Aloha minna! Nyaa~ akhirnya fic ini bisa update juga, hehe.. untung lagi ada niat, dan fic ini selesai dalam dua hari. Wadaw~ perasaan waktu pertama kali join FFn sehari bisa selesai nih.. xD –somse!- eh, aku kayaknya gak jadi hiatus deh buat UAS, toh masih bisa update fanfic ini. Aku mulai UAS tanggal 9, jadi masih bisa ada waktu buat santai. Yasud, aku pakai buat update fic aja! =D
Ah iya, terima kasih banyak buat yang ngedaftar jadi OC di fic ini! Yang muncul pertama di fic ini adalah OC dari Reiya Sumeragi, selamat! Dan buat yang belum muncul, tunggu aja ya. Udahlah! Silakan baca dan review ya~aku pengen tahu komposisi antara OC ma chara asli udah seimbang apa belum, hehe.. (^^)
Disclaimer: Bleach© Tite Kubo, Jigoku Shoujo© Miyuki Eto
On this fic: CROSSOVER! Dan.. apalagi kalau bukan OC? –disambit-
Chapter 2
Cinta Berdarah Dingin
"Hah?"
Kenpachi terheran-heran ketika dia dipilih selanjutnya untuk membantu Enma Ai menjalankan tugasnya. Saat itu sedang rapat, namun setelah membicarakan topik yang sangat penting Soutaichou langsung memberikan amanat kepadanya.
"Kenapa? Kau keberatan, Zaraki-taichou?", tanya Soutaichou.
Kenpachi menggaruk kepalanya yang tajam itu, "Ah.. tidak, asalkan ada yang menganggu aku mau saja."
Soutaichou hanya mengangguk pelan, "Bagus. Ah, dan kuharap, semua kapten juga bersiap untuk mendampingi Enma Ai dalam melakukan tugasnya di dunia nyata. Mengerti?"
Semua kapten mengangguk mengerti, lalu mereka bubar dari ruangan Divisi 1.
--x--
"Yay! Kita ke dunia nyata lagi!", seru Yachiru dengan sifatnya yang seperti biasa, kekanak-kanakan.
Setelah rapat kapten, Kenpachi langsung memanggil Ikakku dan Yumichika. Tak luput juga Yachiru yang menghilang entah kemana. Ketika mereka bertiga diberitahu bahwa mereka akan mendapatkan misi, mereka sudah siap.
"Kapan kita memulainya, taichou? Aku sudah tidak sabar menebas zanpakutou milikku ke semua musuh!", tanya Ikkaku semangat, Yumichika yang ada di belakangnya hanya gleng-geleng.
"Nanti, ketika seseorang ada yang memberitahukan bahwa si gadis neraka tersebut akan melakukan tugasnya.", jawab Kenpachi dengan suara garangnya.
Yumichika mengeluh, "Wah.. lama sekali kalau begitu.."
Baru saja diperbincangkan, tiba-tiba saja ada seorang shinigami yang memberitahukan bahwa Jigoku Shoujo akan memulai tugasnya. Spontan, mereka semua langsung mempersiapkan segalanya.
"Khekhe.. ayo kita pergi!", kata Kenpachi dengan senyumnya yang menakutkan.
Hotaru Furai.
Nama itu sudah diketikan di situs Jigoku Tsushin oleh seorang gadis bernama Reiya Sumeragi. Dia sudah muak dengan perlakuan kekasihnya itu. Dia mencintainya, tapi dia juga membencinya. Entah kenapa sejak Reiya mulai sibuk dengan kuliah dan pekerjaan sambilanya, kekasihnya yang bernama Hotaru itu mulai berbuat kasar padanya. Padahal, ketika pertama kali menjalin cinta dengannya, dia tidak sebegitu kasarnya. Dia baik dan ramah, itu yang ada di pikiran Reiya.
Reiya hanya bisa menghela nafasnya. Dia sudah tidak tahan dengan perlakuan Hotaru yang selalu kasar padanya. Dan jalan keluar satu-satunya adalah menghubungi Jigoku Shoujo.
"Aku.. Enma Ai.."
