Naruto's belong to Masashi Kishimoto
MONSTER
AU, Lil bit Gore inside, Rated M just for the Theme
Dedicated for event ALM II
Idea by Mine, Story by Iris (TainteIdris)
Theme: Quote
"The greatest pain to me, is the fact that you became the same as them and turn your backs against me." ―BigBang
.
.
Sepuluh tahun kemudian.
.
.
Kala itu langit yang sebelumnya gelap menjadi terang saat sang surya mulai meninggi perlahan. Suara ciapan burung pun mulai terdengar, serta angin musim semi yang berhembus lembut, menerbangkan dedaunan-dedaunan yang siap jatuh dari ranting.
Dan seiring dengan mentari yang semakin meninggi, hawa hangat mulai masuk melewati celah-celah jendela tiap rumah, tak terlewat sebuah rumah megah tingkat dua yang berdiri di balik hutan hijau, di atas bukit yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Di sebuah sofa berwarna merah darah di ruang tamu rumah itu, tertidur sesosok lelaki berusia tiga puluh tiga tahun-an yang nampaknya tak peduli akan dunia yang telah terganti harinya. Dadanya naik turun pelan, menandakan nafasnya begitu teratur dan tenang. Kedua bola mata obsidian-nya tak nampak. Masker yang biasanya menutupi sebagian wajahnya tertanggalkan, memperlihatkan ketampatan yang selalu disembunyikan oleh pria berambut perak melawan gravitasi tersebut.
Ia masih berkelana dalam mimpinya hingga sesuatu yang basah membanjiri wajahnya, membuatnya langsung mendapatkan kesadarannya. Tetes-tetes air nampak berjatuhan dari helaian rambutnya yang merunduk karena basah.
Kakashi mengeram. Ia pun mengalihkan pandangannya dan mendapati sesosok gadis merah muda kini tengah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya. Sebelah tangan gadis itu memegang gayung berwarna biru telur. Senyuman nampak menghiasi wajahnya, membuat Kakashi menelan ludahnya perlahan melihat senyum yang bukanlah senyuman manis menurutnya.
"Selamat pagi, Tou-san. Mabuk lagi semalam, eh?"
Tuh 'kan.
Kakashi menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sembari nyengir kuda.
"Enggh, Sakura-chan, Tou-san bisa jelaskan―"
"Tidak ada penjelasan apapun itu Tou-san! Sakura sudah bilang 'kan kalau mabuk itu bukan hal yang baik?! Sekarang sana mandi dan jangan protes!" pinta Sakura galak sambil menjawir jambang rambut Kakashi, membuat pria itu mengerang kesakitan dan membiarkan tubuhnya diseret oleh gadis merah muda tersebut.
"A-Aaaw! Iya iya Sakura-chan! Sekarang tolong lepaskan, sakit sekali ini!" erang Kakashi dengan kepala yang dimiringkan ke samping. Kedua alisnya menyerngit dalam dengan sebelah mata yang tertutup menahan sakit. Sakura pun melepaskan tarikannya dan menyerahkan gayung di tangannya. Kakashi memandangi gayung itu dengan tatapan bertanya.
"Sekalian. Sana mandi Tou-san!" omel Sakura sambil menghentakkan kakinya di atas lantai. Kakashi pun langsung mengambil gayung yang disodorkan kepadanya dan mengambil langkah seribu sebelum puteri angkatnya itu mengamuk dengan lebih menyeramkan lagi.
Dan kini di sinilah ia, berdiri di depan wastafel sembari memegangi kulit di dekat jambangnya yang memerah karena ditarik Sakura tadi. Kemejanya yang sebelumnya melekat pada tubuh kekarnya kini telah berada di keranjang pakaian kotor, meninggalkannya dengan celana panjang yang ia pakai sejak semalam. Rasa pusing sempat menyergap kepalanya, namun kemudian menghilang kembali setelah ia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat.
Sakura benar, mabuk-mabukan itu memang kurang baik untuknya.
Kakashi sejenak menghela nafas. Kini tangannya sibuk mengobrak-abrik lemari kecil di depannya untuk mengambil krim cukurnya, serta alat cukur yang ada di sana.
