Author's note:
... salahkan PV season 2 yang beredar semenjak kemarin malam di salah satu situs blogging, author lantas galau gegara a certain someone yang seharusnya engga muncul lagi di seri K berikut-berikut-berikutnya, namun mendadak nongol dan adu jotos sama megane king kita tercinta. Dan salahkan pula sisa-sisa sindrom sidang tugas akhir tahap pertama (iyah, pertama... drama skripsi author belum selesai, saudara-saudara~! *ngesrot ingus*), author mendadak pengen nulis angst dan, yah... *garuk-garuk kepala* *dibantai pembaca*.
Engga banyak prakata dari author kali ini. Selamat membaca dan semoga kokoro-nya engga melayang.
...
.
Project K (c) GoRa & GoHands
BLUE SUN ~Chapter 3: Burning Sun~
disertai terjemahan ke dalam Bahasa Inggris dari lirik lagu yang berjudul Chou, oleh Tsukiko Amano
.
'Dinding api di sekelilingnya mengganas. Mengepungnya. Serta bibir dingin yang menempel pada miliknya. Mengambil apa yang tersisa darinya.'
.
.
.
.
I crawled underground digging a tunnel
Not knowing how far the tunnel would go on for
With my soil-covered scoop in one hand
I was searching for your arm
.
Yang Munakata Reishi temukan di kanan-kirinya adalah imaji sebuah kota, sementara ia berdiri tepat di tengah apa yang tampak baginya sebagai perempatan jalan. Gedung-gedung menjulang tinggi. Jendela-jendela kaca dan gemerlap lampu pencerah malam. Namun nihil. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada manusia maupun seekor kucing melintas sejauh matanya memandang. Begitu sepi. Begitu senyap. Seolah tidak ada kehidupan. Tidak ada hawa.
Seperti kota mati. Kota yang ditelantarkan penghuninya.
Mengerjap, Reishi sontak menengadahkan kepala. Mencari matahari birunya. Mencari entitas bunga-bunga es mengundang ribuan serpih dingin menjalar dari rambut hingga mata kakinya. Tidak ada. Tidak ada bongkah kaca dingin membeku. Tidak ada terpa badai menusuk. Bahkan Reishi mampu merasakan keringatnya sendiri mengalir, membasahi tengkuk di balik jubah seragamnya.
Tempat apa ini? Masihkah pemandangan ini menjadi kelanjutan dari mimpi-mimpinya?
.
As I gathered up my patchy happiness and sowed it
I was crushed by your strength
.
"Munakata."
Tubuhnya kaku. Sebuah suara berat menyapa. Entah mengapa terdengar begitu jauh, namun begitu dekat dalam waktu bersamaan. Reishi tidak bisa bergerak. Tidak bisa melangkah. Tidak bisa menggerakkan kepalanya untuk mencari. Tidak bisa mengulur tangannya untuk menggapai.
"Munakata."
Suara itu bagai embus napas, menggelitik memabukkan. Sensasi panas yang lantas menyeruak di sekujur tubuhnya. Menyesaknya. Seluruh inderanya mampu merasakan. Mampu menangkap sesosok nyawa berdegup pelan tepat di punggungnya.
Reishi tercekat. Untuk menelan ludah saja rasanya ia tidak sanggup.
"Munakata…."
.
Burning
Burning
The scar on my palm that won't go away
.
Satu tangan mencengkeram lengannya, menyusur turun hingga pergelangannya, telapak tangannya, saling menautkan jemari dengan miliknya. Panas yang menggelora. Detak jantungnya yang semakin tidak berirama. Sementara percik-percik merah marun, cantik seperti kunang-kunang merah, mendadak melayang di sekitarnya. Mengelilinginya. Mengepungnya. Menari-nari dalam diamnya.
Reishi merasa seolah tubuhnya tengah terbakar api tak kasatmata.
"… Suoh…."
.
Ripping through the gaps in the red clouds with my tattered wings
Finding a me who can fly well
.
Satu senyum berkelebat dalam kepalanya. Bukan sebentuk senyum hangat penuh rasa, penuh emosi menggelegak yang ia rindukan. Melainkan lengkung senyum sinis, menyeringai sadis. Serta embus napas di pangkal lehernya. Tepi dagunya. Daun telinganya. Bulu kuduknya yang meremang. Suara erangan yang tak lagi tertahan di tenggorokannya.
"Lihat apa yang telah kau lakukan padaku, Munakata…."
