JENG JENG JENG

YUKA KEMBALI~#teriak pakai toa

Gomennasa, hontouni gomennasai buat kesalahan Yuka di ff ini. Yuka memang agak males buat nyantumin hal-hal yang bersangkutan dengan disclaimer dan kawan-kawannya. Soalnya draft cerita ini langsung pada inti atau ceritanya. Jadi akan diusahakan agar tidak terulang lagi dan jadi lebih baik. Ceileh-_-

Tanpa banyak cingcong lagi, ini Yuka update chapter 3 . Yuka habis ini sibuk dengan ENAS -kelas3SMA- dan persiapan masuk perguruan tinggi. Mohon doanya Minna-sama #ojigi

MISS SECRETARY AND MR. SMASHER

CHAPTER 3

PRESENTED BY

~NAKASHIMA YUKARI~

PAIRING : NARUHINA, untuk chapter awal NARUOC yaa~, pairing lain nunggu dulu

WARNING : KLISE, KADANG GAK JELAS, HUMOR GARING, DAN LAIN-LAIN

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Jaa, hajimemasho~. Balesan review di bawah yaaa ^^


" Bohong sensei. Dia tidak belajar semalaman, tapi dia malah asyik main game console sampai jam dua pagi. Kau sendiri yang mengatakannya kemarin kan, Kiba?"ucap Naruto tiba-tiba. Dia ingin membalas perbuatan Kiba yang kemarin.

" Apa katamu? Kau menantangku berkelahi, heh?" Kiba memasang pose siap berkelahi.

" Sudah berhenti bertengkar, kalian berdua. Inuzuka-san kau boleh duduk di mejamu, dan Uzumaki-san tolong pimpin berdoa."

Sakura dan Ino saat ini sedang berada di kantin. Mereka sudah memesan makanan, tapi entah kenapa sampai sekarang makanan mereka belum datang. Maklum, sekarang adalah jam istirahat. Jadi banyak siswa berdesak-desakkan memebeli makanan. Sakura dan Ino memang sudah berteman sejak dari sekolah dasar, mereka selalu satu sekolah dan sering sekali satu kelas. Tak heran jika mereka sudah sangat akrab di permulaan tahun ajaran baru.

" Kenapa makanan kita belum datang juga, sih ?" gerutu Ino sambil melipat lengannya ke depan dada sambil mengerucutkan bibirnya.

" Sabar sedikit, Ino. Kau tahu, yang lapar bukan hanya kau saja. Kau bisa lihat sendiri kan betapa sesaknya di sini?" ucap Sakura mencoba menenangkan diri walaupun sebenarnya dia juga sudah kelaparan.

" Uhh… Baiklah."

Tak lama kemudian , seorang wanita mengantarkan makanan mereka. Tampaknya dia masih muda jika dilihat dari wajahnya. " Maaf sudah membuat lama menunggu, silakan nikmati makanannya."ucapnya sopan lalu kembali ke kiosnya.

" Akhirnya datang juga. Aku kira aku akan mati kelaparan."

" Kau tidak akan mati hanya karena kau tidak makan satu kali, Ino."

Saat mereka tengah asyik menyantap makanan, Ino melihat Naruto dan beberapa pemuda lain yang tidak dikenalinya berjalan menuju kantin. Di mata Ino, mereka tampak bersinar. Jika diibaratkan, mereka seperti boyband yang berjalan masuk ke atas panggung. 'Keren sekalii…'batinnya.

Saat mereka berjalan melewati Ino dan Sakura, jantung Ino tak hentinya berdetak tidak karuan. Ia bahkan sempat merasakan lengan mereka sedikit bersentuhan. Saat Naruto dan temannya sudah cukup jauh dari mereka, Ino tiba-tiba memekik kegirangan. Kedua tangannya ia gunakan untuk menangkup pipinya.

" Kau kenapa, Ino ?"tanya Sakura keheranan dengan tingkah laku Ino.

" Tidak apa-apa kok."ucap Ino sambil tersenyum sendiri." Hanya saja moodku sedang bagus. Aku barusan melihat pemandangan yang indah."lanjutnya.