Reiya langsung membalikkan badannya ke belakang setelah lamunanya buyar, "Enma Ai.. kau Jigoku Shoujo?"
"Terimalah ini.", kata Ai sambil memberikan sebuah boneka pada Reiya. "Jika simpul itu kau lepas, maka orang yang kau benci akan dikirim ke neraka.. tetapi, ketika setelah kau sudah melepas simpul itu maka kau sudah ditandai dan diminta untuk membayar kompensasi.."
"Kompensasi? Apa maksudmu?", tanya Reiya yang hampir saja membuka simpul itu jika Ai tidak berkata lebih lanjut.
"Setelah dendammu terbalaskan.. ketika kau meninggal suatu saat nanti, maka rohmu pun akan masuk juga ke dalam neraka.."
Reiya tercekat mendengar hal itu, rasa takut mulai menghantuinya. Dia gemetar, menggenggam erat boneka yang diberikan Jigoku Shoujo padanya. Lututnya lemas saking gemetarnya. Ditatapnya kembali sang Jigoku Shoujo, namun yang terlihat hanya kamarnya yang sepi. Sang gadis neraka sudah pergi.
"Neraka.. ", lirih Reiya pelan. Dia menggelengkan kepalanya, kemudian dia mematikan laptopnya dan pergi ke tempat tidur.
--x--
"Sepertinya gadis neraka itu sudah melakukan tugasnya, ya.", kata Yumichika yang melihat Enma Ai pergi bersama para pengawalnya.
Kenpachi dan yang lainnya sudah sampai di dunia manusia, mereka tiba di depan sebuah apartemen sederhana. Kata Ichimoku, salah satu pengawal Ai, klien mereka ada di apartemen ini. Tetapi, ketika Ikkaku dan Yumichika melihat apartemen tersebut, mereka langsung tahu. Apartemen itu adalah apartemen di mana Orihime tinggal, dulu mereka pernah menumpang bersama Hitsugaya dan Rangiku dalam menjalankan misi membasmi arrancar.
"Kalau begitu, dia salah satu tetangga Inoue ya? Hem..", ujar Ikkaku sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Lalu, tiba-tiba saja mereka melihat Orihime yang turun dari apartemennya dan menghampiri mereka, "Hai! Kalian semua sedang apa di sini?"
Mereka semua kecuali Yachiru melongo melihat Orihime yang tiba-tiba saja datang, bagaimana gadis ini bisa tahu kalau mereka datang kemari??
"Hee.. bagaimana kau bisa tahu kami di sini?", tanya Ikkaku.
Orihime tertawa kecil, "Hihi! Aku kan bisa merasakan reiatsu kalian. Tiba-tiba saja ada reiatsu yang terasa di sini, makanya aku melihatnya lewat jendela. Eh, tahunya kalian. Ehm.. memangnya ada apa ya?"
"Kami sedang membantu Jigoku Shoujo dalam menangani kliennya.", jawab Yumichika singkat.
"Oh.. iya aku tahu, baru saja aku diberitahu Kuchiki-san di sekolah tadi pagi. Jadi, giliran kalian ya?", gumam Orihime polos.
"Iya. Dan apakah kau tahu tempat di mana Urahara Kisuke berada? Aku tidak mau beristirahat di tempat seperti ini.", sela Kenpachi yang sepertinya agak bosan.
Orihime menatapnya heran, "Lho, bukannya Madarame-san dan Ayasegawa-san tahu tempatnya?"
Kenpachi langsung menatap tajam kepada dua bawahannya itu, yang ditatap langsung menghindar ngeri. Namun, Yachiru yang sedaritadi berada di bahu Kenpachi mulai menunjuk-nunjuk arah.
"Ke sini, Ken-chan! Ayo!"
Akhirnya, mereka berempat pergi dengan arahan Yachiru dan meninggalkan Orihime.
Keesokan harinya, Reiya bangun pagi lebih pagi dari biasanya. Hari ini dia harus kuliah pagi. Sebelumnya, dia membersihkan kamar apartemennya terlebih dahulu, setelah itu mandi dan berangkat ke kampus.
Setelah mengunci kamarnya dan turun dari apartemennya, Reiya secara tak sengaja berpapasan dengan Orihime, "Selamat pagi, Orihime-chan!"
