First i want to say thank you to reader who already review my story. Thank you alot for your review, fave and follow : Nica-kun, Shey Yoo, Fujiwara, Constantinest, Guest, and AmaliaAkashi20.
Thank you alot, hug and kisses :*
Enjoy this chapter
-Sour-
Mata emeraldnya menatap dokumen berusaha tertarik dengan tulisan di dalamnya, ia menyeruput kopinya perlahan dan meminumnya sebentar. Membaca semua informasi yang mungkin bisa membuatnya fokus saat ini.
Tetapi ia tidak bisa, sudah satu minggu semenjak pertengkaran mereka dan baik Gaara ataupun Sakura tidak menunjukkan sinyal untuk berbaikan. Tidak, bahkan Gaara sudah tidak memanggilnya untuk urusan miliknya dan membuat Sakura bertanya-tanya.
Semua orang bertanya-tanya tentang hubungan drama antara Kazekage mereka dengan kunoichi daun tersebut bahkan Sakura sendiri ragu akan sikap Gaara.
Perasaan bersalah mengerogoti hatinya semakin dalam, ia mengigit bibirnya berusaha memikirkan bagaimana caranya untuk berbaikkan, tetapi Gaara membuatnya seolah semakin rumit. Sakura tahu bahwa menghina Kazekage adalah pelanggaran besar, ia menyadari bahwa ucapannya kelewatan mengingat siapa pria itu terlepas usia mereka yang sepantaran.
Gaara menjauhinya.
Itu terlihat jelas.
Ketika Sakura berusaha untuk menemuinya di kantornya, Gaara yang selalu berada di ruangannya kini memiliki hobi baru, menghilang entah kemana setiap kali Sakura berusaha menemuinya di ruangannya.
Sakura menaruh dokumen di tangannya di meja kayu pria itu, andai saja ia bisa menjaga kata-katanya tentu saja hal ini tidak akan terjadi. Bahkan Sakura masih bersyukur Gaara tidak melaporkan sifatnya kepada Hokage atau mungkin mampu merusak aliansi mereka.
Semakin keras Sakura mencoba untuk menemuinya, semakin keras juga Gaara menjauhinya.
"Kazekage-sama memang sibuk akhir-akhir ini Sakura-san, bukan cuma kamu yang mencarinya beberapa chunin juga mencarinya," ucap wanita muda, sekertaris Gaara yang Sakura tahu bahwa wanita itu sangat ngefans Gaara.
Sakura mendengus kecil, 'jadi dia menjauhi dia dan seluruh orang di desanya?' batin Sakura.
-sour-
Suara gaduh memenuhi ruangan rumah sakit membuat Sakura mendongak dari mejanya memperhatikan beberapa suster yang nampaknya sibuk dengan beberapa dokumen di tangannya.
"Sakura-san, Kazekage mengadakan pemeriksaan mendadak! Bisakah kau membawa dokumen-dokumen tentang kemajuan rumah sakit kita?!" seru Toshiro memasuki ruangan Sakura tanpa mengetuk.
Sakura mengeleng dan bertanya dalam hatinya apa rencana Gaara kali ini.
Beberapa rombongan dewan memasuki rumah sakit, mereka berjalan mendahului dan meninggalkan Gaara di belakang, lengkap dengan jubah kagenya berjalan dengan anggun. Beberapa suster muda menatap ke arah Gaara dengan bersemu merah. Gaara tidak peduli, ia masih berjalan matanya berkeliling mencari seseorang.
"Kazekage-sama," panggil suara wanita yang sangat familier dalam ingatannya, Gaara menoleh menatap Sakura dan Toshiro di sebelahnya.
Gaara menatapnya sebentar, kemudian berjalan melewatinya seolah Gaara tidak pernah menemukannya.
Gaara mengacuhkannya di depan semua staf rumah sakitnya.
Tingkah laku Gaara yang aneh membuat semua mata menatap ke arah Sakura dengan bertanya, menduga apa yang terjadi dengan mereka.
"Jadi kau ya, ninja daun itu?" tanya salah satu dewan menatapnya dengan tidak sabar.
Sakura hanya mengangguk kecil.
"Kurasa kita harus melihat perkembanganmu, Kazekage kami tidak membayarmu mahal hanya untuk menjadi penghangat ruangannya bukan?"
Rumor hubungan mereka sudah menyebar sampai dewan.
