Can't Come Back Again?
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem
Rated T plus (buat jaga-jaga)
Genre : Hurt/Comfort, Romance
Pair : Naru x Hina :D
Warning : Typo, OOC, ColdHina, ide pasaran, Abal, Aneh, BadKarinSara! Dan masih banyak yang lain.
Don't Like Don't Read! I've Warn You! :)
OoOoOoOooOoO
Sequel 'Gomen'
Enjoy~
.
.
.
.
Chapter 3 : Got The Secret!
Masih setia menggenggam handphone di tangannya, Naruto tidak ingin lagi berbasa-basi. Pemuda pirang itu ingin segera bertemu dengan Neji.
Tepat saat sang Hyuuga sulung itu mengatakan kalau ingin berbicara sesuatu juga dengannya. Sukses membuatnya semakin bingung-
"Kau ingin berbicara tentang apa denganku?" tanyanya cepat, seraya menoleh sekilas menatap Hinata yang kini masih terlelap dalam tidurnya.
"Hn, kita bertemu di kafe Himawari, dan usahakan jangan sampai Hinata tahu tentang ini." Seakan mengidahkan ucapannya, Neji langsung saja mengatakan tempat mereka bertemu nanti dan segera mematikan sambungan telepon.
"Oi! Setidaknya beritahu-" suara 'klik' di seberang sana menambahkan emosi Naruto. Berdecak kesal, tak ayal rambut pirangnya pun jadi sasaran. Ia mengacaknya pelan, dan berusaha keras untuk tidak berteriak.
"Ck, apa maksudnya?!"
Berniat untuk menggerutu lebih lama, tapi sebuah getaran di saku celananya sontak menghentikan kegiatan sang Uzumaki. Langsung saja ia mengambil handphonenya di sana-
From : Shion
Naruto, kau kemana? Lama sekali :(
"Shion?" melihat ternyata orang yang mengirimnya pesan adalah gadis pirang pucat itu. Menyadarkan Naruto sepenuhnya.
Bukannya ia menemui Hinata kemari untuk menjemput gadis ini? Lalu kenapa dia hanya diam saja dan malah membiarkan Hinata semakin terlelap?
"Argh!" Naruto benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya sendiri.
'Pokoknya aku harus membangunkannya terlebih dahulu.' Batinnya singkat, sebelum tanpa menunggu lebih lama lagi Naruto kembali mendekatkan dirinya pada Hinata. Mencoba melihat lebih lekat wajah gadis indigo itu.
"…"
Sedetik melihat-
Alis sang Uzumaki bertaut sekilas, saat menatap wajah Hinata. Terlihat raut lelah, pucat serta entah sejak kapan ia tidak sadar kalau tubuh gadis ini semakin kurus saja. Dia yang tidak pernah memperhatikannya atau terlalu enggan untuk sekedar mengecek kondisi tubuh Hinata?
Tangan tan itu perlahan kembali terangkat, manik Saphirenya menatap sendu. Hilang sudah rasa bencinya pada gadis Hyuyga di hadapannya sekarang. Apa yang harus ia lakukan saat Hinata terbangun nanti? Apa Naruto harus kembali pada sifat dinginnya? Berpura-pura tidak tahu? Atau bersikap sebaliknya-
"Hyuu-" ucapannya terhenti, di kala melihat erangan pelan keluar dari bibir sang empunya. Reflek tangan yang sempat ingin menyentuh pipi Hinata tertarik. Pemuda pirang itu memundurkan tubuhnya.
"Ungh~" hembusan angin yang membelai pipi serta rambutnya membuat manik Lavender itu mengerjap singkat, tangan putihnya bergerak perlahan. Hinata merenggangkan tubuhnya, masih dalam keadaan tidak sadar bahwa kini tidak hanya ada dirinya saja di tempat ini.
"….."
Dan tepat saat matanya perlahan-lahan terbuka-
"Sudah bangun?"
Suara seseorang di sampingnya sukses menyentakkan Hinata, tubuhnya menegang, dan matanya yang tadi masih menyipit kini terbelalak seketika-
Hilang sudah rasa mengantuknya tadi.
Hati-hati ia menolehkan wajahnya, berharap dalam hati kalau suara itu hanya sekedar ilusinya saja.
"E..eh?"
Tapi ternyata-
"Hyuuga."
Bukan mimpi, maniknya semakin membulat saat melihat seorang pemuda pirang kini terduduk menyender di dekatnya. Kedua Saphire di sana masih memandangnya lekat, tetap dingin seperti biasa, wajah yang terlihat datar, dan tidak ada raut apapun.
Sontak Hinata menundukkan wajahnya, jemari-jemarinya saling meremas tanpa sadar. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa?! Ini terlalu mendadak. Kenapa, Naruto bisa ada di sini?! Bukannya hanya dia dan Kakashi-sensei yang tahu tempat ini?! Lalu apa Naruto membuntutinya sampai kemari? A..atau-
"Kau kaget aku bisa ada di sini?"
Tepat, Naruto seolah bisa membaca pikirannya. Tubuh Hinata semakin menegang. Berusaha keras mengatur napas serta detak jantungnya, Ia mencoba mengembalikan akting terbaiknya-
"….."
Wajah cantik itu terangkat perlahan, manik Lavendernya menatap Naruto dingin-
"Kalau aku jawab iya, apa yang ingin kau jelaskan Uzumaki-san?" suara sang Hyuuga terdengar datar, dan menusuk. Tidak ada lagi raut gugup atau cemas, semuanya menghilang dalam sekejap.
Saphire dan Lavender saling bertemu, melempar pandangan, angin yang berhembus di sekitar mereka seakan tidak ingin mengganggu kedua remaja itu-
"Apa yang ada di pikiranmu, Hyuuga? Aku yang sengaja membuntutimu atau aku yang pertama kali mengetahui tentang tempat ini?" singkat, cepat, dan datar. Pertanyaan Naruto membuatnya gelisah, Ia tidak tahu harus berkata apa?
