Chapter 3
Cinta Tak Pernah Sama
Sehun – Luhan
Yaoi
Hasil Remake dari Novel 'Cinta Tak Pernah Sama' karya Dista Dee. Jadi ide cerita ini sepenuhnya milik Dista Dee, aku hanya sedikit mengubah nama tokoh, beberapa kalimat, dan juga aku ubah cerita ini menjadi yaoi.
Di Chapter Sebelumnya
Jendela profile pria yang ditatapnya tadi menunjukkan sebuah pesan sebelum kembali menelepon lagi beberapa detik kemudian.
Jawablah panggilanku, aku tahu kau ada di sana.
Luhan memutuskan untuk mengacuhkannya. Dengan mata yang basah dia menekan deretan nomor dari ponselnya, menunggu beberapa saat sebelum di seberang sana seseorang menjawab.
"Hi, sweetheart, tumben kau menelpon pagi-pagi begini… Ada apa? Kau baik-baik saja?"
Air matanya tumpah bak air bah seketika mendengar suara lembut ibunya terdengar dari speaker ponselnya, untuk pertama kalinya setelah menahan diri berhari-hari, Luhan terisak mengungkapkan kefrustasiannya. Luhan memang lah seorang pria, namun masalah ini terlalu rumit untuk ia pahami dan ia tak tau cara untuk menghadapinya sehingga ia mengekspresikan kefrustasiannya dengan menangis.
"Eomma.. I'm scared"
Menjadi seorang idol bukanlah hal yang mudah. Ini bukanlah tentang sebuah pekerjaan yang kau lakukan karena menurutmu bernyanyi adalah hal yang paling kau sukai dalam hidupmu, dan rasanya menyenangkan melihat banyak orang mengakui kemampuanmu juga menyukai keberadaanmu dalam dunia musik mereka. Tidak.
Menjadi seorang idol adalah tentang pengabdian diri, mengorbankan banyak hal demi sebuah mimpi dan dedikasi. Kau akan mengorbankan kebebasanmu, waktu bersama keluarga dan teman, waktu untuk melakukan hal yang dulunya sangat kau sukai, bahkan waktu untuk menjadi dirimu sendiri, ada kalanya bahkan hilang sama sekali.
Ketika kau menjadi seorang idol, kau akan membiarkan orang mencampuri segala urusanmu, mereka mengobrak-abrik privasimu, menyukaimu atau bahkan membencimu dengan sepenuh hati, berekspektasi terlalu tinggi, hingga menghakimimu tanpa mereka perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau harus selalu tersenyum ketika semua mata di pelosok negeri tertuju padamu, kau harus selalu tersenyum meski saat itu kau sedang sangat gusar dan kesal, kau harus selalu tersenyum di tengah teriknya panas dan dingin yang menusuk dan bersikap seolah segalanya baik-baik saja, seolah kau adalah makhluk paling bahagia di muka bumi ini. Kadang ini akan menjadi hal yang sangat mudah kau lakukan, tapi disisi yang lain menarik sudut bibir untuk membentuk citra sebuah image ini adalah hal yang paling sulit dilakukan ketika kau sedang lelah, ketika kau sedang bersedih. Karena hanya dengan sebuah senyum, adalah sebuah indikator semua orang menilai kepribadian dan etos kerjamu.
Ketika pertama kali mendengar konsep karakternya sebelum debut, Bang Yongguk, CEO agensinya, mengatakan bahwa Luhan memiliki seluruh kepribadian anggota grup anggotanya. Dia memiliki image dan kekuatan dominasi Chen saat tampil diatas panggung, dia memiliki keceriaanTao, selera humor Xiumin, dan aura seksi Lay yang begitu kuat. Dan ia juga mengatakan bahwa Luhan adalah 'the effortlessly stylish' atau 'gaya yang sudah menarik tanpa usaha yang keras' karena seluruh karakter itu, semua orang di Apple Ent. Sudah mengira konsep ini akan sangat mempengaruhi penilaian orang dan perlakuan CEOnya terhadap Luhan setelah bergabung dengan salah satu boyband andalan Apple Ent. Ini.
