Spiritum : Tiga

Story telling by : Crypt14

Story idea by : Cuming


Wonwoo menghembuskan nafasnya berat. Sudah tidak terhitung berapa kali pemuda bersurai kecoklatan itu menghela nafasnya seperti tadi. Kedua matanya yang terbingkai oleh kacamata minus masih menatap datar pada layar komputernya. Pikiran pemuda itu tampak melalang buana, sesuatu yang mengganjal tampaknya tengah menjadi kegusarannya saat ini. "Kau kelihatan frustasi. Ada apa? Dikejar deadline lagi?" Jun, pemuda yang masih sibuk dengan beberapa bahan untuk surat kabarnya mengintrupsi lamunan Wonwoo. Pemuda bersurai kecoklatan itu menoleh sejenak setelahnya membuang kembali arah pandangnya pada beberapa jejeran kata yang terpampang dilayar komputernya. "Tidak, aku sedang bebas dari tugas saat ini." Balasnya. Nada suara pemuda itu terdengar sedikit serak. Jun menoleh menatap Wonwoo dari balik iris matanya. "Lalu kenapa kau terlihat stress sekali? Pasti ada alasannya 'kan?" Wonwoo menghela nafasnya kembali, kali ini terdengar sedikit berat. Menyandarkan punggung tubuhnya pada badan bangku kerjanya, merenggangkan ototnya yang terasa sedikit kaku akibat ulahnya yang tidak merubah posisi sejak beberapa jam yang lalu. Ia masih belum menggubris pertanyaan kekasihnya. Kedua iris mata sipitnya masih sibuk memandang headline berita dari salah satu media online ternama. Berita yang tidak pernah berubah, pembunuhan. "Kau percaya akan adanya roh penasaran, Jun?"

"Hm?" Jun kembali menolehkan kepalanya, menatap Wonwoo dengan kedua tangan yang masih sibuk merapihkan bahan beritanya. "Roh penasaran?" Wonwoo mengangguk samar, meletakkan kepalanya pada meja kantornya menatap Jun dengan pandangan sayu. Jun tertawa kecil, kembali memandang pada bahan surat kabarnya yang kini tersusun rapih disisi kiri layar komputernya. Menarik kedua tangannya ke udara guna merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Pekerjaan sebagai seorang editor surat kabar membuat Jun dan Wonwoo diharuskan untuk betah berlama-lama duduk didepan komputernya yang pastinya membuat seluruh otot tubuh terutama leher dan pinggang kedua pemuda itu nyaris mati rasa. "Tidak terlalu. Memangnya kenapa? Kau bertanya seperti itu karena ingin membahas hantu yang berada di apartemen mu?" Wonwoo mengangguk, membenarkan tebakkan Jun. Pemuda bersurai caramel itu kembali tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya samar. "Kau tidak mengabaikan hal itu? Bukan 'kah sudah aku bilang kau hanya berha.."