Menjawab begitu saja? Tanpa Hinata sadari, sebuah keringat dingin mengucur perlahan dari pelipisnya, gadis itu meneguk ludahnya.
Mencoba mempertahankan topeng miliknya-
"Huh? Pikiranku? Seperti kau tahu saja, Uzumaki-san. Aku hanya bertanya, dan kalau kau tidak berniat untuk memberitahu. Itu bukan urusanku," meremas jemarinya, Hinata segera menyimpan kembali handphone yang entah kenapa kini berada di tangannya. Ia ingin pergi dari sini-
Hinata takut kalau saat ia tertidur tadi terjadi sesuatu, apa ia melakukan hal-hal yang aneh atau yang lainnya.
Mengigau, itu yang paling di hindarinya-
Mencoba bangun kembali, dari posisinya, "Kau mencariku kemari karena diminta oleh Kurenai-sensei bukan? Sekarang kau sudah menemukanku." Hinata sudah menebak kalau ia tertidur dan sedikit terlambat masuk ke dalam kelas.
Tapi yang tidak bisa ia perkirakan kenapa malah Naruto yang harus mencarinya? Tidak adakah orang lain lagi?
"…"
Ah, gadis itu lupa-
'….'
'Semua orang di kelas sudah tidak suka lagi denganku,' membatin pelan, manik Lavendernya kembali meredup. Hinata meringis dalam hati-
"Aku akan kembali ke-" dan sebelum sempat bangkit dari posisinya-
Grep!
Sebuah tangan kekar menghentikan tubuhnya, tangan itu sukses menggenggam erat tangannya. Membuat Hinata tidak bisa bergerak lebih jauh, dan terpaksa memilih untuk memandang sang empunya-
"Kh, apa yang kau lakukan Uzumaki?!"
Kenapa lagi-lagi Naruto bersikap seperti ini? Setelah di lorong tadi, sekarang di sini?! Hinata benar-benar harus bertahan.
"….." tidak ada jawaban, kedua bola mata pemuda pirang itu malah menatapnya, semakin dalam dan lekat. Mencoba mengais-ngais sesuatu darinya.
"Uzumaki!" Ia takut.
"Siapa bilang aku mencarimu karena permintaan Kurenai-sensei." Ucapan Hinata tadi sukses berbalik kembali pada gadis itu.
Hinata semakin meringis, dan merutuki bibirnya. Mana mungkin Naruto mencarinya? Itu kan hanya khayalannya saja!
'Hinata Baka!'
"Aku hanya menebak Uzumaki-san, kalau memang semua yang kukatakan tidak benar. Aku tidak peduli!" berseru kecil, Hinata langsung mencoba melepaskan genggaman tangan Naruto. Tenaga pemuda pirang itu begitu kuat, Ia yang jago dalam bela diri saja harus bersusah payah melepaskannya.
"Kh! Le..paskan tanganmu dari pergelanganku!" menarik tubuhnya semakin keras, tapi nihil. Genggaman Naruto malah mengencang-
"Aku membencimu Hyuuga."
"…"
Deg! Jantung Hinata berdetak kencang, saat mendengar perkataan dingin sang Uzumaki. Kenapa Naruto tiba-tiba mengatakan hal itu?! Apa sebegitu bencinya kah, pemuda ini padanya?
'Tahan Hinata, tahan!'
"Aku sudah tahu, Uzumaki-san! Jadi lepaskan tanganmu!" mencoba mengeraskan suaranya, dan berusaha tegar, tapi usahanya sia-sia-
"Sikap, paras, dan perkataanmu berubah drastis." Ucapan Naruto masih berlanjut, seiring dengan tarikannya yang semakin menguat. Membuat tubuh Hinata perlahan-lahan tertarik menghampiri sang empunya-
"Ugh! Lepas!" gadis itu masih memberontak.
"Kau tahu seberapa sakitnya aku saat mendengar kalau kau hanya memanfaatku? Sakit sekali, Hyuuga." Suara itu semakin tertekan,
Hinata berusaha keras untuk melawan, jemarinya semakin mengeras, dan tak ayal ia menggigit bibir bawahnya. Menahan air mata yang sudah tidak tahan lagi untuk segera jatuh.
'Tahan Hinata, kau harus bisa!'
Ia memang sudah siap dengan segala resiko yang di berikan ayahnya. Mendengar perkataan Naruto, membuat dadanya seakan tersayat-sayat.
'Maaf, maaf Naruto-kun. Maafkan aku.' Dalam hati Hinata sudah berulang kali mengucapkan kalimat 'maaf'
Tapi tidak untuk dirinya sekarang, yang hanya terlihat di luar justru wajah tersenyum singkat-
"Aku tidak peduli, Uzumaki-san. Akan lebih baik kalau kau tahu kebenarannya dengan cepat, dan berusaha mencari yang lebih baik dariku. Bahwa seorang Hyuuga sepertiku tidak pernah menyukaimu, bahkan setitik pun." Ujarnya cepat,
Manik Saphire itu masih menatapnya lekat-
Seakan tidak ingin ia lari lagi-
"Benarkah?"
"Apa?"
"Tatap mataku kalau kau ingin mengatakan itu semua. Katakan kalau kau memang tidak pernah menyukaiku, Hyuuga!" suara Naruto meningkat, menyentakkan tubuh Hinata.
Menghentikan pergerakan sang empunya sesaat-
"…"
Sampai-
"Aku…aku tidak menyukaimu Uzumaki-san! Aku tidak menyukaimu!" menggeleng kencang, Hinata menatap wajah Naruto gusar. Teriakan demi teriakan muncul dari bibirnya. Tubuhnya bergetar, menahan tangis-
"Aku..tidak pernah menyukaimu, puas! Berapa kali kau ingin aku mengatakan itu, hah?!" Ia meronta, menggigit bibir bawahnya keras, tubuhnya semakin melemas, dan-
"Lepaskan…tanganku Uzumaki, kau..kau sudah dengar bukan? Aku..menatap matamu sekarang-" sebuah senyuman yang di paksakan terlihat.