" Pagi juga, Reiya-san! Pergi kuliah ya?", sapa Orihime membalas.
Reiya tersenyum, "Iya, hari ini aku kuliah pagi. Nanti siang baru aku bekerja."
"Wah.. pasti lelah sekali ya.. kalau begitu, berjuanglah!", kata Orihime menyemangati.
Reiya membalas semangat, "Kau juga, Orihime-chan! Belajar yang rajin ya, haha! Sudah ya, aku berangkat dulu. Sampai nanti!"
Orihime melambaikan tangannya, membalas lambaian tangan Reiya. Sesaat, dia memperhatikan Reiya. Dia tetap seperti biasanya, tidak ada yang berubah dari raut wajahnya. Orihime mengusap dagunya.
"Kata Ayasegawa-san, Reiya-san lah yang meminta permohonan balas dendam pada Jigoku Shoujo. Tapi.. dia baik-baik saja kok. Ah sudahlah!", pikir Orihime bingung, lalu pergi menuju sekolah.
--x--
Reiya sudah sampai di pintu gerbang kampus, lalu dia berjalan perlahan sambil menunduk. Orang-orang di kampus sudah tahu, walaupun tidak semuanya. Berita penyiksaan dirinya telah tersebar di penjuru kampus, ini semua gara-gara klub buletin yang selalu menyajikan berita hangat setiap bulan. Untuk bulan kali inilah, dia sasarannya.
Tapi anehnya, dalam berita tersebut tidak disebutkan siapa pelaku yang menyiksanya. Entah klub buletin itu sudah tahu atau memang si pelakulah yang berhasil lolos dari berita itu. Pelakunya siapa lagi kalau bukan kekasih Reiya. Hotaru memang dikenal sebagai mahasiswa yang aktif, pandai, dan baik hati. Dia selalu menolong teman-temannya sampai tidak mempedulikan keadaannya sendiri.
Namun, di mata Reiya dia berbeda. Baginya, Hotaru adalah seorang lelaki yang kasar, selalu berbuat semaunya sendiri, dan tidak pernah peduli akan keadaan orang di sekitarnya. Termasuk dirinya, yang selalu disiksa. Reiya memegang dahinya yang tertutup poni, di situ ada luka bekas siksaan Hotaru. Dia bertanya-tanya, apa tujuan Hotaru menyiksanya. Stres? Depresi? Cemburu? Ah, dia tidak yakin kalau Hotaru cemburu, karena dirinya tidak sering mendekati teman-teman lelaki yang lain.
"Ih.. itu Sumeragi kan? Dia terlihat pucat.. siapa sih yang menyiksanya? Aku jadi penasaran.."
Reiya mendengar kasak-kusuk tersebut dari dua orang yang berada di sebuah kursi panjang yang baru saja dia lewati. Hatinya sungguh sedih mendengar hal itu. Reiya memang tipe orang yang tidak mau dikasihani, dia ingin tetap tegar. Lalu, karena kata-kata itu terasa menyakitkan di hatinya, dia berlari sambil perlahan-lahan mengeluarkan tetesan air mata.
"Kenapa? Kenapa harus aku yang mengalami hal seperti ini? Kenapa Hotaru berbuat sekejam ini padaku? Kenapa?!", Reiya bertanya-tanya dalam hati.
Sekejap Reiya berlari, terlihat 3 orang yang bersembunyi di balik pohon. Itu adalah Ai, bersama Hone Onna dan Ichimoku.
"Kasihan sekali gadis itu, jadi bahan gosip di penjuru kampus.", kata Hone Onna.
Ichimoku mengangguk, "Ya.. lagipula, kita tunggu saja sampai dia memanggil kita. Benar kan, ojou?"
Ai hanya diam menatap bayangan Reiya yang tadi berlari, kemudian dia memutar badannya dan pergi entah kemana.
"Kenpachi! Kenapa kau di sini??", seru Ichigo heboh, Rukia langsung memukulnya dengan tas sekolah.