...
Merah dan biru. Untuk kesekian kalinya bertabrakan. Mengadu nyawa. Memutus asa. Bertaruh di antara tali-tali takdir yang—entah bagaimana—berhasil dimanipulasi oleh tangan-tangan kotor para makhluk fana. Garis langit yang dilanggar. Ilusi yang diciptakan. Delusi yang dibiakkan.
"Reishi—"
Ledakan menggelegar. Sang raja kecil hampir terlontar apabila seorang laki-laki jangkung dengan kacamata berlensa ungu tidak segera menyeretnya dari tempat itu.
"Anna, cepat pergi dari sini! Di sini tidak aman!"
"Tapi… Reishi…."
Satu ledakan lain. Kali ini disusul raung sirine dari kejauhan. Menggema mendekat.
"Anna, sebentar lagi Scepter 4 akan tiba di sini. Serahkan tempat ini pada mereka. Kita harus pergi. Masih ada hal lain yang harus kau lakukan."
Sang raja kecil tidak menjawab. Hanya bergeming di tempatnya. Manik rubi besar berkilaunya yang tidak pernah lepas dari titik tempat terjadinya dua ledakan besar tersebut. Kening mengerut dan alis bertaut, sorot wajah manisnya yang penuh genang kecemasan.
"Aku tidak bisa, Izumo. Di sana, Reishi—"
Gemuruh api kini menyusul, memporakporandakan bangunan-bangunan di sekelilingnya. Dan satu figur melompat, tampak menghempas dirinya, untuk jatuh berdebam dengan bunyi memekak telinga, tidak jauh dari sang raja kecil.
Gadis itu nyaris memekik.
"REISHI—"
"—jangan ke sini, Anna…." Sosok itu memotong kata-katanya sembari berdiri tertatih, bertumpu pada sebilah pedang bergagang emas. Tanpa melempar pandang sedikitpun padanya, sosok itu meneruskan kata-katanya, "Kusanagi, sudah kukatakan padamu untuk membawa Anna pergi dari sini. Tempat ini berbahaya. Aku bisa menyelesaikannya sendiri."
Sang raja kecil tertegun. Ada perih yang mengiris dadanya. Ia merasa tidak berdaya. Merasa begitu lemah. Tangan kecil dan sepasang sayap merah marun yang terbakar anggun di punggungnya sama sekali tidak sanggup untuk membantu meringankan beban laki-laki berpedang emas di hadapannya itu. Bulir air mata yang entah untuk kesekian kalinya tumpah-ruah dari bola matanya. Jemarinya mengepal. Sekujur tubuhnya yang gemetar, menyanyikan dukanya, kecewanya, amarahnya meski semua itu ditujukan pada dirinya sendiri.
Betapa besar ia membenci dirinya. Membenci kekuatannya. Membenci julukannya sebagai seorang 'raja'. Karena ia tidak bisa menolong. Hanya sanggup memperhatikan. Hanya terus-menerus ditamengi.
"Reishi…," sang raja kecil berbisik lirih, namun ia tahu suaranya didengar laki-laki itu. "Reishi, ingatlah…. Lawanmu bukanlah dirinya yang sebenarnya, lawanmu adalah…."
Satu dentum mengerikan. Dinding api meletup hingga angkasa. Dan satu siluet, berjalan tegap ke arah mereka. Derap langkah yang dikenalnya. Postur yang akrab di ingatannya. Surai mencuat dan tepi jaket mengibas yang menjadi khas di sudut kenangannya. Namun merah yang seharusnya menyelimuti siluet itu hilang. Tinggal hitam. Kosong yang hampa. Gadis itu berpaling. Tak ingin melihat ilusi itu lebih lama lagi.
"Reishi, kumohon ingatlah… orang itu bukan Mikoto. Mikoto sudah mati. Mikoto sudah—"
"—aku tahu, Anna. Karena aku yang membunuhnya dengan tanganku sendiri."
Tak ada lagi kata yang terucap dari mulutnya. Tubuhnya yang kemudian ditarik menjauh bersamaan dengan laki-laki berpedang emas yang menjejak langkah lalu menerjang lawan tandingnya. Merahnya yang sirna. Merahnya yang tidak pernah lagi nyata hadir dalam dunianya. Sementara satu warna lain, warna yang baru saja dikenalnya, yang sama cantiknya dan sama hangatnya, yang menjadi kontras bagi merahnya, kini mulai memudar dari laki-laki berpedang emas tersebut.