"Kumohon, lepas-" Hinata menundukkan kepalanya-
Tesss, liquid bening itu kembali terbebas dari tempatnya, jatuh dan sukses membasahi pipi beningnya. Ia tidak tahan melihat wajah Naruto, kata-kata ayahnya terus terngiang di pikirannya.
Apa yang harus ia lakukan?
Tangannya yang melemah, masih setia melepaskan genggaman Naruto-
"Uzumaki, hiks, hiks-le..pas-"
Sebelum-
"Maaf."
Grepp!
Sebuah tarikan yang begitu lembut membuat tubuh lemas Hinata tertarik dengan mudah.
"Eh?"
Sebuah pelukan yang hangat menghampirinya, kedua lengan kekar itu melingkari tubuhnya. Maniknya terbelalak lebar, Hinata terlalu kaget untuk segera menyadari semuanya.
Hembusan napas yang mengenai lehernya dikala Naruto semakin menenggelamkan wajahnya. Membuat tubuhnya semakin lemas, air asin yang semakin lama semakin deras turun membasahi pipinya, dan jatuh mengenai pundak sang Uzumaki.
"Hinata."
Suara lembut itu membuat wajahnya memanas, detak jantungnya semakin tak beraturan, isakan-isakan kecil terdengar pelan. Hinata sudah tidak bisa menahan semuanya, gadis itu semakin menjadi-jadi saat mendengar-
"Kau menangis lagi." Entah itu pertanyaan atau pernyataan, pikirannya sudah melayang kemana-mana. Jemarinya yang tadi melemas perlahan-lahan bergerak naik. Merayap menuju punggung lebar Naruto.
Apa semua aktingnya akan terbongkar sekarang? Haruskah ia mengatakan semuanya pada Naruto?
"Lepaskan-hiks-hiks, Naruto-kun."
Suffix yang sudah lama tak ia keluarkan, langsung terucap begitu saja. Isakan demi isakan mewarnai suaranya,
"Saat kau tertidur tadi kau memanggil namaku, nama teman-teman."
Kembali-
"…"
Manik Lavendernya membulat untuk yang kesekian kali, ternyata benar apa yang ia takutkan. Dirinya mengigau tanpa sadar.
Dalam pelukan pemuda Uzumaki itu, Hinata menggeleng lemah. "Aku..tidak mungkin-" sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya. Pelukan Naruto semakin mengerat, dan tanpa mengatakan apa-apa.
"Kami tidak akan meninggalkanmu." Sebuah kecupan yang lembut mendarat di pipinya, menghapus jejak air mata Hinata pelan. Suara itu terasa sangat menenangkan-
"….."
Sekaligus menyesakkan-
Itukah yang ia katakan dalam mimpi? Tidak ingin semua teman-temannya pergi meninggalkannya.
"Hiks-hiks-"
Tidak boleh-
"Sebelum kau berteman dengan mereka, Tousan memang berencana ingin membunuh semua anak penggangggu itu."
Ini sudah melebihi batas, kalau-
Kalau semua anak buah ayahnya tahu. Naruto, nyawanya-
"Maaf, Naruto-kun, ku..mohon jangan dekati aku lagi-" melepaskan diri dari pelukan Naruto. Ia mendorong dada bidang itu perlahan, tidak mengidahkan tatapan bingung sang Uzumaki saat melihat berapa banyaknya air mata yang kini merembak di pelupuknya.
"Tidak apa-apa Naruto-kun membenciku, itu yang kuharapkan." Bangkit dari posisinya kembali, tangan putih itu menghapus air matanya.
Mengeluarkan senyuman perih, serta menatap pemuda pirang yang sampai sekarang masih terduduk di sana.
"Jauhi aku dan anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi." Manik Lavender itu kembali meredup, sinarnya menghilang. Tatapan dan tangisan lemahnya menghilang seketika, berganti dengan pandangan datar. Senyuman yang terlihat sekilas.
"Hinata, apa yang kau-"
"Jangan dekati aku lagi, bencilah padaku, berhentilah bersikap seperti itu. Di dunia ini masih banyak gadis yang menyukaimu, Naruto-kun."
Mengucapkan kalimat terakhirnya, Hinata menundukkan wajahnya pelan, dan berjalan pergi dari tempat itu.
"…"
Meninggalkan pemuda Uzumaki di sana terdiam, membeku-
"…."
Kata-kata Hinata tadi sukses membuatnya semakin bingung, kesal, dan yang paling ia pikirkan.
Kenapa Hinata ingin ia membencinya?! Memintanya untuk mencari gadis yang lebih baik dari sang Hyuuga.
"….."
"Ck,"
Berdecak singkat, kepalan tangannya menguat, manik itu menatap kepergian Hinata-
"Jangan bercanda Hinata!"
.
.
.
.
.
.
Lorong kelas~
Menundukkan wajah, Hinata menatap pintu kelasnya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Apa ia sudah berhasil meyakinkan Naruto? Apa sekarang air matanya ini sudah tidak jatuh lagi.
Ia harap sudah-
"Maaf." Bergumam kecil, gadis cantik itu berjalan menuju kelasnya. Pikirannya sudah terlalu lelah untuk sekedar memikirkan bagaimana reaksi teman-teman serta Kurenai-sensei.
[….]
Grekk-
Pintu kelas terbuka pelan, sukses membuat semua murid di sana kompak menolehkan wajah ke arah sumber suara, menampakkan sang gadis Hyuuga. "Gomen, saya terlambat Sensei." Menatap sekilas wajah Kurenai, Ia menunduk pelan sebelum akhirnya berjalan menuju bangkunya sendiri.
Sampai sebuah teriakan kecil menghentikan gerakan Hinata-
"Naruto dimana?"
"….."
Matanya melihat, sesosok gadis pirang kini tengah berdiri dan menampakkan raut tak suka padanya. Sedangkan dirinya hanya terdiam, dan masih mempertahankan wajah datar di wajahnya.
