Chanbaek Story by Yasaenghwa
Proundly Present:
The Devil's Spawn
Teufelsbrut
Birth of Demon
WARNING:
Chanbaek, YAOI, Boyslove, Supranatural/horror/Angst/MPREG, NC-21, Typo(es)
Disclaimer:
this fic is mine,
FANFIC REMAKE DARI FIC KYUMIN "THE DEVIL'S SPAWN"
Terimakasih untuk tidak plagiat, Bash dan flame..
.
.
.
don't like, just click close (X)
Happy reading and enjoy..
Main cast:
Park Chanyeol
Byun Baehyun
Support cast:
Oh Sehun
Kim Junmyun
Do Yeolngsoo
Bae Joo-Hyun (Irene/RV)
Park Chae Young (Rose/BP)
Dan akan bertambah sesuai kebutuhan cerita
Summary:
Baekhyun seorang mahasiswa arkeologi yang menemukan perkamen dalam hutan terkutuk mendapatkan kejadian mengerikan di dalam hidupnya, ia di perkosa oleh 'iblis' yang menanamkan benih dalam perutnya. Apakah dia akan mati? Bisakah ia lepas dari 'iblis' itu? apa yang terjadi dengan Chanyeol sahabatnya?
Previous chapter
Baekhyun memuntahkan apapun itu yang mendesak keluar dari dalam perutnya. Ia membungkuk di depan wastafel kamar mandinya.
"Huekk... Hkk.." terasa sesuatu mengalir dari tenggorokannya dan keluar dengan deras dari dalam mulutnya.
Rasanya sangat aneh di lidah Baekhyun. Bau itu sangat familiar. Baekhyun melotot horor dengan sesuatu yang ia muntahkan tadi di washtafel. Tubuhnya gemetar, keringat membanjiri pelipisnya, tubuhnya perlahan mundur menjauhi washtafel. Apa yang ia lihat ini benar – benar nyata, sungguh ia ketakutan lebih dari apapun. Baekhyun merasa lemas dan tidak sanggup untuk berdiri dan—
"ARRRRRRGGGGGGGGGG...!"
.
Teufelsbrut
The Devil's Spawn
.
.
Chapther 3
"ARRRRGGGGGG...Hah.. hah... hh!" tubuh mungil itu terperanjat dari tidurnya. Nafasnya memburu, pandangannya kabur oleh tumpukan air mata, manik itu tampak kosong. Lamat – lamat ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Baekhyun-ah... Ya, Byun Baekhyun! Gwenchana?!" tanya orang yang kini duduk di depan Baekhyun sambil memegang pundaknya. Baekhyun masih fokus untuk mengatur nafas dan jantungnya yang belum berdetak dengan normal. Kemudian Ia edarkan pandangannya kepada orang yang duduk di tepi ranjang.
"Kai- ya?" cicit Baekhyun mengeluarkan suara gemetarnya dan tanpa aba – aba ia langsung memeluk Kai. Kai yang masih kebingungan akan sikap Baekhyun itu mencoba untuk membalas pelukan sahabatnya yang kini terisak pada pundaknya.
"Kai-ya, hiks.. Tolong a-aku,,, darah.. da-rah itu.. a-aku, hiks... aku takut." racau Baekhyun dalam isakannya. Kai mengernyitkan dahi, ia semakin tak mengerti 'Baekhyun meminta tolong? darah? Hey ada apa ini?' batin Kai.
"Ada apa Baek?" Kai mencoba melepaskan pelukan Baekhyun, namun pelukan itu semakin erat. Kentara sekali jika Baekhyun benar – benar ketakutan saat ini. Kai yang pada mulanya datang ke rumah Baekhyun untuk mendiskusikan tentang rencana pertunjukkan pentas seni kampus mereka untuk acara prom campus tidak tahu apapun mengenai kejadian apa yang sedang menimpa Baekhyun saat itu. Ia tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan dari arah kamar Baekhyun ketika ia baru saja tiba di mansion milik sahabat dari club seni itu.
Flashback
Seorang namja berkulittan tengah memencet bel intercome di depan sebuah mension. Tidak lama kemudian seorang yeoja paruh baya sekitar 40 tahunan, muncul dari balik pintu utama mansion tersebut.
