"Apa yang sedang kau lakukan, Anata?" Temari menghampiri sang suami yang tengah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur king size meraka. Bangun− sang pria menyusun beberapa bantal untuk menjadi sandaran punggung kokohnya. Setelah nyaman dengan posisinya, pria tersebut mengambil buku bersampul coklat kusam di atas nakas− samping tempat tidur, lalu memakai kacamata baca mengabaikan pertanyaan isterinya.

Wanita tersebut− Temari, menghampiri suaminya dan naik ke atas ranjang lalu merebut buku. Sedikit melirik judul yang tertera di sampul, Temari langsung melemparnya hingga membentur dinding.

The Last Blood of Big Bang

"Cukup, Shikamaru?!" Meledak lah rasa marah yang ada di hatinya. Setetes. Dua tetes. Hingga isakan pelan Temari terdengar hampa.

Impian Temari adalah memiliki keluarga yang bahagia dan penuh kehangatan. Tidak− bukan berarti ia tidak bahagia bersama suaminya− ia sangat bahagia tentu saja. Tapi suaminya ini sedikit tidak masuk akal. Ia begitu mencintai hal-hal yang berbau mistis, mitologi, hukum alamiah atau apalah itu.

Temari menghargai kalau itu hanya sekedar hoby tapi lain ceritanya kalau suamimu sering mengatakan 'Manusia bisa membunuh seseorang menggunakan mata' atau 'Manusia bisa mengendalikan aliran darah manusia lain' itu terdengar tidak waras di telinga Temari.

Ia akui suaminya memang terbilang genius mengingat pekerjaannya di divisi kepolisian Konoha Town di bagian penyelidikan. Ia banyak memecahkan kasus kriminal. Merupakan salah satu pion kebanggaan Konoha Town membuatnya dijuluki 'renkarnasi Sherlock Holmes'.

Dan Temari berpikir, sangat tidak rasional jika mengatakan tindakan kriminal− contohnya saja pembunuhan disangkut pautkan dengan berbau mistis. Apalagi Shikamaru sering mengatakan padanya kalau Legenda Pecahan Big Bang itu memang benar adanya.

Holly Shitt! Itu hanya legenda yang dikarang nenek moyang mereka dulu.

Lelaki yang bernama Nara Shikamaru tersebut menegakan tubuhnya lalu mengusap lelehan air mata wanita yang dicintainya itu lalu memeluknya dan menariknya ke dekapan hangatnya. Hati Temari sedikit mencair.

"Kau paling bisa membuatku luluh," ujar Temari lalu memperdalam pelukannya.

"Tidurlah. Kau butuh istirahat." Shikamaru mematikan lampu tidur untuk terlelap di alam mimpi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naya Aditya

.

.

.

.

.

.

Versus: Generation Miracle

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Warning!

AU,OOC,Typo,Supranatural,etc.

DLDR!

.

.

.

.

.

.

Standar Desclaimer Applied!

.

.

.

.

.

.

.

Enjoy this one^^

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tuan Hakim, saya ingin bercerai dengan suami saya," suara Yugao terdengar parau saat mengatakannya. Jelas saja ia menangis semalam suntuk. Belum lagi kantung mata yang cukup besar yang tak bisa ditutupi sekalipun dengan bedak tebal.

"Apakah yang menyebabkan anda begitu yakin ingin menceraikan suami anda?" kata Tuan Hakim bertanya. Menangis seanggukan Yugao menengok ke sebelah kursinya yang seharusnya diisi sang suami. Entahlah? Jangan tanyakan padanya mengapa sang suami tidak datang ke persidangan. Untuk yang terakhir kalinya pun dia tak mau datang pikir Yugao muram.

Hujan di luar tak mempengaruhi jalannya persidangan. Beberapa orang yang ia kenal mengikuti jalannya persidangan untuk menemani dan memberi kekuatan padanya untuk tetap tabah terutama ayah dan ibunya.

Ia angkat dagunya berusaha tegar. Walaupun saat ini tangannya yang bergetar hebat tak membantu sama sekali. "Saya ingin menceraikan suami saya karena−" ia menarik nafas sebentar lalu melanjutkan, "karena dia menderita penyakit." Lagi ia menangis tak sanggup dengan ini semua.

