Kepalaya menggeleng kuat, menagis dalam diam ketika memori itu berputar di kepala. Membuat dadanya begitu sesak hingga bernafas saja terasa sulit. Tangan kecilnya menggapai-gapai udara, seolah ingin meraih sesuatu.

"Jika aku di beri kesempatan untuk hidup kembali. Aku akan mencarimu bahkan ke ujung dunia sekalipun, itu janjiku."

Bohong. Kau meninggalkanku sendiri.

"Tapi," Pria itu menjeda, helaan nafasnya terdengar memberat. Terlalu sakit kala menatap wajah memerah basah orang yang paling berharga. Sebelah tangannya masih setia mengusap sepanjang garis wajahnya, meneliti rupa sang pria untuk ia simpan dalam pikiran. "Aku ingin kau berjanji untuk tetap hidup walau tanpaku sekalipun."

"TIDAK!"

Baekhyun terlonjak, terbangun dengan dada kembang-kempis seiring dengan tarikan nafasnya yang memburu. Dia mengerjapkan mata berkali-kali, melirik kesisi lain ranjang dan tak mendapati Chanyeol di sana. Rasanya familiar namun menyakitkan, membuat dia menangis refleks dengan kedua lutut tertekuk.

"Maafkan aku." Baekhyun berujar lirih, membenamkan wajah pada lipatan tangan. Kembali mengulang kata maaf dengan bibir bergetar. "Tolong maafkan aku…" kembali berkata demikian seakan semua kata maaf tak cukup untuknya.

Setidaknya sekarang dia tahu. Kenapa hanya dirinya saja yang mengingat dengan jelas semua memori di kehidupannya yang dulu. Semua berputar, berlomba-lomba untuk memenuhi pikiran. Bagai kaset kusut yang membuat dia hampir menyentak mual karna pening. Bahkan semua sentuhan dan luka yang dulu pernah singgah, kembali ia rasakan dengan jelas di atas kulit.

"Maafkan aku, Chanyeolie…"

.

Come Back to Me

.

Pairing:
Park Chanyeol x Byun Baekhyun

.

Genre:
Crime. Drama. Romance.

.

Warn : YAOI, BL. Pedofil. Reinkarnasi. MPREG.

.

Original Story by
Izahina98

Don't Like? Don't Read!

.

Chanyeol jadi bingung sendiri ketika mendapati Baekhyun yang nampak tak terlalu banyak bicara pagi ini. Apa karena demam? Ah, itu tidak mungkin. Dia sudah sembuh, bahkan anak itu yang kemarin memaksanya untuk membawa dia pergi ke apartemen milik Chanyeol sendiri. Ya, walaupun Kyungsoo jelas menentang keras awalnya.

Biasanya Baekhyun yang paling banyak mengoceh. Bergelayut di tubuhnya dan tak jarang meminta gendong jika manjanya sudah kumat. Lalu akan kembali berbicara tentang, "Kau biasanya memasakkanku ini…" atau "Dulu kau selalu menciumku ketika bangun dan kita akan melakukan 'itu'di kamar mandi." Semacam itu lah. Sampai terkadang dia ingin sekali membenturkan kepala di dinding saking pusing dan shocknya.

Dan anak itu akan merajuk sepanjang hari ketika dia membalasnya dengan ucapan, "Belajar darimana bocah sepertimu kalimat itu?" Dia tidak salah 'kan? Baekhyun itu bahkan sepantaran dengan keponakannya yang selalu bermanja pada Kai dan akan meminta ini itu ketika tengah berulang tahun padanya dulu. Bukan seperti Baekhyun yang ucapannya seperti orang dewasa saja.

Memang serba salah ya. Ketika dia banyak bicara, Chanyeol inginnya dia diam saja. Tapi setelah anak itu diam seperti ini, Chanyeol malah terus berusaha mengajak si kecil bicara walau di jawab seadanya saja.

"Seperti yang sudah kita bicarakan kemarin. Karena umurmu masih 9tahun. Jadi kami sudah sepakat akan menyekolahkanmu." Chanyeol memulai sambil mengolesi selai kacang pada roti bakar di tangan, "Aku sudah mendaftarkanmu di Sekolah Dasar dekat kantorku bertugas." Dia melirik Baekhyun sesaat untuk melihat responnya.

"Tapi um—"

"Tidak ada penolakan."