"Eoh, Tuan muda Kim Jongin, ada apa pagi sekali datang kemari? Mari silahkan masuk." Sapa yeoja tersebut tersenyum ramah setelah mengetahui tamunya adalah sahabat dari tuannya. Ia kemudian mempersilahkan tamu yang di ketahui adalah Kai tersebut untuk masuk kedalam mansion.
"Terimakasih Jung ahjumma." Kai membalas senyum ramah tersebut dengan senyum yang tidak kalah ramah sembari masuk kedalam mansion.
"Ahya.. Ahjumma apa Baekhyun ada? Aku ada urusan tentang acara kampus dengannya." tanya Kai kepada yeoja yang sudah bekerja kepada keluarga Byun selama 7 tahun tersebut sembari mengekori yeoja itu menuju ruang tengah.
"Emm, mungkin tuan muda Baekhyun sedang tidur. Saya baru saja datang kemari sekitar 10 menit yang lalu tuan." jelas yeoja yang di sapa dengan Jung ahjumma tersebut. Jung ahjuma memang bekerja sebagai pelayan di mansion Baekhyun, namun itu hanya berlaku dari jam 08.00 pagi sampai jam 19.00 malam setelah selesai menyiapkan makan malam. Setelah itu Jung ahjumma akan kembali kerumahnya.
"Ah, arraso..." Kai melirik sebentar jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri tangannya. 'Jam 08.25, tumben sekali Baekhyun belum bangun?' monolognya dalam batin. Namun...
"ARRRRGGGGGGGG..."
Suara teriakan itu sontak mengejutkan kedua orang yang ada di ruang tengah tersebut dan keduanya reflek mengedarkan pandangan mereka ke lantai atas.
"Tuan muda Baekhyun/Baekhyun!" seru keduanya bersamaan kemudian melangkah dengan tergopoh – gopoh menaiki tangga menuju kamar Baekhyun.
.
.
Kai membelalakkan mata melihat pemandangan yang ada di depannya setelah ia membuka kamar Baekhyun, begitu pula dengan Jung Ahjumma. Bagaimana tidak, jika kau mendapati ruangan yang selalu rapi itu kini begitu berantakan seperti kapal pecah?. 'Apa ini? apa yang terjadi?' batin Kai. Namun belum sempat ia menghilangkan kebingungannya, Kai di kejutkan dengan teriakan Jung ahjumma yang memang sudah memasuki kamar Baekhyun terlebih dulu untuk mencari asal suara teriakan dari namja tersebut.
"Tuan muda Baekhyun!" ahjumma Jung tercekat di depan pintu bathroom kamar Baekhyun sembari membekap mulutnya sendiri, terlalu terkejut sepertinya.
"Ada apa?!" tanya Kai dengan tergesa mendekati Jung ahjumma yang berdiri mematung. Jung ahjumma mengacungkan telunjuknya kedepan. Pandangan Kai mengikuti arah telunjuk Jung ahjumma.
"Astaga Baekhyun!" pekik Kai setelah mendapati pemandangan di depannya. Di depan sana terlihat Baekhyun dalam keadaan tak sadarkan diri terkapar dilantai dengan baju yang terkoyak sana – sini dan—
'What the— apa-apan ini?! Oh gost, demi apapun dia tidak mengenakan selembar kainpun untuk menutupi bagian privasinya!' Kai menganga lebar. Syok tentu saja, namun ia segera sadar dan berlari ke arah Baekhyun. Mengambil asal handuk yang terlipat rapi di lemari dan menutupi bagian bawah tubuh Baekhyun kemudian menggendongnya untuk di baringkan diatas ranjang.
Setelah meminta Jung ahjumma untuk merapikan kamar dan menyiapkan teh herbal untuk Baekhyun. Kai mengambil baju ganti untuk Baekhyun dan menggantikan bajunya.
'Sebenarnya apa yang terjadi padamu Baek?' tanya Kai dalam hati dengan raut sendu setelah ia selesai mengganti baju Baekhyun dan merapikan selimutnya.
