Criminal Girls

Disclaimer : Masashi Khisimoto

Rated : T

Genre : Friendship, Adventure, Supernatural, a littel Romance, and maybe Humor

Character : Naruto, Hinata, Kyuubi, Neji, Tenten,

Pair : NaruHina, NejiTen

Warning : Typo's, OoC, Bahas Jepang yang aneh, kurangnya kata, dll.

Chapter 3 : Flight

Ket :

Italic : Bahasa Jepang atau bahasa yang bukan bahasa Inonesia.

Bold : Dalam pikiran

ItalicBold : Mimpi Naruto


"Tiga hari lagi jika kita melakukannya sesuai jadwal. Dan mari kuperkenalkan anggota timmu selain Hyuuga Hinata. Kau kemarilah."

Seseorang dengan jubah hitam melangkah dari pojok ruangan. Seluruh tubuhnya tertutupi oleh jubah hingga kekepala. Sedikit rambut merah keorangean mencuat dari tudung jubahnya. Kakinya beralaskan sepatu boot tentara yang tampak berat. Kedua lengannya bersilang di depan dada. angkuh.

Naruto langsung menyadari keberadaan orang itu yang semula tidak ia sadari sama sekali. Dan dari gaya dan cara orang itu melangkah, entah mengapa Naruto merasa mengenalinya. Dan Saat orang itu membuka tudungnya, segurat wajah tampan membuat Naruto membelalakan manik saffirnya, iris yang sewarna dengan orang di hadapannya itu.

"Hei, Naruto. Lama tidak bertemu ya?" seseorang yang diketahui pria itu menyeringai lebar melihat reaksi Naruto.

"Aniki!?" Naruto berseru kaget. Dan di sampinganya, Hinata membelalakan matanya. Gadis itu tidak kalah kagetnya dengan Naruto.

"Yo, Naruto, Hinata." Pria tinggi dan berwajah mirip Naruto itu melangkah mendekati Hinata dan memeluk gadis itu.

"Hei kau!" Neji berseru dan maju dari tempatnya berdiri, "Lepaskan Hinata!"

"Benar, lepaskan Hinata-chanku." Naruto ikut berseru mendukung Neji. Walau akhirnya hanya mendapat sikutan dari pria berrambut panjang itu.

Pria itu tertawa keras melihat kelakuan dua orang di hadapannya dan merangkul bahu Hinata. Sedangkan Hinata hanya terdiam di dalam pelukannya dan mengendus bosan melihat kelakuan Kakaknya dan Naruto.

"Maa.. Maa.. Sudahlah kalian. Neji hentikan kelakuanmu itu.. Lagian apa salahnya aku memeluk 'calon' adik iparku." Pria itu menyeringai lebar dan melirik Hinata saat mengatakan kata 'calon'. Neji yang selalu tentang dan datar itu selalu mudah dijahili jika menyangkut adiknya.

"Siapa, Kyuu-nii?"

"Eh?" merasa ada aura buruk di sampingnya pria yang dipanggil Kyuu itu langsung melepaskan rangkulannya pada bahu Hinata dan menyingkir dari gadis bersurai indigo itu. "Bukan siapa-siapa, Hinata-chan."

"Namikaze Kyuubi." Keempat orang itu kembali menatap Darui dengan wajah serius, "Kau jelaskan pada mereka tentang misi ini dan bersiaplah dalam tiga hari. Disaat hari-H, kalian kembali berkumpul di sini untuk mendapat penjelasan yang lebih terinci. Kalian bisa keluar sekarang!"

"Hai'k."


"Di mana Hebi akan mengadakan transaksi?" Tanya Naruto tiba-tiba.

"Hm?" Kyuubi menjauhkan cangkir kopi dari mulutnya, meletakan di meja di hadapannya dan memasang mimik serius. "Di perbatasan kota Kumo dan Iwa. Kita juga akan mendapat bantuan dari SS dari Iwa."

"Souha?" tanya Naruto dengam mulut penuh ramen.

"Naruto, telan dulu makananmu baru bicara!" hardik Hinata jengkel.

Naruto menelan ramennya dengan cepat. "Hai'k." Balas Naruto takut-takut. matanya memicing pada Kyuubi meminta pertolongan.

