"HEEEEH? JADI KAU UDAH PACARAN SAMA DIA GITU?!"
"I-iya. Anu..jadi kami ini s-sudah anu..."
"—KAU BAHKAN SUDAH ANU-ANUAN SAMA DIA?!"
"ENGGAAAAAK! MAKSUDKU—aduh, Baek. Kalem, plis. Jangan bikin malu gitu dong."
Lay menenggelamkan kepalanya ke kedua telapak tangan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona dari berpuluh-puluh pasang mata di cafetaria yang menatap ke meja mereka.
Baekhyun yang menyadari tingkah malu-malu Lay semakin menggigit bibir frustasi. Ia tak ambil pusing dengan tatapan aneh orang-orang disekitar mereka, dan menatap Lay lekat-lekat,
"Kok kau nggak minta restu dariku dulu sih?"
"Memang kau siapa? Kau bahkan bukan ibuku atau ibunya."
Baekhyun mendelik, kemudian menjulurkan kedua tangannya untuk menangkup kedua pipi Lay dan membawa wajah lelaki itu mendekat. Memastikan kedua bola matanya menatap lurus-lurus pada sahabatnya, Baekhyun pun angkat bicara. Nadanya penuh penekanan dan berbahaya.
"Zhang-bodoh-Yixing. Kau sadar nggak sih dengan apa yang sudah kau lakukan?"
"Afhu hafin sefavi—"
"Apa?"
Lay cepat-cepat menyingkirkan kedua tangan Baekhyun dari kedua pipinya, mengelus pipinya yang habis dicengkram keras oleh Baekhyun. "Aku yakin sekali." Ia mengulangi.
Baekhyun menyipitkan mata, tersentak secara dramatis sebelum ia buru-buru menjauhkan diri dari Lay. "Oh, tidak! Kau pasti bukan sahabatku Lay kan?"
"Baek, kau bicara ap—"
"Lay yang aku kenal, tak mungkin percaya begitu saja pada orang lain!"
"Oh ya ampun Baek, kau mulai lagi—"
"Ah, ah! Kau pasti alien dari planet mars yang menyamar jadi Lay kan? Katakan dimana sahabatku!"
"Baek—"
Ia meraba-raba pipi Lay sekali lagi, lalu menusuk-nusukkan jari telunjuknya disana. "Meski dimple ini keliatan asli, tapi kau tak akan bisa menipuku, alien!"
"Baekhyun—"
"ASTAGA LAY, LAAAY! TUNGGU AKU WAHAI SAHABATKU, AKU AKAN MENYELAMATKANMU DARI—"
"BAEK! CUKUP!"
Baekhyun mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah, "Oke, oke. Fine!" Ia menghela nafas panjang, satu tangannya beralih memijat dahinya yang sedikit berdenyut sakit. "Tapi Lay, serius. Aku pikir ini bukan keputusan yang bijak. Ini tidak bisa diteruskan."
"Apanya yang tidak bisa diteruskan?"
"Hubungan abstrakmu dengan si Money ini, demi Tuhan!" ujar Baekhyun, berusaha menyadarkan sahabatnya yang kelewat naïf ini. Telunjuknya menekan-nekan layar gadget Lay yang menampilkan deretan kata, "Sayang, makan gih sana. Nanti modar lho." atau "Selamat bobok sayang, mimpiin aku sepuasnya, ya. Muah."—dari si Money. "Tidakkah kau berpikir mungkin saja dia ini seorang maniak? Psikopat? Om-om mesum atau seorang player yang hanya ingin memanfatkaanmu saja?"
"Santai lah. Aku dan dia kan cuman coba-coba saj—"
"Coba-coba? Apanya yang coba-coba kalau seperti ini? Dia jelas sungguhan tertarik padamu, tahu! Ini bukan main-main lagi!"
Lay membuang nafasnya kasar, "Well, memangnya kenapa kalau ia tetarik padaku? Memangnya kenapa juga kalau aku tertarik padanya? Memangnya salah kalau kami ingin pacaran? Bukankah kau bilang sendiri jika chatroom ini adalah semacam forum perjodohan?"
"Well, iya sih... tapi bukan begini! Dia itu nggak jelas asal-usulnya!"
"Nggak jelas gimana?"
"Pikir saja. Kenapa coba dia tak mau memberitahu identitasnya padamu?"
"Kenapa dia harus? Aku sendiri juga tak memberitahu identitasku padanya."
"Tapi, Lay. Dia itu—"
"APA?" Lay menginterupsi, kini mulai ikut tersulut emosi. "Kenapa sih kau selalu berprasangka buruk pada Money? Dia orang baik kok!"
"Bagaimana kau bisa bilang dia baik kalau kalian tidak pernah bertemu sekali pun?!" Kedua telapak tangan Baekhyun beralih menggebrak meja kantin, mau tak mau mengagetkan Lay sendiri dan beberapa orang disekitar mereka. "Sadar dong, Lay. Kau sudah dicuci otak! Dia ini orang asing, Lay sayang~ Tidak sepantasnya kau bersikap seterbuka itu dengan orang tak jelas macam dia. Jauhi dia, Lay. Dia bawa pengaruh buruk buatmu!"
Wajah Lay berubah makin merah padam. Bukan karena ia merasa malu, melainkan lebih karena menahan amarah, "Jangan sok tahu, Baekhyun! Kau tidak tau apa-apa dan kau tidak berhak mengatur hidupku!"
Lay bangkit dari kursi dan berjalan cepat-cepat menuju pintu keluar kantin, mengabaikan segala panggilan Baekhyun yang berseru di belakangnya.
Sial. Lay benar-benar tidak suka hidupnya diatur-atur orang lain seperti itu. Oh plis, ini hidupnya. Ia merasa tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Dan tentu saja, Lay tak suka cara Baekhyun menghina Money seperti itu!
.
Mungkin Baekhyun hanya iri karena Lay dekat dengan orang lain.
Atau mungkin saja Baekhyun merasa cemburu karena sekarang ia sudah tidak jomblo lagi.
Mungkin juga Baekhyun berpikir Lay tak akan lagi punya lagi waktu untuknya karena ia sudah punya pacar—Apapun itu, ia merasa Baekhyun benar-benar bersikap konyol sekarang!
Well, dulu, ia memang sempat meragukan si Money ini. Ia juga takut tentu saja, kalau-kalau pria ini memang bermaksud buruk padanya. Tapi seiring berjalannya waktu, Lay merasa… berbeda.
Ia merasa aman dengan sendirinya. Ia juga merasa nyaman-nyaman saja kok berbicara dengan pemuda itu. Seperti ada sesuatu yang kuat yang membuat Lay merasa betah dengannya. Seperti ada sebuah chemistry tak kasat mata diantara mereka.
Seperti ada sebuah benang. Ikatan. Yang menghubungkan mereka berdua, entah bagaimana.
.
Baru sekitar dua mingguan ini mereka saling mengenal, tetapi Money seringkali memberinya perhatian khusus layaknya seorang kekasih. Bohong kalau Lay bilang ia tidak menyukainya. Siapa yang tidak suka jika diperlakukan spesial seperti itu?
Kini Lay harus mengakui, jika dirinya perlahan kian akrab dengan sosok Money yang kerap menjadi teman ejek-ejekannya selama tidak ada kerjaan. Atau terkadang menjadi teman curhat dadakannya ketika sahabat-sahabatnya sedang sibuk sendiri. Ia tak menduga, hanya berawal dari ledekan dan sebutan aneh-aneh, keduanya bisa merasa sedekat ini meski belum pernah bertatap muka secara langsung.