Hei Kizashi dan Mebuki-san …
Kakashi memoleskan krim berwarna putih susu di sepanjang dagu dan rahangnya. Setelah ia rasa telah rata, ia pun mulai menyentuhkan ujung pisau cukurnya di atas permukaan rahangnya yang telah tertutup krim cukur.
Sudah sepuluh tahu sejak kematian kalian, dan sekarang puteri semata wayang kalian sudah tumbuh menjadi gadis yang cantiiiiiiiiik sekali di bawah asuhanku.
Pisau cukur itu bergerak mulus pada bagian wajah Kakashi, membersihkan wajah yang nampak selalu bugar dan tak pernah dituakan oleh waktu itu dari bulu-bulu jenggot yang mulai tumbuh.
Tapi sayang, dia galak sekali. Aku jadi takut suatu saat nanti Sakura menjadi perawan tua karena tak ada lelaki yang berani dekat-dekat dengannya.
Sreet!
Pisau cukur itu tak sengaja menggores wajah tampan Kakashi, membuat sebuah luka goresan kecil pada rahang kirinya. Kakashi menggerutu pelan sembari mengelap jejak darah pada rahangnya dengan ibu jarinya.
Hei Kizashi, sudah mati kok masih tidak tenang? Aku 'kan bicara kenyataan!
Dan kalau memang Kizashi masih ada di sana, ia pasti sudah mendengar ocehan sang pemburu yang tidak senang anaknya disumpahi jadi perawan tua.
'Enak saja kau bilang anakku yang cantik akan jadi perawan tua! Dan bagaimana aku bisa tenang kalau puteri sematawayangku diurus oleh pria mesum tak punya adat sepertimu?'
Senyum nampak menghiasi wajah Kakashi. Pastilah itu yang akan dikatakan Kizashi kepadanya.
Kakashi menghela nafas, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda sebentar sembari bersenandung kecil.
Oh ya? Kau tidak marah denganku 'kan? Membuat anakmu hilang ingatan dan melupakan kalian. Yeah, aku sih yakin kalian tidak akan marah, tapi tetap saja aku merasa tak enak hati karena merebut kenangan gadis itu tentang kalian.
Dan akhirnya krim terakhir pada wajahnya tersingkirkan. Kakashi menaikkan sedikit kepalanya untuk mengamati wajahnya yang telah bersih dari bulu-bulu jenggotnya yang memang masih kecil-kecil, serta bekas lukanya yang semakin menghilang.
Yah, menjadi manusia setengah iblis tak selamanya sial juga.
Dan seperti yang kalian tahu, aku membawa Sakura kembali ke kota ini, ke kota yang penuh dengan kenangan yang begitu mengerikan untuknya. Namun aku tidak bisa membawa gadis itu menghindari kenyataan. Toh setelah umurnya delapan belas tahun, aku akan memberitahukan kejadian yang sebenarnya kepadanya. Tidak-tidak, aku tidak akan mengatakan kalau ia melihat kalian dibantai ataupun iblis bermata kuning menyala yang ia lihat saat kematian kalian. Melihat puteri kecil kalian begitu menderita dan mengalami gangguan mental sepuluh tahun yang lalu saja sudah membuatku tak tahan.
Kakashi pun memoleskan sikat giginya dengan pasta gigi beraroma mint yang ia ambil dari lemari. Kakashi mulai menggosok giginya yang putih dengan tatapan mata yang terarah lurus pada bayangannya di cermin.
Aku hanya akan mengatakan kalau aku bukanlah ayah kandungnya dan bahwa sebenarnya nama aslinya itu Haruno. Aku akan mengatakan kalau kalian meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan hanya ia yang selamat. Dan setelah itu aku akan mengurus hak kepemilikannya terhadap semua harta peninggalan Haruno, termasuk perusahaan kalian yang turut kukelola selama sepuluh tahun belakangan ini.
Kakashi membuang busa berasa pedas yang berada dalam mulutnya pada wastafel, setelah itu ia mengkumur-kumur mulutnya dan membuang airnya pada lubang wastafel. Sikat gigi yang sebelumnya ditutupi dengan busa pun ia bersihkan.
Tidak-tidak, kau tak perlu mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan tubuhmu begitu, kau juga Mebuki-san. Lagipula akulah yang berhutang lebih banyak kepada kalian.
