Hansol paling anti kalau disuruh menceritakan tentang kisah cinta pertamanya.

Teman-temannya kadang mengejeknya, berkata kalau Hansol selalu berbohong setiap kali ia mengatakan bahwa ia sudah pernah jatuh cinta pada seseorang, karena ia tidak pernah sekalipun menceritakan tentang cinta pertamanya itu, bahkan Yuta saja tidak pernah mendengar cerita tentang cinta pertama Hansol. Setiap kali teman-temannya mulai membahas tentang cinta pertama mereka, Hansol hanya akan ikut mengomentari atau tertawa, tidak pernah mau menceritakan tentang kisahnya sendiri. Hal itu tentu membuat teman-temannya penasaran, tapi Hansol selalu menolak untuk membuka mulutnya.

Tidak, Hansol tidak berbohong ketika dia bilang kalau dia sudah pernah jatuh cinta sebelumnya. Ia pernah, sekali. Hanya sekali, dan sudah cukup untuk membuat Hansol takut jatuh cinta. Ia tidak ingin mengalami rasa sakit itu lagi. Sudah cukup satu kali itu saja.

Shadow

Johnny, Seo x Hansol, Ji

Romance, Hurt/Comfort

NCT, SM Rookies © SM Entertainment

"Aku tidak mengerti."

"Sungguh? Wah. Keren."

"Aku serius, Hansol!" Yuta berkata, seraya mengambil ponsel yang sedaritadi menyita semua perhatian Hansol. Terdapat raut serius di wajah Yuta, sampai-sampai ia bahkan tidak mempedulikan ekspresi kesal di wajah Hansol ketika ia mengambil ponselnya itu dari genggamannya. "Dengar, kau tahu reputasi Johnny, kan? Dia bukan pria baik-baik, Sol."

"Aku tahu, Yuta. Begini-begini aku tidak pernah ketinggalan gosip ya, apalagi gosip-gosip tentang seorang Johnny Seo. Sekarang, kembalikan ponselku."

"Lalu kenapa? Kenapa kau malah mau membantunya untuk mendekati adikmu? Kau tidak sayang pada adikmu itu, ya? Jangan-jangan kau memiliki dendam tersendiri padanya? Atau—"

"Kau ini berisik sekali, sih!" Hansol menghela nafasnya, merebut kembali ponselnya yang berada di genggaman Yuta. "Tentu saja aku sayang pada adikku, mana mungkin aku tidak sayang?"

"Kalau begitu kenapa kau menawarkan bantuan pada Johnny?"

Hansol menghela napasnya. "Aku tidak akan benar-benar membantu Johnny. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa membuatnya mengurungkan niatnya untuk mendekati adikku, jadi aku memutuskan untuk pura-pura membantunya. Aku akan memberitahunya informasi-informasi salah tentang Taeyong, seperti mengatakan bahwa Taeyong sangat suka menonton film horror, padahal sebenarnya anak itu bisa terus-terusan mengumpat sepanjang film dan ngambek pada siapapun yang membuatnya menonton film horror. Pokoknya aku akan membuat Taeyong benar-benar tidak menyukainya sampai mustahil bagi Johnny untuk mendapatkan adikku."

Yuta terdiam, dirinya membutuhkan beberapa saat untuk memproses perkataan Hansol. Tidak butuh waktu lama sampai senyum merekah di wajah Yuta, dan Hansol hanya bisa memutar bola matanya pada sahabatnya itu. Ia agak kesal karena Yuta sempat meragukannya seperti barusan.

"Aku memang seharusnya tidak meragukanmu," Yuta menepuk-nepuk pundak Hansol. "Aku tahu kau tidak mungkin dengan suka rela membantu si playboy nomor satu itu untuk mendekati adikmu. Aku tahu sahabatku ini masih waras."

Hansol hanya mengangguk-anggukan kepalanya malas, tatapannya kembali terfokus pada layar ponselnya, lebih tepatnya pada percakapan antara dirinya dan adiknya di kakaotalk.

