CHAPTER 3
Warning : OOC, Alur amburadul, tidak sesuai EYD, Typho, BL as Yaoi, and Don't Like Don't Read.
.
Haiiii. ^^
Author nggak tahu diri balik lagi, wkwkwk..
Maaf buat TYPO yang bertebaran di chap sebelumnya. Author ngetiknya ngebut, pengen cepet-cepet update, sangking semangatnya. Hehe. maaf ya kalo kurang memuaskan.
Hmm, author udah baca review dari readerdeul sekalian lewat HP butut, dan author seneng banget bacanya ^^. Maaf ya kalo nggak bisa bales, soalnya... hiks..soalnya... HUWEEEEEEE T^T. Modem dipatahin sama adik author.. HUWEEEEEEE T^T, itu yang bikin author lama updatenya.. hiks.. ugh! Nyebeliiiiin!
Tapi sekarang udah beli yang baru, tapi...hiks... SEKARANG HP SAYA YANG RUSAK T^T. Tapi gpp sih, yang penting ada modem. Hehehe..
Dan, sekali lagi terima kasih buat yang udah ngereview, Saranghaeyo.. :* 3 3 *tebar flykiss*
Ya udah deh, dari pada author yang nggak tahu diri ini ngebacot nggak jelas, mending readersku sayang langsung baca aja ya.. semoga suka and Happy Read ^^
Oiya, di Chapter ini saya nggak terlalu fokus sama Tao, soalnya saya pengen ceritain Baekyeol juga, hehe, biar g bikin sequel lagi :p. maaf ya.. saya cuma nulis sesuai dengan apa yang ada di otak saya. Hehe..
.
.
Tao's Wish
.
.
"annyeonghaseyo" sapa sang guru baru itu pada semua murid dikelasnya saat wali kelas yang mengantarnya tadi sudah keluar kelas. Terdengar pekikan girang dan suara khas orang yang sedang terpesona dari kelas itu saat mendengar suara merdu sang guru baru yang super duper tampan itu.#aduh! Saya tahu saya buruk diawal dan akhir cerita. T^T
"perkenalkan, aku guru Konseling baru kalian, namaku Wu Yi Fan, kalian bisa memanggilku..." namja itu menjeda perkataannya dan melirik sejenak pada Tao yang mulutnya terlihat sedang berkomat-kamit dengan tangan menangkup didada dan mata terpejam.
'jangan Kris, tolong bilang kalau namanya bukan Kris' ucap Tao tanpa suara. Guru barunya itu sedikit terkekeh melihat tingkah Tao. dan lagi, batu yang ada didalam tas Tao bersinar, menerima permohonan Tao.
"kalian bisa memanggilku Wufan. Aku berasal dari China, dan aku harap kerja sama kalian" lanjutnya. Tao tersentak kaget sekaligus lega mendengarnya, namun Tao tidak sadar jika Wufan songsaengnim itu adalah Kris. Tao hanya ingin jika guru barunya tidak bernama 'Kris'kan? dan itu terwujud walaupun sebenarnya dia adalah Kris. hahaha.
"Wufan songsaengnim, wo ai ni" ucap salah satu murid yeoja yang bernama Sulli yang langsung dihadiahi kata 'huuuu' yang diucapkan dengan kompak oleh teman-temannya. Dan Sulli hanya bisa mendengus sebal.
"sudah-sudah, mari kita mulai pelajarannya".
.
.
.
"baiklah, sekian dulu pelajaran dari saya" ucap Wufan songsaengnim a.k.a Kris, mengakhiri pelajarannya.
Terdengar suara kekecewaan dari yeoja-yeoja dikelas itu. waktu terasa singkat jika kau memiliki guru yang super tampan seperti seorang Wu Tam Fan-maksudnya-Wu Yi Fan.
"Annyeong hi gyeseyo" pamit Kris seraya berjalan keluar kelas tanpa melirik kearah Tao yang terus menerus memperhatikan gerak-geriknya. Tao sedikit curiga juga jika Wufan songsaengnim adalah Kris. Casing*plak* mereka sama, tapi sikap mereka berdua sangat berbeda. Wufan songsanegnim sangat tenang, sedangkan Kris menyebalkan sekali!.
"Tao, kau lihat apa? ayo kita ganti baju." ajak Baekhyun dan Kyungsoo yang sudah siap dengan pakaian olah raga mereka. Tao hanya mengangguk dan mereka bertiga segera berjalan menuju toilet untuk berganti pakaian.
Pelajaran selanjutnya adalah olah raga dan semua murid dikelas Tao mulai berbondong-bondong menuju toilet untuk mengganti seragam mereka dengan pakaian olah raga. Ada juga sebagian yang nekat berganti dikelas.