Biru milik laki-laki itu yang mengabur. Sang raja kecil tahu, laki-laki itu tidak memiliki sisa waktu lebih lama lagi.
...
"Munakata…."
"… ini tidak nyata, ini bukan kau, Suoh. Ini bukan dirimu. Siapa kau dan darimana asalmu?!"
Hunusan pedang dan bara api meliar. Reishi berkelit. Deru dalam dadanya yang semakin menggedor. Nyeri.
"Munakata…."
Api membakar dari pundaknya, tertoreh membentang di punggungnya. Reishi meringis. Tetap berusaha melawan. Tetap berdiri pada kedua kakinya. Meski sakit di kepalanya semakin tidak bisa berkompromi.
Sementara pedang raksasa berwarna biru gelap di atas kepalanya mengguruh. Seakan berteriak. Gaung suara meretak dan memecah terdengar di gendang telinganya. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia harus segera mengakhirinya.
"Katakan padaku… siapa yang mengutusmu dan apa tujuanmu?!"
Gerakannya terhenti. Satu tangan mencengkeram erat pergelangannya. Menariknya kasar hingga wajah garang itu berhadapan begitu dekat dengan wajahnya.
"Munakata, ingat apa yang telah kau lakukan padaku?"
Dinding api di sekelilingnya mengganas. Mengepungnya. Serta bibir dingin yang menempel pada miliknya. Mengambil apa yang tersisa darinya.
"Kau membunuhku. Kau ingat itu, Munakata?"
...
.
Where will the eternity I drew while I was in my cocoon
Put out its bud and open its flower?
The morning eventually brings back the night
Captivating me
.
Perempatan pusat kota yang hening. Tanpa kehidupan. Tanpa keramaian. Hanya lampu dan jendela-jendela kaca saling memantulkan bias cahaya satu sama lain. Munakata Reishi masih berdiri di sana. Tubuhnya yang terikat pada delusi yang bangkit untuk sekedar menyapa dalam tidurnya. Sosok itu masih di sana, bersandar pada punggungnya. Sentuhan-sentuhan kecil di sekujur tubuhnya, embus napas dan kecup bibir dingin, meninggalkan jejak-jejak api yang menghanguskan logikanya.
.
Moonlight
I believed that as I groped around
My arm would get tangled with yours and I'd find where you are
.
"Mikoto…."
Ah….
.
Burning out Burning out
You won't come back to the place we promised
.
"Lihat apa yang kau lakukan padaku, Reishi…."
.
Running through the black earth in shattering pain
Finding a me who can fly well
.
Kali ini tidak ada api di sekelilingnya. Hanya titik-titik merah marun menari-menari mengepungnya. Cantik sekaligus mematikan. Panas di tubuhnya yang melekat bukan dari bara. Hanya sekedar emosi. Sepotong ingatan masa lalu yang terkunci di sudut kotak memori, yang tidak akan pernah kembali.
"… Miko—"
"—kau membunuhku, Reishi."
.
If I can't hear you scream
I want you to crush me in your hand
While I can still call myself "me"
.
Dan Reishi merasakannya. Ia menunduk, menemukan sebilah pedang menembus dadanya. Tetes kemerahan yang mengalir. dari ujung lancip itu hingga lukanya. Meski Reishi tersenyum. Matanya yang kemudian terpejam. Tubuhnya yang jatuh lunglai, punggungnya yang bertemu dengan dada bidang penuh kehangatan itu, serta sepasang tangan membungkus tubuhnya yang mendingin, membenamkannya dalam dekap penuh rasa.
.
Your arm holding me back becomes silent dust
I just quietly
Looked up at the sky
.
Hingga Reishi tak lagi membuka matanya, ia mampu merasakan nyeri menusuk itu, berdenyut perih mengiringi detik-detik sisa waktunya yang membumbung tinggi, lebih cepat dari yang seharusnya digariskan tali takdir.
.
Burning out
Burning out
You won't come back to the place we promised
Finding a me who can fly well
.
...
.
.
.
A/N. Sekian dari author kali ini. Terima kasih banyak untuk Meongaum-chan, Septaa-san, Votte Femme-san, dan akun tamu yang sudah menyempatkan main plus meninggalkan jejak di lapak author yang super engga jelas ini. Terima kasih juga untuk para pembaca setia, dan tetap ditunggu review-nya kalau berkenan~ ;)