Hansol dan Yuta saat ini sedang berada di dalam kelas, namun dosen yang seharusnya mengajar mereka belum juga datang, padahal 30 menit sudah berlalu. Sedangkan Taeyong, meskipun ia sudah tidak memiliki kegiatan apapun dan Hansol sudah menyuruhnya untuk pulang ke rumah dan beristirahat, Taeyong tetap bersikeras untuk menunggui kakaknya itu sampai selesai. Hansol yang tahu bahwa adiknya itu memang sangat keras kepala dan tak akan mengubah pendiriannya apapun yang terjadi, hanya bisa membiarkannya menunggu di taman universitas sampai jadwalnya selesai—yang kira-kira masih satu jam lagi.

Sejak pertama kali Hansol mengenal Taeyong, sosok adik angkatnya itu memang sudah menjadi seorang pribadi yang keras kepala, dan terkadang egois, terutama ketika sisi perfeksionisnya mulai muncul. Ia selalu ingin semua hal dalam hidupnya untuk berjalan sesuai kehendaknya. Taeyong tidak suka kekalahan, ia tidak suka dengan yang namanya kekecewaan. Karena itulah adiknya itu sesungguhnya tipe orang yang realistis, selalu berusaha untuk tidak berharap pada sesuatu, terutama pada hal-hal yang belum pasti. Namun ketika Taeyong tahu bahwa kesempatannya besar pada suatu hal, ia akan berusaha keras, akan melakukan apapun, untuk mendapatkan hal tersebut.

Dulu—bahkan mungkin sampai sekarang masih—Hansol selalu iri pada Taeyong. Ia terkenal dengan sebutannya sebagai sosok sempurna di kalangan teman-teman dan guru-gurunya di sekolah dulu, semua karena bakatnya di bidang akademik dan olahraga. Ia iri karena Taeyong selalu tampil percaya diri dan menonjol secara natural, ia juga iri karena Taeyong begitu disukai oleh orang-orang di sekitarnya. Ia iri karena Taeyong memiliki lingkaran pertemanan yang begitu luas, dan bisa disebut sebagai salah satu siswa paling populer di sekolah. Bahkan ketika Taeyong mulai menunjukkan kekurangannya—keras kepala, kadang egois, terlalu realistis sampai kadang tidak mau berusaha—semua orang seakan-akan kompak untuk pura-pura tidak melihatnya, dan tetap menganggap Taeyong sebagai sosok sempurna yang tidak memiliki kekurangan satupun.

Kalau dibandingkan dengan Taeyong, Hansol tentu saja kalah.

Hansol itu pemalu, kaku, dan canggung di saat yang bersamaan. Ia tidak pernah bisa membuka percakapan lebih dulu, karena itulah ia memiliki kesulitan untuk berteman dengan orang-orang baru. Karena itulah Hansol benci perubahan dan lebih memilih untuk tinggal di zona nyamannya. Ia lebih suka mengunci dirinya di dalam kamar, membaca buku atau tidur seharian, daripada melihat dunia luar dan membuat teman baru. Prestasi akademik dan olahraganya juga biasa-biasa saja. Hanya ada dua bidang dimana ia bisa mengungguli Taeyong; Matematika dan Bahasa.

Taeyong, meskipun masih bisa mengerjakannya, selalu benci Matematika. Sedangkan Hansol, menganggap Matematika sebagai teman terbaiknya setelah buku-bukunya dan Yuta. Ia senang angka, meski tentu ia lebih senang dengan huruf-huruf di bukunya. Bahkan dulu, ada saat-saat dimana Hansol selalu menggumamkan tabel perkalian setiap kali ia mulai merasa tertekan. Dulu menggumamkan tabel perkalian bisa membuat Hansol melupakan masalahnya, dan mengalihkan fokusnya dari hal yang membuatnya tertekan.

Sedangkan Bahasa, sudah jelas bahwa Hansol memang lebih unggul, bahkan sejak ia dan Taeyong masih kecil. Taeyong selalu mengeluh setiap kali ia disuruh untuk belajar membaca dan menulis, sedangkan Hansol akan berinisiatif sendiri untuk mulai belajar. Setiap kali ada ulangan Bahasa, baik Korea maupun Inggris, nilai Hansol akan lebih tinggi dari nilai Taeyong. Taeyong tipe orang yang lebih suka menonton daripada membaca, dan Hansol kebalikannya.