"kau tahu tidak, Kai bilang Yongguk songsaengnim sedang dekat dengan teman sekelasnya" Kyungsoo membuka pembicaraan. Baekhyun yang layaknya seorang yeoja pecinta gosip langsung tertarik dengan berita Kyungsoo.
"benarkah? Siapa?" tanya Baekhyun penuh semangat. Tao hanya terkekeh geli menlihat dua orang temannya yang hobi gosip itu.
"Zelo, namja yang tinggi itu, yang imut itu. tahu tidak?" jawab Kyungsoo. Baekhyun dan Tao yang mulai ikut-ikutan nge-gosip mengangguk.
"Baekhyun, annyeong" Tiba-tiba seseorang yang berpapasan dengan mereka bertiga.
"ne, annyeong" jawab Baekhyun dengan nada bingung. Baekhyun belum pernah melihat murid itu sebelumnya. Tao dan Kyungsoo pun ikut memandang kepergian anak itu dengan bingung.
"siapa dia?" tanya Tao. Baekhyun mengedikkan bahunya pertanda tidak tahu.
"apa dia anak baru itu?" kata Kyungsoo. kedua temannya menatap bingung pada Kyungsoo. "beberapa hari yang lalu ada murid baru dikelas 2B, apa mungkin dia orangnya" lanjutnya.
"wah, kau ini sepertinya tahu tentang semuanya ya, seperti koran saja" celetuk Baekhyun dan mereka bertiga tertawa. Dan mereka terus melanjutkan perjalanan mereka untuk mengganti pakaian.
.
.
.
Dua jam kemudian pelajaran olah raga pun selesai. Sepertinya informasi Kyungsoo mengenai kedekatan Yongguk songsaengnim, guru olah raga mereka, dengan salah satu siswa yang bernama Zelo benar. Tadi saat berolah raga, Tao , Baekhyun dan Kyungsoo melihat Zelo sedang duduk dipinggir lapangan sambil memandangi Yongguk dengan senyum yang terpasang diwajahnya. Mereka yakin, Zelo pasti sedang bolos pelajaran.
Saat ini Tao, Baekhyun dan Kyungsoo sedang berjalan menuju kelas mereka, mereka baru saja dari toilet dan sudah selesai mengganti pakaian olah raga mereka dengan seragam sekolah mereka.
"ah, aku lapar~" ucap Baekhyun sambil memegangi perutnya.
"sebentar lagi juga istirahat sekolah, bersabarlah sebentar lagi" jawab Tao. Sedangkan Kyungsoo, dia sedang asyik dengan ponselnya, ber-sms ria dengan Kai-nya tercinta yang sedang membolos pelajaran konseling. Pantas Zelo juga membolos, ternyata mereka membolos pelajaran Wufan songsaengnim.
"Baekhyun, annyeong" tiba-tiba seseorang menyapa Baekhyun, orang yang sama dengan yang tadi menyapa Baekhyun. kenapa hanya Baekhyun saja yang ia sapa?
"n-ne, annyeong" jawab Baekhyun. Bahkan Kyungsoo yang sedang asyik ber-sms dengan Kai pun menghentikan kegiatannya hanya untuk menatap namja yang menyapa Baekhyun itu.
"kenapa dia hanya menyapamu?" tanya Tao sambil menatap Baekhyun yang masih memandang kepergian namja itu.
"mungkin dia suka pada Baekkie" seru Kyungsoo. Baekhyun membelalakan matanya sedangkan Tao dan Kyungsoo saling memandang.
"CIEEEEE!" seru Kyungsoo dan Tao bersamaan, membuat wajah Baekhyun memerah. Dan sepanjang perjalanan menuju kelas, mereka berdua terus menyoraki Baekhyun dan berimajinasi tentang kisah cinta Baekhyun dan namja itu. tak jarang juga Baekhyun memukuli kedua temannya yang tak henti-hentinya mengoceh yang aneh-aneh tentang dirinya
Bahkan Tao dan Kyungsoo mulai mengarang cerita tentang kencan Baekhyun dengan namja itu di taman bermain. Mereka mengarang saat Baekhyun dan namja itu memasuki rumah hantu, dan Baekhyun yang terus memeluk namja itu karena ketakutan sepanjang perjalanan menelusuri rumah hantu. Dan kencan mereka berakhir dengan menaiki bianglala.
"dan saat bianglala mereka berhenti diatas, namja itu menyatakan cintanya" kata Tao sambil tersenyum senang, saat sudah berada didepan kelas mereka.
Kyungsoo menghentikan langkahnya lalu meraih tangan Baekhyun dalam genggamannya dan berkata, "Baekhyun,sebenarnya aku menyukaimu" kata Kyungsoo sambil menggenggam tangan Baekhyun, seolah-olah dia adalah namja itu. entah kenapa Kyungsoo menjadi lebih jahil sekarang "maukah kau menjadi namjachingu-ku?" lanjutnya. Apakah karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama Kai, Kyungsoo menjadi lebih jahil dari sebelumnya?