"Bukan itu mak—"

"Baekhyun…" Lagi, Chanyeol memotong ucapannya. Dia memang berusaha mengajaknya bicara tapi bukan untuk mendengar penolakan. Memang sudah sewajarnya jika anak seusianya sekolah bukan?

Anak itu akhirnya memilih kembali diam, mengigit ujung roti berselai strawberry dengan wajah tertekuk.

"Kyungsoo dan Kai yang akan mengantar jemput. Tapi, akan ku usahakan untuk menjemputmu juga jika aku ada waktu." Dia melanjutkan dan hanya di jawab deheman pelan oleh Baekhyun. Membuatnya kecewa akan beberapa hal.

"Apa kau tidak suka?"

Baekhyun menggeleng, menarik bagian atas piyama biru bermotif beruang yang merosot sebelum kembali melanjutkan sarapan tanpa kata lagi. Keheningan menyelimuti mereka berdua cukup lama, membuat Chanyeol tak nyaman saat terjebak di dalamnya.

"Baekhyun…" Panggilnya pelan, agak penasaran juga dengan keterdiaman Baekhyun dan wajah lesunya itu. Benar-benar tidak biasa. Dia memang sempat menolak sekolah kemarin, tapi kembali ceria saat Chanyeol mengajaknya mengelilingi taman seharian.

"Apa kau ada masalah?" Jadi dia memilih untuk bertanya.

Anak itu mendongak, menatap Chanyeol lama sekali dengan tatapan mata yang tak terbaca apa maksudnya. "Tidak ada." Dan jawaban itu yang keluar kemudian.

Oke, Chanyeol menyerah. Dia tidak ingin memaksa anak itu untuk bicara jika dia tidak ingin. Lantas ia bawa telapak tangannya mendekat, mengusap surai halus itu dan menyelipkan beberapa anak rambut di belakang telinga dengan senyuman tipis di bibir.

"Cepat habiskan sarapanmu dan kita berangkat."

Sebenarnya Chanyeol masih agak ragu meninggalkan anak itu di lingkungan yang baru. Di tambah dengan keterdiaman Baekhyun dan bahaya yang mungkin saja tengah mengintainya membuat dia jadi takut. Tapi dengan terus mengurung anak itu di dalam rumah dan membatasi pergaulannya bukanlah sesuatu yang bagus. Itu akan menghambat tubuh kembangnya nanti. Jadi ketika mereka telah tiba di depan pintu gerbang Sekolah, Chanyeol kembali bertanya.

"Kau yakin tidak apa-apa?"

Baekhyun menarik garis tipis di bibir dengan kepala mengangguk pelan, walau terlihat sekali di paksakan. "Iya." Dia menjawab ragu, "Aku baik-baik saja kok." Lalu menatap Chanyeol tepat di mata ketika anak itu mendongak.

"Baiklah. Tapi ingat satu hal." Chanyeol berjongkok, menyejajarkan tinggi tubuh keduanya. Dia menepuk bahu si kecil dan merapihkan tatanan rambutnya agar terlihat semakin rapih. " Jangan bicara dengan orang yang mencurigakan dan jangan mau jika ada orang yang mengajakmu pergi tanpa seijinku. Kau mengerti?"

"Iya."

Biasanya Baekhyun pasti akan mencak-mencak sambil bilang 'Jangan memerintahku! aku ini bukan anak kecil tau!' Walau kenyataannya dia hanya seorang anak kecil yang menggemaskan. Ada bagusnya juga sih dia diam seperti ini. Anak itu jadi penurut dan tak banyak protes seperti biasanya.

"Ya sudah. Masuk sana."

Anak itu membungkukkan tubuhnya, memberi salam sebelum membaur dengan anak-anak yang lain. Chanyeol berdiri cukup lama, ingin memastikan jika bocah itu masuk ke dalam Sekolah dengan selamat. Hingga ia merasakan sesuatu yang bergetar dari saku jaket yang di kenakannya.

"Yeoboseo?"

"Hasilnya sudah keluar hari ini."

"Baiklah. 15 menit lagi aku sampai disana." Chanyeol segera memutus sambungan, melirik sekali lagi pada pintu gerbang yang mulai tertutup sebelum membawa langkah pergi.

.

Come Back to Me

.

