Chapter 3 : The Problems
#3 tahun yang lalu. [SMP Teikou kelas 1 ]
Jika ditanya apakah arti cinta, berikut jawabannya,
Akashi : Cinta itu diibaratkan seperti sebuah gunting. Gunting yang dari luar terlihat mengerikan, tapi sebenarnya lewat gunting itu, sejauh apapun jarak diantara kita pasti akan terpotong. Snip, snip
Murasakibara : Cinta itu ibarat makanan. Selalu ada, dan kita tak bisa hidup tanpa makanan. Nyam,nyam
Midorima : Cinta itu seperti Lucky Item. Pembawa keberuntungan-nodayo.
Kise : Cinta itu seperti matahari. Selalu ada untuk kita, baik siang maupun malam. Karena, matahari adalah pusat kehidupan.
Aomine : Cinta itu ibarat seperti majalah Mai-chan. Tak bisa hidup tanpa Mai-chan.
Momoi : Cinta itu seperti pohon sakura. Tak mengenal zaman. Musim semi sangat indah, musim gugur juga tetap indah.
Kuroko : Cinta itu ibarat seperti Vanilla Milkshake. Hidup tanpa vanilla milkshake itu bagaikan sayur tanpa garam. Terasa hambar.
Jika ditanya seperti itu, maka kira-kira begitulah jawaban mereka. Tapi ingat, itu sudah 3 tahun berlalu. Jawabannya pasti telah berubah.
Jika ditanyakan lagi kepada Kuroko Tetsuya, pasti jawabannya telah berubah.
Kuroko Tetsuya : Cinta itu ibarat KUTUKAN.
Jika jawabannya sudah begitu, lebih baik jangan tanyakan lebih lanjut. Itu hanya akan membuka kenangan pahit yang masih bersarang dalam memorinya.
.
.
Dan di sinilah Tetsuya berada, di taman dekat rumahnya. Taman inilah yang selalu menjadi saksi bisu kesedihan seorang Tetsuya. Sama seperti saat-saat yang lalu, Tetsuya kini hanya merenung, kembali asyik dengan pikirannya sendiri.
Semenjak kejadian tersebut Tetsuya banyak menghabiskan waktu dengan merenung dan berdiam diri. Jika dibandingkan dengan dirinya yang dulu, teman-temannya pasti akan lebih memilih dirinya yang dulu daripada dengan dirinya yang sekarang.
Bayangkan perubahan yang Tetsuya tunjukkan kini berubah 180 derajat. Sungguh ironis.
Tetsuya yang dulunya selalu peduli akan dirinya dan sekelilingnya kini berubah menjadi orang lain. Tetsuya kini tak peduli lagi bagaimana menjalani hidupnya. Yang hanya ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana dia dapat melupakan Seijuurou.
Saat sedang bergumul dengan pikirannya, tiba-tiba Tetsuya merasakan seseorang menepuk pelan pundaknya.
"Ah, Konbannwa Kagami-kun, Kise-kun, Momoi-san, Murasakibara-kun, Aomine-kun, Midorima-kun." Sapa Tetsuya datar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Kagami.
"Sedang duduk. Kalian sedang apa?"
"Tentu saja untuk ke rumah Tetsu-chan." Jawab Momoi.
"Untuk apa ke rumahku"
"Tentu saja untuk mampir-ssu." Timpal Kise.
"Tapi.."
"Jadi, kau tidak ingin membiarkan kami masuk ke rumahmu, Tetsu?" Sambung Aomine.
"Bukan begitu, Aomine-kun."
"Tetsu-chin, aku lapar." Kata Murasakibara, yang memang kerjaannya hanya makan.
"Ayo, Tetsu-chan. Lihatlah Midorima sudah menggigil dari tadi."
"Aku tidak menggigil, nodayo. Hanya saja Oha-asa bilang akhir-akhir ini aku harus menghindari udara dingin."
Dasar Freak Oha-asa Tsundere.
"Baiklah." Kata Tetsuya yang masih tetap dengan wajah datarnya.
Akhirnya, mereka semua berjalan menuju rumah Tetsuya.
Di sepanjang perjalanan, mereka saling bercanda gurau. Membuat suasana di antara mereka menjadi akrab dan bersahabat.
Dan beginilah mereka, mencoba untuk menghibur teman mereka.
"Ah, aku lupa. Aku harus membeli Vanilla Milkshake." Kata Tetsuya tiba-tiba.
"Yosh ! Aku akan menemanimu." Kata Aomine.
"Tidak. Aku saja-ssu."
"Tetsu-chin, aku saja."
"Tetsu-chan denganku saja."
Baru saja yang lain ingin membuka suara, Tetsuya langsung angkat bicara.
"Hem,, tidak usah." Tolak Tetsuya halus.