Tuan Hakim beserta jajarannya mengernyitkan alis bingung. "Hanya karena itu?" Semua orang tahu kalau itu adalah pernyataan yang konyol. "Dia menderita Narkolepsi. Setiap kami akan 'berhubungan' ia selalu jatuh tertidur." Salah seorang di kursi belakang tertawa mendengarnya.Terdengar lucu,mungkin?

TOK..TOK..

Tuan Hakim mengetuk palu meminta untuk tenang saat persidangan dan meminta Mrs.Yugao melanjutkan. "Awalnya saya mencoba memahami tapi semakin lama penyakitnya itu semakin bertambah parah." Suaminya tersebut selalu tertidur dalam kondisi yang menurutnya penting. Narkolepsi adalah sejenis gangguan neurologis kronis yang mempengaruhi bagian otak yang berfungsi untuk mengatur pola tidur. Mereka yang menderita narkolepsi dapat mengalami kantuk di siang hari yang berlebihan dan tiba-tiba kehilangan control dimana hal ini didasari karena tingginya tingkat emosi yang kuat. Akibatnya, seseorang bisa jatuh tertidur saat bekerja, marah, terancam, ataupun yang membuat emosinya tidak stabil.

.

.

.

.

"Moshi moshi. Ya, Ayah?"

"Hn. Apa kau tahu di mana kakak mu itu, Sasuke?" Terdengar suara tegas di seberang telepon. Ada aura kemarahan di nada bicaranya.

"Tidak. Bukankah Nii-san menghadiri sidang perceraiannya?" Sasuke bingung kenapa sang ayah menanyakan keberadaan Itachi padanya. Setahu dirinya kakaknya tersebut akan bercerai dengan isterinya yang suka bersolek itu. Dan hari ini adalah agenda sidang pertama.

"Dia tidak datang ke persidangan. Ayah juga sudah mengecek ke Apartement miliknya tapi ia juga tidak ada di sana." Suara Fugaku Uchiha mulai memelan. Detak jantungnya mulai normal tidak seperti sebelumnya saat diliputi kemarahan.

"Hn. Aku akan mencari Nii-san, Ayah." Sasuke memindahkan polselnya ke telinga sebelah kanan setelah sebelumnya menghela nafas.

"Baiklah. Sasuke sebenarnya kau sedang berada di mana?" Bungsu Uchiha tersebut membuka tirai jendela di depannya. Terpampang lah pemandangan pepohonan dan rumput yang sengaja dirawat sang pemilik rumah. Dan tak lupa bunga-bunga yang sengaja di tanam di sana. Setahunya bunga anyelir merah dan tulip sangat mendominasi dibanding bunga yang lain.

"Aku…" Lelaki tampan tersebut membalikan tubuhnya melihat gadis dengan helaian merah mudanya terlelap di atas tempat tidur. Raut wajah gadis itu− Sakura− sedikit gelisah dan terlihat pucat. Hal tersebut tak mengurangi kecantikannya.

Sasuke mendekat. Hingga ia tepat berada di samping tubuh ramping Sakura. Mencium dahi gadisnya sebentar lalu menyampirkan selimut hingga di atas dada.

"Aku berada di Suna," jawab Sasuke seadanya. Kalau pun ia berbohong sekarang ayahnya pasti tahu. Ia dan kakaknya memang tahu kalau Ayah mereka tersebut memiliki insting yang kuat. Sejenis detector kebohongan− mungkin.

"Apa kau bersama Sakura," tebak Fugaku tepat sasaran.

"Iya, kau benar Ayah."

"Kalau begitu cepat pulang." Sambungan telepon terputus.

Perkataan Fugaku Uchiha mutlak tak bisa di bantah. Itu adalah peraturan yang sudah ditetapkan dan ia hapal betul itu.

Melirik gadisnya sebentar, Sasuke pun meninggalkan kamar yang di dominasi warna pink pastel dan tosca dan meninggalkan gadisnya sendirian.

"Mimpi indah, Sakura…" gumamnya rendah dan meninggalkan kediaman Haruno.

.

