Bagaimana Jika…


Chapter 3 : Senin


(Warning: XXX content, crime, and lemon moment! Juga pengucapan yang sering salah. Aku sudah memperingatkan kalian!)

Dia hanya menatap lelaki itu sementara, pikirannya mencoba untuk menangkap semua pembicaraan itu, namun selalu terlempar keluar ketika menangkap kalimat yang terakhir yang tadi diucapkan.

'Kamu tidak bisa menahanku untuk mengambil anak perempuanmu.'

Dia bertanya-tanya apakah dia membayangkan dia mengatakannya… Dia berjalan linglung di seberang jalan, mata bingung terfokus pada si si rambut merah tampan. Dia pasti bercanda. Dalam masa yang kehidupan singkatnya, dia telah menjadi bahan tertawaan dan ledekan orang-orang…

"APA YANG MEMBUATMU BERPIKIR KALAU KAMU BISA MENGAMBIL PUTRIKU SEPERTI DIA ADALAH PIALA?"

Mata Lee menyadap untuk kedua kalinya. Dia bergegas ke depan, menginjak rumput dengan kaki telanjang, saat ia menahan tinju dari ayahnya yang terbang, dia menangkapnya dengan telapak tangan terbuka. Dengan mata yang seperti itu, dia tahu kalau ayahnya akan membahayakan keselamatan Gaara kalau saja Gaara segera menghilang dari depan pintu. Ayahnya adalah orang yang sangat kekar dan kekuatannya tidak tertandingi selama bertahun-tahun. Satu pukulan lebih ke wajah akan menjadi akhir untuk-

"Hentikan!" Ayahnya menatap Lee dan kemudian melempar sinar merah di matanya untuk Gaara. Lee tersenyum lalu menepuk tangan ayahnya yang menonjol, "Harap tenang, semuanya baik-baik saja."

Ayahnya mendengus, tanda kalau dia sedang menenangkan diri. Mata onyxnya menutup, dia bernapas seperti yang pertama kalinya dia bisa bernapas. Walau dia sangat mencintai ayahnya, dia tidak bisa terus memperbolehkan ayahnya menakut-nakuti orang lain untuk pergi, meski teman yang benar-benar setia datang sering kali. Sungguh menakjubkan bagaimana hal-hal kecil bisa menakut-nakuti orang lain. Ayahnya tidak asal memukul orang lain tepat diwajah, yah, sampai hari ini saja.

'Pastinya, dia akan segera pergi sekarang. Tidak mungkin seseorang melewati ini semua sebagai kebercandaan.' Dan monyet telah menumbuhkan sayap dan sisik dan terbang menuju laut Atlantik. Saat ayahnya berdiri disana, berbicara sendiri- Lee hanya mendengar sebagian dari perkataanya, "Latihan semangat muda", "kue yang terbaik", "Lee, apa kamu bisa membuat kari untuk malam nanti?" Dua lengan pucat melilit pinggangnya lalu menariknya. Dia 'gyaa' saat sesuatu yang sedikit dingin tapi lembab menekan lehernya. Sesuatu yang basah menyentuh lehernya. Ayahnya terlalu jauh dari "pemuda dari pulau dimana hartamu yang paling berharga tidak sedang di aniaya oleh seorang anak setan" pikirannya.

"Apa yang kau lakukan!", teriaknya, dia mencoba berpikir untuk melakukan respon melawan, tapi otaknya buntu untuk melakukan perintah. Dia tidak pernah menemukan dirinya berada di situasi seperti ini sebelumnya. Dia tahu bela diri, jadi, kenapa dia tidak menggunakannya? Sebaliknya, dia membeku di tempat, menolak untuk membalikkan tubuh. Jika ada cara tanpa harus bertemu wajah dengan si rambut merah, dia bisa tapi dia tahu cara itu sangat sulit untuk dihindari.

Dibelakang dia, si rambut merah itu sebenarnya tertawa, si- si…cabul itu! Ketika gigi didekatkan ke lehernya seperti drakula, kejutan Lee cukup kuat untuk lompat dari lilitan lengan itu…hampir, tapi tidak begitu tepat. Walau si rambut merah itu kelihatan mudah pecah , dia kuat. Mungkin lebih kuat dari Lee… dia tidak bisa terus tertahan disini! dia bahkan tidak tahu siapa lelaki ini dan dia bukanlah mainan!

