tapi demi Tuhan ini terasa sakit. Apa kalian pernah ditendang di tulang kering dengan hak sepatu runcing sepanjang empat inci? Bagi seorang pria,hanya ada satu daerah yang lebih menyakitkan untuk ditendang.

Dan itu adalah tempat yang tidak berani aku sebut namanya.

Setelah denyutan rasa sakit di kakiku sedikit berkurang, aku menyembunyikan tanganku di balik beberapa kertas dokumen sementara ayahku bicara. Lalu aku mengacungkan jari tengahku kearah Sungmin. Tidak dewasa, kutahu, tapi rupanya kami berdua sekarang sudah bertingkah layaknya anak TK, jadi kuduga itu tidak apa-apa.

Sungmin mencibir kearahku. Lalu dia berucap tanpa suara, jangan mimpi.

Well—sekarang dia membuatku tak bisa menjawab, ya kan?

.

.

.

Kami berada dalam tahap akhir perlombaan. Sebulan pertarungan hidup mati telah berlalu, dan besok adalah tenggat waktu yang diberikan ayahku. Sekarang sekitar jam sebelas malam, Sungmin dan aku adalah satu-satunya orang yang tersisa di dalam gedung ini.

Aku sudah punya fantasi ini beratus kali. Meskipun, harus kukatakan, itu tidak termasuk tentang kami berada di kantor masing-masing, saling melotot dari seberang lorong—disertai sesekali gerakan tangan yang tidak senonoh.

Aku melirik dan melihat dia sedang meninjau grafik miliknya. Apa yang dia pikirkan? Apakah ini Jaman Batu? Masihkah ada orang yang memakai papan poster jaman sekarang? Yunho pasti jadi milikku.

Aku baru saja memberikan sentuhan akhir pada presentasi PowerPoint yang mengesankan milikku ketika Changmin berjalan masuk kedalam kantorku. Dia akan pergi ke bar. Tak peduli bahwa ini adalah malam Kamis, begitulah Changmin. Beberapa minggu yang lalu, aku juga begitu.

Dia menatapku dengan lama, tidak mengatakan apapun. Lalu ia duduk di tepi mejaku dan berkata, "Sobat, sudahlah lakukan saja."

"Apa yang sedang kau bicarakan?" Tanyaku, jari-jariku tak pernah berhenti di atas keyboard.

"Apa kau mengamati dirimu sendiri belakangan ini? Kau hanya perlu berjalan kesana dan menyelesaikannya."

Dan sekarang dia membuatku jengkel. "Changmin, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"

Tapi semua dia datang kembali dengan adalah, "Apa kau pernah menonton film War of the Roses? Apa kau ingin berakhir seperti itu?"

"Aku punya pekerjaan yang harus dilakukan. Aku tak punya waktu untuk ini sekarang."

Dia mengangkat tangannya ke atas sebagai tanda putus asa. "Baik. Aku sudah mencoba. Ketika kita mendapati kalian berdua di lobi di bawah lampu gantung yang jatuh, aku akan memberitahu ibumu bahwa aku sudah berusaha."

Aku berhenti mengetik. "Apa sebenarnya maksudmu?"

"Maksudku, kau dan Sungmin. Sudah jelas kau punya perasaan tertentu terhadapnya."

Aku melirik kantornya ketika Changmin menyebutkan namanya. Sungmin tidak mendongak. "Ya, aku punya 'perasaan tertentu' untuknya. Rasa benci yang hebat padanya. Kami tidak bisa mentolerir satu sama lain. Dia gadis yang sulit ditangani. Aku tak akan menidurinya dengan dildo yang panjangnya sepuluh kaki."

Oke, itu tidak benar. Aku ingin menidurinya. Meskipun aku tidak akan menyukainya.

Ya—kalian benar. Itu juga tidak tepat.

Changmin duduk di kursi di seberang mejaku. Aku bisa merasakan dia menatapku lagi. Lalu ia mendesah. Dan mengatakan, seakan itu seharusnya menjadi suatu pengungkapan yang menakjubkan, "Victoria Song."

Aku menatap kosong kearahnya.

Siapa?

"Victoria Song," katanya lagi, lalu menjelaskan, "Kelas tiga."

Gambaran seorang gadis kecil yang berkuncir dengan rambut berwarna coklat muda dan kacamata tebal melintas dalam benakku.

Aku mengangguk. "Bagaimana dengan dia?"

"Dia adalah gadis pertama yang pernah kucintai."

Tunggu. Apa?

"Bukankah kau dulu biasa memanggilnya Victoria si Bau?"

"Ya." Dia mengangguk dengan serius. "Ya, aku memanggilnya begitu. Dan aku mencintainya."

Masih bingung.

"Bukankah kau membuat seluruh anak kelas tiga memanggilnya Victoria si Bau?"

Dia mengangguk lagi dan berusaha terdengar bijak mengatakan, "Cinta membuatmu melakukan beberapa hal yang konyol."

Kurasa begitu, karena...

"Bukankah dia harus pulang lebih awal dua kali seminggu untuk pergi ke terapis karena kau terlalu banyak mengejek dia?"

Dia merenungkan ini sejenak. "Ya, itu benar. Kau tahu, ada garis tipis antara cinta dan benci, Kyuhyun."

"Dan bukankah Victoria pindah sekolah akhir tahun itu karena—"

"Dengar, intinya, bahwa aku menyukai gadis itu. Mencintainya. Kupikir dia mengagumkan. Tapi aku tidak bisa mengatasi perasaan itu. Aku tak tahu bagaimana mengekspresikan perasaanku dengan cara yang tepat."

Changmin tidak biasanya bersentuhan dengan sisi femininnya.

"Jadi kau sebaliknya malah mengganggunya, kan?" Aku bertanya.

"Sayangnya, ya."

"Dan ini ada hubungannya antara Sungmin dan aku karena...?"

Dia berhenti berdetak dan kemudian memberiku...tatapan itu. Sedikit gelengan kepala, meringis kekecewaan dan sedih. Tatapan yang ia berikan padaku lebih buruk dari rasa bersalah seorang ibu, aku bersumpah.

Dia berdiri, menepuk lenganku, dan berkata, "Kau orang yang cerdas, Kyuhyun. Kau akan memahaminya." Dan bersamaan dengan itu, dia pergi.

Yeah, yeah, kutahu apa yang Changmin ingin sampaikan. Aku mengerti, oke. Dan aku bilang—terus terang—dia gila.

Aku tidak memperdebatkan soal Sungmin karena aku menyukainya. Aku melakukan itu karena keberadaannya mengacaukan jalur lintasan karirku. Dia adalah gangguan. Seekor lalat dalam supku.

Tentu, dia pasti menyenangkan di ranjang. Tapi itu tidak akan pernah lebih dari sekedar seks yang nikmat. Itu saja, kawan.

Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Kalian tidak percaya padaku?

Kalau begitu kalian sama gilanya dengan Changmin.


.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Annyeong ^^

Aku bawa BAB 3 nya. Sebisa mungkin aku akan update 1 Bab sehari. Btw, mohon maaf yak arena review kalian tidak masuk semuanya. Jadi saya harus lihat e-mail untuk melihat review kalian.

Special Thanks to :

Pspnya kyu , amalia , ovallea , onew's wife , danactebh , nanayukeroo , leleekyumin , orange girls , Shengmin137 , joyers , minnieGalz , Michiko Haruna , lee hye byung , xxnunxxcan , Hanna , dan Frostbee.

Itu reviewer BAB 1 dan BAB 2 yang aku lihat di email. Thank you so much ya ^^

And last, mind to review ? ^^

Sign, 137darkpinku