" Pemandangan apa?"Sakura memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.

" Bukan apa-apa. Sudahlah, lanjutkan saja makanmu. Sebelum bel kembali berbunyi."

Sakura dalam hati masih bertanya-tanya pemandangan apa yang dimaksud Ino. Perasaan disekitar kantin tidak ad ataman sekolah atau semacamnya yang indah. Lalu pemandangan apa? Entahlah, mungkin Ino sedang kurang baik sehingga ia menghayal ada pemandangan air terjun pelangi di hadapannya.

Hinata sedari tadi tidak beranjak dari tempat duduknya sekalipun bel istirahat berbunyi. Dia lebih memilih makan bentonya di dalam kelas. Ia masih asing dengan suasana di tempat barunya. Ia juga belum mengenal dengan baik teman sekelasnya. Hanya Tenten yang sering mengajaknya bicara, walaupun ia lebih sering mendengarkan dan menjawab seperlunya. Bukan berarti Hinata sombong, dia hanya bingung harus menjawab apa. Ditambah lagi Hinata masih canggung.

" Kau tidak pergi ke kantin, Hinata?"ajak Tenten.

" A-ah. Ti-tidak,Tenten-san. Aku makan di kelas saja."balas Hinata dengan pelan.

" Apa kau tidak apa-apa kalau makan sendirian?"

" Da-dai-joubu desu."

" Baiklah kalau begitu, aku duluan ya?"ucap Tenten seraya keluar dari kelas.

Di kelas hanya tersisa beberapa orang termasuk Hinata. Sebenarnya ia ingin sekali bisa akrab dengan teman-temannya, namun sifatnya yang pemalu membuatnya mengurungkan niatnya itu. Ia mengeluarkan bentonya dan membuka kain pembungkusnya. Ia makan dalam tenang, hanya suara makanan yang dikunyah perlahan yang terdengar samar. Kecuali kalau kamu duduk tepat disamping Hinata.

Sembari memakan bentonya, Hinata melihat sekeliling kelasnya. Di bangku paling belakang Ia melihat teman sekelasnya bermabut merah aka Gaara yang sedang duduk bersandar di kursi sambil memegang sebuah buku yang sedang dibaca dengan wajah yang sangat serius. Menurut Hinata, Gaara memang memiliki wajah yang tampan dan mempesona. Namun, entah kenapa wajah tampan itu tidak membuatnya berdebar-debar. Hanya sebatas kagum yang Ia rasakan.

'Apa yang sedang aku pikirkan? Sekarang aku harus lebih giat belajar supaya bisa membanggakan Neji-nii, bukannya memikirkan tentang hal lain.'batin Hinata sambil kembali menatap bentonya. Hinata menyumpit sebuah tenpura dan memakannya sekali telan. Memang kelihatannya aneh, namun walaupun Hinata gadis yang pemalu namun Ia memiliki selera makan yang cukup tinggi. Hal itu nyatanya tidak berpengaruh pada wajahnya yang cantik kemudian berubah menjadi buruk rupa. Bagaimanapun Hinata tetaplah Hinata.

Tenpura yang ukurannya lebih besar dari mulut Hinata itu ia kunyah perlahan, pipinya nampak menggembung. Hinata tidak tahu bahwa wajahnya saat ini benar-benar menggemaskan. Tanpa Hinata ketahui, ada sepasang bola mata saphire yang sedang memperhatikannya. Pemuda bermata saphire aka Naruto tadi tak sengaja memperhatikan Hinata saat ia hendak masuk ke kelas.

NARUTO'S POV

Aku bosan dan malas melihat suasana kantin yang begitu ramai, sampai-sampai aku dibuat sesak napas karenanya. Aku berjalan menuju kantin bersama teman-teman baruku di Konoha Gakuen, Kiba, Shikamaru, Chouji, dan Sasuke. Mungkin kalau kalian perhatikan, kami seperti boyband. Tapi maaf saja, aku bukanlah boyband. Maksudku, aku sama sekali tidak tertarik menjadi boyband.