Matanya mengerut dengan alis menukik tajam kala membaca tiap kata dalam selembar kertas dengan sangat teliti. Tak ingin ada satupun hal yang terlewatkan dari pandangan. Sementara di depan mereka saat ini masih terbaring tubuh kecil yang sudah kaku dengan bibir membiru. Selimut putih tipis menutupi ujung kaki hingga leher.

"Jadi dia dibunuh dengan cara yang sama juga?"

Pria yang lebih dewasa di depannya mengangguk, memberikan selembar kertas lainnya pada Chanyeol. "Dan untuk korban yang kalian temukan 6 bulan yang lalu, " Si professor menjeda kata, "Masih agak sulit untuk mengindetifikasi penyebab kematian pada korban. Kondisi tubuh yang telah membusuk juga ada bagian yang hilang membuatku tak bisa secepat mungkin menarik kesimpulan." Dia menjelaskan panjang lebar, menepuk bahu kanan Chanyeol kemudian. "Dan saya masih belum bisa mendapatkan satu sidik jaripun yang tertinggal."

Pernyataan itu sedikit banyaknya membuat Chanyeol menghembuskan nafas kasar berkali-kali. Hampir meremat kertas tak bersalah di tangan jika saja Sehun tidak buru-buru mengambilnya. Mereka ini memang partner dalam memecahkan kasus. Jika Chanyeol lebih suka bertindak sesuai insting dan kepala panas. Maka lain hanya dengan Sehun yang lebih memilih bertindak tenang namun pasti. Dia akan mencari bukti lebih banyak dan akurat sebelum meringkus pelakunya. Memang cerminan Detective yang teladan dia itu.

"Tapi,"

Seluruh atensi kini kembali pada sang professor dengan name tag 'Choi Siwon' yang terpasang di jas putihnya. Dia berjalan lebih dekat pada tubuh kecil itu, menyibak sedikit selimut putih tersebut hingga membuat bagian atas korban terlihat jelas. Chanyeol mengeryit kasar, terlalu prihatin dengan banyak bercak disana.

"Kau bisa melihat dada kirinya yang agak membiru bukan?" Chanyeol dan Sehun tahunya mengangguk tanpa bicara, memilih untuk mendengar setiap kalimat yang akan terlontar dari bibir si Profesor. "Kemungkinan dia mendapatkan pukulan benda tumpul sebelum akhirnya melenyapkan korban dengan cara dicekik." Tangan yang terbalut sarung tangan karet itu berpindah menyentuh leher yang masih tercetak bercak merah kebiruan di sepanjang garis lehernya.

"Dia memang mendapatkan pelecehan sama seperti korban lainnya. Tapi aku tidak menemukai sedikit pun bekas sperma di tubuhnya." Pria itu melanjutkan, menutup kembali tubuh korban sebelum membawa pandang pada dua lainnya.

"Apa maksudnya?"

"Seperti yang kubilang barusan," Siwon menunjuk satu tanda strip pada bagian bawah kolom di lembaran kertas yang sudah berpindah ketangannya kini. "Tidak ada sedikitpun bekas sperma yang tertinggal seperti biasanya. Juga tanda yang dia tinggalkan berbeda kali ini."

Mereka berpindah pada papan putih kecil di sudut ruangan, sama seperti papan yang ada di ruang penyelidikan. Terdapat banyak foto juga tulisan-tulisan kecil sebagai keterangan setiap gambar. "Jika pada korban sebelumnya terdapat tulisan 'Akan919' namun seperti yang kau lihat, hanya tanda hati yang tertinggal disini."

Chanyeol menelitinya dengan seksama. Baru tersadar setelah membandingkan dengan foto korban-korban yang lainnya. Apa maksudnya ini? Apa mungkin si pelaku mulai mengganti kebiasaanya dalam membunuh?

"Dan juga, aku tidak menemukan tanda penganiayaan lainnya yang biasanya banyak tertinggal di tubuh korban. Ini cukup aneh. Mungkin pelaku sengaja membunuh si korban saat itu, juga terbukti dengan tubuh korban yang di temukan dalam kondisi tubuh yang baik." Lanjutan kata yang terlontar dari Profesor tampan itu membuat Sehun mengeras dalam amarah.

"Dia ingin bermain-main sepertinya." Sehun mengepalkan tangan erat hingga membuat buku jarinya memutih.