Flashback end
.
.
"Hey Baek, lihat aku.. Hey... ada apa, hum?" tanya Kai kembali sembari melepaskan dengan perlahan pelukan Baekhyun yang mulai mengendur. Baekhyun masih betah dengan isakannya. Air mata terus mengalir dari kedua pelupuk matanya seperti aliran sungai yang deras.
"Da-darah,,, a-aku.. da-darah itu.. makhluk i-itu,,, hiks..makh-luk itu telah...hiks.." Baekhyun semakin meracau kalut. Namun, kemudian ia terpikirkan oleh sesorang.
"Chanyeol! Chanyeol Kai-ya!" ia semakin panik mengguncang lengan Kai ketika mengingat Chanyeol.
"Da-darah? Darah siapa?! Mahkluk? Apa yang kau makasudkan Baek? Lalu, ada apa dengan Chanyeol Baekhyun-ah? Oke, tenang.. sekarang tenangkan dirimu, oke?" Kai mencoba untuk menenangkan Baekhyun. Namun di luar dugaannya Baekhyun malah membentaknya tidak sabaran.
"CHANYEOL, AKU HARUS BERTEMU DENGAN CHANYEOL KAI-AH!" teriak Baekhyun frustasi sembari menyibak selimut dan mencoba turun dari ranjang namun Kai segera menahannya dengan menarik lengan Baekhyun. Ia tidak mungkin membiarkan Baekhyun pergi sendirian dengan keadaan kalut seperti ini.
" .. baiklah, aku akan mengantarkanmu menemui Chanyeol tapi kumohon sekarang tenangkanlah dirimu dulu Baek." Kai mencoba sekali lagi untuk menenangkan Baekhyun. Baekhyun mencoba mengikuti saran Kai. Ia memejamkan mata sejenak dan menarik nafas begitu dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
.
.
.
"CHANYEOL-AH!" teriakan tenor namja penyuka strawberry itu terdengar nyaring ketika ia tiba di kamar rawat Chanyeol. Namja yang sedang duduk menyandar di ranjang rawatnya sembari memainkan game portable yang ada di gadgetnya itu sontak terperanjat ketika tiba-tiba sebuah (?) tubuh mungil menerjang tubuhnya memberikan pelukan.
"WOOW... Ya! Aish jinjja... Byun Baekhyun, Apa yang kau lakukan! Kau membuatku kalah!" sembur Chanyeol membabi buta kepada namja yang membuat dirinya game over dan kini masih memeluk erat dirinya itu. Baekhyun tidak peduli dengan kekesalan Chanyeol karena kalah dalam game bodoh itu, Ia begitu lega melihat Chanyeol saat ini.
"Yeol, kau tidak apa-apa bukan?" tanya Baekhyun sedikit parau di bahu Chanyeol, karena belum lama ia menangis tadi. Chanyeol merasakan ada sesuatu yang aneh pada Baekhyun, ia kemudian melepas pelukan Baekhyun dengan perlahan. Chanyeol menatap lekat manik mata sedikit bengkak itu, sungguh manik itu meluluhkan kekesalannya kepada namja puppy ini tadi.
"Hey, ada apa? Kau lihat, aku baik-baik saja bukan? Apa terjadi sesuatu?" tanya Chanyeol bertubi – tubi untuk memenuhi hasrat ingin tahunya sembari masih setia menatap kedua bola mata Baekhyun. Belum sempat Baekhyun menjawab pertanyaan Chanyeol seorang namja masuk kedalam ruang perawatan.
"Ck—kenapa kau langsung meninggalkanku diparkiran tadi Baekhyun-ah? Untung saja ada perawat yang mau membantuku menemukan kamar rawat si Park ini." protes namja tersebut yang tadi sempat Baekhyun tinggalkan di parkiran rumah sakit karena saking terburu-burunya ia ingin melihat keadaan Chanyeol.
Baekhyun dan Chanyeol reflek menoleh ke sumber suara. Raut wajah mereka berdua berbeda melihat siapa namja yang baru mengeluarkan suaranya tadi. Baekhyun dengan raut kikuk bersalahnya dan Chanyeol—emm, sepertinya raut itu menunjukkan ketidak sukaan.