Sakura menengang, ia mengepal tangannya dengan kesal. Ia bukan mainan dan menatap Gaara seolah meminta penjelasan. Tetapi Gaara hanya menatapnya sekilas dan berjalan pergi.
"Saya..." Sakura mengigit bibirnya, ia ingin membalas ucapan dewan sialan itu tetapi ia tidak bisa. Pertengkarannya dengan Gaara membuat hubungan antara Konoha dan Suna bisa hancur dan jika Sakura tidak bisa berhati-hati maka...
"Sakura-san. Kurasa kau harus menjelaskan apa prestasi yang sudah kau lakukan," suara wanita bergema lembut, satu-satunya wanita dalam posisi dewan, ia menatap Sakura dengan iba dan kemudian melewatinya.
Sakura hanya menangguk dan menahan semua perasaannya saat ini.
Ruangan rapat bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan buat Sakura, dimana seluruh mata menatapnya tertarik seolah rumor yang berkembang antara dirinya dan Kazekagenya.
"Sakura-san,"
Sakura menelan air ludahnya, menatap layar presentasi dan menjelaskan semua hal yang sudah di lakukannya. Memang terlihat jelas perubahan rumah sakit mereka baik dari standar kualitas serta resiko kematian semakin rendah setiap hari.
"Kau juga menghabiskan banyak anggaran untuk barang-barang baru bukankah begitu Sakura-san," ucap salah satu dewan, "Di tambah lagi sepertinya Kazekage kami sangat peduli kepadamu,"
Sekarang Sakura tahu mengapa Gaara bisa sangat kesal setiap menghadapi mereka.
"Saya menjelaskan kepada Kazekage-sama, bahwa ada beberapa perlengkapan yang sudah sangat lama dan tidak layak di pakai. Saya juga menjelaskan apa keuntungan membeli barang-barang baru," ucap Sakura mengepalkan tangannya, berusaha tidak membanting tinjunya di ruangan rapat.
Gaara hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Ia menekuk kedua tangannya menyembunyikan mulutnya.
"Sakura-san, aku tahu tetapi apakah kau sudah mengetahuinya bahwa anggaran belanja untuk rumah sakit sudah meningkat dua kali lipat dari seharusnya?" tanya pria itu lagi.
Sakura mengigit bibirnya. Ini bukan salahnya, Gaara terlibat dalam hal ini dan matanya menatap ke arah Gaara seolah meminta pembelaan.
"Bukan berarti menjadi kekasih Kazekage, kau berhak mendapatkan apa yang kau mau Sakura-san."
"Aku bukan kekasihnya!" serunya mendesis. "Saya disini hanya membantunya, memberitahu kebenarannya," Sakura menatap Gaara, pria itu membalasnya dengan pandangan kosong, tetapi wajahnya mengeluarkan tatapan dingin atas ucapan Sakura.
"Kalau begitu jelaskan apa hubunganmu dengan Kazekage kami?"
"Aku tidak―"
"Setidaknya melakukan pembelanjaan untuk rumah sakit jauh lebih layak dari pada pembangunan gedung baru, bukankah begitu Namui?" ucap Gaara tiba-tiba memotong pertengkaran mereka.
Pria itu mendengus kesal, memalingkan muka dan Gaara menatapnya, "Apa kau menuduhku menggunakan kekuasaanku secara tidak benar Namui?" suara Gaara datar dan dingin.
Membuat beberapa anggota dewan bergerak gelisah diantara mereka. Gaara menatap mereka dengan malas, Sakura merasakan aura yang sangat berbeda dari pria yang ditemui terakhir kali atau pria yang pernah berbaring di pangkuannya.
"Tidak Kazekage-sama," jawaban singkat.
Sakura berdeham ringan, ia dapat merasakan betapa ketatnya udaranya saat ini. Bahkan ini membuatnya tidak nyaman.
Gaara berdiri dari mejanya. "Kerja bagus, lanjutkan." Gaara melewatinya, tidak menatapnya sedikitpun. Beberapa dewan juga berdiri mengikuti Kazekage mereka, Sakura menjatuhkan dirinya di kursi. "Toshiro, bisakah kau mengambilkanku Aspirin?" memijat pelipisnya, ia belum pernah merasakan dipermalukan di depan orang terhormat, keringat mengucur perlahan. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan ketegangan menyebalkan
Setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
-Sour-
Kejadian di ruang rapat membuat Sakura bergidik ngeri, ia tidak mau menambah rumor apapun saat ini. Ia akan berkerja dengan giat mengingat hanya tinggal sebentar ia disini.