"Hei," Hansol tersadar dari lamunannya begitu merasakan tepukan pada bahunya, yang tidak lain berasal dari Yuta. Hansol sendiri bahkan sesungguhnya tidak sadar bahwa ia melamun dengan pandangan tertuju pada layar ponselnya sejak tiga menit yang lalu. "Melamunkan apa, sih?"

Hansol menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."

Yuta menatap Hansol dalam diam untuk beberapa detik, sebelum ia mengalihkan pandangannya untuk menatap ke depan, ke arah papan tulis yang berada di depan kelas. "Hansol, kau itu menganggapku sahabatmu, kan?"

"Tentu saja. Apa-apaan sih pertanyaanmu itu?"

"Sahabat seharusnya selalu berbagi, Sol. Berbagi masalah, berbagi rahasia. Kalau kau tidak ingin menceritakan masalah atau rahasiamu pada orang yang kau sebut sahabat, berarti orang itu sebenarnya bukan sahabatmu. Karena kau tidak benar-benar mempercayainya."

Selesai mendengar ucapan Yuta, Hansol mulai sibuk bermain dengan jari-jarinya, kebiasaan seorang Hansol kalau sudah merasa bersalah. "Maaf. Aku tahu aku salah karena aku tidak bercerita padamu tentang Taeyong."

"Bukan itu saja. Kau kira aku tidak sadar, kalau kau selama ini jarang sekali menceritakan masalah-masalahmu kepadaku? Setiap kali kau terlihat sedih dan aku bertanya ada apa denganmu, kau pasti akan menggelengkan kepala dan menjawab bahwa kau tidak apa-apa. Aku kira kau hanya belum siap mengatakannya padaku, jadi aku membiarkanmu dan menunggumu sampai kau siap bercerita. Tapi kau tidak pernah bercerita, Hansol. Selalu aku yang bercerita padamu. Selalu aku yang memberitahumu tentang setiap detail dalam hidupku, bahkan tentang hal-hal tidak penting seperti warna favorit setiap anggota keluargaku. Selalu aku yang datang kepadamu untuk menceritakan semua masalahku, sedangkan kau tidak pernah. Aku mulai merasa seperti seorang sahabat yang tidak berguna, kau tahu?"

"Aku…" Hansol terdiam, berusaha untuk mencari kata yang pas untuk menjelaskan semuanya pada Yuta. Ia bahkan tidak berani untuk menatap sahabatnya itu, karena ia tidak yakin apakah ia bisa menghadapi ekspresi sedih di wajah Yuta.

Meskipun dirinya merupakan seseorang yang cukup bagus dalam bidang Bahasa, Hansol tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya pada seseorang dengan baik dan benar. Ia lebih memilih untuk mencurahkan semua perasaannya di dalam sebuah jurnal, lalu menyimpannya di laci yang terkunci, dan kuncinya pun hanya bisa ditemukan oleh Hansol seorang. Ia tidak pernah merasa nyaman untuk memberitahu orang lain tentang masalahnya, dan sebagian besar adalah karena ia sebetulnya tidak pernah punya seseorang yang bisa ia ceritakan tentang segala perasaan dan masalahnya. Selama ini hidupnya berputar di sekeliling keluarga angkatnya dan teman-temannya yang sebagian besar tidak tulus berteman dengannya, dan ia tidak pernah punya seseorang yang mau mendengarkan semua ceritanya dengan sabar dan menyimpannya tanpa memberitahunya pada siapapun. Taeyong sebenarnya bisa menjadi seseorang itu, kalau saja sebagian besar masalah Hansol tidak disebabkan oleh dirinya. Orangtuanya, meskipun ia yakin mereka menyayanginya dengan tulus, juga tidak mungkin ia ceritakan tentang rasa tertekannya yang disebabkan oleh anak kandung mereka.