"Aku tidak tahu." Menjawab singkat, Hinata benar-benar sudah lelah untuk sekedar menjawab panjang lebar pertanyaan Shion. Ia ingin duduk sekarang juga-
Tapi-
"Apa kau bilang?! Naruto itu mau bersusah payah mencarimu, dan sekarang kau hanya mengatakan tidak tahu!" teriakan itu semakin terdengar jelas.
"Shion, duduk kembali. Sensei tidak ada menyuruhmu untuk berteriak di dalam kelas." Kurenai langsung menengahi kedua muridnya. Tatapan wanita cantik itu pun tak ayal ikut teralih ke arah Hinata.
"Kh!"
"…"
"Kau benar-benar tidak bertemu dengan Naruto, Hinata? Tadi dia sendiri yang ingin mencarimu."
Dan ucapan sang Sensei sontak menegangkan tubuh gadis indigo itu, kedua jemarinya meremas kembali-
'Naruto-kun, mencariku? Tapi bukannya-'
"Siapa bilang aku mencarimu karena permintaan Kurenai-sensei."
Ucapan Naruto tadi terbayang di otaknya, pemuda pirang itu memang sengaja mencarinya, bukan karena permintaan tapi karena keinginannya sendiri.
"…"
Kau harus kuat, Hinata!
Berusaha tenang, gadis indigo itu menghembuskan napasnya perlahan, sampai akhirnya ia menatap untuk yang kesekian kali pada Kurenai-sensei.
"Aku tidak bertemu dengan Uzumaki-san, Sensei. Maaf." Dan dengan perkataan singkat itu, Hinata berjalan kembali menuju tempat duduknya. Tanpa mengidahkan tatapan kesal, serta decihan-decihan yang di tunjukkan padanya.
"Baiklah, kalau begitu. Mungkin sebentar lagi, Naruto kembali." Ujar sang Sensei,
Seolah masih tidak terima, kini giliran Shion yang bangkit dari tempat duduknya-
"Sensei, aku boleh mencari Naruto?" gadis pirang itu ingin meminta ijin. Manik Lavendernya menatap kesal ke arah Hinata.
Grekkk-
Sebelum Kurenai memberi ijin pergi, pintu kelas kembali terbuka, "Kau tidak usah mencariku, Shion." Orang yang menjadi bahan perhatian kini berdiri tepat di sana.
Dengan senyuman seperti biasanya, langsung saja membuat Shion tersentak, "Naruto, kau kemana saja tadi? Kenapa malah Hinata yang datang lebih dulu?" Tanyanya cepat,
Sedangkan Naruto hanya diam, tidak menjawab, dan memilih memandang gadis indigo yang sekarang tengah terduduk di tempatnya. Sama sekali tidak ada melirik ke arahnya, Hinata lebih memilih memandang keluar jendela, walau dalam hati sang Hyuuga sudah meremas kedua jemarinya erat.
"Naruto?"
"Ah, apa Hyuuga tadi mengatakan kalau aku menemukannya?" Naruto menanyakan hal itu pada Shion. Menatap wajah gadis pirang itu seraya berjalan menuju tempatnya, tak lupa meminta izin pada Senseinya.
"Tidak, Hinata sendiri yang mengatakan kalau dia tidak melihatmu." Shion menjawab cepat.
"…"
"Begitu."
Tahukah kalau kini Hinata menggigit bibir bawahnya untuk yang kesekian kali, nada suara yang di keluarkan pemuda Uzumaki itu membuat perasaan bersalah menghinggapinya semakin dalam.
Naruto melangkahkan kakinya, tanpa mengidahkan tatapan heran dari yang lainnya. Pemuda pirang itu malah berjalan menghampiri Hinata, membuat Hinata yang mendengar jelas langkah kaki sang Uzumaki sedikit takut. Ia lebih memilih memfokuskan diri keluar jendela.
"Naruto, bangkumu ada di sini, bukan di sana." Kiba menginterupsi pergerakan sahabatnya.
Walau sepertinya sia-sia, karena melihat langkah kaki Naruto yang tidak berhenti-
"Naruto-"
Sampai-
"…"
"Tidak ada ucapan terima kasih untukku, Hyuuga?"
Kaget, Hinata merasakan Naruto kini berdiri tepat di sampingnya. Menghalangi seluruh pandangan teman-teman padanya.
"….." gadis itu masih mencoba diam, tidak ada niat untuk menjawab. Sedangkan Kurenai-sensei yang mulai bingung dengan sikap Naruto, entah kenapa tak bisa menghentikannya.
"Naruto, kau bisa kembali ke tempatmu." Ujar Sensei cantik itu memperingatkan.
Sebuah senyum tampan segera Naruto berikan, "Beri aku waktu dua menit untuk mendapatkan ucapan terima kasih dari Hyuuga, Sensei." Ucap pemuda itu balik.
Tidak ada pilihan lain, "Hah, baiklah~"
"…"
Apa yang harus ia lakukan?! Hinata gugup, namun mencoba tenang. Wajah gadis itu sudah menunjukkan kegusaran, merilekskan jemarinya yang menegang tapi percuma.
"Aku yakin kau tidak mau mendengar ucapan terima kasih dariku, Uzumaki." Ah, suara dingin itu kembali keluar.
"….."
"Jadi kembalilah ke tempatmu." Lanjut Hinata saat tak mendengar respon Naruto.
"….."
"Aku ingin dengar, Hyuuga. Aku sangat ingin mendengar suaramu mengucapkan terima kasih padaku."
"Arigatou, Uzumaki." Singkat, Hinata mengatakan kalimat itu dengan cepat. Sedangkan matanya masih setia memandang keluar jendela.
Naruto terdiam, mendengar perkataan gadis di hadapannya. Ia tahu, kalau untuk kali ini lagi-lagi Hinata berubah. Menjadi gadis yang dingin, sangat berbanding terbalik dengan tadi.
Pemuda pirang itu hanya menghela napas, dan melangkahkan kaki kembali pada tempat duduknya.
"….."
"Baiklah, Sensei mulai pelajarannya kembali."
.
.
.
.
.