"Mianhae Kai-ah, aku sangat terburu – buru tadi." ujar Baekhyun sambil menggosok tengkuknya.
"Cih, kenapa kau membawa si hitam ini kemari Baek?" protes Chanyeol menampakkan raut datar, sembari menyedekapkan kedua tangannya di dada.
"Yak, dasar Park Dobby sialan! Bersyukurlah kau masih dalam keadaan sakit, jika tidak sudah ku ajak kau berduel." sentak Kai tak terima dengan sikap seenaknya milik Chanyeol.
"Cih, memang kau bisa berkelahi? Dalam mimpimu saja." Chanyeol mencibir sembari memutar bola matanya malas. Kai melotot horor, 'Shit! Anak ini benar – benar!' batinnya mengumpat.
Sebenarnya, ingin sekali ia memberikan bogemnya ke arah Chanyeol, namun ia tahan untuk tidak menggunakan emosi terutama di depan Baekhyun. Entah apa masalahnya, mengapa mereka menjadi sulit untuk akur satu sama lain. Kai bertemu dengan Chanyeol 3 tahun yang lalu tepat 1 minggu setelah ia berkenalan dengan Baekhyun di club seni Universitas mereka. Saat itu Baekhyun mengenalkan Chanyeol sebagai sahabatnya dari Fakultas Kesenian yang merupakan teman di Club Seni. Pada awalnya semua berjalan baik – baik saja sampai sikap Chanyeol yang selalu seenaknya dan jauh dari sopan santun itu membuat dirinya sedikit geram. Apa karena dia dekat dengan Baekhyun?
"Aku kesini hanya mengantarkan Baekhyun karena dia dengan kalut ingin bertemu denganmu setelah aku menemukannya—AHKK!" kata –kata Kai terputus oleh teriakan yang keluar dari mulutnya sendiri karena kakinya diinjak kuat oleh Baekhyun.
"YAK! BYUN BAEKHYUN, APA – APAAN KAU INI! KENAPA KAU MENGINJAK KAKIKU?! Kau kira ini tidak sakit? Aish..!" Kai menyembur Baekhyun sembari meringis mengangkat kakinya. Ia melotot kepada Baekhyun sebagai wujud protes jika 'Ini-Sangat-Sakit-Bodoh!'. Sementara Baekhyun tidak memperdulikan Kai yang melotot kearahnya. Ia hanya menatap sekilas Kai dan kembali memandang Chanyeol.
"Syukurlah Yeol, kau baik – baik saja. Aku hanya khawatir." ucap Baekhyun mengalihkan pembicaraan. Chanyeol yang tadinya masih asik menyaksikan kesakitan Kai akan ulah Baekhyun didalam hati ia tertawa 'Rasakan kau kkamjong!'. Ia kemudian menoleh ke arah Baekhyun.
"Aku baik – baik saja Baek. Kau tidak usah khawatir, heum." ucap Chanyeol lembut sembari menunjukkan senyum menawannya. Kai yang melihat itu memutar bola matanya malas.
"Baiklah, sepertinya kami sudah mengganggu istirahatmu Yeolie-ah. Emm.. sepertinya Aku dan Kai harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus kami urus." ujar Baekhyun pamit kepada Chanyeol yang seketika mendapat raut tidak menyenangkan dari Chanyeol.
"Eoh, kau akan pergi? Secepat itukah? Memang ada urusan apa kau dengan si hitam menyebalkan ini?" tanya Chanyeol menyelidik.
"Emm.. i-itu.. hanya urusan tentang pertunjukkan untuk akhir tahun nanti.. ya.. hanya urusan itu." Baekhyun merasa gelisah mengatakan kebenarannya kepada Chanyeol. 'Chanyeol tidak boleh tahu, Chanyeol tidak harus terlibat lagi.' begitu batinnya. Kentara sekali Baekhyun sedang berbohong dan Chanyeol tahu itu. Akan tetapi─
"Baiklah, pergilah. Aku juga harus istirahat." ujar Chanyeol datar.
