Matahari sudah semakin meninggi, saat sinarnya masuk ke sebuah celah jendela sebuah kamar. Membangunkan seorang perempuan berambut biru.

"Ngg.." Tetsumi mengucek matanya pelan. Ia melihat keadaan disekitarnya dengan seksama. "Oh My!" teriak Tetsumi panik saat matanya melihat jam. Pukul 07.30. lima belas menit sebelum kelas dimulai.

Ia segera bangkit dari tempat tidurnya, dan berlari ke kamar mandi.

Akakuro Daily Life

Chapter 3: Promise

Kuroko No Basuke milik paman Fujimaki Tadoshi

Genre: Romance (?) Family

Rated: T atau mungkin T++ (?)

Pairing: Akakuro, Aokise

Warning: Gaje, aneh, abal, garing, flat, menyebabkan pusing, ngantuk dan mual, typo, misstypo, EYD cacat.

,

Tetsumi berjalan menelusuri lorong sekolah yang masih penuh dengan anak-anak. Ia melihat jam tangannya. Pukul 08.00. Harusnya ia sudah telat. Tapi keadaan disekitarnya menampakkan bel masuk pun belum berbunyi. Dan ia sangat mensyukuri itu.

"A-akashi-kun?" ucap Tetsumi ragu saat elihat seorang pemuda berambut merah yang duduk di bangkunya dengan mata terpejam.

Hening. Akashi tidak menjawab panggilannya.

"Akashi-kun, kau tidak ke kelasmu?" tanya Tetsumi pelan.

"Dan tidak mendapatimu datang terlambat?" Akashi balik bertanya dengan intonasi datar.

Waktu satu tahun berpacaran cukup bagi seorang Tetsumi untuk mengenal sang kekasih. Akashi memang tipe orang yang disiplin dan tidak menoleransi sebuah keterlambatan. Dan saat ini, ia tahu betul Akashi tidak dalam mood yang baik.

"Su-sumimasen," sahut Tetsumi pelan. Kini kepalanya sudah tertunduk lesu.

"Beruntung pagi ini guru-guru sedang mengadakan rapat, kalau tidak kau pasti sudah berakhir terkena hukuman. Atau kau berniat menggunakan misdirection-mu untuk menghindari hal itu?" tanya Akashi dengan nada masih datar.

"Ti-tidak. A-aku minta maaf, dan a-aku berjanji tidak akan mengulanginya," jawab Tetsumi terbata-bata menahan tangis.

"Aku harap kau bisa pegang omonganmu." Setelah berkata demikian, Akashi bangkit dari tepat duduk dan berjalan keluar kelas.

Tetsumi mengela napas panjang, ia segera menghapus air mata yang sempat keluar. Ia membalikkan badannya dan melihat pemuda berambut merah itu berjalan menjauh dan menghilang di balik pintu.

"Tetsumi-cchi, kau baik-baik saja kan?" tanya Ryouka yang ternyata sejak tadi sudah duduk di kursinya.

Tetsumi hanya mengagguk pelan, dan menghempaskan dirinya di kursi. 'Ada apa dengan Akashi-kun?' batin Tetsumi.

"YO! PAGI TETSUMI, SATSUKI DAN KISE!" teriak seorang pemuda berkulit tan yang baru saja memasukki kelas.

"Kau tidak perlu berteriak seperti itu, Ahomine!" runtuk Midorima yang merasa risih karena tatapan satu kelas mengarah mereka. Sebenarnya mereka melihat bukan karena keributan yang ditimbulakan si pemda hitam eksotis itu, melainkan benada yang tengan dibawa Midorima. Sebuah bone beruang berwarna pink yang berukuran cukup besar. Dan tidak perlu author jelaskan lagi kenapa seorang pemuda SMA membawa-bawa benda seperti itu ke sekolah.

Beruntung Aomine tidak mendengar kalau tidak perang dunia akan digelar di kelas 2-B itu.

"Kuro-chin mau?" tanya Murasakibara sambil mengulurkan kotak pocky ke hadapan Tetsumi.

"Arigatou, Muk-kun. Sebenarnya hari ini aku tidak sempat sarapan," jawab Tetumi sambil mengambil sebatang pocky dari kotaknya.