"Hanya dua kemungkinan." Chanyeol menatap sahabat yang lebih muda dua tahun darinya itu, melirik berkas sekali lagi sebelum berucap. "Dia mengganti metode membunuhnya setelah kita bergerak cepat seperti ini atau memang ada dua pelaku di sini."

"Aku akan menemui pusat lalu lintas untuk meminta kopian video CCTV di dekat lokasi dan daerah yang mungkin menjadi tempatnya bersembunyi." Sehun segera bergegas pergi, membungkuk hormat pada pria yang lebih tua kemudian melenggang pergi dengan Chanyeol yang masih bergeming di tempat.

"Atau bisa jadi ini hanya pengecoh saja." Dia berujar teramat pelan. Menelan segala kemungkinan di dalam kepala seorang diri.

Dengan adanya hasil baru ini. Suho segera mengadakan rapat mendadak walau tanpa Sehun yang sebelumnya mengatakan jika dia masih mencoba mencari video untuk kebutuhan penyelidikan. Pria itu menulis beberapa nama di samping foto, berjalan ke kanan dan kiri dengan kedua tangan tertaut di belakang tubuh.

"Kita hanya perlu menunggu hasil Min Jae Rim untuk menyimpulkan semuanya." Suho menunjuk salah satu foto, "Tidak menutup kemungkinan jika terdapat sidik jari di tubuhnya."

Semua korban memang di temukan dalam kurun waktu satu tahun belakangan ini dengan jangka waktu satu hingga dua bulan. Namun jarak waktu di temukannya korban saat ini semakin dekat. Dalam minggu ini saja mereka sudah menemukan dua korban dengan kondisi yang sama namun dengan tanda yang berbeda. Hanya satu korban yang sulit untuk di indetifikasi hingga sekarang karena kondisi tubuh yang sudah membusuk juga anggota tubuh yang sebagian menghilang. Jika di hitung, maka keseluruhan ada 12 kasus yang sama.

Min Jae Rim, ditemukan di danau yang tengah mengalami perombakan 6 bulan yang lalu. Awalnya mereka menganggap jika ini mungkin modus pelaku yang bekerja di pasar gelap untuk mengimport organ manusia ke luar negeri seperti yang memang tengah marak saat itu. Membuat para polisi jelas kewalahan menuntasnya.

"Aku rasa dia memang hanya mencoba mengecoh kita dengan metode pembunuhan yang baru." Minggyu mengangkat sebelah tangan, menyeruakan pendapatnya. "Mungkin dia merasa posisinya terancam dan membuat alibi seolah pelakunya ada dua." Lanjut pria berkulit tan itu.

"Kali ini aku setuju padanya." Sahut Jongdae.

"Semua terasa sulit jika kita tak menemukan sidik jarinya." Minseok menghela nafas di ikuti dengan anggukan lainnya dengan wajah lesu.

Suho menoleh pada pria tinggi yang duduk di bangku bagian belakang, "Apa pendapatmu tentang ini, Detective Park?" Dia bertanya dan berhasil menarik atensi pria yang mulanya tengah memainkan ponsel di tangan.

"Siapapun orang itu," Chanyeol menjeda, "Dia akan segera kutangkap dengan tanganku sendiri…"

Hari sudah menjelang sore dan Baekhyun tak menemukan siapapun selain Pak Han yang berjaga di post dekat gerbang Sekolah. Dia sudah lelah dan bosan menunggu. Kyungsoo hanya mengatakan untuk menunggunya 30 menit lagi. Tapi demi Tuhan, dia bahkan sudah menunggu hampir dua jam lamanya. Sebenarnya dia bisa saja mengunjungi Chanyeol di tempat kerjanya. Namun dia mendadak buta arah, tak tahu pasti nama daerah yang ia pijak saat ini. Dan takutnya Kyungsoo datang saat dia nekat menyusul menggunakan taksi.

Berakhirlah dia yang terduduk di sebuah ayunan di taman dekat Sekolah. Merenung seorang diri dengan berbagai pemikiran rumit di kepala.

"Aku ingin kau berjanji untuk tetap hidup walau tanpaku sekalipun."

Baekhyun memejamkan matanya lebih erat, meremat tangan pada pegangan ayunan yang tengah ia duduki. Merasakan pening yang kembali menyerang.

"Tidak, hentikan dia! Jangan biarkan dia mengambilnya, Chanyeolie!"