"Kau itu.."

"Maa maa, sudahlah kalian." Kyuubi menyeruput kopinya sejenak, "Kita bahas saja strategi yang akan kita gunakan untuk misi ini." Tambahnya. Ia mengambil sesuatu dari tas punggung hitam di dekat kakinya. Ia mengeluarkan kertas besar dari dalam tas itu.

"?" Naruto dan Hinata hanya bisa bertanya-tanya melihat kertas berukuran besar di tangan Kyuubi.

"Ini peta perbatasan Kumo dan Iwa. Semuanya tergambar dengan terperinci." Ujarnya sembari membentangkan kertas itu di atas meja. "Ini daerah yang kemungkinan akan menjadi tempat diadakannya transaksi." Kyuubi menunjuk daerah kecil di peta itu.

"Tempat apa itu?" tanya Naruto heran.

"Bekas gudang penyimpanan bahan matrial. Gudang itu milik kelurga Uchiha." jawab Hinata. Gadis itu menekuk lututnya dan memeluknya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menunjuk daerah lain yang ada di peta.

"Itu daerah kosong bekas pabrik entah apa. Kita bisa mengintai transaksi itu dari sana. Dan daerah ini," Hinata menunjuk sebuah tempat yang tergambar di peta, "Bisa menjadi tempat persembunyian kita untuk menyergap anggota Hebi."

"Aku rasa itu ide yang cukup bagus." Kyuubi menyenderkan tubuhnya di sofa. "Tapi banyak kelemahan di sana." Tambahnya.

"Kelemahan?" tanya Naruto.

"Bisa saja Hebi sudah memasang perangkap di sana. Atau yang lebih parahnya lagi, Hebi sudah menduga-duga rencana kita ini." Jelas Kyuubi. Pupil matanya sekilat tampak berubah menjadi garis hitam vertikal.

"Tidak." Naruto menggeleng. "Lihat ini," Naruto menunjuk daerah bekas pabrik yang ditunjuk Hinata sebelumnya, "Banyak lahan kosong di sana, dan itu merugikan kita. Lalu ada bangunan kecil ini. Hebi pasti tidak akan mewaspadai tempat yang tidak menguntungkan untuk kita semacam ini."

"Tapi, walau pun Hebi tidak mewaspadai tempat ini –seperti yang kau bilang, bukan kah ini masih merugikan kita?" Hinata tampak bingung dengan penjelasan Naruto.

"Memang banyak lahan kosong di sana. Tapi kita bisa menutupinya dengan anggota yang sedikit." Naruto tampak yakin dengan penjelasannya.

"Hm.. Jika memiliki banyak anggota, tempat dengan lahan kosong yang luas memang membuat kita mudah ditemukan. Tapi kita hanya bertiga. Banyak tempat yang bisa menjadi tempat sembunyi atau tempat melarikan diri yang bisa kita pakai."

Kyuubi mengelus dagunya, memikirkan rencana apa yang bisa dipakai dengan kondisi yang ada. "Kita pakai rencana Hinata. Aku akan meminta satu kelompok kecil SS Kumo untuk memeriksa pabrik ini dan gudang." Ujar Kyuubi tegas.

"Shikashi," raut wajah Hinata menunjukan ketidak setujuan. "Rencana tidak matang seperti ini bisa membahayakan SS Kumo yang akan menyergap anggota Hebi. Lebih baik kita mengintai langsung dari gudang dan mengabarkan pada kantor." Hinata menggebrak meja di hadapannya. Naruto yang duduk di sampingnya hanya bisa mengamati dalam diam.

"Akan banyak celah yang merugikan kita jika kita melakukannya seperti itu. Waktu dan jarak yang ditempuh sangat merugikan kita." Kyuubi meminum sedikit kopinya. "Aku rasa rencana mengintai dari pabrik tidak buruk. Naruto, minta pada Sasuke untuk menediakan peta lengkap pabrik dan gudang itu. Sisanya biar aku yang urus."

"Tapi, Kyuu-nii!" Hinata masih ragu dengan rencana tidak pasti itu. Jelas rencana itu merugikan dan membahayakan pihak mereka. Tapi Hinata tahu pasti orang seperti apa Namikaze Kyuubi. Kyuubi bukan tipe orang yang melakukan sesuatu bila itu bisa merugikannya.