Semenjak kejadian di ruang rapat. Sakura tidak yakin ia bisa bertemu Gaara, ia merasakan mual sekaligus setiap kali mengingat kejadian itu dan bersyukur bahwa Gaara menjauhinya. Itu jauh lebih baik.
Ia tidak peduli hubungannya yang rusak dengan Gaara, yang ia inginkan adalah kembali ke Konoha.
Seorang ANBU milik Gaara muncul dalam kepulan asap membuat Sakura bertanya-tanya. Ia membawa kotak berwarna merah besar di tangannya menyerahkannya.
"Dari Kazekage," ucapnya menyerahkan kotak merah itu kepada Sakura.
Sakura menyeritkan alisnya, "Dari Kazekage?" tanya Sakura dengan tidak yakin menerima kotak itu dan pria itu segera menghilang.
Sakura membukanya dengan perlahan. Ia mengeluarkan boneka beruang berwarna krem dengan bulu yang halus dan sebuah coklat mewah di dalamnya. Sakura menyeritkan dahi, berpikir keras, mencari apakah ada surat atau kata-kata di dalamnya. Tetapi tidak menemukaannya.
"Apakah ini coklat dengan sesuatu di dalamnya?" tanya Sakura memeriksanya.
"Sakura-san, ini laporan untukmu. Woah, bagaimana kau mendapatkan coklat itu Sakura-san?" tanya Toshiro dengan lebar, "Apakah kau memiliki pengagum pribadi?" tanya Toshiro tersenyum usil.
Sakura memukulnya pelan, "Jangan bercanda, kenapa dengan coklat ini Toshiro?"
"Oh mereka sangat langka Sakura-san, jarang kau bisa menemukan coklat seperti ini di negara angin. Coklat seperti ini biasanya berada di ruangan elit. Oh tidak apakah ada salah satu dewan yang tertarik kepadamu sekarang?"
Sakura tersenyum kecut, bertanya apa reaksi Toshiro jika ia mengetahui bahwa hadiah ini berasal dari Gaara.
"Aku tidak tahu siapa pengirimnya, kau mau?" ucap Sakura berbohong.
"Dengan senang hati Sakura-san,"
-Sour-
Perlahan hadiah mahal itu sering bermunculan di ruangannya. Pertama Gaara mengirimnya sabun dengan kualitas terbaik, sabun dengan aroma mawar yang sangat memanjakan, beberapa parfum, beberapa perhiasan kecil dan banyak hal.
Sakura berusaha menolak setiap kali seorang ANBU muncul tetapi mereka hanya menjalankan tugas dan tentu saja mereka lebih menurut kepada Kazekage mereka.
Sehingga rumor yang tidak mengenakan muncul.
Kau tahu aku mendengar percakapan dewan ketika rapat, mereka membahas tentang penerus Kazekage. Dan sepertinya Sakura-san sedang hamil anak Kazekage! Kau tahu bukan kalau Sakura sering datang ke rumah Kazekage setiap malam? Hal seperti itu tentu saja bisa terjadi.
Sakura bergidik ngeri membanyangkan rumor yang beredar luas saat ini. Beberapa orang di rumah sakit memperhatikannya terutama perutnya. Sakura memijat pelipisnya, ia mengerang kesal.
Ia berusaha menghilangkan semua perasaan kesalnya, dengan menjelaskan bahwa misinya hanya tinggal satu bulan lagi. Ia mengulang ucapannya seperti mantra. Ia harus bertahan.
Toshiro masuk keruangannya, ia membawa sebuah kotak merah di tangannya. "Untukmu Sakura-san," ucapnya. Sakura menerimanya dan membukanya, menemukan sebuah boneka beruang dengan pakaian kecil dan sebuah popok bayi. Sakura menatapnya dengan ngeri.
Toshiro mendekatinya gugup. Sakura menatapnya dengan curiga, pria itu tampak gelisah dan menatap Sakura, pria itu mengosok bagian belakang lehernya dengan tidak nyaman.
"Aku tidak mau percaya gosip Sakura-san... tetapi apakah rumor itu benar? Kau mengandung anak Kazekage sekarang?"