Rasanya sungguh memuakkan ketika memori menyakitkan yang justru selalu berhasil menguasainya. Membuat dirinya kembali tenggelam dalam perasaan bersalah.

"Maafkan aku karena mengecewakanmu."

Jika dia bisa. Dia akan lebih memilih untuk tidak terlahir dengan semua memori yang tertinggal dari kehidupannya yang dulu. Namun, Baekhyun tahu itu tidak akan terjadi. Dia sadar, mungkin ini hukuman yang harus dia terima karena perbuatan yang dia lakukan dahulu.

"Ka.. Kau baik-baik saja?"

Baekhyun mendongak perlahan, mengerjapkan mata untuk mengusir pusing di kepala. Dia menatap siluet seseorang yang agak buram saat matahari menyorot di belakang tubuh tinggi menjulang itu, cukup untuk menyilaukan matanya.

"Kau baik-baik sa…saja?" Pria itu kembali mengulang pertanyaan yang sama dengan terbata, mengusap sebentar rambutnya yang agak berantakan dengan gugupnya. Sepasang mata itu terkadang bergulir gusar saat Baekhyun menatapnya lekat. Sikapnya juga terlihat berbeda untuk pria seusianya.

Baekhyun tersenyum simpul, "Ya, aku baik."

Tanpa disuruh, pria itu menduduki bagian lain ayunan di sana. Tersenyum sangat lebar kala menggerakan tubuhnya kebelakang dengan kaki, mengambil ancang-ancang hingga kaki yang menjuntai menapaki tanah ia angkat. Membuat tubuhnya teranyun menyenangkan dengan rambut yang bergerak mengikuti langkah angin.

Bocah itu terus memperhatikannya, cukup bingung dengan tingkah kekanakan pria lainnya. Wajarnya lelaki seusia dia tidak akan mau bermain di tempat seperti ini.

"Ken-kenapa kau be-belum pulang?"

Chanyeol sesungguhnya sudah melarang untuk bicara dengan orang asing. Tapi ketika menyadari ucapan terbata juga penampilan pria yang lebih besar darinya itu membuat pikiran negative nya menguap entah kemana. Jika di lihat dari sudut manapun, pria itu bukanlah orang jahat. Setidaknya itu yang hatinya ucapkan.

"Paman Kyungsoo belum menjemput Baekki." Bibir bawahnya mengelupas keluar, terlihat menggemaskan dengan mata puppy nya yang agak menyanyu. "Dan Baekki sangat lapar." Dia mengadu tanpa sadar, menepuk-nepuk perut kecilnya dengan kepala meneleng ke kanan. Beginilah kalau sikap manja nya sudah keluar.

"Jadi namamu, Bae-Baekki?"

Tuh kan, dia masih saja berucap dengan terbata. Agak lucu sih bagi Baekhyun. Jika di kira-kira, mungkin pria di depannya ini sudah dewasa. Dengan tinggi menjulang seperti itu, mungkin saja sekitar 17 tahun keatas. Ya masih kalah tinggi dengan suaminya sih. Wajahnya juga tampan walaupun gayanya terlihat culun.

"Iya. Namaku Baekhyun." Anak itu menjawab riang, "Kau boleh memanggilku Baekki juga." Katanya dengan senyuman lebar.

Pria itu membetulkan letak kecamatanya sebelum menjulurkan tangan, tersenyum kaku pada Baekhyun. Anak itu sudah pasti menyambut jabatan tangan tersebut dengan senang hati.

"Namaku Yifan." Senyum keduanya kian mengembang, tanpa sadar mengoyangkan tautan tangan dengan kekanakan. "Senang bertemu denganmu, Baekhyunee."

Sepertinya dia mendapatkan teman yang cukup menyenangkan di hari pertamanya Sekolah. Bukan teman sebayanya sih, tapi tak masalah. Berteman kan tidak harus memandang umur juga. Yifan orang yang baik dan asik saat di ajak bicara soal beberapa tokoh kartun favoritenya. Dia bahkan mengajak Baekhyun untuk singgah di caffe yang katanya milik keluarganya dua blok dari Sekolah. Penawaran yang cukup sayang untuk di tolak.

Aku hanya makan sebentar saja kok. Selepas itu kembali kesini dan Kyungsoo pasti sudah datang, pikirnya begitu.