"Sudahlah Hinata. Kyuu benar. Rencana ini yang paling baik untuk kita ambil. Dan aku yakin Kyuu bisa mengurus segalanya." Naruto berjalan menjauh dari ruang tamu yang sedari tadi mereka gunakan untuk menyusun rencana. Pria kuning itu berjalan menuju daput sambil membawa kemasan bekas ramen yang sudah tandas.

"Dan bukankah kau yang mengusulkan ide ini untuk pertama kali? Dan aku juga yakin Kyuubi pasti sudah mempertimbangkan segalanya." Ujar Naruto dari dapur.

"..." Hinata hanya diam tanpa membalas ucapan Naruto. Sedangkan Naruto hanya bisa diam melihat tingkah laku Hinata yang berubah menjadi pendiam.

"Naruto." Tiba-tiba Hinata memanggil Naruto dengan intonasi sendu.

"Nani?"

Hinata terdiam sesaat. Seolah enggan mengatakan sesuatu. "Aku rindu tidak menindasmu selama satu setengah tahun." Jawabnya dengan seringai tipis di bibir.

"EHHH?" Naruto hanya bisa berteriak keras mendengar perkataan Hinata.


"Ne, Naruto?"

"Nani?"

"Kita,"

"Hn?"

"Bokutachi tomodachi, da yo ne?"

"Aa.. To... Hinata?"

"..."

"Hinata? Hinata? HINATA?!"


Nafas Naruto tampak tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat dan bahunya sedikit bergetar. Pria bersurai pirang itu lalu memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia terbelalak kaget dengan mimpi yang baru dialaminya. Kenangan itu. Hinata. Air mata Naruto jatuh melalui matanya yang tertutup erat.

"Naruto, kau baik-baik saja?" sosok tinggi tegap kakaknya muncul melalui celah pintu yang terbuka. Pria itu masih mengenakan kaus polos dan celana kain pendeknya. Rambut dan raut mukanya masih berantakan khas orang baru bangun tidur.

"Kyuubi? Aku baik-baik saja." Naruto kembali membaringkan tubuhnya yang menggigil. Sisa air mata masih singgah di sudut matanya.

"Mimpi buruk lagi, eh?" Kyuubi melangkah mendekati Naruto dan duduk di tepi tempat tidur Naruto. Sebelah tangannya menopang dagu di atas lututnya dan sebelahnya lagi mengelus dahi Naruto lembut.

"Hmm.." Naruto membalas dengan gumanan tidak jelas yang membut kakak laki-lakinya kian khawatir.

"Tentang... Hinata?" Kyuubi berkata tidak yakin. Nyaris berbisik.

"Hmmm..." Naruto berguman panjang sebagai balasan. Sepertinya pria itu tidak ingin mengungkit tentang mimpi buruknya.

Kyuubi terdiam sesaat. Matanya yang biru tua dalam memincing curiga. "Kau masih mempermasalahkan hal itu? Lihat Hinata! Gadis itu tampak baik-baik saja. Ia sudah memaafkanmu, aku yakin." Kyuubi nyaris membentak adik pertamanya itu. nyaris, jika saja ia tidak ingat betapa sengsaranya Naruto saat-saat kejadian itu baru terjadi.

"Kyuu-nii.." suara Naruto tampak bergetar dan hilang. "Aku baik-baik saja. Oke?" ia berbisik pelan. Menyembunyikan kepalanya dalam selimut. Memeluk bantal erat hingga menutupi seluruh wajahnya yang basah. Entah basah oleh keringat atau hal lainnya.

Kyuubi hanya bisa mendesah mendengar suara Naruto yang tampak lemah. Pria itu tahu, bila Naruto sudah memanggilnya Kyuu-nii atau Nii-san itu artinya ia tidak ingin diganggu. Jadi Kyuubi hanya bisa membiarkan Naruto yang tampak gusar sendirian di kamarnya. Pria itu melangkah pergi dengan raut muka yang tampak sulit.

"Oyasumi, Naruto."

"Oyasumi, Kyuu-nii."