Walaupun lelocon Money terkadang memang nyelekit dan nge-jleb di hati, tapi justru itulah kharisma yang Lay temukan dari pria itu. Ada perasaan nyaman tak wajar yang muncul ke permukaan ketika ia mengobrol dengan si Money ini.
.
Ia merasa mereka ini begitu dekat.
Namun disaat bersamaan, mereka juga begitu jauh.
.
Dan mungkin karena itulah, Lay sama sekali tak merasa ragu ketika ia mengiyakan usulan Money untuk mencoba menjalin sebuah komitmen dengannya.
Sebuah hubungan semu. Tak ada perasaan takut, khawatir, atau semacamnya. Toh, ia juga tak menyangkal bahwa ia memang mulai merasakan ketertarikan yang kuat dengan teman chatting-nya itu.
Terdengar agak irasional, memang. Apalagi sampai saat ini pun mereka belum pernah saling memberi tahu nama lengkap maupun foto asli, meski status mereka sudah lebih dari sekedar teman. Hubungan yang terlalu abstrak—seperti kata Baekhyun tadi.
Tapi jujur, Lay tak mau terlalu ambil pusing. Lagipula, si Money pun tidak pernah mempermasalahkannya. Money pernah bilang ia tidak akan kaget dan menyesal jika UniCORNIsMyEVErything tidaklah sebagus ekspektasinya. Hal yang sama berlaku untuk Lay. Ia merasa tak keberatan seperti apapun rupa Money sebenarnya. Ini kan hanya dunia maya, bung. Why so serious, huh?
Tidak ada salahnya kan mencoba mengenal lebih satu sama lain sebelum mereka benar-benar siap untuk memutuskan bertemu suatu saat nanti?
.
Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya Lay merasa sedikit ada yang janggal.
Melihat cara laki-laki itu berinteraksi yang tak kenal ragu-ragu, perasaan familiar yang tiba-tiba muncul ketika Lay berbicara dengannya, membuatnya sempat berpikir…
.
Mungkinkah…
.
Mungkinkah si Money ini adalah seseorang yang dikenalnya di dunia nyata?
.
Benarkah…?
.
.
Tapi…
.
.
….Siapa?
.
Virtual Boyfriend
.
.
Beware!
Longass chapter, Typos, Humor garing, Gayness, OOC-ness.
Rated:
T++++
.
.
.
Chapter 3
.
.
Beberapa hari berlalu semenjak ia dan Money resmi pacaran di dunia maya.
Hubungan mereka pun rasanya makin merekat dari waktu ke waktu. Hal yang membuat Lay bahagia adalah kenyataan bahwa hubungannya dengan Money ini terasa begitu nyata. Real. Layaknya mereka adalah benar-benar sepasang kekasih di dunia nyata—minus mereka tidak bisa melihat dan menyentuh satu sama lain—dan seolah saat ini mereka tengah menjalani hubungan jarak jauh.
Hari-hari "pacaran" mereka diisi dengan obrolan ringan untuk mengenal satu sama lain secara lebih personal. Hampir setiap hari, setidaknya minimal tiga kali sehari mereka akan menyempatkan diri duduk berjam-jam di depan laptop atau memelototi layar ponsel—dan berakhir dengan mata merah dan kantung hitam, terima kasih—hanya untuk bertukar pesan chatting. Mengingat ini adalah satu-satunya perantara komunikasi yang dapat menghubungkan mereka untuk saat ini, dan tentunya untuk menjaga hubungan baik mereka dengan tetap "stay in touch."
Mereka berkomitmen untuk bertemu suatu saat nanti, tentu saja. Nanti. Jika keduanya sudah merasa benar-benar siap dan ketika waktunya sudah tepat. Untuk sekarang, biarlah tetap seperti ini saja.
Di waktu-waktu itu pula, si Money pun mulai tak enggan untuk membocorkan sedikit identitasnya. Bukan informasi spesifik yang terkesan begitu penting. Lebih sekedar membicarakan hal-hal sederhana seperti hobi, hal yang disuka, hal yang tidak disuka, dan vice versa.
Hubungannya dengan si Money atau MonMon(—begitu panggilan sayang emang-sih-agak-norak dari Lay untuk Money)—sama sekali tak berubah.
Mereka masih sering mengatai satu sama lain,melempar candaan dan ejekan nyelekit, meski status mereka sekarang adalah sepasang kekasih. Tapi damn—who cares? Mereka berpacaran bukan berarti harus selalu mengobral kemesraan setiap saat untuk menunjukkan kasih sayang, mereka menunjukkannya dengan cara mereka sendiri. Menurutnya ini adalah salah satu daya tarik sendiri dari hubungan semu mereka.
Bagaimana mereka melontarkan kalimat-kalimat ejekan satu dengan lainnya.
Bagaimana mereka melayangkan ledekan dan panggilan aneh-aneh untuk satu sama lain.
Terkadang membuat Lay mau tak mau jadi kepikiran tentang S-Su—Su—Susu sapi.
.
Iya.
.
Susu sapi…
.
.
…fag.
Ia mikir apaaan coba?
.
Otaknya pasti sedang tidak beres karena da hell, bukannya membayangkan sapi, kenapa yang terbayang disini justru smirk seksi Suho? (—sebentar, siapa yang bilang seksi tadi?) Kenapa yang terlintas justru senyum angelic Suho yang menawan di pandang?(—nah ah ah.) Kenapa juga ia terangat bagaimana pose keren Suho saat menyelamatkannya dulu? (—ohmaigad)
Shit.
Ia tidak tahu apa yang merasukinya tapi—Lay khilaf, oke?
.
Fokus, Lay.
Fokus, plis.
.
Well, sampai dimana ia tadi? Ah iya.
Lay merasa bangga tentu saja. Setidaknya hal-hal buruk yang dituduhkan Baekhyun tentang "pacarnya" ini sama sekali tidak benar dan tidak beralasan.
Ia ingin membuktikan kepada Baekhyun dan teman-temannya yang lain bahwa apa yang dirasakan mereka berdua ini benar-benar sesuatu yang istimewa.
Sesuatu yang terasa manis juga menyenangkan, terasa kurang jika tidak ada, ada terasa mendebarkan jika diteruskan lebih Lay mendapati dirinya menggigiti bibirnya sendiri dengan gemas, atau bersorak-sorak seperti seorang fangir—ralat—fanboy—tatkala ia membaca pesan-pesan manis dari Money. Memang bukan pesan-pesan gombal tipe "bapak-kamu" atau semacamnya, tapi entah kenapa pesan-pesan sederhana dari pacar virtual-nya itu mampu menimbulkan kesan yang membekas.
Terkadang, lelaki itu hanya akan memberi sekedar ucapan selamat pagi, selamat makan, dan selamat tidur—hingga Lay tak bisa menahan seulas senyum arti karenanya.
.
…Well, mungkin itu juga karena Money selalu menyisipkan kata "my dear little unicon mumumu" di ujung setiap kalimat selamat-selamat hariannya.
.
Demi kumis Jung Yunho—siapa yang tidak dibuat melayang coba? Apalagi sebuah pesan chat yang dikirimkan Money sebagai pengantar tidurnya tadi malam.
.
'How can I love you since I never see you at all…'
.
Hornyshiet—
…sori.
.
Maksudnya—Holyshiet.
.
Jangan salahkan ia jika ia membangunkan seluruh penghuni lantai karena teriakannya tadi malam.
.