Teng, Teng~
Menghabiskan waktu berjam-jam di sekolah, akhirnya bel pulang berbunyi keras. Semua segera bersiap-siap untuk pulang. Dan untuk Hinata-
Gadis itu menatap layar handphonenya terus menerus, sedikit merasa aneh saat mendapatkan pesan dari kakaknya.
Neji-
From : Neji-niisan
Hari ini, Niisan tidak bisa menjemputmu. Jadi Iruka-san yang akan datang ke sekolah.
Kedua alisnya saling bertaut, pemberitahuan sang kakak begitu mendadak. Apa ada sesuatu yang ingin ia lakukan sampai-sampai tidak bisa menjemputnya?
'Mungkin saja-' mengendikkan bahunya sekilas, Hinata tidak ingin berpikir lebih jauh. Ada baiknya kalau sekarang ia pulang dan beristhirahat.
Gadis itu segera merapikan seluruh buku-bukunya, dan beranjak pergi dari kelas-
Sebelum tak sengaja ia melihat, kelima sahabatnya masih berada di kelas. Tengah berbincang-bincang dan membuatnya semakin risih untuk berada di tempat ini.
'Aku ingin cepat pulang.' Melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kelas-
"Gomen, hari ini aku tidak bisa pulang bersama kalian!"
Suara Naruto menyentakkan tubuhnya, membuat sang empunya reflek menolehkan wajah dan menatap pemuda pirang itu.
Ada rasa penasaran yang menghampirinya-
"Hee, kenapa? Katanya hari ini kita makan di Ichiraku!" Sakura berdecak kesal, diikuti anggukan kepala Shion. Sedangkan Sasuke serta Kiba yang diam dan memilih untuk menunggu di luar.
Pemuda Uzumaki itu mengeluarkan cengiran rubahnya, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ada urusan penting yang harus kuselesaikan sekarang, jadi sekali lagi maaf!" tanpa menunggu respon kedua gadis di hadapannya. Naruto berlari keluar dari kelas, dan entah ini perasaanya saja atau tidak-
Saat ia berlari, pandangan Saphire itu-
"….."
Tertuju sekilas padanya-
Lavender itu melihat tatapan Naruto yang menatapnya. Walau hanya sekilas-
Tapi cukup membuat gadis itu bingung dan merasakan ada yang aneh dengan sikap sang Uzumaki. Sungguh, sejak awal membuka matanya di gedung belakang sekolah. Ia sudah menangkap keanehan dari pemuda pirang itu.
Baik sikap dinginnya yang berubah, dan-
"…"
Tungggu sebentar!
Hinata mengingat tanpa sadar, bayangan di belakang gedung tadi. Saat ia terbangun, handphone yang seharusnya tidak berada di tangannya-
Tapi tiba-tiba saja-
Berada di sana-
"Jangan-jangan-"
Gadis itu tanpa menunggu lebih lama lagi, langsung mengambil kembali handphonenya, dan memeriksa bagian history.
Dan benar saja-
Sebuah panggilan yang seharusnya tak ia jawab, di sana terjawab. Dan sudah dapat Hinata tebak, kalau Naruto-lah yang mengangkat panggilan dari kakaknya.
"…."
Hari ini, Niisan tidak bisa menjemputmu. Jadi Iruka-san yang akan datang ke sekolah.
Niisannya tidak bisa menjemput, Naruto yang tidak bisa pulang bersama teman-temannya. Kenapa bisa bersamaan seperti itu?!
"…"
Hinata menggelengkan kepalanya tak percaya, "Niisan tidak boleh bertemu Naruto-kun, tidak boleh!" tanpa sadar ia berteriak kecil, dan langsung saja menyambar tasnya. Berlari keluar kelas,
Sama sekali tidak menghiraukan kalau tadi-
Sakura dan Shion mendengar jelas teriakan kecil gadis itu-
"….."
Kedua remaja cantik itu saling menoleh, melemparkan tatapan bingung, "Kau mendengarkan tadi?" ucap Sakura.
"Iya-"
"Apa maksudnya Niisan tidak boleh bertemu Naruto?" Sakura mengernyit heran.
"Kalau Niisan itu berarti,"
"Neji!"
.
.
.
.
.
Masih terus berlari, napas Hinata terengah-engah. Manik Lavendernya panik mencari Naruto, Ia benar-benar berharap kalau pemuda pirang itu belum terlalu jauh darinya. Mengingat bahwa baru sepuluh menit yang lalu mereka berpisah.
"Naruto-kun, dimana kau?" bingung, cemas, bercampur menjadi satu. Gadis itu tidak tahu harus mencari dimana lagi kecuali gerbang sekolah yang kini masih di jaga oleh anak buah ayahnya.
Menggeleng pelan, "Tidak..boleh, Naruto-kun kumohon jangan bertemu dengan Niisan. Kalau..kalau sampai Tousan tahu..aku..aku-" suaranya bergetar, membayangkan sesuatu terjadi pada orang yang di cintainya.
Dan tepat saat ia berlari di lorong-
Matanya langsung menangkap sosok yang ia cari-cari-
"Naruto-kun!" tapi sayangnya, pemuda pirang itu sudah berada jauh di sana, berjalan sendiri di tengah keramaian murid-murid, tepat menuju gerbang sekolah.
'Aku harus cepat!' berlari semakin kencang, tak ayal tabrakan-tabrakan kecil ia lakukan. Sudah terlalu panik untuk menyadari itu-
"Tunggu!"
"…."
"…."
Langkah kakinya semakin di percepat, berlari terus berlari, menggunakan kakinya yang terlatih-
Ia harus mencegah Naruto-
"Tung-"
Tidak-
Manik itu melihat sendiri, Naruto yang masuk ke dalam sebuah mobil. Kendaraan yang hanya ialah tahu, mobil yang di buat khusus untuk kakaknya, dan hanya dirinya yang tahu tentang itu, tidak anak buah sang ayah atau siapapun.
"Jangan, Niisan!"
Berlari terus, Hinata ingin segera menyusul kakaknya kalau saja-
"Hinata-sama!" Ia tidak melupakan kalau kini para penyamar di dekat gerbang itu berjalan menuju ke arahnya dengan wajah heran.