Dia tidak percaya kalau si rambut merah itu sampai memegangnya dengan cara sperti ini bahkan tepat di depan ayahnya!

"Ini tidak akan membekas. Aku sudah biasa berada di pertarungan, ini tidak ada apa-apanya. Kamu boleh mempersilakan ayahmu untuk memukulku untuk kedua kalinya, aku punya harga diri yang tinggi. Tapi, lucu juga melihatmu cepat-cepat menyelamatkanku…" Satu jilatan terakhir,, Lee bebas dari pelukan (kasar)nya. Dia berputar, satu tinju siap memukul dagu si cabul itu, tapi dia sudah berada di motornya, mesin menyala saat dia memutar kuncinya, dan langsung menghilang. Lee memegang bagian dimana si rambut merah itu jilat menggunakan jari telunjuknya. Lee menatap arah dimana si cabul itu mengebut. Apa maksud dia?

Dia menemukan rasa kekecewaan karena si brengsek itu tidak memberitahunya jam berapa dia harus menjemputnya. Dia berbalik untuk kembali ke rumahnya. Melupakan selopnya yang berada di pinggir lapangan saat dia berlari kencang menyelamatkan si rambut merah dari ayahnya. Itu hampir menyadihkan, kalau seseorang sudah terbiasa dengan pukulan dan sebenarnya membangun pertahanan diri. Apakah itu mungkin? Lebam terbentuk karena kulit yang berdarah dan pecahnya sel darah dalam tubuh… Itu yang dia pelajari saat dia belajar bela diri dan biologi. Tidak ada yang boleh meninggalkan ayahnya tanpa ada lebam, biarpun itu dipeluk atau dihajar.

Lalu,

"BERANINYA DIA YAKIN DENGAN DIRINYA KALAU DIA COCOK UNTUKMU! KALAU AKU MELIHATNYA LAGI, AKU PASTI AKAN MEMATAHKAN KAKINYA SAMPAI DIA TIDAK BISA MENGIKUTIMU LAGI!"

Lee memberikan tawa yang manis, menatap ayahnya dengan hangat. Dia tahu ayahnya tidak menatap balik, buktinya ayahnya tidak melakukan good guy pose atau hukuman bagi dirinya sendiri. Ayahnya bukannya ganas, hanya terlalu terkejut.

Lee tersenyum manis, "makan malam kali ini mau aku buatkan?"

"YOSH!"

Lee tertawa dan masuk ke dalam rumahnya. Ironisnya, ayahnya ingat selop putrinya lalu mengambilnya untuk kepeduliannya kepada putrinya. Kepeduliannya yang terkhir ketika Lee,

-WAKTU SEKARANG ADALAH SENIN, MAKAN SIANG DI SEKOLAH-

"Apa?"

Lee cepat-cepat menaruh tangannya kearah mulut temannya. Menutupinya supaya tidak berisik. Orang-orang di sekeliling mereka memberikan tampang yang menyebalkan kepada mereka lalu kembali memakan makannan mereka masing-masing. Lee melepaskan tangannya dari Tenten dengan lega. Tadi itu hamper saja… Gumam-an menggelitik telapak tangan yang menutupi mulut Tenten, yang menandakan untuk SEGERA melepaskannya. Dia tidak ingin Tenten menggigit dia lagi.

"Apa makudmu? Dia menganiayamu tepat didepan ayahmu!" walaupun Tenten telah mengecilkan suaranya, Lee tetap memaksa Tenten untuk mengecilkan suaranya. Dia menganggukan kepalanya mengerti.

"Itu yang sebenarnya aku katakana, Tenten! Dia ada dirumahku ketika aku sampai lalu dia, yah… dia bilang pada kami apa yang akan dia lakukan, dia hampir membuat ayah serangan jantung dan sampai semalaman ayah harus membetulakn pintu yang rusak…lagi!" suara Lee bahkan lebih kecil dari Tenten dengan harapan orang-orang tidak mendebgar suara mereka yang (dikira) amat rahasia. Mereka bisa saja makan dengan seperti biasa, tapi di bawah itu, telinga mereka sangat tajam jika mendengar rahasia.

"Yah, apa kamu tahu, siapa nama laki-laki itu?", Tanya Tenten dan menatap wajah Lee dengan tatapan 'dia sudah tahu', Lee tersipu lalu menundukkan kepalanya. Tenten yakin kalau dia sudah tahu siapa namanya.

"Tidak."