Lay merasa ia benar-benar sedang dimabuk cinta—meski ia tidak yakin perasaan absurd yang dirasakannya untuk Money ini adalah cinta. Setidaknya belum. Itu terlalu cepat. Biarkan mereka berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Mengalir apa adanya. Toh jika memang benar, Lay percaya rasa itu akan tumbuh dan menguat dengan sendirinya.
.
Tapi segala sesuatu di dunia ini pasti punya timbal baliknya sendiri-sendiri. Jika segala sesuatu punya sisi positif dan negatifnya masing-masing, maka hukum alam itu juga berlaku untuk dirinya.
.
Jika hubungan dunia maya-nya baik-baik saja, maka kehidupan dunia nyata-nya bisa dibilang jauh dari kata baik-baik saja.
.
Akhir-akhir ini misalnya, ia sering mendapat teguran dosen karena datang terlambat, sering tidak tepat waktu mensubmit tugas kuliah, sering tidak memperhatikan penjelasan dosen di depan—sebenarnya yang ini sudah berlangsung sejak dulu sih—lalu nilai-nilainya yang makin merosot kian hari.
Ia mengakui jika kesehariannya kini lebih sering dihabiskannya di depan laptop atau ponsel hanya untuk berbalas chatting dengan Money di seberang sana, yah, mau bagaimana lagi.
Dan juga masalah dengan sahabatnya—ugh.
Siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun?
Hubungan mereka jadi kurang akur belakangan ini. Mereka sudah tak sering bicara lagi, bahkan bertukar sapa pun tidak.
Ini aneh, memang. Biasanya Baekhyun tak pernah tutup mulut jika sudah bertemu dengannya. Membicarakan hal-hal dari yang tidak penting sampai yang tidak penting—mereka memang jarang membicarakan hal-hal penting, lagipula—dari boyband sampai cowok-cowok ganteng sekitaran kampus yang tertangkap mata.
.
Lay tahu Baekhyun marah karena ia tak mau mendengarkan nasihatnya hanya saja—Lay berhak untuk marah juga, kan?
Maksudnya, plis. Ini kehidupan pribadinya. Sudah ia tekankan kalau ia tidak suka orang lain sok ikut campur dan mengatur-ngaturnya seakan ia tahu segalanya. Lay merasa ia cukup bisa menjaga dirinya sendiri kok.
.
Dan bicara soal Baekhyun…
.
…Luhan pun juga sama saja.
.
Jika Bekhyun sudah menabuh gendering perang, maka ia akan berusaha mengajak teman-temannya yang lain untuk berada di baris pertahanannya.
Kalau Luhan pun sudah ada di pihak Baekhyun, sudah pasti Sehun yang polos akan mengikuti mereka berdua—tipe-tipe suami takut istri, memang—dan ia bisa apa? Lay punya siapa? Ia hanya seorang diri sekarang.
.
Tapi nggak papa.
.
#Laykuat
#Layhebat
#Laysemangat
#Laycowokmanly
.
Ia pasti bisa hidup tanpa mereka.
.
.
T-tapi…
Tapi,
Tapi kan tetap saja.
.
Rasanya tetap ada yang berbeda. Ada yang kurang.
Bagai lebaran tanpa ketupat.
Seperti dunia tanpa cinta.
Ibarat sayur tanpa garam.
.
Duh, biyung. Kenapa jadi begini? Padahal dulu ia lebih suka memilih untuk menyendiri. Mengasingkan diri dari teman-teman sebayanya yang lain. Ia sudah biasa ditinggalkan, menjalani apa-apa sendirian. Pengalaman jomblo bertahun-tahun pun membuat ia makin terbiasa sendiri. Tapi sekarang? Entah kenapa rasanya begitu aneh. Begitu…
Nyesek.
Lay mengakui bahwa Money memang memberi warna yang berbeda untuk hidupnya. Tapi ia juga tak bisa menyangkal bahwa Baekhyun dan sahabat-sahabatnya yang lain juga berarti untuknya.
.
Lay merasa…kesepian.
Bahkan ketika ia menjomblo pun rasanya tidak akan sesepi ini.
Selalu ada Baekhyun. Sohib seperjuangannya melawan kerasnnya hidup tanpa kehadiran seorang pasangan, sahabat yang menemaninya menggalau di bawah pohon belimbing ketika ia mengetahui Luhan mendapat pacar, partner-in-crime-nya dalam berbagi contekan. Pokoknya Baekhyun adalah tempatnya berbagi suka dan duka.
Ia sempat berpikir. Apakah setimpal jika persahabatannya hancur karena masalah asmara?
Hanya karena masalah pacar. Pacar yang bahkan tidak pernah ia temui sebelumnya. Pacar yang tidak pernah ia ketahui wujudnya.
Apakah persahabatannya sama sekali tidak berharga?
.
Ya Tuhan…
Kenapa Lay merasa pertahanannya mulai goyah?
.
Suasana ramai dan gaduh langsung menyambut gendang telinganya begitu ia menginjakan kaki di kafetaria kampus.
Dengan tas tersampir ke bahu, Lay mengedarkan pandangan, meneliti ke seluruh sudut ruang yang ada. Kafetaria tampak begitu ramai seperti biasanya, hampir seluruh meja disana tampak telah terisi penuh oleh mahasiswa. Lay menyadari beberapa orang di kantin tengah memandanginya, namun ia memilih untuk tak ambil pusing.
Pandangannya jatuh ke seberang ruangan.
Kedua matanya tak sengaja bertubrukan dengan Sehun yang duduk di meja tempat mereka biasa nongkrong. Lelaki berambut nyentrik itu tampak tersenyum dan melambai kecil ke arahnya.
Lay tersenyum cerah, ia sudah akan melangkahkan kaki ke sana ketika kemudian ia berhenti di tempat, menyadari bahwa Sehun tidaklah sendirian disana.
Ada Luhan disampingnya yang tampak tertidur dengan kepala tersungkur di meja, dan—w-w-well..emm, Baekhyun yang sedang menatapnya dengan pandangan mengintimidasi. Tatapannya seolah berkata 'berani-kesini-mati-kau'.
.
Memilih cari aman—dan karena Lay belum ingin mati muda, terima kasih—Lay pun memutuskan untuk putar balik dan berjalan ke arah yang berlawanan, bersyukur sekali ketika ia mendapati sebuah meja dengan dua kursi terletak di sudut tanpa penghuni. Ia melangkahkan kaki lebih cepat, takut orang lain keburu merebutnya.
Baru saja ia akan menghela nafas lega dan menarik kursi untuk menghempaskan bukunya disana ketika—
Bruk.
.
"Hai, Zhang."
"Ming-gat."
"Kursi ini kosong."
"Tapi kursi ini punyaku."
"Aku tidak melihatmu duduk disini."
"Soalnya bokong besarmu itu menghalangi jalan."
"Aduh, bokongku dipuji."
"Itu bukan pujian, bodoh!"
"Galak banget—"
"SIAPA MEMANGNYA YANG DARITADI NYULUT EMOSI, HA?"
Suho mendongak, memperhatikan Lay yang balik menatapnya dengan muka 'gemas', seakan tangan-tangan yang terkepal itu sudah tak sabar untuk mendaratkan diri di wajah tampannya.
Ia menyeringai, "Siapa cepat dia dapat, ingat?" Suho meletakkan tasnya di meja kemudian menarik sebuah laptop yang tersembunyi disana sebelum bicara lagi, "Lagipula kursi yang satunya juga masih kosong tuh."
Lay mendengus keras, "Kayak aku sudi duduk satu meja denganmu sa—"
"—OI JONGDAEEE, ADA KURSI KOSONG NIH!"