Hari sudah siang, mereka pulang sekolah lebih cepat dari biasanya dan akhirnya berencana untuk mampir ke Urahara Shop sebentar. Tapi, tiba-tiba saja Ichigo kaget dengan adanya kehadiran Kenpachi di situ. Ichigo yang masih kaget langsung dicubit pipinya oleh Yachiru, membuat Ichigo jadi kesal.
"Yachiru..!", teriak Ichigo.
"Sudah, sudah! Kalian ini sedang bertamu di sini, tahu!", kata Jinta sambil menggesek hidungnya, Ururu yang ada di belakangnya mengangguk setuju.
Rukia kembali memukul Ichigo karena teriakannya tadi, "Hei, Ichigo! Apa kau lupa?!"
"Hah? Lupa apa?", Ichigo balik bertanya pada Rukia.
Rukia mengusap wajahnya pelan, "Jigoku Shoujo, JI-GO-KU-SHOU-JO! Ingat?"
"Eh itu ya? Kukira ada kekacauan di Seireitei.", ujar Ichigo menggaruk kepalanya.
"Kami di sini ditugaskan Soutaichou untuk mendampingi Jigoku Shoujo, sama seperti tugas Hitsugaya-taichou beberapa hari lalu.", kata Yumichika menjelaskan.
"Memangnya harus ber-", kata-kata Ichigo tiba-tiba terputus.
Mereka semua merasakan hal yang sama seperti Ichigo. Ada reiatsu yang datang. Kenpachi terkekeh lalu bangkit dari duduknya, sudah saatnya.
"Sepertinya musuh kita sudah muncul, ayo kita pergi!"
--x--
Seperti yang dikatakannya pada Orihime, Reiya mulai bekerja di siang hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kuliahnya sudah selesai dan dia akan langsung pergi ke tempat dia bekerja. Baru saja dia sampai di pintu gerbang, ada sebuah mobil sedan hitam keluar dari pintu gerbang tersebut dan berhenti di depan Reiya. Reiya berhenti berjalan, lalu memundurkan langkahnya.
Mobil itu adalah mobil milik Hotaru, mobil itu selalu dipakainya untuk pergi ke kampus. Mobil itu pernah dinaiki Reiya ketika Hotaru masih bersikap baik padanya. Tiba-tiba, jendela mobil terbuka dan memperlihatkan wajah Hotaru yang ramah. Tapi tetap saja, raut muka ramah itu membuat Reiya muak.
"Reiya..", panggil Hotaru dari dalam mobil.
"Mau apa kau?!", tanya Reiya siaga.
Hotaru membukakan pintu mobil untuk Reiya dari dalam, "Masuklah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Bohong! Aku tidak percaya kata-katamu lagi!", sergah Reiya menjauh.
Hotaru menatapnya tajam, lalu dia keluar mobil. Dia menghampiri Reiya yang sudah ketakutan, "Reiya, ayolah.."
"Sudah kubilang aku tidak mau!", balas Reiya lalu berlari meninggalkan Hotaru.
Tapi, tangan Reiya ditahan oleh Hotaru. Reiya yang panik berusaha melepaskan genggaman kuat tangan Hotaru darinya, tapi tidak bisa. Kemudian, Reiya ditarik secara kasar ke dalam mobil hingga membentur dashboard mobil. Seketika, Reiya langsung pingsan. Hotaru tersenyum licik melihatnya dan segera masuk ke mobil untuk membawa Reiya ke suatu tempat.
"Di mana.. ini.."
Reiya membuka matanya perlahan-lahan, lalu memandang ke sekelilingnya. Dia tidak tahu di mana dia sekarang, dia merasa lemas sekarang. Kemudian, pintu terbuka dengan keras hingga mengagetkannya. Hotaru..
"Heh, akhirnya kau bangun juga.", kata Hotaru sambil membawa sebotol sake dan meminumnya.
Reiya langsung tersadar dan bangun dari tempat tidurnya, "Mau apa kau?! Apa yang ingin kau lakukan?!"
Hotaru menaruh botol sake di meja dengan kasar, "Tidak.. hanya saja, aku rindu dengan perempuanku yang dulu."
"Perempuan.. apa maksudmu?", tanya Reiya heran.