Sakura menatap Toshiro dengan kesal. Apakah ia tampak seperti wanita hamil sekarang? Sakura membanting meja kantornya menyebapkan meja itu terbelah, "TIDAK! AKU TIDAK HAMIL!" erangnya dan berjalan menuju kantor Gaara.
Sakura tidak peduli jika Gaara menjauhinya atau apa! Kali ini ia akan memastikan ia bertemu dengan pria itu bahkan jika ia harus menginap agar pria sialan itu muncul di wajahnya, maka Sakura akan melakukannya.
-Sour-
Gaara meminum kopinya dengan cepat, kemudian berusaha memusatkan pemikirannya pada dokumen di tangannya, ia berusaha menerka-nerka tulisan apa yang ada di dokumennya. Dokumen itu berasal dari chunnin muda yang baru saja bertugas dan tentu saja menuliskan misinya dengan semangat sampai Gaara tidak tahu ia menulis apa.
Suara gaduh dari depan pintunya membuatnya bertanya hanya satu orang yang mampu membuat kegaduhan di ruangannya.
"Kazekage-sama tidak ada di ruangannya Sakura-san!" seru Yumi, sekertarisnya dan Sakura memaksa membuka pintu dan menemukan Gaara di dalamnya.
"Dasar pembohong cilik!" serunya mendesis. Gaara mengangkat tangannya mengisisyaratkan untuk Yumi meninggalkan mereka. Wanita muda itu mengangguk hormat dan pergi.
"Jadi kau selama ini bersembunyi dengan nyaman di kantormu? Apakah kini aku terlarang untuk menemuimu?!" tanyanya dengan nada sarkasme.
Gaara menatapnya sebentar, "Aku sangat sibuk sekarang," ucap Gaara menatap kembali dokumen di tangannya masih mencoba membaca tulisan itu.
"Apa rencanamu Gaara?" tanyanya Sakura, melipat kedua tangannya dan menatap Gaara.
Gaara menghembuskan nafas kecil. "Bagaimana kabarmu Sakura-san? Sudah lama kita tidak bertemu," ucapnya meletakkan dokumen itu dan menatap Sakura.
"Singkirkan basa-basimu Gaara, apa yang kau rencanakan!" tanya Sakura dengan gusar. Ia menatap Gaara dengan mata tajam, membuat darah Gaara mendesir hebat karenanya.
Sudah lama semenjak insiden kecil mereka di ruangannya dan jujur Gaara cukup bosan ketika Sakura tidak berada di sekitarnya, Sakura wanita itu memiliki banyak energi yang menyenangkan untuk di tonton. Berbeda dengan wanita di sekitar Gaara yang sangat patuh atau mencintainya bagaikan anak anjing. Tetapi Sakura berbeda.
"Jaga bicaramu Sakura," ucap Gaara dingin.
"Jawab aku Gaara, apa rencanamu!"
"Tidak ada,"
Urat kesabaran Sakura putus, ia meremas tangannya, menatap Gaara dengan pandangan kesal. "Apa kau tidak mendengar rumor yang beredar Gaara? Kurasa kau mendengarnya, melihat betapa jarangnya kau berada di kantormu!" seru Sakura.
"Yang mana?" tanya Gaara, kali ini ada nada geli dalam nadanya, ia menekuk tangannya di mulutnya dan menatapnya.
"Jangan berlagak bodoh Gaara!" ucap Sakura, kali ini ia benar-benar menyingkirkan formalitas dalam ucapannya. Gaara sudah terbiasa dengan ucapan Naruto dan beberapa ninja daun lainnya, bahkan Gaara juga terbiasa mendengar tidak adanya formalitas ketika Sakura bertengkar argumen dengan gurunya, baik itu Hokage ke-lima ataupun Hokage ke-enam.
Ninja daun sepertinya sangat bersemangat, berbeda dengan kebudayaan Suna yang sangat tertutup.
"Yang mana? Kau kekasihku atau kau hamil anakku?" tanya Gaara dengan datar.
"Kau benar-benar Gaara!" ucap Sakura, ia hendak memukul meja kayu kesayangan pria itu, membelahnya menjadi dua, "Apa yang kau inginkan dariku!"
"Tidak ada."
Atsmofer tegang sangat terasa saat ini. "Hentikan semua itu Gaara! Aku tidak membutuhkan semua hadiah itu!" ucap Sakura berbalik dan membanting pintu kantor Gaara.