"FAK OFF! KURSINYA UDAH DI BUKING!"
Lay menjatuhkan dirinya di kursi yang berseberangan dari Suho. Ia melirik lelaki itu yang tampak sibuk mengutak-atik laptopnya, kemudian menghela nafas lesu. Ia mengetukkan keningnya ke meja, mengerang pelan, "Kampret. Kenapa sih hidupku nggak bisa jauh-jauh darimu?"
.
"Mungkin kita jodoh."
.
Lay duduk tegak.
.
Kalimat itu.
Entah kenapa terdengar tidak asing.
.
Kalimat itu…
Sebuah kalimat main-main yang jutsru mampu membuat jantungnya berdentum tak karuan seperti ini.
Desir ini...
Kenapa semua terasa familiar?
.
Detik demi detik berlalu, Suho mengharapkan rentetan balasan, ejekan, bentakan, atau makian keluar dari pemuda itu namun—nihil.
Suho tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, tentu saja—hell no! Ia hanya ingin menggoda Lay, karena well—mereka memang sudah seperti tom and jerry, bukan?—dan ia tahu Lay juga pasti mengetahuinya. Hanya saja, reaksi lelaki berlesung pipi itu memang tidak biasa hari ini—dunno wai.
Dengan kening berkerut ia mendongak dari layar laptopnya, menemukan pemuda yang lebih muda itu tengah menatap kosong ke depan. Melamun, eh?
Suho mencondongkan tubuhnya ke depan—dan Lay masih tidak bereaksi. Ia meraih selembar tisu, meremas-remasnya menjadi gumpalan bola lalu melemparkannya ke wajah pemuda itu, "Woi, jangan melamun. Resletingmu lepas tuh."
Lay tersentak ketika ia merasakan sesuatu yang padat mengenai ujung hidung bangirnya. Ia berkedip, sebelum kemudian mendelik ke arah si pelaku—yang sekarang pura-pura mengalihkan perhatian dengan kembali menekuni layar laptopnya, "Rese. Siapa yang ngelamun, ih."
"Kau."
"Sok tahu."
"Aku memang tahu."
"Aku tidak melamun kok."
"Terus kenapa tadi mukamu jelek gitu?"
"Sialan. Jelekan juga kamu."
"Nggak punya cermin ya?"
"PFFFFT."
"…"
"…"
"…Tapi seriusan, resletingmu lepas."
.
Lay terdiam selama beberapa saat.
Ia menunduk ke bawah dan—dafuq.
Dengan wajah terbakar ia buru-buru membenarkan resleting celananya dan membenahi posisi duduknya. Pantas saja orang-orang tadi memandangnya.
Ternyata ada show gratisan. Hmm.
Lay berdehem kecil, wajahnya masih terasa panas, "Makasih," gumamnya lirih pada Suho, yang hanya meresponnya dengan anggukan tak acuh.
Ia memandang berkeliling, sekali lagi pandangannya mendarat ke meja di sudut kantin, menyadari Sehun yang masih anteng menyantap makanannya, Luhan yang masih tertidur, dan Baekhyun yang masih mendelik ke arahnya—sial. Lay cepat-cepat buang muka dan menusuk-nusuk lengan Suho dengan telunjuknya, "Beli makanan sana gih."
Ia sedikit tersenak kaget ketika Suho tiba-tiba bangkit dari kursinya, menuruti perintahnya untuk membeli makanan tanpa berkata macam-macam.
Woah, tumben sekali. Kerasukan arwah apa dia barusan? Atau mungkin saja Tuhan sudah mengirimkan seorang malaikat yang akhirnya membuka pintu hati Suho, membimbingnya ke jalan yang benar, dan menyuruhnya untuk bersikap baik pada Zhang Yixing yang polos dan baik hati?
Apapun itu, yang penting makan. Karena demi Tuhan, ia lapar sekali, kawan. Ia ingat tadi malam ia keasyikan chatting dengan Money sampai-sampai ia melupakan makan malamnya.
Dari kejauhan ia bisa melihat Suho telah kembali dengan sebuah nampan di tangan tengah menuju ke meja mereka.
Brak.
.
What the…
Ia memandangi piringnya dengan pandangan kosong, seolah-olah makanan yang tersaji di depannya ini adalah kotoran sapi. Satu tangannya yang mencengkram garpu ia gunakan untuk menjumput sesuatu yang hijau dari sana lalu mengangkatnya ke udara,
"Ini daun?"
"Menurutmu?"
"Kau pikir kita kambing kau beri makan daun-daunan begini?"
Suho memutar mata dan menunjuk-nunjuk piringnya dengan sendok, "Ini salad, bodoh."
"Ijo-ijo gini? Mana kenyang!"
Sekali lagi Suho memutar mata. Ia menyapukan sesendok salad dari piringnya kemudian mencengkram rahang Lay tanpa permisi dan memasukkan sendoknya secara paksa ke mulut pemuda itu,
"—hmmpffh!"
" Kuberitahu ya, salad itu banyak manfaatnya. Selain memangkas kalori, makanan ini tingga serat sehingga bisa membantu menurunkan kolesterol dan konstipasi atau pencernaan—"
"—HMMMPH!"
"Antioksidan yang tinggi seperti vitamin C dan E, asam folat, likopen, dan beta karoten, terutama jika mentah, bisa melindungi tubuh dari kerusukan paparan radikal bebas—"
Dengan penuh perjuangan Lay meraih segelas orange juice-nya di meja dan menyesapnya cepat-cepat.
Setan.
Ia bersumpah Suho memang sengaja ingin membunuhnya diam-diam.
"Dasar tante."
"Kau bilang apa tadi?"
"…Saladnya enak."
"Tentu saja."
Suho menjumput saladnya sendiri dan mulai memakannya sambil sesekali menarikan jemarinya di atas keyboard laptop, entah apa yang sebenarnya dikerjakannya.
Lay yang melihatnya memutar bola mata jenuh. Merasa mood makannya telah menguap, ia iseng membuka riwayat perpesanan online-nya dengan pacarnya tadi malam (–ini sudah jadi kebiasannya jika ia mulai merasa bosan dan karena kebetulan Money sedang tidak online) karena well, tidak tahu kenapa ia selalu merasa terhibur dengan sendirinya membaca isi chatting-an mereka yang selalu saja punya sejuta topik untuk dibicarakan.
Disela-sela perbincangannya dengan Money, terkadang pikiran Lay mulai melayang-layang membayangkan kira-kira bagaimana rupa kekasih virtual-nya ini. Seikhlas papun dirinya tentang wujud Money nanti, yah, tetap saja ia tak bisa menolak dirinya untuk tidak penasaran.
Kalau dilihat dari cara pria itu membalas pesan chattingnya—dilihat dari kapitalisme kalimat, penggunaan EYD, pemakaian tanda baca, penambahan emot, hingga tenggang waktu dalam membalas pesan—sebenarnya ini teori buatan Lay sendiri sih— Lay bisa membayangkan kalau si Money ini adalah sosok yang kharismatik di dunia nyata, gentleman, wajah yang rupawan, postur tubuh semampai nan tinggi, dan hell yeah—macho.
.
Ditambah lagi kalau saja pemuda itu punya rupa sekelas Lee Min Hoo...
—Anjassssss.
Kalau benar seperti itu, Lay bersumpah ia akan mengajak pemuda itu cepat-cepat naik podium wisuda, naik altar pernikahan, dan naik atas tempat tidur tentunya.
If you know what Lay means.
.