Dengan anggukan kepala sebagai jawaban, kini dia sudah duduk manis dengan berbagai macam hidangan kesukaannya diatas meja kayu bernomer 07. Dia bahkan sampai menjerit karena terlalu senang.

"Yifan Hyung?" Baekhyun memanggil, mengusap sedikit saus pasta di sudut bibir dengan punggung tangan. "Berapa umurmu? Apa kau masih sekolah?" Dia bertanya dengan kerjapan polos, mengundang Yifan untuk mencubit gemas kedua belah pipi itu bersamaan.

"Aku masih 19 dan Ayah ba-baru saja men-mendaftarkanku kuliah tahun i-ini."

"Benarkah?"

Yifan mengangguk antusias, menangkup dagunya sendiri dengan kedua tangan ketika memperhatikan tingkah Baekhyun yang sudah beralih menyendokkan ice cream vanilla dengan saus strawberry juga toping kacang ke dalam mulut dengan lahap. Dia jadi menginginkan seorang adik.

"Apa sa-sangat enak?"

"Eung!"

Baekhyun hanya membalas dengan anggukan kepala, kembali membiarkan cairan dingin itu melumer di dalam mulut. Mata puppynya kemudian berkedip-kedip lucu ketika melihat kilatan indah dari sesuatu yang tersemat di jemari panjang Yifan. Dia mencondongkan wajah tanpa sadar, membuat Yifan jelas terkesiap juga gugup sekaligus.

"A-ada apa?"

"Cincinmu sangat indah Yifan Hyung." Jelas Baekhyun dengan mata berbinar-binar, ingin menyentuh benda itu namun urung di lakukan. Takut tak di perbolehkan oleh orang di depannya. Pria itu lantas tersenyum, menyodorkan tangan kanannya guna memperlihatkan lebih jelas Cincin di ibu jarinya.

"In-Ini cincin keluarga yang di berikan se-secara turun menurun. Ayah yang me-memberikanku kemarin saat aku berulang ta-tahun."

"Sangat cocok denganmu Hyung!" Baekhyun berkata dengan girang, mendekatkan wajahnya sambil sesekali menyentuh permukaan batu ruby itu dengan jemari kecilnya. Hingga tak terasa matahari tlah terbenam di ujung sana karena mereka yang terlalu sibuk mengoceh banyak hal. Waktu memang berlalu sangat cepat ketika kau menikmatinya.

"Aku akan menemuimu lagi be-besok di sini. Bo-bolehkan?" Pria berkaca mata bulat itu bertanya ragu, melirik sekeliling taman yang sudah sepi.

"Tentu saja. Baekki sangat senang berteman dengan Yifan Hyung!"

"BAEKHYUN!"

Anak itu terkejut ketika dirinya tahu-tahu sudah berada dalam pelukan seseorang. Dia ingin mendongak untuk memastikan namun orang itu sama sekali tak membiarkannya untuk bergerak sedikitpun. Baekhyun memukul pelan tubuh itu, memberitahukan jika dia mulai kesulitan menarik nafas sekarang.

"Kau darimana saja? Aku mencarimu, Sayang."

Ah, ternyata itu Kyungsoo.

"Bukankah sudah kubilang untuk tidak berpergian tanpa ijin dariku?"

Chanyeol maju satu langkah, menatapnya dengan tajam hingga anak dalam pelukan Kyungsoo mengkeret dalam takut. Membenamkan kembali wajahnya di ceruk leher sang paman. Pria itu terlihat sangat menyeramkan bila sedang marah.

"Ma-maaf, ini salah sa-saya."

Dia membawa pandang pada pria berpakaian kemeja merah dengan celana jeans hitam di tubuh, juga kaca mata bulat yang bertengger di hidung mancungnya. Dia memicingkan mata, menatap lamat-lamat penampilan pria itu dari atas hingga ke bawah. Dia ini tidak bisa jika tidak berpikiran negative pada orang lain. Terbawa suasana. Hell, lagipula jaman sekarang itu susah untuk mempercayai seseorang.

"Siapa kau?"

Kepala pria itu semakin merunduk dalam bagai padi yang menguning, menjalin jemari di bawah sana dengan tubuh yang gemetaran karena rasa takut dan gelisah yang membaur menjadi satu.