Hansol tidak pernah punya seseorang yang bisa ia percaya, seseorang yang bisa ia ceritakan tentang apapun dalam hidupnya, dan karena itulah ia terbiasa untuk menyimpan segalanya sendiri. Kehadiran Yuta merupakan hal baru baginya. Hal asing, dan butuh beberapa waktu sampai Hansol bisa terbiasa memiliki seseorang yang tulus berteman dengannya seperti Yuta. Hansol tidak terbiasa dengan kehadiran seseorang seperti Yuta, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ia menutup dirinya dari sosok sahabatnya itu. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ia memperlakukan sahabatnya itu sama saja dengan cara ia memperlakukan teman-temannya yang lain. Selalu tertutup.

Perbedaan antara hubungannya dan Yuta dengan hubungannya dan teman-temannya yang lain adalah, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pemuda asal Jepang itu, dan hanya Yuta-lah yang ia perbolehkan untuk datang ke apartemennya. Hanya itu saja.

Hansol benar-benar merasa bersalah.

"Maafkan aku," Hansol kembali membuka mulutnya. "Aku hanya, terlalu terbiasa menyimpan segalanya sendiri. Maaf, aku akan berusaha untuk menjadi sahabat yang lebih baik. Dan tentang adikku, meskipun aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak pernah menceritakan tentangnya padamu karena aku lupa dan terlalu asyik dengan kehidupan universitas, aku tahu sebenarnya aku sengaja. Aku sengaja tidak menceritakan tentang Taeyong kepadamu. Dan alasannya karena aku tidak ingin kehilanganmu, Yuta. Maafkan aku."

"Sengaja?"

Hansol menggigit bibirnya gugup. Mungkin inilah saat yang tepat untuk menceritakan segalanya tentang Taeyong dan hidupnya kepada Yuta. Lagipula, sepertinya dosennya hari ini tidak akan masuk ke kelas. Jadi ia punya satu jam bebas untuk bercerita pada Yuta tanpa diganggu siapapun.

"Begini…"


"Johnny hyung, memangnya kau tidak ada kelas sama sekali?"

Sebenarnya ada, tapi aku rela bolos demi bisa bersamamu. "Tidak. Kenapa memangnya? Kau merasa terganggu dengan kehadiranku?"

"Tidak, sih," Taeyong yang saat itu sedang duduk di salah satu bangku yang berada di taman universitas dengan Johnny yang duduk di sampingnya berkata seraya tersenyum tipis. "Lagipula aku tidak suka sendirian. Jadi aku sesungguhnya merasa berterimakasih karena Johnny hyung mau menemaniku selama menunggui Hansol hyung."

Info pertama dari Hansol ternyata benar. Taeyong tidak suka sendirian. Sepertinya dia memang benar-benar bisa dipercaya. "Aku juga senang bisa menemanimu begini."

Kalau begini terus, tidak akan makan waktu lama sampai Taeyong akan menjadi milikku. Dengan bantuan Hansol, aku pasti akan berhasil menjadikan Taeyong kekasihku.

Terimakasih Hansol, kau malaikat penyelamatku.

Johnny tersenyum lebar karena pikiran-pikiran yang berada dalam otaknya saat itu, dan juga karena perasaan bahagianya bisa berada di dekat Taeyong, mahasiswa baru di universitasnya yang baru ia kenal selama beberapa jam, tapi mampu membuatnya merasa begitu tertarik. Mampu membuat seorang Johnny begitu menginginkannya.

Semua orang tahu bahwa seorang Johnny Seo selalu mendapatkan apapun yang ia mau, dan seorang Lee Taeyong bukanlah pengecualian. Ia biasanya bukan tipe orang yang mengejar-ngejar seseorang, tapi demi Taeyong, demi lelaki yang membuatnya tertarik ini, ia rela melakukan apapun untuk mendapatkannya.

Lee Taeyong pasti akan menjadi miliknya. Apapun yang terjadi, Taeyong harus menjadi milik seorang Johnny Seo.


"Halo, hyung?"