Baekhyun melepaskan dengan kasar genggaman tangan Kyungsoo dengan wajah memerah dan kesal. "tidak" katanya, dan langsung melesat masuk kedalam kelas, dan hal itu sukses membuat Tao dan Kyungsoo meledak tertawa.
Saat Tao dan Kyungsoo memasuki kelas, mereka melihat Baekhyun yang sedang terdiam dengan wajah memerah sambil memegang sesuatu ditangannya.
"apa itu?" tanya Kyungsoo sambil merebut benda itu dari tangan Baekhyun. sebuah kotak yang sebenarnya berbentuk hati berwarna coklat dengan pita berwarna biru muda pada sisi kanan kotak itu dan sebuah kartu bertuliskan 'untuk Baekhyun' ditengah kotak itu.
Kyungsoo mengintip isi kotak itu "coklat" lanjut Kyungsoo sambil terkekeh, lalu menyerahkan sekotak coklat itu pada Tao.
"mungkin coklat ini dari namja itu" kata Tao sambil menyerahkan kotak coklat itu pada Baekhyun. "mungkin dia benar suka padamu, tidak apa Baekkie, terima saja" lanjutnya.
"lagi pula dia tampan, tidak ada salahnya kan" tambah Kyungsoo.
"kalian ini bicara apa? sudah Diam! Ini." kata Baekhyun sambil memberikan sekotak coklat itu pada Kyungsoo. "untuk kalian saja" katanya.
"tidak mau" kata Tao dan Kyungsoo bersamaan, dan mengembalikan sekotak coklat itu pada Baekhyun.
.
.
.
Setelah berpisah dengan Baekhyun, Kyungsoo-yang tumben tidak pulang bersama Kai, di persimpangan jalan, Tao pun melanjutkan perjalanan pulangnya seorang diri.
Tao mengeluarkan kunci pagar dari saku celananya ketika sudah sampai didepan rumahnya. Dia selalu mengunci rapat pintu dan pagar rumahnya, karena tidak ada yang menjaga rumah selama ia sekolah. Ia tidak ingin ada perampok yang membobol rumahnya. Namun Tao terkejut, saat hendak membuka gembok pagar rumahnya, Tao tidak mendapati gemboknya terpasang disana.
"apa tadi pagi aku lupa menggembok pagar ya?" gumam Tao. Tao mengedikkan bahu lalu memasuki pekarangan rumahnya. Dan Tao kembali terkejut. Ketika hendak membuka kunci pintu rumahnya, ternyata pintunya juga tidak terkunci. Tao mulai waspada. Jangan-jangan ada perampok didalam rumahnya.
Tao memasuki rumahnya dan melepas sepatunya tanpa suara, lalu berjalan mengendap-endap didalam rumahnya. Mencari sosok orang yang telah memasuki rumahnya tanpa izin. Tao memeriksa ruang tengah, dapur, bahkan kamar mandi, namun tidak ada seorang pun. "apa aku lupa mengunci pintu ya?" gumam Tao sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menutup pintu kamar mandi.
Dan saat Tao membalikkan badannya untuk pergi kekamarnya, seseorang mengagetkannya. "Kau sudah pulang Tao"
"GYAAAA!" Tao terkejut hingga terjatuh dan menabrak pintu kamar mandi. Tao meringis kesakitan.
"Tao, gwaenchanha? Mianhae, aku mengejutkanmu" kata orang itu yang ternyata adalah Chen, kakaknya sendiri.
"Chen-ge? aku kira perampok" kata Tao sambil menahan sakit pada bokongnya yang mencium lantai dengan keras.
"perampok? Hahaha.." kata Chen sambil membantu Tao berdiri.
"aku tidak lihat mobil gege didepan, ku kira gege akan pulang seminggu lagi" kata Tao.
"mobil ada digarasi. Aku pulang tadi pagi, aku pulang lebih cepat. Aku ingin..." Chen menjeda peerkataannya membuat Tao penasaran.
"ingin apa?" tanya Tao.
"uhm? ah tidak, kau sudah makan siang Tao?"kata Chen, mengalihkan pembicaraan. Tao menggeleng. "bagaimana kalau makan siang diluar?" tanya Chen.
"benarkah? Asiiiik!" seru Tao penuh semangat. Selama ini Tao jarang makan diluar apalagi makan bersama Chen. Setiap hari Tao hanya memasak apa saja yang ada didalam kulkasnya untuk dirinya sendiri, terkadang Tao hanya makan ramen saja. "aku ganti baju dulu, ne" kata Tao lalu melesat menuju kamarnya untuk mengganti baju.
.
"kau ingin makan dimana Tao?" tanya Chen sembari mengemudikan mobilnya.
