Ino memicing tajam menatap dua pria yang salah satu nya suami nya dan yang satu nya entahlah dia tidak mengenal nya.
"Aku bertanya sedang apa kalian?" Ino bertanya sekali lagi.
"Hn," dengan acuh tak acuh Sasuke melangkah pergi meninggalkan dapur.
"Jangan macam macam," desis Sasuke ketika melewati Ino. Ino menelan ludah nya kasar tubuh nya pun menegang karena aura tidak bersahabat dari suami nya.
Setelah Sasuke keluar dari dapur, Ino memandang pemuda manis di hadapan nya. Ino berdecak kesal ketika mengetahui bila pemuda di depan nya sangat manis dan memiliki wajah cantik. Dia merasa tersaingi.
"Kau siapa?" tanya ketus Ino.
"Naruto," jawab Naruto dengan ala kadar nya. Hey, dia tidak akan berbaik hati dan bersopan santun pada wanita yang ternyata istri orang yang berani menggetarkan hati nya ini.
Dia benci dengan Ino, kenapa?. Andai saja Ino tidak melakukan hal yang gila dan tak masuk akal pasti bibi kesayangan nya yaitu Namikaze Kushina adik dari ayah nya sekarang masih hidup. Ayah nya mengatakan bila bibi nya meninggal karena Ino menabrak nya dengan sengaja hingga tewas di tempat, masalah nya hanya sepele karena Ino termakan gosip murahan yang mengatakan kalau bibi nya menggoda suami nya. Ino adalah wanita gila yang akan menyingkirkan siapa pun yang berani mendekati suami tercinta nya. Makan nya Sasuke berkata jangan macam macam pada Ino karena Sasuke tahu semua kelakuan bejat nya.
"Hanya Naruto?. Margamu?" Ino penasaran pada pemuda manis di depan nya ini.
"Senju, Senju Naruto," Naruto tidak akan membiarkan wanita gila ini tahu marga asli yang dia sandang. Dia hanya akan memberitahukan marga nenek nya, Senju Tsunade.
"Oh Senju. Lantas untuk apa kau datang kemari?" Naruto mulai jengah, dia seperti seorang penjahat yang sedang di introgasi.
Namun sebelum Naruto menjawab, Itachi datang menghampiri mereka. Dan pada saat itu Ino bertanya pada Itachi, untuk apa Naruto datang kerumah nya. Itachi memberitahukan Ino si ibunya bila Naruto teman nya ini akan menginap dua hari dua malam untuk mengerjakan tugas mereka selama libur sekolah tiga hari kedepan. Rasa curiga dan tak suka yang tadi mampir di hati nya kini hilang begitu saja setelah mendengar penjelasan dari putera nya. Setelah itu Ino pergi meninggalkan putera nya bersama teman pirang nya.
"Maaf ya kau pasti tidak merasa nyaman atas kelakuan ibu ku tadi," Itachi menggaruk pipi nya yang tidak gatal, dia merasa tidak enak hati pada Naruto.
Naruto melepas apron yang melekat di tubuh nya. "Tidak apa apa Chi, wajar kan ibu mu seperti itu kita kan belum kenal satu sama lain... Chi maaf aku tidak bisa melanjutkan masak nya, aku ingin istirahat sebentar ya,"
"Tidak masalah... bibi lanjutkan masak nya yah,"teriak Itachi pada pelayan yang tadi," mau aku gendong?" goda Itachi dengan senyum jahil nya.
Naruto menghela nafas bosan. "Memang kau kuat?"
Itachi menepuk dada nya bangga. "Jangan remehkan aku Naru, lihat badan ku tidak sekecil diri mu dan aku pun memiliki enam kotak di perut ku,"
"Kau itu selalu saja berkata seperti itu... ya sudah gendong belakang ya," senyum manis Naruto membuat wajah Itachi merona.
"Nah ayo naik," Itachi membalik kan tubuh nya dan mengambil posisi berjongkok. Dengan hati hati Naruto naik nemplok dipunggung Itachi.
Itachi berjalan dengan santai nya tidak merasakan beban berat ketika dirinya menggendong Naruto yang kini sedang menyamankan diri nya. Hangat pikir Naruto, apa tubuh Sasuke sehangat ini?. Naruto menggeleng kan kepalanya, dia mendengus bagaimana bisa dia memikirkan seseorang yang notabene nya sudah memiliki anak dan isteri?, seperti nya dia sudah mulai tidak waras dan dia harus berkonsultasi pada dokter pribadi keluarga nya, dokter aneh yang ajaib yang bila ditanya dia wanita atau pria dia selalu menjawab dia manusia, siapa lagi kalau bukan dokter Orochimaru. Orang yang kelebihan kecerdasan yang menyayangi diri nya seperti anak nya sendiri. Orang yang selalu mengunjungi nya setiap hari hanya untuk melihat bila dirinya baik baik saja sehingga membuat Sakura harus ekstra sabar menghadapi dokter itu, dia mulai was was takut bila anak manis nya di klaim seenak jidat nya oleh Orochimaru.