"Sebelum kau, aku juga sudah mempunyai perempuan seperti kau. Dia baik dan cantik, sungguh membuatku terpesona. Tapi dia benar-benar sialan, dia menjauh dariku dan telah menemukan yang lain.", jawab Hotaru menunduk, sedikit mengingat masa lalunya.
Reiya menelan ludahnya, "Lalu.. apa hubungannya denganku?"
"Aku marah, aku kesal. Dan asal kau tahu, kau mengingatkanku padanya. Maka itu.. aku ingin.. melampiaskan kemarahanku padamu!", balas Hotaru sambil mendekatinya cepat.
Reiya langsung menghindar dari Hotaru, berhasil. Tetapi, kini dia terpojok. Dia tidak bisa lari kemana-mana karena Hotaru sempat mengunci pintu, jendela pun juga dikunci.
"Kau tidak bisa kemana-mana lagi.. BODOH!", teriak Hotaru, dia mengambil sebuah cambuk yang tak jauh darinya.
Mata Reiya terbelalak lebar ketika Hotaru mendekatinya dengan wajah sejahat iblis sambil membawa cambuk ke hadapannya. Lalu, cambuk itu dilemparkan kepadanya..
"AAAAAKH!"
Hotaru melemparkan cambuknya berkali-kali pada Reiya hingga dia puas. Baju Reiya mulai robek, meninggalkan luka lecet di sekujur tubuhnya. Dia beteriak kesakitan, tapi Hotaru tidak mempedulikannya. Setelah puas mencambuk Reiya, Hotaru mengambil sebotol sake yang diminumnya tadi.
"Hei, minum ini!!"
Reiya yang sudah terlanjur lemas tidak bisa menuruti perintah Hotaru, membuat Hotaru semakin kesal karenanya. Dibukanya dan ditahannya mulut Reiya dengan keras, lalu memasukkan isi sake ke dalam mulut Reiya. Mau tak mau, Reiya harus menelan sake yang baunya sangat tidak mengenakkan itu.
Tetapi, Reiya tidak ingin diam begitu saja. Dia berusaha memikirkan cara agar bisa keluar dari siksaan kejam ini. Akhirnya, dia menendang perut Hotaru kencang hingga terlempar agak jauh darinya. Kemudian, dia ingat sesuatu..
"Jigoku Shoujo!"
Selagi Hotaru mengerang kesakitan, Reiya mencari-cari tas miliknya. Di dalam tas itu, ada sebuah boneka pemberian Jigoku Shoujo. Matanya tertuju pada gundukan di atas meja, itu tasnya. Reiya berlari untuk mengambil boneka tersebut dan berhasil diambilnya. Kemudian, ketika dia menoleh ke belakang, dia melihat Hotaru yang berlari menghampirinya sambil membawa pisau.
"TIDAAAAAAAAK!!"
Terlepaslah simpul yang ada di boneka itu, dan Hotaru tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Ya, akhirnya Reiya melepaskan simpul itu. Nafasnya terengah-engah karena ketakutan, tubuhnya lemas tak berdaya.
"Hotaru.. maafkan aku.."
--x--
"Itu dia!", seru Ichigo sambil melihat garganta yang terbuka di langit.
Hollow-hollow mengerikan itu mulai berdatangan dari garganta tersebut, jumlahnya sangat banyak. Sama ketika Hitsugaya dan Rangiku menjalani misi mereka. Tapi, bagi Divisi 11 yang mencintai pertarungan, itu tidak masalah.
"Hahahaha! Serang!!", teriak Kenpachi sambil bershunpo menuju para hollow tersebut.
Ikkaku dan Yumichika juga ikut bersama Kenpachi. Ichigo tidak mau kalah, "Rukia!"
Rukia mengangguk, dia mengeluarkan zanpakutou-nya dan mengucapkan perintah untuk berubah menjadi shikai.
"Mae, Sode no Shirayuki!"
Ichigo langsung berubah ke bentuk bankai, dia mengira-ngira bahwa untuk membasmi hollow sebanyak ini tidak bisa paka shikai saja.
"Tensa Zangetsu!"