"terserah gege saja" kata Tao yang sedang asyik memandang pemandangan diluar jendela.
"baiklah kalau begitu" kata chen lalu kembali fokus pada jalanan.
.
.
Tao dan Chen sudah sampai disebuah restoran. Chen membawa Tao ke restoran langganannya yang berada didekat kantor perusahaan keluarga mereka. Chen bilang dia sering makan siang disini.
"selamat datang" sambut salah satu pelayan sambil membungkung hormat. "silahkan ikuti saya" lanjutnya lalu menggiring Chen dan Tao menuju meja dan mempersilahkan mereka duduk dan mempersilahkan mereka untuk memesan.
"kau ingin pesan apa Tao?" tanya Chen. Tao membaca buku menu yang tadi pelayan itu berikan padanya, lalu membacanya.
"umh, aku ingin makan galbi dan minumnya...jus strawberi" kata Tao lalu menutup buku menu yang ia pegang.
"baiklah, aku juga pesan galbi dan soju" kata Chen.
"biklah, silahkan tunggu sebentar" kata pelayan itu seraya membungkuk rendah lalu pergi untuk mengambil pesanan Tao dan Chen.
"jus strawberi? Haha, seperti anak kecil saja" gumam Chen sambil memainkan ponselnya. Tao yang masih bisa mendengar gumaman Chen hanya mempoutkan bibirnya saja.
Tao memandang berkeliling restoran itu. hmm. Lumayan ramai juga. Dan beberapa menit kemudian datanglah pesanan mereka.
"maaf, ini pesanan anda" terdengar suara seorang namja. Tao dan Chen mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara. Seorang namja dengan wajah manis dan berpipi chubby tengah membawa nampan berisi pesanan mereka, namja pelayan itu tengah tersenyum manis.
"a-ah, n-ne, s-silahkan" jawab Chen tergagap. Tao memandang Chen dan pelayan itu bergantian.
"a-annyeong" sapa Chen pada pelayan itu yang sedang menata hidangan di meja. Sedetik kemudian ia merutuku dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol dirinya. Namja pelayan itu menghentikan kegiatannya hanya untuk membalas sapaan Chen.
"ne, annyeonghasimnikka" balas namja itu dengan tersenyum ramah sambil menundukkan kepala sejenak sebelum melanjutkan tugasnya sebagai pelayan restoran itu.
Tao memandang Chen dengan intens. Tao merasakan ada sesuatu yang aneh dengan gege-nya. Lihatlah Chen, kenapa dia berkeringat seperti itu? padahal di restoran itu sama sekali tidak terasa panas, bahkan terkesan sejuk. Dan kenapa Chen terlihat tegang sekali? Tao terus memperhatikan Chen.
"apa anda ingin memesan yang lain?" tanya pelayan itu sambil tersenyum ramah saat sudah selesai menata hidangan diatas meja.
"ti-tidak, terima kasih" jawab Chen sedikit tergagap.
"baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Silahkan menikmati hidangannya" kata pelayan itu sambil membungkuk sebelum melangkah pergi.
Tao terus memperhatikan Chen yang makan sambil terus tersenyum.
"kau kenapa ge?" tanya Tao.
"aku? ah, tidak kenapa-kenapa. Kenapa?" jawab Chen.
"kau terus tersenyum pada galbimu. Kau tahu, itu sedikit... Mengerikan" Chen tertawa kecil mendengar ucapan Tao. Dan dia kembali memakan galbinya sambil tersenyum.
"aku tahu kau naksir pelayan itu" lanjut Tao, dan hal itu membuat Chen tersedak makanannya, namun Tao terkikik melihatnya.
"a-apa?" tanya Chen.
"jadi, kau sering makan disini ya?" tanya Tao lalu melahap galbinya.
"me-memang kenapa? restoran ini kan dekat dengan kantor perusahaan" bukannya menjawab Tao malah kembali bertanya.
"jadi kau sering juga melihat pelayan itu ya?"
"a-apa? tentu saja. Dia kan bekerja disini" jawab Chen salah tingkah.
"dia manis juga" ucap Tao.
"hei, hei, kau ini bicara apa?"
"jadi kau pulang cepat karena ingin... beremu dengannya. Begitu rupanya" kata Tao tanpa menatap Chen sama sekali.
"aku pulang lebih awal karena ingin merayakan ulang tahunku bersamamu" jawab Chen. Namun sedetik kemudian ia menutup mulutnya. Sedangkan Tao, kini giliran dia yang tesedak makanan sampai terbatuk batuk.
"benarkah?" tanya Tao yang sudah berheti batuk. Sebenarnya Tao tersedak bukan karena terkejut mendengar Chen ingin merayakan alang tahun bersamanya. Tapi karena Tao lupa jika besok adalah hari ulang tahun Chen.