-Sour-
Pertengkaran mereka di kantor Kazekage sepertinya tidak ada artinya, hadiah itu terus bermunculan dan bahkan kini Gaara mengirimkannya di ruang resepsionis seolah memberitahu semua orang bahwa ia memberikan hadiah kepada konoichi daun tersebut.
Kini rumor Sakura dan Gaara memiliki hubungan sudah tidak dapat di hentikan.
Beberapa ninja muda menatapnya dengan benci, mereka mengerumuni Sakura ketika ia sedang makan siang, Sakura memakan sandwichnya dengan malas dan tidak peduli betapa banyaknya ninja muda di hadapannya. Matanya masih menatap buku teks medis milik Suna di tangannya.
"Sakura-san, apa kau tahu bahwa Kazekage sama sekali tidak menyukaimu!" ucap salah satu ninja muda.
"Yah. dia memang membenciku," jawab Sakura dengan malas, ia sudah tidak peduli dengan semua rumor itu, matanya masih fokus menatap bukunya.
Mereka terkejut dengan ucapan Sakura. "Apakah kau merasa istimewa Sakura-san? Karena Gaara-sama memberikanmu hadiah? Jangan berpikir kau istimewa Sakura-san hanya karena Gaara-sama baik kepadamu," ucap Matsuri. Murid Gaara yang menurut Sakura cukup menyebalkan. Tetapi setidaknya Matsuri masih menghinanya dengan baik dibandingkan wanita yang lain.
"Aku tahu kenapa kau dikirimkan kesini. Kau bukan mata-mata bukan? Yang mencoba untuk menggoda Kazekage kami?!"
"Aku tahu, kurasa memang rumor tentangmu benar bahwa kau nyaris sudah tidur dengan semua pria dari Konoha bukan!"
"Dasar murahan! Apakah wanita Konoha seperti itu?"
Sakura menutup buku mereka, menatap mereka dengan pandangan membunuh. Memperhatikan wajah mereka, apa mereka menyadari bahwa tingkah laku mereka konyol? Ia memukul tanah tempat mereka berdiri sehingga menyebabkan retakan besar di tengahnya. "Cukup! Kalian bisa menghinaku, tetapi tidak dengan desaku!"
Melihat kemarahan Sakura, wanita muda itu tidak bergeming. Sakura bisa dengan mudah menghancurkan mereka dengan satu jari mereka, tetapi ia tidak mau berurusan dengan mereka atau disalahkan karena melukai ninja Suna. Jika ada hanya seseorang yang layak disalahkan.
Gaara, ya! pria itulah yang layak disalahkan.
"Gaara! Kau benar-benar!"
-Sour-
Sakura masuk keruangan Gaara, mengetuk pintunya dengan tidak sabar, sampai ia bisa mendengar suara Gaara. Seorang wanita cantik berdiri di hadapannya, Sakura ingat wanita itu, ANBU pengawal Gaara. Gaara menatapnya memberikan isyarat untuk diam kepada Sakura, sementara tangan satunya memberikan gulungan kepada wanita itu.
"Sampaikan pesan ini secepatnya," ucapnya datar dan ANBU itu memasang topengnya, "Baik Kazekage-sama," dan pergi menghilang.
"Sekarang Sakura-san, apa yang kau butuhkan dariku?" tanya Gaara mengerakkan pasirnya untuk menutup pintu belakang mereka.
Sakura menatapnya, melipat kedua tangannya, "Apa yang kau inginkan Gaara? Apa kau belum puas menyiksaku, sehingga para penggemarmu kini mengejarku? Apa yang kau rencanakan Gaara!" ucap Sakura mendesis tajam.
Gaara hanya diam, tidak peduli, kembali membaca dokumennya mengabaikan wanita cantik di hadapannya. "Sekarang kau mengacuhkanku? Setelah kau bertingkah laku seperti pria yang tergila-gila denganku. Sekarang kau mengacuhkanku!" serunya waspada.
Gaara masih tidak peduli.
"Sekarang kau menjadi bisu? Jawab aku Gaara, atau kuhancurkan kantormu!" serunya dengan nada mengancam.
"Hancurkan,"
Sakura menyeritkan keningnya. "Apa maksudmu?" bingung dengan ucapan Kazekage.
Gaara masih membaca dokumennya, "hancurkan, kau bisa mengacaukannya."