"Baiklah Baek, sepertinya kita harus pergi sekarang." Kai merangkul bahu Baekhyun dan di balas dengan anggukan oleh Baekhyun.
"Hey Dobby, sepertinya Aku yang akan menghabiskan waktuku bersama Baekhyun kali ini. hahaha..." Kai tertawa dengan sangat puas setelah berhasil menggoda Chanyeol. Apalagi saat ia melihat wajah tidak suka itu ketika ia mengacak surai halus Baekhyun. 'Menyenangkan sekali mengganggu namja bertelinga peri ini, haha.' begitulah batin Kai. Karena sebenarnya Kai menyadari jika Chanyeol memiliki sikap posesif yang berlebih terhadap Baekhyun. Baekhyun yang melihat tingkah kekanakan Kai hanya tersenyum dan menggeleng maklum.
"Yeolie-ah, kami pergi dulu ne." pamit Baekhyun.
Chanyeol hanya menanggapi dengan anggukan. Setelah itu Baekhyun dan Kai pergi meninggalkan kamar Chanyeol dengan Kai yang masih setia merangkul bahu Baekhyun.
Tanpa mereka tahu seseorang yang masih duduk di ranjang kamar itu mengepalkan tangan menatap kebencian dan dendam kearah bayangan punggung seseorang yang baru meninggalkan kamar tersebut. Ia menyeringai dengan sangat menakutkan 'Tunggulah sampai ajalmu tiba, Kim Jongin'.
.
.
Dua namja yang duduk berhadapan itu masih betah untuk berdiam diri satu sama lain. Sudah 10 menit sejak mereka duduk di kafe ini dan memesan 1 mocacinno dan 1 latte untuk masing – masing dari namja yang bermarga berbeda tersebut. Namja yang lebih mungil masih dengan kegiatan yang sama yaitu memainkan sendok untuk mengaduk – aduk lattenya. Entah apa yang ia pikirkan.
Namja lain di depannya mulai merasa jengah dengan sikap aneh namja mungil di depannya hari ini. Bagaimana tidak jika namja bernama Byun Baekhyun itu, tiba – tiba menyeretnya ke kafe ini setelah keluar dari rumah sakit dan mengatakan ingin berbicara sesuatu kepadanya. Namun lihatlah, ini sudah hampir lebih dari 10 menit dan namja itu masih diam saja.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan Baek? Kau membuang sia-sia 10 menit berhargaku." tanya namja tan penggemar dance itu memecah keheningan diantara mereka. Baekhyun hanya menghela nafas panjang, antara ingin bicara atau ah entahlah—
"Baekhyun-ah, kau hutang banyak penjelasan padaku. Apa yang terjadi denganmu sebelum aku menemukanmu dalam keadaan pingsan dan errr—, yah seperti itulah." Entah mengapa Kai sedikit merona mengingat kondisi Baekhyun saat ia temukan.
"Oke, lupakan. Lalu, kenapa kau menyebut darah, makhluk dan kenapa kau tampak ketakutan?" cecar Kai dengan pertanyaan – pertanyaan yang sudah diprediksi Baekhyun akan keluar dari mulutnya.
Baekhyun menutup mata sejenak, mencoba menguatkan diri. Mungkin berbagi dengan Kai akan sedikit meringankan bebannya. Siapa tahu Kai dapat membantunya untuk mencari solusi. Tidak ada salahnya berbagi dengan Kai karena dia tidak mungkin menceritakan apa yang ia alami kepada Chanyeol. 'Hey, dia baru saja sembuh dari sakitnya jika kau lupa.'
"Jadi.. Sebenarnya— " Huft, Baekhyun menghela nafas sejenak.
"Baiklah aku akan menceritakannya—".
Kai mulai mengatur duduknya untuk lebih mendengarkan dengan intens penjelasan yang akan di ucapkan Baekhyun. Satu tarikan nafas dan Baekhyun mengumpulkan kekuatan untuk memulai ceritanya dimulai dari peristiwa saat Chanyeol membaca isi perkamen malam itu.
.
.