Semua orang mengakui kalau Bang Yongguk sangat protektif terhadap para anggota grup idolnya, dia memiliki peraturannya sendiri terhadap kehidupan pribadi mereka, sebagai seorang pencipta ke-eksisan mereka, sebagai seorang ayah dan juga musuh bebuyutan di saat yang sama. Xiumin yang paling merasakan hal ini tiap kali Bang Yongguk melakukan sesuatu yang menurut mereka tidak masuk akal dan bersikap sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya sebagai CEO (tidak dalam konteks yang sangat buruk, hanya saja kadang cekcok di antara mereka bisa terlihat begitu menyebalkan), setelah kontrak tidak tertulisnya tentang jangka waktu mana dia dan Lay diharuskan untuk tidak berkencan akhirnya tidak menemui titik terang, lalu tentang ruang berlatih grup mereka yang tiba-tiba saja secara sepihak Bang Yongguk berikan pada anak-anak trainee secara sepihak, lalu sekarang kebijakannya untuk mengatasi masalah Luhan.
Yang dia dengar dari Hyuna dan Boyoung, kedua manajer mereka, CEO agensi Sehun telah memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan masing-masing pihak, dan menekan para media untuk tidak lagi menulis berita tentang Sehun dan Luhan, terutama semakin banyak rumor yang beredar tentang hubungan kedua orang ini seringkali bertemu hanya berdua di luar jadwal mereka, hingga bahkan ada yang berkata pernah melihat keduanya di Spanyol akhir tahun lalu. Onew, salah satu anggota grup senior Apple lainnya, memberitahunya bahwa Oh Sehun dan beberapa anggota grupnya yang lain lebih sering berada di Cina, bahwa pria itu menjadi salah satu cast variety show paling popular di negara mereka. We Got Married, untuk meredam berita-berita yang beredar tentangnya.
"Jadi mereka memang pernah bertemu dulu sebelumnya? Waah… siapa yang mengira Luhan akan benar-benar menyimpan cerita ini bertahun-tahun? Aku baru tahu kalau seorang Oh Sehun bisa bersikap seperti ini, dia pasti sangat menyukai Luhan sampai melawan netizen dengan pernyataan semacam itu," komentar Onew suatu hari dalam obrolannya bersama Xiumin dan Chen setelah membaca sebuah tulisan yang Sehun upload di mini homepagenya berisi penjelasan tentang kericuhan ini beberapa hari setelah tayangan Truth Talkingnya disiarkan di televisi. Rasa maafnya yang terdalam ditunjukkannya pada Luhan sebagai pihak yang mungkin akan sangat tersakiti atas reaksi netizen, dan meminta semua orang untuk tidak lagi menyerang Luhan dan berhenti menganggunya.
"Aku menyebutnya dengan istilah yang lebih sederhana,.. namanya keras kepala." Ujar Xiumin menimpali sementara disampingnya, Chen menyelesaikan membaca tulisan itu dan berdecak pelan begitu selesai dan ikut berkomentar.
"Dia seperti sedang berusaha menyiram air ke nyala api yang besar, aku bertanya-tanya apakah dia benar-benar berpikir satu tulisan ini bisa membuat orang-orang mengganggu Luhan," katanya skeptis sementara menatap layar ponselnya dan mengirim sms pada Luhan, yang saat itu sedang berada di Saipan untuk shooting salah satu CF produk Shampoo ternama yang menggunakannya sebagai Brand Ambassador, menanyakan kabar dan apakah Luhan merasa baikan setelah beberapa hari flu.
Lepas dari imagenya di atas panggung. Luhan sebenarnya adalah seseorang yang sangat rapuh. Pria itu mudah tertekan bila berada dalam situasi yang tidak menguntungkan dan kehilangan aura positifnya tiap kali tidak merasa sehat. Terutama karena dia memiliki stamina yang paling buruk di antara kelima anggota mereka. Sejak awal bergabung dalam kegiatan promosi grupnya, Luhan yang paling sering terlihat tidak fit, cepat lelah dalam rangkaian kesibukan jadwal mereka dan di saat seperti itulah Luhan kemudian sangat ringkih dan sering kali terserang penyakit. Hal yang paling terlihat dengan jelas adalah Luhan mulai kehilangan percaya dirinya setelah skandal ini mencuat, dan itu sangat mempengaruhi kinerja saat tampil di depan publik dan juga dibelakang panggung.