"Kau hari ini terlambat, Tetsu?" tanya Aomine yang sudah duduk di sampingnya.

"Iya, mungkin karena semalam aku telat tidur," jawab tetsumi dengan datarnya.

"Apa kau bertemu Akashi?" tanya Midorima.

"Iya, dan sepertinya ia tidak sedang dalam mood yang baik," jawab Tetsumi, hanya saja kali ini terselip nada khawatir di kalimatnya.

"Sudah kuduga," sahut Midorima. Kini seluruh perhatian siswa-siswi warna-warni itu terfokus pada pemuda hijau itu.

"Kau tahu sesuatu, Midorima-kun?" tanya Tetsumi. Bahkan sekarang wajahnya sudah menampilkan ekspresi khawatir dan sedih.

"Aku tidak tahu pastinya kenapa, hanya saja hari ini dia tidak datang pada latihan agi," jawab Midorima.

"Itu benar, tidak biasanya Akashi membolos," sahut Aomine.

"Mungkin Aka-chin sedang banya masalah," kali ini Murasakibara menyatakan pendapatnya. Tiba-tiba keadaan hening. Mereka sibuk berspekulasi tenang sifat aneh Akashi hari ini.

"Kurokocchi mau kemana?" tanya Ryouka khawatir saat teman birunya lari dari kelas.

"Mencari Akashi-kun," jawab Tetsumi yang sudah menghilang di balik pintu.

.

Tempat pertama yang didatangi Tetsumi adalah gym. Akashi selalu menghabiskan waktunya di sana, menyusun berbagai menu latihan untuk anggota string 1.

Tetsumi semakin memepercepat larinya, saat melihat pintu gym terbuka. Ia dapat mendengar suara decitan sepatu dan bola yang memantul

"Akashi-kun!"

"Tetsumi?"

"Go-gommen senpai." Tetsumi segera menundukkan badannya sembilan puluh derajat.

"Ara~ tidak apa=apa kok, bukan masalah besar," sahut Nijimura-senpai. "Kau mencari Akashi?"

"I-iya senpai," jawab Tetsumi gugup. Jarang sekali baginya untuk bercakap-cakap hanya berdua dengan senpai-nya satu ini. "A-apa senpai tahu dimana Akashi-kun?"

"Maaf Tetsumi, aku juga mencarinya daritadi," jawab Nijimura senpai dengan nada sedikit kecewa.

"Baiklah kalau begitu senpai, aku permisi dulu," pamit Tetsumi yang sudah siap berlari lagi. Tapi niatan itu berhenti saat Nijimura-senpai memanggilnya.

"Tetsumi!"

"I-iya sepai?"

"Apa Akashi marah karena selalu aku repotkan? Maksudku, aku selalu merepotkannya dengan memintanya membuat menu latuhan, bagaimana pun juga aku tahu itu harusnya aku yang melakukannya. Ja-"

"Akashi tidak pernah marah kok, Senpai," sahut Kuroko memotong rancauan sang kapten. "Ia malah bersyukur Senpai mau memepercayainya," lanjutya.

"Tetsumi, sampaikan terimakasihku pada Akashi," kata Nijimura senpai.

"Tentu saja," jawab Tetsumi sebelum menghilang dari gym.

.

Tempat kedua yang didatangi Tetsumi adalah perpustakaan. Salah satu tempat favorite mereka berdua untuk menghabiskan waktu.

"Ah, maaf Shiro-sensei, apa Akashi-kun datang kemari?" tanya Tetsumi pada penjaga perpustakaan.

"KYAAAAAAKKK! Tetsumi! Sudah berapa kali aku bilang jangan muncul tiba-tiba. Aku masih ingin hidup,bulan depan aku akan menikah," jelas Shiro-sensei sambil memegang dadanya.

"Ma-maafkan saya," pinta Tetsumi sambil membungkuk.

"Sudahlah, tidak apa-apa kok," sahut Shiro sensei. "Tadi kau bertanya apa Akashi ke sini? Aku rasa hari ini aku belum bertemu dengannya," jelas Shiro-sensei.