"Tidak, aku bersumpah itu bukan halusinasi." Potong Wonwoo cepat sambil mengangkat kepalanya ke udara. "Aku bisa melihatnya dan berkomunikasi dengan roh itu." Ujarnya kembali. Jun menatap Wonwoo sejenak setelahnya menghela nafas ringan seraya menyeret bangkunya mendekat kearah pemuda itu. Menopangkan kepalanya pada telapak tangannya dimana siku tangannya berada diatas meja Wonwoo. "Begitu 'kah?" Wonwoo mengangguk cepat, masih menatap Jun dengan pandangan seriusnya. Jun tersenyum tipis masih pada posisinya. "Jadi roh itu wanita atau pria?" Wonwoo terdiam sejenak, menggaruk pipi kanannya canggung. "Dia? Seorang pemuda. Sepertinya lebih muda dari ku." Ujar Wonwoo pelan. Jun masih tersenyum tipis, merubah posisinya menjadi bersandar pada badan bangkunya. Memijat pelan batang hidungnya saat kepalanya merasakan sensasi nyeri, mungkin akibat terlalu lama menatap layar komputer. "Jadi, apa roh pemuda itu tampan?" Wonwoo berdecih pelan, memberikan tinjuan ringan pada lengan Jun. "Apa pentingnya pertanyaan seperti itu?" Jun terkekeh, mencondongkan tubuhnya kearah Wonwoo. "Tidak ada, aku hanya khawatir jika roh itu mempengaruhi perasaan mu nantinya jika ternyata dia jauh lebih wah dibandingkan aku." Ucap Jun lembut. Wonwoo kembali berdecih, mendorong dahi Jun pelan membuat pemuda itu terkikik geli mendapati reaksi Wonwoo yang teramat sangat disukainya. Jun menyukai sifat Wonwoo yang tidak pernah akan bersemu jika ia melontarkan kata-kata rayuan untuk pemuda itu. Baginya Wonwoo yang akan menunjukkan sikap sarkastik ataupun mual karena rayuannya justru lebih manis ketimbang pemuda itu melihat semburat kemerahan yang tampak kontras hingga menutupi telinga Wonwoo.

.

"Kau tidak membawa payung mu?" Wonwoo mendesah sedikit kesal, kembali memasukkan barang-barang yang sebelumnya dikeluarkan dari dalam tasnya. Menatap Jun dengan pandangan bete. "Padahal aku yakin sudah memasukkannya kedalam pagi tadi, sial." ,Ucapnya mengumpat. Jun tertawa kecil, membuka payung lipatnya seraya menarik Wonwoo sedikit mendekat kearahnya. "Aku antar kau pulang." Wonwoo menoleh sejenak menatap Jun yang masih melemparkan pandangan padanya. Wonwoo menyukai cara Jun memandang, itu terasa hangat. Pandangan seperti itu tidak hanya jatuh untuknya namun Jun selalu melakukan hal tersebut pada semua orang. Pemuda berhati hangat, first impression Wonwoo terhadap Jun saat pertama kali ia mengenalnya. "Kau tidak akan menyesal, tau 'kan jarak apartemen mu dengan apartemen ku?" Ujar Wonwoo seraya mendorong bahu Jun dengan telunjuknya. "Tidak, jika kau mengijinkan ku untuk tidur di apartemen mu." Balas Jun dengan senyuman penuh arti diwajahnya. Wonwoo tertawa pelan, mengapit leher Jun dengan lengannya membuat pemuda bersurai caramel itu sedikit meng-aduh. "Kau mulai punya pikiran kotor ya." Ujar Wonwoo setelahnya melepaskan apitan lengannya pada leher Jun, membuat tawa keduanya pecah.

.

"Ah, akhirnya kau malah menginap disini, sengaja membuat baju mu basah ya?" Jun tersenyum kecil masih berusaha melepaskan kaos oblong yang dikenakannya. Wonwoo terdiam diambang pintu kamarnya, menyandarkan tubuhnya disana menatap Jun yang kini melemparkan kaos basahnya kedalam keranjang baju kotor. Pemuda itu tak menggubris ucapan Wonwoo justru menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang Wonwoo, menghembuskan nafasnya perlahan. "Kau berniat sakit juga ya?" Wonwoo beranjak menuju almari bajunya, menarik sebuah kaos oblong cukup besar yang belum pernah dikenakannya dan melemparkannya kearah Jun. "Pakai itu, aku menolak untuk direpotkan oleh mu." Ujar Wonwoo yang kini mengenyahkan tubuhnya diatas bangku komputernya. Kedua manik matanya masih menatap Jun yang belum bergeming dari posisinya. Pemuda itu terlihat menatap langit-langit kamar Wonwoo yang dipenuhi oleh lukisan yang dibuat oleh pemuda itu sendiri. Wonwoo memiliki jiwa seni yang baik. Nyaris seluruh langit-langit di apartemennya dilukis dengan pola-pola yang tampak begitu berkelas dengan menggunakan cat glow in the dark dimana pola itu akan bersinar setiap kali lampu ruangan dimatikan. Wonwoo sengaja melakukan hal tersebut dengan alasan bahwa ia sedikit risih dengan kegelapan. "Hey, kau belum ti.."