Minggu pertama di bulan April, Luhan menghabiskan waktunya di studio rekaman setelah kembali dari Paris ketika Changmin, salah satu anggota grup duo Apple Ent, memintanya untuk merekam suaranya berkolaborasi dalam satu lagu di album barunya. Sebelum-sebelumnya, biasanya Lay yang selalu mereka pakai untuk berkolaborasi bersama, tapi sudah berbulan-bulan sejak pertama kali mendengar suara Luhan, Changmin ingin memasukkan suara Luhan dalam salah satu lagunya. Menurutnya suara Luhan unik, gabungan antara suara Chen dan Lay yang lebih berat dengan range vokal yang panjang. Yang membuatnya unik adalah tipe suara R&B ini juga terdengar sempurna ketika menyanyikan lagu Opera, dia ingat Luhan pernah membuat orang-orang terperangah ketika dia menyanyikan Flower Duet dengan suara soprannya saat istirahat setelah latihan bersama konser Apple Ent. Pertengahan tahun lalu. Jadi kali itu dia ingin menggabungkan dua tipe suara itu untuk lagunya, sekaligus memamerkan karakter suara klasik yang tidak pernah mereka perlihatkan ke dunia luar, tanpa pernah menduga itu akan menjadi tugas yang sangat berat bagi hoobaenya ini.
"Luhan, jangan terlalu menekannya, kau kedengaran tidak stabil… kita ulangi dari 'in the cue'…" Changmin bicara pada Luhan melalui mikrofon ke dalam ruang rekaman sambil sedikit memberi contoh suara yang ingin didengarkan.
Di lagu itu, Luhan seharusnya menyanyikan empat baris lirik di bagian Reff, sebelum kemudian menggunakan suara soprannya di bagian bridge sementara dia dan Changmin menyanyikan rap di puncak lagu. Tapi sepanjang hari ini mereka berulang kali mengulang bagian yang sama karena tidak puas dengan hasil rekaman yang Luhan nyanyikan, ini aneh sekali karena Luhan tidak biasanya begini sulit sebelumnya. Bahkan Jorim dan Kush, para music director mereka pun mengakuinya, entah kenapa Luhan yang sebelumnya selalu melakukan segalanya dengan sempurna dan yang biasanya paling cepat menyelesaikan rekamannya kini terlihat sebaliknya. Kepercayaan Luhan pun semakin menurun tiap kali Changmin memintanya kembali menyanyi dari awal, hingga dia memutuskan untuk menghentikan rekaman ini saat mendengar suara Luhan yang sudah mulai serak.
"Baiklah, Luhan, kita berhenti di sini dulu," ujarnya seraya menyuruh Luhan berhenti bernyanyi. Dari kursinya Changmin mengawasi Luhan keluar dari bilik rekaman dengan wajah yang pucat dan mengubur wajahnya di atas tangannya yang terlipat seraya memukul meja penuh dengan kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
Changmin sudah mendengar insiden yang dialami salah satu junior kesayangannya itu dan juga beberapa masalah yang terjadi selama CEO mereka mengirimnya keluar Korea. Dia pernah berada dalam situasi yang sedang Luhan lalui, karena itu dia memaklumi keterpurukan ini dan juga prihatin melihat Luhan di saat yang bersamaan. Mendayung kakinya menggerakan kursi ke samping Luhan, Changmin menggenggam tangan pria itu untuk menghiburnya dan agak terkejut melihat sisik kemerahan dan lecet di buku-buku jarinya. Sehari sebelumnya dia melihat Luhan melakukan sesi olahraganya bersama exercise trainer mereka, berlatih kickboxing dan menemukan pria itu mengayunkan lengannya memukul bantal target di kedua tangan trainernya terus menerus tanpa henti. Changmin sempat menggodanya saar itu, bertanya siapa yang telah membuatnnya kesal hingga Luhan memukulkan tinjunya dengan kekuatan penuh setelah pelatih mereka itu memintanya untuk mengeluarkan seluruh amarahnya, tapi Changmin sama sekali tidak menyangka Luhan yang menganggapi latihan itu begitu serius hingga melukai tangannya seperti ini, Luhan pasti kena omel parah sang trainer setelahnya kemarin.
"Maafkan aku hyung, aku tidak biasanya begini…" Luhan menahan rasa sakit di tenggorokannya yang terasa kering dan terbakar setelah berusaha meraih nada tinggi menyanyikan lirik yang Changmin berikan, dia tahu ada yang salah dengan cara menyanyinya karena biasanya tidak sulit baginya untuk menyanyikan nada tertinggi dengan interval yang panjang. Mengetahui bahwa usahanya terasa sia-sia selama seharian, Luhan pun kembali mengeluarkan air matanya, sebagai seorang penyanyi dia merasa gagal dan malu karena kegagalannya ini harus terlihat oleh orang-orang terdekatnya di dalam keluarga musik itu. Jadi agar tidak membuat pria itu merasa semakin tidak nyaman, Changmin menarik Luhan keluar studio membawa pria itu ke dalam sebuah ruang latihan yang sepi, memberinya sebotol air mineral untuk menyegarkan tenggorokannya yang serak seraya menghiburnya.