.

.

.

"Apa semua berkas-berkas yang di butuhkan sudah terkumpul?" tanya pria bertubuh tegap yang sedang memutar-mutarkankan gelas wine nya. Setelah menghirup aromanya ia meneguknya hingga tandas.

"Sudah, Tuan Senju Tobirama." Asistennya bernama Darui− keturunan Afroafrika− menyerahkan beberapa lembar kertas. Tobirama, pria yang sial sangat sexy kata beberapa wanita itu mengambil kertas tersebut dan membacanya dengan perlahan.

Seringai tipis tercipta di bibirnya.

"Kita akan mendapat tontonan yang spektakuler sebentar lagi," katanya. Ia begitu bahagia ketika apa yang diinginkannya sesuai dengan ekspektasinya.

Siapa yang tidak tahu dia? Senju Tobirama. Executive Direktur dari VixionTv. Namanya melejit setelah ia 'mengambil alih' stasiun televisi milik sang kakak− Senju Hashirama− dan membuat beberapa program Tv menjadi trending topic. Ia juga pandai berbisnis dan banyak mengumpulkan pundi-pundi uang.

Terakhir, program reality show 'The Runway Boy' mendapat rating fantastis. Dan ia cukup bangga dengan hal tersebut. Tahun ini ia akan menyiarkan langsung jalan Tournament Spring Day. Ia akan membuat Tournament tahun ini lebih dasyat dibanding tahun-tahun lalu saat stasiun lain yang menjadi grand ambassador.

Bagi Tobirama VixionTv adalah satu-satunya yang terbaik dan yang lain hanya sampah dan tak layak bersaing dengan miliknya. Ia sangat membeci apa itu namanya settingan. Hampir semua program acaranya mengedepankan real tanpa edit atau rekayasa− sedikit gila memang.

Fakta yang mengejutkan tidak diketahui publik adalah Tobirama Senju memberikan tontonan pembunuhan sungguhan yang dengan naifnya masyarakat mengatakan jika itu adalah film yang dibintangi seorang aktor dan aktris yang hebat. Mereka tidak tahu saja jika film tersebut nyatanya memang sungguhan. Huhh…setiap orang memilki sisi kelam dalam hidupnya kan?

.

.

.

.

"Apa-apaan ini Kizashi-kun?" Sebuah Koran harian− HiDailyPost− mendarat di atas meja kaca. Pria paruh baya bernama Kizashi itu masih duduk anteng di Sofa sambil menyeruput kopi hitamnya. Mengalihkan atensi seluruhnya kepada sang isteri lalu menjawab, "Tenangkan dirimu, Mebuki."

Haruno Mebuki mendudukan diri di sofa yang sama dengan suaminya tersebut lalu misuh-misuh tak jelas. "Bagaimana aku bisa tenang jika itu melibatkan Sakura, Anata!" pekiknya kelewat nyaring.

"Kita baru saja beberapa hari yang lalu mendaftarkan kepindahan sekolah Sakura. Dan pihak sekolah seenak jidat mereka, menyantumkan keikutsertaaan Sakura mewakili Tournament Spring Day tahun ini," amuk Mebuki sambil menunjuk-nunjuk kolom berita tentang puterinya.

"Kita tidak bisa apa-apa, Mebuki." Haruno Kizashi menatap kosong layar Tv di depannya yang sedang menayangkan acara berita Sport.

"Apa maksudmu kita tidak bisa melakukan apa pun," tanyanya heran. Kalau yang dipermasalahkan di sini adalah uang tentu saja mereka memiliki banyak simpanan.

"Ini sudah keputusan mutlak Walikota dan pihak sekolah. Sakura dan salah seorang lagi akan mewakili Tournament Spring Day yang akan di adakan beberapa minggu lagi." Kizashi meletakan cangkir kopinya ke atas meja.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi." Mebuki mengusap wajahnya frustasi. Ia tahu seperti apa Tournament itu. Walaupun ia dan suaminya tinggal di Swiss tapi masih begitu memperhatikan berita aktual di Negara HI tentunya.