"Ohayou, Naruto." Tenten berdiri di dekat meja makan dengan tangan penuh oleh alat penggorengan. Gadis keturunan China itu tersenyum ceria dengan appron di tubuh rampingnya.

"Ohhahhuu," Naruto menguap lebar. Menggaruk perutnya yang tidak gatal dan duduk di meja makan. Tepat di samping Hinata yang sudah memulai sarapannya.

"Ada sendwich dan omelet rice, pilih yang mana?" Tenten mengangkat penggorengan di tangan kirinya dengan kedipan mata. Neji yang duduk di sampingnya tampak bosan dan memutar mata pucatnya.

"Omelet rice dan ocha saja." Naruto menjawab sekenannya dan menunggu Tenten mengambilkan sarapannya. Ia membaringkan kepalanya di atas tangan dan menatap Hinata lekat-lekat. Sedangkan Hinata memilih mengabaikan tatapan Naruto yang terarah padanya.

Suasana menjadi hening sepeninggalan Tenten ke dapur. Neji hanya memakan sarapannya sembari membaca koran pagi. Hinata meminum morning teanya dalam diam. Sedangkan Naruto masih menatap Hinata melalui ekor matanya.

"Ohayou, minna." Kyuubi muncul dari atas, menuruni tangga dan duduk di samping Neji. Ia mengambil setangkup roti dan selai strawberry di atas meja dan langsung melahapnya tanpa basa-basi.

"Loh, Kyuubi-nii hanya makan itu?" Ten-ten keluar dari dapur dengan nampan ditangannya. Ia meletakan sepiring omelet rice dan ocah di depan Naruto.

"Yah, aku akan sarapan dengan seseorang nanti." Kyuubi tersenyum tipis pada Ten-ten. Tampak merasa bersalah dengan gadis bercepol dua itu.

"Oh, lalu mau minum sesuatu terlebih dahulu?"

Kyuubi meletakan jari telunjuknya di depan bibir dan memasang mimik sok imut. "Susu hangat?"

"Hoeekkk.." Naruto memasang mimik ingin muntah. Tangannya mengibas-ibas di udara dengan berlebihan. "Mati saja kau Kyuubi!" Kyuubi dan Ten-ten hanya tertawa melihat reaksi Naruto. Sedangkan Neji hanya tersenyum kecil melihat tingkah ketiga orang itu.

Tanpa sepengetahuan ketiga orang lainnya, Naruto kembali melirik pada Hinata yang masih membisu di tempat duduknya. Gadis itu tampak lesu. Dan Naruto menyadarinya sejak ia duduk di samping Hinata.

"Kau baik-baik saja?" Naruto mengulurkan tangannya, mencoba mengusap kepala Hinata. Tapi tangan pucat Hinata menepis tangan Naruto dengan cepat. Naruto membeku saat mata amethsty Hinata menatap manik birunya tajam.

Nafas Hinata memburu dan mukanya memerah menahan kesal, "Damare," pekiknya dan berlari menjauhi meja makan.

Naruto, Kyuubi, dan Neji hanya bisa membatu melihat reaksi Hinata yang berlebihan. Sedangkan Ten-ten hanya bisa menghela nafas berat. "Yak, kalian bereskan sisanya! Biar aku yang melihat Hinata." Katanya sebelum beranjak dari ruang makan.

"Ada apa sih?" tanya Kyuubi heran.

Neji hanya bisa mengangkat bahu dengan mimik aneh. Sedangkan Naruto tampak memucat dan mulai mengerti dengan sikap aneh Hinata.


"Hinata baik-baik saja Naruto. Tidak perlu khawatir." Jawab Ten-ten ketika Naruto bertanya perihal sikap aneh Hinata. Ten-ten menacak rambut pirang Naruto mencoba menenangkan pria Namikaze itu.

"Tapi ia terlihat marah sekali padaku." Naruto menunduk lesu. Jemarinya bermain gugup di atas meja makan. Tubuhnya menggeliat tidak nyaman di atas kursi meja makan.

"Ia selalu seperti itu Naruto. Tapi jika kau benar-benar merasa bersalah kau bisa meminta maaf pada Hinata." Usul Ten-ten disertai senyum lembut.