"Dimana roh yang sering kau bicarakan, Wonwoo?" Wonwoo terdiam, menatap Jun sejenak. Pemuda itu bangkit dari posisinya menjadi duduk diatas ranjang Wonwoo, menatap pemuda yang berjarak tidak sampai setengah meter darinya itu. "Tidak tau." Balas Wonwoo singkat seraya mengedikkan bahunya. Jun tersenyum tipis setelahnya kembali berbaring diatas ranjang Wonwoo lagi. "Kau hanya berhalusi.."

"Iya aku tau. Sudahlah jangan membahas hal seperti itu lagi aku agak malas mendengarnya." Wonwoo menghembuskan nafas berat, merubah posisinya menjadi berhadapan dengan layar komputernya. Tangannya sibuk men-scroll halaman media berita yang selalu dikunjungi olehnya. Keduanya tak berniat kembali membuka suara. Jun terlihat sibuk dengan ponselnya sementara Wonwoo, pemuda itu masih belum ingin mengalihkan pandangannya dari jejeran kata yang berada dihadapannya.

.

Jam digital yang terpasang pada dinding kamar Wonwoo menunjukkan pukul 2 dini hari. Hawa dingin berhembus pelan menerobos jutaan serat dari gordyn kamar Wonwoo yang tak tertutup sepenuhnya. Kedua pemuda itu masih terlelap dalam mimpinya. Hawa dingin seakan tidak membuat keduanya berniat untuk terjaga sejenak meskipun mereka terlelap dengan bertelanjang dada. Dengkuran halus terdengar dari keduanya. Wonwoo menggerakkan tubuhnya, merubah posisi tidurnya sejenak. Cahaya temaram yang memenuhi kamar Wonwoo semakin membuat keduanya terlelap dengan pulasnya tanpa menyadari bahwa roh pemuda yang menjadi bahan pembicaraannya tadi kini sudah beridiri disisi ranjang Wonwoo. Mingyu menatap lekat pada tubuh telanjang Wonwoo yang tak tertutupi sepenuhnya oleh selimut. Ia beranjak, menaiki tubuh Wonwoo yang kini tertidur dengan posisi menyamping. Masih menatap lekat pemuda itu.

Mingyu selalu merasakan sesuatu yang aneh setiap kali ia menatap kulit putih Wonwoo yang terbuka. Seakan begitu banyak bulu-bulu yang menggelitik perutnya membuat pemuda itu sulit untuk bernafas dengan benar. Ia selalu merasakan gejolak untuk menyentuh Wonwoo, membuat pemuda itu menahan sesuatu yang akan selalu dipaksanya untuk berhenti dipangkal kerongkongannya. Mingyu merasa bahwa Wonwoo seperti narkoba yang membuatnya ingin untuk menyentuhnya lebih dan lebih. Pemuda itu masih menatap Wonwoo lekat. Pupil matanya tampak mengecil setiap kali telinganya seakan mendengar kembali suara desahan tertahan Wonwoo akibat ulahnya. Mingyu mendekat, mencondongkan kepalanya menuju perpotongan leher Wonwoo. Hanya berjarak 2 cm meter saat ia nyaris mengecup permukaan kulit putih dihadapannya sebelum pergerakkan dari Jun membuatnya menolehkan kepalanya. Menatap tajam Jun dengan seringaian digaris bibirnya.