Aku merasa ada suara bisik-bisik dari gadis yang sedang membicarakanku. Yah, mungkin karena aku ini tampan dan keren sehingga mereka terpesona olehku.

" Lihat cowok itu, dia keren yaa ? Tubuhnya tinggi." Baru sadar kalau aku keren?

" Iya, dia punya kulit tan yang eksotis. Seksi sekali." Ah, terima kasih. Aku memang cowok yang seksi.

" Sssst.. cowok itu tinggi sekali. Badannya tegap, mungkin dia seorang atlet." Yaah, kau benar. Jangan-jangan kau cenayang?

Aku sudah terbiasa menjadi bahan pembicaraan teman perempuanku di sekolah sejak sekolah menengah bawah dulu. Yah, aku tidak masalah asalkan jangan berbicara kebohongan tentang diriku. Bisa-bisa hancur reputasiku.

Teman-temanku sedang mengantri disalah satu kios yang banyak anak laki-laki. Tapi, melihat antrian di kios itu membuat aku kehilangan selera makan walau sebenarnya aku lapar. Tapi sudahlah, aku akan kembali ke kelas saja. Aku berjalan kembali ke kelas sambil memasukkan telapak tanganku ke saku celanaku. Yaah, kau tahu kan pose itu keren dimata para gadis.

Jarak antara kantin sampai kelasku lumayan jauh, tapi aku berjalan tidak lebih dari tiga menit. Mungkin aku yang terlalu cepat berjalan atau bahkan mungkin tanpa sadar aku berlari menuju kelas. Aku belok dari koridor dan melihat pintu kelasku yang tengah terbuka lebar. Bisa kulihat keadaan kelas yang hampir kosong, namun saat aku sudah diambang pintu aku melihat seorang gadis yang juga teman sekelas sekaligus sekertarisku sedang memakan bentonya.

' Cantik tapi makannya banyak. ' batiku saat aku melihat pipi Hinata yang menggembung karena memakan tenpura. Langkah kakiku terhenti sejenak menyaksikan tontonan yang cukup menarik menurutku. Gadis itu terlihat polos di mataku.

Aku memperhatikan gadis itu dengan seksama. Dengan posisi duduk gadis itu yang dekat dengan pintu membuatnya mudah terlihat dari luar atau untuk melihat ke arah luar. Namun sepertinya dia tidak menyadari bahwa dia sedang aku perhatikan.

' Wajahnya imut juga ternyata kalau aku perhatikan. Rambut panjangnya yang berwarna biru kobalt itu terlihat berkilau dan halus. Bentuk wajah sedikit bulat dengan dua pipi gembil itu, rasanya aku ingin mencubitnya. Matanya terlihat sedikit aneh, namun aku seakan terhisap kedalamnya.'

Dag... Dig... Dug...

Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdetak dengan kencang sampai rasanya ingin keluar. Padahal aku hanya melihatnya sebentar tapi aku sudah seperti orang yang terkena serangan jantung. Bola mataku pun aku alihkan menuju bagian lain di wajahnya. Hidungnya tidak begitu mancung dan sedikit mungil. Dan, astagaa.. ' Bibirnya kecil sekali..' aku sedikit terkejut sebenarnya. Bagaimana bisa dia makan dengan ukuran bibir yang kecil itu. Bahkan mungkin bibirnya itu tidak lebih panjang dari setengah jari tangan kelingkingku.

Bibirnya sedikit mengkilat karena minyak goreng yang tersisa di tenpura. Apalagi itu, bibirnya tipis sekali dan berwarna merah muda. ' Arrgghh...' aku menjambak rambutku sendiri karena frustasi. Bisa-bisanya aku tergoda melihat gadis itu. Kuacak-acak sendiri rambut jabrikku, berharap mungkin bisa menghilangkan pikiran kotor dari otakku.

NARUTO'S POV END

BACK TO NORMAL POV

Naruto tengah sibuk mengacak-acak rambut jabriknya yang sebenarnya tidak bisa dibilang rapi ketika suara ringtone handphone terdengar dari saku kanan celananya. Lantas Naruto segera mengambil ponselnya dan melihat ada sebuah pesan masuk.