"A..ah!" langkahnya terhenti, Hinata reflek terdiam.
"Anda sudah pulang?" Tanya salah satu pembersih kebun yang notabene adalah anak buah ayahnya.
"I..iya,"
"Kalau begitu ada baiknya kita pulang sekarang." Salah satu penjaga gerbang berbadan kekar, kini ikut menghampirinya.
Tidak tahu harus berbuat apa, pandangan sang Hyuuga semakin linglung. "Ta..tapi-"
"Ada masalah, Hinata-sama?"
"Ti..tidak!"
"Kalau begitu ayo."
Haruskah ia pulang, sementara hatinya masih tidak tenang memikirkan kakak serta Naruto.
Siapa saja tolong bawa ia pergi dari sini!
"Hinata-sama akan pulang bersamaku."
Suara berat di belakangnya, sontak membuat sang empunya berbalik, dan betapa senangnya saat ia melihat-
"Kakashi-sensei!" sesosok penolong yang sangat ia inginkan kini berada di sana. Laki-laki berambut perak itu tersenyum singkat,
"Tapi hari ini, Iruka yang-"
Memotong perkataan pemuda berbadan kekar itu, "Dia tidak bisa, jadi aku yang akan mengantarkannya pulang."
"Kakashi-san-"
"Kalian meragukanku?" pandangan tajam langsung Kakashi berikan. Sukses membuat membuat semua orang di sana meneguk ludah bersamaan. Siapa yang berani melawan laki-laki ini, salah satu tangan kanan majikan mereka.
"…"
"Tidak."
Mendengus singkat, "Bagus, ayo Hinata-sama." Mengajak Hinata menuju mobilnya, tanpa basa-basi gadis itu mengangguk setuju.
"Um!"
[…]
Masuk ke dalam mobil dengan cepat, Hinata menatap khawatir ke arah Sensei-nya. Ia tahu kalau sekarang mengejar Naruto, mobil yang di kendarai kakaknya itu pasti sudah jauh dan tidak mungkin bisa terkejar lagi.
"Se..sensei, ke..kenapa bisa ada di belakangku tadi?" Tanya gadis itu bingung, walaupun sebenarnya Hinata sangat bersyukur karena ada seseorang yang datang menolongnya.
Kakashi yang segera duduk dan menghidupkan mobilnya, tersenyum kecil, "Tadi aku mendengar suara teriakan Hinata-sama memanggil nama Naruto terus menerus."
"…"
Dan ucapan laki-laki perak itu sukses membuat Hinata meringis pelan, kedua jemarinya saling tertaut kembali.
"A..aku khawatir Sensei,"
Mengernyit singkat, tak ayal Kakashi heran, "Memangnya ada apa dengan Naruto?"
"Na..Naruto-kun, dia..sepertinya ingin membicarakan sesuatu dengan Niisan. Tadi aku melihat jelas kalau mobil yang jarang di pakai Neji-nii, terparkir di gerbang sekolah. Dan-" terdiam sejenak, tatapan cemas untuk yang kesekian kalinya menghampiri sang Hyuuga.
"Naruto-kun masuk ke dalam mobil itu, a..aku yakin sekali kalau di dalam sana ada Neji-nii. Jadi..kalau terjadi sesuatu pada mereka berdua, aku takut." Menundukkan wajahnya, Hinata benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Bibirnya terlalu kelu untuk berbicara lebih lanjut-
"…"
Sedangkan Kakashi yang mendengar semua penjelasan Hinata, ikut terdiam. Kedua alisnya bertaut, mulai merasakan ada yang aneh. Perasaannya mulai merasakan gelagat yang tidak benar, dimulai dari cegatan sang anak buah majikannya pada Hinata.
"Kakashi-sensei-" membuyarkan lamunan sang Sensei.
"Hinata-sama, aku boleh bertanya pada Anda?"
"E..eh? Tentu saja-"
Menatap Hinata dengan pandangan serius, "Apa mobil yang di kendarai Neji-sama, hanya di ketahui oleh Anda saja?" pertanyaan Kakashi, sukses membuat Hinata bingung-
Berpikir sejenak, setahunya mobil itu hanya di ketahui oleh Neji, dia, dan Hanabi. Mereka bertiga memang sengaja menyembunyikan kendaraan itu di suatu tempat yang sedikit jauh dari rumah.
"Hanya aku, Neji-nii, dan Hanabi yang tahu tentang mobil itu. Me..memangnya kenapa Kakashi-sensei?"
"…" masih terdiam, dan mencoba berpikir cepat.
"Hinata-sama, saya ragu kalau Hiashi-sama tidak mengetahui sama sekali tentang mobil itu."
Terhenyak, Hinata menggeleng cepat, "Tidak mungkin, Sensei. Neji-nii sendiri sudah menyembunyikan keberadaan mobil itu diam-diam. Jadi-"
"Anda tahu kalau tidak hanya saya yang selalu di pasangkan dengan sebuah penyadap oleh Hiashi-sama."
"….."
Membelalakkan matanya, gadis itu benar-benar bingung, "To..Tousan tidak mungkin menyimpan kamera penyadap pada keluarganya sendiri-" dan sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya.
Laki-laki perak di sampingnya, menatap wajah Hinata singkat, dan segera menjalankan mobilnya.
"Keberadaan mobil Neji-sama pasti sudah di ketahui oleh ayah Anda,"
"Di dalam dunia Yakuza, Hiashi-sama bisa bertindak lebih serius dari apa yang Anda bayangkan. Demi mempertahankan kelompok besar yang telah di wariskan turun temurun padanya. Hinata-sama harus tahu, kalau sudah menyangkut hal seperti itu. Hiashi-sama tidak akan segan-segan."
Meneguk ludah cepat, tubuh Hinata bergetar perlahan-lahan, pikirannya mulai melayang kemana-mana. Wajahnya memutih, perkataan Kakashi yang sukses membuatnya membeku, dan mencoba untuk mengelak semua itu-
"Ne..Neji-nii pasti sudah memikirkan cara, Nii..Niisan itu jenius Kakashi-sensei!" elaknya cepat.