"A-aku Yifan. Teman Baekhyunee." Dia mencoba menjawab walau rasanya keringat sudah membanjiri seluruh pori tubuh.

"Jangan salahkan dia, Chanyeolie—ah maksudku Ahjusshi." Baekhyun mengigit bibir bawah, merasa terintimidasi ketika tatapan pria berumur 28 tahun itu menghunus padanya. "Baekki juga salah." Akunya dengan bibir bergetar.

Mengatur emosi bagi Chanyeol itu sulit, mungkin sangat. Tidak tahukah Baekhyun bagaimana paniknya dia saat menerima panggilan dari Kyungsoo yang mengatakan jika dirinya menghilang? Dia itu hampir menjadi korban. Jadi tak menutup kemungkinan jika pelaku masih mengincarnya saat ini. Chanyeol bahkan dengan kurang ajarnya meninggalkan rapat mendadak tanpa kata saat Kepala Kepolisian tengah mempir tadi, hanya untuk mencari keberadaan anak itu.

"Sudahlah Hyung. Kau membuat Baekhyun takut." Kai segera menengahi, kasihan juga melihat Baekhyun yang terlihat memucat karena takut di pelukan suaminya. "Yang penting Baekhyun ketemu dan dia baik-baik saja." Karena dia sudah kenal betul watak Hyung nya yang pemarah ini.

"Kali ini aku maafkan." Chanyeol menghembuskan nafas dengan sangat perlahan, kembali melirik Yifan yang masih menundukkan kepala. "Lain kali jangan bawa dia tanpa seijinku lebih dulu, kau mengerti?"

Yifan langsung menganggukkan kepala tanpa menjawab, kembali mengulas senyum bahagia ketika netranya bertemu dengan Baekhyun.

"Ya sudah. Ayo pulang!"

.

Come Back to Me

.

"Mereka sudah tidur?"

Kai meletakkan secangkir kopi panas pada meja ruang keluarga, menggeleng pelan sebagai jawaban sebelum menduduki sofa berwarna crem di sebelah sang Kakak.

"Apa kau sudah mendapatkan pelakunya?"

Gerakan tangan Chanyeol yang hendak mengangkat cangkir berhenti sesaat, melirik pada Kai yang menatap sejurus pada layar TV yang tengah menyiarkan acara Music. Suaranya memang terdengar tenang, namun Chanyeol tahu benar jika terselip amarah juga kekesalan di dalamnya.

"Kami masih mencarinya." Jawaban itu membuat Kai meremas tautan tangannya sendiri dengan gigi bergemeletuk samar. "Dia selalu berhasil pergi tanpa jejak selain tulisan yang aku sendiri tak tahu jelas apa artinya." Chanyeol melanjutkan kalimat sambil menjambaki rambutnya frustasi.

"Terlalu banyak orang yang sudah dia sakiti. Aku tidak ingin ada korban lainnya."

Lagi, di hembuskannya nafas kasar. Chanyeol menyandarkan kepalanya pada sofa dengan pikiran yang entah kemana.

"Apa kau tak berniat memiliki anak lagi?" Pria itu memilih mengganti topik, terlalu pening memikirkan segala kemungkinan di dalam kepala. Topiknya memang agak menyinggung, tapi dia juga tak bisa membiarkan mereka terus berlarut dalam kesedihan.

"Kyungsoo selalu menolak. Dia masih terlalu trauma." Kai menjeda kalimat, membawa tatapan pada sang Kakak dengan raut wajah yang lebih serius kali ini. "Kami berencana mengangkat Baekhyun menjadi anak kami." Perkataan itu tak pelak membuat Chanyeol sukses tersedak oleh kopi yang baru semenit meluncur di tenggorokkanya.

Kai membantu menepuk-nepuk punggung Chanyeol yang masih terbatuk payah. Tangannya sendiri bahkan refleks ikut memukuli dadanya pelan. Well, itu cukup mengejutkannya.

"Ji-Jika Baekhyun memang bersedia. Aku tidak akan melarang."

Ya, asal anak itu aman maka tidak ada hal yang harus ia cemaskan lagi.

"AH! HAHAHA GELI!"

Baekhyun memberontak ketika kedua tangannya di penggang erat di sisian tubuh. Dia tertawa lebih keras saat Kyungsoo mengusakkan kepalanya dengan gemas di perut anak itu. Terlihat seperti pasangan Ibu dan Anak yang tengah menghabiskan waktu dengan hal menyenangkan.