"Kau ingat tidak, waktu kau terjatuh dan kaki mu terkilir kau menangis seperti anak kecil, Naru?" kata Itachi sambil sesekali membenarkan gendongan nya.
"Huh kapan?" Naruto saja tidak ingat kapan kejadian itu terjadi tapi Itachi mengingat nya.
"Kau itu masih muda tapi sudah pikun, satu minggu yang lalu ketika kau di kejar Kiba," jelas Itachi dengan senyum yang tidak di lihat oleh Naruto.
"Oh yang it-..." Naruto tidak jadi melanjutkan perkataan nya, dia menyembunyikan wajah yang sudah memerah di perpotongan leher Itachi, hey dia malu sekali ketika mengingat hal itu.
"Hehehe kau ingat?... ketika itu kau tidak berhenti menangis akhirnya aku harus-"
"Tachi jangan diteruskan!" seru Naruto.
"Oh ho apa kau malu hem?"
"Tachi jangan menggoda ku terus," rengek Naruto sambil sedikit memberontak dalam gendongan Itachi.
"Baiklah baiklah aku tidak akan melanjutkan nya, tak mau aku di marahi mama Sakura dan papa Minato karena membuat anak cantik nya ini menangis hahahha,"
"Tachi! aku tampan!"
Mereka masuk kedalam kamar Itachi dan pintu langsung ditutup, mereka tidak tahu ada seseorang yang tidak suka dengan kedekatan mereka. Siapa lagi kalau bukan tuan Uchiha Sasuke. Sasuke yang baru saja keluar dari kamar nya dan berjalan hendak turun ke bawah, langkah nya harus terhenti ketiak melihat putera nya sedang bersama pemuda manis itu. Sasuke jadi penasaran sedekat apakah putera nya dengan Naruto?, dia berharap kedekatan mereka hanya sebatas teman saja tidak lebih. Sasuke melanjutkan langkah nya yang sempat terhenti tadi, wajah datar dan mata tajamnya membuat para pelayan yang berpapasan dengan tuan mereka tidak berani untuk menatap Sasuke yang sedang dalam mode tak bersahabat.
Didalam kamar Itachi. Naruto sedang duduk di pangkuan Itachi yang sedang menyandarkan kepala nya di kepala ranjang. Naruto memainkan jari nya pada dada bidang Itachi, sedang kan Itachi sedang mengusap surai pirang itu yang selalu terasa lembut di tangan nya.
"Sampai kapan aku harus menunggu, Naru?" suara lembut dan lirih Itachi mengalun lembut dalam pendengaran Naruto.
"Chi aku belum bisa," Naruto menatap mata kelam itu yang sedang memandang nya dengan penuh harap serta kesedihan.
"Kenapa?"
Naruto menghentikan gerakan jari nya pada dada Itachi yang kini tangan itu beralih mengusap rahang tegas Itachi. "Rasa yang kau rasakan pada ku belum tumbuh Chi, aku hanya menganggap mu seorang sahabat ku tidak lebih... aku mohon mengerti lah, aku tidak mau hubungan persahabatan kita merenggang karena perasaan cinta yang tidak bisa ku balas,"
Itachi menghela nafas panjang. "Apa aku tidak cukup baik untuk mu?"
Naruto menggeleng pelan kemudian dia menyatukan dahi nya pada dahi Itachi. "Bukan masalah kau cukup baik bagi ku atau tidak, tetapi karena aku memang tidak memiliki rasa sayang yang lebih dari sekedar sahabat pada mu,"dan aku telah jatuh cinta pada orang lain yang tidak boleh ku cintai Chi, lanjutnya dalam hati.
"Aku mengerti Naru, aku tidak akan memaksa,"tapi bukan berarti aku menyerah untuk mendapatkan mu, Uchiha tidak akan berhenti di tengah jalan, batin Itachi.
Mata mereka saling menyelami satu sama lain, saling megatakan tentang perasaan yang berbeda untuk sang lawan. Perlahan tapi pasti Itachi mengecup bibir mungil namun sedikit tebal itu. Naruto tidak kaget karena Itachi sering melakukan nya. Hanya kecupan singkat tanpa lumatan, hanya kecupan yang menyampaikan bagaimana perasaan cinta yang selama ini dia pendam.
'Andai hati ini jatuh kedalam genggaman mu Chi, pasti aku akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Tapi mau dikata apa, hati ku telah jatuh dalam genggaman orang lain. Maaf Chi, maafkan aku,' batin Naruto yang saat ini tengah dilanda kegundahan.
Mereka saling berpelukan dengan mata yang terpejam, menikmati kehangatan yang selalu mereka rasakan disaat mereka sedang bersama seperti ini. Biarlah seperti ini saat ini sebelum sesuatu terjadi antara mereka. Kita tidak tahu hal apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang, apakah hal baik atau buruk, mereka tidak tahu. Itachi menyukai sosok Naruto yang selalu membawa kehangatan untuk nya, sosok yang dia cintai ini selalu menjatuhkan dirinya dalam kubangan cinta di setiap hari nya. Itachi tidak akan melepaskan sosok hangat ini, apapun yang terjadi di kemudian hari, dia Uchiha Itachi tidak akan sekali pun melepaskan Namikaze Naruto.