Ia tampak terlalu asyik dengan kegiatannya sampai-sampai suara Suho yang mengajaknya bicara diseberang terdengar samar bagai angin lalu di telinganya.
"…rapat perdana akan dimulai beberapa hari lagi. Kyuhyun-sunbae akan menemui kita untuk memeriksa semua preparing. Aku sudah menyusun beberapa program yang akan diusulkan di rapat nanti…"
"Hnngh."
"Semua persiapan hampir beres. Tapi aku tetap butuh bantuanmu, oke? Dan saat rapat nanti, kau harus pastikan rapat berjalan dengan baik. Kau boleh berpendapat jika mau, tapi ingat. Jangan malu-maluin."
"Hnngh."
"Aku mau kau mempersiapkan diri. Ini event penting untuk kita berdua karena ini akan menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kau dan aku memang layak menduduki posisi atas dewan senat, mengerti?"
"Hnngh."
"Kau mendengarkanku tidak sih?"
"Hnngh."
"Kau... sakit ya?"
"Hnngh."
"…"
"Hnngh."
"…"
"Hnng—eh, lho kok diem?"
Suho menghela nafas panjang. Ia mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan, "Dengar ya udik. Aku harap kau mengerti bahwa rapat ini PENTING untuk kita berdua. Terutama aku karena aku ketuanya disini. Aku yang bertanggung jawab disini. Dan aku butuh bantuanmu sebagai wakil ketua untuk menyukseskan rapat itu. Jadi aku harap kita bisa bekerja sama, mengerti? Setidaknya untuk satu hari itu saja."
Suho menolehkan kepala pada Lay yang malah tersenyum-senyum sendiri pada layar ponselnya, jelas tidak mendengarkannya. Jadi daritadi dia hanya buang napas saja? Fak ya.
Suho mengerang. Ia menangkap pergelangan tangan pemuda itu untuk mengalihkan perhatiannya sejenak padanya, tak peduli dengan delikan maut Lay yang dilayangkannya kepadanya, "Zhang, plis. Aku serius. Ini bukan main-ma—"
"Geeez. Iya, iya. Aku mendengarmu, bawel." Lay melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Suho dan mendengus, mengusap kulitnya yang sedikit memerah karena cengkraman Suho barusan. Ia mendesis, "Sudahlah. Kau tenang saja. Semua pasti berjalan baik. Percaya saja padaku."
Suho menghela nafas sekali lagi sebelum kemudian mengangguk-angguk kecil. Menyeruput orange juice-nya untuk yang terakhir kali, ia bangkit berdiri dengan menenteng laptopnya di satu tangan. Suho sudah akan pergi ketika tiba-tiba ia berbalik, memandang Lay dengan err, pandangan yang sulit diterka.
Lay menggeliat tak nyaman. Jujur saja ia tak pernah melihat Suho memandangnya dengan tatapan semacam itu. Itu membuatnya emm.. apa ya? Gugup?
Lay mendengar lelaki itu mendesah pelan, dan berujar dengan suara yang lebih lembut—suara yang baru di dengarnya keluar dari bibir pemuda itu seumur hidupnya.
.
"Aku percaya padamu, Yixing."
.
Lelaki itu akan beranjak pergi ketika ia berbalik sekali lagi, "Oh ya, kau bisa bayar makanannya disana," katanya sambil menunjuk ke arah selatan, sebelum akhirnya membalikkan badan untuk benar-benar pergi.
Lay terpaku di tempat.
Ia hanya diam dengan rahang ternganga, menatap punggung Suho yang makin menjauh dari pandangan. Ia bilang… apa tadi?
"Aku percaya padamu, Yixing."—OH EM GEE, ada apa dengan makhluk vertebrata itu hari ini?
Kenapa sikapnya jadi aneh sekali? Kenapa tingkahnya jadi sok mellow begitu? Juga—Lay menahan nafas—seingatnya Suho tidak pernah sudi memanggilnya "Yixing " sebelumnya.
Tidak pernah. Sekalipun.
Bahkan semenjak mereka bertetangga setahun yang lalu. Suho selalu memanggilnya Zhang, kuda binal, udik, dan sebangsanya. Jadi, sekarang apa? Apa maksudnya?
Apa iya—
Eh. Tapi sebentar. Sebentar.
.
Ia baru ingat.
.
Emm.
Suho terakhir bilang apa?
.
'Kau bisa bayar makanannya disana.'
.
.
Tunggu. Tunggu.
Kenapa harus? Bukannya Joonmyun sudah membayarnya? Jadi buat apa ia membayarnya lagi kesana? Masa' iya ia harus membayar double? Kecuali kalau—
—motafaka.
Ia kena lagi.
.
.
"Joonmyun sialan! Balik sini, dasar liciiiiiiik!"
.
.
Suho—196875910
Lay—0
.
Money mulai berubah.
Konklusinya bukan tanpa alasan.
Awalnya ia juga berpikir bahwa mungkin ini hanya asumsinya semata, tapi semakin lama, semua mulai terasa jelas dan nyata.
Ini sudah berlangsung selama beberapa hari yang lalu. Money sudah jarang online semenjak itu. Kalaupun yang bersangkutan sedang online, mereka pasti hanya bercakap-cakap singkat, mungkin hanya butuh waktu sepuluh hingga lima belas menit sebelum kekasih dunia maya-nya itu meminta undur diri.
Lay pernah mencoba bertanya kenapa, dan Money bilang saat ini ia tengah disibukkan dengan kehidupan sekolahnya yang semakin menyita waktu. Ia juga minta maaf karena ia jarang online sekarang.
Lay memaafkannya tentu saja. Sekolah memang penting, lagipula.
Lay mengerti. Ia paham kok. Ia berusaha menjadi kekasih yang pengertian. Ia tidak mau Money menganggapnya sebagai kekasih yang posesif dan terlalu banyak menuntut, hanya saja…
.
Lay rindu.
.
Mereka sudah jarang berbagi sapa dan canda. Money selalu beralasan 'sibuk', atau 'sedang ada kerjaan' yang tak bisa dibantah.
Mereka hanya chat seperlunya saja sekarang. Obrolan mereka jadi sedikit boring, dan ia perhatikan akhir-akhir ini memang selalu dirinya lah yang berusaha untuk memulai pembicaraan. Semua itu memang ada sisi positifnya juga sih. Setidaknya jam tidurnya kini sudah kembali normal dan nyenyak. Tidak ada lagi kata begadang jam tiga pagi seperti minggu-minggu belakangan.
.
Tapi tetap saja.
.
Dihiraukan itu…
…Rasanya bener-bener nggak enak ya?
Rasanya aneh.
Seperti terlupakan. Dilupakan begitu saja.
.
Lay menatap kosong ke depan. Dimana layar laptopnya kini tengah menampakkan serentetan pesan off darinya untuk Money di seberang sana.
.
[November 23rd]
UNicOrnIsMyEVerything: Hai Mon-nyet.
UNicOrnIsMyEVerything: Kok diem? Sibuk ya? \(‾▿‾\)
UNicOrnIsMyEVerything: Cih sok sibuk.
.
.
[November 24th]
UNicOrnIsMyEVerything: Pagi, Mon.
UNicOrnIsMyEVerything: Mon?
UNicOrnIsMyEVerything: MonMonMonMonMon ~(˘▾˘)~
UNicOrnIsMyEVerything: Ya udah deh nggak usah dibales. (‾^‾)
UNicOrnIsMyEVerything: Kok beneran nggak dibales sih? (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)
.
.
[November 26th]
UNicOrnIsMyEVerything: Apa kabar Mon?