.
.
.
"terima kasih atas kunjungannya. Silahkan datang lagi" kata seorang pelayan yeoja yang membukakan pintu restoran untuk Tao dan Chen.
"setelah ini kau ingin kemana lagi?" tanya Chen. Saat ini mereka sedang berjalan menuju mobil mereka. Merasa tidak ada jawaban Chen mengalihkan pandangannya pada Tao "Tao? Kita langsung pulang saja atau- Hey, kau ini sedang memikirkan apa?" katanya pada Tao yang terlihat seperti sedang melamun atau memang sedang berpikir?.
"aniyo, ayo kita langsung pulang saja ge" jawab Tao sambil mempercepat langkahnya menuju mobil.
.
.
.
Keesokan harinya, Tao dan teman-temannya berangkat kesekolah seperti biasanya, bertemu dipersimpangan jalan lalu berjalan bersama-sama menuju sekolah mereka.
"hai, Baekkie"
Lagi-lagi namja itu hanya menyapa Baekhyun. Kyungsoo dan Tao semakin yakin bila namja itu menyukai Baekhyun. Saat ini Tao, Kyungsoo dan Baekhyun sedang berjalan menuju kelasnya-setelah sebelumnya berpisah dengan Kai dulu.
"h-hai" Lama-lama Baekhyun merasa agak aneh dengan namja itu.
"aku yakin seratus persen jika namja itu menyukai Baekkie" kata Kyungsoo.
"sudah diam!" ketus Baekhyun, sontak Tao yang hendak membuka mulutnya menutup kembali mulutnya dengan rapat.
Mereka melangkahkan kakinya memasuki kelas mereka. Baekhyun dan teman-temannya kembali dikejutkan oleh sekotak susu strawberi yang sudah menunggunya diatas meja Baekhyun. Baekhyun mengambil susu kotak itu. Ada note yang menempel dibagian depan kotak susu itu.
For Baekhyun.
"CIEEEEEE" Kyungsoo dan Tao bersorak ketika melihat Baekhyun memegang susu kotak itu.
"itu pasti dari dia" kata Kyungsoo sambil menyenggol lengan Baekhyun dengan sikutnya. Baekhyun mendengus lalu menyerahkan susu kotak itu pada Kyungsoo. "untukmu saja".
"benar? Aku minum, ne?" goda Kyungsoo sabil pura-pura akan mencoblos sedotan kekotak itu, namun sedetik kemudia Baekhyun mengambilnya lagi.
"aku belum sarapan" katanya. Dan hal itu membuat Kyungsoo dan Tao tertawa. Pasalnya mereka tahu jika Baekhyun suka sekali dengan susu strawbery, atau mungkin mereka bertiga memang suka segalanya yang 'strawbery'.
.
.
.
"maaf ya, aku tidak bisa pulang bersama kalian. Aku ada-"
"kencan dengan Kai" Tao dan Baekhyun sudah tahu apa yang akan Kyungsoo katakan, oleh karena itu mereka memotong kalimatnya. Dan itu memang benar, Kyungsoo akan pergi kencan dengan Kai. Kencan, haha, Gairah muda, Yang Muda yang Bercinta, Putih Abu-Abu, Inikah Rasanya. Astaga.*plak*
"maaf" kata Kyungsoo. Bel waktu pulang sudah berbunyi, dan kenpa Kyungsoo suka sekali kencan dengan Kai?
"tidak apa-apa" kata Tao sambil tersenyum, sedangkan Baekhyun, dia sedang tidak ingin menatap Kyungsoo. atau mungkin dia iri karena tidak punya pacar? Lagi pula Tao juga tidak punya pacar. Entahlah. "sudah sana, hati-hati, ne" kata Tao sambil mendorong tubuh Kyungsoo kearah jalan menuju kelas Kai. Dan setelah Kyungsoo menghilang dari pandangan, dia mulai berjalan dengan Baekhyun untuk pulang.
"kenapa kau biarkan dia pergi. Aku tidak suka! Kehadiran Kai membuat Kyungsoo lupa pada kita" Baekhyun akhirnya buka mulut setelah mereka berjalan dalam diam selama setengah perjalanan pulang. Dia terlihat cemberut.
"jangan seperti itu. Kan masih ada aku, hm?" jawab Tao. Baekhyun mendengus mendengar jawaban Tao yang sangat tidak memuaskan.
"kau terlalu baik padanya!" kata Baekhyun kesal.
"OMO!" pekik Tao sambil menatap Baekhyun dengan tatapan terkejut.
"ma-maaf Tao, a-aku tidak bermaksud.. a-aku hanya.." Baekhyun takut salah bicara pada Tao. Kenapa Tao memekik seperti itu?