Tahun kemarin ada beberapa perwakilan salah satu sekolah yang mati karena pertandingan− ia masih ingat betul tentang berita tahun lalu. Ia takut akan terjadi sesuatu dengan puterinya.

"Orochi-san, bisakah kau memeberi sedikit komentar tentang pertandingan Spring Day tahun ini seperti apa?" Suara wanita host acara Talk Show tersebut mengumandang di kediaman Haruno. Kedua pasutri tersebut mengalihkan atensi− menonton− acara tersebut setelah kendali remote Tv di ambil sang isteri− biasa lah namanya juga ibu rumah tangga.

"Tahun ini akan semakin menyenangkan," ucapnya sambil menjilat bibirnya dengan lidahnya yang panjang. Host wanita tersebut bergidik ngeri melihatnya. Orochimaru adalah salah satu pembawa acara Tv kondang− kenamaan, setelah ia menjadi presenter acara Dunia astral dan bahkan ia pernah diliput saat dia membawakan acara National Geographic Channel yang membahas tentang reptil pada saat itu. Bahkan rumor di kalangan netizen Negeri HI mengatakan jika Orochimaru memiliki peliharaan anaconda dan phyton di rumahnya. Santer terdengar dia juga memelihara ular sanca dan king cobra. Pantas saja ia di jului 'Papa Ular' oleh para penggemarnya.

Tahun ini Orochimaru dipercayakan oleh VixionTv untuk menjadi presenter− pembawa acara di Tournament Spring Day. Tentu saja ia begitu senang saat mendengarnya. Dan jangan lupankan hubungan dekatnya dengan pemilik stasiun Tv tersebut.

Kizashi tidak begitu menyukai sosok pria di layar Tv nya. Entahlah− perkataan Orochimaru terdengar licik di telinganya. Intinya ia tidak suka.

"Astaga! Kenapa harus dia pula yang menjadi pembawa acaranya." Heboh Mebuki menunjuk-nunjuk layar LED Tv di depan.

"Mukanya saja mengerikan bagaimana dengan Tournament nya nanti." Ia menjambak rambutnya histeris.

Haruno Kizashi cengo mendengar perkataan isterinya.

.

.

.

.

Drrtt..drrtt..

Suara ringtone ponsel berdering.

Pria bersurai raven membuka matanya perlahan− hingga ia sadar seluruhnya. Ia cukup kaget saat melihat keadaanya berbaring di atas tanah basah rerumputan. Menepuk-nepuk baju dan celana jeans nya yang kotor− walau tidak akan hilang− karena ia 'tiduran' di tanah basah menyebabkan pakaiannya kotor berat. Pasti ia ketiduran lagi pikirnya muram.

Ia harus menenangkan dirinya terlebuh dahulu. Emosinya harus stabil. Diliriknya ponsel yang berdering kembali. Setelah membersihkan layarnya yang kotor terciprat genangan air, ia membuaka −menggeser− layar screen tersebut. Dari Sasuke− adiknya.

Awalnya ia ragu untuk mengangkatnya tapi akhirnya ia menekan tombol hijau tersebut. Diam sesaat.

"KAU DI MANA BAKA-ANIKI!" bentak Sasuke. Reflex Itachi Uchiha− pria itu menjauhkan ponselnya dari telinganya. Sasuke adalah pria terkampret yang ia tahu karena sudah berani membentak kakaknya sendiri.

"KENAPA KAU TIDAK MENGHADIRI SIDANG PERCERAIANMU,HUHH! GARA-GARA KAU, AKU YANG KENA IMBASNYA OLEH AYAH!" lihatkan Sasuke mengomel sangat bukan Ke-Uchihaan sekali.

"Aku ada di suatu tempat. Ada sesuatu yang terjadi tadi makanya aku tak bisa datang ke persidangan." Menarik nafas sebentar lalu melanjutkan, "Sudahlah…aku akan pulang ke rumah sebentar lagi. Biar aku yang menjelaskan kepada ayah tentang ini semua nanti. Jaa Nee." Itachi memasukan ponsel ke saku celananya tak menghiraukan Sasuke yang protes tadi.

"Aku akan melindungimu, Sasuke…" gumam Itachi rendah sarat akan kasih sayang. Ingatkan dia kejadian beberapa jam lalu sebelum ia jatuh tertidur.