Sakura menatap pria itu dengan kacau. "Kau memang gila Gaara," ucapnya, ia benar-benar muak dengan semua peran yang ia mainkan saat ini.
"Jaga ucapanmu Sakura-san."
Sakura melipat tangannya, "Huh. Kau benar, kau adalah Kazekage dan aku hanyalah ninja dari desa lain," ia menatap pria itu, "Jadi kenapa seorang dengan jabatan Kazekage memberikan banyak hadiah kepada ninja dari desa lain? Apa kau sedang menyogokku saat ini? Seperti yang kau lakukan kepada Hokage!"
Gaara mendongak, menyandarkan bahunya pada kursinya. "Sakura-san," ucapnya dengan suara beratnya. "Kau percaya diri sekali,"
Sakura menyeritkan keningnya. "Apa?"
"Kau bukan satu-satunya wanita yang ku beri hadiah Sakura-san," ucap Gaara menyeringai kecil, ketika ia melihat rona merah menjalar pada wajah wanita di hadapannya.
"Kenapa kau memberikanku hadiah? Apakah permintaan maaf?" tanya Sakura dengan bingung.
"Siapa yang harus minta maaf disini Sakura-san?" tanya Gaara menatap Sakura dengan tertarik. "Bukankah seharusnya kau meminta maaf kepadaku atas apa yang kau ucapkan terakhir kali?"
Sakura mendengus kecil. Ia tahu bahwa ia salah, tetapi rasanya ia tidak ingin meminta maaf kepada Gaara, pria itu layak mendapatkan ucapan itu.
"Siapa yang bisu sekarang?" tanya Gaara.
Sakura diam, ia tidak mau meminta maaf sedikitpun kepada pria sombong di hadapannya. Gaara mengetukkan jarinya dengan tidak sabar, menunggu reaksi wanita itu tetapi Gaara tahu bahwa Sakura adalah wanita keras kepala.
Terkadang Gaara berpikir, sepertinya Sasuke sangat mudah menjinakkan wanita itu. Terakhir kali mereka bertemu ketika ia masih muda, sebelum ujian Chunin, Sakura selalu patuh kepada Sasuke bahkan sampai sekarang.
Memikirkannya membuat Gaara muak. Ia menghela nafas perlahan, merasakan atsmofer canggung di udara. "Sakura-san," panggilnya.
Sakura hanya mendongak, "Hadiah mana yang kau sukai Sakura-san?"
Sakura mengigit bibirnya, "aku tak memiliki sesuatu yang spesial, semuanya..." Sakura berusaha mengatur kata-katanya, ia tidak mau Gaara memutarkan perkataannya lagi. "Baik dimataku,"
Gaara tampak tak puas dengan jawaban Sakura. Ia melipat kedua tangannya di dadanya. "Pembohong, aku tidak suka jawabanmu Sakura-san,"
"Kenapa kau peduli Gaara?" tanya Sakura, memunculkan ekspresi bingung dari wajah cantiknya. Gaara sedikit terhibur dengan reaksi Sakura.
"Aku ingin tahu pendapatmu Sakura-san, sepertinya hadiah yang kukirim kepadamu tidak mendapatkan respon yang menyenangkan," ucapnya kemudian berbalik menatap dokumennya.
"Apa kau menjadikan kelinci percobaan, Kazekage-sama?"
Gaara tersenyum kecil, "Aku ingin tau reaksimu Sakura-san, apa yang kau suka? Apakah tidak ada sesuatu yang istimewa dari hadiah-hadiah itu?"
"Kenapa?"
Gaara menyipitkan matanya, "Jawab pertanyaanku Sakura-san. Jika kau tidak menyukai hadiahku, aku akan mengirim yang lain," ucap Gaara mengambil perkamen kosong dari lacinya.
"Tidak... tidak Gaara, jangan kirimkan apapun," ucap Sakura bergegas menahan tangan Gaara.
Gaara terkejut dengan keberanian Sakura, wajah mereka begitu dekat. Gaara sudah berubah dibandingkan masa lalunya tetapi ia masih berusaha untuk membiasakan diri dengan sentuhan fisik, terutama dengan lawan jenis dan Sakura disini memegang tangannya dan menatapnya dengan takut, gelisah dan berani. Gaara tidak bisa mendeskripsikan perasaan wanita itu.