"…"
"Jika Neji-sama adalah orang yang jenius, maka Hiashi-sama berkali-kali lipat lebih jenius daripada kakak Anda."
Jantung sang Hyuuga berdetak semakin cepat-
.
.
.
.
.
Sementara kembali pada Naruto dan Neji~
Naruto yang terduduk di tempatnya, terus memandang ke arah pemuda berambut panjang di sampingnya. Neji terlihat begitu fokus dengan jalanan di depan.
"Oi, Neji jadi kau ingin membicarakan apa denganku?" merasa tidak tahan hanya diam, dan menunggu. Ia lebih memilih untuk memulai percakapan.
Dan entah apa yang di dengarnya, Neji malah mendecih singkat, dan melirik ke arah Naruto sekilas. Manik itu memandang sang empunya lekat, laju mobil yang di kendarainya malah semakin di percepat.
"Oi! Jawab pertanyaanku-"
"Naruto-"
"Hah?"
Suara tiba-tiba yang terdengar di dalam mobil, sontak membuat sang Uzumaki menaikkan alisnya, kenapa rasanya suasana di dalam sini semakin menakutkan? Apa hanya perasaannya saja?
"Berpegangan-lah."
Kalimat yang singkat terucap dari bibir Neji, dan tanpa menunggu respon Naruto, "Apa yang kau-uwaaa!"
Pemuda coklat itu menambah laju mobilnya, tidak menghiraukan sama sekali bagaimana berbahaya perbuatannya.
"Oi! Oi!"
Ckittt!
Manik Saphire itu menatap ngeri pemandangan di hadapannya, Neji dengan luwesnya menyalip kendaraan-kendaraan di sana. Lewat kiri, kanan, melaju lurus dan semakin kencang. Decitan demi decitan ban mobil yang saling bersentuhan dengan jalan terdengar keras.
Ckitttt! Ckittt! "Huwaaa! Neji, ada yang menyebrang! Ada yang menyebrang!" Naruto berteriak saat melihat beberapa orang yang ramai-ramai menyebrang jalan.
"Cih!"
Ckittt!
Dan bukannya merespon ucapan Naruto, pemuda itu malah berbelok mencari jalan lain. Membuat sang empunya yang sama sekali belum siap, sukses hampir terjatuh dari tempat duduknya.
"Kau gila!" teriakan demi teriakan muncul, Naruto hanya ingin berbicara dengan sang Hyuuga bukan main cari mati seperti ini!
"Diamlah." Suara tenang dan datar, semakin membuat Naruto kesal. Daritadi ucapannya tidak di hiraukan dan sekarang hanya di jawab singkat!
"Shit! Neji, kau ingin membunuhku! Setidaknya bisakah kau mengendarai mobilmu dengan benar!" mengeluarkan rutukan-rutukannya.
"Kurasa lebih baik aku mengatakan semuanya di sini." Mengidahkan perkataan Naruto, Neji yang terlihat masih fokus, langsung bertanya cepat-
"Ha?! Bukannya kita akan berbicara di-"
"Dengar dan aku hanya akan mengatakannya satu kali padamu."
Mobil itu semakin melaju kencang, suara decitan itu terdengar keras, suara klakson mobil yang mendengung di belakangnya membuat pemuda coklat itu semakin mendecih kesal.
Sementara Naruto-
Pemuda pirang itu malah terdiam, "Kenapa kau terlihat panik seperti itu?" Tanyanya cepat.
"….."
"Kau, sekarang lihatlah melalui kaca di sampingmu."
"Kaca?" meski bingung, tapi tetap saja. Naruto melakukan apa yang di katakan Neji. Pemuda pirang itu segera menolehkan wajahnya, menatap kaca spion di dekatnya.
"….."
Dan-
Manik itu untuk yang kesekian kalinya kini terbelalak lebar, tak percaya atas apa yang di lihatnya sekarang. Perasaan aneh menghampirinya, saat melihat semuanya-
"I..itu, kenapa banyak sekali mobil di belakang kita?!" sang Uzumaki sukses bertambah panik, semua mobil di belakangnya terus menerus mengeluarkan bunyi klakson yang seakan-akan meminta mereka untuk berhenti melaju.
"Mereka..mereka bukan polisi kan?! Gara-gara kau melajukan mobilmu terlalu cepat!"
"Baka, mana mungkin ada polisi sebanyak itu hanya untuk menangkap kita!"
Perkataan Neji sepenuhnya benar, Naruto melihat ada hampir lima mobil yang terlihat mahal mengejar mereka.
"Apa yang harus kita lakukan!"
Neji menatap tajam ke arah Naruto, "Kau benar-benar ingin tahu kebenaran tentang sikap Hinata beberapa bulan ini?" Tanya sang empunya cepat.
"….."
Kepanikan pemuda pirang itu mengendur saat mendengar nama Hinata tersebut, dirinya malah ikut memandang sosok pemuda di sampingnya.
"Ya." Menjawab dengan mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.
Untuk yang kesekian kalinya, "Kau akan melakukan apa saja yang kuminta,"
Terdiam sesaat-
"Apa maksudmu?"
"Untuk kebaikan Hinata."
Kebaikan-
Hinata?
Sebenarnya apa yang terjadi?!
"Ya, kalau memang itu untuk kebaikan Hinata. Aku akan melakukan apa saja."
"…"
Tanpa Naruto sadari, sebuah senyuman tipis terulas di bibir Neji. Tidak menyangka sama sekali, kalau jawaban yang di berikan Naruto bisa secepat ini.
"Kalau begitu dengarkan semua yang kukatakan dan aku hanya akan meminta satu permintaan padamu-"
Semakin menunjukkan wajah herannya, pemuda pirang itu mengangguk singkat.
"Sekarang kau lihat mobil-mobil yang ada di belakang kita?"
Melirik ke belakang, beberapa mobil mewah di sana masih terus mengejar mereka, "Ya, sebenarnya siapa mereka?"