.

.

.

.

Itachi menghempaskan pintu mobilnya dan berlari mengejar Danzo− Walikota Konoha Town tersebut. Ia tak habis pikir orang penting seperti Danzo tidak menggunakan bodyguard atau semacamnya saat ia berjalan-jalan di luar gedung balai kota. Bisa saja kan terjadi sesuatu tindakan kriminal terjadi padanya mengingat jabatannya sebagai Walikota. Tapi bukan itu yang dipikirkan Itachi sekarang. Ia harus mengajukan protes kepada Tuan Danzo karena sudah seenaknya menunjuk Sasuke untuk mewakili Teitan− Konoha− di Tournament Spring Day. Mengingat tahun ini Senju Tobirama yang membuat sistem pertandingan ia tidak akan tinggal diam. Sasuke− adiknya dalam bahaya.

Belum separuh ia mengejar Danzo− yang sudah masuk ke dalam mobil sedan pribadinya, Itachi Uchiha ambruk di tanah basah rerumputan taman kota.

Matanya tertutup dan ia jatuh tertidur. Emosinya tidak stabil lagi.

.

.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang tak hentinya Sasuke mengumpat. Ya, siapa lagi kalau bukan kakaknya yang menyebalkan itu. Apa-apaan ia belum selesai berbicara sudah dimatikan panggilan telepon. Tidak ayahnya bahkan Itachi sama saja. Mendengus kesal Sasuke memasang kacamata hitam dan bertengger manis di hidung mancungnya.

Ponselnya bergetar adanya pesan masuk. Sasuke menggeram tertahan. Wanita ini lagi. Padahal ia sudah bilang untuk tidak mengganggunya lagi dan mengakhiri hubngan mereka.

Yamanaka Ino

+0854890xxxx

Aku ingin bertemu denganmu. INI PENTING, Sasuke-kun! Cafe Izanagi, sekarang.

Brengsek! Siapa dia berani sekali memerintah Uchiha Sasuke. Apa pun yang terjadi ia tidak akan menemui wanita itu lagi. Bisa gawat hubungannya dengan Sakura. Melepas Sakura sama saja dengan bunuh diri. Tapi apa kata wanita itu tadi, penting dia bilang. Lama-lama ia gila memikirkan ini, bermain dengan teman kekasihnya bisa dikatakan gila kan.

Oh GOD for Shake! Ia menjelma menjadi pria paling bangsat sekarang. Setelah dipikir-pikir ini adalah kesempatan Sasuke untuk mengakhirinya dengan wanita pirang itu. Tanpa berpikir dua kali Sasuke keluar dari kawasan Airport Konoha menuju Café Izanagi.

.

.

.

.

Sasuke membuka pintu kaca café tersebut dan matanya tertuju kepada wanita bermata blue sky yang duduk di deretan meja paling pojok. Melangkah pelan hingga duduk di seberang kursi sang wanita Sasuke berkata ketus, " Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu." Ia menatap tajam wanita yang ada di depannya.

Wanita cantik itu berusaha meraih tangan Sasuke dan menggengamnya. Tapi kalah cepat− Sasuke menepis tangannya. Ino nama panggilan gadis itu kaget atas perlakuan pria yang ada di depannya.

"Uchiha Sasuke jangan tinggal−…" Ino berusaha meraih tangan Sasuke lagi tapi lagi-lagi gagal. Mengisak tertahan Ino berusaha membujuknya agar jangan pernah pergi meninggalkannya. Entah kenapa ia punya firasat kalau pria yang dicintainya itu akan mencampakannya.

"Sudah kubilang hubungan kita berakhir," desis Sasuke tajam. Mata kelamnya tak sedikit pun menunjukan keraguan.

"KAU TIDAK BISA MENINGGALKANKU, SASUKE SAYANG!?" Ino menjerit histeris dan tertawa seperti orang gila. "Apa maksudmu, huhh?!" Sasuke ikut terpancing.

"KAU BERHUTANG BUDI PADAKU. JIKA BUKAN KARENA AKU, KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENANG DI TOURNAMENT TAHUN LALU," pekiknya seperti kesetanan.