"Baekkie, aku lupa membeli kue untuk Chen gege, astaga. Hari ini dia ulang tahun. Kembali ke toko kue di dekat sekolah ne? Atau kau pulang sendiri? kau tidak apa-apa kalau pulang sendiri?" ucap Tao panik. Baekhyun hanya bisa memberikan ekspresi datar pada Tao. -_-
"aku ikut" jawabnya datar. Dan mereka segera berjalan menuju toko kue dekat sekolah itu. Hhh~ sunggu perjalanan pulang yang panjang.
.
.
.
"kenapa lama sekali mereka itu" gerutu Kris, sambil duduk didalam mobilnya. Tatapannya tak pernah teralih dari sebuah toko kue didekat sekolah tempat ia mengajar.
Hari ini Kris berencana mengikuti Tao sampai rumahnya. Ia ingin tahu dimana tempat tinggal Tao. Namun Kris tidak tahu kenapa, Tao malah berbalik arah dan berjalan kembali kearah sekolah, hingga membuat Kris putar balik. Ternyata dia ingin ke toko kue. Kris ingin memberi tumpangan pada Tao dan Baekhyun, tapi ia tidak boleh ketahuan. Bisa gagal kalau sampai ketahuan.
"ah, itu dia" gumam Kris saat orang yang ia tunggu keluar dari toko kue. "haha, apa dia ingin dirampok" gumamnya lagi saat melihat Tao mengatur dompetnya diluar toko kue. Kris kembali melajukan mobilnya saat Tao dan Baekhyun mulai berjalan pulang. Kris melajukan mobilnya dengan sangat pelan. Mengimbangi langkah kaki Tao dan Baekhyun, karena ia tak ingin kehilangan jejak.
Kris tersenyum saat melihat wajah Tao yang sepertinya sedang senang itu. Dalam hati ia menyesal karena telah menyulitkan Tao saat di alam mimpi. Seandainya saja ia membuatnya nyaman bersamanya dialam mimpi, pasti saat ini ia juga sedang berkencan dengan Tao. Seperti Kai dan Kyungsoo.
Kris mengerutkan dahinya saat menyadari seseorang sedari tadi berjalan mengendap-endap dibelakang Tao. Tak tinggal diam Kris segera menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan segera turun untuk mengahmpiri orang yang berusaha macam-macam dengan Tao.
Orang itu menarik tas milik Tao sehingga tasnya robek dan membuat semua isi tas Tao terjatuh dijalan. Orang itu terlihat mengambil dompet milik Tao dan melesat lari, melihat hal itu, kris segera mengejar pencopet itu.
.
.
.
"aduh, bagaimana ini? dia mengambil dompetnya. Kenapa kau diam saja?"
"sudah tidak apa-apa. yang penting kita tidak terluka. Itu hanya dompet"
"kau-Kau ini terlalu baik Tao! Dompetmu itu tebal. Bagaimana- Kau- Aish, Jinjja!" ucap Baekhyun gusar melihat sahabatnya yang kelewat baik. Baekhyun segera berjongkok dan membantu Tao memunguti barang-barang Tao yang berserakan dijalan.
"Huang Zi Tao. Hosh-ini dompetmu". Tao dan Baekhyun mendongak melihat seseorang yang memanggil nama Tao.
"songsaengnim?/Wufan songsaengnim?" ucap Tao dan Baekhyun bersamaan. "ah, gamsahamnida" ucap Tao menerima dompetnya yang sudah kembali dalam keadaan utuh.
"kau ini bagaimana? Kenapa ceroboh sekali mengatur dompet diluar toko. Orang itu pasti mengincarmu sejak di toko kue" kata Kris sambil membantu memunguti barang-barang Tao.
"eh? Bagaimana songsaengnim tahu Tao mengatur dompet diluar toko?" tanya Baekhyun yang penyakit kepo-nya kumat.
"eh? Ehm-i-itu, a-aku tidak sengaja melihatnya tadi. Kebetulan aku sedang berada di dekat sana tadi, hehe" dan Tao dan Baekhyun hanya ber'oh' ria, tidak terlalu memusingkan.
"bagaimana cara membawa semua ini?" tanya Baekhyun.
"biar kuantar kalian pulang, aku bawa mobil" ucap Kris, sebenarnya Kris hanya 'modus' saja, agar ia bisa kerumah Tao.
"ah, tidak perlu. Rumah kami sudah dekat" ucap Tao. Mereka memang sudah dekat dengan persimpangan jalan yang biasa mereka jadikan tempat bertemu dan berpisah biasanya.
"ah, begitu. Kalau begitu tunggu sebentar" kata Kris sambil berlari menuju mobilnya, lalu beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa sebuah tas hitam miliknya. "pakai ini" katanya sambil menyerahkan tas itu pada Tao.