"Jangan mengirim hadiah lagi," ucapnya menatapnya, Gaara dapat mencium aroma harum dari tubuh wanita itu. Mawar, sepertinya Sakura memakai salah satu sabun pemberiannya. Wajahnya tampak lebih cantik ketika Gaara memandangnya dari dekat, perlahan ia ingin menyentuh pipi Sakura, tetapi ia menahan diri. 'Tidak pantas,' pikirnya.
"Tanganmu Sakura-san," ucapnya menatap tangan Sakura seolah ia adalah wabah. Sakura tersentak, menyadari reaksi spontan miliknya. Ia melepaskan tangannya dan berjalan mundur. "Jadi apa yang kau suka?"
"Aku menyukai... menyukai..." Sakura berpikir keras, ia tidak pernah membuka semua hadiah itu, petugas medis akan datang membawakannya dan menaruhnya di mejanya, membiarkan beberapa staf wanita yang penasaran akan hadiah apa yang di terima Sakura. Dengan murah hati Sakura membagikan semua hadiah itu.
'Berpikir Sakura, hadiah apa yang di berikannya?' batinnya memaksanya.
"Apa?" tanya Gaara dengan tidak sabar.
"Sabun. Sabun mawar itu Gaara,"
"Hanya itu?" tanya Gaara dengan tidak senang. Sakura menyadari bahwa Gaara tidak puas dengan jawabannya berpikir keras lagi kali ini.
"Garam mandi, garam mandi itu Gaara," Sakura mengambilnya ketika ia benar-benar lelah dan tidak memperhatikannya.
"Kenapa?"
"Itu... itu menyenangkan. Ketika kau lelah, kau bisa menggunakannya." Sakura mengaruk pipinya tanpa sadar.
"Baiklah," jawab Gaara diam. Kemudian menatap dokumennya.
Sakura menghela nafas. "Merek yang mana? Aku tidak hanya sekali mengirimkan garam mandi kepadamu."
Ia merasa Gaara mencekiknya.
Sakura bergerak gelisah, "kenapa harus aku Gaara! Bukankah banyak wanita yang menyukaimu. Pilih salah satu untuk menjadi mainanmu."
Gaara mendongak, "Kau tidak punya pilihan Sakura-san," jawab Gaara mantap.
Sakura menyeritkan alisnya, "apa maksudmu Gaara?"
Gaara kini menatap layar komputer tipis di hadapannya. Menyentuh layarnya dengan santai kemudian menatap Sakura. "Sebelum kau sampai ke kantorku Sakura-san. Apa yang kau hancurkan?"
"Hancurkan?" tanya Sakura.
Gaara menatap Sakura, salah satu jarinya mengetuk dengan tidak sabar. "Yah, apa yang kau hancurkan hari ini?"
Sakura mengerti, ia menatap Gaara dengan tidak yakin, "Halaman... Halaman belakang rumah sakit," jawabnya malu. "Tetapi ada alasan khusus kenapa aku melakukannya Gaara,"
Gaara tersenyum kecil. "Ah, aku belum mendapatkan laporan tentang itu."
"Jadi apa hubungannya denganku?" tanya Sakura curiga.
Gaara kini menyandarkan bahunya di kursinya, melipat kedua tangannya di dadanya dan tersenyum simpul. "Apa kau tidak pernah berpikir Sakura-san, mengapa petugas rumah sakit hanya diam ketika kau menghancurkan sesuatu dan menggantinya dengan perabotan baru tanpa sepatah kata?"
"Aku tidak pernah memikirkannya," jawab Sakura polos.
Gaara menyeringai kali ini, bagaimana bisa wanita ini berubah dari seorang yang berani kini menjawabnya dengan manis? 'Sangat manis,' batin Gaara membuat ia tertarik untuk mengamati ekspresi wanita itu.
"Ini bukan Konoha, Sakura-san. Apa yang kau hancurkan, kau harus membayarnya." Ucapnya ringan, "selama ini aku yang menanggung kerusakanmu, jadi secara tidak langsung kau berhutang padaku, Sakura-san."
Wajah Sakura memucat, ia tidak tahu bagaimana bisa ia begitu ceroboh, kenapa ia tidak bisa menyadari pergerakan aneh ini? Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya. Ia menatap Gaara, pria di hadapannya sangat berbeda dengan apa yang Naruto ceritakan kepadanya atau tampilan yang di berikan kepada dunia.