GUBRAAK

"Leeee… kamu ini bagaimana sih? Masa orang yang telah datang ke rumahmu, menganiaya kamu, lalu mengajakmu pergi, tapi tidak tahu siapa namanya? Kamu payah…", kata Tenten sambil menghela napasnya. Lee tetap menundukkan kepalanya, menyesal, sampai dia tertawa mendengar perkataan Tenten mengenai 'Lelaki ganteng menganiaya dia'. Yah, tidak akan pernah terjadi. Hal yang paling dekat saat laki-laki menyentuh dia… saat mereka memukai menyela dia dan mengejek. Mereka akan melempar bindernya ke lantai atau mendorongnya ke locker saat mereka ingin memperlebar jalan. Dia juga sering kali disengkat, terutama sama perempuan, sampai kakinya berdarah. Tapi, itu waktu dia masih SMP. Di SMA, murid-murid menganggap dia sebagai benda yang hilang/ tidak terlihat. Dia tahu sejak awal masuk di sekolah ini.

"Yeah, aku tebak magnet berbahayamu mengatakan untuk 'jatuhkan aku' daripada 'makan aku'. Itu menjelaskan kenapa cewek-cewek di sekolah ini melakukannya!" Ada yang tertawa dan wajah Lee memerah malu.

"Halo…"

"Hei, kak! Apa yang ayahmu lakukan?"

"Ayah sedang melakukan hal yang bersemangat seperti biasa!" Lee tersenyum, menemukan pertanyaan tadi sedikit lucu dan aneh. "… Kenapa kamu menanyakannya?"

Kiba menatap kedepan lalu menunjuk kearah luar cafeteria. "Karena dia ada disana."

"Apa?"

Kali ini, semua mata yang ada di café itu memperhatikan dia. Dia tidak peduli apa yang mereka pikirkan! Dia beranjak dari tempat duduknya untuk melihat keluar jendela, melihat lebih jelas. Disana, dengan baju hijaunya, berdiri ayahnya yang memakai teropong. Ketika dia melihat putrinya menatap dia, dia tersenyum lalu melambaikan tangan. Mulutnya mulai bergerak seperti dia ingin mengucapkan sesuatu tapi itu tidak mungkin; tentu dia yakin kalau Lee tidak akan mungkin mendengar suaranya… Tampangnya menunjukkan ke seriusan dan kemarahan, apa yang ingin dia katakan pastilah sangat penting, tapi sebenarnya apa-!

"Hei, Tenten…?"

"Yeah?" apa itu dia, atau hanya suara Tenten yang terdengar sedikit panic?

"Uh… apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Dua lengan melilit pimggangnya dan ciuman kupu-kupu ditaruh di lehernya.

"Sangat bagus." Suara dalam, suara yang familiar terjawab di belakangnya. Dia bersumpah kalau orang itu tersenyum sinis; dia bisa merasakannya.

Sangat marah melihat kelakuan Gaara, ayahnya hamper merusak kaca jendela cafeteria. Guru-guru yang ada disitu, berlari menghentikan Maito Gai dan murid-murid disuruh untuk keluar dari ruangan. Ketika ayahnya berusaha mendorong orang-orang yang mencegat dia, dia berteriak:

"ANAK IBLIS!" Dan pintu café itu tertutup dan wajah Lee berwarna merah, melihat ayahnya ditarik oleh anak-anak lain ke ruang kepala sekolah. Ini sudah ketiga kalinya dia dibawa kesana. Kiba menarik lengan Lee dari lilitan Gaara. Kiba menggeram kearah Gaara, menempatkan Lee di belakangnya sambil memulai gaya pertarungannya. Yakin banget, tidak ada yang boleh melakukan itu pada 'Kakak'nya! Karena mereka berdua sudah kenal saat melakukan perburuan dan menjadi hewan-hewanan. Teman-temannya tidak pernah mau mendekati dia karena tingkah lakunya, juga imajinasi 'bodoh'nya. Hanya Lee saja yang peduli terhadapnya. Pada saat iutlah dia mulai memanggil Lee dengan sebutan 'Kakak', walau mereka bukan saudara.

Tenten memegang tangan Lee dengan erat lalu membawanya pergi menjauh. Lee yang biasanya berwajah bingung, berubah menjadi merah seperti tomat.