"Tutup mulutmu, Yamanaka Ino!" bentak Sasuke kasar. Tak ayal beberapa pengunjung café melihat aneh ke arah mereka. Siapa yang tidak terkejut,coba…

"AKU MEMANG BENAR KAN, SAYANG. TANPA KEMAMPUANKU KAU PASTI KALAH TAHUN LALU. DAN TAHUN INI KITA AKAN SATU PATNER LAGI MEWAKILI TEITAN. KAU MEMBUTHKAN AKU…"Ino semakin terlihat tidak waras dan melempar tas tangannya ke wajah Sasuke− tapi ia menangkapnya dengan mudah.

Rasanya ia ingin meledak. Kalau bukan di depan umum sekarang sudah pasti tangan besarnya mendamprat wanita di seberang kursinya ini.

"Asal kau tahu, aku menang karena kemampuanku sendiri. Tidak ada hubungannya denganmu. Satu hal informasi untuk mu− aku mengundurkan diri mengikuti pertandingan tahun ini." Sasuke berdiri dari kursinya, ingin segera pergi dari sini. Pembicaraan ini membuatnya sakit kepala.

"Kau yakin untuk mengundurkan diri?" Mata Ino berkilat, senyum mengerikan tersungging di bibir tipis nya.

Sasuke mendelik menghadap wanita itu. Ada sesuatu yang salah batinnya.

"Kekasih mu itu ikut berpartisipasi loh tahun ini, Sasuke." Suara wanita itu mendengung di telinganya.

Sialan! Tournament seperti ini berbahaya untuk Sakura.

.

.

.

.

Sakura menatap pantulan drinya di depan cermin− meja rias nya. Ia duduk dengan anggun di atas kursi berbentuk bundar dan pelayan pribadinya− Hinata− sedang menyisiri rambut merah muda sebahunya dengan sangat telaten.

Mata zambrut nya berkilat tajam. Tiba-tiba Sakura tertawa dan membuat Hinata mengernyitkan alisnya bingung. Apa ada sesuatu yang lucu pikir Hinata heran.

"Apa ada yang lucu, Sakura-chan," tanyanya hati-hati− takut membuat Sakura tersinggung. Tidak heran kalau Hinata berani memanggil menggunakan suffiks 'chan' karena mereka memang sudah begitu akrab. Lagipula Sakura sendiri yang memintanya memanggil dirinya begitu.

"Merka berdua memang bodoh, Hinata-chan. Bahkan mereka bertengkar hebat seperti itu," kata Sakura sambil menahan tawa.

"Maksud Sakura-chan apa? Aku tidak paham," jawab Hinata makin kebingungan. Sakura mencoba merilekskan tubuhnya. Lalu memasang senyum manisnya. Menoleh ke belakang ia menggelengkan kepalanya pelan kepada Hinata. Kegiatan wanita berambut indigo tersebut terhenti.

"Yappari. Nandemonai−" Sakura memberikan senyum simpulnya kepada Hinata.

Ada yang kau sembunyikan, benarkan Haruno Sakura…?

.

.

.

.

"Yaaak! Bisakah kau tidak menelponku di saat penting begini." Karin bergerak agresif di kursinya. Pegawai salon wanita di depannya sedikit terkejut mendengar teriakan Karin.

Kuteks di jari tangannya belum sepenuhnya kering. Rambut merah magenta-nya pun masih di creambath.

"Besok kau sudah harus ada di Ame, Karin. Walikota ingin berbicara empat mata dengan kita mengenai pertandingan Spring Day yang akan diadakan sebentar lagi." Suara berat di seberang telepon terdengar tegas tak mau dibantah.

"Dan kau sudah berjanji hanya satu hari berada di sana," jelasnya lagi.

Oh ayolah… Karin memang ke Suna hanya satu hari untuk mengambil beberapa pakaian di rumah lamanya tapi kan dia juga butuh bersantai sejenak.

"Ya..ya.. aku akan secepatnya ke sana. Sudah yah aku sibuk. Mata ne, Gaara." Karin mencabut baterai handphone nya lalu memasukannya ke dalam tas. Dasar Panda cerewet batinnya kesal.

