Disclaimer :
Inuyasha © Takahashi Rumiko
A Foolish Agreement © Riztichimaru
Title: A Foolish Agreement
Pairing : Inuyasha x Higurashi Kagome
Noto:
Kata di bold (kata dalam hati/penekanan kata tertentu)
Gomen kalau masih banyak typo dan ceitanya gaje
Tolong Review ya!!
Honto ni Arigatou gozaimashita
STOP!!! Don't like Don't read
Chapter 3
Foolish Agreement -Perjanjian Konyol-
Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium pipiku, aku panik dan mendorongnya tubuhnya sampai dia terhuyun kearah pintu.
"Kau!! Apa-apaan kau ini, sembarangan mencium orang saja. Kau ini sudah tidak waras ya!! Kau, kau gila! Cepat buka pintunya aku mau pulang. Aku benar-benar takut padamu, kau sudah gila. Aku takut jadi korban kegilaanmu. Tolong bukakan pintunya!" teriakku memelas.
Dia tiba-tiba memelukku, aku terkejut.
"Maaf, maaf. Kumohon jangan pergi lagi…"ujarnya menggantung kata-katanya.
Tentu saja aku kaget tapi aku tidak bisa mendorong tubuhnya. Dia terlalu erat memelukku.
'Kenapa.. kenapa dia mengatakan jangan pergi lagi. Aku kan, tidak punya urusan dengannya? apa maksudnya dengan 'jangan pergi lagi'. Apa maksud orang bodoh ini?' batinku heran pada ucapannya yang tidak kumengerti sama sekali.
"Tolong, bisa kau lepaskan pelukanmu. Napasku sesak,"pintaku padanya. Dia masih memeluku erat, aku mulai kesal lagi dan berteriak.
"Hei baka, lepaskan aku! Aku tidak bisa bernapas, tahu!"
Dia melepaskan pelukannya, sedikit menjauh dariku dan membuka kunci pintu lalu membuka lebar pintu seperti semula. Aku beranjak keluar tetapi dia memanggilku.
"Jangan pergi! Kau masih punya urusan denganku, duduklah dulu. Sebelum urusan ini selesai kau tidak boleh kemana-mana," ujarnya menyuruhku masuk lagi.
"Urusan?? Aku rasa kita sudah tidak ada urusan lagi. Aku pergi!"
"Hei baka! Kau dengar tidak, kubilang jangan pergi ya jangan pergi!" teriaknya padaku.
"Cepat duduk ada yang mau aku bicarakan padamu. Cepat duduk!" lanjutnya lagi.
"Oke baiklah, tapi biarkan pintunya terbuka. Jangan melakukan tindakan seperti tadi. Aku jadi parno, tahu!" ucapku sambil berbalik masuk kekamarnya lagi.
"Oke, oke duduklah.. aku tidak akan melakukan itu lagi."
Aku duduk di dekat gelas dan makanan tadi, dia mengikutiku dan duduk disampingku sambil menyandarkan punggungnya di dinding tempat tidurnya.
"Kau harus jadi sahabatku," ujarnya pelan padaku.
"Sahabat, sahabat apa? Apa maksudnya??" tanyaku dalam hati.
"Kau harus jadi sahabatku kalau kau mau menganggap selesai urusan tentang netbook itu."
"APAA?? Jadi kau mau bersahabat denganku karena urusan netbook itu!" seruku bertambah kesal padanya sambil menatap wajahnya yang kelihatan serius.
"Untuk apa? Apa alasannya kamu bersahabat denganku, bukannya kamu tidak suka padaku?" tanyaku padanya. Dia menundukkan wajahnya beberpa saat.
"Untuk apa, Untuk… Aku punya alasannya sendiri, kau tidak perlu tahu. Cukup jadi sahabatku saja," ucapnya masih dengan wajah tertunduk.
"Oh… jadi, hanya jadi sahabat. Cuma itu, kan?" tanyaku menegaskan perkataanya yang tidak jelas maksudnya dan juga tidak jelas alasannya mengapa.
"Ya, jadi cuma jadi sahabatku. Tapi jangan pernah jatuh cinta padaku, karena aku tidak akan pernah membalas cintamu. Aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada orang bodoh sepertimu. Apa kau setuju dengan perjanjian ini?"
"Apa, perjanjian apa maksudmu?? Aku tidak mengerti?" tanyaku heran padanya.
"Perjanjian untuk tidak saling jatuh cinta, hanya perjanjian untuk bersahabat saja selamanya. Hanya itu… tidak mungkin kau tidak bisa, kan?" ujarnya sambil menatap mataku.