Dirimu adalah tempat untuk ku pulang disaat aku tersesat karena salah mencintai seseorang
30 menit kemudian, pasangan suami isteri Uchiha dan Itachi serta Naruto, makan siang bersama dengan khidmat dan tenang. Tidak ada di antara mereka yang bersuara, hanya suara sendok dan piring yang saling beradu. Tidak ada yang tahu bila sang tuan rumah sejak tadi curi curi pandang lada si pirang manis, dia tidak ada bosan nya menatap wajah cantik nan manis itu.
Mereka mengakhiri acara makan siang itu. Sebelum mereka pergi suara Ino menghentikan tida lelaki yang hendak berdiri dari duduk nya.
"Tachi kun, bisa temani mama ke salon?" Ino berharap Itachi mau mengantarkan diri nya perawatan wajah. Oh dia masih ingat dengan sindiran nyonya Akasuna ketika di cafe.
"Kenapa tidak dengan supir saja?" jujur Itachi tidak pernah suka bila mengantarkan mama nya ke salon, dia malas menunggu terlalu lama ditambah banyak pelanggan salon atau pekerja nya yang centil terhadap diri nya.
"Mama ingin nya dengan mu, ayolah demi mama,"lebih tepat nya demi rumah tangga mama dan papa mu, biyar tetap awet, begitu kira kira batin Ino.
"Baiklah, aku siap siap terlebih dahulu," Itachi segera menuju kamar nya.
"Mama juga," kata Ino, dia pergi bersiap dengan rasa senang yang membuncah.
Menyisakan Naruto dan Sasuke di meja makan. Naruto jadi gugup ketika di meja makan hanya ada diri nya dan Sasuke. Dia terus menatap ke bawah seperti ada hal yang menarik sekali di bawah sana untuk dipandangi. Sedangkan Sasuke, dia memandang Naruto dengan terang terangan.
"Ekhem... apa kau sibuk saat ini?" suara Sasuke membuat Naruto memandang Sasuke.
"Anada bertanya pada saya, Sasuke san?" tunjuk Naruto pada diri nya sendiri.
"Hn," jawab Sasuke apa ada nya, membuat Naruto jadi malas seketika.
"Tidak Sasuke san," kata Naruto kalem.
"Mau pergi dengan ku?"
Deg, tawaran Sasuke yang dengan mudah nya keluar dari mulut si raven membuat Naruto membeku. Apa dia tidak salah dengar?, dirinya di ajak oleh orang yang dengan tega mengambil hati nya untuk pergi bersama nya?.
Naruto menjawab dengan ragu. "Baiklah,"
Bersyukur lah dia orang yang datar dan minim ekspresi, jadi rasa senang yang luar biasa tidak ketara di wajah tampan Sasuke. Tidak dia sangka bila pemuda manis ini akan menerima tawaran nya, heh Uchiha gitu loh.
"Papa, Naru. Tachi pergi dulu," pamit Itachi yang saat ini sudah berganti pakaian.
"Iya Chi/hn," jawab Naruto dan Sasuke bersamaan.
"Sayang aku pergi dulu,"Ino mencium pipi Sasuke dan Naruto cemburu.
"Hn"
Ino dan Itachi berjalan keluar meninggalkan dua lelaki beda usia ini.
"Aku ganti pakaian dulu Sasuke san," tanpa menunggu jawaban Sasuke, Naruto pergi menuju kamar Itachi yang ada di atas.
Naruto terus tersenyum di sepanjang langkah nya. Hari ini dia akan menghabiskan waktu nya dengan orang yang dia cintai. Biarlah dia egois kali ini. Tetapi Naru kau tidak akan tahu bila keegoisan mu ini akan membawa jalan baru dalam hidup mu di kemudian hari.
Skip time_
Naruto dan Sasuke sudah berada di dalam mobil Sasuke. Sasuke sempat syok barusan, ketika dia melihat Naruto yang sedang menuruni tangga dengan pakaian yang membuat Uchiha junior tegak tanpa ada yang mencegah. Naruto mengenakan kaos yang sedikit kebesaran ditubuh nya dengan dipadukan carding putih tulang dan celana jins pendek selutut yang ketat membuat bongkahan pantat nya besar dan montok terlihat.
"Jadi kita mau kemana, Sasuke san?" tanya Naruto dengan mata yang masih menatap pepohonan hijau dari kaca pintu mobil.
"Nanti kau juga tahu," jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangan nya pada jalanan.
Tbc.
Penggalan chapter selanjutnya.
"Aku mencintai mu"
"Ahhh ahhh... terlalu ahhh dalam,... Suke Suke ahhhh nghhhhh faster please ahhh... ahhhhh mhhhh,"