Gaara menatap Kiba dengan pandangan ingin membunuhnya sekarang juga. Matanya yang tajam seperti es, terbakar oleh api, tapi Kiba lebih baik dari itu. Tidak ada yang boleh mengganggu kakaknya seprti itu! Dia akan mengajari orang ini acara memperlakukan wanita dengan baik!

"Apapun dia untukmu, dia adalah milikku. Rasa cinta yang kau berikan padanya, lupakan." Alis Kiba terangkat dan wajahnya menunujukkan kemarahan yang hebat. Apa yang dia maksudkan? Lee seperti kakaknya, dia tidak bisa melihat hubungan mereka yang begitu dekat. Percintaan bukanlah kata-kata, tapi dia mencintai dia seperti darahnya sendiri. Dia mengirim senyum hangat kea rah Gaara, bermaksud meledeknya.

"Yeah, kalau aku tidak mau?"

Di meja, tempat dimana Tenten berusaha menenangkan Lee, dia pucat. Gaara? Gaara berkata kepada si polos dan si manis Lee, ke pesta sekolah? Lee sebenarnya bisa menjaga dirinya dari orang-orang di sekelilingnya. Tapi, kenapa hal ini bisa terjadi? Lee yang harus bekerja keras untuk mendapatkan perhatian para cowok, dengan datangnya orang ini dri tempat yang tidak jelas asalnya, mudahnya langsung mendapatkan kencan? Bagaimana bisa? Tenten juga berpikiran seperti itu. Bagaimana bisa? Lee, yang tadinya pucat pasi, berdiri dari tempat duduknya, mengahampiri 2 orang yang sedang melakukan pertarungan seru. Tenten harap dia mempunyai rencana yang bagus…

-WAKTU SEKARANG ADALAH PULANG SEKOLAH-

"Itukah rencanamu! Untuk semua itu? Ya ampun, Lee!" Tenten memukul dahinya sendiri, dan memberikan tampang frustasi. "Dari tampang dia melihatmu saja, sudah pasti dia menganggapmu mainan atau apa!" Teriak Tenten dan hamper membuat telinga Lee tuli.

Ya, memeukul orang yang sangat berbahaya di sekolah menghasilkan sesuatu, dia tidak membunuh Kiba. Si rambut merah itu menatap Lee seperti dia adalah menu utama. Memanggil si rambut merah dengan kasar atau egois juga akan menghasilkan sesuatu… kalau dia peduli akan kata-katanya! Mengatakan kepadanya kalau dia tidak akan pergi sebelum dia meminta maaf karena menyakiti Kiba… berakhir bodoh sendiri dan dikira ngaco. Benar-benar bodoh! Tenten merasa kalau dia tidak tahu bagaiman sifat Lee yang sebenarnya. Itu sebenarnya satu hal karena diikuti, tapi lain soal karena dirimu diikuti orang cabul. Tenten menggeram kesal. Dia menoleh kearah temannya lalu memberikan comment yang pedas. "Ciuman pertamamu terlihat seperti dia mencoba untuk memakanmu hidup-hidup! Kenapa kamu harus mengatakan seperti itu? Itu seperti berkata 'Bawa Aku'!" Tenten menatap Lee.

"Aku tidak akan pernah tahu ada apa denganmu." Desah Lee. Dia tidak tahu apa yang salah lagipula. Gaara… orang itu benar-benar serius. Itu awalnya biasa saja, namun berubah menjadi menakutkan.

"Ada rumor mengenai dia. Tidakkah kamu mendengar berapa kali dia ditangkap dan keluarganya harus membayar sekolah supaya tidak disebarkan? Coba tebak, Lee: Dia kira dia memilikimu! Ukh, aku tidak bisa membayangkan orang-orang mau hidup bersama orang itu…-hei, Lee? Lee!"