Kakashi kembali memandangi bayangannya di cermin. Tubuhnya yang dulu kurus kini semakin gemuk, namun lemak tidak menutupi bentuk perut sixpack-nya yang ia bentuk dengan susah payah. Senyum tipis pun nampak pada wajahnya.
Lagipula aku sangat senang memiliki anak angkat seperti Sakura. Kau tahu, kalau tak ada anakmu yang cantik itu aku pasti akan sangat kesepian.
Kakashi melirik ke arah sisi gorden shower-nya, memastikan apakah handuk yang biasa ia pakai berada di sana atau tidak, kemudian membuka celana yang membungkus tubuhnya dan melemparnya asal pada bak pakaian kotor, menyusul boxers berwarna hijau lumutnya.
Suara gorden yang dibuka dan ditutup kembali pun terdengar, dan suara air yang keluar dari shower terdengar setelahnya.
-MONSTER-
Bau bacon serta sosis panggang tertangkap oleh indera penciumannya yang memang sensitif sesaat setelah ia telah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang telanjang kini terbungkus oleh handuk yang melilit pinggangnya. Dan ia pun berjalan menuju kamarnya dengan santai, toh Sakura sekarang sedang ada di dapur dan sarapan pagi untuk mereka.
Memikirkan sarapan apa yang akan ia makan hari ini membuat perutnya keroncongan. Kakashi pun bergegas menuju kamarnya untuk memakai pakaian dan menyisir rambutnya.
Dan benar saja dugaannya, bacon dan sosis panggang kini tersaji di atas meja makan ketika ia telah memakai baju dan turun menuju ruang makan. Di depannya kini berdiri sesosok gadis merah muda yang tengah bersenandung sembari membalikkan omelet telur dengan daging asap. Manik obsidian-nya tertuju pada punggung gadis merah muda itu, turun ke pinggul, bokong, hingga paha putih Sakura yang hanya tertutup celana pendek.
Kakashi bersiul kecil. Lelaki yang mendapatkan Sakura pasti akan sangat beruntung.
Sakura membalikkan tubuhnya dan mendapati ayahnya yang kini tengah menatap punggungnya dengan tatapan entah apa itu. gadis merah muda itu mendecak sebal.
"Dasar orangtua mesum! Jangan bayangkan aku ini Kaa-san, Tou-san!"" ucap Sakura sembari menghentakkan spatulanya pada bibir penggorengan dengan sengaja. Kakashi langsung tersentak dari alam khayalnya dan tertawa gugup.
"Hehehe, maaf Sakura-chan."
Gadis merah muda itu menggerutu pelan. Ia pun kemudian mematikan kompor dan meletakkan omelet berukuran besar di atas piring, kemudian omelet yang lebih kecil di piring yang lain. Kedua piring itu pun ia letakkan di atas meja, membiarkan aroma makanan tersebut tercium oleh indera penciuman Kakashi dan membuat ayahnya itu semakin lapar.
Namun belum sempat Kakashi menyentuh makanannya, suara Sakura menghentikan gerakannya.
"Jangan sentuh makanannya sebelum cuci tangan Tou-san."
Kakashi mengerucutkan bibirnya kesal.
"Tapi 'kan aku baru saja mandi, Sakura-chan."
Bibir itu tidak lagi mengerucut tatkala sang pemilik melihat deathglare yang dilayangkan padanya. Ia pun bangkit dari kursinya dan mencuci kembali tangannya yang ia rasa masih bersih walaupun tidak dicuci. Namun kata-kata Sakura adalah absolut. Membantah sekali dan kau akan terkena cubitan mautnya.
Jadi yang sebenarnya orangtua yang mana sih? Dia atau Sakura?
Kakashi kembali menuju tempat duduknya setelah ia mengeringkan tangannya, untuk mendapati segelas cairan berwarna pekat berbau harum yang tersaji di samping piring berisi omeletnya. Bibirnya yang sebelumnya cemberut kini membentuk lengkungan menawan.
Sakura tersenyum kecil mendapati ayahnya tersenyum tatkala mencium kopinya. Gadis musim semi itu menempatkan dirinya sendiri pada kursi di seberang meja lalu menuangkan segelas jus jeruk untuk dirinya sendiri dan untuk sang ayah.
"Seperti biasa, kopimu harum sekali, Sakura-chan."