Ichigo dan Rukia bershunpo menuju kumpulan hollow tersebut dan menyerang bersamaan.
"Getsuga Tenshou!", seru Ichigo sambil menganyunkan zanpakutou-nya.
Rukia pun juga ikut serta menyerang, "Tsugi no Mai, Hakuren!"
"ARGH!"
Erangan kesakitan Hotaru terdengar pilu, tiga orang pengawal Jigoku Shoujo sedang menyiksanya. Begitu Reiya melepaskan simpulnya, Hotaru melayang ke sebuah tempat yang gersang dan gelap. Tak ada apapun di sana, yang ada hanyalah pohon kering yang mati. Hotaru tidak bisa pergi kemana-mana. Lalu dia pun dikejutkan oleh dua perempuan yang berdiri di hadapannya.
Mantan kekasihnya dan Reiya.
Hotaru tertawa melihat mereka berdua. Namun, mereka berdua berjalan mendekatinya dengan perlahan-lahan. Semakin mendekat, bukanlah mereka berdua yang mendekati Hotaru. Tapi dua buah kerangka manusia tak berdaging yang dilihatnya, sambil membawa sabit yang biasa dipakai oleh shikigami atau dewa kematian dalam legenda.
"Jangan mendekat! Kubilang jangan mendekat!!"
Terlambat, salah satu kerangka manusia itu mulai menebas sabitnya. Dalam sekejap, darah pun bercucuran dari tubuh Hotaru. Kemudian, kerangka yang satunya juga ikut menebas. Ketika siksaan itu sedang berjalan, tiga pengawal Jigoku Shoujo menghampiri Hotaru yang masih dilukai oleh dua kerangka manusia itu.
"Heh, itu akibatnya kalau kau menyiksa perempuan, dasar biadab.", kata Hone Onna sinis.
Ichimoku tertawa kecil, "Hehe.. rasakan saja, dia pasti jera."
"Tapi.. sudah terlambat untuk menyadarinya.", Wanyuudo ikut mengomentari.
Setelah itu, datanglah sang gadis neraka atau Jigoku Shoujo di hadapan Hotaru. Hotaru yang masih memiliki sedikit kesadaran melihat gadis berkimono tersebut.
"Kau.."
"Menyedihkan terikat bayangan dalam kegelapan.. memandang ke bawah kepada manusia, dan menyebabkan mereka tersakiti.. sebuah jiwa tenggelam dalam karma yang berdosa..
Ingin mencoba kesekaratan sekali ini?"
Dan Hotaru pun berakhir di neraka.
--x--
Kenpachi dengan semangat melenyapkan hollow-hollow tersebut dengan sekali tebas. Ichigo, Rukia, Ikkaku, dan Yumichika juga terus bertarung melawan hollow itu. Tapi tiba-tiba saja, pintu garganta yang selama tadi terbuka mulai tertutup perlahan-lahan. Para hollow pun mulai memasuki garganta tersebut dan menghilang. Pemandangan ini sudah pernah dilihat Ichigo dan Rukia sebelumnya, ketika Hitsugaya melakukan misi yang sama.
"Seperti itu lagi.. ", gumam Ichigo.
"Cih! Dasar payah!", kata Kenpachi kesal.
Tak lama setelah itu, datanglah Jigoku Shoujo bersama tiga pengawalnya. Saat itulah, Rukia mulai memikirkan sesuatu.
"Tugas kami sudah selesai, mari kita kembali.", kata Wanyuudo dengan sopan.
Kenpachi hanya bisa berdecak kesal, padahal dia sedang asyik-asyiknya bertarung dengan para hollow-hollow itu. Tapi apa boleh buat, Ikkaku dan Yumichika hanya geleng-geleng kepala. Sedangkan, Yachiru sudah menarik-narik haori Kenpachi untuk mengajaknya kembali ke Seireitei.
"Ken-chan! Ayo kita pulang!", kata Yachiru merengek.
Kenpachi mengangguk, lalu mereka berdua pamit pergi bersama Jigoku Shoujo. Hanya tinggal Ichigo dan Rukia saja berdua.
"Ichigo..", sahut Rukia sambil memegang dagunya.
Ichigo menolehkan kepalanya, "Ya?"