From : My Girl

To : Naruto-kun

" Naruto-kun hari ini datang ke sekolah ? Apa yang sedang Naruto-kun lakukan saat ini ? Aku rindu pada Naruto-kun. Jangan lupa belajar dan jangan terlalu sering latihan. Aku takut kau nanti sakit. "

Naruto tersenyum tipis saat Ia membaca pesan singkat itu, rasa hangat tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. Ia menekan tombol 'reply' dan menuliskan pesan balasannya.

To : My Girl

From : Naruto-kun

" Aku hari ini datang ke sekolah, tenang saja. Saat ini sedang jam istirahat, namun aku tidak berselera makan. Aku juga rindu padamu, sudah lama kita tidak bertemu. Kau sudah sering mengingatkanku dan jarang aku dengarkan, tapi kau tidak pernah bosan melakukannya. Tapi, bagaimanapun aku senang kau khawatir dengan keadaanku. Aku juga tidak bisa janji untuk tidak latihan. "

Selesai mengetikan pesannya Naruto langsung menekan tombol 'send'. Kemudian Ia melangkahkan kakinya memasuki kelas, dan ia melihat Hinata sudah selesai memakan bentonya. ' Apa aku terlalu lama berada di depan pintu? ' batin Naruto. Saat melintasi tempat duduk Hinata, Naruto menatapnya sebentar lalu duduk di tempatnya. Merasa ponselnya berbunyi lagi, Naruto langsung merogoh ponselnya dari sakunya. Sebuah pesan masuk.

From : My Girl

To : Naruto-kun

" Mou Naruto-kun, aku melakukannya karena aku menyayangi Naruto-kun. Sekali-sekali kau juga harus memperhatikan kondisi kesehatanmu juga. Lama sekali rasanya sejak kita terakhir jalan-jalan bersama. Kapan Naruto-kun senggang ? "

Sebuah pesan balasan kembali terkirim. Naruto tidak menyadari bahwa teman-teman yang tadi pergi ke kantin bersamanya sudah kembali dan berjalan ke arahnya. Naruto malah sibuk dengan ponselnya, menulis pesan singkat sambil terkadang tersenyum sendiri. Teman-temannya yang menyaksikan hal itu lantas berpikir bahwa Naruto sedang tidak beres.

' Kenapa si ketua kelas baka itu tersenyum-senyum sendiri ?' batin Sasuke heran.

' Naruto sepertinya sedang tidak waras. Mungkin obatnya habis.' pikir Kiba.

' Sepertinya Naruto habis makan banyak kripik kentang sampai-sampai tersenyum sendiri seperti itu. Awas saja Naruto karena kau tidak bagi-bagi.' Chouji malah berpikir jauh melenceng.

' Merepotkan. Wajahnya seperti orang yang sedang sakit jiwa.' Shikamaru malas menanggapi sikap Naruto.

Keempat pemuda tadi saling berpandangan seolah-olah berkomunikasi lewat pandangan mata mereka. ' Ada apa dengan Naruto?' hal itulah yang saat ini sedang sama-sama mereka pertanyakan. Kiba bermaksud untuk menyapa Naruto sebelum—

" Whooaa, Naruto. Kau benar-benar menunjukkan semangat masa mudamu dengan tersenyum gembira seperti itu. Tapi kurasa senyummu masih kurang lebar kalau dibandingkan dengan senyumanku yang mempesona." teriak seorang pemuda dengan potongan rambut ala mangkok dengan alis tebal bernama Lee sambil memeluk Naruto secara tiba-tiba.

Merasa risih, Naruto mendorong tubuh Lee agar menjauh darinya." Menyingkirlah dariku, Lee. Aku memang menikmati masa mudaku dan asal kau tahu senyumku itu yang paling menawan. Senyumanmu tidak ada apa-apanya dibanding senyumanku." Naruto masih saja bersikap narsis walaupun tengah terjepit seperti ini.