"Kenapa tidak bilang kalau kau sedang flu? Kalau kau mengatakannya pada kami, aku tidak akan terlalu memaksakanmu hari ini," ujarnya ketika merasakan beberapa bagian tubuh Luhan terasa lebih hangat dari keadaan tubuh normal dan mulai menyadari situasinya, seraya menepuk bahu Luhan yang berusaha menahan air matanya agar berhenti menangis.
"Suaraku tidak pernah terpengaruh meskipun sedang flu… aish, kenapa aku bersikap seperti ini," Luhan mengutuk dirinya sendiri sementara menghapus air matanya dan menarik nafas dalam tanpa menatap kedua mata Changmin yang duduk di satu kursi di hadapannya, "Sekali lagi, maafkan aku hyung… aku akan mencobanya lagi,"
Changmin menarik kembali Luhan dari duduk kembali ke kursinya ketika pria itu telah beranjak untuk kembali ke studio, mereka tidak mungkin melanjutkan rekaman kembali dengan keadaan suara seperti ini, jadi dia menggeleng dan mengatakan bahwa mereka masih memiliki banyak waktu hingga kesehatan Luhan membaik. Satu-satunya yang Luhan butuhkan adalah istirahat saat ini, untuk memulihkan keadaan pita suaranya yang memburuk terpengaruh oleh keadaan mentalnya yang tidak stabil, Changmin yakin benar akan hal itu.
"Aku tidak tahu apakah aku berhak mengatakan ini, tapi aku pernah berada di dalam posisimu, Luhan, dan aku bisa memahami apa yang kau rasakan saat ini. Seorang penyanyi pun juga manusia, tidak pernah membicarakan masalah yang kau hadapi bukan berarti kau tidak memilikinya, jadi tidak apa-apa bila kau menangis,"
"Aku hanya kesal karena tidak bisa melakukan yang terbaik, saat iini aku merasa sangat tidak professional, karena tidak menjaga suaraku dengan baik," air matanya keluar lagi begitu Luhan mengatakannya, kekesalannya terhadap diri sendiri begitu besar sementara dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya untuk mengatasi hal ini, dan itu membuatnya frustasi. Dan entah mengapa Luhan menjadi seorang yang cengeng setelah skandal yang menimpanya ini, ini membuatnya semakin frustasi.
"Tentu saja kau merasa kesal," Changmin tersenyum memaklumi adegan yang terlihat di depannya, dia lalu beranjak seraya menepuk-nepuk lembut kepala Luhan dan menarik tangan pria itu.
"Ayo kuantar kau ke dokter, kita harus melakukan sesuatu untuk mengobati tenggorokanmu. Setelah itu kuantar kau pulang, kita akan melanjutkan rekaman lain kali setelah suaramu pulih kembali," Changmin meninggalkan Luhan untuk mengambil tas pria itu dan kembali dalam satu menit, merangkul pria itu di lengannya membawanya keluar dari gedung Apple Ent. Setelah meminta produser musik mereka untuk merahasiakan insiden hari itu dari CEO mereka.
Chen mendengar kabar itu langsung dari Changmin yang menghubunginya dari klinik dokter langganan mereka sambil menunggu Luhan selesai dengan sesi pemeriksaannya. Begitu selesai dengan mengepak barang-barang di rumahnya, Chen langsung kembali ke apartemennya, menemukan Luhan duduk di sofa membaca sebuah buku yang sangat tebal sambil mengganti channel-channel TV tanpa minat.
"Xiumin hyung pergi kemana?" tanyanya begitu menaruh kardus-kardus bawaannya ke dalam kamar dan bergabung bersama Luhan di sofa, memberi pria itu satu kantung obat herbal yang di bawanya dari rumah.
"Dia pulang ke rumah sebentar, dia bilang akan segera kembali sore ini. Ini apa?" Luhan menyeruput cairan yang terasa manis dengan pahit dan wangi kayu manis setelah menjawab pertanyaan temannya itu.
"Nektar kayu manis dan madu, ibuku membelikannya cukup banyak untuk persediaan di dorm, katanya bagus untuk menambah staminamu, kau sedang membaca apa?"