"Rawrr— Aku akan memakanmu…" Kyungsoo mengigit main-main perut si kecil hingga kembali membuat Baekhyun terpekik kegelian. "Paman Kyungsoo hentikan! geli!" Tubuhnya menggeliat walau dia tetap saja tertawa ketika Kyungsoo justru beralih menggelitik pinggangnya.

Chanyeol tak tahan untuk tidak mengulas senyum di bibir ketika mengintip kegiatan itu dari celah pintu kamar yang terbuka. Kyungsoo selalu melakukan itu dengan Taeoh sebelum tidur. Bercanda, membacakan cerita, sampai menyanyikan sebuah lullaby hingga anak itu tertidur dalam pelukan hangatnya. Benar-benar belum berubah. Mungkin mengangkat Baekhyun sebagai anak adalah pilihan yang benar. Kyungsoo bisa mendapatkan kebahagiannya yang baru.

"Akan kupastikan dia tertangkap secepatnya."

Lalu mengepalkan tangan erat saat siluet seseorang di malam itu melintas di kepala. Ya, dia akan melindungi Baekhyun dan membuat Kyungsoo dan Kai mendapatkan kebahagiannya kembali.

.

.

.

Sementara itu di lain tempat. Di tengah cahaya temaram, tubuh kecilnya meronta lemah. Wajahnya telah basah oleh air mata yang tak berhenti mengaliri kedua pipi. Bercampur dengan jejak darah yang tampak di sudut bibir. Raut itu jelas menggambarkan ketakutan, menatap siluet hitam di depan mata bagai melihat mimpi buruk tanpa akhir.

"Arkh sakit sekali! Lepaskan..hiks.. lepaskan aku!" Dia masih mencoba melawan dengan tubuh kecilnya yang jelas tak sebanding. Berjengit ngilu ketika benda berujung tajam itu menyentuh permukaan kulitnya. Menendang udara kosong sebagai perlawanan sebisanya hingga membuat orang yang tengah menduduki pahanya tertawa dengan sangat puas.

Liukan benda tajam tersebut tetap dia lakukan bahkan setelah menyadari pergerakan tubuh di bawahnya semakin melemas. Terus mengiris jaringan kulit itu dengan sangat perlahan, seolah sengaja meninggalkan rasa sakit yang tak tertahankan di dalam benak. Suara jeritannya pun semakin lama semakin samar terdengar karena tangan yang sukses membungkam penuh mulut kecilnya.

"Kau memang manis," Sang pria beralih mengeluarkan sesuatu dari saku celana, membelitkan pada leher yang lebih kecil dengan tawa khas yang terus berkumandang di ruangan dengan lampu berkedip-kedip. Seringaiannya semakin jelas terlihat tatkala merasakan tubuh si bocah yang sudah tidak lagi melawan, bahkan sudah melunglai tanpa pergerakan.

"Tapi sayangnya kau bukan dia…"

.

To Be Countinue—"

.

.

Masuk konflik awal, hehe.
Ada yang udah bisa nebak-nebak mungkin?
Tuh udah aku perjelas ya umur mereka. Sebenarnya, umur mereka disini berpengaruh penting buat jalannya cerita. Jadi tunggu aja. Ada kejutan nanti, hehe:v

.
Big Thaks to:
rikaexoo, MadeDyahD, ByunYeol, pla614, neomuchanbaek, Akuma Apaa Tu, veraparkhyun, parknagisa, Lussia Archery, MeAsCBHS, istiqomahpark01, cipcipchuu, Jujululu, fabulousehun, Ovieee, Byunsex, chanlienBee04, byunlovely, Kim Yeoja248, kkaiii, prktower, Aisyah1, gitakanya, LyWoo, dianarositadewi4, chanbaek1597, yiamff, babby baek (Oh, Haloo juga^^).
.

Makasih banyak udah mau sempetin nge review.
Satu review sangat berharga banget buat Hina. Bagi kalian yang mau kasih saran atau kritik juga boleh, Hina gak bakal marah ^^ Tapi, Hina gak nerima kata
'next' doang ya:'))

Mau update fast? Jan lupa review.

Haloo Reader dan Sider tercinta… Minta reviewnya lagi ya^^

#ChanbaekIsReal!
#ChanbaekMenujuHalal