Aku benar-benar heran dengan perjanjian yang dimaksud cowok bodoh ini. Aku heran apa yang ada di otakknya, apa masalahnya. Kenapa begitu sering memaksakan kehendaknya padaku.
"Perjanjian konyol macam apa itu? Lagian siapa juga yang akan jatuh cinta sama orang baka seperti kau!"seruku padanya.
"Perjanjian ini serius dan ini satu-satunya jalan kau bisa terbebas dari urusan netbook itu, sebab netbook itu sangat penting bagiku dan karena kau tidak menangkapnya waktu itu. Maka kau bertanggung jawab dengan netbook itu."
"Apa-apaan kau ini, sudah gila ya?"
"Aku tidak gila, kenapa kau tidak mau menyetujui perjanjian itu? Apa kau sudah jatuh cinta pada kekerenan dan ketampananku. Kau jadi tidak bisa berjanji untuk tidak jatuh cinta padaku. Ya, kan?" ujarnya sambil meyipitkan matanya padaku.
'Tidak! tidak mungkin aku berteman dengannya apalagi aku sampai jatuh cinta pada orang baka seperti dia ini. Tidak! Tidak mungkin aku akan jatuh cinta padanya,' ujarku dalam hati yang meyakinkan diriku kalau aku tidak akan jatuh cinta dengan orang seperti dia.
"Tidak, siapa yang akan jatuh cinta pada orang aneh dan gila seperti kau ini. Aku juga tidak mungkin jatuh cinta padamu."
"Jadi bagaimana, bersedia tidak?" tanyanya lagi padaku yang kesal dengan kekonyolannya. Aku menghela napas sebentar.
"Baiklah…, kalau aku jadi sahabatmu. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku boleh tidak melihat mukamu lagi? Apa aku harus gimana?"
"Mana bisa kau tidak melihat mukaku lagi. Kau harus datang ketika aku panggil, aku telpon dan mau kuajak menemaniku mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Itu saja!" jawabnya tegas.
"Tidak, itu bukan sahabat namanya. Itu pembantu namanya, aku kan bukan babumu tahu! Aku juga kuliah jadi mana bisa setiap kau memanggil aku harus datang. Kau ini bisa mikir tidak, sih?"
"Aku tahu, oleh karena itu kita butuh surat pejanjian. Kita buat syarat-syarat yang kau dan aku perlukan, apa-apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan."
Dia beranjak menuju laci meja belajarnya dan mengambil sesuatu dari sana. Lalu duduk lagi disebelahku dan menyerahkan selembar kertas HVS dan materai, dia memegang yang satunya lagi.
"Ehh.. aku belum tentu setuju dengan perjanjian konyolmu ini, tahu!"
"Kalau kau tidak setuju. Yah.. jangan harap kau akan bebas dari kesialan. Aku akan terus membawamu ke kesialan dan menggangu kehidupanmu. Itu bukan hal sulit bagiku," ucapnya sambil cengengesan seolah-olah meledekku.
"Bagimana ya, aku butuh berpikir lagi. Kau harus memberikan aku waktu untuk berpikir dan bertanya pada keluargaku."
"Eh….. APA? Kau mau bertanya pada keluargamu?"
"Ya, memanganya kenapa? Tidak boleh?"
"Tentu saja tidak boleh, hal ini cukup kita berdua saja yang tahu. Oleh sebab itu aku antisipasi dengan surat perjanjian yang bermaterai ini. Tujuannya supaya jika suatu saat ada yang melanggar kesepakatan kita ini, kita bisa mengadukannya ke pihak berwajib. Walaupun tidak ada saksi yang mengetahui perjanjian ini."
"APA??? Kenapa bawa-bawa polisi segala??"
"Yah sudah.. kalau kau tidak mau, kau akan tanggung sendiri akibatnya. Kau akan kutuduh sudah merusakkan netbookku dan kabur begitu saja. Jadi kau akan aku laporkan ke polisi atas tuduhan merusak milik orang lain. Kau tidak punya saksi untuk pembelaanmu. Ya, kan?"
"Ada! Orang-orang di kampus Sastra," jawabku tegas. Sebab memang banyak orang yang melihat kejadian di kampus Sastra waktu itu, tapi sayangnya aku hanya sendirian. Disana memang tidak ada temanku, sebab aku kesana sendirian. Aku kesana karena pergi ke perpustkaan Sastra untuk mencari beberapa referensi tugas paper yang aku buat.
"Apa kau masih ingat siapa saja disana? Apa kau kenal mereka? Tidak, kan!"
"Ya memang aku tidak kenal, tapi kan aku..."