Mingyu beranjak, berpindah guna menaiki tubuh Jun. Kedua matanya masih menatap Jun tajam. Ia terkekeh pelan, menyeringai pada pemuda yang terlelap dibawahnya. Mingyu tampak mencondongkan tubuhnya mendekat pada Jun, semakin dekat hingga kini rohnya berada tepat didalam tubuh pemuda itu. Kedua mata Jun terbuka, menatap kosong pada langit-langit kamar Wonwoo dengan pupil mata yang menyempit. Pemuda bersurai caramel itu melirik Wonwoo yang masih terlelap disisinya dari sudut matanya, setelahnya beranjak memposisikan tubuhnya berada diatas Wonwoo. Menarik tubuh pemuda itu agar berhadapan dengannya, membuat Wonwoo yang merasakan sentuhan cukup kasar dari Jun membuka kedua mata sipitnya. "Ada apa, Jun?" Ujarnya pelan dengan suara yang terdengar berat dan serak. Jun tak bergeming hanya menatap Wonwoo kosong. "Aku mengantuk, tolong jangan mengganggu ku dengan hasrat mu itu. Pergi selesaikan sendiri masalah mu." Wonwoo mendorong bahu Jun pelan bermaksud untuk membuat pemuda itu menyingkir dari atas tubuhnya. Namun Jun tak bergeming, ia hanya tetap menatap Wonwoo dengan wajah datar dan pandangannya yang terlihat kosong. "Jun menyingkir 'lah, aku sungguh-sungguh mengan.."

Wonwoo melebarkan kedua matanya cepat saat merasakan tekanan yang kuat dari kedua telapak tangan Jun pada batang lehernya. Ia dapat merasakan tekanan itu semakin kuat membuatnya sulit untuk mengambil udara. Wonwoo mencengkram pergelangan tangan Jun kuat seraya sesekali memukulnya. "Jun, apa yang.." Wonwoo tak dapat kembali melanjutkan ucapannya saat Jun kembali mempererat cekikkanya pada leher Wonwoo. Pemuda bersurai caramel itu tak menunjukkan ekspresi apapun, hanya menatap Wonwoo datar dengan tatapan kosongnya. Wonwoo berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Jun. Pemuda itu tampak menendangkan kakinya ke udara, merasakan bahwa paru-parunya menyempit karena minimnya udara yang masuk. Wonwoo masih menatap Jun dengan pandangan tidak percaya. Pemuda itu masih mencoba memanggil nama Jun, Wonwoo memahami bahwa bukan sosok Jun yang berada diatasnya sekarang. Ia tau sosok lain tengah berada dalam tubuh Jun, Wonwoo percaya itu. Wonwoo mengangkat tangannya ke udara, melayangkan tinjunya dengan sekuat tenaga pada rahang Jun yang membuat pemuda itu tersungkur jatuh dari ranjang. Ia terbatuk, berusaha meraup begitu banyak udara yang tercekat sebelumnya. Menatap Jun yang kini terlihat kebingungan. "Apa yang terjadi, Wonwoo?"

.

.

Wonwoo menarik nafasnya dalam dan membuangnya cepat. Menyandarkan kepalanya pada badan bangku kantornya. Insiden pencekikkan Jun padanya beberapa hari lalu membuat kepalanya terasa berdenyut keras setiap kali otaknya memutar kejadian tersebut. Jun terasa sedikit menjaga jarak darinya, bukan karena alasan buruk namun Jun merasa ia perlu menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Jun bersumpah bahwa ia sangat mencintai Wonwoo, sangat tidak mungkin di lain sisi ia berusaha untuk membunuh kekasihnya itu. Wonwoo dapat mengingat bagaimana Jun menatap ngeri pada kedua tangannya sendiri, ia gemetar hebat saat itu. Jun selalu merasa bersalah setiap kali pemuda itu menatap Wonwoo. Ia nyaris membuat Wonwoo celaka dengan tangannya sendiri. Wonwoo memijat pelipisnya, ia merasa begitu tidak enak hati pada Jun, karena insiden itu Jun selalu merasa bahwa dirinya sangat bersalah kepada Wonwoo meskipun pemuda berkulit putih itu sudah mati-matian mengatakan bahwa ia tidak marah, takut ataupun kecewa padanya. Namun Jun tetap pada pernyataannya bahwa ia berusaha mencelakai Wonwoo.