"Tapi kau tetap tak boleh minum kopi sebelum makan, Tou-san."
Kakashi menggerutu mendengar perkataan anak angkatnya yang hampir tiap hari ia dengar. Ia pun menancapkan garpunya pada omelet tak berdosa di depan dengan perasaan gusar.
"Ittadakimasu." ujarnya sambil cemberut.
"Tak usah bertingkah seperti anak kecil begitu, Tou-san."
Cih! Kalau kau itu bukan anak Kizashi daritadi mulutmu itu sudah ku―
"Jangan menggerutu di dalam hati, Tou-san." ucap Sakura sambil menyantap omelet daging asapnya.
Sepasang mata obsidian itu mengerjap mendengar perkataan sang anak angkat yang kini sedang sibuk menyantap sarapan paginya. Diam-diam senyum kembali menghiasi wajahnya, dan tangan kanannya kini memotong potongan omelet besar itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Dan senyumannya semakin menghangat ketika indera pengecapnya mendeteksi masakan yang Sakura buatkan untuknya dengan sepenuh hati.
-MONSTER-
Dan makanan yang sebelumnya berada di atas meja kini lenyap tak bersisa―sebagian besar kini berada dalam perut Kakashi yang membesar karena telah terisi penuh.
Kakashi kini tengah duduk bersantai sembari menikmati kopinya yang tinggal setengah gelas ditemani sebuah buku bersampul oranye yang selalu menemaninya kemana pun dan kapan pun. Sementara Sakura sibuk mencuci piring-piring bekas makan mereka.
Sakura melirik ke arah sang ayah yang sedang asyik membaca buku berukuran kecil itu dengan senyum mesum yang sesekali nampak di wajah ayahnya yang anehnya selalu sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Sakura membalikkan kembali kepalanya dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda sambil mendecih sebal.
"Tou-san, jangan berikan contoh tak baik kepada anak sematawayangmu ini dengan membaca buku porno di belakang punggungnya." ujar Sakura tanpa perlu repot berbicara sambil menatap wajah sang ayah. Kakashi yang mendengar perkataan Sakura pun tertawa kecil tanpa melepaskan pandangannya dari bacaan di depannya.
"Tou-san tahu Sakura-chan tak akan terpengaruh, jadi Tou-san rasa tak jadi masalah membaca buku ini di depanmu." balas Kakashi santai lalu membalikkan halaman berikutnya dengan tangannya yang bebas.
Namun belum ia membaca kalimat baru pada halaman selanjutnya, buku itu telah berpindah tangan kepada Sakura yang entah sejak kapan berada di depannya.
"Tetap saja, Tou-san. Bertingkahlah seperti ayah yang baik."
Kakashi menggerutu pelan lalu melipat kedua tangannya ke atas meja, sementara Sakura kini duduk di sampingnya sambil memperhatikan pria berambut perak mencuat di sampingnya sedaritadi. Kakashi yang merasa tidak nyaman pun membuka kembali mulutnya.
"Ada apa sih lihat-lihat, Sakura-chan?"
"Aku hanya berpikir, kalau wajah Tou-san sepuluh tahun yang lalu kok masih sama dengan wajah Tou-san sekarang." ujar Sakura, membuat jantung Kakashi berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Sudah ia duga, cepat atau lambat pasti Sakura akan menanyakan hal ini. Dan bodohnya ia, ia masih belum memikirkan jawaban bohong yang terdengar masuk akal untuk Sakura.
"Nnghh itu …"
"Itu apa?" tanya Sakura dengan sebelah alis merah mudanya yang mengkerut bingung. Bingung dengan tingkah Kakashi yang mendadak gugup dan terlihat tak nyaman.
"itu karena … Karena gen! Ya karena gen!" jawab Kakashi dengan sedikit panik. Sakura kembali mengerutkan alisnya.
"Gen?"
"Ya … Gen Hatake membuat keturunannya selalu awet muda, ya begitulah …" jawab Kakashi sembari mengusap punggung lehernya gugup. Sakura menatapnya dengan tatapan curiga.
"Tou-san tidak bohong 'kan?"
Mati aku.
"M-Memangnya kapan Tou-san pernah bohong padamu, Sakura-chan?"