"Tidak bisa-ssu."
Akhirnya dengan banyak percecokan, keputusan terakhir Kise menemani Tetsuya.
Dan akhirnya, keputusan terakhir Kise menemani Tetsuya tentunya dengan segala percecokan sebelumnya.
.
.
Maji Burger
Kise dan Tetsuya memasuki pintu depan Maji Burger. Semua pasang mata memandang kepada mereka berdua.
Siapa yang tak kagum melihat seorang Kise? Model remaja terkenal yang kini tengah berada di Maji Burger. Tempat yang penuh keramaian. Kise, seorang model remaja yang terkenal. Memiliki wajah yang tampan bak seperti seorang pangeran dari negeri dongeng. Andai saja Tetsuya dapat membalas perasaan Kise. Tentunya Tetsuya tak akan pernah merasakan sakit hati.
Flash back
"Aku menyukaimu Kurokocchi." Kata Kise tiba-tiba.
"Terima kasih Kise-kun, karena mau menyukaiku. Tapi maaf, aku tak bisa membalas perasaan Kise-kun." Tolak Tetsuya secara halus.
"Tapi, bisakah kau memberiku kesempatan?"
"Maaf,Kise-kunj. Aku menyukai orang lain."
"Akashiccchi?"
"Maaf, dan terima kasih Kise-kun."
END Of FlashBack
Tetsuya masih saja memperhatikan wajah Kise dari kejauhan. Saat ini Kise sedang memesan makanan dan tentunya tak lupa pula dengan Vanila Milkshake yang menjadi tujuan utama mereka ke Maji Burger.
Penyesalan selalu datang di bagian akhir bukan?
Andai saja, dia bisa menerima Kise dan bukannya menyukai orang itu.
Baru saja memikirkan orang itu, tiba-tiba saja irisnya tak sengaja melihat surai yang sangat dikenalnya. Surai merah crimson. Tak salah lagi, dia , apa yang dilakukannya di Maji Burger? Mengingat ini sudah malam, jam sudah menunjukan pukul 08.13. Tak mungkin dia akan kembali ke Kyoto, jam kereta malam terakhir jam 8.30. Apakah dia berpikir ketinggalan kereta? Tak mungkin, jika ingin naik kereta, seharusnya dia sudah bergegas menuju ke stasiun. Tapi, kenapa dari raut wajahnya, dia tidak khawatir sama sekali? Bukannya masih sempat untuk pulang? Lagipula apa yang dia lakukan di sini, seorang diri?
Ah,tidak. Dia tidak sendirian. Dari gelagatnya, sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Benar, ada seseorang yang baru saja datang dan duduk di depannya.
Tunggu, jangan katakan kalau dia adalah - Furihata?
Tak bisa dipungkiri lagi. Itu memang Furihata.
Iris Ice Blue Tetsuya tak bisa lepas dari 2 orang yang sedang duduk di pojok Maji Burger dan sedang bercanda.
Sakit. Sakit sekali.
Tanpa sadar Tetsuya meramas bagian depan dadanya. Di sini sangat sakit. Rasanya sakit.
Dengan sekuat tenaga Tetsuya menahan agar air matanya tak keluar.
Tetsuya menarik nafas. Tapi, kenapa rasanya sangat sulit? Ah, sial. Bahkan Tetsuyapun tak ingat lagi untuk bernafas. Ternyata dari tadi Tesuya menahan nafas, bersama menahan air matanya untuk keluar.
Ini semua salahnya, Tetsuya yang menginginkan untuk berpisah. Alasannya? Sangat sederhana.
Tetsuya merasa tak pantas untuk seorang Akashi. Alasan yang pertama karena Akashi Absolute,sebenarnya itu hanyalah sebagai pelarian. Kalau boleh jujur Tetsuya menyukai seluruh hal mengenai AKashi. Kan tak mungkin Tetsuya menolak Kise hanya untuk AKashi bukan?
Akashi adalah sosok yang sangat Tetsuya sukai. Bahkan Tetsuya menyukai Akashimelebihi dirinya sendiri.
Itulah namanya cinta sejati. Cinta yang tak memandang dan tulus dari dalam hati.
Tapi, apakah semua salah jika Tetsuya memutuskan Seijuurou karena Tetsuya merasa dirinya tak pantas untuk bersanding dengan seorang pewaris CEO Grup Akashi.
Yupz, Semuanya sudah berlalu.
Yang berlalu biarkanlah berlalu...
TBC_
Hahahahaha,,
Moshi-mosh MInna, Author balik lagi/ketawa nista/
Anw, Mkasih buat yg udah follow, fave, reviews, and silent reader, karena kebanyakan temen author silent-readers. hahahaha /sindiran halus/
Hemm,,,
RnR ne?
And semoga gk prnah bosan...
Daisuki YO!