Ini sudah hari ke-6 Jun tidak datang kekantor untuk bekerja. Pemuda itu juga tidak membalas pesan yang dikirim Wonwoo ataupun mengangkat telfon darinya. Wonwoo mengkhawatirkannya dengan sangat. Ia mendesah pelan, meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja komputernya. Menatap pada layar benda itu. "Kau benar-benar tidak ingin membalas pesan ku." Ia kembali mendesah pelan, melemparkan benda ditangannya tadi asal. Menjatuhkan kepalanya diatas meja kantornya. Wonwoo merasa harinya begitu melelahkan, kepalanya berdenyut hebat.

.

.

"Perasaan ku saja atau benar kau terlihat murung akhir-akhir ini?" Wonwoo memandang roh seorang pemuda yang bersandar pada meja komputernya dari ekor matanya, setelahnya kembali menatap jejeran kata pada buku fiksi yang tengah dibacanya kini. "Perasaan mu mungkin." Jawabnya acuh tak acuh. Mingyu terkekeh pelan, seringaian selalu tampak digaris bibirnya setiap kali roh itu tertawa. Wonwoo masih menjatuhkan pandangannya pada buku fiksi ditangannya. Ia tidak pernah berusaha untuk memperdulikan Mingyu, roh penasaran yang selalu mengganggunya. "Kekasih mu itu kemana, aku jarang melihatnya berada disekitar mu akhir-akhir ini."

"Untuk apa bertanya soal Jun, kau naksir padanya?" Tawa cukup keras menguar dari bibir pemuda berkulit tan itu. Ia beranjak, melayang di udara untuk mendekat pada Wonwoo. "Kau melucu." Wonwoo mencibir setelah pernyataan tadi keluar dari mulut Mingyu. Wonwoo bersumpah bahwa ia sangat ingin mengabaikan roh –sialan- itu, mengikuti saran Jun namun sialnya ia tidak pernah bisa melakukannya. Entah mengapa setiap kali Wonwoo berusaha untuk mengabaikan roh Mingyu sebuah rasa ngeri tiba-tiba membuncah dari dalam dirinya sendiri. Ia khawatir Mingyu melakukan hal diluar nalarnya jika ia mengabaikan pemuda itu. Wonwoo tersentak kaget saat Mingyu melemparkan buku ditangannya kearah dinding yang berada tak jauh darinya. Ia menggeram kesal pada roh yang kini tersenyum mengejek padanya. "Tolong jangan ganggu aku." Ujarnya dingin. Mingyu menatapnya menantang, masih dengan seringaian yang tergambar jelas digaris bibirnya. Ia mencondongkan tubuhnya kearah Wonwoo, merasakan nafas hangat Wonwoo menerpa kulit dinginnya. Ia dapat merasakan bahwa pemuda dihadapannya kini merasa sedikit risih tapi memang itu yang Mingyu inginkan. Selalu menyenangkan baginya untuk mengganggu Wonwoo. Mingyu menatap lekat manik mata pemuda yang kini berusaha mengalihkan pandangannya itu. Menjilat seduktif bibir Wonwoo secara tiba-tiba membuat Wonwoo membuka matanya lebar-lebar kearah Mingyu.