UNicOrnIsMyEVerything: Mon? Helooooooow
.
.
[November 28th]
UNicOrnIsMyEVerything: Money, aku mulai khawatir, tahu.
.
.
[Yesterday/November 29th]
UNicOrnIsMyEVerything: Mon, balas plis.
.
.
[Today/November 30th]
UNicOrnIsMyEVerything: Mon...
.
Lay menghela nafas.
Kenapa tiba-tiba kekasih-nya itu seperti tiba-tiba hilang dari peradaban? Kemana perginya ia? Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya? Apa ia marah? Mungkin saja Lay pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.
Apa kadang candaannya keterlaluan?
Apa jangan-jangan…
Lay menggigit bibir.
Apa jangan-jangan Money memang sengaja mengindarinya?
Mungkinkah Money sudah bosan dengannya?
Atau mungkin saja lelaki itu sudah ragu padanya, dan sekarang ia telah menemukan orang lain sebagai penggantinya di sana. Seseorang yang lebih pantas, lebih rupawan, lebih pengertian, dan lebih… nyata?
Meski mereka memang berpacaran, status mereka ini kan tidak mengikat.
Apalagi mereka ini hanya sebatas sepasang kekasih di dunia maya.
.
Uh.
Lay galau.
.
Ia memang belum sempat bilang cinta. Tapi kenapa rasanya sudah senyesek ini, Ya Tuhan?
Kenapa rasanya seperti terjatuh dan tak bisa bangkit lagi?
Kenapa rasanya seperti tenggelam dalam lautan luka dalam?
Kenapa rasanya seperti tersesat dan ia tak tahu arah jalan pulang?
Dan kenapa rasanya ia seperti mengenal lirik lagu ini?
…Damn.
.
Sepertinya Lay harus benar-benar menghapus lagu ini dari daftar playlist lagu galaunya tiap malam.
.
Drrt.
Lay mengalihkan perhatian dari layar laptopnya dan menoleh ke arah meja nakas untuk mendapati layar ponselnya mengedip-ngedip di sudut ruangan. Ia berjalan lesu ke dekat tempat tidur untuk meraih ponselnya, dan mendapati ada satu pesan disana.
.
From: tante
Besok datanglah ke ruang senat. Aku butuh bantuanmu.
.
Lay menghembuskan nafas malas. Ia memilih untuk tak membalas pesan Suho dan mematikan ponselnya. Ia tidak bisa berpikir jernih. Mood-nya benar-benar kacau sekarang.
Lay menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menutup mata. Membiarkan dirinya terbuai ke alam mimpi, membiarkan laptopnya tetap menyala di meja.
Dan membiarkan rentetan pesan itu berakhir tak berbalas.
.
Dua hari sudah Lay bolos kuliah.
Lay tidak menyangka ia akan melakukan perbuatan melanggar aturan seperti ini. Meskipun berakhir dengan tidak mendengarkan penjelasan dosen, setidaknya ia tidak akan absen datang ke kampus.
.
Lay berguling ke kanan.
.
Tapi mau bagaimana lagi? Ini masalah hati sih.
Lay ini sedang galau.
Atau mungkin, patah hati?
.
Dih, bodo amat.
Dua-duanya sama saja.
.
Sama-sama bikin sakit.
.
Bangun tak mau, makan tak enak, mandi tak sudi, dan sejuta tak-tak lainnya yang membuat keadaan Lay tampak begitu mengenaskan saat ini.
Begitu alay.
.
Kantung mata yang menghitam, badan bau, mata bengkak dan sembab—enggak, Lay nggak nangis itu. Ia cuman kurang tidur saja.
Well,
…kurang mandi juga, sebenernya.
.
.
Lay pun berguling ke kiri.
.
.
Ia merentangkan tangan untuk meraih ponselnya di tempat yang sama. Membuka password dan melihat ada beberapa pesan masuk disana.
.
From: tante
dateng ke ruang senat ya.
.
From: tante
Hei perjaka lapuk, kenapa kau tidak datang?
.
From: tante
Jangan lupa besok kita ada gladi bersih.
.
From: tante
Sialan, kenapa kau tidak datang lagi eh?
.
From: tante
Heiii, kau masih hidup kan?
.
From: tante
Aku sumpahin kau jomblo seumur hidup. Amin.
.
From: tante
Kuda girang~
.
From: tante
Kuda kuda kuda girang~~
.
From: tante
oke, kali ini serius. Aku bener-bener butuh bantuanmu.
.
From: tante
Zhang, plis. Dateng. Kali ini saja.
.
From: tante
Zhang, plis.
.
Hanya pesan-pesan tidak penting dari Suho.
Lay pun memilih mengabaikannya dan berakhir membuka aplikasi chat-nya, berharap ia akan mendapat balasan atau apapun dari Money dan—tada!
.
.
Nihil.
Tidak ada sama sekali.
.
Lay mendesah kecewa.
Semangatnya yang tadi sempat berkobar-kobar padam begitu saja.
Aduh, Mon. Kamu kemana~
.
Lay galau, mama.
.
Pikirannya dihantui dengan bagaimana nasib hubungannya dengan Money nanti? Bagaimana jika Money berniat meninggalkannya? Bagaimana kalau Money sungguhan ingin membuangnya?
Demi apa, Lay masih belum rela. Bukan bukan, yang benar—tidak rela. Maksudnya, ia tidak bercanda tentang ini semua. Ia serius mengenai hubungannya dengan Money. Lay benar-benar merasa nyaman, bahagia, dan…
Mungkin…
.
...Mungkin ia memang beneran sayang sama Money.
.
Lay pun berguling ke kanan.
.
Duh.
Tapi bagaimana jika kata-kata Baekhyun dulu memang benar? Bahwa Money memang seorang player yang hanya iseng mempermainkan hatinya saja? Bagaimana kalau Money hanya memberinya harapan palsu semata?
Bagaimana kalau sebenarnya Money itu adalah musuhnya dan ia berniat untuk mengerjainya sehingga ia bisa mempermalukannya?
Seharusnya Lay tidak mudah percaya seperti itu, tapi…
Tidak bisa.
.
Kenapa?
.
Alasannya sederhana.
Karena ia percaya.
.
Lay percaya pada Money, apapun yang terjadi. Mereka sudah berjanji untuk saling mempercayai satu sama lain—dan janji tidak boleh diingkari, 'kan?
…Iya kan?
.
Ia tidak boleh ragu lagi akan hal itu.
Tidak boleh.
.
Lay pasti bisa melewati ini.
Ia pasti bisa.
.
Yeah.
.
…Semoga saja.
.
.
Lay pun berguling ke kiri dan—
Bugh.
.
"—NGGHH."
.
Lay jatuh dari kasur, saudara.
.
Hal pertama yang dilihatnya ketika Lay menginjakkan kaki di koridor adalah sosok Suho dan Kyuhyun yang sedang berdiri berhadapan, entah membicarakan apa.
Kelihatannya sebuah perkara yang serius, karena ia sempat melihat Kyuhyun menunjuk-nunjuk ujung hidung Suho beberapa kali.
Tapi bodo amat lah.
Masalah Suho, biarlah jadi derita Suho sendiri.
.
Tepat saat ia akan berbelok untuk menaiki tangga, kedua mata elang Kyuhyun tak sengaja menuntunnya tepat ke arahnya.
Entah ini hanya perasaannya saja atau bukan, ia bersumpah ia sempat melihat kedua manik hitam itu berkilat-kilat dan—apakah asap hitam yang mengepul dari tubuh Kyuhyun itu juga hanya bagian imajinasinya?