Dia tidak akan melepaskannya tanpa adanya pertarungan! Dia berusaha membalikkan kepalanya ke belakang, namun, jari panjang dengan lembut menyelinap ke rambut lalu menjambaknya, menjaga dia tetap di tempat saat si rambut merah mulai menggoda dia dengan sentuhan sedikit. Gigi menggigit bibirnya sedikit setelah dia menciumnya, cukup kasar sampai dia teriak ; yah, itu jika udara di dalam paru-parunya tidak di curi. Lee membuka mulutnya, merasakan sesuat yang aneh, sesuatu yang panas dan basah masuk ke dalam mulutnya dan ber-eksplor seperti sedang melakukan ekpedisi. Matanya membesar sampai seperti mengambil seluruh wajahnya, menatap kearah biru laut Tokyo yang sepertinya dicampuri oleh kemarahan… Kejutan berlari kearahnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya ketika berhadapan dengan Gaara. Dengan ucapan 'maaf' yang pelan, dia mengigit bibir Gaara lalu menendangnya di bagian perut. Tapi, sesaat dia ingin mendaratkan tendangannya, kedua tangannya diputar kebelakang oleah tangan Gaara. Satu kaki menjepit diantara paha Lee. Dia terkunci sekarang. Dan sekalilagi, Gaara mendaratkan ciuman, yang sangat memaksa. Dia merintih saat Lee merasakan besi di mulutnya. Apa ada yang salah dengan orang ini? Dia menambahkan sentuhan terakhir dengan menggigit bibirnya, keras, membuat Lee lompat dari tajamnya gigitan itu. Lidah si rambut merah menjilat bagian yang ia gigit awalnya, lalu dia melepaskan Lee untuk sementara; Lee menghisap udara sebisa mungkin, lalu lidah itu menghilang. Dan. Itu. Sangat. Manis. Lee merintih di kehangatan, selruh tubuhnya mulai melemah. Bagaiman bisa dia bertarung kalau serangan tadi hanya seperti itu? Itu adalah sensor yang sangat berlebih-

"Tidak ada cara yang bisa kamu lakukan. Dia sangat jago dalam pertarungan dan kesembuhan yang sangat cepat ketika itu terluka. Pada akhirnya, kamu hanya harus minggir dari jalannya." Kata Kiba, memberikan tampang kebenaran kepada pacarnya, Shino. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja, tidak peduli apa yang Kiba katakan. Setelah mereka keluar dari café, lelaki pirang dengan 3 kumis di setiap pipinya memeluk Lee dengan erat dan mengatakan sangat bagus kalau 'Rakun brengsek yang keras kepala' akhirnya menemukan gadis yang cocok untuknya. Walaupun si rambut merah itu masih saja melilit tubuhnya dan menngirim ciuman kupu-kupunya lagi, Kiba nyaris terbunuh karena mengganggu kesenangan Gaara. Dan Shino harus membawanya pergi ke ruang kesehatan.

Setelah itu,

Kiba membalikkan kepalanya kearah Lee, "Hei, kak, kau baik-baik saja?" Lee tertinggal beberapa langkah di belakang teman-temannya. Matanya memngarah kebawah dan jarinya menekan bibirnya yang sedikit berdarah, tempat dimana Gaara menggigitnya. Dia mengangkat kepalanya, melihat teman-temannya dengan pandangan peduli… yah, mungkin semuanya, kau bisa bilang Shino ikut melihat.

"Dia tidak bercanda…", Tenten menutup matanya dan mengeluh. Shino menggelenkan kepalanya dan Kiba,

"Dia seperti orang sialan!" Lee menatap Kiba yang hampir meledak sebalum ,mengeluh. Dia mengangkat bahunya dan mengambil napas dalam-dalam.

"Yah, kalau dia ingin mencari masalah, dia akan menerimanya! Tidak ada yang boleh mendoronga teman-temanku! Jika aku tidak sukses membuat Gaara meminta maaf, aku akan pergi ke pesta sekolah bersamanya dengan keinginanku sendiri!", satu kepalan direntangkan dan senyum yang cemerlang bersinar terang. Lee bersumpah dengan akan perjanjian itu dengan good girl pose.

Ketiga temannya bengong.

Senyum Tenten terpaksa dan berjalan pelan kearah temnnya, lalu memukul kepala sahabatnya.

"Lee, diamlah!" jika ada saja orang yang berada di sekeliling mereka, tentu mereka akan menahan Tenten untuk memukul. Kenapa Lee harus begitu keras kepala?

Kiba menggeram dalam hati, dia harus melakukan urusan ini demi masa-masa sekolahnya dulu dan sekarang bersamanya. Kau pikir kakak harus tumbuh seperti ini… jika iya, dia tidak akan menjadi temannya lagi untuk selamanya.

Jangan sampai dia seperti itu.

TO BE CONTINUED…

A/N: KUCAMPURKAN DALAM MASA-MASA SEKOLAHKU DULU , TOLONG READ AND REVIEW! MAAF ATAS KETRLAMBATAN FIC INI! FIC INI KUDEDIKASIKAN KEPADA TEMANKU SEKALIGUS ORANG KUSUKA, ADI S.