Wonwoo ingin sekali menggunakan tinjunya untuk memukul roh pemuda yang kini tengah mengerjai perut dan dadanya itu. Namun alih-alih melakukan hal itu Wonwoo justru menikmati semua permainan Mingyu diatas tubuhnya. Ia ingin menolak pada satu waktu namun diwaktu yang bersamaan hasratnya yang memuncak mengalahkan segalanya. Sebuah lenguhan pelan menguar dari bibirnya saat Mingyu menghisap kuat tulang pinggulnya. Seakan sebuah aliran listrik menyentuh titik tersebut Wonwoo dapat merasakan darahnya berdesir cepat meruntuhkan segala kewarasannya. Pemuda bersurai kecoklatan itu menekan pelan kepala Mingyu yang masih bermain disekitar tulang pinggulnya. Wonwoo bersumpah akan memohon ampunan setelah ini dan berlari menuju apartemen Jun untuk meminta pemuda itu meninjunya saja. Wonwoo mengerti bahwa ia salah menikmati setiap kali lidah dan bibir dingin Mingyu bermain dipermukaan kulitnya. Wonwoo juga mengerti bahwa kesalahan besar saat ia memejamkan kedua matanya, melenguh nikmat setiap kali Mingyu mengisap perpotongan lehernya. Ia sadar ia telah membuat kesalahan besar.

Mingyu kembali menyeringai saat menatap tubuh Wonwoo yang bergerak cepat dibawah permainannya. Roh pemuda itu tau bahwa ia akan dengan mudah membuat Wonwoo ikut berada dalam permainan yang sejak dulu sudah ditahannya. Lenguhan cukup keras terdengar lolos dari pemuda yang masih bergerak acak dibawah kuasanya itu membuat Mingyu semakin mempercepat dorongannya. Mingyu tidak pernah berusaha menahan apapun yang diinginkannya saat ini, pemuda itu terlihat mengecupi cepat bibir Wonwoo yang terbuka. Mingyu menyukai segala macam bentuk raut keputusasaan Wonwoo yang terlalu menikmati hentakkannya. Mingyu bahkan secara diam-diam menganggap dirinya sebagai seorang pemenang karena mampu membuat seorang Wonwoo meloloskan lenguhan nikmatnya jauh lebih banyak dibanding saat pemuda itu berada dalam kuasa kekasihnya sendiri.

Wonwoo berusaha menahan setiap gejolak yang seakan mengaduk-aduk perutnya kini. Pemuda itu mati-matian menahan desahannya agar tidak terlolos dari pangkal tenggorokkannya namun usahanya terasa agak sia-sia karena hentakkan Mingyu diatas sana nyaris membuat Wonwoo menyerah. Ia menahan lenguhannya, meletakkan punggung tangan kanannya diatas mulutnya. Kedua manik matanya memandang Mingyu samar. Wonwoo merasakan begitu buram, ia benar-benar kehilangan kewarasannya. Menarik tubuh roh pemuda yang berada diatasnya untuk mendekat, membuat dada telanjang keduanya menempel dan Wonwoo dapat merasakan sensasi begitu dingin dari permukaan kulit coklat itu. Ia dapat merasakan nafasnya menderu lebih cepat saat Mingyu bergerak semakin acak diatasnya. Wonwoo nyaris mengumpat karena sensasi nikmat yang begitu kuat menyentuh setiap titik ditubuhnya. Ia merasa agak mual dengan tempo yang dibuat oleh pemuda diatasnya itu. Wonwoo kembali melenguh hebat saat ia sudah berada pada titik teratasnya namun pemuda diatasnya itu agaknya masih belum ingin berhenti. Wonwoo mendorong bahu Mingyu, mencium bibir dingin pemuda itu cepat. Ia hanya berusaha untuk mengalihkan rasa nikmat yang diberikan Mingyu. Keduanya berada dalam ciuman kasar dan acak. Baik Mingyu maupun Wonwoo berusaha mendominasi satu sama lain. Benturan gigi dari keduanya terdengar begitu kontras dengan hentakkan yang Mingyu berikan. Mingyu menarik cukup keras surai kecoklatan Wonwoo saat perutnya terasa teraduk-aduk dan lenguhan hebat yang menguar dari bibirnya mengakhiri permainan itu. Hanya deru nafas tak beraturan Wonwoo yang terdengar memenuhi ruang kamarnya. Mingyu beranjak dari atas tubuh pemuda yang berjarak satu tahun diatasnya, menyeringai sesaat sebelum menghilang dari pandangan Wonwoo.