Keempat orang temannya tertawa terbahak-bahak melihat adegan yang 'romantis' antara Naruto dan Lee. Kiba bahkan sampai harus memegangi perutnya yang sakit karena terlalu keras dan lama tertawa. Sasuke yang terkenal dengan wajah stoicnya pun tak bisa menahan tawanya melihat dua orang –yang menurutnya- sama-sama bodohnya itu.

" HAHAHAAAA...HAAAHAAAA..." Suara tawa itu begitu menggelegar dan membuat siswa yang berada di kelas mengalihkan pandangan ke arah mereka, tak terkecuali Hinata. Bola mata amethystnya menatap heran ke arah pemuda-pemuda di bangku belakang. Memangnya ada hal lucu apa sampai mereka tertawa sekeras itu.' Mungkin mereka sedang nonton kartun lucu,' batin Hinata dengan polosnya.

Naruto yang baru menyadari bahwa teman-temannya sudah ada di dekatnya lantas langsung mendorong kasar tubuh Lee dan menghadap mereka. Sedikit kesal karena Ia dijadikan bahan tertawaan oleh temannya, Naruto berniat mengusili teman-temannya.

" Hei, lihat. Ibiki-sensei sedang menuju kemari. Kalian cepat duduk."tipu Naruto dengan raut muka serius walaupun sedang berbohong.

" Mana !? Ayo teman-teman cepat duduk. Kalian tidak mau dihukum bukan ?" teriak Kiba sambil menarik tangan teman-temannya dengan wajah panik. Sementara yang ditarik malah ditak berekspresi. Sasuke malah diam sambil memeberi tatapan aneh. Shikamaru malah menguap kantuk. Dan Chouji masih setia dengan kripik kentangnya.

Namun, belum sampai ke tempat duduknya. Tiba-tiba Kiba teringat sesuatu,' Tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh.' batin Kiba sambil berpikir keras.

" Hoi, Naruto. Bukankah bel masuk masih belum berbunyi? Kau menipuku ya? Dasar makhluk pirang sok ganteng sialan." ucap Kiba sambil mehentak-hentak kakinya menuju Naruto.

" Ahahahaha... Kau tertipu. Kau memang bodoh ternyata, ahaha." Naruto malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol temannya.

" Kemari kau pirang jelek." ancam Kiba sambil mengapit leher Naruto dengan lengan kanannya. " Rasakan ini. Siapa suruh kau menipuku. Sekarang kau tak akan kulepaskan."

" Le-lepas-lepaskan Kiba. Ka-kau membuatku susah bernafas tahu." Naruto berusaha melepaskan dirinya dari Kiba. Pertarungan yang sama sekali tidak sengit itu menimbulkan keributan yang terdengar hingga ke luar kelas mereka.

Saat mereka sedang sama-sama serius, tiba-tiba ponsel Naruto berbunyi. " Ponsel siapa yang berbunyi?" tanya Kiba. Ia bertanya karena merasa bahwa nada yang berbunyi bukanlah ringtone handphonenya.

" Ponselku yang berbunyi. Sekarang lepaskan aku, anjing kampung. Aku harus membaca pesannya." ucap Naruto sambil melepaskan lengan Kiba yang sedikit kendor dari lehernya. Tangannya lalau merogoh ponselnya dan membuka pesan masuk itu

From : Naruto-kun

To : My Girl

" Sebenarnya aku punya banyak waktu senggang saat ini. Bagaimana kalau hari minggu ini kita belajar bersama di rumahku ? Sudah lama kita tidak belajar bersama dan kita akan menghabiskan waktu bersama. Hitung-hitung sebagai ganti jalan-jalan kita yang tertunda selama ini. Apa kau mau ?"

" Send." gumam Naruto pelan saat Ia menekan tombol kirim. Naruto tidak tahu, bahwa saat Ia sedang menulis pesan teman-temannya mengintip apa yang sedang Naruto tuliskan.

" Dari siapa Naruto ? Pacarmu ? " tanya Kiba to the point.