Kai menatap syok dengan cerita yang disampaikan oleh namja yang berada di depannya tersebut. Tidak di pungkiri Kai menangkap nada gemetar dari suara yang di ucapkan namja cantik itu. Ia juga yakin sahabatnya tersebut kini sedang terguncang ketakutan dilihat dari tubuhnya yang tidak kalah gemetar.
"Baek, kau yakin apa yang kau alami ini nyata? Apa kau tidak berfikir jika kau sedang mengalami halusinasi?" ujar Kai menanggapi cerita Baekhyun yang jujur membuat bulu romanya meremang.
"Akupun berharap seperti itu Kai-ah. Tapi kejadian itu lebih dari sekedar halusinasi— hiks." Baekhyun tidak menyadari jika ia mulai terisak. Ia mengepalkan tangan kanannya. Baekhyun menghekla nafasnya sejenak.
"Semua benar – benar nyata Kai. Apalagi saat aku memuntahkan darah itu. Sungguh, aku sangat takut Kai-ah." Baekhyun menyambung kata-katanya dengan mengusap air mata yang selalu jatuh ketika Baekhyun mengingat kejadian mengerikan itu. Entah mengapa ia menjadi sangat cengeng. Kadang ia berfikir, Apakah dia seorang namja? Mengapa selemah dan secengeng ini?
Kai menggenggam sebelah tangan Baekhyun yang ada di atas meja. Ia bermaksud untuk menenangkan dan menyalurkan dukungan mental.
"Tapi Baek, saat aku menemukanmu di sana tidak ada darah seperti yang kau ceritakan. Ini aneh bukan?" ujar Kai tiba – tiba. Baekhyun mengernyit bingung.
"Benarkah? Kenapa bisa— itu tidak mungkin." cicit Baekhyun sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya Kai tidak begitu percaya akan ceritanya. 'Astaga, apa dirinya kini sudah gila?!'
"Sungguh,, ah— bukannya aku tidak percaya pada ceritamu tapi.. Aish, baiklah.. bagaimana jika aku melihat perkamen itu?" pinta Kai ketika melihat raut tidak menyenangkan dari Baekhyun seperti 'KAU-TIDAK-PERCAYA-DENGANKU? Atau KAU-PIKIR-AKU-INI-SUDAH-GILA-EOH?'
Baekhyun mencoba berfikir sejenak sebelum akhirnya ia menggangguk. Kai tersenyum kemudian mengusak surai hitam Baekhyun.
"Gwenchana,, aku akan membantumu Baek." Baekhyun sedikit bernafas lega, setidaknya ia dapat membagi bebannya kepada orang lain.
"Emm, tapi Kai-ah.. akhir – akhir ini setelah kejadian itu aku merasa seperti diikuti oleh seseorang." bisik Baekhyun pelan mencondongkan tubuhnya kearah Kai.
"Jinjja-yo? Kau melihat wajahnya?" tanya Kai menyelidik dengan suara rendah ikut mencondongkan tubuhnya kearah Baekhyun.
Baekhyun kemudian menggelengkan kepalanya dan kembali duduk menyender pada kursi. Hah, Pening menyerang kepalanya. Sungguh, kejadian yang dialaminya semakin rumit dan membuat kepalanya pusing.
.
.
Mobil sport merah milik Kai baru saja meninggalkan depan pintu gerbang mansion Baekhyun setelah ia kembali lagi ke mansion tersebut untuk melihat perkamen yang diceritakan oleh Baekhyun saat mereka di kafe tadi. Kai menjanjikan kepada Baekhyun untuk mengantarkannya menemui kenalan yang bekerja di perpustakaan buku – buku serta perkamen kuno besok pagi. Terlihat Baekhyun masih berdiri didepan mansionnya untuk sekedar melihat mobil Kai yang semakin menjauh dan menghilang di balik tikungan. Malam belum terlalu larut, kalau tidak salah baru jam 22.00 saat tadi Baekhyun melihat jam yang ada di ruang tengah mansionnya. Namun, hawa dingin entah mengapa begitu terasa kental saat ini. Baekhyun sedikit menggigil dan mengusap kedua lengannya saat angin menghantarkan hawa dingin tersebut menyapa kulit putih mulus yang hanya di tutupi kaos lengan panjang kebesaran milinya. Ia berniat untuk beranjak masuk kedalam mansion untuk cepat mengistirahatkan diri. Namun baru saja dia memutar tubuh untuk melangkah masuk, seseorang menginterupsi langkahnya.