"Kitab merah, seperti biasa," Luhan menunjukkan cover si kitab merah, sebuah 'panggilan kesayangan' yang dia pakai untuk menyebut modul materi kuliahnya, berjudul Global Finance and International Politics yang hanya Chen tatap sesaat sebelum mengalihkan matanya kembali pada Luhan, mendengar pria itu melanjutkan penjelasannya, "Aku tidak bisa mengikuti ujian semester kemarin, jadi Profesor Shin Sanghyup menyuruhku membaca buku ini supaya aku bisa mengikuti tes oral dengannya minggu depan… tapi ini susah sekali, aku menghabiskan dua hari ini untuk membaca satu topik bahasan yang sama, dan masih saja tidak mengerti apa maksudnya. Kurasa aku harus mengumpulkan teman-teman diskusiku untuk menjelaskan ini padaku,"
"Kalau begitu tutup saja, kau bisa melanjutkan membaca bukumu lain kali," ujar Chen seraya menutup buku milik Luhan dan menaruhnya di atas meja sementara mengambil remote dari tangan Luhan dan mulai mengganti channel TV di depan mereka.
Chen menatap temannya sedetik, lalu kembali mengganti channel ke saluran TV lainnya ketika tidak sengaja dia menyetel sebuah saluran yang menyiarkan tayangan ulang variety show pernikahan artifisial –We Got Married- yang terkenal memperlihatkan Oh Sehun bersama pasangannya. Chen sengaja tidak langsung mengganti salurannya untuk melihat bagaimana ekspresi Luhan ketika melihatnya, yang hanya diam menatap layar televisi tanpa berkedip atau merasa terganggu sedikitpun, dan itu membuat Chen jadi bertanya-tanya apa yang sedang temannya itu pikirkan di dalam kepalanya, terutama ketika teringat dengan insiden kecil mereka di Paris beberapa hari,
"Kau baik-baik saja?" Chen menyerukan rasa penasarannya yang di jawab dengan anggukan begitu Luhan menoleh menatapnya.
"Ya, tentu saja, kenapa tidak?"
"Kau bisa mengatakan padaku yang sebaliknya kalau memang tidak baik-baik saja… keadaan kita tidak baik-baik saja belakangan ini," Chen berkata lagi seraya mengalihkan wajahnya kembali ke layar TV dengan nada dingin, sementara Luhan melebarkan bibirnya melihat sikap itu.
Inilah yang kadang dia suka dari teman kesayangannya itu, yang terlihat tidak acuh tapi menyimpan kepedulian yang begitu besar di dalam dirinya. Hal yang tidak banyak dimiliki banyak pria seumuran mereka, sebuah karakter yang menjadikannya seorang pemimpin di usia semuda itu. Luhan memiringkan kepala dan menyandarkannya di bahu Chen sambil membenarkan letak duduknya melepas rindunya terang-terangan. Xiumin dan kedua anggota lainnya bergabung beberapa jam kemudian hari itu mereka menghabiskan hari menonton sebuah tayangan yang memperlihatkan pementasan tari anak-anak TK dari TV kabel lokal Jeolla Namdo sebelum besoknya Luhan kembali ke Tokyo dengan penerbangan paling pagi.
Chen mengakui bahwa Luhan memiliki bakat akting yang luar biasa, dia sering kali heran bagaimana pria itu masih bisa tersenyum dan tertawa lebar di depan kamera dan di keramaian lalu mengurung diri berjam-jam, menangis di dalam kamarnya begitu kembali ke apartemen. Meski memang sudah pekerjaan mereka untuk memperlihatkan penampilan dan senyum terbaik ketika di luar rumah, terutama karena konsep mereka dengan image yang lebih kuat disbanding boyband lainnya di Korea, tapi jarang sekali idol yang bisa bersikap begitu berbeda diantara kehidupan kerja dan kenyataannya. Dan yang membuatnya cemas adalah karena Luhan seorang diri saat ini, biasanya bila ada masalah mereka akan selalu membicarakannya berdua di dalam kamarnya, atau bersama Xiumin bila hyung mereka itu berada di dorm. Karena tempat tinggal anggota mereka terpisah dalam dua apartemen di satu lantai yang sama, dan karena Xiumin lebih sering menginap di rumah orang tuanya, Luhan lebih sering menghabiskan waktu bersama Chen dan mengobrol bersama bila tidak sedang disibukkan dengan tugas kuliah dan diskusi grup bersama teman-temannya di kampus. Pria itu menghargai kedekatan mereka berdua. Chen menganggap Luhan sebagai saudara kembar barunya atas beberapa kesamaan karakter mereka dan tidak ada berada di samping Luhan saat itu sungguh membuatnya merasa tersiksa sebagai seorang sahabat dan saudara laki-laki. Karena itulah besar sekali keinginannya untuk membawa pria itu kembali di antara mereka, meski untuk melakukannya dia harus berkonfrontasi dengan CEO Apple Ent. agensinya.