"Aku jadi memikirkan sesuatu..", kata Rukia, wajahnya sangat serius.
"Kenapa? Apa yang kau pikirkan?", balas Ichigo.
"Begini.. kenapa hollow yang tadi kita lawan langsung pergi begitu saja dan setelah itu Jigoku Shoujo datang dan bilang bahwa tugas mereka sudah selesai..", ujar Rukia berpikir.
Ichigo dengan tampang tidak mengerti masih bingung, "Hah? Maksudmu?"
"Hem.. apa kemunculan hollow tersebut berhubungan dengan Jigoku Shoujo ya?", kata Rukia bertanya-tanya.
Ichigo menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ah, mana kutahu. Sudahlah, ayo kita pulang!"
Rukia mengiyakan perkataan Ichigo, tapi.. dia tidak henti-hentinya memikirkan hal itu selama perjalanan pulang.
"Reiya-san!", sahut Orihime ketika melihat Reiya kembali ke apartemen.
Penampilan Reiya saat itu tidak rapi seperti yang biasa Orihime lihat. Rambutnya yang hitam lusuh berantakan, matanya terlihat lesu, dan ada luka memar di kulitnya yang pucat. Namun, di saat itu Reiya masih bisa tersenyum.
"Aku tidak apa-apa kok, hanya lelah saja. Tadi lembur sih..", jawab Reiya pelan.
"Bohong! Lalu luka apa yang ada di tanganmu itu?", balas Orihime sambil menunjuk tangan Reiya.
Reiya sedikit merapatkan sweater-nya agar tidak ketahuan, "Tidak sengaja aku bertabrakan ketika mengantar banyak lembaran-lembaran kerja, lalu tanganku terinjak. Hehe.. sudah ya, aku mau istirahat."
Orihime tidak bisa memaksakan, meskipun masih ada rasa khawatir. Akhirnya, dia membiarkan Reiya memasuki apartemennya. Reiya yang sudah masuk ke kamar apartemennya merasa lega, dia bersandar membelakangi pintu. Lalu, dia melihat sebuah tanda di dadanya, dia pun tersenyum sedih.
"Hotaru.. aku mencintaimu, tapi aku juga membencimu. Maafkan aku.."
--x--
Anata no Urami… Harashimasu…
Iya.. aku tahu kok klo Furai itu artinya goreng.. –lmao-
Haduh! Sadis banget sih! Ini Hotaru-nya yang sadis apa author-nya aja yang psycho?? –ya itu mah kau lha!- maaf ya, Reiya-san.. jadi sadis gini.. maaf juga klo misalnya Hotaru yang disebutin itu maksudnya cewe, tapi aku salah gender. Huwee.. hontou ni gomenasai! T.T
Bagaimana? Apa ceritanya udah pas? O ya, kata-kata mantra Ai pas masukin orang ke neraka itu terjemahan dari anime-nya. Aku sengaja ganti, karena klo dari manga-nya.. gimanaa gitu~! Dan yang mendapat misi kali ini adalah Kenpachi! Inget ya~ aku udah ngasih spoiler buat urutan misinya di blogku, klo mau tahu cari aja di blogku. Hehe..
Ah lupa! Dengan dimulainya chapter ini, lowongan OC sudah resmi DITUTUP! Aku gak mau kebanyakan karena takut mandek fic-nya, ntar jadi discontinue kayak fic multichap-ku sebelumnya.. (=.=") terima kasih ya yang sudah mendaftar, hehe.. o ya, bagi yang baru baca fic ini mungkin bingung, kenapa aku gak taruh di fandom crossover. Aku akan jawab, takut sepi dan takut gak ada yang RnR. Jadi, kutaruh di sini aja. Hehe..
Yosh, sekian dulu chapter ini. Udah lama gak update fic ini, terakhir itu pas lagi ngurusin mau masuk SMA. Maaf klo fic ini jelek, cacat, negbosenin, misstypo, dan apa aja deh yang gak enakin! Arigatou gozaimasu~ m(_ _ )m
#nowplaying Aqua Timez - Itsumo Issho
Thanks for RnR!
Mizuhashi Azumi