"ah tidak per-" belum sempat Tao selesai bicara Baekhyun sudah lebih dulu menerima tas itu dan berkata "gamsahamnida"
Baekhyun tau jika Tao akan menolaknya, maka dari itu Baekhyun langsung menrimanya. Kenpa Tao begitu baik hari ini? Bahkan pada pencopet dompetnya tadi, ia rela dompetnya diambil oleh pencopet itu.
"kalau begitu kami pulang dulu songsaengnim. Gamsahamnida" ucap Baekhyun sambil membungkuk.
"gamsahamnida. Besok aku kembalikan tasnya" ucap Tao sambil membungkuk. "annyeonghi gyeseyo" ucap keduanya lalu kembali berjalan pulang, meninggalkan Kris yang sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan mereka.
"eh? Apa ini?" Kris memungut sebuah batu berbentuk bintang berwarna pelangi ditempat barang-barang Tao terjatuh tadi. "mungkin milik Tao, aku simpan saja" gumamnya sembari memasukkan batu itu kedalam saku celananya dan segera kembali kemobilnya. Dan ia jadi lupa kalau sebenarnya dia ingin mengikuti Tao pulang.
.
.
"selamat datang~" seru Tao.
Chen yang saat itu baru saja pulang kerja dan masuk rumah, langsung disambut Tao dengan membawa sebuah Kue tart berukuran sedang dengan lilin-lilin kecil yang menyala diatasnya.
"hahaha, ne. Gomawo" kata Chen malu-malu. Tao tersenyum lalu meletakkan tart itu di sebuah meja. Ia menatap kakaknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Tao melangkah ragu-ragu pada Chen, berhenti dihadapan Chen lalu menggosok tengkuknya yang tidak gatal. Suasana canggung melingkupi mereka.
"umh.. zhu ni sheng ri kuai le, Chen-ge" ucap Tao. Sedikit aneh memang mengingat sudah dua tahun mereka jarang bersama.
"apa.. kau ingin memelukku?" tanya Chen. Fiuuh, memang itu alasan kenapa Tao mendekat. Ia ingin memeluk kakaknya, tapi dia bingung harus bagaimana. Selama ini dia belum pernah memeluk Chen, Tao hanya memeluk ibunya.
Tao mengangguk lalu memeluk Chen dengan erat. Ahh~ rasanya sama seperti saat memeluk eomma,pikir Tao.
"gomawo, Tao" ucap Chen sambil mengelus rambut Tao. "oiya, mana kado untukku?" ucap Chen saat pelukan mereka terlepas.
"gege ingin kado? Ada. Tapi nanti setelah gege mandi dan berganti pakaian." Kata Tao.
"baiklah, kalau begitu aku akan mandi cepat-cepat, hehehe. Siapkan hadiahku,ne" ucap Chen seraya mengacak rambut Tao dan berjalan menuju kamarnya.
.
.
"nah, aku sudah mandi. Mana kado untukku?" kata Chen sambil mendudukkan dirinya disamping Tao yang sedang duduk diruang tengah sambil menonton tv.
"oh, mungkin sebentar lagi datang" jawab Tao sambil tetap menonton tv. Chen mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba terdengar suara bel rumah mereka berbunyi. "ah, mungkin itu" kara Tao segera beranjak dari duduknya hendak berlari membukakan pintu, namun ia menghentikan langkahnya saat ia merasa Chen mengikutinya.
"eehh! gege tidak usah ikut, tunggu disini saja" kata Tao sambil mendorong Chen kembali ketempat duduknya, lalu segera membukakan pintu.
"ada apa sih?" gumam Chen. Dan sesaat Tao masuk sambil membawa setumpuk kotak makanan berukuran besar dan berwarna biru dan membawanya ke dapur. Chen yang penasaran pun akhirnya mengikuti Tao.
"aku memesan makanan, hehehe. Aku tidak pintar masak, jadi aku pesan direstoran yang kemarin." Kata Tao sambil meletakkan kotak-kotak makanan itu diatas meja makan.
"oh, jadi ini kadoku?" tanya Chen sambil duduk disalah satu kursi makan.
"eh? Aigoo~ kenapa dia tidak masuk sih." ucap Tao, lalu berjalan keluar dapur, mengurungkan niatnya untuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Chen mengerutkan keningnya melihat adiknya yang bertingkah aneh itu sambil bergumam tidak jelas, namun ia memutuskan untuk menggantikan Tao, memindah makanan dari kotak makan itu ke atas piring.
"wah, banyak sekali" gumam Chen sambil memindahkan sup kimchi pada mangkuk. "eh? Kenapa ada tiga porsi?" gumam Chen, namun ia hanya mengedikkan bahunya, lalu mengambil satu mangkuk lagi dan melanjutkan kegiatannya.