Wonwoo masih berusaha mengatur deru nafasnya. Begitu banyak peluh yang mengalir dari jutaan pori-pori dikulit tubuhnya membuat ia merasa begitu lengket. Ia menarik tangan kirinya ke udara, menjatuhkan pergelangan tangannya diatas kedua matanya. Wonwoo merasa begitu kesal dengan dirinya sendiri. Ia benar-benar kehilangan kewarasannya malam ini. Perasaan bersalah yang begitu membuncah memenuhi dada pemuda itu. Ia merasa tidak akan cukup untuk berlutut dihadapan Jun, mengakui perbuatan dosanya pada pemuda yang sudah mencintainya dengan tulus nyaris selama dua tahun ini. Wonwoo menarik nafasnya dalam dan membuanganya perlahan. Ia tidak menangis, Wonwoo tidak pernah menangis atas segala kesalahan yang dilakukannya. Baginya hal seperti itu hanya buang-buang waktu. Getaran dari ponsel yang berada diatas meja lampu ranjangnya membuat ia mengangkat sedikit lengan yang menutupi matanya. Meraih benda tersebut, Jun menelfonnya. Wonwoo terdiam sesaat, menggeser tombol merah pada layar ponselnya dan melempar benda itu asal. Ia kembali pada posisinya. Menutupi pandangannya dengan sebelah lengannya. Lukisan pada langit-langit kamarnya yang berada sejajar dengan dirinya seakan merekam segala hal yang dilakukannya dengan Mingyu beberapa menit yang lalu. Ia menghempaskan lengannya, menjatuhkan pandangannya pada fokus lukisan terbesar dilangit-langit kamarnya. Menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman miris. Lukisan Jun diatas sana merekam semua perbuatannya, dan Wonwoo merasa bahwa dirinya begitu kejam. "Maafkan aku."


Chit chat : wah wahhhh lanjutan ff'a crpt post lg nih xD curhat lg yaaaa. entah knp d'chapter ini aku ngerasa agak sedih sih, bukan dlm segi meanie tp dlm hubungan junwon ko ky ada badai2 kehancuran /? gitu x'D serius deh aku abis nulis aku baca lg eh aku melow sndiri x'D knp JunWon ku retak knp?! siapa yg melakukan semua ini?! mulai gila ni aku x'D. d'chapt ini mingyu sma wonwoo udh mulai nc-an nih wkwk angkat ketek siapa yg nunggu momen ini xD. oiya agak jlsn dikit buat yg ngerasa bingung ko setan bisa sentuh manusia & sebalik'a. jd gini klo menurut aku sih setan sbnrnya bisa sentuh manusia/barang2 coba kalian liat deh beberapa org yg pernah punya pngalaman misteri suka blng kdng ngerasa ky d'sentuh gitu tp nda ada wujud'a jd menurut aku sih sbnr'a setan bisa pegang manusia xD. aku nulis nc-an mingyu sma wonwoo asli'a pengen ketawa gr2 inget demi bkin ide dr alur ff ini om cuming kmrn sampe rada suntuk nyariin video artis JAV ameri ichinose yg ujung'a nda ketemu yg full ketemu'a cuma part lg cium2 aja xD. maaciw buat yg request ff ini krn bkin om cuming jd nonton film yg iya2 demi ide yg bgs wkwkwkwk. akhr kata aku cuma mau mnta maaf utk typo ato ke-engga-puasan readers sma ff atau cara penulisan aku yg msh acak2an x'D. terakhir maaciw buat yg msh mau review & ngikutin ff aku :* tetep review yaaaaa utk kelancaran ff ini.

Salam,

Crypt14