Tetsumi hanya menghela napas kecewa. Ia segera berjalan keluar. "Anou, Tetsumi," panggil Shiro-sensei.

Tetsumi menghentian langkahnya, dan menghadap ke arah sensei-nya itu.

"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Shiro sensei khawatir.

Tetsumi diam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab, "ya, semuanya baik-baik saja kok, Sensei."

.

Tetsumi kembali menghela napas panjang. Ia baru saja kembali dari atap, tapi Akashi tidak kunjung ditemukan. Mungkinkah dia sudah pulang? Tapi kenapa? Apa yang dikatakan Murasakibara benar? Atau ada hal buruk yang terjadi pada Akashi?

Tetsumi berjalan dengan gontai. Kepalanya mulai pusing. Ia sudah berlari memutari hampir seluruh bangunan sekolah. Ya, ini rekornya. Ia tidak pernah lari sejauh itu. Ditambah lagi ia belum memasukkan makanan apapun ke perutnya, kecuali sebatang pocky yang ditawari oleh Murasakibara tadi.

Langah Tetsumi berhenti tepat di depan UKS. 'Mungkin aku bisa istirahat sebentar,' batinnya. Ia segera memasukki UKS, tampat yang biasa dikunjunginya setelah pelajaran olah raga.

"Hai, Tetsumi," sapa Rin-sensei pada pasien tetapnya.

"Domo, Rin-sensei," balas Tetsumi. "Boleh aku beristirahat sebentar di sini, Sensei?" tanya Tetsumi.

"Tentu saja boleh, Tetsumi," jawab Rin-sensei dengan senyuman khasnya. "Oh ya, aku harap kau jangan ribut ya, ada seseorang yang sedang istirahat," lanjut Rin-sensei sebelum Tetsumi memasukki salah satu bilik.

Dengan pelan, Tetsumi menyibak tirai penutup. Matanya melebar, saat mendapati sang kekasih tengah tertidur di salah satu kasur. wajahnya tampak damai, walaupun terlhat sedikit pucat. Surai merahnya bergoyang lembut karena tertiup angin yang masuk melalui jendela.

Senyuman manis terukir di bibir Tetsumi. Akhirnya ia menemukannya, Akashi Seijuuoru. Setelah hampir setengah hari mencarinya. Tangan mungilnya bergera untuk mengelus rambut sewarna mawar itu, dan tanpa sengaja menyentuh dahi sang pemuda.

'Demam?' batin Tetsumi.

.

Perlahan Aashi mulai membuka matanya. Terasa berat. Kepalanya masih terasa pusing, walaupun tidak separah yang tadi.

Senyumannya mengembang, saat ujung matanya mendapati sosok rambut lightblue tengah tertidur pulas dengan posisi duduk dan kepala menyandar di kasurnya. Serta tangannya yang memegang erat tangan Akashi.

"Ngg..Akashi-kun kau sudah bangun ya?" tanya Tetsumi sambil mengucek matanya.

"Kenapa kau tidak kembali ke kelas?" tanya Akashi, lagi-lagi mengabaikan pertanyaan sang kekasih.

"Aku tidak mau meninggalkan Akashi-kun sendirian di sini," jawab Tetsumi sambil menatap sosok di depannya itu.

"Kau akan mendapat hukuman kalau tidak mesuk ke kelas," jelas Akashi yang mencoba merubah posisi tidurnya, menjadi posisi duduk.

"Tidak apa, aku sudah mengirim email ke Ryouka, bahwa aku sedang berada di UKS," jelas Tetsumi sambil membantu Akashi.

"Kau sudah datang terlambat, sekarang malah bolos pelajaran. Benar-benar deh." Akashi hanya dapat menghela napas panjang.

"Ma-maafkan aku, Akashi-kun," pinta Tetsumi sambil tertunduk lesu.

Grep!

Tiba-tiba Akashi menariknya dalam pelukkan pemuda itu. "Arigatou Tetsumi, kau tidak meninggalkanku sendirian."

"A-Akashi-kun?"

"Tou-san, Kaa-san, Seina dan Seita, mereka selalu saja meninggalkanku sendirian, aku merasa aku bukan bagian dari mereka," jelas Akashi sambil memeperat pelukannya. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Tetsumi. "Terimakasih kau tidak ikut meninggalkanku."