"Aku tidak mengerti, sajangnim." Ujar Chen suatu hari pada Bang Yongguk saat menemui pria itu bersama tiga anggotanya, "Aku tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan padanya, kenapa kau melakukan ini, dan bagaimana kau bisa membiarkannya sendiri disaat seperti ini."
Bang Yongguk bersandar di punggung kursinya menatap pria yang kini duduk dihadapannya dengan tatapan menuntut penjelasan. Dia tidak pernah melihat Chen seperti ini sebelumnya, bersikap begitu mendominasi seolah dengan begitu pria itu mampu membuatnya melakukan semua yang Chen minta, atau setidaknya, menjawab pertanyaan yang ditanyakannya begitu menggebu sejak awal. Sementara dia hanya menggaruk darinya merespon sikap yang ditunjukkan para pria itu yang duduk di hadapannya, bila mereka berempat sudah berkumpul begini, ini sudah saatnya untuk melakukan negoisasi.
"Kalian ingin mendengar apa dariku? Luhan hanya membutuhkan waktu untuk menyendiri setidaknya beberapa bulan ini, nanti dia juga akan kembali." Katanya menjawab, yang disahut dengan gelengan kepala Xiumin yang kuat,
"Tidak, sajangnim, kami tahu jelas bukan itu masalahnya… Luhan tidak bisa sendiri, sebaliknya dia sangat membutuhkan kami di saat seperti ini." Katanya peduli.
"Sajangnim, Luhan bukanlah seseorang yang pernah mengeluh, tapi sudah tiga bulan ini kami lebih sering mengobrol lewat telepon daripada bertatapan muka. Kau bilang dulu hanya sampai pertengahan bulan Maret… tapi sekarang waktu sudah jauh berlalu… Luhan mengatakan padaku bahwa dia kesepian, saat kami semua berkumpul di Seoul, dia seorang diri di Tokyo atau di LA. Maafkan aku berkata seperti ini, tapi bukankah kami satu grup yang seharusnya bersama dalam keadaan apapun? Bila kami dipisahkan tiap kali seseorang mengalami masa berat, bagaimana kau berharap kami bisa saling mendukung di kemudian hari nanti…" kalimat panjang itu terlontar dari mulut Tao yang emosional, matanya menatap tajam CEO agensi mereka, tangannya terkepal kuat menahan diri untuk tidak memukul CEO Apple Ent. mereka itu
" –Maafkan aku bersikap seperti ini, hanya saja aku berpikir kalau ini tidak benar…" ucap Tao sambil menundukan kepalanya.
Tao menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba untuk meredakan emosinya itu. Lay meremas pelan tangannya, mencoba menenangkannya. Tapi usaha itu tidak berhasil tiap kali teringat bagaimana Tao menyaksikan Luhan memuntahkan seluruh isi perutnya sebelum atau sesudah naik panggung ketika mereka tampil bersama, atau disela syuting dan beberapa kegiatan mereka yang lain. Pria itu terlihat tidak sehat selama beberapa bulan ini, dan dia tahu keadaan Luhan tidak akan begini buruk bila mereka ada di sampingnya. Dia dikenal mulai menganggu mereka, menghubungi nomor ponselnya dan teman grupnya yang lain tengah malam agar memberikannya pada Luhan karena pria itu tidak lagi mengaktifkan nomor ponselnya dan bila dia sendiri merasa begitu terganggu, Tao bisa membayangkan rasa sakit yang Luhan rasakan pasti jauh lebih besar.
"Sajangnim," Chen kembali membuka mulutnya. "Aku tidak pernah membantahmu sebelumnya… ketika kau memutuskan untuk membawanya masuk kedalam grup ini tanpa membicarakannya lebih dulu pada kami, aku menerimanya dengan tulus. Ketika kau mengambil kembali ruang latihan kami sebelumnya, akupun tidak mempersalahkannya lebih panjang lagi. Tapi kali ini aku harus melakukan sesuatu, kau bisa melakukan apapun… kecuali memisahkan kami… dalam keadaan apapun. Aku pernah berjanji pada Luhan untuk membawanya kembali, jadi ku mohon kabulkanlah permintaan kami, Sajangnim, sekali ini saja."
TBC