"Byun Baekhyun."
Merasa ada seseorang yang memanggil namanya, Baekhyun membalikkan tubuh untuk mengatahui siapa gerangan yang memanggilnya tadi.
Baekhyun melihat ada seorang laki – laki berdiri beberapa langkah darinya didepan sana. Namja tersebut berperawakan tinggi tegap, dengan wajah yang cukup rupawan, rambut hitam pendek yang tertata rapi serta jangan lupakan kulit putih pucat yang tampak menawan. Baekhyun meneliti dari atas sampai kebawah, orang tersebut mengenakan setelan serba hitam dengan mantel hitam panjang selutut yang sangat pas membalut tubuhnya.
"Nugusaeyo?" akhirnya kalimat tanya itu yang keluar dari bibir Baekhyun setelah beberapa saat ia mengamati namja tersebut dan Ia tidak mengenalinya.
Namja di depannya itu menampakkan senyumannya sekilas, sehingga lesung pipit itu semakin terlihat dengan jelas.
"Kau tidak harus mengenalku. Diriku kemari hanya untuk perkamen itu." jawab suara ringan namja misterius itu.
"Perkamen?" Baekhyun mengernyitkan dahi. 'Perkamen yang mana maksudnya? Apa jangan – jangan perkamen yang—'
"Perkamen yang kau temukan di dalam Hutan Bloody Wood, Westsaven." namja itu berujar setelah melihat raut kebingungan Baekhyun.
Baekhyun terkejut bukan main, 'Bagaimana orang ini tahu jika ia menemukan sebuah perkamen yang menurutnya pembawa sial itu di hutan Bloody Wood?'
"Kenapa Kau bisa—" Baekhyun tidak meneruskan kalimatnya saat namja itu memotong pembicaraan.
"Kau tidak perlu bertanya mengapa aku mengetahuinya Baekhyun, yang jelas kau harus—ARRGHH.." suara namja itu tercekat. Entah apa yang terjadi dengan namja tersebut, namun tiba – tiba namja itu mengerang di hadapan Baekhyun.
Namja itu seperti tengah kesakitan memegang kepalanya, merunduk dan hampir jatuh berlutut.
Baekhyun terperanjat mendengar rintihan kesakitan namja di depannya itu. Tidak dipungkiri rasa iba muncul melihat namja itu mengerang kesakitan meskipun ia tidak mengenalnya sama sekali, sehingga ia beniat untuk menghampiri namja tersebut dan menanyakan keadaannya.
Baru 3 langkah ia meninggalkan tempatnya berdiri, langkahnya terhenti ketika namja itu mendongak dan mengarahkan pandangannya ke arah mata Baekhyun. Niat awalnya untuk menghampiri namja itu pupus. Baekhyun tercekat dan melebarkan kedua bola matanya. Ia tidak sanggup menggerakkan tubuh sama sekali. Gemetar, lemas, seakan rohnya di cabut dengan paksa dari dalam jasadnya.
'Mata itu... Tidak!' Baekhyun membekap mulutnya terkejut. Setelahnya dengan sisa – sisa tenaga yang ia miliki, Baekhyun beringsut mundur.
Ya, mata itu. Baekhyun masih mengingat dengan jelas kejadian yang belum genap sehari yang lalu ia alami.
"AAA... TIDAK, LEPAS!"
"SIAPA KAU! LEPASKAN AKU! BRENGSEK! LEPAS!"
"Hiks... LEPASKAN AKU! TIDAK,,,, JANGANN!"
"ARRRGGG...Jangan.. Nghh.."
"ARRRGGGGG... BER-HEN-TIHH! Hhh... Berh- hen-tihh...! hiks..."
"ARRRGGGGGGGGG!"