"Jaehyun! Sedang istirahat, ya?"

"Iya. Baru saja bel istirahat berbunyi. Hyung sendiri sedang apa? Kegiatan mahasiswa barumu sudah selesai?"

"Eum! Aku sekarang sedang menunggu Hansol hyung¸ia sedang ada kelas."

"Hyung, se-sayang itu ya dengan Hansol hyung? Kau kan benci menunggu. Apalagi menunggu sendirian."

"Untungnya aku tidak sendiri, Jae. Aku ditemani seorang senior teman kakakku. Ia baik mau menemaniku, tapi karena aku ingin meneleponmu sebentar, aku izin padanya ke toilet agar bisa meneleponmu."

Lelaki tinggi dengan kulit putih itu tersenyum, membayangkan sosok yang berada di ujung sambungan telepon, mantan kakak kelasnya yang sudah dekat dengannya selama beberapa bulan belakangan. "Aku ingin bertemu denganmu, hyung. Kangen."

Senyum di wajah lelaki tinggi itu melebar ketika mendengar tawa di ujung sana. "Aku juga kangen Jaehyun. Jae, sudah dulu, ya? Tidak enak meninggalkan seniorku ini lama-lama. Nanti malam kalau sempat aku telepon lagi, dah!"

"Dah, hyung," Ketika sambungan telepon dimatikan, senyuman yang berada di wajah lelaki itu hilang sudah, tergantikan dengan ekspresi datar yang memang lebih sering berada di wajahnya itu.

"Jae, sudah berapa bulan? Mau sampai kapan kau hanya mendekatinya tanpa usaha lebih? Ingat, Jae, batas waktunya hanya satu tahun."

"Tentu saja aku ingat," Jaehyun, nama dari lelaki tinggi itu berkata dengan nada dingin. "Aku tidak mungkin melupakan batas waktu dari taruhan dengan hadiah seperti itu. Sabar saja, sepertinya aku akan mendapatkannya sebentar lagi."

To Be Continued.


Yay, ini chapter tiganya. Maaf ya agak lama updatenya, saya udah masuk sekolah jadi waktu udah berkurang buat nulis fanfic, apalagi saya niat banget mau naikin nilai tahun ini, biar bisa dapet ikut dan dapet jalur undangan nanti dua tahun lagi. Jadi meskipun baru masuk, saya udah sibuk banget belajar. Doain aja, ya.

Untuk teman-teman di grup Jaeyong shipper, maaf banget loh ya waktu itu ternyata jadinya keleft beneran. Line error beneran ternyata, temen-temen di situ ilang semua, jadi sedih. Maaf juga minta maafnya malah disini(?).

Oiya, ini mungkin telat banget tapi… saya nangis pas liat bagian Taeyong di ep. 0 aBOUT NCT127. Yaampun ultimate bias saya :') Sedih liat dia sampe nangis gitu, apalagi masih ada aja yang nyinyir, pake bilang itu nangisnya fake lah, ngga tulus lah, apa lah. Ya oke, kalau mau ngga suka sama Taeyong gapapa, ngga ada yang maksa untuk suka juga, tapi ngga usah sampe ninggalin hate comments kali? Hidupnya negatif banget kah sampe ninggalin hate comments begitu buat orang yang bahkan kenal aja nggak? Kalo nggak suka yaudah, silakan, abaikan aja keberadaan Taeyong, anggep dia ngga ada di NCT, ngga usah sampe nulis hate comment yang panjang banget itu. Situ fans apa haters sih sebenernya, sempet-sempetnya nulis kayak begituan buat orang yang katanya Anda benci. Lucu.

Makasih ya buat yang udah review, favorite, dan follow fanfic ini! Makasih banyak, maaf belom bales review loh. Padahal udah pengen nyempet-nyempetin buat bales review tapi… ya begitu. Maaf banget.

PS. Setiap kali nulis di word itu rasanya udah panjang loh nulis setiap chapter tuh. Tapi kenapa pas dipindahin ke ffn jadi keliatan pendek banget gitu, ya... :')

Thankyou for reading!