" A-ah. Iya. Ki-kiba, sejak kapan kau ada disini?" Naruto kaget dengan posisi teman-temannya yang benar-benar mengapitnya.

" Aku sudah disini sejak daritadi Naruto. Dan aku juga tetap disini saat kau membalas pesan pacarmu. Aku tidak menyangka kau romantis juga sebagai laki-laki." Kiba menjawab dengan memberi Naruto senyum aneh untuk menggoda Naruto.

" Kau punya pacar Naruto ? " tanya Sasuke tiba-tiba.

" Merepotkan sekali. Ternyata kau sudah dewasa." Shikamaru menanggapi seadanya.

" Ka-kalian juga. Sejak kapan kalian disini? Dan kau Sasuke, apa menurutmu aku tidak bisa punya pacar ? " Naruto kesal karena imagenya sebagai ikemen seperti tercoreng karena keraguan Sasuke.

" Siapa yang mau berpacaran dengan makhluk pirang aneh dan bodoh sepertimu, Naruto? Sepertinya pacarmu itu tidak waras." ucap Sasuke sambil mengejek.

" Kau mengataiku seperti itu, tapi kau sendiri malah menjomblo. Sepertinya kau sedang membicarakan tentang dirimu sendiri Sasauke."

" Apa maksudmu, Naruto ?"

" Siapa yang mau berpacran dengan makhluk es dengan rambut seperti pantat ayam sepertimu ?" ucap Naruto membalikkan ucapan Sasuke sebelumnya.

Sasuke yang merasa terpojok hanya bisa diam dan tidak mampu membalas ucapan Naruto. " Aku tetap ragu kau punya pacar, Naruto." Sasuke hanya bisa membalas sekenanya.

" Demi Kami-sama, Sasuke. Sudah kukatakan KALAU AKU PUNYA PACAR !"

JJDDUKKK...

" A-Ah. I-ittai..." rintih Hinata saat kakinya tersandung mejanya. Ia menangis kesakitan. Teriakan Naruto yang sebelumnya menjadi pusat perhatian lansung teralihkan.

Naruto yang melihatnya langsung berjalan mendekati Hinata. Posisi Hinata yang sedang duduk di lantai membuatnya harus jongkok untuk bicara. Dilihatnya betis kiri Hinata lebam kemerahan cukup lebar sehingga bisa terlihat jelas. Air mata Hinata yang tumpah membasahi beberapa bagian roknya juga terlihat di mata Naruto.

" Hinata, kau baik-baik saja ?" tanya Naruto penuh perhatian.

Hinata masih tersedu sedan menahan sakit memaksakan dirinya untuk menatap orang yang memanggilnya. Matanya yang berair melebar menatap orang yang memanggilnya. Raut wajahnya pun berubah menjadi begitu kaku.

" Na-na-naruto-kun..." tanpa sadar Hinata memanggil Naruto dengan nama kecilnya.


Weeww...#ngelap keringat

Akhirnya selesai juga publish chapter 3. Semoga lebih menarik dan memuaskan readers sekalian. Review dan komen kalian saya tunggu yaa~ ^^

Balesan review :

Sena Ayuki : iya, maafkan sifat saya yang kadang gak mau ambil pusing hal-hal simpel seperti itu. saya mmencoba memperbaiki mulai chapter ini dan semoga saya cepat terbiasa. review lagi yaa~

hqhqhq : eeh, ada typo ? maaf, lagi-lagi ada. kali ini sudah saya cek, semoga tidak ada lagi. arigatou sudah baca fanfic saya. review lagi yaa~

Gakarian : gomennasai kalau ada missunderstand di chapter ini. yah, saya juga gak kepikiran hal itu jadi maaf atas ketidaknyamanannya. terimakasih sempat mampir, review lagi yaa~

: ini sudah update ^^. review lagi yaa~

: apanya yang boleh ?^^ silakan mampir lagi dan review yaa~

blackschool : ini sudah update. review lagi yaa~

Sekian dulu dari Yuka. Ketemu lagi next chapter atau next story ^^

~ NAKASHIMA YUKARI ~