"Nona, air hangatnya sudah siap." Pegawai salon tersebut mempersilahkan Karin ke dalam kolam spa di dalam ruangan sebelah.

Bersenang-senang sedikit sebelum pertandingan sepertinya tidak apa-apa pikir Karin.

.

.

.

.

"Moshi..moshi…"

"Sakura…" Sasuke berpikir keras kalimat apa yang ingin ia ucapkan dan ternyata ini lebih susah dibanding ujian kalkulus.

"Doushite? Kalau tidak ada yang di bicarakan aku tutup saja telponnya−" belum selesai berbicara Sasuke menyela, "Matte! Daijoubu?" Suara Sasuke terdengar tidak yakin.

"Apa maksudmu? Tentu saja aku baik-baik saja." Sakura mendesah lelah. Entahlah, ia merasa lelah sekarang jika ada hubungannya dengan Sasuke.

"Sou ka? Kalau begitu beristirahatlah. Besok ku telpon lagi. Good Night."

Sakura melempar handphone nya ke atas kasur lalu mengambil map merah di dalam laci nakas.

Di tangannya saat ini adalah syarat atau sistem jalannya pertandingan Tournament Spring Day. Tadi sore ada kurir dari VixionTv yang mengirimkan ini ke rumahnya. Sebagian besar ia sudah membaca isinya tapi ada beberapa yang masih belum ia mengerti. Ia bisa tanyakan itu pada Karin nanti mengingat wanita itu mewakili Benfort Academy. Sebelum pertandingan dilaksanakan ia harus bisa menganalisa musuh-mushnya dengan baik.

Untuk sekarang Teitan lebih berbahaya karena fakta yang ia baru ketahui yaitu Sasuke salah satu empat Generation Miracle. Patner jalang nya pun memiliki kemampuan yang tak bisa di remehkan. Tidak. Kalian salah kalau berpikir Yamanaka Ino bagian dari generation miracle. Ino memiliki keahlian sendiri dan Sakura tahu itu.

Dan Karin ia mahir dalam memegang senjata api. Masih ingat di benaknya, dulu Karin sering mengajaknya untuk berlatih senjata di lapangan tembak Angkatan Darat Suna City. Mengingat ayahnya bekerja di CDC hal itu menjadi wajar untuknya.

Dan ngomong-ngomong ia belum mengetahui patner yang akan berjuang bersamanya nanti.

.

.

.

.

"Tuan Senju, maaf jika saya lancang mengatakan ini tapi bolehkah saya tahu tema pertandingan Spring Day untuk tahun ini."

"Tidak apa-apa. Cepatkan lakukan konferensi pers. Aku akan umumkan berita ini sendiri." Senju Tobirama memutar kursi kerjanya ke belakang menhgadap kaca besar gedung. Di luar sana awan sedang mendung bergumul menjadi gumpalan hitam. Mungkin sebentar lagi akan hujan.

"Oh ya… untuk pertanyaanmu tadi." Ia menutup matanya oksigen seakan esok ia sudah tidak bisa bernafas lagi. Keningnya sedikit berkerut lalu membuka matanya kembali.

"Tema tahun ini adalah…−"

"…..Game Online."

Entahlah… ia masih bingung memilih antara Point Blank, DotA, atau Far Cry.

TBC

A/N:

Sebenarnya authornya yang bingung mau milih game yang mana/dilempar/

Scene di persidangan terinspirasi dari film klasik noir Indonesia judulnya 'kala' Maklum nay penggemar film klasik abad pertengahan gitu /gak nanya woy/

Dan kemampuannya Ino itu memang ada di dunia ada nonton di one the spot hahaa../plakk/ tapi masih rahasia di fik ini.

Maaf buat fans ino semua, karena charanya di beginikan. Ini murni karena plot cerita.

Jangan tanya kenapa pendek, nay sibuk ngurus Mahasiswa Baru. Typo nya banyak yah? maklum gak di edit dan periksa ulang.

Terima kasih yang sudah menunggu /geer lu/ dan mereview..

Bagaimana chapter ini?

.

.

.

Naya Aditia

Banjar Baru,Kalsel