"Hmmm.." Naruto tampak menimbang usul Ten-ten. Setelah lama berfikir akhirnya kepala kuning itu mengangguk sekilas mengiyakan usul Tenten. "Aku akan ke kamarnya sekarang." Naruto langsung beranjak dari tepatnya duduk dan melangkah cepat menuju kamar Hinata.

"Terima kasih, Ten-ten nee-chan." Seru Naruto dari tangga.

Ten-ten hanya bisa tersenyum maklum melihat tingkah Naruto yang terkadang sangat kekanak-kanakan. Tapi sesaat kemudian senyum itu tergantikan dengan mimik khawatir akan perkembangan kedua juniornya itu.

"Kuharap mereka baik-baik saja nantinya."


Naruto mengetuk pintu kamar Hinata dengan penuh sabar. Lima belas menit sudah pria berkulit tan itu mengetuk pintu kamar Hinata tanpa jawaban. Sedikit banyak Naruto merasa kesal pada tingkah Hinata yang menjauhinya. Padahal kemarin Hinata baru menyiksanya tanpa ampun.

"Hinata, buka pintunya atau akan aku dobrak." Kata Naruto dengan nada mengancam.

"..." Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar Hinata. Sepintas Naruto merasa khawatir. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada gadis bersurai indigo itu. Tapi langsung ditepisnya perasangka buruk itu jauh-jauh.

"Ne, Hinata-chan." Naruto akhirnya memilik mendobrak paksa (membuka kunci pintu dengan penjepit kertas) pintu bercat putih salju itu. setelah pintu terbuka, Naruto dapat melihat Hinata yang bergelemut di dalam selimut tebal lavendernya.

"Hinata." Naruto menyibakan paksa selimut itu dari tubuh Hinata. Di dalam selimut itu terlihat Hinata yang terisak kecil. Naruto langsung merasa bersalah.

"Hikss.. Pergi kau.. Kau bukan siapa-siapaku kan?" Bentak Hinata marah.

"Tap.. Ta.. Tapi.." cicit Naruto. Pria itu bergerak gelisah di tempatnya berdiri. Menatap bahu bergetar milik Hinata yang kecil dan rapuh. "Aku tahu kau menangis karena salahku. Tapi.."

"Kubilang untuk kau pergi kan?!" Bentak Hinata.

"Aku.." Naruto tampak kehabisan kata-kata. Wajahnya yang biasa cerah kini tampak pias melihat Hinata.

"Kau yang tidak menganggapku teman kan? Hingga saat ini!" Hinata menoleh menatap Naruto tajam dengan mata peraknya. Kedua mata itu memerah dan tampak sayu. "Aku mendengar percakapanmu dengan Kyuubi-nii kemarin malam." Hinata kembali memunggungi Naruto.

Pupil mata Naruto mengecil mendengar penuturan Hinata. Tiba-tiba dadanya terasa terhimpit oleh batu karang besar, menyesakan dan menyakitkan. Perasaan bersalah segera menenuhi rongga dadanya. "Kau.. tidak.. iya kan?" Naruto merancau tidak jelas.

"Aku kira kau sudah melupakannya dan menganggapku teman." Hinata berkata kecut. Pipinya tampak merona. Begitu pula dengan hidungnya. Hinata terisak kecil. Pupus sudah pertahananya. Padahal sampai saat ini ia selalu mencoba menjadi gadis kuat. Tapi semuanya gagal di depan orang yang paling tidak ingin ia pelihatkan sisi lemahnya.

"..." Naruto hanya diam membeku. Matanya terpejam erat sesaat dan mimik wajahnya berubah.

"Tapi, kau malah merasa terbebani oleh keberadaanku." Hinata tersenyum muram. "Sudahlah," Hinata mengusap kasar air mata di wajahnya. "Anggap semua hal ini tidak pernah terjadi. Bukan kah dari dulu kita selalu melakukannya?" Hinata menyeringai tipis.

Naruto membuka bibirnya, tapi melihat ekspresi getir di wajah Hinata, ia kembali mengatupkan bibirnya.

"Aku mau tidur Naruto. Oyasumi." Hinata merebahkan tubuhnya.