Kilasan – kilasan itu masih tergambar dengan jelas di benak Baekhyun. Bagaimana saat dirinya di lilit oleh sulur – sulur mengerikan, piyamanya terkoyak tak beraturan, hingga bagian dimana dirinya dirasuki oleh genital Makhluk menakutkan bermata merah itu.
Dan kini, Baekhyun tepat menatap kedua buah mata merah yang sama persis dengan yang ia tatap saat itu pada namja yang mengerang di depannya tersebut.
Suara tersebut semakin lama semakin mengerikan dan Baekhyun tidak salah lihat jika namja itu perlahan mencoba mendekati Baekhyun.
Baekhyun semakin kalut, panik dan takut. Ingin rasanya berteriak minta pertolongan. Namun, salahkan saja mansionnya yang berada di tempat cukup terpencil dan sepi ini. Ia semakin tepojok mundur sedangkan makhluk itu semakin mendekat.
"PERGI..! APA YANG KAU INGINKAN?! JANGAN GANGGU AKU, PERGII!" Baekhyun berteriak frustasi, ia menggeleng kalut.
Makhluk itu semakin mendekat untuk menggapai Baekhyun. Baekhyun semakin terpojok di depan gerbang rumahnya. Entah mengapa tubuhnya amat kaku untuk berbalik membuka pintu gerbang itu dan masuk kedalamnya. Apa mungkin karena terlalu takut sehingga ia lebih memilih menutup matanya dan menggigil?. Baekhyun merasakan gerakannya terkunci, ia tidak bisa lari kemanapun dengan punggungnya yang menghimpit pintu gerbang. Baekhyun hanya bisa berdoa dan pasrah, 'Jika memang aku harus berakhir saat ini mungkin itu lebih baik dari pada harus mengalami kejadian menakutkan seumur hidupku.' pikir Baekhyun, sebelum teriakan lain menyapa gendang telinganya.
"BYUN BAEKHYUN!"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC...
.
.
OKE Ini aku up chapter 3… Aku cukup dilemma dan nggak percaya diri buat ngerubah alur FF aslinya. Entah kenapa setiap aku rubah feelnya jadi ilang dan terlalu maksa. Maaf ya.. mungkin yang berubah disini karakter, pekerjaan sama masa lalu. Selainnya aku nggak bisa sungguh. Silahkan menghujat saya kalo gak sesuai ekspektasi… T_T
Okey, Terimakasih banyak yang udah Review di chap kemarin walaupun yeah gak banyak.
Note:
Yang masih tanya sebenarnya iblisnya siapa? Jawaban masih sama: ikutin aja ceritannya. Kalo yang udah tau gak usah di kasih tau.. kekeke..
Yang nebak-nebak baek muntahin apa? Udah saya jawab di chap ini..*yup—Darah
Yang tanya apakah baek udah hamil? Masih dini untuk mengatakan itu sist.
Yang tanya apa hubungan chanyeol kerasukan iblis? Ikutin aja ceritanya..
Yang minta update kilat? Saya udah berusaha tapi kemarin masih dilemma jadi gak diupdate. #kalianLuarBiasa..^^
Yang tanya ini remakean dari novel apa? FF ini remakean dari ffku sendiri yang chastnya Kyumin (aku repost jadi CBHS)
Makasih yang bilang FF ini setipe sama FF Devil Beside Me nya kak sita. Aku terharu coz itu juga FF favorit saya… tapi ceritanya gak sama loh ya…
FF ini juga aku publish di Wattpad, mungkin kalo aku gak bisa lanjutin disini aku lanjutin di wattpad.. silahkan yang mau tau lanjutan ceritannya add akun aku di yasaenghwaa.
Oke, gimana ceritanya yeorobuunn?
Hayoloh.. siapa pemuda misterius itu? Apa pemuda itu yang sudah menggrepe Baekhyun?
Yuuhuu tunggu next chapter.
Review kritik dan saran di tampung ya... #tolong hargai tulisan saya yang abal ini walau sepatah dua patah kata biar jadi support terutama buat CBHS (Review lebih dari 100 aku up).
Sampai jumpa di Next Chapter...
Saranghae yeorobuuunnn! LOVE U CBHS… SCOOTER COUPLEEE…
Annyeong...!