"gege~"
Chen mengalihkan pandangannya saat mendengar suara Tao memanggil namanya. Chen terpaku. Bukan, bukan karena Tao yang sedang tersenyum lebar hingga membuatnya terlihat sangat manis, namun seseorang disamping Tao-
"a-a-anyeong hasimnikka"
"kau?" Chen merasakan wajahnya memanas melihat namja yang ia sukai sedang berada dihadapannya, dihari ulang tahunnya. Sekali lagi, dihari ULANG TAHUNNYA.
"aku yang memintanya kemari" ucap Tao, "nah Xiumin ge,ayo duduk. Kita makan malam bersama" kata Tao sambil menarik tangan namja disampingnya.
"t-tapi Tao, aku-aku" Tao tau jika namja itu merasa aneh dengan semua ini. Diundang untuk merayakan ulang tahun seseorang yang tidak kau kenal adalah hal yang aneh bukan? Namun Tao tidak peduli, ia tetap menyeret namja bernama Xiumin itu untuk duduk dikursi makan.
.
.
.
"hoaaam" Tao menguap, dia sudah mengantuk. Lagi pula jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tao menatap Chen dan Xiumin yang terlihat sudah akrab walau mereka masih malu-malu. Mereka sedang mengobrolkan sesuatu yang entah apa itu.
"Chen ge, Xiumin ge. Aku mengantuk. Kalian silahkan lanjutkan pestanya sendiri. aku mau tidur dulu, besok masih harus sekolah. Pai-pai" ucap Tao sambil beranjak dari duduknya dan mulai berjalan menuju kamarnya dilantai dua.
"yah! Tao. jangan tinggalkan aku sendiri" kata Xiumin.
"tenang saja, Chen gege tidak akan macam-macam" jawab Tao tanpa menatap Xiumin dan tetap berjalan menuju tangga. "kalau pun Chen ge macam-macam, aku akan pura-pura tidak mendengarnya. hahaha" teriak Tao dari lantai atas, Tao yakin saat ini wajah Chen dan Xiumin pasti memerah malu.
.
.
.
Kris sedang berbaring diatas tempat tidurnya, dia tidak bisa tidur karena dia sedang memikirkan Tao. dia sangat merindukan Tao, apalagi setelah pertemuannya tadi dengan Tao tadi siang. Itu adalah kali pertamanya Kris berbicara langsung dengan Tao didunia nyata.
"aku akan mencobanya lagi" kata Kris.
Kris memejamkan matanya, dan berkonsentrasi. "Tao. Huang Zi Tao" Kris terus mengucapkan nama Tao dengan mata terpejam. Perlahan-lahan, Kris merasakan dirinya memasuki alam bawah sadarnya.
Kini Kris sedang berada disebuah lorong bercat putih. Disana terdapat banyak sekali pintu berwarna warni, namun seperti sebelumnya, Kris memilih pintu berwarna putih, dimana disana ia pertama kali bertemu dengan Tao.
Tangan Kris terulur untuk membuka kenop pintu putih itu. Namun sayang pintu itu terkunci. Kris berusaha sekuat mungkin untuk membuka pintu itu, bahkan ia sudah mencoba untuk mendobraknya, namun tetap tidak bisa. Kris menghela nafasnya. Dia sudah putus asa, tapi ia merindukan Tao, ia merindukan saat ia duduk bersampingan dnegan Tao di sofa putih walaupun tidak saling bicara.
"Aku mohon. Biarkan aku masuk. Aku ingin masuk" Ucap Kris sambil mengetuk-ketuk pintu putih itu. Layaknya seorang suami yang dilarang masuk kedalam rumah oleh istrinya hanya karena salah paham.
"Aku mohon" katanya lagi sambil memainkan kenop pintu, berusaha untuk membukanya agar ia bisa masuk kedalam. Tiba-tiba-
CEKLEK
Kris menatap tak percaya, pintu itu terbuka. Kris bingung, namun ia juga senang. Tanpa membuang waktu lagi Kris membuka pintu itu lebih lebar dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan dibalik pintu itu. dan setelah ia sudah didalam, ia menutup pintu itu. Hati Kris semakin senang saat melihat seseorang sedang tidur dengan diatas tempat tidur bernuansa putih disana.
"Tao" gumam Kris sambil tersenyum.
TBC
YAK! TBC lagi. Saya plin-plan kan. HOHOHOHO.
Saya sudah baca review kalian semua, maaf tidak bisa membalas review kalian.
Big Thank's to:
KissKris,Putra. ,BaekRen,Meyy-chaan, PrinceTae, Kazuma B'tomat, Brigitta Bukan Brigittiw, wonkyuhomintaoris all, putriii, Shin Min Hwa, jiyoung, Atha Raska, Arista Estiningt, Guest, vickykezia23, Jin Ki Tao, Historia Rain, Chaca, Fujo Yaoi, Reyna Lee