Kalau diingat-ingat, sang ayah memang tak pernah bohong kepadanya. Yah kecuali mengenai simpanan buku pornonya yang entah kenapa selalu ada meskipun sudah Sakura buang berkali-kali.
Gadis merah muda itu mendekat, hingga ia dapat merapatkan tubuhnya kepada sang ayah dan memeluknya erat.
"Sakura sangat menyayangi Tou-san."
Kakashi sampai tercengang mendengar kata-kata itu keluar dari bibir anak angkatnya ini. Ia bahkan tak mampu membalas perkataan Sakura.
"Sakura merasa sedih sekali saat tahu Tou-san masih begitu memikirkan Kaa-san. Tapi Tou-san, di sini masih ada Sakura. Sakura akan berusaha sebaik mungkin agar Sakura bisa menjadi sosok Kaa-san untuk Tou-san."
Tidak-tidak, bukan maksud Sakura untuk membuat hubungan mereka menjadi hubungan suami istri tentu saja. Gadis merah muda itu hanya berusaha untuk membuatnya bahagia dan dapat hidup terlepas dari bayang-bayang 'Kaa-san' yang sebenarnya tak ada.
Senyum nampak menghiasi wajah tampan Kakashi. Kini kedua tangannya balas memeluk gadis di sampingnya.
"Tou-san juga amat menyayangi Sakura-chan. Sakura-chan tak perlu merasa khawatir, ya? Selama ada Sakura-chan, Tou-san tak akan pernah merasa kesepian." ujar Kakashi lembut sembari mengusap pucuk kepala Sakura dengan penuh sayang, sebuah gerakan yang selalu ia lakukan untuk menenangkan Sakura dikala gadis itu merasa ketakutan ataupun sedih.
Sakura menganggukkan kepalanya. Ia pun kemudian melepaskan pelukannya dan segera bangkit dari tempat duduknya. Senyum menghiasi wajahnya yang cantik.
"Nah, sekarang Sakura harus belanja karena persediaan makanan kita sudah habis. Tou-san ingin Sakura masakkan apa untuk makan malam ini?"
Kakashi kembali mengusap pucuk kepala Sakura, kali ini mengacak-acak rambutnya juga hingga helaian merah muda yang sebelumnya telah terikat rapi kini menjadi berantakan karena ulahnya. Kakashi tertawa kecil mendapati suara gerutuan pelan yang keluar dari bibir Sakura.
"Apa saja. Sakura-chan 'kan tahu Tou-san pasti akan memakan masakan Sakura apa pun itu."
Gerutuan yang sebelumnya keluar dari bibir mungil Sakura kini tergantikan oleh suara tawa kecil serta senyuman hangat yang terpatri pada wajahnya. Manik mata viridian gadis itu menghangat.
"Baiklah. Kalau begitu Sakura pergi dulu ya! Tou-san tak perlu mengantarku, nikmati saja hari Minggu ini dengan santai!" ucap Sakura riang lalu bergegas berlari keluar, membawa buku oranye sitaannya tanpa menyerahkannya ke pemiliknya.
Sementara Kakashi yang menyadari bukunya pasti tak akan terselamatkan lagi hanya bisa menghela nafas pasrah di atas kursinya.
"Bukumu disita lagi, eh?"
Bola mata obsidian itu terbelalak lebar mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telinganya. Sontak gigi-gigi putih itu bergemeletuk geram. Kakashi pun membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah rak cuci piring―mendapati si pemilik suara tengah berdiri di sana dengan segelas kopi hangat di tangan.
Rambut semerah darah yang acak-acakan, kulit putih pucatnya yang lebih tepat dibilang seperti kulit mayat, bola mata berwarna karamelnya yang terlihat begitu dingin. Serta seringai angkuh yang menghiasi wajahnya yang bisa dibilang menawan tersebut.
"Terkejut?"
Kakashi mendengus sembari memutar bola matanya.
"Kebiasaanmu untuk datang tak diundang tak pernah berubah, eh?"
Alis berwarna kemerahan milik pemuda berambut merah itu mengerut sebelah. Bukan karena bingung, melainkan karena merasa lucu melihat sekilat emosi yang terpancar dari obsidian yang kini berubah warna menjadi warna kesukaannya─
"Akasuna no Sasori."
─Merah darah.
-TBC-