"Sudahlah.. kau sudah tidak punya alibi lain," katanya memotong ucapanku sambil tersenyum mengejek. Aku kesal tapi juga bingung menyetujui apa menolak tawaran perjanjian tersebut.
"Ah.. bagaimana ya… akan aku pertimbangkan lagi, deh!"
"Cepatlah! Aku malas menungu lama. Buang-buang waktu saja," sahutnya sambil menyerut jus jeruknya.
"Akan aku pikirkan lagi, seminggu lagi temui aku di kampus Sastra."
"Kenapa di kampus Sastra? Kau tunggu di taman tadi saja, nanti kau akan kujemput dan kuajak kesini lagi," lanjutnya sambil menatapku.
"Kenapa disini? Aku tidak mau kau berbuat macam-macam padaku seperti tadi."
"Siapa yang akan berbuat macam-macam padamu. Gr… dasar baka!" serunya sambil mencubit pipiku.
"Aww!! Sakit tahu! Okelah kalau begitu. Perjanjian ini batal kalau salah satu diantara kita jatuh cinta, bukan begitu maksudmu?"
"Ya, yang melanggar akan dilaporkan kepolisi. Aku juga boleh kau laporkan, kalau aku melanggarnya. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi karena aku tidak akan suka padamu, pada orang bodoh dan jelek sepertimu."
"Dasar baka siapa juga yang suka padamu. Wekkk!!" ujarku sambil menjulurkan lidahku.
"Oke baiklah aku pulang dulu, minggu depan temui aku ditaman itu. Oke!"
Aku beranjak dari tempat dudukku lalu berjalan menuju pintu. Dia masih duduk sambil menguyah makanan yang penuh di mulutnya. Ih.. menjijikan, rakus sekali dia.
"Eh.. kau tidak minum jus jeruk ini dulu, aku kan sudah membuatnya. Kau tidak menghargaiku ya?" ujarnya sambil tetap mengunyah makanan.
"Tidak, aku tidak mau. O ya, itu salah satu syarat dariku yang harus kau penuhi. Aku tidak mau makan apa-apa yang ada disini dan juga yang kau berikan padaku," jawabku sambil memasang sepatu ketsku yang tadi kulepas sebelum masuk ke kamarnya.
"Kenapa? Aku kan tidak meracunimu."
"Ya, pokoknya aku tidak mau, mengerti!"
"Oke! Sana pulang aku malas mengantarmu pulang. Pulang sendiri sana!"
"APAA???" seruku terkejut. Aku disuruh pulang sendiri padahal rumah ini sangat jauh dari rumahku.
"Kau tinggal berjalan ke jalan raya dan disana kau akan menemui halte bus. Disana kau bisa pulang dengan bus. Sana pergi!!"
"Apa? Wah… kau ini benar-benar gila. Aku kau suruh jalan begitu saja. Tidak, kau benar-benar sudah tidak waras kau memang sudah gila!" seruku lagi. Aku lalu berjalan menjauhi pintu kamarnya.
"Terserah! Aku ngantuk, aku mau tidur," serunya lalu langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.
Aku lalu berjalan menjauhi kamarnya melewati koridor dan melewati ruangan dimana teman-teman cowoknya tadi sedang menonton TV. Mereka masih menatapku heran. Kulihat mereka sambil terseyum. Ada yang berbisik-bisik. Entahlah… aku tidak tahu apa yang mereka bisikkan.
Aku pulang dan berjalan kearah halte bus sambil memikirkan perjanjian konyol yang ditawarkan cowok itu tadi. Jalanan menuju halte bus terlihat ramai banyak orang-orang yang lalu lalang, sepertinya ada Mall didekat sini. Itu bisa terlihat dari orang-orang yang membawa belanjaan mereka. Ada juga anak-anak sekolah yang cekakak-cekikikan sambil berjalan menuju sekolahnya.
"Kenapa aku bisa bertemu dan membuat perjanjian konyol dengan cowok tidak waras itu ya? Aku merasa bodoh, tapi syarat apa yang akan aku buat? Syarat apa yang akan orang bodoh itu berikan padaku minggu depan ya?" tanyaku dalam hati.
Aku terus melangkah hingga akhirnya aku hampir sampai di halte bus itu. Tetapi aku makin penasaran dengan isi syarat perjanjian cowok bodoh itu. Jangan-jangan dia mau meminta yang macam-macam?
Entahlah… aku benar-benar mati penasaran dengan syarat dari cowok berkuping aneh itu.
…To be Continued…
Noto:
RnR ya, gomen banyak kata 'Bodoh dan Gila' dI Fict ini, ini tidak bisa dihindari.. *dijitak Reader*