.
Siaga 1, kawan.
Perasaannya tidak enak.
.
Selagi ada kesempatan, lebih baik ia kabur sa—
.
"Lay! Berhenti disitu atau kukebiri kau!"
.
—ja.
Shit, telat.
.
Menegak ludah banyak-banyak, Lay pun membawa tubuhnya dengan langkah berat menuju tempat Kyuhyun berada, yang tengah berdiri menunggunya dengan tatapan garang dan tangan terlipat di depan dada.
Duh, bukan seperti ini acara penyambutan yang diharapkannya.
.
Kini ia sudah berdiri di hadapan Kyuhyun. Dan maaak, aura hitamnya makin terasa saja.
Ia melirik bahu seniornya itu, tak sengaja kedua bola matanya bertumbukan dengan Suho yang juga menatapnya balik.
"A-ada apa Sunbae?" Lay bertanya takut-takut, waswas.
"Kemana saja kau dua hari kemarin?" Nada dingin Kyuhyun sama sekali tidak membantu meringankan bebannya.
Lay menegak ludah sekali lagi, membuka mulutnya untuk menjawab meski harus tergagap.
"Aku… aku, well, aku sakit, s-sunbae. Eum, ada apa memangnya?"
Kyuhyun menggeram tertahan, tampak mendidih, "Ada apa? Kau masih bertanya ada apa?! Kau sadar kesalahanmu tidak sih?!"
.
Sumpah demi apa, Lay merasa ia benar-benar kembali ke masa orientasi-nya dulu mendengernya dibentak-bentak seperti ini.
.
"A-aku tidak mengerti, sunbae—"
"Kau tidak mengerti?! Astaga, Lay! Kau sudah benar-benar keterlaluan!" Kyuhyun membuang nafas, kemudian memijat sebelah keningnya, "Rapat perdana akan dimulai dua hari lagi—aku tekankan, dua hari lagi! Aku pikir kalian sudah bekerja sama untuk menyiapkan semuanya—tapi apa? Apa yang kudapati sekarang? Pekerjaan berantakan! Ini-itu masih belum siap! Kacau semua!"
.
Lay membeku.
Rapat perdana senat..—oh fakfakfak.
Ia benar-benar lupa.
Oh Tuhan, bagaimana ia bisa lupa? Bodohnya ia.
.
Kyuhyun mengetuk-ngetuk permukaan lantai dengan alas kakinya tidak sabaran, kedua tangannya ia sampirkan di pinggang, "Dan lagi, kenapa hanya Suho yang kulihat bekerja disini? Kemana saja kau, ha? Suho bilang dia sudah mencoba menghubungimu namun kau tak merespon apa-apa. Aku tahu kau kecewa karena kau gagal mendapat jabatan ketua senat tapi bukan begini caranya! Hanya mendapat posisi wakil ketua bukan berarti kau bisa seenaknya sendiri! Sekarang menurutmu ini salah siapa?"
Lay terbata.
"—Kau! Kau tentu saja! Kenapa sih kau tidak mau mengalah sedikit untuk bekerja sama dengan Suho? Aku tahu kalian itu rival, tapi plis, jangan mementingkan kepentinganmu sendiri, Lay! Coba lihat Suho! Contoh dia! Dia mau mengalah bukan? Dia tentu tidak egois sepertimu! Apakah hatimu benar-benar sekeras itu sampai kau tak mau membantunya, ha?! Kau sungguh kekanakan, Lay!"
"T-tidak sunbae. Maksudku bukan begitu. Aku bisa jelaskan—"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan!" Kyuhyun memotong, tak peduli. Ia membuang nafas banyak-banyak, kemudian menatap Lay dan Suho bergantian dengan mata memincing galak, "Kalian berdua! Cepat selesaikan ini, mengerti?"
Kyuhyun sudah akan beranjak pergi dari sana ketika tiba-tiba ia berhenti di samping Lay, berkata lantang,
"Aku benar-benar kecewa padamu, Yixing. Aku tahu, memilih Joonmyun sejak awal memang pilihan yang sangat tepat. Bukan kau. Karena Suho...
.
.
.
… dia memang jauh lebih baik darimu."
.
Lay terpaku.
.
Sementara Kyuhyun sudah melenggang pergi melewatinya begitu saja. Meninggalkan kata-kata itu terngiang-ngiang menyakitkan ditelinganya.
Meninggalkan perasaan mencelos dihatinya layaknya sebuah tancapan belati.
.
.
Suho memang jauh lebih baik darimu...
.
Suho.
Suho...
.
Lay mendongak, menuntun kedua bola matanya kepada Suho yang masih berdiri diam di hadapannya.
Manik mereka bertemu. Dua bola mata yang hampir serupa warna itu saling bertumbukan, menimbulkan sensasi asing diantara keduanya.
.
Lay tidak bisa membaca secerca ekspresi pun yang terpancar dari sana.
Kosong.
Lay yakin Suho mendengar jelas semua kata-kata Kyuhyun tadi. Lalu kenapa ia diam saja? Kenapa ia tak bereaksi sedikit pun?
.
Dan entah kenapa reaksi tutup mulut Suho itu justru membuat sesuatu dalam diri Lay mendidih.
Apakah pria sialan itu sedang mengejeknya?
Menertawakannya diam-diam karena ia jadi bulan-bulanan Kyuhyun barusan? Apakah lelaki itu tengah bersorak gembira karena merasa ia telah menang darinya?
.
Screw you.
.
"Kau puas sekarang, brengsek?"
.
Suho diam.
Lay menggertakkan gigi.
.
"Kau merasa hebat sekarang, hah? Bukankah menyenangkan mendengar Kyuhyun-sunbae tadi menjelek-jelekanku?"
.
Melihat Suho diam saja tak membalas kata-katanya, Lay sempat merasa tak enak hati.
Tapi tidak, ia tak boleh menyerah.
Ia tak boleh terlihat lemah.
.
"Kau sungguh menjengkelkan. Sialan. Manusia paling menyebalkan di dunia. Kau selalu saja menganggu hidupku semenjak aku mengenalmu. Hidupku seperti di neraka. Kau selalu saja menghancurkan semuanya! Kenapa kau tidak mati saja, eh?"
Lay tahu kata-kata begitu kasar untuk diucapkan, ia sebenarnya tidak begitu sungguhan mengatakan semua itu. Hanya saja—Lay frustasi, oke? Ketidakjelasan hubungannya dengan Money, masalahnya dengan Baekhyun, dan sekarang ini. Apa bisa ini jadi lebih buruk lagi?
Semua emosi yang dipendamnya keluar begitu saja tanpa bisa ia cegah. Tapi tidak, ia tidak mau menarik kata-katanya. Ia tak mau menjilat ludah sendiri. Ia… Ia harus menumpahkan semua pikirannya
Ya, semua.
.
"Aku benar-benar membencimu, Kim Joonmyun."
.
Entah karena kelilipan atau memang merasa kesal pada kenyataan yang baru saja terjadi, sebutir kristal air mata bening meluncur turun dari sudut mata Lay, yang segera dihapusnya cepat-cepat dengan punggung tangan kiri.
Dan pemuda itu berjalan pergi ke arah yang berlawanan, meninggalkan Suho yang masih mematung di koridor sepi itu.
.
Hingga punggung Lay tak tampak lagi di kejauhan, Suho masih belum bergerak dari posisinya.
Suho berkedip.
.
Apa tadi…
...Lay menangis?
.