"Oyasumi, Hina-hime." Naruto mencium puncak kepala Hinata lembut, kemudian menyelimuti tubuh Hinata dengan hati-hati.

"Oyasumi," Naruto berbisik kecil sebelum meninggalkan kamar tidur Hinata, mendengar dentuman kecil pintu di belakangnya dan berlalu menjauhi kamar Hinata.


Hinata membuka matanya. Seberkas cahaya memasuki kamar tidurnya melalui celah kecil di jendela. Gadis itu mengerang kecil dan merenggangkan tubuhnya yang kini terduduk malas di atas tempat tidur.

"Kalau Naruto melihat posisi itu, dia akan langsung menyerangmu, Hyuuga-sama."

Hinata menoleh cepat ke arah pintu kamarnya. Dan dilihatnya Uchiha Sasuke tengah bersender santai pada kusen pintunya dengan tumit menempel pada kusen pintu. Tangan bungsu Uchiha itu terlipat di depan dada angkuh.

"Ada apa Uchiha yang termormat ini ada di kamarku yang begitu kecil dan jelek?" Hinata bangkit dari posisinya dan berdiri di depan Sasuke, menantang pria berambut pantat ayam itu.

"Hn," Sasuke hanya melongso dan berlalu santai, menghiraukan Hinata begitu saja.

Hinata sendiri tampak acuh dan memilih pergi membersihkan badanya di kamar mandi pribadinya. Tanpa menyadari mata safir yang sedari tadi mengamatinya dengan perasaan bercampur aduk. Terlihat dari manik biru laut yang menatap Hinata dan Sasuke begitu intens.

"Sedang apa kau, Naruto?" sebuah tepukan halus mendarap di bahu Naruto.

"Eh? Ten-ten nee chan." Naruto hampir saja menepis kasar tangan gadis China itu.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Ten-ten menyengir jahil pada Naruto. "Melihat Hinata membuka baju, misalnya?" Alis coklat Ten-ten terangkat naik.

"Bu... BUKANNN.. Tidak ada yang terjadi kok." Naruto tersenyum gugup.

"Heee?" Ten-ten menatap Naruto penuh curiga. "Ya sudah kalau begitu. Sasuke sudah ada di ruang makan. Cepat menyusul ya." Ten-ten kembali menepuk bahu Naruto. Kali ini lebih kencang dan seperti berniat menenangkan Naruto.

"Baik." Naruto tersenyum tipis. Menghargai usaha Ten-ten yang berniat menghiburnya.


Naruto berjalan menuruni tangga, berjalan santai menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada Kyuubi yang tengah membaca berkas-berkasnya. Sasuke yang tengah meminum teh dari cangkir khusus miliknya. Dan Hinata. Gadis itu tampak tengah membaca novel tebal berbahasa asing.

"Apa semuanya sudah beres?" Naruto duduk di pegangan sofa dan menyender santai. Tangannya bertumpu pada bahu kaku Kyuubi.

"Buruk. Denah ini sama sekali tidak membantu." Kyuubi membanting cetak biru dari gudang milik keluarga Uchiha di tangannya. "Aku perlu melihat sendiri gudang itu. Shikashi, keluarga Uchiha sudah membuang gudang itu dan sebuah pengusaha akan membelinya jadi kita tidak bisa seenaknya berada di sana. Kecuali menyusup."

Kyuubi mendesah frustasi. "Ini benar-benar..." pria bersurai orange kemerahan itu memijat pangkal hidungnya dengan kesal." Lalu diambilnya setumpuk kertas, juga kacamata berbingkai perak tipis. "Aku harus memikirkan ini sehari lagi." Gumannya.

"Baru kali ini kulihat Kyuubi-nii tampak frustasi." Sasuke meletakan cangkirnya di atas tatakan dengan halus. "Apa aku perlu meminta izin untuk melihat gudang itu?" Sasuke bertanya menawarkan.

"Apa otakmu mulai buntu, Teme?" Naruto tersenyum mengejek. "Kalau bisa semudah itu pasti Kyuu sudah melakukannya dari kemarin." Naruto menggoyang-goyangkan bahunya prihatin. "Payah." Dengusnya.