Gaara akan memasang, wajah tenang, peduli dan ramah sangat anggun dan mempesona. Tetapi betapa seringnya pertemuan mereka, Sakura menyadari bahwa Gaara bisa menjadi pribadi yang berbeda. Apakah Sakura kini melihat sisi yang disembunyikan Gaara dengan rapat. Bahkan senyumannya, senyuman yang mampu membuat wanita berlutut di hadapannya. Sakura berpikir ngeri.
Bagaimana bisa ia berhutang kepadanya?
"Hokage tidak mengetahuinya, Sakura-san." Gaara tersenyum kecil, "Anggap saja rahasia ini hanya untukmu dan aku," ucapnya dengan nada kemenangan.
Gaara adalah seorang jenius, memimpin pasukan perang disaat usianya sangat muda. Tentu ia dengan mudah membuat musuhnya terlena dengannya sampai ia berlutut tak berdaya. Ia membenci mengakuinya, tetapi ia tidak mengerti pria itu.
Ia tidak bisa di tebak, Gaara tidak menolaknya seperti Sasuke yang terang-terang menolaknya, tetapi ia memainkan peran, sebuah tarik-ulur yang bagus. Ia menyembunyikan semua pemikirannya yang mampu membaca situasi dengan mudah di balik tampang tenang berwibawa miliknya dan mengeluarkan semua kartunya dengan tenang.
Sakura mengingat lagi kata-kata terakhir pertengkaran mereka.
"Akan kuberitahu padamu Sakura, mengapa aku bisa menjadi Kazekage dalam usia muda."
Ucapan terakhir kali mereka membuat Sakura begidik ngeri. Ia melakukan sebuah kesalahan fatal, menyingung seorang Kazekage pandai dan sayangnya Sakura tidak menyadarinya.
"Aku..." ucap Sakura gugup, lidahnya membatu.
"Ku dengar, kau membagikan hadiahku Sakura-san kepada petugas rumah sakit,"
'Ugh, dasar mereka. Tidak adakah satu orang di Suna yang memihaknya?' batin Sakura, merutuki kebaikannya dan penghianatan ini.
"Aku hanya menyebarkan kebaikan, Gaara." Sakura bergerak gelisah, ia tidak berani menatap Gaara, ia terjebak dan ingin rasanya ia keluar dari ruangan Gaara saat ini.
"Oh.." ucap Gaara dengan nada datar, membalikkan wajahnya ke arah layar komputer dan mengetikkan sesuatu. "Menyebarkan kebaikan. Benar-benar sifatmu," ucapnya dengan nada mengejek.
"Berhenti menghinaku Gaara,"
"Sakura-san. Kau benar-benar menguji semua kesabaranku," ucapnya dengan cemberut ringan, "Apa kau tidak ingin bertanya dari mana aku mendapatkan semua hadiah itu dan berapa harganya?"
Harga, kata yang sensitif saat ini.
Sakura merasa mual membayangkan harga hadiah itu semua, Toshiro memberitahunya bahwa Kazekage tidak mengirimkan hadiah murahan untuknya dan Sakura membagikan pemberian sang Kage. Bagus, Sakura menghinanya secara tidak langsung.
"Aku tidak menginginkan semua hadiah itu Gaara," Sakura mulai mengatur kata-katanya, tidak baik memancing Kazekage yang duduk menatapnya dengan pandangan aneh dari matanya.
"Tulis semua pendapatmu atas hadiahku dan pastikan tidak ada yang terlewat," ucap Gaara tenang, ia masih memperhatikan Sakura yang bergerak gelisah di hadapannya.
"Apa?"
"Kau tuli?"
Sakura mengerutkan bibirnya kesal. "Itu bukan tugasku,"
"Kau ingin Naruto tahu tentang rahasia kecil kita?"
Sakura melipat kedua tangannya, ia merasa kalah. Belum pernah ada pria seperti ini, begitu menuntut dan menyebalkan, membalikan semua situasi seolah hal mudah untuknya. Sakura menatap Gaara di mejanya dengan tenang, pria itu senang mengerakkan kusornya dan kemudian menatapnya, seolah ia berkata kepadanya bahwa menjadi Kazekage adalah hal mudah semudah mengerakkan pasir miliknya.
Sakura mengigit bibirnya, menarik nafas perlahan. "Aku mengerti Gaara."
-TO BE CONTINUED-
Reviewnya please
I love read every comment you give it to me.
Mangoissour, leave.