Tidak. Pasti itu hanya ilusinya semata. Ia tahu lelaki itu benci sekali menunjukkan kelemahannya di depan orang lain.
Apalagi di depannya.
.
Lalu kata-katanya yang terakhir...
Kata-katanya itu.
Kalimat itu terus terngiang nyaring di telinganya. Seperti sebuah rekaman rusak. Ia tahu mereka memang tidak menyukai eksistensi masing-masing, hanya saja mendengar kalimat itu meluncur langsung dari bibir pemuda itu.
.
Aku benar-benar membencimu—
Sesuatu dalam diri Suho terasa berdenyut-denyut nyeri.
.
Lay berjalan menyusuri gang sepi itu dengan langkah terseret.
Langit sudah mulai menggelap, hanya ada hamparan lembayung senja di atas sana dan lampu-lampu jalan yang menemani perjalanannya pulang ke apartemennya. Entah kenapa, hari ini ia merasa lelah sekali. Semua masalah yang menimpanya akhir-akhir ini benar-benar membuat kepalanya sakit.
Alhasil,
Lay pun bolos lagi.
Ia lebih memilih menghabiskan waktunya di rooftop kampus daripada menghadiri kelas. Ia tidak yakin ia mampu bertatap muka dengan Suho saat ini—atau Baekhyun sekalipun.
.
Lay mencengkram tasnya kuat-kuat dan menggigit bibir.
Tiba-tiba saja pikirannya melayang ke kejadian di koridor tadi pagi.
Bagaimana ia memaki Suho, membentaknya, melampiaskan smeua rasa kecewanya pada pemuda itu. Sebenarnya Lay masih tidak enak hati, karena well, tidak semua yang dikatakannya itu sepenuhnya benar kok. Ia hanya terlalu terbawa emosi saat itu.
Tapi ya sudahlah, nasi sudah keluar dari dubur—a-anu, maksudnya nasi sudah terlanjur jadi bubur. Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi.
Toh, ia yakin Suho tidak akan menganggap ini semua serius.
Iya kan?
.
…Kan?
.
Lay tidak ingat sejak kapan ia sudah berdiri di depan gedung apartemennya. Mungkin ia melamun sepanjang perjalanan tadi sampai ia tidak menyadarinya.
Lelaki china itu membawa tubuhnya menaiki tangga dengan langkah berat. Mengerang keras-keras ketika ia mengingat bahwa apartemennya berada di lantai tiga. Hello~ kenapa gedung apartemen ini tidak punya fasilitas lift sih?
Menggerutu di sela-sela nafasnya yang sedikit terengah, Lay melihat salah satu tetangganya dari apartemen 504 keluar dengan membawa beberapa kantong sampah di tangan. Ia tidak terlalu ingat siapa nama ibu-ibu itu sih, toh ia memang tidak terlalu suka bersosialisasi dengan orang-orang di kompleks apartemen ini.
Ia dan wanita itu berpapasan. Beliau memberinya senyum lebar dengan bibir yang terpoles lipstick merah merekah. Lay hanya balas menganggukan kepala dan tersenyum tipis. Ia menaksir umur wanita itu sudah kepala empat, namun ia masih tampak suka mengenakan pakaian minim dan hobi memoles wajah dengan make-up super tebal.
Tante genit—Lay bergidik dalam hati.
Lay telah mengeluarkan kunci apartemnnya dari saku dan akan memasukannya ke lubang pintu ketika tiba-tiba sebuah suara asing menghentikannya.
.
"Kalian sudah baikan ya?"
.
Lay menoleh, mendapati si tante genit tadi ternyata sudah berdiri di sebelahnya, masih dengan menenteng berkantong-kantong sampah.
Lay memalingkan muka, melanjutkan kembali kegiatannya memutar kunci apartemennya, "Apa.. maksud Anda?" tanyanya ragu-ragu. Jujur saja, ia sedang malas bicara dengan siapapun saat ini.
Ia mendengar wanita itu mengeluarkan suara kekehan geli, "Kau dan si—eum, siapa ya? Itu lho, bocah yang tinggal di apartemen itu—yang sering membuat keributan denganmu itu." katanya sambil menunjuk pintu apartemen 508.
Lay mengangkat alis, mengikuti arah yang dimaksud sang wanita dan mengangguk. Tentu saja ia tahu siapa pemilik apartemen itu.
"Maksud Anda Kim Joonmyun?"
"Ah, iya. Aku sampai lupa. Ternyata aku sudah tua juga ya?" Kemudian ia tertawa keras.
Lay sweatdrop. 'Situ baru sadar?'
Ia sudah meletakkan satu tangannya di gagang pintu ketika lagi-lagi wanita itu menghentikannya.
"Temen kamu tuh. Tante sering liat tiap malam dia selalu berdiri di depan pintu apartemenmu. Lama. Tapi anehnya dia nggak ketok-ketok. Tante juga heran kenapa."
Lay terpaku. Perlahan ia berbalik untuk menghadap wanita tua itu, ingin menyimak lebih baik.
Ia tidak salah dengar kan...?
Si wanita pun melanjutkan, memindahkan kantong-kantong sampahnya di tangan kiri, "Tante pikir kalian udah baikan. Dia sering tanya-tanya ke tetangga, kamu udah keluar apa belum seharian ini. Dia keliatan care banget sama kamu. Tante liat dia anaknya baik kok. Baik banget."
.
Lay masih terpaku.
.
Bohong.
Bohong…
.
"Kalau aja tante ini dua puluh tahun lebih muda, udah tante kawinin dia."
.
Lay memilih tak ambil pusing tentang komentar pedofil sang tetangga. Ia juga tidak tahu sejak kapan wanita itu sudah menghilang dari hadapannya.
Lay sama sekali tak peduli. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran dan hatinya sama-sama berkecamuk saat ini.
.
Ini…
Ini terlalu membingungkan.
Terlalu rumit, dan terlalu irasional.
.
Ini tidak benar.
.
Lay menyandarkan punggungnya ke pintu, kedua matanya tak sengaja mengarah ke pintu apartemen 508.
Menatap dalam kebisuan pintu kokoh yang tertutup rapat itu.
Dan mau tak mau membuatnya memikirkan seseorang yang mungkin ada di baliknya.
.
Ia merasa… aneh.
Seperti ada beban berat yang menumpui bahunya, dan tenggorokannya seperti dicekik oleh tangan-tangan tak kasat mata.
.
Ia…
Ia sudah mengatai orang yang mungkin peduli padanya saat itu.
.
Orang yang tak pernah diharapkannya untuk peduli...
.
Nyatanya dia satu-satunya orang yang peduli.
.
.
"Aku ini..."
Lay berbisik, lirih.
.
.
.
"…Orang jahat ya?"
.
.
.
.
Tanpa disadari,
Mereka itu seperti sebuah adhesi.
.
.
Dua molekul yang berbeda jenis, namun mempunyai gaya saling tarik menarik.
to be continued.
.
.
Kenapa konfliknya jadi menye sekaleee -_- Kalian bisa kok timpukin saya karena cerita ini yang makin gaje aja dari chapter ke chapter :")
Mungkin Sulay fluffy momentnya belum keliatan ya? ._. Saya usahain chap depan ada deh .-. Maaf buat yang nunggu-nunggu /emangada/
Makasih untuk responnya buat chapter kemarin. Beneran nggak nyangka :"D Sekali lagi maaf saya nggak bisa nyapa teman-teman satu per satu, semoga enggak mengurangi respect saya ke kalian semua yang super-super awesome ini :") Makasih makasih banget.
Boleh sumbang Review lagi? Terima kasih banyak :D