"Apa maksudmu, Dobe?" Sasuke menyernyitkan dahinya dalam.

"Tentu saja pengusaha yang membeli gudang keluargamu itu adalah Hebi. Dan Kyuu pasti tidak akan mengambil resiko dengan Hebi mengetahui ia menyelidiki gudang itu." Jelas Naruto.

"Tapi kita bisa membuat alibi lain untuk memeriksa gudang itu kan?" Hinata menyela.

"Iie, kalau bisa begitu sudah kulakukan. Kita harus melakukannya dengan meminimalkan Hebi mengetahui rencana ini." Naruto merebahkan diri di sofa panjang, menjadikan pada Hinata sebagai bantalnya.

"Kupikir itu bisa di lakukan." Sasuke menekuk kakinya dan menumpu tangannya di atas lutunya. "Ide Hinata masih bisa di pakai." Sasuke meletakan dagunya di atas telapak tangannya. Kemudian mata onyxnya menatap Hinata tajam.

"Kita tidak bisa melakukannya. Ada banyak orang yang akan menyerang Hebi nantinya. Dan aku tidak ingin kita melakukan hal berbahaya yang bisa membahayakan." Kyuubi menutup map berwarna biru dengan kasar. Kemudian tangannya yang lain meraih map lainnya di atas meja.

"Kau tidak pernah mau menerima konsekuensi terkecil sekali pun, Kyuubi-nii." Sasuke mencela Kyuubi dengan datar.

"Lebih bagus kalau tidak dilakukan kok.." Naruto memiringkan posisi tidurnya. Lalu tangannya memeluk pinggang Hinata lembut.

"Hei apa yang kau lakukan? Jangan bermesraan di sini, Aho." Kyuubi melempar sebuah pensil mekanik tepat pada kepala Naruto dan sukses mengenai kepala pirang itu.

"Itaiiii.." Naruto mengaduh. Tapi bukannya melepaskan pelukannya, Naruto malah merengek manja pada Hinata. "Kyuu jahat padaku, Hnata-chan."

"Amit-amit kau, Naruto." Kyuubi mencibir pedas.

"Kimochi warui." Sasuke berkata sarkastik tanpa merubah ekspresi wajahnya yang tetap datar.

"Biarinnnn.. Baka Aniki.. Awas saja kau Teme." Naruto mengeratkan pelukannya. Ditambah tangan kirinya kini mengusap rambut panjang Hinata. Hinata sendiri memilih mengacuhkan ketiga pria berisik di dekatnya itu.

"Naruto, apa yang kau lakukan pada Imotouku.." Dan jeritan Neji mengakhiri kemesraan singkat NaruHina.

*Tsuzuku*


Sebelumnya, terima kasih untuk yang sudah membaca dan mereview fanfic aneh ini.. Saya benar-benar terharu dan senang, juga bahagia. Sekali lagi terima kasih. Maaf jika ada yang tidak terbalas reviewnya atau lanjutan ceritanya jelek dan membosankan.

Selamat bagi yang benar menebak siapa Aniki Naruto. Yah, saya memang tidak bisa membuat kesan misterius ya... Tapi akan ada banyak hal yang perlu di bahas di chapter depan. Ada Hebi, masalah NaruHina di masa lalu, hubungan buruk Kyuubi dan Naruto (walau belum jelas terlihat), dan lainnya.

Saya sendiri bingung apa fanfic ini perlu di tamatin setelah kasus ini selesai karena terlalu gaje. Tapi akan sangat banyak rahasi menggantung nantinya. Dua chapter lagi (mungkin) kasus pertama ini akan selesai. Tapi tidak tahu juga sih.

Pokoknya silahkan beri saya kritik, protes, kesan, pesan, pujian (maunya), dan pertanyaan. Mungkin chapter ini masih membingungkan dan banyak typo yang tidak termaafkan saking banyaknya. Tapi, review anda sekalian sangat dibutuhkan di sini.

Juga maaf atas cerita ini yang lama sekali updatenya (kalau ada yang masih mau membaca fanfic ini). Ada banyak masalah dan kesibukan. Semoga chapter depan lebih bagus dari chapter ini. Terima kasih telah membaca dan mohon reviewnya jika berkenan.