Tanpa menunggu lama, Neji menjawab cepat, "Mereka adalah anak buah ayahku,"
"….."
"A..apa! Anak buah, maksudmu-"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya sekarang! Aku benar-benar tidak menyangka kalau orang tuaku akan berbuat sejauh ini." Mendecih singkat,
Naruto masih mencoba menyimak-
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?!"
Memandang sang Uzumaki sekilas, "Tidak lama lagi kita berdua pasti tertangkap, dan aku ingin kau melakukan satu hal padaku. Pasang telingamu, baik-baik Naruto."
Tepat saat suara Neji terdengar semakin jelas, Ia mempertajam pendengarannya. Mendengarkan semua perkataan demi perkataan yang terlontar dari sang Hyuuga.
.
.
.
.
.
"Kita harus cepat, Kakashi-sensei!" Hinata berseru kecil, gadis itu sudah semakin panik saat tidak melihat adanya tanda-tanda yang membaik dari kedua orang yang di sayanginya.
"Tenanglah, Hinata-sama. Kita sudah tahu dimana tempat Neji-sama berada sekarang melalui kamera penyadap yang di pasang Hiashi-sama." Melihat layar kecil di dekatnya, menampakkan titik-titik merah tanda keberadaan mobil Neji.
"Ta..tapi Kakashi-sensei, lihat banyak sekali mobil-mobil di belakang mereka. Itu..itu pasti anak buah Tousan!" Hinata benar-benar takut, tak henti-hentinya ia melihat layar di sana. Bagaimana cepatnya sang kakak mengendarai mobilnya, dan betapa banyaknya mobil di belakangnya. Mengikuti mereka berdua.
"Aku akan mempercepat laju mobilnya, Hinata-sama tolong berpegangan erat." Menaikkan kecepatan, Kakashi langsung terfokus pada pemandangan di depan. Tidak sempat melirik ke arah sang putri majikan sekarang.
Mobil yang ia kendarai melaju semakin kencang-
Hinata hanya bisa berdoa, 'Kami-sama tolong lindungi Neji-nii dan Naruto-kun!' kedua maniknya terpejam, meminta permohonan terus menerus.
Sampai-
Piiip!
Mendengar suara kecil di dekatnya, membuka mata sang Hyuuga kembali-
Suara yang berasal dari layar di sana, titik berwarna merah itu terus berkedip-kedip. Membuat Hinata mengernyitkan alisnya, dan menatap layar dengan seksama-
"Ng?"
Dan tepat saat melihatnya-
"…"
"Ti..tidak mungkin-" matanya terbelalak lebar, tubuhnya semakin bergetar. Hinata reflek menutup bibirnya dengan kedua tangan.
Gadis itu menggeleng kencang-
"Ada apa, Hinata-sama?" terfokus pada jalan, Kakashi sama sekali tidak melihat layar kecil di sana. Tapi saat melihat gerak-gerik Hinata. Ia mulai merasakan keanehan kembali-
"….." tidak ada respon, melainkan isakan kecil-
"Hinata-sama-"
Sebelum sempat memanggil gadis di sampingnya-
"Ka..Kakashi-sensei, titik merah itu..hiks-hiks,"
Dia semakin bingung-
"Kenapa?!" Ia segera saja menolehkan wajahnya dan menatap layar-
Sampai-
Hinata berbalik menatap ke arah Senseinya, air mata perlahan jatuh dari pipinya. Isakan itu semakin menguat-
Ia menggeleng pelan, "Ke..kenapa titik merah itu berhenti di sana-hiks, hiks, Kakashi-sensei?" tangisan sang Hyuuga semakin menjadi-jadi.
Dan bagi Kakashi-
"Ck," laki-laki tampan itu berdecak dan mempercepat laju mobilnya.
Situasi semakin menegang sekarang-
TO BE CONTINUED~
A/N :
Mushi Apdet lagi! Fiuhh #ngelap keringet# maaf ya, jadwal apdetnya sedikit melenceng. Kemarin maunya apdet tapi melihat kondisi tubuh Mushi yang lagi ga fit langsung di tunda dulu. Akhirnya kesampean juga apdet sekarang.
Masih adakah yang menunggu fic gaje ini? Muahaha XD :D Nah, tinggal dua chap lagi semuanya bakal tamat TTvTT
Oh, di review Mushi ada yang bilang kenapa harus nunggu lima belas review dulu baru bisa di apdet? Jawabannya sih simple aja-
Mushi cuman pengen minta perhatian dari kalian aja kok, mengingat betapa susah dan jerih payah Mushi ngerjain ini fic #di bakar#. Jadi boleh dong mushi minta sepatah atau dua patah kata dari kalian tentang fic ini. Nggak susah kok, cuman nulis beberapa kalimat aja, kata 'next' sama sekedar kata 'lanjut' aja udah buat Mushi seneng banget. Itu artinya masih ada yang nungguin fic ini.
Nah kalo nggak ada yang review, Mushi kan nggak tahu siapa aja yang nunggu fic ini. Yaah, sekedar hadiah dari jerih payah Mushi buat ini aja kok, :) :D #Mushi yakin pasti semua author juga mikirin kayak gitu#karena semua review dari kalian itu berharga banget buat kami#sebagai penambah semangat# :D :D
Untuk fic ini, kayaknya enggak ada sesi balas PM. Gomenne, ehehe :D
Arigatou buat yang masih setia fav, follow, sama review fic ini#big hug#
Nah, sesuai perkataan mushi sebelumnya, Mushi cuman minta review lima belas buat ngelanjutin cerita ini, nyampe lima belas di apdet dua hari lagi #kalau tidak ada yang berhalangan#yaa intinya apdet cepet itu aja# muahaha #tawa setan# kalo enggak yang di undur dulu XD
Begitu juga seterusnya, jadi pantengin terus ya! :D
Untuk akhir Kata, Mushi nggak akan capek-capek bilang~
SILAKAN RIVIEW~ \^0^/\^V^7
JAA~