"Dasar, Bakashi."

Mendengar itu, Akashi segera melepaskan pelukannya, dan melihat Tetsumi tengan tersenyum kecil. "Baka, tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Dan aku janji aku tidak akan meninggalkanmu," jelas Tetsumi. Ia mendekatkan kepalanya, sehingga dahi mereka saling bersentuhan.

"Promise?"

"I promise."

.


"NEE-CHAN! Maaf aku hampir terlambat," sahut seorang perempuan berambut merah yang berlari ke arahnya.

"Seina! Kukira kau tidak akan datang, karena kudengar kau masih menangani kasus di Amerika," jawab Tetsumi.

Seina hanya dapat nyegir kuda, "mana mungkin aku melewatan pernikahanmu dengan Nii-chan."

Tetsumi dapat dapat tersenyum melihat tingkah calon adik iparnya ini. Seijuurou dan Seina, mereka adalah kembar. Tapi mereka memiliki pribadi yang saling berlawanan satu sama lain.

"Oiya, Nee-chan. Ini buket bungamu." Seina mengulurkan sebuah buket bunga yang cukup besar dan sangat indah. Hawtron dan sembilan mawar merah, yang berarti harapan untuk bersama selamanya.

"Helo, Akashi sudah menunggu," sela Aomine.

"Ah benar juga, aku bisa dicincang Nii-chan jika menghentikanmu di tengah jalan," sahut Seina tiba-tiba. "Baiklah, kalau begitu aku e tempat tamu ya, Nee-chan. Ganbatte!"

.

"Kuroko Tetsumi, saya memilih engkau menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup," ucap Akashi dengan jelas.

"Akashi Seijuurou, Saya memilih engkau menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup," ucap Tetsumi.

Setelah saling mengucap janji, Akashi memasangkan sebuah cicin di jari manis Tetsumi. Dan Tetsumi pun melakukan hal yang sama.

"Kalian dipersilahkan untuk berciuman," kata bapak pendeta pemimpin upacara itu.

Perlahan, Akashi mendekatkan wajahnya pada wajah Tetsumi. Tetsumi menutup matanya saat bibit lembt Akashi menyentuh bibirnya. Hany sebentar mereka bersiuman, dan Akashi kembali menarik wajahnya.

"Kali ini cukup segini, kita lanjutkan nanti malam," bisik Akashi sebelum wajahnya benarbenar menjauh. Seketika itu juga, wajah Tetsumi bersemu sangat merah.

"Dengan demikian, saya nyatakan mereka sah menjadi suami istri."

Teng...Teng...Teng...

Gema lonceng mengalun selaras dengan tepu tangan para tamu. Terlihat orang tua Tetsumi tengah menyea airmata harunya. Sang Ibu rangkaulkan tangannya di leher sang ayah yang duduk di kursi roda.

Sedangan di keluarga Akashi, ayahnya merangkul sang Ibu yang tengah bertepuk tangan. Sedangkan Seina dan Seita bertepuk tangan dengan hebohnya.

Ryouka tengah bersandar pada Aomine, dengan mata yang berkaca. Murasakibar tampak tersenyum, begitupun Midorima. Dan pasangan Momoi dan Imayoshi nampak saling berangkulan.

.

"1..2..3...!" Tetsumi melempar buket bunga itu ke belakang.

Grep!

"Kyakkkkk! Aku yang dapat!" seru Momoi heboh.

Semua yang ada di sana hanya tertawa melihat tingkah mantan manager mereka yang tidak pernah berubah.

TBC~

Fiuh~~ Akhirnya chapter ini selesai juga *nyekakeringet*

Val tahu chapter ini payah banget T,T udah ceritanya gaje, mana pas bikahan feel nya ga dapet banget. Gommen minna sang, soalnya Val ga pernah liat orang nikah di gereja secara langsung, karena itu bukan keyakinan Val. Maaf bangetttttttttttt ,

Semoga chapter ini masih menghibu reader semua *nangisdipojokkan*

Dadaaaaaaaaahhhhhhh~~ *buruburungilang*